cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2019)" : 21 Documents clear
ANALISA REMBESAN PADA BENDUNGAN TIPE URUGAN HOMOGEN DENGAN KEMIRINGAN 30 DERAJAT MELALUI PEMODELAN FISIK SETYANINGTYAS, AMELIA; , KUSNAN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah yang sering terjadi pada bendungan adalah adanya aliran rembesan air pada tubuh bendungan tersebut. Dengan demikian, analisis rembesan perlu dilakukan guna mengamati bentuk pola aliran rembesan dan debit rembesan dari tubuh bendungan tersebut. Dalam penelitian ini, model fisik bendungan urugan homogen direncanakan berbentuk trapesium, kemiringan lereng 30 derajat dengan tingkat kepadatan 90 persen. Dimensi bendungan ini adalah 3200 cm, tinggi 880 cm, dan lebar samping 1760 cm. Drainase terpasang sepanjang 1200 cm dan tinggi 80 cm dibagian hilir bendungan dengan bahan pasir berkerikil. Variasi tinggi air tampungan yakni 800 cm, 700 cm, 600 cm, 500 cm, 400 cm, 300 cm, dan 260 cm. Variasi ini dilakukan dalam rangka mempelajari pengaruh tinggi air tampungan terhadap pola rembesan air. Berdasarkan sistem klasifikasi USCS (Unified Soid Classification System) bahwa tanah diklasifikasikan sebagai tanah SP (tanah berpasir bersih) dengan koefisien permeabilitas sebesar 2,04 x 10 -3 cm/detik. Hasil pengujian tanah tersebut digunakan dalam perhitungan debit rembesan dengan tiga metode perhitungan, yaitu metode empiris (model fisik), metode Casagrande, dan software Geo Studio 2012 Seep/w Student Version. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini semakin tinggi air tampungan dibagian hulu semakin tinggi, maka debit rembesan yang dihasilkan di bagian hilir akan semakin besar. Sebaliknya, apabila air tampungan di bagian hulu rendah, maka debit rembesan yang dihasilkan dibagian hilir akan kecil.
ANALISIS SISA MATERIAL BESI TULANGAN PADA PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG BAGINDA NEGARA, JABBAR; SURYANTO HS, MAS
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Material besi tulangan pada proyek konstruksi sering menimbulkan waste yang dapat merugikan kontraktor. Reduce, reuse, recycle, dan salvage merupakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk penanganan limbah konstruksi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyebab sisa material besi tulangan yang paling sering terjadi dan mengetahui bentuk penanganan yang paling sering dilakukan oleh kontraktor dalam meminimalisir sisa material besi tulangan. Penelitian ini menggunakan survei kuesioner tertutup, dimana seluruh pertanyaan kuesioner didapatkan dari penelitian terdahulu dan pilot study dengan kontraktor. Survei dilakukan pada kontraktor di daerah Surabaya dengan menyebarkan kuesionernya di proyek atau di kantor kontraktor sebanyak 30 kontraktor. Setelah mendapatkan seluruh datanya maka dihitung bobot nilai tiap-tiap item pertanyaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab sisa material besi tulangan yang sering terjadi adalah sisa pemotongan material tidak dapat dipakai lagi dan bentuk penanganan yang paling sering dilakukan oleh kontraktor dalam meminimalisir sisa material besi tulangan adalah tindakan pencegahan (reduce) yakni penerapan metode konstruksi yang efisien. Kata Kunci: material, sisa, besi tulangan, konstruksi
PEMANFAATAN FLY ASH DAN SERBUK CANGKANG BEKICOT (ACHATINA FULLICA) SEBAGAI SUBSTITUSI SEBAGIAN SEMEN PADA PEMBUATAN BATA RINGAN SELULER YUANITA BRILIANI, ALISA; FIRMANSYAH SOFIANTO, MOCHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBata ringan seluler (CLC) merupakan inovasi bata yang menggunakan busa dalam proses pembuatannya. Busa dibuat dengan melarutkan Foaming agent bersama air dengan konsistensi tertentu. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah dengan mengganti material campuran bata ringan seluler. Material yang digunakan berasal dari mineral alam yang tidak terpakai atau limbah. Dampak penggunaan material tersebut adalah dapat merubah kualitas dari bata ringan seluler. Kualitas bata ringan seluler dapat dilihat dari nilai berat volume, kuat tekan dan penyerapan air bata sesuai dengan SNI 03-0349-1989. Penelitian ini bertujuan menemukan formula baru dalam pembuatan bata ringan seluler dengan menggunakan material fly ash dan serbuk cangkang bekicot (SCB) sebagai pengganti/substitusi semen. Kadar bahan substitusi adalah sebesar 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% dari berat semen. Campuran fly ash dan serbuk cangkang bekicot (SCB) terlebih dahulu dibuat dengan perbandingan sebesar 1 : 0,349. Selanjutnya fly ash dan serbuk cangkang bekicot (SCB) dicampurkan dengan material lain seperti semen, pasir, air dan foam agent. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian berat volume, kuat tekan dan penyerapan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula bahan pembuat bata ringan terbaik adalah substitusi 5% semen oleh fly ash dan SCB yang menghasilkan bata dengan berat volume 1,019 gr/cm3, kuat tekan 3,840 MPa dan penyerapan air 33%. Semakin tinggi penambahan kadar fly ash dan SCB akan menyebabkan penurunan berat volume, penurunan kuat tekan dan peningkatan nilai penyerapan air. Berdasarkan SNI-03-0349-1989, mutu bata ringan seluler yang dihasilkan adalah kategori IV. Kata Kunci: Bata Ringan Seluler, CLC, Fly Ash, Serbuk Cangkang Bekicot, Foam Agent Abstract Cellular Lightweight Concrete (CLC) is brick innovation used foam in the making process. Foam is made by dissolving the Foaming agent within water and a certain consistency. In this study, the method used is to replace material of the mixed cellular lightweight concrete. The used materials are unused natural minerals or waste. The impact of using these materials is can be change the quality of cellular light concrete. The quality of cellular light concrete can be seen from the value of volume weight, compressive strength and density (water absorption) according to SNI 03-0349-1989. This study has purpose to found a new formula in the making of cellular lightweight concrete used fly ash material and snail shell powder (SCB) as replacement / substitution for cement. The percentages of substitution material are 0%, 5%, 10%, 15% and 20% by weight of cement. A mixture of fly ash and snail shell powder (SCB) was a first-made with ratio 1: 0.349. Furthermore, fly ash and snail shell powder (SCB) are mixed with other materials such as cement, sand, water and foam agent. The tests carried out were volume weight test, test compressive strength and density. The results shown that the best material formula of making lightweight brick was rate 5% substitution of cement by fly ash and SCB which produced brick with a volume weight of 1.019 gr / cm3, compressive strength of 3,840 MPa and 33% density. The higher addition of fly ash and SCB percentages will cause a decrease in volume weight, decrease in compressive strength and increase in density. Based on SNI-03-0349-1989, the quality of cellular lightweight concrete has resulted is category IV. Keywords: Cellular Lightweight Concrete, CLC, Fly Ash, Snail Shell Powder, Foam Agent
PENGARUH VARIASI JARAK TULANGAN TRANSVERSAL PADA KOLOM PENDEK PENAMPANG BULAT YANG DIPERKUAT CFRP (CARBON FIBER REINFORCED POLYMER) TERHADAP KEMAMPUAN MENERIMA KUAT TEKAN AKSIAL RAMADHAN, FEBRY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulangan transversal dapat memperbaiki karakteristik tegangan dan regangan pada beton. Tulangan transversal dapat berbentuk spiral dan persegi sesuai dengan bentuk kolom yang digunakan. Tulangan transversal spiral lebih efektif daripada tulangan transversal persegi karena dapat memberikan pengekangan terus-menerus di seluruh area lingkaran. Penggunaan tulangan transversal akan memperkuat inti beton sehingga dapat meningkatkan kuat tekan aksial. Semakin rapat jarak tulangan transversal, akan meningkatkan kuat tekan aksial pada benda uji. Selimut beton yang tidak terkekang seharusnya diperkuat agar beton tidak mudah mengalami keretakan apabila kolom menerima beban aksial yang lebih besar. Perkuatan yang dapat dilakukan yaitu dengan penambahan CFRP (Carbon Fiber Reinforcement Polymer). Perkuatan CFRP pada kolom berpenampang bulat dilakukan untuk bertujuan memberikan kekuatan lebih di area selimut beton yang tidak terkekang oleh tulangan transversal, agar kolom dapat menerima beban aksial yang lebih besar daripada kolom berpenampang bulat pada umumnya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa benda uji dengan tulangan transversal berjarak 52 mm meningkat sebesar 17,38 %, benda uji dengan tulangan transversal berjarak 36 mm meningkat sebesar 19,26 %, dan benda uji dengan tulangan transversal berjarak 27 mm meningkat sebesar 51,49 %.Kata Kunci: CFRP, Jarak Tulangan Transversal, Kuat Tekan. Transverse reinforcement can improve its stress and strain characteristics in concrete. Transverse reinforcement can be in the form of spiral and square according to the column itself. The spiral transverse reinforcement much more effectively than rectangular because effectively than rectangular because it provides a contiuous confining pressure around the circumference. The use of transverse reinforcement will strengthen the concrete core, so that it can increase axial compressive strength. Unconfined concrete cover should be strengthened, so that it is not easily broken when the column carrying a greater axial loads. Strengthening that can be used is by using CFRP (Carbon Fiber Reinforcement Polymer). Applying the CFRP on circular section columns aims to provides more strength in the concrete cover area which is not confined by transversal reinforcement, so that the column can carrying a greater axial loads than most of circular section columns. The results of this study showed that specimens of 52 mm transverse reinforcements increased by 17.38%, specimens of 36 mm transverse reinforcements increased by 19.26%, and specimens of 27 mm transversal reinforcements increased by 51.49%. Keywords: CFRP, Compressive Strength, Transverse Reinforcement Spacing.
PENGARUH VARIASI TINGGI (H) BALOK PADA KUAT LENTUR BALOK BAMBU PETUNG LAMINASI PARMANTO, ANDIK
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bambu merupakan material alami yang cocok digunakan sebagai pengganti material kayu sebagai bahan konstruksi bangunan. Bambu sangat mudah dijumpai di indonesia sama halnya dengan kayu namun kayu untuk digunakan sebagai bahan konstruksi membutuhkan waktu yang lama berbeda dengan bambu hanya membutuhkan waktu tidak terlalu lama kisaran 4-5 tahun. Bambu apabila digunakan sebagai alternatif pengganti kayu konvensional sering kali terkendala dengan bentuknya, maka dari itu dengan proses laminasi, bambu dapat disusun antar bilah bambu sepertinya halnya kayu berbentuk persegi ataupun persegi panjang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi tinggi (h) balok pada kuat lentur bambu petung laminasi serta kekakuan batang pada setiap variasi tinggi (h) balok bambu petung laminasi dengan dimensi bilah berukuran sama yaitu 5mmx20mm. Metode penelitian ini menggunakan Metode uji lentur two point loading. Variasi tinggi (h) balok bambu petung yang digunakan yaitu 60mmx100mm, 60mmx110mm, 60mmx130mm. Hasil penelitian menunjukan dengan adanya penambahan variasi tinggi berpengaruh baik dalam hal beban maksimum semakin adanya penambahan variasi tinggi (h) semakin tinggi pula beban maksimum, apabila diteliti pada kuat lentur menunjukkan variasi dimensi 60mmx110mm merupakan rasio tinggi paling efektif yaitu sebesar 31,66 MPa dan untuk kekakuan batang pada variasi tinggi 60mmx110mm paling rendah angka kekakuannya sehingga semakin rendah angka kekakuan semakin lentur batang tersebut, serta memenuhi syarat pada kondisi layan dan lendutan ijin berdasarkan SNI-PKKI-2002.Kata kunci: Bambu, kuat lentur, laminasiBamboo is a natural material that is suitable for use as a substitute for wood materials as building construction materials. Bamboo is very easy to find in Indonesia as well as wood, but wood for use as a construction material takes a long time different from bamboo, which only takes a short time range of 4-5 years. Bamboo, when used as an alternative to conventional wood, is often constrained by its shape, so with the lamination process, bamboo can be arranged between bamboo blades as if it were square or rectangular. The purpose of this study was to determine the effect of height variation (h) on the flexural strength of laminated petung bamboo and stem stiffness on each variation of height (h) laminated petung bamboo beam with dimensions of the same sized blade, 5mmx20mm. This research method uses two point loading flexural test method. The height variation (h) of petung bamboo beams used is 60mmx100mm, 60mmx110mm, 60mmx130mm. The results showed that the addition of high variations had a good effect on the maximum load, the more the addition of high variations (h) the higher the maximum load, when examined in flexural strength showed variations in dimensions of 60mmx110mm was the most effective ratio of 31,66 MPa and for the stiffness of the stems in the variation of 60mmx110mm height is the lowest stiffness so that the lower the stiffness the more flexible the stems, and to fulfill the conditions for permit and deflection conditions based on SNI-PKKI-2002.Keywords: Bamboo, flexural strength, laminated
PENGARUH CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP) PADA KOLOM PENDEK TERKEKANG PENAMPANG BULAT KALAM RAMZY, AKBAR
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku beton yang tidak diberi sengkang menunjukKan perilaku yang sangat berbeda dengan beton yang diberi sengkang dimana beton yang diberi kekangan dalam bentuk sengkang menunjukkan perilaku yang lebih daktail daripada beton yang tidak dikekang dengan sengkang. Saat ini para praktisi kontruksi dihadapkan dengan makin banyaknya struktur yang membutuhkan perkuatan, dengan bermacam alasan seperti:perubahan fungsi struktur bangunan yang membutuhkan kapasitas menahan beban yang lebih tinggi. Secara umum CFRP mempunyai fungsi meningkatkan kekuatan kompresi dari kolom, menutup kondisi kolom yang mengalami retak akibat pergerakan sengkang kearah luar sehingga memberi perkuatan tambahan atau menggantikan penulangan yang berkurang akibat kerusakan pada kolom.Variasi pemasangan CFRP masih menjadi sebuah pertanyaan, maka untuk itu diadakan penelitian tentang variasi pemasangan CFRP terhadap beban axial. Pada penelitian ini akan melakukan kajian perbandingan antara kolom pendek terkekang penampang bulat tanpa tambahan CFRP di sekeliling penampang memanjang kolom dan kolom pendek terkekang penampang bulat dengan tambahan CFRP penuh dan sebagian(pola strip) di sekeliling penampang memanjang kolom. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada benda uji dalam menerima kuat tekan aksial. Benda uji dengan pemasangan CFRP 3 strip (benda uji DCJC) mengalami peningkatan sebesar 12%,benda uji dengan pemasangan CFRP 4 strip (benda uji DCJB) mengalami peningkatan sebesar 22%,benda uji dengan pemasangan CFRP 5 strip (benda uji DCJA) mengalami peningkatan sebesar 30%,Benda uji dengan pemasangan CFRP penuh disekeliling kolom (benda uji DFC) mengalami peningkatan sebesar 81%.
PEMANFAATAN SERAT RAMI TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR PADA PEMBUATAN PANEL BETON RINGAN MENGGUNAKAN EAFS (ELECTRIC ARC FURNACE SLAG) SEBAGAI SUBSTITUSI PASIR ADAM IHZA MAHENDRA, DYMAS; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dinding panel merupakan suatu komponen non struktural yaitu dinding yang dibuat dari suatu kesatuan blok dinding parsial, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah dinding yang kokoh. Dinding panel yang ringan, tipis, dan kuat merupakan salah satu material yang cocok untuk bangunan rumah yang tahan gempa. Beton yang lemah terhadap tarik dapat ditingkatkan kekuatannya yaitu dengan menambahkan serat sebagai tambahan bahan campuran untuk beton. Bahan serat yang digunakan pada beton dapat berupa serat kawat, serat plastik (polypropylene), atau serat alami. Salah satu serat yang bisa digunakan sebagai tambahan bahan campuran beton yang bersifat ekonomis dan ramah lingkungan adalah serat rami. Dan salah satu bahan campuran beton ringan yaitu pasir juga mempunyai dampak buruk dalam kerusakan alam. Electrical Arc Frunance Slag atau limbah dari pembakaran atau peleburan baja yang merupakan limbah dari hasil proses pembakaran dari pabrik baja dapat dimanfaatkan sebagai substitusi pasir pada beton. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh serat rami dan Electrical Arc Frunance Slag pada campuran beton ringan terhadap sifat mekanis. Pada penelitian ini akan melakukan experimental dengan menggunakan persentase Electrical Arc Frunance Slag 5% dan variasi serat rami 0%, 0,25%, 0,50%, 0,75%, 1%, dan 1,25% untuk kuat tekan dan kuat lentur pada beton ringan. Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dengan memanfaatkan serat rami dan Electrick Arc Furnace Slag pada campuran beton ringan mampu memperbaiki kuat tekan, kuat lentur balok, dan kuat lentur panel pada beton ringan. Penggunaan serat rami optimal yang dapat ditambahkan pada campuran beton ialah sebesar 0,75% dapat meningkatkan kuat tekan, kuat lentur balok, dan kuat lentur panel sebesar 4,44 Mpa, 1,59 Mpa, dan 0,53 Mpa. Kata Kunci: EAFS, Serat Rami, Kuat Tekan, Kuat Lentur Abstract Wall panels are a non-structural component that is a wall made from a unitary partial wall block which is then assembled into a sturdy wall. The lightweight, thin and strong panel wall is one of the materials that is suitable for earthquake resistant home buildings. Weak strength of the concrete can be increased by adding fiber as a mixture of concrete. Fiber materials used in concrete can be wire fibers, plastic fibers (polypropylene), or natural fibers. One of the fibers that can be used as an additional concrete mixture that is economical and environmentally friendly is hemp fiber. one of the ingredients of a lightweight concrete mixture that is sand has a bad impact on natural damage. Electrical Arc Frunance Slag or waste from combustion or steel smelting which is a waste from the results of the combustion process of a steel plant can be used as a substitute for sand in concrete. The purpose of this study was to determine the effect of flax fiber and Electrical Arc Frunance Slag on lightweight concrete mixtures on mechanical properties. In this study will do an experimental using the percentage of 5% Electrical Arc Frunance Slag and variations of flax fiber 0%, 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1%, and 1.25% for compressive strength and strong bending on lightweight concrete. The results of this study concluded that utilizing hemp fiber and Electric Arc Furnace Slag on lightweight concrete mixes was able to improve compressive strength, beam flexural strength, and panel flexural strength in lightweight concrete. The optimal use of hemp fiber can be added to the concrete mixture by 0.75% which can increase compressive strength, beam flexural strength, and panel flexural strength of 4.44 Mpa, 1.59 Mpa, and 0.53 Mpa. Keywords: Rami Fiber, EAFS, Compressive Strength, flexural Strength
PENGARUH VARIASI WATER BINDER RATIO (0,20-0,32) TERHADAP SIFAT SEGAR, BERAT VOLUME, POROSITAS, DAN KUAT TEKAN PADA BETON HIGH VOLUME FLY ASH METODE SELF COMPACTING CONCRETE KURNIAWATI, ANDINI; FIRMANSYAH SOFIANTO, MOCHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Durabilitas merupakan salah satu permasalahan dalam pekerjaan teknis beton yang diakibatkan oleh pemadatan yang kurang optimal, sehingga dibutuhkan beton yang mampu memadat sendiri. Karakteristik beton yang memadat sendiri adalah volume binder lebih banyak daripada beton normal, sehingga nilai w/b ratio menjadi kecil. HVFA digunakan untuk mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan penggunaan volume binder yang besar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh w/b ratio terhadap sifat segar, berat per-volume, porositas, dan kuat tekan beton. Penelitian ini direncanakan menggunakan variasi w/b ratio 0,20; 0,24; 0,28; 0,32 dan kadar HVFA 50% dari volume binder. Pengujian benda uji menggunakan silinder dengan ukuran 10x20 cm. Uji beton segar yang dilakukan adalah Uji Slump, Uji T50, Uji V-funnel, dan Uji L-Box. Uji kuat tekan pada umur 7, 14, dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh w/b ratio terhadap beton segar dan memenuhi persyaratan sifat segar SCC. Berat per volume sebagian besar beton tegolong dalam jenis beton berat dengan nilai terberat adalah 2451,59 kg/m3. Pengaruh w/b ratio terhadap porositas ditunjukkan bahwa nilai w/b ratio yang terendah memiliki nilai porositas juga kecil, nilai Porositas terkecil yaitu 1,27%. Kuat tekan yang paling besar terdapat pada beton w/b ratio 0,20 dengan nilai 44,59 MPa. Kata kunci : w/b ratio; Sifat Segar, Kuat Tekan, Berat Per Volume, dan Porositas.
PENENTUAN GRADASI GABUNGAN SEBAGAI DASAR CAMPURAN LASTON AC-WC DAN LIMBAH BAN AKROM SUBHAN, MUHAMMAD; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada akhir ini, banyak pekerjaan pengaspalan jalan baru maupun penambalan. Dari pekerjaan tersebut, menimbulkan limbah aspal yang tidak dimanfaatkan kembali. Sehingga dapat menimbulkan masalah baru yaitu timbulnya limbah aspal atau yang disebut RAP (Reclaimed Asphalt Pavement). Pada penelitian ini yang ditinjau adalah pengaruh RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) sebagai pengganti agregat dengan menggunakan filler fly ash pada campuran aspal pertamina pen 60/70 sebagai dasar campuran penambahan limbah ban. Oleh sebab itu penggunaan RAP menjadi salah satu alternatif yang digunakan untuk mendapatkan kualitas lapis perkerasan yang baik dan memanfaatkan kembali limbah perkerasan lentur. Benda uji yang disiapkan untuk campuran AC-WC+RAP dengan persentase aspal 3%, 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, untuk variasi 1 dan 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, untuk variasi 2. Pencampuran agregat AC-WC+RAP dilakukan dengan metode kering, dicampur diatas penggorengan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi campuran dengan 21% RAP pada CA (Course Agregat), merupakan komposisi yang paling optimal dengan kadar aspal optimum (KAO) sebesar 5,25% pada campuran variasi 2. Dengan Analisa parameter Marshall, nilai stabilitas 1256,64 kg, kelelehan atau flow 3,25 mm, V.I.M 4,51%, V.M.A 15,12%, V.F.A 70,20%, dan Marshall Quotient 387,67 kg/mm. Kata Kunci : Filler Fly Ash, Laston AC-WC, Limbah Ban, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) Abstract At the end of this time, a lot of work is asphalting as well as patching. From this work, it creates asphalt waste which is not reused. So that it can cause new problems, namely the emergence of asphalt waste or so-called RAP (Reclaimed Asphalt Pavement). In this study, the effect of RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) as a substitute for aggregate by using fly ash filler in the 60/70 pertamina pen asphalt mixture as a basis for adding tire waste mixture. Therefore the use of RAP is one of the alternatives used to get good quality pavement layers and to reuse flexible pavement waste. Test specimens were prepared for AC-WC + RAP mixture with asphalt percentage of 3%, 4%, 4.5%, 5%, 5.5%, 6%, for variations of 1 and 4%, 4.5%, 5% , 5.5%, 6%, for variation 2. The mixing of AC-WC + RAP aggregates was carried out by the dry method, mixed over the frying pan. The results of this study indicate that the composition of the mixture with 21% RAP on the CA (Aggregate Course), is the most optimal composition with an optimum asphalt content (KAO) of 5.25% in a mixture of variation 2. With Marshall parameter analysis, the stability value is 1256, 64 kg, melt or flow 3.25 mm, VIM 4.51%, VMA 15.12%, VFA 70.20%, and Marshall Quotient 387.67 kg / mm. Keywords : AC-WC Laston, Filler Fly Ash, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Waste Tires
PENGARUH VARIASI PANJANG SAMBUNGAN PADA SAMBUNGAN BALOK KAYU BIBIR MIRING BERKAIT TERHADAP KUAT LENTUR FAUZI ANDRIANSYAH, MUHAMMAD; , SUPRAPTO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sambungan merupakan titik terlemah dalam sambungan kayu khususnya yang masih berupa sambungan konvensional, dimana faktor aman yang digunakan masih cukup tinggi sehingga mengakibatkan kurang hematnya pemakaian kayu. Jenis sambungan kayu bibir miring berkait merupakan sambungan yang banyak di aplikasikan seperti untuk balok (gording) dan kuda-kuda, dimana akan lebih banyak menerima gaya lentur maupun gaya tarik. Panjang sambungan kayu bibir miring berkait memiliki standar panjang sambungan sebesar 2,5h ? 3h. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui panjang efektif sambungan bibir miring berkait balok kayu meranti dan perilaku kerusakan dalam pengujian lentur, dengan acuan sifat fisik dan sifat mekanik kayu meranti. Pengujian lentur menggunakan model 2 tumpuan sendi-rol dengan beban terpusat ditengah bentang. Balok berdimensi 4/6 cm panjang 150 cm dengan 5 variasi panjang sambungan diantaranya: 2h, 2,5h, 2,75h, 3h dan 3,5h pada tengah bentang. Hasil penelitian menunjukkan sambungan paling baik adalah variasi panjang sambungan 2,75h dengan kuat lentur 647,06 kg/cm2, diikuti dengan variasi panjang sambungan 2,5h dan 3h dengan kuat lentur 630,47 kg/cm2, sedangkan variasi panjang sambungan 2h dan 3,5h memiliki kuat lentur terendah sebesar 580,69 kg/cm2. Rata-rata perilaku runtuh yang terjadi adalah kerusakan geser, semakin panjang sambungan kerusakan mengarah pada kerusakan lentur. Kata Kunci: Sambungan Bibir Miring Berkait, Panjang Sambungan, Perilaku Lentur. Abstract Connection was the weakest point in wood structures especially that still was conventional connection, while safety factor that was used still high enough resulting in less efficient use of wood. Angle-notched with hooked connection type was a wood connection that were widely applied such as beams (roof beam) and truss frame, which about received bending force and tensile force. Length of angle-notched with hooked connection type has a standard length within 2,5h ? 3h. The purpose of this research was to determine which the effective length of angle-notched with hooked connection type of meranti wood and behavior damaged on bending load experiment, with reference to the physical and mechanical properties of meranti wood. Bending load experiment was used 2 foothold pins and roller with one loaded will applied on the middle of the beams. The beams has measurement 4/6 cm and long 150 cm with has 5 length connection variations type among them: 2h, 2,5h, 2,75h, 3h and 3,5h in the middle of the beams. The result of the research showed the best connection bas variation in connection length of 2,75h with bending strength value about 647,06 kg/cm2 followed by variation in connection length of 2,5h and 3h type about 630,47 kg/cm2, while variations in connection length of 2h and 3,5h had the lowest bending strength value about 580,69 kg/cm2. The average of behavior damaged of the beams was shear damaged, if getting longer applied of the connection, the behavior damaged is aim to bending damaged. Keywords: Angle-Notched with Hooked Connection, Length Connection, Bending Load.

Page 2 of 3 | Total Record : 21