cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Paradigma
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2020)" : 21 Documents clear
SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM MENGANALISIS REPRESENTASI TUBUH IDEAL (STUDI KASUS CHANNEL YOUTUBE DEDDY CORBUZIER) DWI KURNIAWAN, YOVI; PRIBADI, FARID
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tubuh menjadi persoalan yang menarik untuk dibahas. Tubuh dengan berbagai kerentanannya menghadapi dorongan kekuasaan, manipulasi dan ideologi kapitalis. Keberhasilan Deddy dengan diet yang diterapkannya tersebut ditulis kedalam karya buku dan beberapa melalui unggahan video YouTube-nya. Deddy ingin mengenalkan penonton YouTube-nya tentang bagaimana membentuk tubuh yang ideal menurut Deddy Corbuzier. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis representasi bentuk tubuh ideal dan memahami makna dibalik tanda yang membentuk kontruksi tubuh ideal dalam Channel YouTube Deddy Corbuzier. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Semiotika Roland Barthes akan membahas mengenai tanda dan simbol yang membentuk representasi tubuh ideal. Hasil penelitian menunjukkan representasi tubuh ideal Deddy Corbuzier lebih condong pada otot bahu yang besar berotot sehingga menjadikan tubuh terlihat semakin besar. Otot biceps juga menjadi pelengkap maskulinitas laki-laki dengan otot yang besar. Representasi tubuh ideal oleh Deddy Corbuzier memiliki maksud dan tujuan dibaliknya. Salah satu tujuan dibalik permainan tanda tersebut adalah sebagai promosi terhadap brand Under Armour sehingga lebih dikenal luas di masyarakat. Kata Kunci: Analisis Semiotika, Tubuh Ideal, Maskulinitas, YouTube
SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM MENGANALISIS REPRESENTASI TUBUH IDEAL (STUDI KASUS CHANNEL YOUTUBE DEDDY CORBUZIER) DWI KURNIAWAN, YOVI; PRIBADI, FARID
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tubuh menjadi persoalan yang menarik untuk dibahas. Tubuh dengan berbagai kerentanannya menghadapi dorongan kekuasaan, manipulasi dan ideologi kapitalis. Keberhasilan Deddy dengan diet yang diterapkannya tersebut ditulis kedalam karya buku dan beberapa melalui unggahan video YouTube-nya. Deddy ingin mengenalkan penonton YouTube-nya tentang bagaimana membentuk tubuh yang ideal menurut Deddy Corbuzier. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis representasi bentuk tubuh ideal dan memahami makna dibalik tanda yang membentuk kontruksi tubuh ideal dalam Channel YouTube Deddy Corbuzier. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Semiotika Roland Barthes akan membahas mengenai tanda dan simbol yang membentuk representasi tubuh ideal. Hasil penelitian menunjukkan representasi tubuh ideal Deddy Corbuzier lebih condong pada otot bahu yang besar berotot sehingga menjadikan tubuh terlihat semakin besar. Otot biceps juga menjadi pelengkap maskulinitas laki-laki dengan otot yang besar. Representasi tubuh ideal oleh Deddy Corbuzier memiliki maksud dan tujuan dibaliknya. Salah satu tujuan dibalik permainan tanda tersebut adalah sebagai promosi terhadap brand Under Armour sehingga lebih dikenal luas di masyarakat. Kata Kunci: Analisis Semiotika, Tubuh Ideal, Maskulinitas, YouTube
RASIONALITAS DAYA JUANG ORANGTUA DALAM PEMENUHAN PENDIDIKAN ANAK KELUARGA LDII PUTRI PRATIWI, DITA; WAHYUDI, ARI
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengakses pendidikan anak adalah kewajiban orangtua. Segala tindakan dilakukan oleh orangtua agar anak anaknya dapat bersekolah. Terutama bagi orangtua yang memiliki banyak anak. Mereka harus mempunyai strategi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Terutama kebutuhan pemenuhan pendidikan anak. Salah satunya yaitu dengan memilih lembaga pendidikan untuk anak. Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah telah membuat beberapa program pendidikan untuk meringankan beban biaya pendidikan yang ditanggung orangtua. Mulai dari dana BOS, beasiswa bagi siswa berprestasi, dan lain sebagainya. Meskipun demikian orangtua tetap harus memenuhi kebutuhan penunjang sekolah anak. Mulai dari seragam, tas, buku, sepatu, dan lain-lain. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana daya juang orangtua dalam pemenuhan pendidikan anak pada keluarga LDII?. Tujuan dalam penelitian ini yaitu: 1). Mengidentifikasi latarbelakang kondisi sosial-ekonomi keluarga LDII; 2). Mengidentifikasi pengambilan keputusan terkait pemenuhan pendidikan bagi anak pada keluarga LDII; 3). Mengidentifikasi daya juang orangtua dalam pemenuhan pendidikan anak; Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan verstahen. Menggunakan perspektif teori tindakan sosial Max Weber. Lokasi penelitian berada di Dusun Cabean Desa Sugihwaras kecamatan Ngluyu kabupaten Nganjuk. Hasil penelitian didapatkan bahwa bentuk dari daya juang orangtua ini mulai dari menganekaragamkan pekerjaan, berhutang/meminta tetangga, menjual aset rumah tangga, menambah jam kerja, memanfaatkan sumber daya alam, menyimpan hasil panen, dan meminimalkan tingkat konsumsi. Kata Kunci: Tindakan Sosial, Orangtua, Pendidikan, LDII.
RASIONALITAS DAYA JUANG ORANGTUA DALAM PEMENUHAN PENDIDIKAN ANAK KELUARGA LDII PUTRI PRATIWI, DITA; WAHYUDI, ARI
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengakses pendidikan anak adalah kewajiban orangtua. Segala tindakan dilakukan oleh orangtua agar anak anaknya dapat bersekolah. Terutama bagi orangtua yang memiliki banyak anak. Mereka harus mempunyai strategi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Terutama kebutuhan pemenuhan pendidikan anak. Salah satunya yaitu dengan memilih lembaga pendidikan untuk anak. Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah telah membuat beberapa program pendidikan untuk meringankan beban biaya pendidikan yang ditanggung orangtua. Mulai dari dana BOS, beasiswa bagi siswa berprestasi, dan lain sebagainya. Meskipun demikian orangtua tetap harus memenuhi kebutuhan penunjang sekolah anak. Mulai dari seragam, tas, buku, sepatu, dan lain-lain. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana daya juang orangtua dalam pemenuhan pendidikan anak pada keluarga LDII?. Tujuan dalam penelitian ini yaitu: 1). Mengidentifikasi latarbelakang kondisi sosial-ekonomi keluarga LDII; 2). Mengidentifikasi pengambilan keputusan terkait pemenuhan pendidikan bagi anak pada keluarga LDII; 3). Mengidentifikasi daya juang orangtua dalam pemenuhan pendidikan anak; Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan verstahen. Menggunakan perspektif teori tindakan sosial Max Weber. Lokasi penelitian berada di Dusun Cabean Desa Sugihwaras kecamatan Ngluyu kabupaten Nganjuk. Hasil penelitian didapatkan bahwa bentuk dari daya juang orangtua ini mulai dari menganekaragamkan pekerjaan, berhutang/meminta tetangga, menjual aset rumah tangga, menambah jam kerja, memanfaatkan sumber daya alam, menyimpan hasil panen, dan meminimalkan tingkat konsumsi. Kata Kunci: Tindakan Sosial, Orangtua, Pendidikan, LDII.
PANOPTIKON DAN HYPOMNEMA DALAM PENDISIPLINAN TUBUH NARAPIDANA LEMBAGA PEMASYARAKATAN DWI VELLIENDA, CHURNIA; HARIANTO, SUGENG
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan (lapas) dipandang sekadar sebagai tempat orang-orang bersalah, berdosa, dan terpidana. Namun, sistem pemasyarakatan mengatur tujuan lapas adalah untuk membentuk narapidana menjadi anggota masyarakat yang lebih baik. Sistem ini masih menyimpan sejumlah problematika yakni pelanggaran-pelanggaran sosial yang terjadi di dalam penjara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola-pola pendisiplinan, bentuk panoptisisme, dan hyonemna di Lembaga Kelas I Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori Disiplin Tubuh Foucault. Konsep-konsep Foucault yang digunakan diantaranya Panoptisisme, governmentality, biopower, dan hypomnema. Data diambil dengan teknik wawancara terstruktur dan observasi. Subjek kajian penelitian ini adalah narapidana dan sipir. Pisau analisis yang digunakan meliputi arkelogi pengetahuan dan geneologi kekuasaan Foucault. Realitas dalam lapas menggambarkan panoptisisme, khususnya sistem pengawasan. Sistem pengawasan yang terdiri dari CCTV, petugas (sipir), arsitektur, menara, dan tamping mampu mendisiplinkan narapidana. Terkecuali arsiktektur yang masih diacuhkan oleh sebagian narapidana. Kemudian dua elemen konsep governmentality Foucault yang sesuai dengan fenomena di Lapas Kelas I Surabaya yaitu Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) dan Regulasi. Regulasi atau Tata Tertib secara tertulis tidak membuat dampak apapun bagi narapidana karena kurangnya mereka dalam membaca. Terakhir adalah fenomena biopower yakni pembinaan narapidana di lapas sudah berjalan dengan maksimal serta memiliki hasil baik bagi setiap individunya. Kata Kunci: Narapidana, Lembaga Pemasyarakatan, Disiplin Tubuh, Panoptikon
PANOPTIKON DAN HYPOMNEMA DALAM PENDISIPLINAN TUBUH NARAPIDANA LEMBAGA PEMASYARAKATAN DWI VELLIENDA, CHURNIA; HARIANTO, SUGENG
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan (lapas) dipandang sekadar sebagai tempat orang-orang bersalah, berdosa, dan terpidana. Namun, sistem pemasyarakatan mengatur tujuan lapas adalah untuk membentuk narapidana menjadi anggota masyarakat yang lebih baik. Sistem ini masih menyimpan sejumlah problematika yakni pelanggaran-pelanggaran sosial yang terjadi di dalam penjara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola-pola pendisiplinan, bentuk panoptisisme, dan hyonemna di Lembaga Kelas I Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori Disiplin Tubuh Foucault. Konsep-konsep Foucault yang digunakan diantaranya Panoptisisme, governmentality, biopower, dan hypomnema. Data diambil dengan teknik wawancara terstruktur dan observasi. Subjek kajian penelitian ini adalah narapidana dan sipir. Pisau analisis yang digunakan meliputi arkelogi pengetahuan dan geneologi kekuasaan Foucault. Realitas dalam lapas menggambarkan panoptisisme, khususnya sistem pengawasan. Sistem pengawasan yang terdiri dari CCTV, petugas (sipir), arsitektur, menara, dan tamping mampu mendisiplinkan narapidana. Terkecuali arsiktektur yang masih diacuhkan oleh sebagian narapidana. Kemudian dua elemen konsep governmentality Foucault yang sesuai dengan fenomena di Lapas Kelas I Surabaya yaitu Sistem Database Pemasyarakatan (SDP) dan Regulasi. Regulasi atau Tata Tertib secara tertulis tidak membuat dampak apapun bagi narapidana karena kurangnya mereka dalam membaca. Terakhir adalah fenomena biopower yakni pembinaan narapidana di lapas sudah berjalan dengan maksimal serta memiliki hasil baik bagi setiap individunya. Kata Kunci: Narapidana, Lembaga Pemasyarakatan, Disiplin Tubuh, Panoptikon
MAKNA TUBUH BAGI PENYANDANG ACHONDROPLASIA AZIZATUR ROFIQIYAH, HIFNI; WAHYUDI, ARI
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran tentang; (1) pengalaman dan peristiwa yang dialami oleh penyandang Achondroplasia, (2) perasaan terkait peristiwa yang dialami, (3) gambaran keinginan terhadap hidup, (4) pemaknaan tubuh mini bagi penyandang Achondroplasia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan Fenomenologi. Teknik penentuan informan menggunakan metode Snowball Sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam kepada delapan penyandang Achondroplasia. Informan dipilih dengan berbagai latar belakang ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan gender. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pemaknaan terhadap tubuh memerlukan waktu lama. Masalah manusia mini adalah lebih pada berbeda daripada menjadikannya sebagai sebuah kecacatan. Pengalaman baik buruk orang sekitar mampu membentuk sebuah pemaknaan terkait tubuh. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat tiga makna tubuh mini bagi penyandang Achondroplasia. Pertama, tubuh sebagai anugerah dan hikmah dari Tuhan sebagai bentuk kekuatan atas diri yang diberikan sejak dalam kandungan. Kedua, tubuh sebagai sumber rejeki, artinya tubuh berbeda dan unik adalah daya tarik yang dapat mendatangkan rejeki berupa uang. Ketiga, tubuh sebagai sumber malapetaka dan kutukan, artinya tubuh mini dapat mendatangkan kesengsaraan, kesedihan, kekecewaan, dan penghambat dari keinginan dan impian, yang kesemuanya adalah sumber dari segala masalah. Kata Kunci: Achondroplasia, Tubuh Mini, Makna.
MAKNA TUBUH BAGI PENYANDANG ACHONDROPLASIA AZIZATUR ROFIQIYAH, HIFNI; WAHYUDI, ARI
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran tentang; (1) pengalaman dan peristiwa yang dialami oleh penyandang Achondroplasia, (2) perasaan terkait peristiwa yang dialami, (3) gambaran keinginan terhadap hidup, (4) pemaknaan tubuh mini bagi penyandang Achondroplasia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan Fenomenologi. Teknik penentuan informan menggunakan metode Snowball Sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam kepada delapan penyandang Achondroplasia. Informan dipilih dengan berbagai latar belakang ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan gender. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pemaknaan terhadap tubuh memerlukan waktu lama. Masalah manusia mini adalah lebih pada berbeda daripada menjadikannya sebagai sebuah kecacatan. Pengalaman baik buruk orang sekitar mampu membentuk sebuah pemaknaan terkait tubuh. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat tiga makna tubuh mini bagi penyandang Achondroplasia. Pertama, tubuh sebagai anugerah dan hikmah dari Tuhan sebagai bentuk kekuatan atas diri yang diberikan sejak dalam kandungan. Kedua, tubuh sebagai sumber rejeki, artinya tubuh berbeda dan unik adalah daya tarik yang dapat mendatangkan rejeki berupa uang. Ketiga, tubuh sebagai sumber malapetaka dan kutukan, artinya tubuh mini dapat mendatangkan kesengsaraan, kesedihan, kekecewaan, dan penghambat dari keinginan dan impian, yang kesemuanya adalah sumber dari segala masalah. Kata Kunci: Achondroplasia, Tubuh Mini, Makna.
ANALISIS BIAS GENDER PADA PROGRAM BANK SAMPAH INDUK SURABAYA DIAH NURAINI, ANISA; WAHYUDI, ARI
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, menjadikan kota Surabaya menjadi padat penduduk. Beragam aktivitas yang dilakukan pada akhirnya akan menghasilkan sampah. Salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah sampah yaitu adanya bank sampah. Penelitian ini bertujuan menganalisis bias gender di program Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS). Bank sampah sering posisikan sebagai ?ranah domestik? sebab banyak dilakukan oleh perempuan. Kegiatan ini diperlukan kesabaran dan kerapian. Adanya batasan antara pekerjaan domestik dan publik menjadi salah satu isu gender termasuk pembagian kerja secara seksual. Bank Sampah Induk Surabaya diplih karena pada kegiatannya melibatkan perempuan dan laki-laki. Penelitian ini menggunakan Perspektif Feminis Liberal dan menggunakan Teknik Analisis Gender Longwe. Penelitian ini mewancarai secara mendalam 11 subjek. Hasil penelitian ini mendeskripsikan 3 mekanisme kerja di Bank Sampah Induk Surabaya: karyawan kantor, karyawan produksi dan karyawan borongan. Bias gender di BSIS disebabkan karena pembagian tugas yang masih menempatkan laki-laki cocok untuk tugas berat, disebut ?Petugas Bankeling?. Sedangkan perempuan diposisikan untuk melakukan pekerjaan dianggap tidak berat seperti ?Petugas Sortir? dan ?Petugas Menjahit Karung.? Konsekuensinya, terdapat kesenjangan upah bagi karyawan laki-laki dan perempuan.Kata Kunci: Bias Gender, Bank Sampah, Feminis Liberal, Feminin, Maskulin
KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TENTANG TRADISI RUWATAN SUKERTA AYONA, BERLIAN; SUDRAJAT, ARIEF
Paradigma Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Paradigma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia menjalani kehidupan sehari-hari sebagai mahkluk sosial menginginkan kehidupan yang damai. Namun manusia pada kenyataannya mengalami krisis sosial. Ruwatan dipercaya sebagai pembebasan diri dari berbagai malapetaka. Hal ini menjadikan ruwatan bisa bertahan sampai sekarang. Adapun yang masih mempertahankan budaya ini adalah kelompok masyarakat Dukuh Pakis, Surabaya. Pernyataan ini menjadi menarik karena pada umumnya kelompok masyarakat kota tidak terikat dengan adat/tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi sosial masyarakat Dukuh Pakis beserta krisis dalam Ruwatan Sukerta. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teori Konstruksi Sosial Berger. Lokasi dalam penelitian ini berada di Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya. Subyek riset meliputi ketua pelaksana, peruwat, peserta ruwatan, dan warga sekitar Sanggar tempat pelaksanaan Ruwatan. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Teknik analisis ini menggunkan teknik interaktif karya Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman analisis data dilakukan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan proses konstruksi sosial pada masyarakat Dukuh Pakis, dimulai dari tahap eksternalisasi (adaptasi). Pelaku budaya mengenalkan tradisi Ruwatan Sukerta kepada masyarakat Dukuh Pakis. Selanjutnya proses obyektivikasi (pelembagaan) yang terlihat dari kontribusi masyarakat Dukuh Pakis pada pelaksanaan tradisi Ruwatan. Terkahir tahap internalisasi dimana masyarakat mulai melestarikan ritual Ruwatan hingga diwariskan kepada generasi sesudahnya. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Dukuh Pakis memaknai Ruwatan sebagai ritual pembuang sial secara efektif. Selain itu Ruwatan sebagai budaya asli masyarakat Jawa harus tetap dilestarikan oleh masyarakat Kota Surabaya. Kata Kunci: Konstruksi Sosial, Ruwatan Sukerta, Krisis Sosial..

Page 2 of 3 | Total Record : 21