cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2016):" : 36 Documents clear
KAMUFLASE DIBALIK TOPENG DALAM SAJIAN KARYA TARI FACES PERMATASARI, NORMA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena yang dijadikan pijakan dalam penciptaan karya tari pada tulisan  ini merupakan salah satu dari sifat antagonis manusia, yaitu adanya pembudayaan sifat buruk manusia. Pembudayaan sifat buruk yang dimaksud yaitu mencari muka di masyarakat. Mencari muka merupakan upaya yang dilakukan demi melancarkan segala hal yang diinginkan, yaitu dengan menjadi apa dan siapa saja sesuai dengan situasi dan kondisi yang bisa menguntungkanya. Terdapat dua fokus di dalam tulisan karya ini yaitu isi dan bentuk. Isi dalam karya tari Faces ini adalah tentang persoalan kamuflase (penyamaran/pengelabuhan) dan topeng sebagai bentuknya. Topeng merupakan sebuah benda yang digunakan untuk menutup atau menyembunyikan identitas untuk membentuk wujud lain. Tujuan penulisan dalam kekaryaan ini yaitu untuk menambah literatur tentang bentuk penyajian tari dramatik dengan menghadirkan topeng sebagai media eksplorasi.Pada penulisan karya tari Faces ini, menggunakan beberapa teori penataankoreografi. Teori yang digunakan antara lain tulisan Sal Murgiyanto yang berjudul Koreografi Pengetahuan Dasar Komposisi Tari dan tulisan Retnayu Prasetyaniyang berjudul Koreografi dan Teknik Gerak Pemakaian  Topeng sebagai literatur koreografi.Ide garap karya koreografer dapatkan dari rangsang visual dan gagasan (idesional). Dari melihat kejadian di masyarakat dan kemudian melalui perenungan koreografer menemukan sebuah ide. Proses penciptaan karya tari ini melalui beberapa tahap, yaitu eksplorasi, improvisasi, foarming, dan evaluasi. Karya tari Faces menggunakan properti topeng dengan berbagai bentuk yaitu topeng yang hanya menutup mata, topeng yang menutup separuh wajah dan juga topeng yang full menutup wajah. Alasan koreografer menggunakan berbagai macam bentuk topeng yaitu karena pada dasarnya “mencari muka” merupakan upaya menjadi apa saja dan siapa saja yang diinginkan.Karya tari Faces merupakan sebuah karya inspiratif yaitu dalam menambah penawaran bentuk pertunjukan karya tari dengan  mengeksplor lebih dari satu topeng dengan bentuk yang berbeda dalam sebuah sajian karya. Selain itu, dengan adanya karya ini dapat dijadikan renungan dan tidak lagi adanya pembudayaan sifat mencari muka di masyarakat.Kata Kunci: Mencari Muka, Kamuflase, TopengThe phenomenon that is used as a foothold in the creation of this dance work is one of the antagonists of human, namely the civilizing nature of partiality in the community.Partiality is an effort made for the sake of waging all things to be desired, namely by being anything and anyone in accordance with the circumstances. There are two focus in this work is content and form. Fill in this Faces dance work is about the problem of camouflage (disguise / pengelabuhan) and mask as shape. The mask is an object that is used to cover or conceal the identity to form another being. Interest in the workmanship of writing this is to add to the literature on the form of dramatic presentation by presenting a maskdance as a medium for exploration.Faces dance work on writing this, there are several books choreography theory. The theory used include Sal Murgiyanto (Composition Dance Choreography Basic Knowledge) and Retnayu Prasetyani (Choreography and Techniques of Motion Use of Masks) as literature choreography. The idea of working on this work choreographed get from visual stimuli (see) and ideas (idesional). From looking at events in the community and then through contemplation choreographer find an idea. The process of creation of this dance work through several stages of exploration, improvisation, foarming, andevaluation.Faces dance piece using masks with different forms of property that is a mask that just closed my eyes, a mask that covered half of his face and also masks that cover the full face. The reason choreographed using various forms of masks are basically the "partiality" is an effort into anything and anyone you want.Faces dance work is an inspirational work that is in the form of the show deals add dance work by exploring more than one mask with different shapes in a dish work. In addition, the presence of this work can be used as an afterthought and not to mention the civilizing nature of partiality in the community.Keywords :Finding Face, Camouflage, Mask
PENERAPAN DIREKSI DALAM PENYAJIAN KARYA MUSIK BROTHER KOMPOSER ADI PRASETYA PRASETYA, ADI
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Brother” (kata dalam bahasa inggris yang berarti Adik   laki-laki).  Kata tersebut dipilih oleh komposer karena merupakan sebuah pengalaman hidup komposer yang kehilangan orang terdekat  yaitu adik laki–lakinya. Karya musik “Brother” ini dikemas dalam bentuk chamber orchestra, dan akan dipimpin oleh seorang konduktor. Seorang konduktor memerlukan ilmu yang banyak dan memadai. Selain itu, seorang konduktor juga harus memiliki sifat leadership, ketrampilan berkomunikasi yang baik dan cerdas, baik berkomunikasi secara verbal maupun non verbal. Bentuk musik karya Brother adalah bentuk variasi. Jenis variasi berpangkal dari tiga unsur pokok musik yaitu melodi, irama, harmoni/aransemen. Karya musik “Brother” terdiri atas 160 birama. Tempo yang digunakan adalah tempo Adegio, Allegro, dan Moderato Tangga nada yang dimainkan adalah tangga nada G mayor, A mayor, D mayor, B mayor, F mayor. Serta menggunakan tanda birama 4/4 , 2/4, dan 3/4. Dinamika yang mendukung penciptaan suasana yang diinginkan, seperti piano, pianisisimo, forte, mezzoforte, fortesisimo, cressendo, dan decressendo. Sedangkan untuk penulisan tentang direksi, komposer terinspirasi dari melihat konduktor dalam negeri dan luar negeri yang pada saat mengabah suatu kelompok musik dapat dengan baik memimpin pertunjukan tersebut. Dalam mendireksi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, langkah-langkah mendireksi dimulai dari mengetahui alur matra yang digunakan, gesture saat mengabah, gerakan attack gerakan release dan mimik atau ekspresi. Dengan terciptanya karya musik “Brother” ini, semoga bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum agar lebih mencintai dan memerhatikan musik, khususnya musik klasik karena musik klasik memiliki animo yang kecil di indonesia.Kata kunci : Brother, direksi, bentuk musik, chamber orchestra"Brother" (the word in English which means brother). The word chosen by the composer as a composer who lost their life experience that is the closest younger brother. Musical work "Brother" is packaged in a chamber orchestra, and will be led by a conductor. A conductor requires a lot of knowledge and adequate. In addition, a conductor must also have the nature of leadership, good communication skills and a smart, well communicate verbally and non-verbally. Brother works of musical form is a form of variation. Variations stem from three main elements of music are melody, rhythm, harmony / arranger. Musical work "Brother" consists of 160 bars. Tempo is used Adegio tempo, Allegro and Moderato Stairs tones played are scales of G major, A major, D major, B major, F major. As well as using the time signature 4/4, 2/4, and 3/4. Dynamics that support the creation of the desired atmosphere, like piano, pianisisimo, forte, mezzoforte, fortesisimo, Cressendo, and decressendo. As for the writing of the directors, composers inspired from seeing the conductor within the country and abroad at the time mengabah a musical group could well lead the show. In mendireksi there are a few things to note, steps mendireksi starts from knowing the groove dimensions are used, when mengabah gesture, movement and expression attack release movement or expression. With the creation of musical works "Brother" this may be a reference for the students and the general public to more love and attention of music, particularly classical music because music Classic have little interest in Indonesia.Keywords: Brother, directors, form of music, chamber orchestra
KARYA MUSIK “MOIRA” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI DAN TEKNIK PERMAINAN SOLO VIOLA YUDHIANI P, FARIDA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Moira” merupakan kata yang diadopsi dari bahasa Irlandia yang memiliki arti “perempuan hebat”. Jika ditinjau dari segi fungsinya, karya musik ini tergolong dalam musik programatik sebab menceritakan tentang kisah hidup seorang ibu single parent yang dituangkan melalui jenis musik instrumental, tanpa vokal. Format dari karya musik ini disajikan dalam bentuk orkestra dengan jumlah 28 orang pemain. Durasi musiknya 8 menit 32 detik dalam jumlah 135 birama. Karya musik “Moira” ditinjau dari segi variasi melodi dan teknik permainan solo viola. Variasi melodi yang digunakan terdiri dari ornament appoggiatura dan trill, melodic variation and fake, rhythmic variation and fake, composite melodic variation and fake, ornament, auxiliary notes, dead spot filler, dan counter melodi. Sedangkan teknik permainan solo viola yang digunakan terdiri dari teknik legato, teknik accent, teknik detache, dan teknik bowing. Bentuk musik dari karya musik ini merupakan bentuk musik 3 bagian kompleks yang terdiri dari Bagian 1 Ak meliputi (A, A1, B, C, D, C1), bagian 2 Bk meliputi (E, E1, E2, F, F1, G), dan bagian III Ck meliputi (H, H1, I, J, B1, K, A2). Secara umum melodi pokok dari karya musik “Moira” dimainkan oleh violin 1 dan solo viola pada tema bagian 1, dan bagian 3. Namun pada bagian tertentu melodi utama terdengar pada flute dan bergantian dengan clarinet. Violin 2, tutti viola dan cello lebih sering berperan sebagai iringan dan counter melodi dari melodi utama yang sedang dimainkan. Begitu juga dengan electric bass dan brass section. Melalui karya musik “Moira” ini diharapkan masyarakat dapat lebih menyayangi orang tua mereka khususnya pada orang tua yang telah berperan sebagai single parent, karena sebenarnya mereka membutuhkan kasih sayang lebih dan dukungan dari kita untuk menjalani hidupnya tanpa seorang pasangan hidup.Kata Kunci: Moira, Variasi Melodi, Teknik Permainan Solo Viola    “Moira” is a word which adopted from Irlandia language which is mean of the “great woman”. If it reviewed from the function, it include to programmatic music, because it tells about the story life of single mother which is shared in a instrumental music without vocal. This musical work formatted in orchestra. The duration of this musical work is 8 minutes 32 seconds on 134 bars. Musical works “Moira” is reviewed in melodic variation and technique of solo viola. The melodic variation that used are melodic variation and fake, rhythmic variation and fake, composite melodic variation and fake, ornament appoggiatura and trill, auxiliary notes, dead spot filler, and counter melodic. And the solo viola technique are legato, accent, detache, and the technique of bowing.“Moira” music form is a three complex period music form. It contains Ak (A, A1, B, C, D, C1) Bk (E, E1, E2, F, F1, G), and Ck (H, H1, I, J, B1, K, A2). In general, the main of melodic from this musical work is played with instrument violin 1 and solo viola on the first and third period theme. But on special period theme, the main melodic can listened on instrument flute and clarinet. Violin 2, tutti viola dan cello are more often play as an accompaniment and as a counter melodi of the main melodic which is played. Same with bass elektric and brass section. With this “Moira” musical works, hoped that everybody can love their parents, especially the one of parent who was be a single parent. Because actually they need our love and our support to can way his/ her life without the married couple. Keywords: Moira, Melodic Variation, Technique Of Solo Viola.
TINJAUAN ESTETIKA PADA KARYA MUSIK “I-C-U” WAYAN M. DHAMMA NARAYANASANDHY, I
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “SEPARATIS OVERTURE” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI UMAM, CHOIRUL
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARYA MUSIK “TRES PIEZAS PARA ROSETTE GUITAR QUARTET” DALAM TINJAUAN BENTUK MUSIK SANDY TYAS, DANANG
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring perkembangan zaman gitar berperan sebagai pengiring tarian seperti contoh di negara argentina dan spanyol tari diiringi oleh gitar menggunakan gaya irama tarian seperti flamenco, tarantella, waltz dan tango sehingga orang berpendapat bahwa irama di musik banyak yang mengadopsi dari tarian. Seperti irama waltz, tarantella, tango, flamenco dulunya sebagai iringan tarian namun sekarang menjadi sebuah komposisi musik ataupun karya untuk instrument gitar solo. Berdasarkan perkembangan musik dan gitar di atas, maka muncul ide menciptakan karya seni musik “Tres piezas para rosette guitar quartet” yang artinya 3 karya musik untuk rosette gitar kwartet. Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk musik pada karya “Tres piezas para rosette guitar quartet”. Objek penelitian difokuskan pada bentuk musiknya. “Tres piezas para rosette guitar quartet” merupakan judul karya musik yang artinya tiga karya musik untuk Rosette gitar kwartet. karya musik beriisi tentang 3 karya atau 3 bagian komposisi yang berbeda iringan dalam 1 rangkaian karya yang disajikan dengan format 4 gitar (quartet). Bagian tersebut terdiri dari fantasia tarantella, fantasia tango dan fantasia waltz. Data yang disajikan untuk kemudian dilakukan pengkajian. Proses pengkajian yang dilakukan peneliti adalah dengan penyesuaian proses analisis IBAM yang sudah dikembangkan oleh Prier (2011) yaitu Langkah pertama menetukan bagian musik dari karya tersebut, bahwa dari karya musik terdiri dari 3 bagian, dari bagian-bagian tersebut terdapat periode, dari periode menyimpulkan tema, dari tema terdapat frase dan dari frase terdapat motif dari bagian-bagian tersebut. Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang bentuk musik. Fantasia tarantella, fantasia tango dan fantasia waltz di analisis bentuk dan strukturnya setiap bagiannya, Fantasia Tarantella terdiri dari 3 bagian yaitu : A, B, C Terdiri dari 126 birama menggunakan tangga nada G dan sukat 4/4 dengan awalan tempo Allegro. Fantasia Tango terdiri dari 3 bagian yaitu : A, B, C Terdiri dari 100 birama menggunakan tangga nada C dan sukat 4/4 dengan awalan tempo allegro. Fantasia Waltz terdiri dari 3 bagian yaitu : A, B, C Terdiri dari 133 birama menggunakan tangga nada A dan sukat 4/4 dengan awalan tempo rubato kemudian Allegretto setelah masuk tema. Karya musik ini merupakan sebuah musik fantasia yaitu gaya atau aliran yang meninggalkan serangkaian aturan untuk membebaskan imajinasi para komponis. Karya musik dimainkan dengan format gitar kwartet dan menggabungkan gaya iringan tarian tarantella, tango, waltz dalam bentuk musik fantasia yang bersifat instrumental.     Kata kunci : Musik Tarian, Bentuk Musik 3 bagianAs the times the guitar plays as a dance as an example in the country of Argentina and Spanish dance accompanied by guitars using rhythm styles such as flamenco dance, tarantella, waltz and tango so that people found the rhythm in the music that adopts many of the dances. Such as waltz, tarantella, tango, flamenco dance once as an accompaniment but is now becoming a musical composition or work for guitar solo instrument. Based on the development of music and the guitar above, it appears the idea of creating works of musical art "Tres piezas the rosette guitar quartet" which means 3 rosette of music for guitar quartet. This research aims to describe the form of music in the work "Tres piezas the rosette guitar quartet". The object of research is focused on the form of his music. "Tres piezas the rosette guitar quartet" is the title of a piece of music which means three of music for guitar quartets Rosette. beriisi musical work about 3 works or 3 different compositions accompaniment in the first series of papers presented by four guitar format (quartet). The section consists of a tarantella fantasia, fantasia fantasia tango and waltz.Data presented to then do the assessment. Assessment process conducted by researchers is adjusted analysis process Ibam that has been developed by prier (2011) is a first step in determining the musical part of the work, that of a musical work consists of three parts, of the parts there is a period, from the period of concluding theme , on the theme of the phrases are phrases and motifs are from these parts.In this paper discuss more about this form of music. Fantasia tarantella, fantasia fantasia tango and waltz in the analysis of the form and structure of each part, Fantasia Tarantella consists of three parts: A, B, C consists of 126 bars using G scales and measures of 4/4 with prefix tempo Allegro. Fantasia Tango consists of three parts: A, B, C consists of 100 bars using scales C and measures of 4/4 with prefix tempo allegro. Fantasia Waltz consists of three parts: A, B, C consists of 133 bars using scales A and measures of 4/4 with prefix tempo Allegretto Rubato then after entrance theme.This musical work is a musical fantasia that is the style or stream leaving a series of rules to liberate the imagination of the composer. Piece of music played by the guitar quartet format and combine style accompaniment tarantella dance, tango, waltz fantasia in the form of music that is instrumentalKeywords: Dance Music, Musical Forms 3 parts
KARYA MUSIK “ADÂNTĒ’ IN G MINOR” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI MALIK AMRULLAH, ABD
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TEKNIK KEAKTORAN PANTOMIM CLAUDE KIPNIS PADA NASKAH BEAUTY AND THE BEAST  KARYA LINDA WOLVERTON SUTRADARA SHERLY CINDYA FRANSICA BAEHAQI ALMAS, KUN
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantomim adalah sebuah seni yang mengandalkan gerak tubuh dan ekspresi pada wajah secara maksimal, ciri-ciri dasarnya lahir dari aktivitas manusia karena gerak menirukan yang tidak mendasarkan pada rhytm secara dominan. Sebagai calon aktor perlu sebuah pelatihan dasar Pantomim agar menunjang sebuah kebutuhan akting yang baik, selain itu aktor dengan bebas mengekspresikan apapun yang ada disekitarnya meliputi objek hidup atau mati. Eksplorasi adalah tahapan yang paling penting dalam pantomim, beberapa hal yang harus dilakukan sebelum menuju tahap eksplorasi adalah pemanasan, peregangan, dan pelemasan agar tubuh siap dalam menerima tahap selanjutnya. Teknik yang digunakan penulis sebagai pedoman dalam pembentukan aktor pantomim pada naskah  Beauty and The Beast adalah teknik pelatihan aktor Claude Kipnis, yang, beberapa tahapan yang dilakukan diantaranya: isolasi tubuh, ilusi, penciptaan dunia. Isolasi tubuh mempunyai peranan penting dalam mengolah dasar gerak yang diantaranya melatih serta membentuk semua bagian tubuh mulai dari bagian kepala, sampai pada bagian kaki dan yang terakhir masuk pada tahapan olah mimik, kemudian masuk pada tahapan ilusi. Tahap eksplorasi pada bagian ilusi adalah melatih beberapa bagian tubuh agar menimbulkan efek yang menunjukkan kedetailan objek dan ekpresi, pada tahapan ini dibutuhkan intesitas latihan yang rutin agar mendapatkan hasil yang maksimal. Penciptaan dunia adalah tahapan terakhir pada teknik keaktoran pantomim Claude Kipnis.Teknik keaktoran pantomim Claude Kipnis menggunakan imajinasinya untuk menyampaikan sebuah pesan dengan pola gerak tubuh, ekspresi serta penguasaan ide atau gagasan dalam cerita agar penonton dapat menikmati pertunjukan mempunyai ciri khas yang sesuai dengan Claude Kipnis.Kata Kunci : Keaktoran, Pantomim, Claude Kipnis, Beauty and The Beast
KARYA MUSIK “O..LORD” DALAM TINJAUAN HARMONI RIGEL AURIGAETAMA, NIKOLAS
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“O..LORD” adalah judul yang diadopsi dari bahasa Inggris yang secara harfiah berarti “Ya Tuhan” adalah sebagai bentuk doa dan pengagungan untuk Tuhan. Karya ini berbentuk tiga bagian, bagian pertama didominasi oleh paduan suara yang menyanyikan sebuah doa dan diiringi oleh orkestra, bagian dua adalah permainan instrumental yang didominasi oleh divisi string menggambarkan tentang suara alam dan suara Tuhan sendiri, bagian ketiga didominasi paduan suara yang menyanyikan pujian-pujian dan diiringi oleh orkestra, menggambarkan suasana suka cita berkat pertolongan-Nya.Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang tinjauan harmoni. langkah yang dilakukan untuk meninjau harmoni diantaranya memahami susunan akord dan kadens pada setiap kalimat lagu. Karya musik ”O..LORD” terdapat 124 birama dengan durasi 7 menit 44 detik. Dalam karya musik ini dimainkan dengan tempo Adagio, Moderat, dan  Andante secara bergantian dan berurutan. Adapun tangga nada yang dimainkan meliputi tangga nada D minor, C mayor, D mayor, dan A mayor. Serta menggunakan tanda birama 4/4 dan 5/4. Dengan terciptanya karya musik “O..LORD” ini, semoga bisa menjadi referensi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum agar lebih mencintai dan memerhatikan musik, khususnya musik klasik karena musik memiliki animo yang kecil di indonesia.Kata kunci : orkestra, paduan suara, akord, kadens."O..LORD" is the title adopted from the English language, which literally means "Lord" is a form of prayer and adoration to God. This work is in the form of three parts, the first part is dominated by the choir who sang a prayer and accompanied by the orchestra, the second part is a instrumental played dominated by string divisions describing the natural sounds and the voice of God himself, the third part dominated by choir singing praise and accompanied by the orchestra, describes the atmosphere of joy thanks for help to Him. In this paper discusses more about the review of harmony. steps taken to review the harmony of them understand the structure of chords and kadens on each sentence. Musical work "O..LORD" there are 124 bars with a duration of 7 minutes and 44 seconds. In a piece of music is played with tempo Adagio, Moderate, and Andante alternately and sequentially. The scales are played include scales D minor, C major, D major and A major. As well as using 4/4 and 5/4 time signatures. With the creation of musical works "O..LORD" this may be a reference for the students and the general public to love and attention of music, particularly classical music because music has little interest in Indonesian.Key words : orchestra, choir, chord, kadens.
TEKNIK GERAK BODY CONTACT PADA KARYA TARI GREGET NYALAMI YUGA P, FAHMIDA
Solah Vol 6, No 2 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salaman merupakan sebuah bentuk interaksi sosial yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Interaksinya membudaya sangat menarik untuk diungkapkan menjadi sebuah karya koreografi baru. Penulis mencoba mengungkapkan susunan koreografi dengan fokus karya makna salaman dan teknik gerak body contact berdasarkan jumlah penari.Kajian teori koreografi dari berbagai ahli dijadikan sebagai pijakan dalam penciptaan karya tari ini meliputi, teori koreografi sebagai teknik oleh Sumandiyo Hadi, metode konstruksi I oleh Jacqueline Smith, Elemen Dasar Komposisi Tari oleh La Meri, Konsep Salaman, dan Konsep Body Contact, dan teori makna oleh Marcel Danesi. Hasil penciptaan karya tari yang relevan juga turut menjadi sumber atau referensi mengenai konsep, teknik, dan penggunaan jumlah penari untuk memperlihatkan perbedaan orisinalitas masing-masing karya tari.Metode penciptaan meliputi pendekatan metode konstruksi I Jacqueline Smith, penyusunan konsep terdiri dari: tema, judul dan sinopsis, teknik, gaya; seni pendukung terdiri: dari iringan musik, tata lampu, tata rias busana, tata panggung, penari, dan proses yang dimulai dari rangsang, kerja studio sampai terbentuknya karya tari dengan judul Greget Nyalami.Visualisasi simbol makna salaman dengan penerapan teknik gerak body contact berdasarkan jumlah penari, koreografer mengatur berbagai motivasi jumlah penari tersebut secara bervariasi. Pengaturan variasi jumlah penari untuk menyimbolkan berbagai makna salaman bertujuan untuk menjadikan karya tari Greget Nyalami sebagai karya tari multi interpretatif. Kata Kunci: Greget Nyalami, Salaman, body contact

Page 2 of 4 | Total Record : 36