cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017" : 33 Documents clear
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C PADA PAKAN SEBAGAI IMUNOSTIMULAN TERHADAP PERFORMA DARAH, KELULUSHIDUPAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN TAWES (Puntius javanicus) Zulkarnain, Lutfi Azis; Hastuti, Sri; Sarjito, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.039 KB)

Abstract

Budidaya ikan tawes (P. javanicus) dengan intensifikasi yang tinggi, salah satu permasalahan yang sering dihadapi adalah tingkat kematian yang tinggi. Mortalitas dapat diakibatkan oleh stress karena kondisi lingkungan dan kepadatan yang tinggi sehingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh (imunitas) menurun. Penggunaan vitamin C pada pakan berperan penting dalam proses metabolisme makanan dan fisiologi ikan, dan juga vitamin C dapat meningkatkan imunostimulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan vitamin C dengan dosis berbeda dalam pakan sebagai imunostimulan terhadap performa darah (glukosa, eritrosit, leukosit, hemoglobin, dan hematokrit), kelulushidupan, dan pertumbuhan ikan tawes (P. javanicus). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan tawes dengan ukuran 8-9 cm.  Pemberian pakan pada ikan tawes (P. javanicus) dilakukan secara at satiation dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 kali yaitu pada pagi, dan sore hari (08.00 dan 15.00 WIB). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak kelompok (RAK). Penempatan dilakukan lengkap per kelompok; penempatan dilakukan sebanyak t perlakuan pada k kelompok, yaitu 4 perlakuan pada 3 kelompok.  Perlakuan menggunakan 4 pelakuan yaitu A, B, C, D, dengan penambahan vitamin C sebesar 0 mg/kg pakan, 150 mg/kg pakan, 300 mg/kg pakan, 450 mg/kg pakan.  Ikan tawes dipelihara dalam wadah pemeliharaan selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai Glukosa darah, Kelulushidupan, dan Laju pertumbuhan relative ikan tawes (P. javanicus). Perlakuan D memberikan hasil terbaik pada rata rata nilai glukosa darah 85,64±72,48 mg/dl, Kelulushidupan 91,67±2,89%, dan Laju pertumbuhan relatif 5,07±0,55%/hari. Kualitas air selama pemeliharaan berada pada kisaran yang layak untuk kehidupan ikan tawes (P. javanicus). One of the problems that is often being encountered in cultivating java barb (P. javanicus) with high intensification is high mortality rates. Mortality can be caused by stress on fish due to environmental conditions and high density weakening their immune system. The use of Vitamin C in fish food has an important role for the process of food metabolism and physiology of fish. In addition, vitamin C can also increase an immunostimulant. This study is aimed to review the influence of different doses of vitamin C in fish food as an immunostimulant towards blood performance (glucose, erythrocytes, leukocytes, hemoglobin, and hematocrit), survival rate, and growth of java barbs (P. javanicus). The samples of fish which were used in this study were java barbs with 8-9 cm size. At station is the method to feed the java barb (P. javanicus) which is done twice, in the morning and afternoon (8 am and 3 pm). This research used experimental method with a randomized block design. The placement of fish was done completely for each group; the placement was done with t treatment on k groups, i.e. 4 treatments in 3 groups. The treatment used 4 types which were A, B, C, D, with the addition of vitamin C at 0 mg / kg of feed, 150 mg / kg of feed, 300 mg / kg of feed, 450 mg / kg of feed.  The java barb were maintained in the container for 42 days. The results showed that the addition of vitamin C give significant effects (P <0.05) on blood glucose values Survival rate, and Relatif growth rate of java barbs (P. javanicus). Treatment D provides the best result to the average value of blood glucose 85.64 ± 72.48 mg / dl, RGR 5.07 ± 0.55%/day, and SR 91.67 ± 2, 89%. The quality of water during the breeding was in the range of proper for the life of java barbs (P. javanicus).
ANALISA KARAKTER REPRODUKSI IKAN NILA KUNTI (Oreochromis niloticus) F6 DAN F7 Prayuda, Dwi Ari; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.514 KB)

Abstract

Ikan nila di Indonesia merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting. Berbagai upaya terus dilakukan dalam meningkatkan produksi ikan nila, salah satunya adalah dengan pemuliaan seperti perbaikan genetik. Selective breeding adalah riset genetik yang dominan untuk memperbaiki pertumbuhan sebagai tujuan utama baik dari seleksi famili maupun individu.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakter reproduksi yang dihasilkan dari ikan nila kunti F6 dan F7 sehingga diketahui terjadinya  peningkatan performa karakter reproduksi dari generasi 6 ke generasi 7. Hasil penelitian perbandingan karakter reproduksi antara ikan nila kunti F6 dan F7 berpengaruh nyata. Ikan nila F6 lebih baik dari F7 dari variabel seperti hatching rate, bobot dan diameter telur, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur. Akan tetapi ikan nila kunti F7 baik di variabel seperti fekunditas dan jumlah larva dimulut, itu membuktikan bahwa ikan nila F7 masih tetap terjaga kualitasnya. Variabel pengukuran untuk ikan nila kunti F6 meliputi nilai fekunditas 881±73 dan HR 91,24±1,75% yang kemudian ditunjang oleh data variabel lain seperti diameter telur, bobot telur, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur dan jumlah larva dimulut. Sedangkan data variabel F7 meliputi nilai fekunditas 887±102 dan HR 89,37±2,13%, ditunjang data diameter telur, bobot telur, bobot dan panjang  larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur dan jumlah larva dimulut. Nilai heritabilitas dari F6 ke F7 untuk fekunditas -0,81, HR -0,08 nilai tersebut tidak sesuai dengan nilai heritabilitas pada umumnya karena nilai heritabilitas berkisar antara 0-1. Diameter dan bobot telur 0,67 dan -0,09, panjang dan bobot larva kuning telur 0,05 dan -0,11, panjang dan bobot larva lepas kuning telur 0,47, 0,49 dan jumlah larva dimulut 0,69 di duga disebabkan oleh faktor keturunan dan juga faktor inbreeding atau silang dalam yang akan menghasilkan individu homozigositas yang akan melemahkan individu-individu terhadap perubahan lingkungan. Tilapia in Indonesia is one of the freshwater fish that has a significant economic value.  Various efforts continue to be made in increasing the production of tilapia, one of roomates is the breeding as genetic improvement. Selective breeding is a dominant genetic research to improve growth as the main objective of both the family and individual selection. The purpose of this research was to compare the reproductive characters generated from tilapia kunti F6 and F7 thus known to the increased performance of reproductive character from generation 6 to generation 7. The result of comparison of reproduction character between tilapia kunti F6 and F7 have real effect. Tilapia F6 is better than F7 from variables such as hatching rate, weight and egg diameter, weight and length of egg yolk larvae, weight and larvae length of loose egg yolks. However, Kunti F7 tilapia is good in variables such as fecundity and the number of larvaes in mouth, it proves that F7 tilapia is still maintained in quality. Measurement variables for kunti F6 include fecundity value 881±73 and HR 91.24±1.75% which then supported by other variable data such as egg diameter, egg weight, weight and length of egg yolk larvae, weight and length of yellow larvae eggs and larval number of mouths. While the data of F7 variable include fecundity value 887±102 and HR 89,37±2,13%, supported data of egg diameter, egg weight, weight and length of egg yolk larvae, weight and larvae length of egg yolk and larva number of mouth. The heritability value of F6 to F7 for fecundity -0.81, HR -0.08 is not in accordance with the heritability value in general because the heritability value ranges from 0-1. The diameter and weight of the eggs were 0.67 and -0.09, the length and weight of the 0.05 and -0.11 yolk larvae, the larvae length and larvae off 0.47, 0.49 and the larval larvae of 0.69 in Allegedly caused by hereditary factors and also of inbreeding or cross-linking factors that would result in individual homozygosity that would weaken individuals towards environmental change.
PENGARUH PERBEDAAN DOSIS MADU DALAM PAKAN YANG MENGANDUNG rGH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN RASIO JENIS KELAMIN PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Nuha, Ulin; Susilowati, Titik; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.911 KB)

Abstract

Kebutuhan akan benih ikan nila juga tinggi untuk memenuhi target produksi. Beberapa cara telah dilakukan untuk menghasilkan ikan monoseks jantan, seperti penggunaan hormon 17α-metiltestosteron Akan tetapi, semakin sulit dan terbatasnya ketersediaan hormon tersebut, maka diperlukan bahan lain yang lebih mudah didapat dan lebih efisien dalam pemanfaatannya. Selain itu, diperlukan alternatif metode sex reversal yang lebih efektif dan efisien secara alami untuk menghasilkan benih ikan nila yang berkualitas. Cara untuk mendapatkan ikan jantan lebih banyak dapat dilakukan dengan metode sex reversal. Monoseks jantan dapat dilakukan melalui pemberian suplemen madu lebah hutan. Rekombinan hormone pertumbuhan (rGH) berfungsi mengatur pertumbuhan tubuh, reproduksi, sistem imun dan mengatur tekanan osmosis pada ikan teleostei. Pentingnya peneltian tentang jantanisasi menggunakan madu dalam pakan yang diberi rGH dalam upaya mendapatkan benih yang unggul, pertumbuhan cepat dan menghasilkan monoseks jantan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dosis madu terhadap pakan yang mengandung rGH terhadap pertumbuhan dan rasio jenis kelamin pada ikan nila dan dan mengetahui dosis madu terbaik dalam pakan yang mengandung rGH. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila larasati (Oreochromis niloticus) dengan bobot rata-rata 0,4 g/ekor dan panjang rata-rata 1,2 cm dengan padat tebar 80 ekor/wadah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (dosis madu 0 ml/Kg pakan), B (dosis madu 25 ml/Kg pakan), C (dosis madu 50 ml/Kg pakan) dan D (dosis madu 75 ml/Kg pakan). Data yang diamati meliputi spesifik growth rate (SGR), food convertion ratio (FCR), total konsumsi pakan (TKP), survival rate (SR), presentase kelamin jantan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan dosis madu dalam pakan yang mengandung rGH terhadap pertumbuhan dan rasio jenis kelamin pada ikan nila (O. niloticus) memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap SGR, FCR dan  presentase kelamin jantan. Dosis terbaik perlakuan D mampu menghasilkan SGR, FCR masing-masing sebesar 9,81%/hari dan 1,75gram presantase kelamin jantan terbaik sebesar 81,11%. The need for tilapia fish too high to meet production targets. Several ways have been made to produce a male monosex fish, such as the use of hormone 17α-methyltestosterone, however, the more difficult and limited availability of these hormones, then needed another material that is easier to get and more efficient utilization. In addition, the necessary alternative methods of monosex more effective and efficient naturally to produce high quality tilapia fish. How to get more male fish to do with sex reversal method. Male monosex can be done through the forest bee honey supplementation in the feed which refers to the process of reproduction. Recombinant growth hormone (RGH) regulates body growth, reproduction, immune system and regulate the osmotic pressure on the fish Teleostei. The importance of other research about the use of honey in the feed masculinization by rGH in effort to obtain a superior seeds, rapid growth and generate monosex males. The purpose of this research is to know the effect of a dose of honey to feed containing rGH on growth and sex ratio on tilapia and honey and determine best dosage in feed containing rGH. Test fish used is larasati tilapia fish (Oreochromis niloticus) with an average weight of 0.4 g / head and an average length of 1.2 cm with a stocking density of 80 fishes / container. This research used experimental method to completely randomized design 4 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study: treatment A (dose of honey 0 ml / kg of feed), B (dose of honey 25 ml / kg of feed), C (dose of honey 50 ml / kg of feed) and D (at a dose of honey 75 ml / kg of feed). Data observed specific growth rate (SGR), food convertion ratio (FCR), total feed consumption (TKP), survival rate (SR), the percentage of male and water quality. The results showed that the dose differences in feed containing honey RGH on growth and sex ratio in tilapia (O. niloticus) provides highly significant effect (P <0.01) on the SGR, FCR and percentage of male sex. Best dose treatment D is able to produce SGR, FCR respectively of 9.81%/day and 1.75gram presantase best male sex by 81.11%.
PENGARUH PERIODE PEMUASAAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) Subekti, Mulat; Hutabarat, Johannes; Hastuti, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.53 KB)

Abstract

Pada usaha budidaya ikan masalah yang sering muncul yakni pemberian pakan belum optimal, sehingga pakan yang dikonsumsi ikan kurang dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk pertumbuhan. Upaya yang banyak dilakukan saat ini dalam budidaya ikan adalah pengaturan teknik pemberian pakan agar pakan yang diberikan dimanfaatkan secara optimal untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Salah satu strategi pemberian pakan yang dapat dilakukan adalah dengan pemuasaan. Perlakuan pemuasaan yang dipelihara pada periode yang cukup atau satiation level, diharapkan terjadi pertumbuhan yang cepat setelah periode pemuasaan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan pengaruh periode pemuasaan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan pada ikan bawal air tawar (C. macropomum). Ikan uji yang digunakan ikan bawal air tawar dengan bobot individu rata-rata 3,47±0,32 g/ekor. Pemberian pakan yaitu pada pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 secara at satiation. Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 1 ekor/l menggunakan wadah aquarium dengan lama pemeliharaan 30 hari. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan dalam penelitian ini adalah pemuasaan pakan.  Perlakuan tersebut adalah perlakuan A (tanpa dipuasakan), perlakuan B (dipuasakan 1 hari diberi pakan 1 hari),perlakuan C (dipuasakan 1 hari diberi pakan 2 hari) dan perlakuan D (dipuasakan 1 hari diberi pakan 3 hari). Data yang diamati meliputi tingkat konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), pertumbuhan panjang mutlak, kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuasaan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, PER, RGR dan pertumbuhan panjang mutlak  dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap survival rate. Perlakuan A menghasilkan nilai TKP 135,23±0,87, Perlakuan B menghasilkan EPP sebesar 92,89±1,23%, PER sebesar 2,49±0,03%  dan perlakuan D menghasilkan nilai RGR sebesar 7,21±0,10%/hari, dan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,79±0,08 cm. Kualitas air pada media pemeliharaan masih pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji.  Kesimpulan yang diperoleh yaitu nilai tertinggi diperoleh pada perlakuan A untuk TKP, Perlakuan B untuk variabel EPP dan PER, perlakuan D untuk variabel RGR dan panjang mutlak. During cultured period, problems emerge was unoptimal feeding states,until that the  consumedfeed it less be utilizied by the fish effectively and efficiently for growth. The efforts are much done today in the fish culturing was repair technique of feeding so that the feed given can be utilized optimally for growth and survival. Techniques improper feeding will increase was the production cost of the fish. One of the solution for this problem was by starvation on feed. Starvation treatment are maintained on a sufficient period or satiation level, so expect a rapid growth after a period of starvation. The aim of this study was to determine the effect of fasting on the efficiency of feed utilization, growth and and survival rate of Red Belly Fish (C. macropomum). The trial fish was nile tilapia with the average body weight was 3,47±0,32g/fish. The feeding frequency was twice a day, that was on  08.00 am and 16.00 Pm,  by applying at satiation method.  The fish was cultured in an aquarium with stocking density of 1 fish/l for 30 days.  This research was used an experimental method of completely randomize design for 4 treatments and 3 replicates. The treatments used starvation fed. The treatments  werefish feeded (A), starving intermitten feeding (B), fish subjected one day starvation and two days refeeding (C), fish subjected one day starvation and three days refeeding (D),The measured data included the feed consumption rate, feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), survival rate (SR), and water quality.   Data showed that the effects of starving feed resulted on significantly effect (P<0,05) on the feed consumption rate, FE, PER, RGR and absolute length growth.  but didn’t for the SR.  Treatment A produced the value for feed consumption rate was 135,23±0,87g, treatment B produced the value for FE was 92,89±1,23%, and PER was 2,49±0,03%/day, treatment D produced the value for RGR was 7,21±0,10%/day and absolute length growthwas 2,79±0,08 cm.Water quality parameters during the rearing period were suitable for the trial fish.  It concluded that treatment A resulted wa highest value for feed consumption rate, treatment B resulted the highest value for variables FE and PER, , treatment D resulted the highest value for variables RGR and absolute length growth, except for survival rate.
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI SEL FITOPLANKTON (Tetraselmis chuii) DAN FERMENTASI BAHAN ORGANIK (AMPAS TAHU, BEKATUL DAN TEPUNG IKAN) PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI Diaphanosoma brachyurum Adhinugroho, Istiaji; Suminto, - -; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.444 KB)

Abstract

Diaphanosoma brachyurum merupakan salah satu jenis pakan alami jenis cladocera yang memiliki potensi untuk dijadikan sebagai pakan alami untuk larva ikan ataupun udang. Kajian terhadap pengkayaan D. brachyurum melalui pemberian sel fitoplankton dan fermentasi bahan dengan tujuan untuk menunjang pertumbuhan dan reproduksi belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pakan sel fitoplankton dan fermentasi bahan organik (ampas tahu, bekatul dan tepung ikan) terhadap pertumbuhan dan reproduksi D. brachyurum serta untuk mengetahui persentase dosis kombinasi pakan yang memberikan pertumbuhan reproduksi D. brachyurum terbaik. Metode yang diterapkan dalam penelitian yaitu eksperimen laboratoris melalui penggunaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Kultur D. brachyurum  dilakukan dalam botol kaca dengan volume media 20 mL dan kepadatan awal D. brachyurum yang digunakan yaitu 1 ind/mL dengan kondisi salinitas 25 ppt, suhu 25 oC, pH 7 dan intensitas cahaya 1500 – 1800 lux dengan penyinaran selama 24 jam. Pemeliharaan D. brachyurum dilakukan selama 21 hari. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu Perlakuan A (100% fitoplankton); Perlakuan B (75% fitoplankton : 25% bahan organik); Perlakuan C (50% fitoplankton :  50% bahan organik); Perlakuan D (25% fitoplankton : 75% bahan organik); dan Perlakuan  E (100% bahan organik). Sel fitoplankton yang digunakan pada penelitian yaitu Tetraselmsi chuii dan bahan organik yang digunakan yaitu meliputi ampas tahu, bekatul dan tepung ikan dengan persentase perbandingan masing-masing bahan 35% : 35% : 30%. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu meliputi kepadatan total (stadia neonates (anakan), juvenile dan dewasa), laju pertumbuhan, produksi telur dan produksi anakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pakan sel fitoplankton dan fermentasi bahan organik berpengaruh nyata (α<0,05) terhadap pertumbuhan dan reproduksi D. brachyurum. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa persentase dosis kombinasi pakan sel fitoplankton dan bahan organik 50% : 50%  memberikan hasil performa pertumbuhan terbaik dengan nilai  kepadatan total mencapai 38,18±3,595 ind/mL (stadia anakan 4,93±0,465 ind/mL, stadia juvenile 4,60±0,805 ind/mL dan stadia dewasa 14,60±0,953 ind/mL); laju pertumbuhan 0,182±0,005 /hari; produksi telur 2,418±0,031 telur/ind; dan produksi anakan dalam induk 2,407±0,031 /ind. Diaphanosoma brachyurum is one of potential live food organism that used for fish and shrimp larvae. The study of D. brachyurum enrichment by extending combination phytoplankton cell and fermented organic matters has not been conducted. This study aimed to determine the effect of combination of phytoplankton cell and fermented organic matters (tofu waste, rice bran and fish meal) on the growth and reproduction of D. brachyurum and the best percentage of dose of phytoplankton cell and fermented organic matters that supported the growth and reproduction of D. brachyurum. The method of this study was experimental laboratory by using completely randomized design (CRD) with five treatments and three replicates. The culture was conducted in bottle glass with 20 mL volume of culture media and the initial density of D. brachyurum was 1 ind/mL and maintained in controlled environmental condition which temperature was 25 oC; salinity 25 ppt; pH 7; and light intensity 1500 – 1800 lux with 24 hours photoperiod. The maintenance was carried out for 21 days. The treatments of this study were A (100% phytoplankton); B (75% phytoplankton :  25% fermented organic matters); C (50% phytoplankton : 50% fermented organic matters); D (25% phytoplankton : 75% fermented organic matters); and E (100% fermented organic matters). Tetraselmis chuii used as live food in this study. Fermented organic matters consisted of tofu waste, rice bran and fish meal with its  percentage for each material was 35% : 35% : 30%. The measured variables in this study were total density of D. brachyurum which consisted of few stages (nenonates, juvenile, and adult, egg-laying adult, adult with embryo), population growth rate, egg production and neonates production. The results of this study indicated that the effect of combination of phytoplankton cell and fermented organic matters were significantly different (α<0,05) on the growth and reproduction of D. brachyurum. The results of this study concluded that 50% : 50% percentage of dose of phytoplankton cell and fermented organic matters was the best for supporting growth performance with its total density reached to 38,18±3,595 ind/mL (neonates 4,93±0,465 ind/mL, juvenile 4,60±0,805 ind/mL, adult 14,60±0,953 ind/mL, egg-laying adult 14,60±0,953 ind/mL and adult with embryo 9,35±1,800 ind/mL); population growth rate 0,182±0,005 /day; egg production 2,418±0,031 egg/ind; and neonate production 2,407±0,031 /ind
PENGARUH LAMA PERENDAMAN TELUR DALAM LARUTAN TEPUNG TESTIS SAPI TERHADAP JANTANISASI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.) Setiawan, Arif Bayu; Susilowati, Titik; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.29 KB)

Abstract

Ikan hias pelangi (rainbow) merupakan salah satu ikan hias papua yang mempunyai bentuk dan warna yang unik yang memilki jenis yang sangat banyak ada yang sudah diberi nama dan ada yang belum, juga mempunyai nilai jual yang lumayan dan merupakan komoditas ekspor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman telur dalam tepung testis sapi dan mengetahui waktu yang terbaik terhadap jantanisasi ikan rainbow (Melanotaenia sp.). Penelitian ini dilaksanakan di APPIHIS Semarang pada bulan Oktober- Desember 2016 dengan metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Lama waktu perendaman yaitu perlakuan A selama 0 jam atau tanpa perendaman tepung testis sapi, perlakuan B 24 jam, perlakuan C 36 jam, perlakuan D 48 jam dan perlakuan E selama 60 jam dengan dosis yang sama yaitu sebanyak 60 ppm. Data yang diambil adalah persentase kelamin jantan, betina, kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Analisis data menggunakan ANNOVA dan apabila terdapat pengaruh yang nyata makan dilanjutkan dengan uji Duncan. Persentase kelamin jantan dan betina didapatkan perlakuan A sebesar 28,43%±5,38; 71,57%±5,38, perlakuan B sebesar 62,67%±3,69; 37,33%±3,69, perlakuan C sebesar 59,92%±1,73; 40,08%±1,73, perlakuan D sebesar 44,27%±2,31; 55,73%±2,31 dan perlakuan E sebesar  33,06%±0,67; 66,94%±0,67. Kelulushidupan (SR) didapatkan pada perlakuan A sebesar 90,81%±2,06, perlakuan B sebesar 97,22%±0,92, perlakuan C sebesar 93,72%±1,09, perlakuan D sebesar 93,85%±1,35 dan perlakuan E sebesar 95,99%±1,68. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lama perendaman telur yang berbeda berpengaruh terhadap jantanisasi ikan rainbow dan lama perendaman terbaik adalah pada perlakuan B dengan lama perendaman selama 24 jam menghasilkan persentase jantan sebesar 62,67%±3,69.Rainbow fish is one of the ornamental fish Papua that have unique shape and color who have very many species have already been named and there is not yet, also has a hefty selling value value and is an export commodity. This research aims to determine the effect of soaking in the testes flour cows and knowing the best time to jantanisasi rainbow fish (Melanotaenia sp.). This research was conducted in APPIHIS Semarang in October-December 2016 with the research method using a grou randomized design with 5 treatments and 3 replications. Length of time a soaking is without soaking the flour treatment A cow testicle, treatment B 24 hours, treatment C 36 hours, 48 hours of treatment D and E for 60 hours of treatment with the same dose as many as 60 ppm. Data taken is percentage of male genitals, female, survival rate (SR) and water quality. Analysis of data using ANOVA and if there is significant differences meal continue by Duncan test. The percentage of male and female A treatment obtained by 28.43% ± 5.38; 71.57% ± 5.38, treatment B by 62.67% ± 3.69; 37.33% ± 3.69, C treatment amounting to 59.92% ± 1.73; 40.08% ± 1.73, treatment D amounted to 44.27% ± 2.31; 55.73% ± 2,31 and treatment E of 33.06% ± 0.67; 66.94% ± 0.67. Survival rate (SR) be obtained at treatment A of 90.81% ± 2.06, treatment B by 97.22% ± 0.92, C treatment amounting to 93.72% ± 1.09, treatment D amounted to 93.85% ± 1,35 and treatment E of 95.99% ± 1.68. The conclusions of this study are different eggs soaking time affects the rainbow and old fish maskulinisasi best soaking is in treatment B with old soaking for 24 hours resulted in the percentage of males by 62,67%±3,69.   Rainbow fish is one of the ornamental fish Papua that have unique shape and color who have very many species have already been named and there is not yet, also has a hefty selling value value and is an export commodity. This research aims to determine the effect of soaking in the testes flour cows and knowing the best time to jantanisasi rainbow fish (Melanotaenia sp.). This research was conducted in APPIHIS Semarang in October-December 2016 with the research method using a grou randomized design with 5 treatments and 3 replications. Length of time a soaking is without soaking the flour treatment A cow testicle, treatment B 24 hours, treatment C 36 hours, 48 hours of treatment D and E for 60 hours of treatment with the same dose as many as 60 ppm. Data taken is percentage of male genitals, female, survival rate (SR) and water quality. Analysis of data using ANOVA and if there is significant differences meal continue by Duncan test. The percentage of male and female A treatment obtained by 28.43% ± 5.38; 71.57% ± 5.38, treatment B by 62.67% ± 3.69; 37.33% ± 3.69, C treatment amounting to 59.92% ± 1.73; 40.08% ± 1.73, treatment D amounted to 44.27% ± 2.31; 55.73% ± 2,31 and treatment E of 33.06% ± 0.67; 66.94% ± 0.67. Survival rate (SR) be obtained at treatment A of 90.81% ± 2.06, treatment B by 97.22% ± 0.92, C treatment amounting to 93.72% ± 1.09, treatment D amounted to 93.85% ± 1,35 and treatment E of 95.99% ± 1.68. The conclusions of this study are different eggs soaking time affects the rainbow and old fish maskulinisasi best soaking is in treatment B with old soaking for 24 hours resulted in the percentage of males by 62,67%±3,69.
PENGARUH PERENDAMAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus, Linnaeus 1758) Faramida, Richa Na’imatul; Rejeki, Sri; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.212 KB)

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil perikanan yang sangat potensial dan menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan yang masih kurang optimal pertumbuhannya dan tingkat kelulushidupan benihnya sangat rendah. rGH berfungsi mengatur pertumbuhan tubuh, reproduksi, dan sistem imun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rGH dengan dosis yang berbeda melalui metode perendaman terhadap laju pertumbuhan, frekuensi pergantian kulit, periode pergantian kulit, dan kelulushidupan rajungan serta mengetahui dosis perendaman rGH yang terbaik dari masing-masing perlakuan. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang. Hewan uji adalah crablet muda rajungan yang berumur 30-40 hari dengan bobot 2,26±0,72 gram. Padat tebar yang digunakan adalah 30 ekor/kolam yaitu terdiri dari 1 perlakuan 3 ulangan. Pakan yang diberikan adalah pakan rucah yang diberikan secara fix feeding rate 5% dari bobot tubuh. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok (RAK). Pemeliharaan dilakukan pada kolam semi indoor dengan menggunakan basket untuk tiap individu. Pemberian rGH dilakukan secara langsung dengan dosis 0 mg/L, 2 mg/L, 4 mg/L, dan 6 mg/L dengan 1 kali perendaman di awal pemeliharaan selama 1 jam. Pemeliharaan dilakukan selama 40 hari dan dilakukan pengukuran pertumbuhan setiap 10 hari sekali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman hormon rGH berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penambahan bobot dan laju pertumbuhan relatif bobot, dan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap frekuensi molting, periode molting dan kelulushidupan. Perlakuan perendaman hormon rGH (B, C dan D) menunjukkan hasil bahwa ke tiga perlakuan tersebut tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman hormon rGH selama 1 jam mampu meningkatkan bobot (6,83±1,02), dan RGR (6,32 ±0,88).       Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a potential fishery comodity and become one of the leading export that are still less than optimal growth and high mortality rate during on growing. rGH functions to regulated body growth, reproduction and immune system. The purpose of this research were to find out the effects of rGH hormon on the growth, moulting periode and frequency, and survival rate of blue swimming crab and to find out the dosege that gives the best growth and survival rate.  rGH hormone derived from giant crouper. Crablet of blue swimming crab 30 – 40 days old with average weight of 2,26±0,72 grams. Were used stocking density  was 30 individuals/tank. A Group Randomized Design was applied in this research. Maintenance of crab on a semi indoor pond with use of one basket for one individu. There were from treatments A 0 mg/L, B 2 mg/L, C 4 mg/L, and D 6 mg/L each treatment was replicated 3 times the blue swimming crab were immersed according to the treatment for 1 hours. Immersion is done directly without shocking salinity according to the prescribe dosage. Maintenance performed for 40 days and measured growth every 10 days. The result of the research showed that application of rGH significantly (P<0,05) affected relative growth rates, but no significant (P>0.05) affect on the moulting frequency, moulting period, and survival rate. Based on the result of this reaserch can be conclude and the dosage of 6 mg/L give the best result of growth (6,83±1,02) and RGR (6,32 ±0,88).              
PENGARUH KAROTENOID DARI TEPUNG ALGA Haematococcus pluvialis DAN MARIGOLD BERBASIS ISOKAROTENOID PADA PAKAN BUATAN TERHADAP KECERAHAN WARNA ORANYE, EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS KOKI (Carassius auratus) Uly, Marta; Pinandoyo, - -; Hastuti, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.905 KB)

Abstract

Ikan mas koki (Carassius auratus) merupakan salah satu ikan hias yang banyak diminati karena keindahan warnanya.  Warna ikan mas koki didapatkan dari karotenoid yang terkandung dalam pakan.  Karotenoid ini berasal hewan dan tumbuhan yang mengandung pigmen warna seperti tepung alga H. puvialis dan marigold.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karotenoid dari tepung alga H. puvialis dan marigold terhadap peningkatan kecerahan warna oranye ikan mas koki, mengetahui  pengaruh pemberian karotenoid dari tepung alga H. pluvialis dan marigold terhadap total konsumsi pakan, rasio konversi paka, laju pertumbuhan spesifik, dan tingkat kelulushidupan ikan mas koki, dan mengetahui jenis bahan terbaik dalam meningkatkan kecerahan warna oranye ikan mas koki.  Padat tebar ikan mas koki yaitu 1 ekor/l.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan dalam penelitian ini yaitu Perlakuan A (penambahan karotenoid 0 mg/kg), B (penambahan karotenoid 200 mg/kg dari tepung alga H. puvialis), C (penambahan karotenoid 200 mg/kg dari tepung marigold), dan D (penambahan karotenoid 100 mg/kg dari tepung alga H. puvialis dan 100 mg/kg dari tepung marigold).  Data yang diamati meliputi nilai hue, rasio konversi pakan, laju pertumbuhan spesifik, tingkat kelulushidupan, dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan karotenoid pada pakan buatan berpengaruh sangat nyata nilai hue dan FCR namun tidak berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik dan tingkat kelulushidupan.  Perlakuan C (penambahan karotenoid 200 mg/kg dari tepung marigold) yang menghasilkan tingkat penurunan nilai hue terbesar yaitu 4,82o. Goldfish (C. auratus) is one of the ornamental fish that are much sought because of the beauty of its color.  The color of ornamental fish is obtain from carotenoids contained within feed.  Carotenoids are derive from animals and plants that contain color pigments such as flour H. pluvialis of algae and marigold.  This research purposed to know effect of addition carotenoids from flour H. pluvialis of algae and marigold towards increased the brightness orange color of goldfish, effect of addition carotenoids from flour H. pluvialis of algae and marigold towards total feed consumption, feed conversion ratio, spesific groeth rate, and survival rate of gold fish, and to know the best type of material in improving the brightness orange color of goldfish.  The density of goldfish was 1 tail/l. This research used experimental method with complete randomize design of 4 treatments and 3 repetitions.  The treatments of this research were Treatment A (addition carotenoids 0 mg/kg), B (addition carotenoids 200 mg/kg from flour H. pluvialis of algae), C (addition carotenoids 200 mg/kg from flour marigold), and D (addition carotenoids 100 mg/kg from flour H. pluvialis of algae and 100 mg/kg from flour marigold).  Data that observed during this research were value of hue, feed conversion ratio, spesific growth rate, survival rate, and water quality.  The results of this research showed that the addition carotenoid in feed give significant different towards value of hue and feed conversion ratio but not sigficant different  towards spesific growth rate and survival rate.  Treatment C (addition carotenoid 200 mg/kg from flour marigold) produced a reduced rate of the biggest value of hue was 4,82o.
PENGARUH KOMBINASI PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN PADA PAKAN BUATAN DAN PROBIOTIK PADA MEDIA PEMELIHARAAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Yulyanah, - -; Rachmawati, Diana; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.486 KB)

Abstract

Peningkatan produksi ikan mas (Cyprinus carpio) akan berbanding lurus dengan kebutuhan pakan. Masalah yang sering dihadapi pembudidaya ikan mas adalah efisiensi pemanfaatan pakan yang belum maksimal dari pakan komersil dan hampir menghabiskan sekitar 60% dari total biaya produksi untuk pakan. Oleh karena itu, pakan yang diberikan harus efektif dan efisien agar dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh ikan mas untuk pertumbuhan. Efisiensi pemanfaatan pakan ikan mas dapat ditingkatkan dengan penambahan enzim eksogenus diantaranya enzim papain. Disisi lain, pemberian pakan dalam jumlah berlebih pada budidaya ikan mas dapat menyebabkan penurunan kualitas air yang berakibat terjadinya peningkatan kematian. Hal tersebut dapat diatasi dengan penambahan probiotik pada media pemeliharaan budidaya ikan mas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi penambahan enzim papain pada pakan buatan dan probiotik pada media pemeliharaan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan mas (C. carpio). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan mas dengan bobot rata-rata 3,21±0,23 g/ekor. Pemberian pakan yaitu pada pukul 08.00 dan 16.00 secara at satiation. Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 1 ekor/l dengan lama pemeliharaan 42 hari.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan.  Perlakuan dalam penelitian ini adalah kombinasi penambahan enzim papain pada pakan dan probiotik media pemeliharaan dengan dosis yang berbeda yaitu: perlakuan A1B1 (enzim papain 0,25 g/kg pakan dan probiotik 1 mL/L); A1B2 (enzim papain 0,25 g/kg pakan dan probiotik 2 mL/L); A2B1 (enzim papain 0,5 g/kg pakan dan probiotik 1 mL/L); A2B2 (enzim papain 0,5 g/kg pakan dan probiotik 2 mL/L); A3B1 (enzim papain 0,75 g/kg pakan dan probiotik 1 mL/L) dan A3B2 (enzim papain 0,75 g/kg pakan dan probiotik 2 mL/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan buatan dan probiotik pada media pemeliharaan ada interaksi (P<0,05) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan laju pertumbuhan spesifik (SGR), tetapi tidak ada interaksi (P>0,05) terhadap kelulushidupan (SR). Perlakuan A3B1 (enzim papain 0,75 g/kg dan probiotik 1 mL/L) memberikan nilai tertinggi pada EPP dan SGR yaitu masing-masing sebesar 75,44±2,19% dan 2,19±0,03%/hari. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji.  Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah kombinasi penambahan dosis enzim papain sebesar 0,75 g/kg pakan dan probiotik pada media pemeliharaan sebesar 1 mL/L merupakan dosis terbaik terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan mas (C. carpio). Increasing production of common carp (Cyprinus carpio) will be directly proportional to the feed needs. The problem which often faced by common carp farmer is the efficiency utilization of commercial feed that has not yet been maximum and nearly spent about 60% of the total production costs for feed. Therefore, the given feed must be effective and efficient in order to be utilized properly by the body of the common carp for growth. The efficient utilization of feed common carp can be improved by the addition of exsogenus enzyme which contain of papain enzymes. On the other hand, excess amounts of feeding on common carp cause a decreasing in water quality that can increase fish mortality. This can be overcome by the addition of probiotics on media of common carp. This present study was aimed to determine the effect combination of papain enzyme on artificial feed and probiotics in media on feed utilization efficiency, growth and survival rate of common carp (C. carpio). The experimental fish was common carp with the average body weight was 3,21 ±0,23g/fish.  The feeding frequency was twice a day, that was at 08.00 and 16.00, by applying at satiation method.  The fish was cultured with stocking density of 1 fish/l for 42 days.  This research was used an experimental method of completely randomize design complete randomized design factorial with 2 factors and 3 replicates.  The treatment in this study: treatment A1B1 (0,25 g/kg of papain enzyme in feed and 1 mL/L of probiotic), A1B2 (0,25 g/kg of papain enzyme in feed and 2 mL/L of probiotic), A2B1 (0,5 g/kg of papain enzyme in feed and 1 mL/L of probiotic), A2B2 (0,5 g/kg of papain enzyme in feed and 2 mL/L of probiotic), A3B1 (0,75 g/kg of papain enzyme in feed and 1 mL/L of probiotic), A3B2 (0,75 g/kg of papain enzyme in feed and 2 mL/L of probiotic). Data showed that the addition of papain enzyme in artificial feed and probiotics in the media make an interaction (P<0,05) on the feed utilization efficiency (FUE) and specific growth rate (SGR), but did not make an interaction (P>0,05) on the survival rate (SR). Treatment A3B1 (papain enzyme 0,75 g/kg feed and probiotic 1 mL/L) produced the high value for FUE and SGR that were 75.44±2.19% and 2,19±0,03%/day. Water quality parameters during the rearing period were suitable for the trial fish. The results showed that the optimum dosage for common carp (C. carpio) is 0,75 g/kg of papain enzyme in feed and 1 ml/l of probiotic in the media.
PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN LAMA WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum Cuv) Atmojo, Aditya; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.665 KB)

Abstract

Permintaan pasar bawal air tawar yang tinggi harus didukung dengan usaha budidaya yang berkelanjutan dan siklus produksi yang cepat. Rekombinan hormon pertumbuhan (rGH) merupakan inovasi teknologi dibidang perikanan yang memiliki potensi sebagai pakan suplemen yang diharapkan dapat memberikan percepatan pertumbuhan pada ikan budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu perendaman rGH yang terbaik terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva bawal air tawar (C. macropomum). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 3 pengulangan. Ikan uji yang digunakan adalah bawal air tawar dengan bobot individu rata – rata 2,59±0,32 g/ekor dan panjang 4,5 – 5,5 cm. Ikan uji dipelihara selama 45 hari dengan padat tebar 1 ekor/l. Dosis rGH yang digunakan adalah 2,5 mg/l. Perlakuan A tanpa perendaman, B perendaman 30 menit, C perendaman 60 menit, D perendaman 90 menit. Data yang diamati meliputi tingkat konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan panjang mutlak (L), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil pengamatan total konsumsi pakan perlakuan A sebesar 193,72±2,96g, perlakuan B sebesar 193,06±4,55g, perlakuan C sebesar 193,81±10,32g, perlakuan D sebesar 192,01±3,85g. Nilai rasio konversi pakan perlakuan A sebesar 1,07±0,09, perlakuan B sebesar 1,11±0,05, perlakuan C sebesar 1,10±0,1, perlakuan D sebesar 0,99±0,01. Laju pertumbuhan spesifik didapatkan hasil A sebesar 3,44±0,03%/hari, perlakuan B sebesar 3,36±0,07%/hari, perlakuan C sebesar 3,45±0,06%/hari, perlakuan D sebesar  3,58±0,03%/hari. Pertumbuhan panjang mutlak diperoleh hasil perlakuan A sebesar 3,51±0,26cm, perlakuan B sebesar 3,45±0,21cm, perlakuan C sebesar 3,46±0,10cm, perlakuan D sebesar 3,95±0,06cm. Nilai kelulushidupan diperoleh perlakuan A sebesar 90,00±8,66%, perlakuan B sebesar 88,33±2,89%, perlakuan C sebesar 90,00±8,66%, perlakuan D sebesar 93,33±2,89%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk ikan uji. Pemberian rGH melalui metode perendaman dengan lama waktu 90 menit dapat meningkatkan laju pertumbuhan spesifik dan pertumbuhan panjang mutlak bawal air tawar. Market demand on red-bellied pacu should be responded by sustainable and fast production cycle. Recombinant Growth Hormone was a technology innovation in fisheries sector which has potential ability that hopefully could give a growth acceleration on aquaculture organism. The aim of this research was to found the best duration of Recombinant Growth Hormone effects through immersion method on growth and survival rate of red-bellied pacu (C. macropomum) fry. This research was used an experimental method of completely randomized design for 4 treatments and 3 replicates. The trial fish was red-bellied pacu (C. macropomum) with 2,59±0,32 g/fish body weight average and 4,5 – 5,5 cm height. The fish was cultured for 45 days with 1 fish/l stocking density. The dose of rGH was 2,5mg/l. The treatments of this research were: A that was for trial with no rGH immersion, B with 30 minutes of rGH immersion, C with 60 minutes of rGH immersion, and D with 90 minutes rGH immersion. The measured data included the feed consumption, feed convertion ratio (FCR), specific growth rate (SGR), absolute length growth (L), survival rate (SR), and water quality. The result showed total feed consumption treatment A 193,72±2,96g, treatment B 193,06±4,55g, treatment C 193,81±10,32g, treatment D 192,01±3,85g. Feed convertion ratio treatment A 1,07±0,09, treatment B 1,11±0,05, treatment C 1,10±0,1, treatment D 0,99±0,01. Specific growth rate treatment A 3,44±0,03%/day, treatment B 3,36±0,07%/day, treatment C 3,45±0,06%/day, treatment D 3,58±0,03%/day. Absolute length growth treatment A 3,51±0,26cm, treatment B 3,45±0,21cm, treatment C 3,46±0,10cm, treatment D 3,95±0,06cm. Survival rate treatment A 90,00±8,66%, treatment B 88,33±2,89% SR, treatment C 90,00±8,66%, treatment D 93,33±2,89%. Water quality parameters during rearing period were suitable for the trial fish. Giving rGH through immersion method with 90 minutes duration could increased the specific growth rate and absolute length growth of red-bellied pacu.

Page 3 of 4 | Total Record : 33