cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2018)" : 54 Documents clear
LAGU TERBANGLAH GARUDAKU ARANSEMEN MUSAFIR ISFANHARI SYABILA AYU TRESNA, TIRA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lagu anak-anak yang semakin jarang terdengar dan sangat kurang dipublikasikan sudah menjadi hal umum. Terlebih lagi kemajuan teknologi seperti media sosial membuat anak-anak bebas mengakses lagu dewasa yang menceritakan kisah percintaan sehingga anak tidak mendengarkan lagu sesuai dengan usianya. Hal ini memberikan dampak negatif bagi anak diantaranya, bisa mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak. Selain itu penghayatan isi lagu bisa menghambat perkembangan karakter positif pada anak serta bisa berdampak pada timbulnya gejolak psikis. Salah satu faktor yang mendasari fenomena hilangnya lagu anak-anak saat ini diantaranya ialah media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengamati teknik mengaransemen lagu Terbanglah Garudaku oleh Musafir Isfanhari. Teknik pengumpulan data ini berdasarkan wawancara semi terstruktur untuk memecahkan permasalahan atau peristiwa yang diketahui hingga dukungan data dokumentasi serta catatan lapangan dari hasil wawancara. Bentuk lagu Terbanglah Garudaku merupakan bentuk 3 bagian, diantarnya bagian 1 dimulai dari birama Bagian I ( Bar 1-8 )Terdiri dari kalimat A dan BBagian II ( Bar 9-14) Terdiri dari kalimat C dan D Bagian III (Bar 15-32) Terdiri dari kalimat A?, B?, dan coda. Dalam proses aransemen lagu Terbanglah Garudaku sangatlah sederhana komposer sangat memperhatikan tentang elemen-elemen, yang terdapat pada aransemen, seperti Filler, yang digunakan merupakan Dead Spot Filler dan Tail in Filler pada birama 17 hingga 18, Counter Melody birama 1 sampai dengan birama 8, suara 1 dan suara , Rhytmic variations and fake dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 16-18 dan pada birama 20-21, obligato dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 24 hingga 32, Rhytmic variations and fake dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 16-18 dan pada birama 20-21, Melodic Variation and Fake dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 16 ? 18 serta 20 dan 21.
“PIONEER”: SEBUAH KOREOGRAFI ANALOGI PION DALAM PERMAINAN CATUR INDHON MARDHIKA, AYOGA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Catur merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang yang saling beradu strategi dengan mengkolaborasikan berbagai macam jenis bidak untuk mengalahkan raja lawan sekaligus bertahan melindungi raja dari serangan lawan. Pada koreografi ini berpusat pada bidak pion yang memiliki ciri keterbatasan gerak. Dari aturan gerak pion dalam permainan catur, dapat menjadi sebuah motivasi gerak simbolis yangdivisualisasikan kedalam seni pertunjukan. Fokus karya sangatlah penting bagi koreografer dalam struktur perencanaan penggarapan pengkaryaan. Fokus karya juga membantu koreografer menjadi lebih tertata dalam mewujudkan bentuk karya sesuai dengan tema yang diangkat. Proses penciptaannya menggunakan metode konstruksi kemudian divisualisasikan kedalam sajian bentuk tari dramatik. Karya tari ?Pioneer? berfokus pada perwujudan dua bidak pion dalam permaian catur, keduanya saling menyerang dan bertahan dengan menggunakan aturan permainan catur. Karya tersebut ditampilkan oleh dua penari di panggung prosenium dengan memberikan konsep suasana papan catur dengan dekorasi yang unik. Karya tari Pioneer merupakan karya tari yang berangkat dari gagasan ide koreografer. Dengan menganalisa setiap geraknya, koreografer tertarik dengan tiga aturan langkah pion. Kemudian dengan cara mengamati, membaca, dan berdiskusi, metode tersebut digabung untuk mendapatkan fokus serta tema yang tepat. Kemudian proses konsep yang akhirnya digunakan sebagai acuan pembuatan karya tari. Kata Kunci: Analogi, Pion, Pioneer
BENTUK LAGU PARIS BARANTAI ARANSEMEN KEN STEVEN NUR SAKINAH, FIRDA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lagu Paris Barantai ini merupakan lagu berasal dari Kalimantan yang isinya menggunakan bahasa Banjar, Kalimantan. Lagu ini ciptaan Alm. H. Anang Ardiansyah yang merupakan golongan ( lagu daerah / lagu wajib daerah). Lagu yang dibahas pada jurnal ini merupakan lagu Paris Barantai yang diaransemen oleh Ken Steven. Pada lagu yang di tulis dengan bahasa banjar ini merupakan lagu yang menceritakan tentang kerinduan pada seseorang yang lama terpendam dan tidak ingin terpisahkan. Sementara lagu ini juga bercerita tentang Kotabaru, sebuah tempat yang menjadi pertemuan sepasang kekasih yang saling jatuh cinta tersebut. Lagu ini merupakan musik programatik yang dimainkan dalam bentuk paduan suara choir. Dapat disimpulkan lagu ini memiliki bentuk lagu tiga bagian yaitu A B A?. Pada partitur lagu Paris Barantai terdapat beberapa section suara, masing-masing memiliki range yang berbeda-beda. Berikut adalah range suara pada partitur lagu Paris Barantai di setiap sectionnya. Sopran ( E1-A2 ), Alto ( D1-A1 ), Tenor (E1-E2), dan Bass ( D1- F2 ). Kata Kunci : Paris Barantai, Paduan suara, Bentuk Musik
KARYA MUSIK “KONVERSI #” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODY DEFRY AGUS MAULANA, ACHMAD
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah nada menempati wilayah yang lebih luas dalam otak kita dibandingkan bahasa.Adapun nada yang mengikat pada pikiran kita sampai kedalam imajinasi sehingga munculah suatu ide untuk menciptakan karya musik. Karya musik ini merupakan hasil dari proses penciptaan musik dengan metode mengkonversi nada Slendro yang ada pada alat musik Saronenmenjadi sebuah bangunan komposisi. Dari fenomena tersebut maka terciptalah karya musik yang berjudul ?Konversi #?. Karya ini menggunakan bentuk penyajian Big Band dengan instrumen alto saxophone, tenor saxophone, trombone, trumpet, drum set, electric guitar, bass guitar, tong, patrol, tamborine, ceng-ceng dan ketuk. Dari beragam bentuk musik saat ini, setiap penikmat musik memiliki substansi untuk memahami musik yang didengarnya.Keragaman intelektual, emosi dan lingkungan menciptakan perbedaan substansi dalam memahami musik itu sendiri.Penulisan karya musik ?Konversi #? difokuskan pada tinjauan variasi melodi. Karya musik ?Konversi #? merupakan hasil dari proses penciptaan musik dengan metode mengkonversi nada Slendro yang ada pada alat musik Saronenmenjadi sebuah bangunan komposisi dengan menggunakan bentuk sajian Big Band. Karya musik ini merupakan jenis karya musik absolut yang mengkonversi laras slendro dalam tangganada pentatonik dengan durasi 6 menit dan total birama 128. Karya ini menggunakan fokus variasi melodi sebagai pengembangan variasi meoldi dalam setiap bagian.Variation atau variasi merupakan pengulangan sebuah lagu induk yang biasanya disebut tema dengan perubahan-perubahan (variasi) yang tetap mempertahankan unsur tertentu dan menambah atau mengganti unsur lain. Karya musik ?Konversi #? menggunakan beberapa teknik variasi melodi, yaitu; variasi Melodic Variation and Fake, variasi Rhytmic Variation and Fake, variasi Counter Melody dan variasi Dead Spot Filler. Dalam karya musik ini pula terdapat 128 birama dengan disertai beberapa macam tempo, yaitu; Rubato, allegro, Maestoso, 110bpm, dan 100bpm. Karya musik ?Konversi #? disajikan dalam format Big Band dengan jumlah pemusik 16 orang. Karya musik ini total memiliki 130 birama dengan tangga nada D mayor dengan modulasi ke Bb mayor lalu terakhir modulasi pada tangga nada C mayor. Sukat yang digunakan antara lain 4/4 dengan tempo Allegreto, Maestoso, dan Moderato. Kata kunci: Konversi #, Variasi Melody
KARYA MUSIK “FELICE ” DALAM TINJAUAN ORKESTRASI ABEDNEGO KURNIAWAN, ALVANDI
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Matius 27:27?56 yang menceritakan Tuhan Yesus sebagai sikap heroik karya penebusan dosa buat umatnya yang harus menderita dibawa siksaan Pontius Pilatus dan mati disalibkan. Dari fenomena tersebut komposer mengungkapkan suasana hati yang dirasakan melalui karya musik ?Felice?. Karya ini menggambarkan betapa besar kasih Yesus terhadap umatnya dan rasa bangga umatnya karena telah memiliki Tuhan seperti Yesus. Kata ?Felice?merupakan ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan. Konsep karya musik yang dipilih komposer merupakan penemuan sebuah kebahagiaan di dunia maupun diakhirat karena pengorbanan karya penebusan Yesus Kristus atas dosa-dosa umatnya nasrani.Tidak hanya penemuan dalam cerita yang terkandung, namun juga menemuan melodi?melodi baru yang belum pernah didengar oleh komposer sebelumnya. Sehingga komposer memilih kata ?Felice? untuk mewakili baik ide gagasan dan konsep kekaryaan musik. Secara keseluruhan, komposisi pada karya ?Felice? terdiri dari tiga bagian yaitu bagain pertama, bagian kedua, dan bagian ketiga dengan total durasi 7 menit. Tempo yang digunakan pada karya musik ini yaitu adagio, tempo 110. Tangga nada yang digunakan pada karya musik ini yaitu Dm dengan sukat 4/4, 6/4. Instrumen yang digunakan yaitu violin 1, violin2, viola, cello, contrabass, bass electric, snare, bass drume, cymbal, flute, alto saxophone, tenor saxophone, trumpet, trombone, triangle, tubular bells, kemplang, paduan suara. Karya musik tersebut ditinjau dari ambitus, timbre, pemilihan instrumentasi,teknik, dinamika, dan penerapan aransemen karya. Berdasarkan hasil penciptaan dan deskripsi simpulan yang dibahas mengenai karya musik ?Felice?dalam format orkestra dengan peletakan instrument sesuai kemampuan masing-masing. Semoga yang telah tersampaikan dari karya music ?Felice?bisa menjadi referensi yang menarik, menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat membawa perubahan yang positif. Kata kunci: Kata Kunci :Orkestrasi, Orkestra, Felice
VISUALISASI GENERASI MENUNDUK DALAM BENTUK PERTUNJUKAN DANCE THEATER PADA KARYA “PARADOKS” SETIAWAN, AGUS
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada karya dengan judul Paradoks, penulis yang sekaligus menjadi koreografer mengangkat fenomena paradoks yang terjadi di tengah masyarakat yaitu masyarakat yang merubah kebiasaannya menjadi menunduk karena ketergantungan dengan gadget. Kebiasaan itu disebut dengan generasi menunduk. Paradoks merupakan penyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran atau bersifat kontradiksi tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Fokus pada karya ini adalah paradoks tentang generasi menunduk yang nantinya akan divisualisasikan menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk pertunjukan dance theater. Hasil penciptaan relevan, terinspirasi dari karya ?Paradox? koreografer Rizza Ahmad dan Mirna Arfianti. Pendekatan pada karya tari Paradoks menggunakan metode kontruksi. Penafsiran koreografer terhadap paradoks yang terjadi di masyarakat tentang generasi menunduk, dianjutkan pada tahap proses kreatif, diantaranya ekplorasi, improvisasi, analisis, evaluasi dan finishing. Karya Paradoks menggunakan mode penyajian representatif dan simbolis menurut Ben Suharto yaitu pengungkapan mempresentasikan bentuk asli objek yang dijadikan ide. Dari hasil karya ini dapat disimpulkan bahwa dari fokus yang terpilih, koreografer berharap untuk semua penikmat agar dapat belajar dari sebuah objek sederhana, dari hal kecil menjadi besar, dari yang susah menjadi mudah dan mengembangkan pemikiran serta penafsiran sesuatu yang berdasar pada ide gagasan yang menimbulkan sebuah kreatifitas dalam memaknai hal-hal dalam kehidupan.
ANALISIS TEKNIK DALAM LAGU ROMANCE DE AMOUR PADA INSTRUMEN GITAR KLASIK Aji, Ighbal Wulung Distya
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Romance de Amour termasuk karya yang populer di kalangan gitaris klasik. Lagu ini telah dimainkan gitaris ternama, antara lain David Russel dan Julian Bream. Tidak semua gitaris klasik mampu memainkan lagu tersebut dengan baik, hal ini disebabkan banyak teknik yang harus dikuasai untuk memainkan lagu ini, diantaranya teknik melodi yang seharusnya terdengar lebih dominan, teknik perpindaham akord yang membutuhkan kecepatan, dan  power yang kuat dalam menghasilkan nada yang baik. Seorang gitaris yang kurang dalam skill dan pengetahuan teknik memainkan Romance de Amour, akan mengalami kesulitan dalam memainkan lagu tersebut di bagian-bagian tertentu. Berdasarkan kajian karya Romance de Amour tersebut, sangat diperlukan pemahaman mengenai teknik permainan gitar untuk para gitaris klasik. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui penerapan analisis teknik pada lagu Romace de Amour agar melodi utama terdengar lebih dominan. (2) Untuk mengetahui penanggulangan perpindahan akord agar tidak mengurangi notasi yang ada. . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di kota Surabaya, Jawa Timur, dengan objek penelitian lagu Romance de Amour. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi partisipatif, teknik analisis data yang digunakan antara lain reduksi data, penyajian data teks yang naratif, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa bahwa lagu Romance de Amour memliki tiga bagian yaitu A-B-C, dengan dengan 4 tema pokok, yaitu tema I, tema II, tema III dan ,tema IV, serta beberapa pengulangan untuk memasuki tangga nada baru. Tema yang terdapat dalam lagu ini merupakan bagian-bagian dari pengembangan motif. Motif-motif tersebut dapat digunakan untuk menunjang teknik permainan yang dianggap sulit untuk dapat meminkan lagu Romance de Amour. Selain posisi penjarian yang sulit, terdapat teknik lain yang sulit dalam lagu Romance de Amour, seperti: (1) speed/kecepatan, merupakan salah bagian yang penting, terutama pada bagian A dalam karya tersebut dimainkan dengan tempo allegro moderato dan banyaknya nada triol muncul diawal lagu hingga akhir lagu. (2) power/kekuatan, untuk dapat memainkannya seseorang harus memperhatikan ketepatan tangan kiri agar sentuhan  ringan yang dilakukan tangan kanan dapat menghasilkan suara yang baik dan jelas dengan power yang maksimal dan perlu diperhatikan karena gitar klasik tidak menggunakan pengeras suara.  (3) tone colour/warna suara, juga perlu diperhatikan agar pembagian suara lebih jelas, sehingga karya tersebut dapat disampaikan dengan baik sesuai notasi/petunjuknya.Kata Kunci: Analisis, Teknik Permainan Gitar Klasik
VISUALISASI POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER PADA TIPE TARI DRAMATIK DALAM KARYA “TRAFFICK” PUTRI NOVIANTI, ARISTA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Traffick berawal dari latar belakang obyekPost Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang disebabkanHuman Trafficking. Hal inimembuatkoreograferinginmengangkatnyasebagaisebuah ide gagasanuntukmenciptakansuatukarya. Koreografer mengungkap keadaan psikologis korban PTSD menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk pertunjukan tari dramatik. Karya tari Traffick ini mempunyai 2 variabel isi dan bentuk. Variabel isi berupa dampak psikologis korban PTSD dan variabel bentuk berupa tipe dramatik. Penciptaan karya tari Traffick yaitu sebagai wujud realisasi dari ide koregrafer dan Untuk bentuk pendeskripsian, mengkaji dan menganlisa dari karya tari ?Traffick?. Sehingga karya tari ini tidak hanya dipahami oleh visual namun juga tersaji jelas secara teori. Metode yang digunakan adalah metode kontruksi oleh Jacqluline Smith sebagai acuan dan pijakan untuk membuat karya tari Traffick ini.Tari dengan judul Traffick menggunakan tipe tari dramatik. Struktur pada karya tari ini terdapat pada penguatan suasana dalam per adegan, selain itu juga mendapat riasan busana, dengan rias natural dan busana yang sesuai dengan tema karya. Melalui media seperti halnya tata rias dan busana, pola lantai, tata pentas cahaya, karya tari Traffick menjadi karya yang dinamis dengan menunjukan alur cerita dan suasana yang ingin disampaikan koreografer kepada penonton. Koreografer berharap karya tari Traffick dapat menjadi dorongan para seniman lain untuk menciptakan karya yang lebih baik dan punya nilai sosial maupun edukasi yang bermanfaat untuk penonton. Kemudian berproses dengan cara ekplorasi tubuh secara matang sehingga bentuk- bentuk yang belum pernah dijumpai atau bahkan yang dirasa sulit untuk diterapkan akan mudah dan biasa dilakukan, serta meningkatkan kepekaan terhadap masalah atau fenomena sekitar untuk dapat dijadikan karya yang lebih kreatif tanpa menghilangkan identitas mereka masing-masing. Koreografer juga berharap masyarakat bisa lebih peka terhadap masalah sosial apalagi tentang psikologis yang sangat rentan.
MITOLOGI KAIN PARANG DI DESA NGLUYU SEBAGAI GAGASAN BERKARYA TARI “KESRIMPET PARANG” SUKMAWATI, NITA; TUTUKO, DJOKO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Ngluyu Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk merupakan desa yang masih mempertahankan kepercayaan terhadap mitos kain parang yang berkembang sacara turun menurun. Kain parang merupakan benda kesayangan Pangeran Suromangundjoyo, sehingga sampai saat ini masyarakat dilarang untuk membawa atau memakai kain parang di wilayah tersebut. Dari sini penata tari tertarik untuk mengangkat fenomena tersebut menjadi sebuah karya tari dengan judul Kesrimpet Parang, karya tari ini menceritakan asal mula mitos kain parang di daerah tersebut. Karya tari ini disajikan dengan fokus isi mala petaka dan fokus bentuk dramatari, penata tari memilih fokus bentuk dramatari karena penata ingin memunculkan tokoh-tokoh pada fenoma tersebut.Dalam karya tari ini penata tari melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap karya-karya tari sebelumnya yang memiliki tema hampir sama dengan karya ini yaitu tari Ampak-ampak Parang Rusak dan tari Kawung. Pengkajian teoritis yang pada karya tari ini adalah mitologi, malapetaka, dramatari, dan koreografi.Kajian pustaka yang digunakan dalam penyusunan karya tari ini menggunakan metode konstruksi yaitu metode yang ada pada Jaquelin Smith. Gaya dalam penggarapan karya tari ini, penata tari lebih menggunakan pada gaya tari tradisi yang dikembangkan. Dalam metode konstruksi yang diterapkan dalam proses penciptaan karya tari ini telah melalui beberapa tahap, yaitu tahap eksplorasi, improvisasi, komposisi, analisi dan evaluasi serta finishing.Alur pada karya tari ini dibagi menjadi 6 bagian yaitu introduksi, adegan 1, adegan 2, adegan 3, adegan 4, dan yang terakhir adalah ending. Karya tari ini menggunakan tata rias dan busana yang disesuaikan dengan penokohan masing-masing penari, dan menggunakan properti topeng daun untuk menyimbolkan pepohonan serta properti kain parang yang disesuai dengan tema yang diangkat dalam karya tari ini. Karya tari ini menggunakan musik digital editing yang tergolong dalam musik pentatonis. Menggunakan panggung procenium dan tata cahaya yang disesuai dengan suasana.Karya tari merupakan sebuah garapan tari baru, yang mempunyai isi tentang cerita mitologi masyarakat Desa Ngluyu atas pantangan membawa kain parang yang apabila dilanggar maka akan terjadi mala petaka. Dalam proses penciptaan karya tari ini mengingatkan kita agar menaati norma yang berlaku pada suatu lingkungan dan penting bagi penata tari untuk benar-benar memikirkan konsep garapan serta perlu adanya dukungan dan konsistensi antara personal yang terlibat dalam proses kretatif.Kata kunci : mitologi, parang, Pangeran Suromangundjoyo
“SUROBOYO JUANG” (UNGKAPAN PERJUANGAN PERISTIWA 10 NOVEMBER 1945 DALAM BENTUK DRAMATIK) AJENG PANGESTUNINGTYAS INGGARI, JUNIACE; TUTUKO, DJOKO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peristiwa 10 November 1945 merupakan peristiwa heroik Rakyat Surabaya yang tangis bahagianya masih terasa hingga saat ini. Arek-arek Suroboyo dan segenap lapisan masyarakat melawan sekutu dengan kobaran semangat tanpa senjata. Perang ini memiliki intensitas tinggi dalam peperangan di Indonesia karena mencerminkan jiwa keadilan dan nasionalisme yang kuat dari masyarakat kota Surabaya. Maka, koreografer menciptakan tari Suroboyo Juang seba gai bentuk ungkapan peristiwa 10 November 1945. Karya tari ini memiliki fokus isi perjuangan dalam peristiwa 10 November 1945, dan fokus bentuknya merupakan sajian dari sebuah karya tari yang bertipe dramatik.Dalam proses penciptaan karya tari Suroboyo Juang ini koreografer melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap karya yang telah diciptakan oleh koreografer terdahulu yang tentunya telah relevan seperti Tari Benteng Suroboyo, Tari Joko Berek, dan Tari Greget Sawunggaling. Tidak hanya itu, pengkajian teori juga menggunakan teori ungkapan, perjuangan, sejarah, dramatik, dan koreografi.Karya tari Suroboyo Juang menggunakan metode konstruksi yang telah dikenalkan oleh Jacqueline Smith digunakan sebagai langkah-langkah untuk membangun sebuah ide yang akhirnya menjadi konsep. Dalam mengkonstruksi karya tari dibutuhkan pemahaman tentang elemen dasar tari seperti tenaga, ruang, dan waktu serta tatanan tari yang baik melalui tahap rangsang awal, menentukan tipe tari, mode penyajian, eksplorasi, improvisasi, analisis dan evaluasi, serta penghalusan. Judul Suroboyo Juang menjadi makna dari rakyat Surabaya yang sedeang berjuang dalam peristiwa 10 Novenber 1945. Teknik dan gaya tari Suroboyo Juang ialah gaya Jawa Timuran yang dikembangkan dengan kelincahan kaki, kekuatan tangan dan kaki, serta ragam gerak Tari Remo yang menjadi acuan karena memiliki rasa yang sama yaitu perjuangan.Alur pada karya tari ini dibagi menjadi empat bagian yakni introduksi, adegan 1, adegan 2, dan adegan 3. Koreografi dalam karya ini tentunya harus didukung dengan tata rias dan busana yang menggambarkan atau menyimbolkan karakter tarian tersebut. Sebagai pendukung karya tari, iringan musik menjadi hal yang penting. Dalam karya ini menggunakan iringan pentatonic dalam bentuk digital.Karya tari Suroboyo Juang menawarkan bentuk sajian yang mengeksplorasi tubuh berdasarkan tipe tari dramatik. Penyampaian gerak dalam karya ini dipertimbangkan dari sisi konsep karya dan kemampuan para penari yang tentunya memiliki motivasi dan isi. Pada hal tersebut koreografer berharap kepada para penikmat untuk tidak melupakan sejarah dan selalu mengapresiasi perjuangan para pahlawan. Kata Kunci: Ungkapan, Suroboyo Juang, dan Dramatik.