cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Hikari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jepang - Fakultas Bahasa dan Seni UNESA Bidang Kajian Linguistik Jepang.
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2020)" : 4 Documents clear
PENGGUNAAN OMOIYARI HYOUGEN DALAM SERIAL ANIMASI DEATH NOTE KARYA TSUGUMI OHBA IRAWAN, DEDI
GoKen Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam faktor sosial budaya dalam berbahasa, orang Jepang terkesan berempati, tahu malu, dan berhati-hati saat bertutur kata. Kehati-hatian dalam bertutur kata serta mempunyai empati terhadap lawan bicara inilah yang dinamakan omoiyari hyougen. Peneliti merasa bahwa sebagian pembelajar bahasa Jepang di Indonesia belum mengerti tentang pentingnya penggunaan omoiyari hyougen ketika bertutur kata dengan lawan bicara, khususnya dengan orang Jepang, sehingga peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam. Pada penelitian dengan judul ?Penggunaan Omoiyari Hyougen dalam Serial Animasi Death Note Karya Tsugumi Ohba? ditemukan data tentang penggunaan omoiyari hyougen. Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yaitu : 1) Bagaimana penggunaan omoiyari hyougen dalam serial animasi Death Note karya Tsugumi Ohba?, 2) Bagaimana faktor sosial yang mempengaruhi penggunaan omoiyari hyougen dalam serial animasi Death Note karya Tsugumi Ohba?, 3) Bagaimana konteks yang mendasari penggunaan omoiyari hyougen dalam serial animasi Death Note karya Tsugumi Ohba?. Untuk menjawab rumusan masalah pertama akan digunakan teori oleh Lebra (1976) yaitu tentang penggunaan omoiyari hyougen serta fungsi-fungsinya pada saat berkomunikasi. Rumusan masalah kedua akan dibahas menggunakan teori Chaer (1995) mengenai faktor sosial yang mempengaruhi penggunaan omoiyari hyougen dan rumusan masalah ketiga akan dibahas dengan menggunakan teori oleh Toshio (1997) yaitu mengenai konteks yang mendasari penggunaan omoiyari hyougen. Adapun metode yang digunakan untuk mendapatkan data dalam penelitian ini adalah metode simak bebas libat cakap dan disertai juga dengan metode catat. Data dalam penelitian ini berupa tuturan-tuturan yang mengandung omoiyari hyougen dalam serial animasi Death Note karya Tsugumi Ohba. Hasil penelitian ini adalah ditemukan penggunaan omoiyari hyougen dalam serial animasi Death Note sebanyak 68 data mengenai 5 fungsi yaitu dengan rincian memelihara konsensus 6 data, mengoptimalkan kenyamanan orang lain 29 data, timbal balik 21 data, komunikasi intuitif 1 data, perasaan bersalah 11 data. Data yang telah ditemukan diklasifikasikan dan dianalisis berdasarkan fungsinya. Demikian juga dalam penelitian ini ditemukan faktor sosial yang mempengaruhi penggunaan omoiyari hyougen yaitu identitas sosial penutur, identitas sosial lawan tutur, dan lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi. Kemudian ditemukannya konteks yang mendasari penggunaan omoiyari hyougen yaitu gender, status sosial dan situasi. Dalam penelitian ini juga didapatkan hasil klasifikasi baru berupa pengembangan dari klasifikasi fungsi oleh Lebra (1976). Kata Kunci: omoiyari, hyougen, empati, sosiopragmatik Abstract In socio-cultural factors of language, Japanese people seem empathetic, shameless, and careful while having a conversation. Carefulness in conversation and having empathy for the interlocutor is called omoiyari hyougen. Researcher feel that some Japanese language learners in Indonesia do not understand the importance of using omoiyari hyougen while having a conversation with interlocutors, especially with Japanese people, so researcher is interested in studying more deeply about it. In the research entitled "The Use of Omoiyari Hyougen in the Death Note Animation Series by Tsugumi Ohba" data was found about the use of Omoiyari Hyougen. In this study there are three problem formulations, which is : 1) How is the use of Omoiyari Hyougen in the Death Note animated series by Tsugumi Ohba ?, 2) What are the social factors that influence the use of Omoiyari Hyougen in the Death Note animated series by Tsugumi Ohba ?, 3) What is the underlying context in the use of Omoiyari Hyougen in the animated series Death Note by Tsugumi Ohba ?. To answer the first problem formulation, a theory by Lebra (1976) about the use of omoiyari hyougen and its functions will be used. The second problem formulation will be discussed using Chaer (1995), the theory is regarding social factors that influence the use of omoiyari hyougen and the third problem formulation will be discussed using theory by Toshio (1997) which is about the underlying context in the use of omoiyari hyougen. The used method to obtain data in this study is a observe method and also a note-taking method. The datas in this study are in the form of utterances containing omoiyari hyougen in the animated series Death Note by Tsugumi Ohba. The use of omoiyari hyougen in the Death Note animated series were found, the results of data this study is 68 data on 5 functions, which is 6 data of maintaining consensus, 29 data of optimizing the comfort of others, 21 data of reciprocity, 1 data of intuitive communication, 11 data of feeling guilty. The data that has been found is classified and analyzed based on its function. Also, in this study found social factors that influence the use of omoiyari hyougen which is the social identity of the speaker, the social identity of the interlocutor, and the social environment in which the speech occurred. Then, found the context that underlies the use of omoiyari hyougen which is gender, social status and situation. In this study also obtained the results of a new classification of the development from the classification of functions by Lebra (1976). Keywords: omoiyari, hyougen, empathy, sosiopragmatic.
MAKNA KONTEKSTUAL PADA TANDA DALAM FILM KIMI NO NA WA (君の名は) KARYA MAKOTO SHINKAI ROHMAH, FAUZIYATUR
GoKen Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Bahasa merupakan salah satu komponen yang terpenting dalam kehidupan manusia saat berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, manusia harus dapat menggunakan bahasa yang baik dan benar dengan orang lain agar tidak terjadi kesalahpahaman atau perbedaan informasi yang diterima oleh pendengar dengan informasi yang ingin disampaikan oleh pembicara. Tanda merupakan salah satu alat dalam berkomunikasi yang memiliki cara tersendiri untuk dapat dipahami dan diartikan. Tanda memiliki hubungan dengan acuan dan interpretasi yang dihasilkannya untuk menghasilkan sebuah makna. Oleh karena itu tanda dan makna diperlukan dalam berkomunikasi. Terdapat dua rumusan pada penelitian ini, yaitu : 1. Bagaimana jenis tanda pada film Kimi no Na wa (????) karya Makoto Shinkai ? 2. Bagaimana makna kontekstual tanda pada film Kimi no Na wa (????) karya Makoto Shinkai ? Untuk menjawab rumusan masalah yang pertama, digunakan teori jenis tanda dari Peirce. Sedangkan untuk menjawab rumusan masalah kedua digunakan teori makna kontekstual dari Pateda. Sumber data pada penelitian ini adalah film Kimi no Na wa (????) karya Makoto Shinkai, sedangkan data berupa kata maupun kalimat yang mengandung jenis tanda linguistik. Penelitian ini adalah penilitian deskrpitif kualitatif. Dalam menganalisis jenis tanda dan makna, digunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Jenis tanda yang muncul dalam film Kimi no Na wa (????) karya Makoto Shinkai adalah jenis tanda Qualisign ditemukan 3 data yang menunjukkan kualitas tanda bahwa pembicara sedang marah atau perasaan tidak nyaman, Rhematic Indexical Legisign ditemukan 19 tanda yang menunjukkan kata tunjuk benda dan tempat, Rhematic Symbol ditemukan 6 data yang menunjukkan pemahaman umum dari sebuah tempat dan gambar, Dicent Symbol ditemukan 23 tanda yang menunjukkan sikap yang ditunjukkan oleh lawan bicara, dan Argument ditemukan 69 data yang menunjukkan penilaian mengenai situasi/kondisi, benda, tempat dan seseorang. 2. Makna kontekstual yang muncul pada tanda dalam film Kimi no Na wa (????) karya Makoto Shinkai hanya 6 konteks dari 11 konteks yang ada, yaitu konteks situasi berupa situasi ramai dan situasi yang sedang terjadi, konteks tujuan berupa ajakan, larangan, dan suruhan, konteks suasana hati berupa marah, tidak nyaman, khawatir, bahagia dan rindu, konteks waktu berupa waktu yang akan datang, senja, dan hari ini, konteks tempat berupa desa itomori, alam para dewa, festival, dan konteks objek berupa benda, tempat, dan orang. Kata Kunci : Semiotik, jenis tanda, makna kontekstual
TINDAK TUTUR ILOKUSI DIREKTIF DALAM ANIME D-FRAG EPISODE 1-12 KARYA TOMOYA HARUNO Permana Putra, Hertanto Novan
GoKen Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ext-transform: none; white-space: normAbstrakBahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam sebuah terjadinyainteraksi. Dalam interaksi tersebut menghasilkan sebuah peristiwa tutur. Peristiwa tutur tersebut masukdalam kajian tindak tutur. Salah satu jenis tindak tutur adalah tindak tutur ilokusi direktif, yaitu penuturmenginginkan sesuatu terhadap lawan tutur. Dengan adanya penelitian ini dapat memberi wawasan dimasyarakat tentang tindak tutur ilokusi direktif.Tujuan dari penelitian ini ada dua, yang pertama menjelaskan jenis tindak tutur ilokusi direktifdalam anime D-frag episode 1-12 karya Tomoya Haruno dan yang kedua perubahan bentuk kata kerja padatuturan ilokusi direktif. Untuk menjawab rumusan masalah pertama menggunakan teori Searle, sedangkanteori bahasa Jepang menggunakan teori Namatame. Dan untuk menjawab rumusan masalah yang keduamenggunakan teori Dedi Sutedi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif.Hasil penelitian rumusan masalah pertama adalah terdapat 4 jenis tindak tutur ilokusi direktif yaitumenyuruh ???? , memohon ??????? , menyarankan ??????????? danmenantang ?????. Hasil penelitian rumusan masalah kedua adalah perubahan bentuk kata kerja padatuturan ilokusi direktif, yaitu ilokusi direktif menyuruh menggunakan pola meirei, ilokusi direktifmemohon menggunakan pola V~?????, ilokusi direktif menyarankan menggunakan pola ~????????? , ilokusi direktif menantang menggunakan pola kanoukei+??.Kata Kunci: Tindak tutur, ilokusi direktif, perubahan bentuk kata kerja, anime D-fragAbstractLanguage is a tool of communication has a very important role in a interaction. In interaction therewas a speech act. Speech act is included in the speech act study. One type of speech act is directive speechact, directive speech act is the speaker want something with the opponent. For the future with this research,can provide insight into the society about directive speech acts.There is two purpose in this research, first to describe directive speech act in anime D-fragmentsepisodes 1 -12 by Tomoya Haruno and second verb change in directive speech acts. To answer the firstproblem use the Searle?s theory, and the theory in Japanese uses Namatame's theory. To answer the secondproblem use the Dedi Sutedi?s theory. This type of research is descriptive qualitative research.The first result in the first problem is there are 4 types of directive speech acts, that is order(????), beg(???????), suggest(??????????? ), and challenge(?????).The second result in the second problem is directive speech acts ordered use the meirei pattern,directive speech acts beg use the V~????? pattern, directive speech acts suggest use the ~????????? pattern, and directive speech acts challenge use the kanoukei+?? pattern.Keywords: Speech Act, Directive Speech Act, Verb Change, Anime D-fragments
TINDAK TUTUR ILOKUSI DIREKTIF DALAM ANIME D-FRAG EPISODE 1-12 KARYA TOMOYA HARUNO Permana Putra, Hertanto Novan
GoKen Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam sebuah terjadinyainteraksi. Dalam interaksi tersebut menghasilkan sebuah peristiwa tutur. Peristiwa tutur tersebut masukdalam kajian tindak tutur. Salah satu jenis tindak tutur adalah tindak tutur ilokusi direktif, yaitu penuturmenginginkan sesuatu terhadap lawan tutur. Dengan adanya penelitian ini dapat memberi wawasan dimasyarakat tentang tindak tutur ilokusi direktif.Tujuan dari penelitian ini ada dua, yang pertama menjelaskan jenis tindak tutur ilokusi direktifdalam anime D-frag episode 1-12 karya Tomoya Haruno dan yang kedua perubahan bentuk kata kerja padatuturan ilokusi direktif. Untuk menjawab rumusan masalah pertama menggunakan teori Searle, sedangkanteori bahasa Jepang menggunakan teori Namatame. Dan untuk menjawab rumusan masalah yang keduamenggunakan teori Dedi Sutedi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif.Hasil penelitian rumusan masalah pertama adalah terdapat 4 jenis tindak tutur ilokusi direktif yaitumenyuruh ???? , memohon ??????? , menyarankan ??????????? danmenantang ?????. Hasil penelitian rumusan masalah kedua adalah perubahan bentuk kata kerja padatuturan ilokusi direktif, yaitu ilokusi direktif menyuruh menggunakan pola meirei, ilokusi direktifmemohon menggunakan pola V~?????, ilokusi direktif menyarankan menggunakan pola ~????????? , ilokusi direktif menantang menggunakan pola kanoukei+??.Kata Kunci: Tindak tutur, ilokusi direktif, perubahan bentuk kata kerja, anime D-fragAbstractLanguage is a tool of communication has a very important role in a interaction. In interaction therewas a speech act. Speech act is included in the speech act study. One type of speech act is directive speechact, directive speech act is the speaker want something with the opponent. For the future with this research,can provide insight into the society about directive speech acts.There is two purpose in this research, first to describe directive speech act in anime D-fragmentsepisodes 1 -12 by Tomoya Haruno and second verb change in directive speech acts. To answer the firstproblem use the Searle?s theory, and the theory in Japanese uses Namatame's theory. To answer the secondproblem use the Dedi Sutedi?s theory. This type of research is descriptive qualitative research.The first result in the first problem is there are 4 types of directive speech acts, that is order(????), beg(???????), suggest(??????????? ), and challenge(?????).The second result in the second problem is directive speech acts ordered use the meirei pattern,directive speech acts beg use the V~????? pattern, directive speech acts suggest use the ~????????? pattern, and directive speech acts challenge use the kanoukei+?? pattern.Keywords: Speech Act, Directive Speech Act, Verb Change, Anime D-fragments

Page 1 of 1 | Total Record : 4