cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016" : 20 Documents clear
ANALISIS KARAKTER REPRODUKSI DAN PERFORMA BENIH PENDEDERAN I IKAN NILA PANDU F6 DENGAN IKAN NILA NILASA (Oreochromis niloticus) SECARA RESIPROKAL Yustysi, Dio Patria; Basuki, Fajar; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.271 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari hibridisasi ikan nila Pandu F6 dengan nila Nilasa terhadap karakter reproduksinya dan performa benih yang dihasilkan.Penelitian ini dilaksanakan dari Maret - Juni 2015 di Satker Balai Benih Ikan Janti, Klaten. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila Pandu F6 dan ikan nila nilasa dengan bobot induk jantan 200 - 400 g dan induk betina dengan bobot 150 - 250 g dengan rasio pemijahan 1:1 secara resiprokal..Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (Pandu F6 ♀><Pandu F6 ♂), B (Nilasa ♀><Nilasa ♂), C (Pandu F6 ♀>< Nilasa ♂), dan D (Nilasa ♀><Pandu F6 ♂). Data yang diamati meliputi fekunditas, daya tetas telur, diameter dan bobot telur, panjang dan bobot larva TL, panjang dan bobot larva lepas kuning telur, kelulushidupan, laju pertumbuhan spesifik, konversi pakan dan kualitas air. Data dianalisa menggunakan ANOVA untuk melihat perbedaannya, kemudian jika terdapat perbedaan maka dilakukan uji wilayah Duncan untuk melihat perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukan nilai terbaik pada fekunditas sebesar 1191,67±239,45 butir/200 g, daya tetas telur sebesar 80,93±3,90%, kelulushidupan sebesar 81,55±7,54%, laju pertumbuhan spesifik sebesar 7,26±0,25, konversi pakan 0,54±0,02 didapatkan pada perlakuan C, akan tetapi untuk diameter dan bobot telur, panjang dan bobot larva Kuning Telur, dan panjang dan bobot larva lepas kuning telur memiliki nilai yang hampir sama untuk setiap perlakuan dan tidak berbeda nyata. Hasil tersebut menunjukan bahwa hibridisasi (perlakuan C) memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap fekunditas, daya tetas telur, kelulushidupan, laju pertumbuhan spesifik, dan konversi pakan tetapi tidak dengan diameter dan bobot telur, panjang dan bobot larva TL, dan panjang dan bobot larva lepas kuning telur. Kualitas air pada media pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila. This research aims to know the influence of hybridization tilapia fish Pandu F6 with nila Nilasa against the character of the reproduction and seed performance. The study was conducted from March to June 2015 in the Satker Broodstock Center, Klaten. The fish test used in this study is tilapia fish Pandu F6 and nilasa weight of a male parent 200 - 400 g and the female parent weight of 150 – 200 g with a ratio of 1:1 in a spawning reciprocally. This research was conducted with the experimental method using Random Design complete (RAL) with 4 treatments and three replicates. The treatments in this study: the treatment A (Pandu F6 F6 ♀ >< Pandu ♂), B (Nilasa ♀>< Nilasa ♂), C (Pandu F6 ♀>< Nilasa ♂), and D (Nilasa ♀ >< Pandu F6 ♂). The observed data covering fecundity, hatching rate, egg size, yolk sack larva length and weight, length and weight of the egg yolk off larvae, survival rate, specific growth rate, feed conversion rate, and water quality. The data were analyzed using ANOVA to see the difference, then if there is a difference then do a test area of Duncan to see the best treatment The results showed the best value on the fecundity of 1191.67±239.45 eggs/200 g, Hatching rate 80.93 ± 3.90%, Survival rate of 81.55 ± 7.54%, specific growth rate of 7.26 ± 0.25, conversion fodder 0.54 ± 0.02 obtained at the treatment C, but for the diameter and weight of egg, larval length and weight TL, and the length and weight of the yolk egg off larvae have almost the same value for each treatment and do not differ markedly. The results showed that hybridization (treatment C) gives a real influence (P < 0.05) of fecundity,hatching rate, survival rate but not with the egg size, larva TL weight and length, and the length and weight of larvae off yolk. Water quality on the spawning, hatching eggs and larvae found on the maintenance of a decent range for tilapia fish farming.
PENGARUH PENGKAYAAN BEKATUL DAN AMPAS TAHU DENGAN KOTORAN BURUNG PUYUH YANG DIFERMENTASI DENGAN EKSTRAK LIMBAH SAYUR TERHADAP BIOMASSA DAN KANDUNGAN NUTRISI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Syahendra, Falstiyan; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.932 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kotoran burung puyuh pada campuran bekatul dan ampas tahu yang difermentasi menggunakan ekstrak limbah sayur terhadap pertumbuhan produksi biomassa dan kandungan nutrisi cacing sutera serta mengetahui dosis kotoran burung puyuh, bekatul dan ampas tahu yang memberikan hasil terbaik terhadap produksi cacing sutera. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing- masing 3 kali ulangan. Perlakuan A (tanpa kotoran burung puyuh), B (kotoran burung puyuh 25g/L), C (kotoran burung puyuh 50g/L) dan D (Kotoran burung puyuh 75g/L). Kotoran burung puyuh, bekatul dan ampas tahu dimasukkan kedalam 12 wadah plastik dengan ukuran 30x21x7 cm. Media tersebut ditebari cacing sebanyak 10 gram/wadah, dan dipelihara selama 40 hari. Data yang diamati meliputi pertumbuhan biomassa mutlak, populasi, kandungan nutrisi dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkayaan nutrisi dengan kotoran burung puyuh berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Perlakuan C 50 g/L kotoran burung puyuh, 100 g/L bekatul dan 50 g/L ampas tahu memberikan nilai biomassa, populasi dan kandungan protein tertinggi yaitu biomassa sebesar 151,98±0,46 g/0,044m2, populasi sebesar 40.070,21 ± 250,82 individu/0,044m2 dan kandungan protein sebesar 65,17±0,35%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran burung puyuh pada campuran bekatul dan ampas tahu dapat meningkatkan produksi biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. Secara umum, kandungan ammonia, DO, suhu, dan pH selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan cacing sutera. This research was aimed to determine the effect of the use of quail manure on a mixture of rice bran and tofu waste that fermented using waste vegetable extracts on the growth of biomass production and nutrient content of sludge worms and determined the dose of quail manure,rice bran and tofu waste that gives the best results to production of sludge worms. This research used the experimental method Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions each. Treatment A (without quail manure), B (quail manure 25g/L), C (quail manure 50g/L) and D (quail manure 75g/L). Quail manure, rice bran and tofu waste was added to 12 plastics containers with size 30x21x7 cm. The media is littered with sludge worms of 10 grams/container, and maintained for 40 days. The observed data covers absolute of biomass growth, population, nutrient and water quality. The results showed that the addition of quail manure highly significant (P <0.01) for the production of biomass, population and nutrition content of sludge worms (Tubifex sp.). C Treatment (quail manure 50g/L)  has the highest biomass, population and protein content value the biomass of 151.98±0.46 g/0.044m2, a population of 40070.21±250.82 individuals/0.044m2 and protein content of 65.17±0.35%. Based on the results of this research concluded that the addition of quail manure, rice bran and tofu waste can increase biomass production, population and nutrition content of sludge worms. In general, the content of ammonia, DO, temperature, and pH during the research are in the reasonable range for the life of the sludge worm.
PENGARUH KONSENTRASI KONSORSIUM BAKTERI K4, K5 DAN K6 TERHADAP TINGKAT KESEHATAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) Situmorang, Anggun Putriani; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.918 KB)

Abstract

Eucheuma cottonii adalah jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomis penting karena memiliki kandungan karaginan yang tinggi (Kappa carageenin dan Lota carageenin). Penyakit ice ice merupakan masalah yang sering dihadapi oleh pembudidaya  E. cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi konsorsium bakteri penyebab timbulnya penyakit ice ice pada rumput laut (E. cottonii) dan mengetahui gejala klinis rumput laut (E. cottonii) yang terinfeksi konsorsium bakteri. Penelitian dilaksanakan pada bulan  2015. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi konsorsium bakteri yang berbeda dengan perlakuan A (106), B (107), C (108) dan D (100). Rata rata panjang E. cottonii pada penelitian 5 cm dengan bobot rata rata awal 1,5 gr. Pengujian dilakukan selama 22 hari yaitu aklimatisasi 10 hari dan uji patogenitas 12 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis pada E. cottonii pasca inokulasi bakteri adalah terdapat spot putih pada thallus, pemudaran warna thallus dan bagian permukaan thallus mulai mengelupas, munculnya lendir pada thallus, cabang cabang thallus patah dan akhirnya seluruh bagian thallus patah. Pertumbuhan bobot mutlak rumput laut E. cottonii dalam penelitian selama 12 hari, diketahui bahwa E. cottonii mengalami pertumbuhan negatif. Pertumbuhan negatif paling rendah terjadi pada perlakuan C (-0.90±0.02). Kualitas air selama penelitian tergolong layak untuk kehidupan E. cottonii yaitu suhu pada kisaran 27-29 ˚C, pH pada kisaran 7-8, salinitas pada kisaran 28-30 ppt, nitrat pada kisaran 2,06-0,01 mg/l dan fosfat pada kisaran 1,07-0,2 mg/l. Berdasarkan identifikasi secara biokimia adalah isolat K4 dan K5 teridentifikasi bakteri Baccilus spp dan isolat K6 teridentifikasi bakteri Corynebacterium sp. Eucheuma cottonii is a type of seaweed that has an important economic value because it has a high content of carrageenan (carageenin Kappa and Iota carageenin). Ice- ice disease is a common problem faced by farmers E. cottonii . This study aims to determine the effect of the concentration levels of disease -causing bacteria consortium ice ice on seaweed (E. cottonii) and know the clinical symptoms of seaweed (E. cottonii) were infected with bacterial consortium. The method used in this study is the experimental method. The study design used completely randomized design (CRD), with 4 treatments and 3 replications. Treatments were different concentrations of bacterial consortium with treatment A (106), B (107), C (108) and D (100). Average length of E. cottonii on research 5 cm with an average initial weight of 1.5 gram . Tests conducted over 26 days, 14 days of acclimatization and pathogenicity test 12 days. The results showed that the clinical symptoms of E. cottonii post- inoculation of bacteria is contained white spots on thallus, color fading and surface  thallus began to peel, mucus in the thallus and the media maintenance, broken branches and eventually the entire  thallus broken parts. The growth of the absolute weight of E. cottoniiseaweed in the study for 12 days, it is known that E. cottoniidecreased body weight. The highest decrease in body weight occurred in treatment C (-0.90 ± 0:02). Water quality for relatively decent maintenance for the life of E. cottonii that the temperature in the range of 27-29 °C, pH in the range 7-8 , in the range of 28-30 ppt salinity, nitrate at the end of the maintenance ranging from 2,06-0,01 mg / l and phosphate of the maintenance ranging from 1,07-0,2 mg/l. Based on the biochemical identification of the isolates K4 and K5 are identified Baccilus spp bacteria and bacterial isolates identified K6 Corynebacterium sp .
PENGARUH SALINITAS TERHADAP EFEK INFEKSI Vibrio harveyi PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Utami, Wiji; Sarjito, -; Desrina, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.482 KB)

Abstract

Penerapan manajemen kualitas lingkungan merupakan langkah yang dapat ditempuh untuk mencegah penyebaran penyakit. Salah satu faktor lingkungan yang berperan penting adalah salinitas media budidaya. Pengaturan salinitas diharapkan mampu menjadi alternatif untuk meminimalisir infeksi Vibrio harveyi pada udang vaname. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh salinitas terhadap infeksi udang vaname (L. vannamei) yang diinfeksi V. harveyi serta mengetahui salinitas optimum yang dapat meminimalisir  infeksi V. harveyi pada udang vaname (L. vannamei). Uji pengaruh salinitas dilakukan dengan menginjeksikan bakteri V. harveyi sebanyak 0,1 mL dengan dosis 2 × 106 CFU/mL secara intramuscular dibagian abdominal kedua. Udang kontrol disuntik Phosphat Buffer Saline (PBS) pH 7.4 dengan volume sama. Udang  dipelihara selama 2 minggu didalam akuarium (vol air 24 L) yang dilengkapi dengan aerator menggunakan 5 perlakuan salinitas yaitu salinitas 15 ppt, 20 ppt, 25 ppt dan 30 ppt. dan 30 ppt (kontrol). Parameter utama yang diamati adalah jumlah ikan yang mati, gejala klinis total bakteri, histopatologi serta kualitas air.  Berdasarkan data parameter pengamatan  salinitas berpengaruh sangat nyata (P<0.05) dan (P<0.01) terhadap efek infeksi bakteri V. harveyi pada udang vaname (L. vannamei). Gejala klinis udang sakit yaitu nafsu makan berkurang, berenang miring dan lemah, mendekati gelembung udara, kaki renang, telson dan uropod kemerahan, nekrosis serta melanisasi pada segmen tubuh. Nilai kelulushidupan udang vaname yang diinfeksi V. harveyi tertinggi yaitu 70.83 % (Perlakuan D). Kelimpahan bakteri udang vaname pasca infeksi perlakuan D (1.86 × 104 CFU/mL), C (2.03 × 105 CFU/mL), B (2.55 × 107 CFU/mL) dan A (3.2 × 109 CFU/mL). Pengamatan histopatologi pada jaringan hepatopankreas udang yang diinfeksi V. harveyi terdapat nekrosis pada sel epitel tubula dan perbedaan jumlah sel B.  Implementation of environmental quality management is a step that can be taken to prevent the spread of disease. One environmental factor that is important is the cultivation medium salinity . Setting the salinity is expected to be an alternative to minimize infection of Vibrio harveyi in whiteleg shrimp. This study aims to determine the effect of salinity on infection whiteleg shrimp ( L. vannamei ) were infected with V. harveyi and determine the optimum salinity which can minimize infection V. harveyi in whiteleg shrimp ( L. vannamei ) . Test the effect of salinity is done by injecting the bacterium V. harveyi as much as a 0.1 mL dose of 2 × 106 CFU / mL intramuscularly second abdominal section . Injected control shrimp Phosphate Buffer Saline ( PBS ) pH 7.4 with the same volume . Shrimp maintained for 2 weeks in the aquarium (water vol 24 L) equipped with an aerator using 5 treatments salinity is 15 ppt salinity, 20 ppt, 25 ppt and 30 ppt. and 30 ppt (control). The main parameters measured were the number of dead fish, total clinical symptoms of bacterial, histopathological and water quality. Based on observations of salinity parameter data was highly significant (P <0.05) and (P <0.01) in the effects of bacterial infection V. harveyi in whiteleg shrimp (L. vannamei). Clinical symptoms are pain shrimp decreased appetite, swim tilt and weak, approaching air bubbles, swimming legs, telson and uropod redness, necrosis and melanisasi the body segments. Value whiteleg shrimp infected shrimp survival V. harveyi high of 70.83% (treatment D). whiteleg shrimp bacterial abundance of shrimp post-infection treatment D (1,86 × 104 CFU / mL), C (2,03 × 105 CFU / mL), B (2,55 × 107 CFU / mL) and A (3,2 × 109 CFU / mL). Histopathological observation on the network infected shrimp hepatopancreas V. harveyi are necrosis of tubule epithelial cells and differences in the number of B cells.
PEMANFAATAN TEPUNG HASIL FERMENTASI AZOLLA (Azolla microphylla) SEBAGAI CAMPURAN PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Virnanto, Luthfi Adhi; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.455 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor terpenting yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang akan dibudidayakan. Pemberian pakan yang optimal akan menghasilkan pertumbuhan yang baik. Salah satu bahan pakan alternatif yang belum banyak dimanfaatkan adalah tumbuhan air azolla. Azolla dalam bentuk tepung dapat dipakai sebagai campuran pakan ikan dalam bentuk pellet. Azolla mempunyai kandungan protein kasar sebesar 19,54% dan memiliki serat kasar yang cukup tinggi, untuk meningkatkan kandungan protein dan menggurangi serat kasar dapat dilakukan dengan proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung fermentasi azolla sebagai bahan baku pakan buatan serta dosis terbaik tepung fermentasi azolla terhadap performa pertumbuhan benih ikan gurame (O. gouramy).Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah perlakuan A, B, C, D, dan E (0%; 10%; 15; 20%; 25%). Ikan uji yang digunakan adalah ikan gurame (O. gouramy) yang berumur 2 – 3 bulan, dengan bobot 3 – 5 g, dengan padat penebaran 10 ekor ikan yang dipelihara dalam akuarium, dengan masa pemeliharaan selama 40 hari.  Pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan buatan berbentuk pellet. Pakan buatan dibuat dengan adanya penambahan bahan baku tepung fermentasi azolla. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tepung fermentasi azolla sebagai bahan baku dengan dosis yang berbeda pada tiap perlakuan, memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan protein efisiensi rasio pada ikan gurame (O. gouramy). Sedangkan pada variabel kelulushidupan tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Pada perlakuan D 20% merupakan hasil terbaik yang menghasilkan nilai RGR (0,80±0,05) dan EPP (45,96±1,61). Dengan demikian, penambahan tepung hasil fermentasi azolla (20%) sangat disarankan untuk diterapkan dalam kegiatan budidaya ikan gurame (O. gouramy) untuk meningkatkan pertumbuhan. Feed is one of the most important factors because they have an influence on the growth and survival of  fish. Optimal feeding will produce good growth. The one of alternative feed ingredients that have not been widely used is Azolla. Azolla flour can be used as a mixture of fish feed with pellets form. Azolla has a crude protein content as much as 19.54% and has a high crude fiber also, than to increase the protein content and bring down the crude fiber can be made with the fermentation process. The aim of this research for to know the effects and the best dosage of Azolla flours that mixed with artificial feeds againts growth rate of Gouramy (O.gouramy) seeds.The research used experimental methode with a completely randomized design (CRD), which consists of 5 treatments and 3 replications. The treatment applied is treatment A, B, C, D, and E (0%; 10%; 15; 20%; 25%).  Fish samples used are Gouramy fish (O. gouramy)with  averages of age(2-3 months), weight (3-5 g ), fish density (10 fish/aquarium) and  maintenance period during  40 days. Fish feed in this study had pellets form and its made with add Azollas fermented flour.The results showed that addition of Azolla fermented flour into the artificial feed with different doses of each treatment, providing significant differences (P <0.05) relative growth rate, feed efficiency and protein efficiency ratio of the gouramy (O. gouramy) , Whereas the survival index were not significantly different (P> 0.05). In the treatment D had the best result that produces RGR values (0.80 ± 0.05) and FE (45.96 ± 1.61). Thus, the addition of azolla fermented flour (20%) is very recommended to be applied in gouramy culture (O. gouramy) to boost the growth.
INFESTASI MONOGENEA PADA IKAN KONSUMSI AIR TAWAR DI KOLAM BUDIDAYA DESA NGRAJEK MAGELANG Putri, Sekar Mentari; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro; Desrina, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.632 KB)

Abstract

Kerugian akibat infestasi ektoparasit termasuk monogenea tidak sebesar kerugian akibat infeksi organisme patogen lain seperti virus dan bakteri, namun infestasi tersebut dapat menjadi salah satu faktor predisposisi bagi infeksi organisme patogen yang lebih berbahaya, menimbulkan kerusakan organ luar berupa insang dan kulit, pertumbuhan lambat dan penurunan nilai jual ikan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui gejala klinis ikan yang terserang monogenea, jenis-jenis monogenea dan nilai intensitas dan prevalensi pada budidaya ikan konsumsi air tawar di desa Ngrajek. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2015. Sampel ikan yang diperiksa sebanyak 90 ekor dengan ukuran panjang total panjang ikan nila 8,37±1,10 cm dan total berat 7,37±2,22 gr, total panjang ikan mas 9,54±1,48 cm dan total berat 9,78±2,27 gr dan total panjang ikan lele 9,73±1,21 cm dan total berat 4,57±1,35 gr. Pengambilan sampel dilakukan di 5 kolam budidaya. Pengamatan eksternal ikan dilakukan di laboratorium dan analisis data secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis parasit yang menginfestasi ikan air tawar adalah Dactylogyrus spp. dan Gyrodactylus spp. Total jumlah Dactylogyrus spp. yang ditemukan pada semua ikan adalah (247 individu) dan Gyrodactylus spp. (23 individu). Nilai intensitas Dactylogyrus spp. pada masing-masing ikan yaitu 7 ind/ekor pada ikan lele, 4 ind/ekor pada ikan mas dan 3 ind/ekor pada ikan nila, sedangkan nilai intensitas Gyrodactylus spp. di ikan lele 2 ind, di ikan mas 1 ind dan di ikan nila 1 ind. Nilai prevalensi Dactylogyrus spp. di ikan mas 70%, di ikan nila 56,7% dan di ikan lele 50%, sedangkan nilai prevalensi Gyrodactylus spp. di ikan lele 26,7%, di ikan mas 13,3% dan di ikan nila 10%. Gejala klinis yang tampak adalah memerah pada sirip dan pada beberapa ikan memiliki infeksi jamur. Ikan lele memiliki intensitas dan prevalensi tertinggi pada infestasi monogenea. Losses due to infestation of ectoparasites, including monogenea not as severe as a result of infection of pviruses and bacteria, but infestations can be a predisposing factor for microbial infection of pathogenic organisms which more dangerous, causing damage to organs beyond the form of gills and skin, slow growth and decline in value of selling fish. Research was aimed to determine the clinical symptoms of the fish infected by monogenea, types of monogenea and intensity values, the prevalence and dominance on the freshwater/fish farming in Ngrajek. This study was conducted in May-August 2015. The samples total 90 fishes consist of tilapia total length 8.37±1.10 cm and total weight 7,37±2,22 gr, carp total length 9.54±1.48 cm and total weight 9,78±2,27 gr, catfish total length 9.73±1.21 cm and total weight 4,57±1,35 gr. Sampling was conducted at 5 aquaculture ponds the external observation of fish was in laboratory. The results showed that monogenea parasites that infest freshwater fish are Dactylogyrus spp. and Gyrodactylus spp. The total number of Dactylogyrus spp. (247 individu) and Gyrodactylus spp. (23 individu). Dactylogyrus spp. intensity values in catfish was 7 ind, in carp was 4 ind and in tilapia was 3 ind, while Gyrodactylus spp. intensity values in catfish was 2 ind, in carp was 1 ind and in tilapia was 1 ind. Dactylogyrus spp. prevalence values in carp was 70%, in tilapia was 56.7% and in catfish was 50%, while Gyrodactylus spp. prevalence values in catfish was 26.7%, in carp was 13.3% and in tilapia was 10%. Clinical signs observed were reddish of fins. Same fish were also had fungi infection. Catfish had higher the intensity and prevalence of monogenea infestation.
PENGARUH PEMBERIAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) YANG DIKULTUR DENGAN PENGKAYAAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) Ridlwan, Muhammad Qudus; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cacing tanah adalah salah satu pakan alami yang memiliki kandungan protein tinggi. Kandungan protein yang dari cacing tanah adalah 60-72% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele untuk pembesaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan alami cacing tanah yang dikultur dengan pengkayaan limbah organik terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele (C. gariepinus) dan mengetahui pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele (C. gariepinus) yang terbaik melalui kultur pengkayaan limbah organik cacing tanah yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Ikan Hadipolo Kudus dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan masing-masing 3 ulangan untuk setiap perlakuan yaitu (A) tanpa pemberian limbah buah dan sayur; (B) pemberian limbah buah; (C) pemberian limbah sayur; dan (D) pemberian limbah buah dan sayur. Cacing tanah dikultur selama 10 hari dan kultur ikan lele dilakukan selama 45 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemberian limbah sayuran dan buah yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) pada pertumbuhan (SGR)  dan rasio konversi pakan (FCR) ikan lele namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada kelulushidupan ikan lele (Clarias gariepinus). Perlakuan D yaitu pemberian cacing tanah telah dikultur dengan pengkayaan limbah organik buah dan sayuran memberikan nilai SGR, FCR, dan SR terbaik bagi ikan lele (C. gariepinus) masing-masing sebesar 4,18 ± 0,21%/hari; 0,76 ± 0,03; dan 100 ± 0%. Hasil penelitian mengenai kualitas air yang meliputi DO, pH, dan suhu sudah sesuai dengan tingkat kelayakan menurut pustaka. Earthworm is one of the natural food that has a high protein content. Protein content of earthworms is 60-72%, it can be used as feed for catfish culture. The Objective of this research was to know the effect of earthworm with enriched fruit and vegetables wastes as well as the effects on the growth and survival of catfish (C. gariepinus) and know the best growth and survival rate of catfish (C. gariepinus) through the cultural enrichment earthworm with organic waste. Research conducted at the Fish Seed Center Hadipolo Kudus with completely randomized design (CRD) using 4 treatments with 3 replicates for each treatment was (A) without fruit and vegetable waste enrichment; (B) fruit waste enrichment; (C) vegetable waste enrichment; and (D) mixed fruit and vegetable waste enrichment. Earthworms were cultured for 10 days and the culture of catfish carried out for 45 days. The results showed that the effect of vegetable and fruit waste significantly different (P <0.05) on growth (SGR) and food conversion ratio (FCR) catfish but not significant (P> 0.05) in survival rate of catfish (Clarias gariepinus). D treatment provide the earthworm cultured with enrichment of mixed fruits and vegetables wastes with value SGR, FCR, and SR was best for catfish (C. gariepinus), respectively by 4.18 ± 0.21% / day; 0.76 ± 0.03; and 100 ± 0%. Result of water quality include DO, pH and temperature was suitable with literature.
PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES Faisyal, Yogi; Rejeki, Sri; Widowati, Lestari Lakhsmi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.378 KB)

Abstract

Peningkatan padat penebaran merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi ikan bandeng (C. chanos).  Namun, hal tersebut berpotensi membawa dampak negatif, seperti penurunan kualitas air. Berbagai penerapan sistem budidaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas produksi dalam kegiatan budidaya salah satunya memperhatikan padat penebaran yang digunakan dalam budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan bandeng dan mengetahui padat tebar berbeda yang memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan tertinggi  ikan bandeng.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah padat tebar berbeda dalam pemeliharaan dengan menggunakan keramba jaring apung yaitu perlakuan A (10 ekor/m2),B (20 ekor/m2), dan C (30 ekor/m2). Ikan uji yang digunakan yaitu, ikan bandeng (C. chanos) dengan rerata bobot individu 2,02 ± 0,21 g. Ikan bandeng dipelihara dalam keramba jaring apung (5x3x1) m3 selama 75 hari. Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik, kelulushidupan, kualitas air, dan kelimpahan plankton. Pengukuran kualitas air meliputi suhu, oksigen terlarut, salinitas, arus dan pH yang dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Berdasarkan pada uji ANOVA menunjukkan adanya pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai laju pertumbuhan spesifik, dan kelulushidupan. Perlakuan A memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik dibandingkan perlakuan yang lain, dengan pertumbuhan laju pertumbuhan spesifik (2,63±0,24 %/hari), dan kelulushidupan (84,66 ± 3,28 %). Secara umum, suhu, oksigen terlarut, salinitas, arus dan pH selama penelitian berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan ikan bandeng. Increased stocking density was one way to increase the production of milkfish (C. chanos). However, it was could potentially have negative impacts, such as the degradation of water quality. Various application of the cultivation system was conducted to improve the production quality in farming activities, one of them stocking density used in the cultivation. This research was aimed to determine the effect of different stocking density on growth and survival of milkfish and determine the stocking density which gives the highest growth and survival of milkfish. This research using a completely randomized design with 3 treatments and 3 replication. The treatments were different stocking density in maintenance by using floating net cages that treatment A (10 fish/m2), B (20 fish/m2), and C (30 fish/m2). The fish samples using milkfish (C. Chanos) with an individual average weight of 2.02 ± 0.21 g and long 5.86 ± 0.51 cm. Fish reared in floating net cages (5x3x1) m3 for 75 days. Data observed specific growth rate, survival rate, water quality, and the abundance of plankton. Measurements of water quality include temperature, dissolved oxygen, salinity, currents and pH were performed at the beginning and end of the research. Based on the ANOVA showed a highly significant effect (P <0.01) to the value of absolute weight, relative growth rate, specific growth rate, and survival. Treatment A gives the best growth and survival rate compared to other treatments, with specific growth rate (2,63 ± 0, 24 %/day), and survival rate (84,66 ± 3,28 %). In general, temperature, dissolved oxygen, salinity, currents and pH during the research were still in the reasonable range for fish life.
PENGARUH KONSENTRASI KONSORSIUM BAKTERI K1, K2 DAN K3 TERHADAP STATUS KESEHATAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) Siregar, Marwenni; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.002 KB)

Abstract

Eucheuma cottonii berperan sebagai penyumbang utama produksi perikanan. Faktor penghambat produksi adalah penyakit ice-ice. Ice-ice disebabkan oleh lingkungan yang tidak sesuai, rumput laut akan stres sehingga melepaskan senyawa haloamin menimbulkan lendir dan memicu tumbuhnya bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsorsium bakteri K1, K2 dan K3 dengan konsentrasi yang berbeda terhadap kesehatan E cottonii. Metode pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuannya dengan konsorsium bakteri K1,K2 dan K3 yang sama dan konsentrasi yang berbeda yaitu A (tanpa inokulasi/kontrol), B (5x106 CFU/mL), C (2.3x107 CFU/mL, dan D (2.2x108 CFU/mL). E. cottonii bobot 1 gram dan panjang 5 cm dipelihara dalam botol kaca yang diisi air laut steril 200 ml selama 9 hari. Kondisi suhu 28°C, salinitas 30 ‰, dan pH 8. Pemeliharaan menggunakan shaker kecepatan 100 rpm dan pemaparan cahaya 12 jam terang 12 jam gelap. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi konsorsium K1,K2 dan K3 yang berbeda berpengaruh nyata (P < 0,01) terhadap nilai pertumbuhan mutlak E. cottonii. Gejala klinis yang ditimbulkan adalah terdapat spot putih pada thallus, warna thallus memudar, cabang melepuh dan putus. Bakteri konsorsium yang menyebabkan gejala klinis tersebut adalah Corynebacterium, Vibrio hollisae dan Pseudomonas sp. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa konsorsium bakteri K1, K2 dan K3 dengan konsentrasi 2.2x108 CFU/mL dapat menyebabkan penurunan bobot dan gejala klinis tertinggi yang ditimbulkan. Eucheuma cottonii role as a major contributor to the production of fisheries. Factors inhibiting the production is ice-ice disease. Ice-ice caused by the environment are not incompatible, seaweed would stress that cause mucus haloamin releasing compounds and trigger the growth of bacteria. This study aims to determine the effect of bacterial consortium K1, K2 and K3 with different concentrations on the health of E. cottonii. The method in this study using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Treatment with bacterial consortium K1, K2 and K3 are the same and different concentrations namely A (without inoculation / control), B (5x106 CFU / ml), C (2.3x107 CFU / ml, and D (2.2x108 CFU / ml ). E. cottonii weighs 1 gram and 5 cm long preserved in a glass jar filled with 200 ml of sterile sea water for 9 days. Conditions 28 ° C, salinity 30 ‰, and pH 8. Maintenance using a shaker speed of 100 rpm and the exposure light 12 hours of light to 12 hours dark. The results showed concentrations of a consortium of K1, K2 and K3 are different significant (P <0.01) to the value of absolute growth E. cottonii. The clinical symptoms are caused there are white spots on thallus, thallus color fading, branch blister and break up. Bacteria that cause clinical symptoms consortium is Corynebacterium, Vibrio hollisae and Pseudomonas sp. Based on the results of the study concluded that the bacterial consortium K1, K2 and K3 with a concentration of 2.2x108 CFU / ml can cause weight loss and highest clinical symptoms caused.
ANALISIS KARAKTER REPRODUKSI IKAN NILA PANDU (F6) (Oreochromis niloticus) DENGAN STRAIN IKAN NILA MERAH LOKAL KEDUNG OMBO DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM RESIPROKAL Wicaksono, Katon Adhi; Susilowati, Titik; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.935 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter reproduksi hasil pemijahan ikan nila Pandu (F6) (Oreochromis niloticus) dengan strain ikan nila merah lokal Kedung Ombo secara hibridisasi dan inbreeding meliputi fekunditas, diameter dan bobot telur, dan hatching rate (HR), panjang dan bobot larva kuning telur, panjang dan bobot larva lepas kuning telur, survival rate (SR), feed convertion ratio (FCR) dan specific growth rate (SGR) dan mengetahui perlakuan terbaik. Penelitian ini dilaksanakan dari Maret - Juni 2015 di Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti, Klaten. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila Pandu (F6) dan ikan nila merah lokal Kedung Ombo dengan bobot rata-rata ♂ ± 240-540 g dan ♀ ± 110-260 g. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (Pandu (F6) ♂ x Pandu (F6) ♀), B (Pandu (F6) ♂ x Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♀), C (Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♂ x Pandu (F6) ♀), dan D (Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♂ x Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♀). Data yang diamati meliputi fekunditas, HR, diameter dan bobot telur, panjang dan bobot larva kuning telur, panjang dan bobot larva lepas kuning telur, SGR, FCR, SR, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai fekunditas, HR, SR, FCR dan SGR menunjukkan bahwa perlakuan hibridisasi lebih baik dari perlakuan inbreeding dengan masing-masing nilai terbaik yaitu fekunditas pada perlakuan B (1479,00±120,58 butir telur), HR pada perlakuan B (73,61±2,71%), SR pada perlakuan C (74,68±3,99%), FCR pada perlakuan B (0,65±0,06), dan SGR pada perlakuan B (7,01±0,37 %/hari), tetapi pada nilai diameter dan bobot telur menunjukkan bahwa perlakuan inbreeding lebih baik dari perlakuan hibridisasi dengan masing-masing nilai terbaik yaitu diameter telur pada perlakuan A (2,79±0,23 mm) dan bobot telur pada perlakuan A (0,01±0,001 gram), Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila. The objectives to know the character reproduction spawning tilapia Pandu (F6) (Oreochromis niloticus) with strains tilapia local red Kedung Ombo in hybridization and inbreeding covering fecundity, diameter and weights eggs, and hatching rate (HR) long and weight larvae egg yolk, long and weight larvae off egg yolk, survival rate (SR), feeds convertion ratio (FCR) and specific growth rate (SGR), and knowing the best treatment. Study was conducted from March-June 2015 in a work unit is Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti, Klaten. The  fish tilapia with weights on average ♂ ± 240-540 g and ♀ ± 110-260 g. This research was conducted with the experimental method using Random Design Complete (RAL) with 4 treatments and 3 repetition. The treatments in this study: the treatment A (Pandu (F6) ♂ x Pandu (F6) ♀), B (Pandu (F6) ♂ x Local Red Tilapia Kedung Ombo ♀), C (Local Red Tilapia Kedung Ombo ♂ x Pandu (F6) ♀), and D (Local Red Tilapia Kedung Ombo ♂ x Local Red Tilapia Kedung Ombo ♀). The observed data covering fecundity, HR, egg weight, diameter and length of the larval weights and egg yolks, the length and weight of the egg yolk off larvae, FCR, SGR, SR, and water quality. The research results show that the value of fecundity, HR, SR, FCR and SGR shows that treatment hybridization better than treatment inbreeding with each the best value that is fecundity in treatment B (1479.00±120.58 egg), HR in treatment B (73.61±2.71%), SR in treatment C (74.68±3.99%), FCR in treatment B (0.65±0.06), and SGR in treatment B (7.01±0.37%/day), but on the value diameter and weights eggs shows that treatment inbreeding better than treatment hybridization with each the best value that is diameter the eggs in treatment A (2.79±0.23 mm) and weights the eggs in treatment A (0.01±0.001 gram), the quality of water at media maintenance found in a range unfit for cultivation tilapia.

Page 2 of 2 | Total Record : 20