cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 69 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2017):" : 69 Documents clear
TEKNIK PENYUTRADARAAN LAKON BESUT “WANI” EKO NUGROHO, YUSUP
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teater tradisi yang kini mulai ditinggalkan oleh penikmatnya dikarenakan perkembangan teknologi. Perkembangan alat komunikasi, transportasi, maupun hiburan diciptakan untuk memudahkan manusia. Televisi dan bioskop merupakan contoh perkembangan jaman. Masyarakat lebih memilih melihat Televisi dan Bioskop di banding melihat pertunjukan teater tradisi, durasi yang panjang semalam suntuk kemasan pertunjukan yang kurang di perhatikan baik dari segi lighting,sound maupun pemanggungan menjadikan teater tradisi kini semakin di tinggalkan oeleh penikmatnya.Besutan merupakan teater tradisi asli dari kabupaten jombang. Kesenian yang kini tidak dapat kita jumpai lagi di karna tidak adanya lagi grup kesenian Besutan yang mampu bertahan. Sutradara adalah seorang ‘pemimpin’. Sutradara, juga merupkan sebuah istilah atau penamaan yang lebih dikenal dalam teater yang ‘moderen’. Sutradara tidak atau kurang dikenal dalam drama maupun teater rakyat atau tradisional. Beberapa penamaan untuk seorang sutradara dalam teater tradisional adalah Syekh, Kiai, Dukun (orang tua). Penamaan ini dikarenakan fungsi dan perannya dalam teater tersebut. Hazim Amir menegaskan bahwa penamaan sutradara ini tergantung pada teater apa yang disutradarainya. Misalnya ‘teater sutradara’ seperti Mike Nichols, Arifin C. Noer atau Teguh Karya, sutradara bisa disebut sebagai motor, konseptor, organisator, guru, tukang momong, despot (diktator). Sedangkan dalam teater-teater lainya, sebagai seorang pelatih yang menyiapkan (melatih) pemain-pemain saja. Dan, dalam teater yang amatir (kebanyakan teater di Indonesia abad 20) seorang sutradara mengerjakan semuanya yang di paparkan Abdilah dalam bukunya. Yang menjadi pertaruhan dalam penyutradaraan Lakon Besut “Wani” bagaimana menyiapkan sebuah pertunjukan seperti  pemaparan Anirun yaitu Teknik pensyiasatan medan, Teknik perancangan produksi, Teknik produksiKata Kunci : Teaterb tradisi, Besutan, Penyutradaraan
FENOMENA KARYA TARI CELENG PUTRI LEGOWO PUTRO BIMA S, ANGGRADITYA
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian Bentuk dan Fungsi karya tari celeng putri dalam pertunjukan  jaranan Legowo Putro  Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Skripsi Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari Dan Music Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Kajian dari penelitian karya tari tersebut mendeskripsikan tentang bentuk dan fungsi penyajian tari celeng putri di Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Pada penelitian ini terfokus pada bentuk dan fungsi tari celeng putri Legowo Putro. Penelitian yang dilakukkan oleh Anggraditya Bima Suwindra mengenai bentuk dan fungsi karya tari celeng putri. Bentuk yang dimaksud adalah bentuk secara primer dan sekunder. Bentuk primer dari tari celeng putri yaitu meliputi tari sebagai upacara, ungkapan pribadi, bisnis, alat komunikasi, hiburan. Kemudian bentuk primer dari tari celeng putri sebagai penarik minat masyarakat dan sebagai inovasi tentang seni tradisi. Kata kunci : bentuk, fungsi, tari celeng
KARYA MUSIK “ACCENT LEADER CUSION” DALAM TINJAUAN BENTUK VARIASI RITME PERKUSI ADI ARDAN, MOHAMMAD
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam karya musik “Accent Leader Cussion” komposer berpendapat bahwa antara musik dengan perasaan atau suasana hati manusia selalu behubungan. Musik adalah salah satu media untuk menggambarkan suasana hati manusia. Perkusi adalah salah satu alat pukul dimana terdapat berbagai maca teknik permainan terutama teknik accent. Accent merupakan pukulan yang keras dan tegas daripada ritmis yang lain, leader adalah seorang pemimpin, dan cusion adalah perkusi berfungsi sebagai penjaga tempo, dan beat yang memungkinkan para pemain berjalan secara serempak dan dalam irama dan kecepatan yang sama. Dimana kata tersebut menggambarkan seorang pemimpin yang tangguh dan bertanggung jawab besar. Karya musik “Accent Leader Cussion”ini akan menggambarkan konflik yang disampaikan dalam bentuk variasi ritme, sehingga akan memberi respon emosi terhadap penikmat.Teori yang digunakan dalam menjawab fokus kekaryaan yang menitik beratkan pada variasi ritme perkusi, komposer mengutip teori yang dikemukakan oleh Prier. Variasi ritme yang dimaksud mengacu pada salah satu bentuk variasi yang terdapat pada bentuk musik variasi. Variasi ritme adalah panjang pendeknya nada dirubah atau birama (hitungannya) dirubah, ataupun tempo dirubah (Prier, 2013: 38). Pada karya musik Accent Leader Cusion permainan perkusi menggunakan ritme yang bervariasi, dari ritme asli dan juga ritme yang dikembangkan dengan ritme yang di variasi (sukat, tempo, dan durasi). Kata Kunci: Variasi Ritme Perkusi, Accent Leader Cusion
KARYA MUSIK “PELOG VARIATIONS IN 3 MOVEMENT” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI MADE SUBRATA DHARMA PAHLAWAN, I
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik “Pelog Variations in 3 Movement” merupakan karya musik yang terdiri dari 3 bagian atau movement dengan menggunakan format kwartet gitar. Sajian melodi-melodi dengan tangga nada Pentatonik merupakan hasil dari langkah konversi nada-nada Pelog dalam seni Karawitan dan kemudian di variasi dengan menggunakan teknik melodic variation and fake, rhytmic variation and fake, composite melodic variation and fake, Counter melodi, cliché,  filler like obbligato dan dead spot filler. Bagian pertama dalam karya musik “Pelog Variations in 3 Movement” dibentuk dengan menggunakan variasi melodi melodic variation and fake, counter melodi, cliché, dan dead spot filler. Pada bagian kedua menggunakan variasi melodi melodic variation and fake, rhytmic variation and fake, counter melodi, cliché,  filler like obbligato dan dead spot filler. Sedangkan pada bagian ketiga menggunakan variasi melodi melodic variation and fake, rhytmic variation and fake, composite melodic variation and fake, cliché, dan dead spot filler. Variasi melodi-melodi dalam tiga bagian karya tersebut merupakan dasar dari pembentukan sajian komposisi pada karya musik “Pelog Variations in 3 Movement”. Kata kunci : Konversi, Variasi Melodi
WARISAN SILAM SEBUAH KARYA MUSIK DALAM BENTUK 3 BAGIAN KOMPLEK Bahaudin, Imam
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk musik pada karya “Warisan Silam”. Objek penelitian difokuskan pada bentuk musiknya. “Warisan silam” merupakan judul karya musik programatik tentang permainan tradisional yang tergeser oleh game online. Karya musik berisi tentang bentuk musik 3 bagian komplek yang disajikan dengan format 4 gitar (quartet). Karya musik yang disajikan untuk kemudian dilakukan pengkajian bentuk musik. Sesuai dengan fokus kekaryaan maka komposer melakukan pengkajian dengan menerapkan teori ilmu bentuk musik.Pada penulisan ini membahas lebih lanjut  tentang bentuk musik. Warisan Silam di analisis bentuk dan strukturnya setiap bagiannya, terdiri dari 3 bagian yaitu : Ak, Bk, Ck. Introduction yaitu: berisi 8 motif, 8 frase, dan 4 periode. Bagian A yaitu: berisi 40 motif, 10 frase, 5 periode, dan 4 Tema. Bagian ini berisi sukat 4/4 dan 2/4. Bagian duet dan tutti yaitu: berisi 24 motif, 6 frase, 3 periode dan 1 tema. Bagian B yaitu: berisi 31 motif, 12 frase, 6 periode, dan 4 tema. Bagian ini berisi sukat 4/4 dan 2/4. Bagian C yaitu: berisi 12 motif, 6 frase, 3 periode dan 1 tema. Bagian ini bertanda sukat 4/4. Bagian epilog tangga awal  masih G mayor dan ditengah- tengah terjadi modulasi menjadi A mayor.Karya musik ini adalah karya musik dengan format gitar kwartet. Karya musik ini menggambarkan kesenangan seorang anak yang sedang bermain permainan tradisional. Karya ini disajikan dalam bentuk musik instrumental. Karya musik yang berdurasi 9.40 menit dengan jumlah birama 202 ini terdiri dari 3 bagian besar yakni A komplek, B komplek, dan C komplek. Dengan membahas setiap porsi yang diperankan setiap gitar diharapkan pembaca dapat mengerti bagaimana komposer mengaransemen, dan menyusun bagian sehingga terbentuk sebuah karya yang utuh.Kata kunci : Musik Permainan Tradisional Anak, Bentuk Musik 3 bagian
TINJAUAN HARMONI MUSIK DALAM KARYA MUSIK “FINDING” WISNU SETYAWAN, YONATAN
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya berjudul “Finding” dalam bahasa Indonesia yang berarti “menemukan”. Judul ini dimaksudkan untuk menceritakan kisah seorang pemuda yang mempunyai masa lalu kelam, atas apa yang dideritanya ia memutuskan untuk mencari Tuhannya agar mendapatkan kedamaian yang selama itu belum pernah ia rasakan. Karya musik “Finding” merupakan komposisi yang memiliki format orkestra dalam penyusunannya, karya ini memiliki bentuk musik 3 bagian yaitu bagian A,B dan C. Bagian A memiliki kalimat a, a’, a1, a2, a1’, dan a2’. Bagian B memiliki kalimat b, b’, b2, b2’, b3 introdusi, b3, b3’. Bagian C memiliki kalimat c introduksi, c, c1, c1’, c2, c2’. Awal mula tempo yang dimainkan yaitu tempo Moderato yang dimana tempo ini cepat, kemudian berpindah ke tempo yaitu Adagio kemudian pindah ke tempo Grave yang dimana hampir sama dengan Adagio namun sedikit cepat kemudian kembali ke Moderato. Dan yang terakir menggunakan tempo Adagio kembali. Dalam komposisi ini memiliki 160 birama yang dimana berdurasi kurang lebih 08.15 menit. Jika ditinjau dari segi fokus masalah penulisan, karya ini berfokus pada tinjauan harmoni dalam progres akhor. Karya musik “Finding” menggunakan beberapa hamoni dalam progres akhor di dalamnya yaitu, harmoni tiga suara, harmoni 4 suara, harmoni 5 suara dan harmoni 8 suara dalam progres akhor. Penulis akan menjabarkan masing masing harmoni dalam progres akhor tersebut yang terdapat di setiap bagian bagian karya musik ”Finding”.Proses penciptaan karya musik ini menggunakan beberapa metode yang sudah dipelajari oleh komposer yaitu harmoni dalam progres akhor. Melalui banyak inspirasi yang diperoleh dari mendengarkan berbagai jenis musik rohani kristen, musik ilustrasi orkestra yang bertemakan kedamaian.Kata Kunci: Harmoni, progres akhor, Finding
TEKNIK PENYUTRADARAAN NENEK TERCINTA KARYA ARIEFIN C NOER Jariyah, Ainunnisa
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya berjudul “Nenek Tercinta”, memiliki arti yang sangat luas. “Nenek”  merupakan ibu dari ayah atau dari ibu. Wanita yang sangat di cintai atau di sayangi oleh keluarganya. Dalam pertunjukan berjudul Nenek Tercinta menceritakan tentang seorang nenek yang sudah sangat tua yang sifatnya kembali seperti anak kecil sehingga sangat membuat jengkel keluarganya terutama anaknya Musta dan Lastri. Sehingga keduanya mempunyai tujuan ingin membunuh nenek agar bisa menguasai hartanya. Mereka menggunakan segala cara untuk menyingkirkan nenek dengan memanggil dukun. Kisah di atas sangat dekat dengan kehidupan sehari – hari. Banyak kita jumpai anak yang sudah dewasa enggan merawat orang tua mereka. Ini ibarat peribahasa Air susu dibalas dengan air tuba.Fokus karya terdiri dari fokus isi dan bentuk. Pementasan yang berjudul “Nenek Tercinta“ kisah seorang anak yang ingin membunuh ibunya sendiri. Namun Tuhan berkehendak lain. Penulis Menggunakan metode penyutradaraan W.S Rendra. Tujuan dalam penciptaan karya ini bagi penikmat seni adalah Menambah wawasan masyarakat tentang pertunjukan teater realis dan Menjadi sarana hiburan, perenungan dalam penyikapan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari terkait pesan moral yang disampaikan cerita. Hasil dari pertunjukan Nenek Tercinta ini diharapkan mampu membuat penonton mendapat pesan moral untuk kehidupan.Kata Kunci : Penyutradaraan, Teori W.S Rendra.
KARYA MUSIK “TIWUL” DALAM TINJAUAN HARMONI MUSIK WICAKSONO, ADI
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya musik “Tiwul” ini bercerita tentang sejarah komunitas alat musik tiup di universitas negri surabaya, yang digarap dalam jenis musik baru dalam idiom musik barat.  dengan gaya klasik barat dan menggunakan metode tinjauan Harmoni Musik. Berangkat dari fenomena munculnya komunitas baru yang mengusung instrument musik tiup sebagai dominasi karya musik ini, muncul ketertarikan dan mendorong komposer untuk mewujudkan sebuah konsep tentang fenomena tersebut ke dalam sebuah karya musik.Dalam mengerjakan karya musik ini, banyak ilmu harmoni yang dapat digunakan, namun dalam karya musik “Tiwul”, komposer menggunakan beberapa ilmu harmoni, seperti jenis akord triad,  dan extended chord dalam penggarapan harmoni musik karya tersebut.Karya musik berjudul Tiwul ini merupakan karya musik dengan formasi ensemble campuran. karya musik orisinil ini berdurasi selama 10 menit, dengan jumlah total birama 163. Karya ini diawali dengan solo alto saxophone selama 16 birama mengguknakan sukat 4/4, tempo adagio rubato, dan tanda mula dua mol (Bbmajor/gminor), Karya musik “Tiwul” ini memiliki empat bagian utama dengan pembuka dan penutup, bagian tersebut terdiri dari introduction, bagian 1, 2, 3, dan 4 sekaligus outroduction.Melalui karya musik “Tiwul” diharapkan mampu menjdai karya musik inspiratif  bagi mahasiswa dan  tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat luas, karena bermusik dapat digunakan sebagai media komunikasi dengan cara yang berbeda sekaligus menyenangkan, selain itu diharapkan dapat menumbuhkan rasa apresiasi tinggi terhadap suatu karya seni khususnya dalam seni musik.Kata Kunci : tiwul, harmoni music,
NUNCA ANDES SOLO (TINJAUAN HARMONI MUSIK DALAM KARYA KOMPOSISI MUSIK) VARIANTONO, NOVEL
Solah Vol 7, No 1 (2017):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ini berjudul “Nunca Andes Solo” dalam bahasa Indonesia yang berarti “tidak akan pernah berjalan sendiri”. Judul ini dimaksudkan untuk menceritakan pengalaman komposer dalam masa-masa kuliah yang mempunyai teman angkatan 2013 yang selalu setia membantu ketika komposer mengalami kesulitan dari segala hal yang ada di perkuliahan. Semua saling membantu dan mengingatkan jikalau ada informasi atau hal terbaru dalam perkuliahan. Karya musik “Nunca Andes Solo” merupakan karya komposisi yang memiliki format orkestra dalam penyusunannya, karya ini memiliki bentuk musik 3 bagian yaitu bagian A,B dan C. Bagian A memiliki kalimat a, a’, a1, dan a2. Bagian B memiliki kalimat b, b’, b2, b2’, b3 introdusi, b3, b3’. Bagian C memiliki kalimat c introduksi, c, c1, c1’, c2, c2’. Awal mula tempo yang dimainkan yaitu tempo Adagio yang dimana tempo ini memliki arti pelan dengan angka 60 atau 1 detik setiap ketukannya, kemudian berpindah ke tempo sedang yaitu moderato dimana dalam tempo ini di setiap ketukannya memiliki kecepatan 90kemudian tempo yang terakhir yaitu presto atau dengan tempo cepat. Tempo ini dimainkan dengan kecepatan 175 dalam setiap ketukannya.Dalam komposisi ini memiliki 120 birama yang dimana total keseluruhannya berdurasi kurang lebih 05.15 menit. Jika ditinjau dari segi fokus masalah penulisan, karya ini berfokus pada tinjauan harmoni dalam progres akhor. Karya musik “Nunca Andes Solo” menggunakan beberapa hamoni dalam progres akhor di dalamnya yaitu, harmoni tiga suara, harmoni 4 suara dan harmoni 5 suara dalam progres akhor. Penulis akan menjabarkan masing masing harmoni dalam progres akhor tersebut yang terdapat di setiap bagian bagian karya musik ”Nunca Andes Solo”. Dalam karya “Nunca Andes Solo” ini memiliki 2 sukat dimana sukat pertama terdiri dari sukat 4/4 dengan tempo adagio dan moderato yang total biramanya terdiri dari 56 birama dari mulai birama 1 sampai dengan birama 56 kemudian sukat yang kedua terdiri dari sukat 3/4 dengan tempo presto yang total biramanya terdiri dari 119 birama dari mulai birama 57 sampai dengan birama 175. Bagian awal dalam karya  “Nunca Andes Solo” ini menggunakan tangga nada G Mayor kemudian pada bagian tengah-tengah terjadi modulasi menjadi A Mayor dan pada akhir lagu kembali lagi ke Tangga nada G mayor.Proses penciptaan karya musik“Nunca Andes Solo”  ini menggunakan beberapa metode yang sudah dipelajari oleh komposer. Melalui banyak inspirasi yang diperoleh dari mendengarkan berbagai jenis musik yang biasa diputarkan di dvd dan juga beberapa dari musik orcestra yang sering didengarkanKata Kunci: progres akhor, Nunca Andes Solo