cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 69 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2017):" : 69 Documents clear
BENTUK PENYAJIAN KARYA MUSIK “ATARAXIA" INTAN CANDRA BUMI, PUTRI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya hidup masyarakat selalu berubah mengikuti situasi yang ada di sekitarnya, seperti trendsetter, situasi politik, ekonomi dan sosial. Sistem sosial yang terbentuk memperkenalkan manusia pada budaya hedonisme dalam aliran Aristippus yang cenderung memikirkan kesenangan badaniah seperti freesex dan alcoholic saat ini tengah merajalela di masyarakat. Mengacu pada keadaan tersebut, komposer melawan hedonisme Aristippus dengan hedonisme Epikuros karena menurut komposer ada tujuan utama dari kehidupan manusia yang lebih penting daripada sekedar kesenangan badaniah yaitu ketenangan jiwa (Ataraxia). Komposer merefleksikan fenomena tersebut dalam karya musik berjudul “Ataraxia” dengan fokus kekaryaan yaitu bentuk penyajian.Menyesuaikan dengan fenomena tersebut, komposer menggunakan teori bentuk penyajian musik dan teori tangga dramatik Freytag. Metode penciptaan pada karya musik “Ataraxia” dilakukan melalui pengamatan dan visual untuk mengetahui fenomena yang terjadi ditengah masyarakat, yaitu merebaknya isu hedonisme. Secara visual, hedonisme sudah menjadi hal yang lumrah dan dianggap biasa.Karya musik “Ataraxia” merupakan sebuah penyajian musik dalamalur tangga dramatik Freytag yang membagi musik pada karya ini ke dalam lima bagian yaitu eksposisi, komplikasi, klimaks, reversal(falling action), dan denoument. Pada karya ini terdapat 226 birama dengan durasi komposisi selama 8 menit. Musik yang ditampilkan pada karya ini dimainkan dalam berbagai variasi tempo yaitu moderato, rubatto, allegro dan grave. Pada karya ini digunakan empat macam sukat, yaitu sukat 2/4, ¾,4/4, dan 6/4. Tangga nada yang digunakan berturut-turut ialah b minor, A mayor, C mayor, G#mayor, a minor, F mayor kemudian ke C mayor lagi hingga bagian akhir.Simpulan bentuk penyajian pada karya musik “Ataraxia” meliputi: (1) format penyajian, (2) formasi alat musik, dan (3) formasi bentuk musik. Selanjutnya, pada karya musik “Ataraxia” terdapat seni pendukung meliputi: properti dan dua aktor. Properti ini merupakan sarana dari keberadaan dua aktor pendukung dalam gerak yang dilakukan di area panggung. Sarana pendukung ini diperlukan sebagai kekuatan dalam menampilkan fenomena hedonisme melalui simbol tertentu disamping bentuk komposisi musiknya, yaitu solois yang ikut bermain peran bersama aktor pendukung.Kata Kunci : Ataraxia, Hedonisme, Bentuk Penyajian Musik
MENGUNGKAP NILAI PERJUANGAN MELALUI KETERBATASAN RUANG GERAK DALAM KARYA  STRUGGLE FALAHANDINI, INTAN
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari “ Struggle “ merupakan sebuah karya tari yang diciptakan sebagai bentuk penghargaan kepada sosok ibu yang hidup penuh dengan perjuangan. Penata tari sebagai seorang anak, dan pelaku seni ingin mengekspresikan kekagumannya terhadap perjuangan seorang ibu sebagai ide gagasan dalam penciptaan karya tari. Dalam penggarapan isi dari karya tari ini penata ingin mengungkapkan perjuangan ibu dalam menjalani hidupnya dengan keterbatasan dan keterikatannya terhadap keluarga, sehingga hal tersebut memunculkan sebuah ide untuk mengaitkan antara kehidupan seorang ibu yang terbatasi  yang kemudian di visualisasikan dalam bentuk keterbatasan ruang gerak. Karya  tari Struggle merupakan sebuah sajian pertunjukan yang menawarkan pengolahan kontrol gerak dalam sebuah ruang sempit secara sadar di atas panggung prosenium. Penata tari meletakan sebuah setting kerangka balok yang menjadi media eksplorasi gerak penari. Adapun desain visual, ruang sempit akan membentuk gerak dengan pengontrolan ruang tenaga dan waktu. Tipe tari yang di gunakan oleh penata tari ialah tipe tari dramatik dan studi. Mode penyajian karya tari Struggle  ini menggunakan mode simbolis dan representative. Proses penciptaan karya tari ini melalui beberapa tahap, yaitu eksplorasi, improvisasi, foarming, dan evaluasi. Kata Kunci: Perjuangan, Keterbatasan ruang gerak, Struggle
MUSIK GEDOGAN DI DESA KEMIREN KABUPATEN BANYUWANGI (TINJAUAN SEJARAH DAN PERKEMBANGAN) RATNASARI, PUTRI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyuwangi mulanya berasal dari salah satu dongeng, yaitu cerita legenda Sri Tanjung – Sidopekso. Yang menceritakan tentang Sri tanjung yang di tuduh selingkuh oleh Prabu Sulakrama sehingga membuat Raden Sidopekso marah dan ingin membunuh Sri Tanjung. Sri Tanjung dibawa Sidopekso ke pinggir sungai. sedangkan menurut sejarah yang ada masyarakat desa kemiren berasal dari orang – orang yang mengasingkan diri dari kerajaan majapahit , setelah kerajaan ini mulai runtuh sekitar tahun 1478M. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu – Budha seperti halnya Majapahit. Kemudian masyarakat blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ketangan kerajaan mataram islam pada tahun 1743M (wawancara dengan pak sirat). Banyuwangi adalah salah satu daerah dengan kekayaan seni-budaya dan alam yang tinggi. Terdapat berbagai tempat pariwisata yang tersebar di kota Osing ini. Desa Kemiren terletak di Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Secara geneologis sosiologis masih memperlihatkan tata kehidupan sosio kultural yang mempunyai kekuatan nilai tradisional Osing sehingga desa kemiren ditetapkan menjadi kawasan wisata desa adat Osing. Keunikan lainnya di desa kemiren yaitu terdapat pada tradisi masyarakat yang mengkramatkan situs Buyut Cili tiap malam senin dan malam jum’at warga yang akan membuat hajatan dan akan menyelenggarakan pertujukan musik Gedogan selalu melakukan doa dengan membawa pecel pitik atau  yang biasa dikenal sebutan urap – urap ayam bakar.Beberapa masalah yaang dapat dirumuskan dalam penelitian ini, sebagai berikut; (1)Bagaimana sejarah musik Gedogan di desa kemiren. (2) Bagaimana perkembangan musik Gedogan di desa Kemiren kabupaten Banyuwangi.?. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu di dalam penelitian menggunakan metode observasi, wawancara dan pendokumentasian dengan teknik analisis isi dan domain. Metode tersebut merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendeskripsikan sejarah musik Gedogan bentuk yang menjadi masalah dalam penelitian ini. Hasil analisis dalam penelitian yang dapat dideskripsikan mengenai sejarah musik Gedogan di desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi dan perkembangan musik GedoganKata Kunci : Banyuwangi, Desa Kemiren, Gedogan
TEKNIK KEAKTORAN TOKOH BESUT DALAM LAKON “BESUT WANI ” KARYA DAN SUTRADARA YUSUP EKO NUGROHO SAMSUDIN YAHYA, MOH.
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Besutan merupakan kesenian yang berasal dari Jombang dan cikal bakal dari Ludruk. Besutan dari kata Besut, berarti nama panggilan suatu tokoh dalam Besutan. Secara akronim berasal dari dua kata yaitu Mbekta maksud (Membawa maksud atau tujuan). Besutan adalah bentuk pertunjukannya sedangkan Besut adalah tokoh. Lakon “Besut Wani“ karya Yusuf Eko Nugroho menceritakan tentang kehidupan Tokoh Besut yang berlatar di Desa Pandanwangi Jombang tahun 1928 pada masa penjajahan Belanda. Lakon ini bercerita tentang penindasan Lurah Sumo Gambar terhadap warganya kemudian dikalahkan oleh Besut dengan siasatnya yang berujung ditangkapnya Lurah Sumo Gambar oleh Belanda. Besut pada Lakon “Besut Wani“ merupakan sosok pemuda berumur 25 tahun dan bekerja serabutan. Besut memiliki karakter yang Berani, Lugu, peduli sesama dan cerdik. Teknik keaktoran yang digunakan untuk memerankan tokoh Besut adalah Teknik keaktoran WS Rendra, antara lain ; Permainan yang hidup ; Mendengar dan menanggapi ; Kejelasan ucapan ; Tekanan ucapan ; Kerasnya ucapan ; Membina klimaks ; Bergerak dengan alasan ; Proyeksi ; Memahami takaran ; Cara muncul dan keluar ; Timing ; Tempo permainan. Lakon “Besut Wani“ ditampilkan menggunakan konsep Drama Modern, namun tidak meninggalkan unsur-unsur Pakem  Besutan seperti tata rias busana Besut, Ritual, Kidungan, serta Dialek Jombangan. Menyampakan isi cerita merupakan tugas seorang aktor, namun menjadi aktor tidaklah mudah apalagi aktor teater tradisi yang penuh dengan syarat dan pakem. Kata Kunci : teknik, aktor, Besut
TRANSFORMASI TARI BUJANG GANONG MELALUI BENTUK DRAMATIK PADA KOREOGRAFI GANONG ÉWAH Ahmad Dwi Saputra, Rizza
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada koreografi dengan judul Ganong Éwah, penulis yang sekaligus menjadi koreografer mengangkat fenomena  dari tari Bujang Ganong yang merupakan salah satu tokoh yang terdapat pada serangkaian pertunjukan kesenian Reyog Ponorogo yaitu dari sisi karakter dan pola geraknya yang menggambarkan kesaktian, semangat serta tanggung jawab dari penokohan tari Bujang Ganong, yang nantinya akan ditransformasikan menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk tari dramatik. Melalui beberapa teori koreografi Ganong Éwah ini diciptakan dalam proses kreatifnya antara lain teori transformasi budaya, desain, bahkan arsitektur dimasukan untuk mematangkan konsep serta tahapan yang digunakan. Tidak lepas dari teori komposisi tari, koreografi ini tidak akan menjadi sesuatu yang baik apabila tidak dibekali dengan ilmu- ilmu komposisi dan koreografi.Penguatan interpretasi yang kemudian dikemas menjadi susunan rancangan melalui penerapan- penerapan ide gagasan ataupun konsep dalam bentuk tema, judul, sinopsis, iringan, serta unsur- unsur pendukung lainnya yang mempermudah koreografer untuk memvisualisasikan kedalam bentuk pertunjukan tari. Koreografer menjadikan tari Bujang Ganong menjadi bentuk sajian yang baru melalui tari dramatik dengan lebih menguatkan emosi serta daya tarik kepada penonton dengan penambahan, pengurangan bahkan perubahan pada suasana serta dinamika yang dibangun pada koreografi Ganong Éwah ini.Kata Kunci: Transformasi, Bujang Ganong, Dramatik, Ganong Ewah.
PENGUNGKAPAN MAKNA TANDA KOMA (,) MELALUI TARI STUDI PADA KARYA TARI “PAUSE” ARFIANTI, MIRNA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Pause merupakan sebuah karya inspiratif yang berangkat dari fenomena tanda baca koma. Menurut koreografer koma dapat diartikan sebagai jeda sesaat pada kegiatan istirahat. Karya ini memilih fokus untuk menafsirkan makna tanda koma melalui bentuk pertunjukan tipe tari studi. Karya tari ini ditujukan agar dapat mengetahui bahwasannya sebuah tanda baca koma dapat dikaitkan dengan salah satu peristiwa penting dalam kegiatan sehari-hari yaitu istirahat. Selain itu tanda koma yang jauh dari perkiraan untuk dapat ditarikan, namun dalam penciptaan karya ini sebuah tanda koma dapat divisualisasikan melalui pertunjukan tari.Kata Kunci: Tanda Koma, Tari Studi, dan Pause
KARYA TARI APOY DHANGKA SEBAGAI  WUJUD UNGKAP SEMANGAT DALAM LEGENDA API TAK KUNJUNG PADAM Agustin, Triana
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Api Tak Kunjung Padam merupakan wisata alam yang berada di Kabupaten Pamekasan, dan memiliki latar belakang kisah dari suatu legenda “Ki Moko”. Koreografer menjadikan makna Api dalam Api Tak Kunjung Padam tersebut sebagai fokus pembuatan karya dengan tujuan untuk memvisualisasikan semangat orang Madura yang tidak pernah padam dalam bentuk karya tari dan mendiskripsikan bentuk penyajian karya tari Apoy Dhangka. Metode penciptaan karya dimulai dari menentukan rangsang awal yaitu rangsang visual dan idesional, dengan tipe tari dramatik, yang menggunakan mode penyajian simbolis representatif kemudian tahap selanjutnya eksplorasi, improvisasi, dan evaluasi.Bentuk penyajian karya tari Apoy Dhangka meliputi struktur yang dibagi menjadi empat bagian yaitu intro menceritakan romantis dan keharmonisan antara Ki Moko dengan Putri Palembang, gerak yang dihadirkan pada adegan ini gerak-gerak saling interaksi antar dua tokoh. Serta penggunaan setting bertujuan untuk memberikan kesan dan menunjukkan tempat Dhangka, adegan I Kehidupan masyarakat Madura adegan ini dimulai dari   perkenalan masyarakat dengan penari di atas trap dengan gerak pelan, kemudian tempo yang diciptakan semakin cepat bermaksud menambah karakter orang Madura yang selalu bersemangat, adegan II Kegalauan dan kekacauan hati Ki Moko pada adegan ini tokoh Ki Moko dan putri bergerak berbeda dengan penari yang lainnya, penari yang lainnya hanya memperkuat tokoh. Tata lampu yang digunakan pada adegan ini yaitu efek blits atau lampu yang bergerak cepat dan bergantian, ini bertujuan untuk memperkuat susana kekacauan, adegan III Doa dan kemunculan Api Tak Kunjung Padam pada adegan berdoa Ki Moko menggunakan pakaian yang berbeda agar menonjolkan tokoh seorang Ki Moko, dengan para penari yang bergerak dengan level rendah juga memperkuat karakter tokoh Ki Moko. Pada adegan kemunculan api, para penari menari dengan menggunakan properti gunungan berbentuk api dan penari wanita juga bergerak menggunakan sampur sebagai penguat kemunculan api. Penggunaan smoke juga bertujuan untuk memperkuat suasana ke magisan. Elemen utama yaitu gerak dengan pijakan gerak dan karakteristik Madura yang dikembangkan dan elemen pendukung yaitu iringan, rias busana mengacu pada gaya jawa timuran, pola lantai, pemanggungan dengan panggung procenium beserta setting dan lightingnya.Melalui media ungkap gerak, pola lantai, tata rias dan busana, tata teknik pentas, tata cahaya, semangat Ki Moko dalam Legenda Api Tak Kunjung Padam menjadi karya yang dinamis dengan penekanan-penekanan konflik sehingga membentuk bangunan tari dramatik. Kata kunci: Karya Tari, Legenda Api Tak Kunjung Padam, Bentuk Penyajian
KONSTRUKSI PERTUNJUKAN REYOG SEBUAH KOREOGRAFI LINGKUNGAN REYOG ENDHUT Miftahul Aji, Ridzwan
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seniman Reyog dan Petani adalah profesi yang memerlukan usaha keras, terlebih beliau yang hidup sebagai anggota masyarakat dalam satu ikatan keluarga akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Artinya pekerjaan mereka membutuhkan perjuangan, ulet, tekun, dan tekad yang kuat. Kegigihan keduanya menjadikan bentuk tematik yang ingin disampaikan penulis secara ekspresif melalui karya Reyog Endhut. Metode penciptaan yang dipilih penulis adalah metode konstruksi dengan tipe tari dramatik, karena pada karya tersebut penulis ingin menciptakan moment – moment untuk memberikan kesan menarik pada garap dinamika pertunjukan. Lingkungan sawah yang kaya akan elemen bumi seperti lumpur, air, serta api berasal dari jerami dibakar, membuat karya ini memiliki keunikan pandangan estetika dalam tujuan. Konstruksi kegigihan seniman Reyog dan petani akan menjadi titik fokus sebuah koreografi lingkungan Reyog Endhut. Koreografi lingkungan merupakan revitalisasi metode penciptaan tari tradisional yang diperbarui dengan pemikiran yang berdasarkan kehidupan kekinian. Menguatkan kembali kearifan lokal yang pernah dilakukan oleh para seniman alam terdahulu yang akrab dengan alam dan lingkungannya serta memahami aspek-aspek kehidupan yang dapat memperkaya konsepsi seninya. Koreografi Lingkungan difokuskan pada cara pandang atau pendekatan baru secara kreatif dan keilmuan terhadap sebuah fenomena sosial. Mode penyajian yang digunakan pada penggarapan karya ini adalah simbolik representatif karena karya ini disajikan dalam gerak menggunakan simbol simbol petani dan gerak sesuai dengan penggarapan penulis juga sesuai dengan keadaan nyata yang terlukis pada gerak penari. Metode penyampaian materi kepada penari pun berbeda dengan penggunaan panggung pada umumnya, dalam karya ini penulis banyak menemukan materi gerak melalui eksplorasi langsung bersama penari, karena bentuk – bentuk yang dihasilkan lebih dekat dan sesuai dengan tubuh penari.Reyog Endhut merupakan karya pertunjukan reyog yang menggunakan lingkungan sawah berlumpur (endhut) sebagai tempat pertunjukan. Lingkungan sawah yang kaya akan elemen bumi seperti tanah, air dan api yang dihasilkan dari jerami dibakar menjadi bahan eksplorasi improvisasi menarik untuk disajikan. Ide ini digagas oleh penulis sebagai gubahan bentuk pertunjukan reyog yang baru, karena melihat kekayaan alam ponorogo begitu luar biasa berupa lingkungan sawah. Lewat ide yang sederhana ini penulis mencoba menyajikan karya yang benar – benar dekat dengan lingkungan. Dengan berbekal observasi pada narasumber serta merasakan langsung menjadi seorang petani, melakukan aktivitas sawah seperti ngusungi damen, mencangkul, mengairi sawah, dilakukan penulis untuk kepentingan research tentang keadaan faktual di lapangan. Karya ini diharapkan dapat dijadikan study pendidikan karakter tentang proses kreatif mulai dari gagasan idesional, proses, hingga management pertunjukan. Sehingga diharapkan seniman ponorogo ikut tergerakkan membuat karya - karya yang dekat dengan lingkungan. Penulis yakin bahwa multi kecerdasan penulis muda akan terlatih dalam segi kecerdasan spiritual, kinestetik, emosional, dan idesional. Berkarya tentunya tidak lepas dari fungsi untuk sosial masyarakat. Keberagaman masyarakat dari berbagai lapisan harus memiliki kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari lingkaran budaya Indonesia, sehingga peranan masyarakat secara aktif ikut membantu mengapresiasi setiap karya anak bangsa dapat mendorong semangat pergerakan budaya indonesia ke arah internasional.Kata Kunci: Konstruksi, Pertunjukan Reyog, Koreografi Lingkungan, Reyog Endhut
BENTUK PENYAJIAN KARYA TARI “DUSTA” DWI ALVIANI, PUNKCY
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari ini muncul dari fenomena berhijab pada masa kini. Berdasarkan fenomena tersebut koreografer ingin membuat sebuah karya tari dengan fokus karya yaitu remaja muslimah yang menyalahartikan makna berhijab karena pengaruh pergaulan. Tujuan karya ini supaya penari dan penonton mengetahui bahwa keadaan seperti itu yang salah. Melalui teori psikologi remaja dan busana hijab, koreografer mengintepretasikan kenakalan remaja dan penggunaan busana maupun model hijab untuk diubah menjadi karya tari yang dapat dinikmati lewat gerak dan bentuk penyajiannya. Koreografer menggunakan metode perpaduan antara Jacquiline Smith dan Alma M. Hawkins mulai dari penemuan ide, konsep, proses, penyampaian karya, hasil.Karya tari ini merupakan hasil proses kreatif yang sudah terjadwal. Bentuk penyajian yang dipilih adalah prosenium, sedangkan menyalahartikan makna hijab yang dipilih sebagai muatan untuk diterapkan kepada penari dimunculkan dengan skenario, desain dramatik, pencahayaan, tata rias dan busana, gerak, set panggung, musik, pola lantai. Fenomena ini kerap sekali ditemukan disaat berkendara, berkuliah, bersekolah, lingkungan sekitar lain nya. Kata Kunci: bentuk, tari, hijab.
PENERAPAN TEORI TADEUSZ KANTOOR DALAM TEATER BONEKA DI PERTUNJUKAN NYAROKA WAHYUNINGSIH, EKA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tiang penyangga kuatnya tradisi Madura tidak lepas dari prinsip“ Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata “ Berarti  lebih baik mati dari pada menanggung malu. Ungkapan ini berlaku untuk mempertahankan martabat, hak dan harga diri sebagai suku Madura. Hal inilah yang  biasanya menimbulkan perselisihan yang tidak lepas dari persoalan lingkungan dan wanita. Perselisihan tersebut disebut dengan “Carok”. Carok merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh masyarakat suku Madura dalam menyelesaikan suatu masalah.Bentuk penyajian karya teater yang berjudul “Nyaroka“ mengangkat tentang tradisi Carok dengan menggunakanteori Tadeusz Kantoor. Hal yang sering dilakukan oleh masyarakat Madura untuk menyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan wanita secara jantan yaitu dengan menggunakan clurit. Beberapa eksplorasi dan observasi telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam pertunjukan dengan  menghadirkan macam-macam bentuk boneka mulai dari boneka kayu, barbie, kain, plastik dan lain-lain.Tujuan dalam penciptaan karya ini adalah 1.)Menginformasikan kepada penonton tentang teori Tadeusz Kantoor dalam teater boneka dengan menggunakan boneka sebagai media dan aktor menjadi boneka. 2.) Menambah wawasan tentang kehidupan masyarakat Madura. 3.) Proses pengenalan aktor terhadap bentuk tubuh.Kata Kunci :Carok, Madura, teaterboneka.