cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2020)" : 72 Documents clear
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IIS DI SMAN 1 SOOKO MOJOKERTO AINI, NURUL; , RIYADI
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu hal penting dalam Kurikulum Nasional adalah pembelajaran abad ke-21 yaitu 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Harapannya agar peserta didik sungguh-sungguh siap untuk terjun ke tengah masyarakat global yang kompetitif. Penguasaan keterampilan ini dianggap penting dalam rangka berkompetisi di dunia yang berkembang dengan sangat cepat dan dinamis.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh model pembelajaran problem based learning (PBL) terhadap kemampuan problem solving mata pelajaran sejarah kelas XI-IIS di SMAN 1 Sooko Mojokerto. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode penelitian pre-experimetal dengan one shoot case study design. Sampel yang digunakan adalah kelas XI IIS 1 menggunakan teknik nonprobability sampling dengan jenis sampling purposive. Berdasarkan hasil analisis uji regresi linier sederhana diketahui nilai Sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan taraf Sig. 0,05 sedangkan nilai Thitung dengan nilai 7,255 lebih besar dari nilai Ttabel yakni 2,045 dan nilai R Square sebesar 0,645. Dengan demikian, penelitian ini dapat disimpulkan bahwa H0 tertolak sedangkan Ha dapat diterima, dikarenakan terdapat pengaruh sebesar 64,5% antara model pembelajaran problem based learning (PBL) terhadap kemampuan problem solving, sedangkan sisanya yakni 35,5% kemampuan problem solving peserta didik mendapatkan pengaruh variabel lainnya yang tidak diteliti. Kata kunci : Problem Based Learning (PBL), Kemampuan problem solving, Sejarah
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IIS DI SMAN 1 SOOKO MOJOKERTO AINI, NURUL; , RIYADI
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu hal penting dalam Kurikulum Nasional adalah pembelajaran abad ke-21 yaitu 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Harapannya agar peserta didik sungguh-sungguh siap untuk terjun ke tengah masyarakat global yang kompetitif. Penguasaan keterampilan ini dianggap penting dalam rangka berkompetisi di dunia yang berkembang dengan sangat cepat dan dinamis.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh model pembelajaran problem based learning (PBL) terhadap kemampuan problem solving mata pelajaran sejarah kelas XI-IIS di SMAN 1 Sooko Mojokerto. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode penelitian pre-experimetal dengan one shoot case study design. Sampel yang digunakan adalah kelas XI IIS 1 menggunakan teknik nonprobability sampling dengan jenis sampling purposive. Berdasarkan hasil analisis uji regresi linier sederhana diketahui nilai Sig. sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan taraf Sig. 0,05 sedangkan nilai Thitung dengan nilai 7,255 lebih besar dari nilai Ttabel yakni 2,045 dan nilai R Square sebesar 0,645. Dengan demikian, penelitian ini dapat disimpulkan bahwa H0 tertolak sedangkan Ha dapat diterima, dikarenakan terdapat pengaruh sebesar 64,5% antara model pembelajaran problem based learning (PBL) terhadap kemampuan problem solving, sedangkan sisanya yakni 35,5% kemampuan problem solving peserta didik mendapatkan pengaruh variabel lainnya yang tidak diteliti. Kata kunci : Problem Based Learning (PBL), Kemampuan problem solving, Sejarah
FUNGSI MINIATUR CANDI ZAMAN KLASIK MUDA MASA KERAJAAN SINGASARI Fadlikal . M, Achmad; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The temple is a religious sacred building that was built in the classical period in Indonesia, which is 8-15 AD century. The division of the temple period in Java is divided into two periods, the Old Classic (Ages 8-10 M), scattered in Central Java and the Young Classic period (Ages 11-15 M) spread across East Java. The architecture of the temple has a change in development from the Old Classic period to the Young Classic Period, one of which is the miniature component of the temple which is at the junction of the temples stairs with the foot wall of the temple. Miniature temples are located at the junction between the walls of the temple steps with the foot wall, but not all temples have a temple miniature at the meeting between the temple steps and the temple foot walls. The miniature architectural component of the temple was found in the Old Classical period found in the Shiva Prambanan Temple and found again in the heritage temple of the Kingdom of Singasari. Each architectural component has a purpose and purpose, the miniature component of the temple has diversity in terms of the shape and layout of the miniature, so researchers are interested in examining the temple miniature. Miniature temples that have diversity in terms of shape and location are interesting phenomena to discuss. This research focuses on two problems, namely, (1) What is the shape and location of miniature temples from the Singosari Kingdom; (2) How is the function of miniature temples from the Singasari Kingdom. Diversity in terms of the shape and location of the miniatures and their functions can be known by making comparisons with miniature temples in the previous period both the relics of the temple in the Old Classical period. Researchers use historical research methods consisting of stages (1) Heuristics through literature studies and observations in the field, (2) Criticism, (3) Interpretation, and (4) Historiography. The results showed the miniature of the temple inheritance of the Kingdom of Singasari, there is a diversity of forms and layout of the miniature which has a two-sided and three-sided basic shape and its location is not always right at the temples stairs with the temple foot wall but rather shifts to the temples staircase walls. The heritage of Singasari Kingdom which has a miniature component of the temple inside is found in Kidal Temple, Jago Temple and Jawi Temple. Miniature temples become an architectural component that has a function as a liaison architectural building temples from the Classical Period and a component that protects the midpoint of the temple (Brahmasthana) in the architectural system of the temple. Keywords: Temple Functoin, Temple Miniature, Singasari Kingdom
FUNGSI MINIATUR CANDI ZAMAN KLASIK MUDA MASA KERAJAAN SINGASARI Fadlikal . M, Achmad; ALRIANINGRUM, SEPTINA
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The temple is a religious sacred building that was built in the classical period in Indonesia, which is 8-15 AD century. The division of the temple period in Java is divided into two periods, the Old Classic (Ages 8-10 M), scattered in Central Java and the Young Classic period (Ages 11-15 M) spread across East Java. The architecture of the temple has a change in development from the Old Classic period to the Young Classic Period, one of which is the miniature component of the temple which is at the junction of the temples stairs with the foot wall of the temple. Miniature temples are located at the junction between the walls of the temple steps with the foot wall, but not all temples have a temple miniature at the meeting between the temple steps and the temple foot walls. The miniature architectural component of the temple was found in the Old Classical period found in the Shiva Prambanan Temple and found again in the heritage temple of the Kingdom of Singasari. Each architectural component has a purpose and purpose, the miniature component of the temple has diversity in terms of the shape and layout of the miniature, so researchers are interested in examining the temple miniature. Miniature temples that have diversity in terms of shape and location are interesting phenomena to discuss. This research focuses on two problems, namely, (1) What is the shape and location of miniature temples from the Singosari Kingdom; (2) How is the function of miniature temples from the Singasari Kingdom. Diversity in terms of the shape and location of the miniatures and their functions can be known by making comparisons with miniature temples in the previous period both the relics of the temple in the Old Classical period. Researchers use historical research methods consisting of stages (1) Heuristics through literature studies and observations in the field, (2) Criticism, (3) Interpretation, and (4) Historiography. The results showed the miniature of the temple inheritance of the Kingdom of Singasari, there is a diversity of forms and layout of the miniature which has a two-sided and three-sided basic shape and its location is not always right at the temples stairs with the temple foot wall but rather shifts to the temples staircase walls. The heritage of Singasari Kingdom which has a miniature component of the temple inside is found in Kidal Temple, Jago Temple and Jawi Temple. Miniature temples become an architectural component that has a function as a liaison architectural building temples from the Classical Period and a component that protects the midpoint of the temple (Brahmasthana) in the architectural system of the temple. Keywords: Temple Functoin, Temple Miniature, Singasari Kingdom
PERLAWANAN RAKYAT BANGKALAN DALAM MENGHADAPI KEMBALINYA BELANDA PADA TAHUN 1947 MARDIANA ASIYAH, ILMA; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berita mengenai kemerdekaan Indonesia terdengar di Kabupaten Bangkalan yang saat itu merupakan ibu kota Madura, dengan cepat masyarakat Bangkalan mengadakan gerakan untuk melakukan aksi penurunan bendera Jepang meminta para ulama dan tokoh ? tokoh masyarakat untuk ikut serta dalam gerakan tersebut. Meskipun Indonesia sudah merdeka, Belanda tetap ingin berusaha untuk menguasai Indonesia khususnya Madura sehingga terjadi berbagai perlawanan dari rakyat Madura terhadap Belanda. Madura menjadi sasaran kembalinya Belanda untuk dikuasai karena Belanda berencana menjadikan Madura sebagai negara bagian, merekrut pasukan tambahan, menguasai wilayah serta sumber daya alam dan manusianya.Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah : (1) Bagaimana latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Bangkalan dalam menghadapi kembalinya Belanda pada tahun 1947? (2) Bagaimana tindakan Barisan Tjakra Madura dalam perang kemerdekaan pada tahun1947? (3) Bagaimana upaya perlawanan rakyat Bangkalan menghadapi Belanda pada tahun 1947? Penelitian ini memiliki tujuan untuk : (1) Menjelaskan latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Bangkalan dalam menghadapi kembalinya Belanda pada tahun 1947 (2) menjelaskan tindakan Barisan Tjakra Madura dalam perang kemerdekaan pada tahun 1947 (3) menjelaskan upaya perlawanan rakyat Bangkalan menghadapi Belanda pada tahun 1947. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik digunakan untuk memperoleh sumber penelitian berupa arsip dari pos djawatan penerangan Madura berbentuk surat pemberitahuan, buku, surat kabar soeara rakjat terbitan tahun 1947, jurnal, dan artikel ilmiah lainnya untuk mendukung penelitian ini. Tahap kritik berupa kritik sumber, kritik intern dan ekstern untuk mendapatkan data sejarah yang terpercaya. Tahap interpretasi berdasarkan sumber literasi, dalam tahap ini peneliti melakukan analisis dan sintesa terhadap sumber yang telah didapat pada tahap sebelumnya untuk mendapatkan gambaran fakta sejarah. Tahapan historiografi digunakan untuk menuliskan hasil penelitian dalam bentuk artikel ilmiah secara kronologis dan relevan.Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa latar belakang perlawanan rakyat Bangkalan terhadap Belanda disebabkan Belanda ingin menguasai kembali wilayah Bangkalan dan hasil buminya. Bangkalan menjadi incaran pertama Belanda karena letaknya yang strategis berdekatan dengan Surabaya sehingga dapat digunakan untuk keamanan pangkalan armada Belanda. Kedatangan tentara Belanda ke Bangkalan menimbulkan berbagai perlawanan dari masyarakat Bangkalan yang tergabung dalam badan kelaskaran dan militer. Keberadaan Barisan Tjakra Madura yang beranggotakan orang-orang Madura bertujuan membantu Belanda untuk melancarkan aksinya semakin mempersulit rakyat Bangkalan dalam usaha melakukan perlawanan terhadap Belanda. Salah satu kesulitan yang dirasakan pejuang saat melawan barisan ini adalah tidak mudah membedakan antara anggota barisan dengan rakyat atau pejuang yang lain karena memiliki wajah dan logat yang sama. Barisan Tjakra merupakan kaki tangan Belanda yang bertugas mencari tahu strategi perang pejuang dan menjadi garda terdepan saat melakukan perlawanan dengan rakyat Bangkalan. Peperangan antara rakyat Bangkalan dan tentara Belanda terjadi diberbagai wilayah Bangkalan, segala upaya dilakukan rakyat Bangkalan untuk mempertahankan kemerdekaan agar tidak dijajah kembali oleh Belanda salah satunya melakukan serangan umum besar-besaran tanggal 16 Agustus 1947 yang menewaskan banyak korban baik dari pihak pejuang ataupun Belanda. Usaha Belanda untuk menguasai Madura membutuhkan waktu selama kurang lebih 4 bulan sampai pada tanggal 25 Nopember 1947 perjuangan para pejuang Madura melawan Belanda berakhir. Dari hasil penelitian tersebut masyarakat bisa mengerti akan pentingnya semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak mudah karena membutuhkan keberanian, pengorbanan dan rasa nasionalisme.Kata Kunci: Perjuangan rakyat Bangkalan, Barisan Tjakra Madura, Agresi Militer Belanda I
PERKEBUNAN TEBU DI MADIUN MASA BELANDA TAHUN 1900-1930 RETNO WULAN, DYAH; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan perkebunan tebu yang ada di Madiun pada tahun 1900-1930 memang menarik untuk diteliti dan dipelajari secara mendalam. Pada awal abad ke-20, Madiun berperan dalam menjadikan Hindia Belanda sebagai penghasil gula terbaik dan terbesar di dunia mengalahkan Kuba, Suriname, dan Filiphina. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi sekarang yang harus mengimpor gula dari luar negeri. Pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor gula karena pabrik gula dalam negeri belum mampu memenuhi suplai kebutuhan gula dalam negeri karena banyak pabrik gula yang tua dan tidak mampu berproduksi secara efisien.Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimana kondisi perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930?, 2) Bagaimana dampak adanya perkebunan tebu terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Madiun pada tahun 1900-1930?, dan 3) Bagaimana dampak krisis ekonomi tahun 1930 terhadap perkebunan tebu dan industri gula di Madiun? Dengan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah mendeskripsikan perkembangan perkebunan tebu di Madiun dari tahun 1900 sampai 1930 dan dampak yang diakibatkan dari adanya perkebunan tebu di Madiun dari segi ekonomi, serta dampak adanya depresi ekonomi dunia yang melanda tahun 1930 terhadap produksi dan harga gula di Madiun. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, maka metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, yang meliputi 4 tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik adalah tahap dalam pencarian sumber fokus penelitian yang diperoleh dari koleksi arsip untuk sumber utama, buku-buku yang relevan untuk sumber sekunder, serta skripsi, jurnal, dan internet untuk sumber tersier yang dapat dijadikan data pendukung pada fokus penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930 dapat berkembang pesat di daerah Madiun karena memiliki kondisi geografi yang mendukung untuk tumbuh kembang tanaman tebu. Jenis tanah yang mendominasi daerah Madiun adalah tanah alluvial dan lathosol yang cocok untuk tanaman tebu. Selain itu, daerah Madiun termasuk dalam daerah iklim sedang yang memiliki curah hujan yang merata dan memiliki sumber air yang melimpah karena diapit oleh pegunungan serta dilewati oleh aliran Bengawan Madiun yang bermuara ke Bengawan Solo. Perkebunan tebu di Madiun mengalami perkembangan pesat, mulai dari pembangunan irigasi sampai modernisasi sarana prasarana. Perkebunan tebu di Madiun juga berdampak pada kondisi sosial yaitu dengan banyaknya tenaga kerja yang diserap hingga dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, serta dampak depresi ekonomi 1930 yang mengakibatkan harga gula menjadi turun dan menimbulkan konflik sosial, seperti pembakaran lahan, pemogokan kerja buruh, dan munculnya perbanditan. Bagi masyarakat yang2menyewakan lahannya untuk perkebunan tebu (petani sikep), mereka mendapatkan uang sewa dan prioritas menjadi pekerja perkebunan, namun uang sewa yang diterima kerap kali tidak cukup untuk membayar pajak ataupun memenuhi kebutuhan hidup.Kata Kunci : Perkebunan Tebu, Madiun, tahun 1900-1930
PERKEBUNAN TEBU DI MADIUN MASA BELANDA TAHUN 1900-1930 RETNO WULAN, DYAH; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan perkebunan tebu yang ada di Madiun pada tahun 1900-1930 memang menarik untuk diteliti dan dipelajari secara mendalam. Pada awal abad ke-20, Madiun berperan dalam menjadikan Hindia Belanda sebagai penghasil gula terbaik dan terbesar di dunia mengalahkan Kuba, Suriname, dan Filiphina. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi sekarang yang harus mengimpor gula dari luar negeri. Pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor gula karena pabrik gula dalam negeri belum mampu memenuhi suplai kebutuhan gula dalam negeri karena banyak pabrik gula yang tua dan tidak mampu berproduksi secara efisien.Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimana kondisi perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930?, 2) Bagaimana dampak adanya perkebunan tebu terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Madiun pada tahun 1900-1930?, dan 3) Bagaimana dampak krisis ekonomi tahun 1930 terhadap perkebunan tebu dan industri gula di Madiun? Dengan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah mendeskripsikan perkembangan perkebunan tebu di Madiun dari tahun 1900 sampai 1930 dan dampak yang diakibatkan dari adanya perkebunan tebu di Madiun dari segi ekonomi, serta dampak adanya depresi ekonomi dunia yang melanda tahun 1930 terhadap produksi dan harga gula di Madiun. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, maka metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, yang meliputi 4 tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik adalah tahap dalam pencarian sumber fokus penelitian yang diperoleh dari koleksi arsip untuk sumber utama, buku-buku yang relevan untuk sumber sekunder, serta skripsi, jurnal, dan internet untuk sumber tersier yang dapat dijadikan data pendukung pada fokus penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930 dapat berkembang pesat di daerah Madiun karena memiliki kondisi geografi yang mendukung untuk tumbuh kembang tanaman tebu. Jenis tanah yang mendominasi daerah Madiun adalah tanah alluvial dan lathosol yang cocok untuk tanaman tebu. Selain itu, daerah Madiun termasuk dalam daerah iklim sedang yang memiliki curah hujan yang merata dan memiliki sumber air yang melimpah karena diapit oleh pegunungan serta dilewati oleh aliran Bengawan Madiun yang bermuara ke Bengawan Solo. Perkebunan tebu di Madiun mengalami perkembangan pesat, mulai dari pembangunan irigasi sampai modernisasi sarana prasarana. Perkebunan tebu di Madiun juga berdampak pada kondisi sosial yaitu dengan banyaknya tenaga kerja yang diserap hingga dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, serta dampak depresi ekonomi 1930 yang mengakibatkan harga gula menjadi turun dan menimbulkan konflik sosial, seperti pembakaran lahan, pemogokan kerja buruh, dan munculnya perbanditan. Bagi masyarakat yang2menyewakan lahannya untuk perkebunan tebu (petani sikep), mereka mendapatkan uang sewa dan prioritas menjadi pekerja perkebunan, namun uang sewa yang diterima kerap kali tidak cukup untuk membayar pajak ataupun memenuhi kebutuhan hidup.Kata Kunci : Perkebunan Tebu, Madiun, tahun 1900-1930
PERKEBUNAN TEBU DI MADIUN MASA BELANDA TAHUN 1900-1930 RETNO WULAN, DYAH; TRILAKSANA, AGUS
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan perkebunan tebu yang ada di Madiun pada tahun 1900-1930 memang menarik untuk diteliti dan dipelajari secara mendalam. Pada awal abad ke-20, Madiun berperan dalam menjadikan Hindia Belanda sebagai penghasil gula terbaik dan terbesar di dunia mengalahkan Kuba, Suriname, dan Filiphina. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi sekarang yang harus mengimpor gula dari luar negeri. Pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor gula karena pabrik gula dalam negeri belum mampu memenuhi suplai kebutuhan gula dalam negeri karena banyak pabrik gula yang tua dan tidak mampu berproduksi secara efisien.Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimana kondisi perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930?, 2) Bagaimana dampak adanya perkebunan tebu terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Madiun pada tahun 1900-1930?, dan 3) Bagaimana dampak krisis ekonomi tahun 1930 terhadap perkebunan tebu dan industri gula di Madiun? Dengan tujuan dari penulisan skripsi ini adalah mendeskripsikan perkembangan perkebunan tebu di Madiun dari tahun 1900 sampai 1930 dan dampak yang diakibatkan dari adanya perkebunan tebu di Madiun dari segi ekonomi, serta dampak adanya depresi ekonomi dunia yang melanda tahun 1930 terhadap produksi dan harga gula di Madiun. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, maka metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah, yang meliputi 4 tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahap heuristik adalah tahap dalam pencarian sumber fokus penelitian yang diperoleh dari koleksi arsip untuk sumber utama, buku-buku yang relevan untuk sumber sekunder, serta skripsi, jurnal, dan internet untuk sumber tersier yang dapat dijadikan data pendukung pada fokus penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan tebu di Madiun pada tahun 1900-1930 dapat berkembang pesat di daerah Madiun karena memiliki kondisi geografi yang mendukung untuk tumbuh kembang tanaman tebu. Jenis tanah yang mendominasi daerah Madiun adalah tanah alluvial dan lathosol yang cocok untuk tanaman tebu. Selain itu, daerah Madiun termasuk dalam daerah iklim sedang yang memiliki curah hujan yang merata dan memiliki sumber air yang melimpah karena diapit oleh pegunungan serta dilewati oleh aliran Bengawan Madiun yang bermuara ke Bengawan Solo. Perkebunan tebu di Madiun mengalami perkembangan pesat, mulai dari pembangunan irigasi sampai modernisasi sarana prasarana. Perkebunan tebu di Madiun juga berdampak pada kondisi sosial yaitu dengan banyaknya tenaga kerja yang diserap hingga dikenalnya uang sebagai alat pembayaran, serta dampak depresi ekonomi 1930 yang mengakibatkan harga gula menjadi turun dan menimbulkan konflik sosial, seperti pembakaran lahan, pemogokan kerja buruh, dan munculnya perbanditan. Bagi masyarakat yang2menyewakan lahannya untuk perkebunan tebu (petani sikep), mereka mendapatkan uang sewa dan prioritas menjadi pekerja perkebunan, namun uang sewa yang diterima kerap kali tidak cukup untuk membayar pajak ataupun memenuhi kebutuhan hidup.Kata Kunci : Perkebunan Tebu, Madiun, tahun 1900-1930
KEDAULATAN RAKYAT TAHUN 1974 – 1994 MADELEINE RUBBA, RUTH; LIANA, CORRY
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembredelan pers dilakukan secara masif pasca tragedi MALARI 1974. Begitu banyak surat kabar yang berhasil di bredel pada Orde Baru, namun lain halnya dengan surat kabar milik Yogyakarta yaitu Kedaulatan Rakyat yang berhasil melewati Orde Baru yang begitu represif serta pembredelan di tahun 1974 hingga 1994. Kedaulatan Rakyat tentu memiliki sebuah upaya agar terhindar dari pembredelan Orde baru serta berhasil melewati Orde Baru yang begitu mengekang pers khususnya surat kabar. Kedaulatan Rakyat mengambil langkah yang hati - hati serta selalu waspada agar tidak terbawa arus kritik terhadap pemerintah yang begitu tajam yang terjadi pada saat itu. Pada prosesnya Kedaulatan Rakyat ikut terlibat aktif dalam melakukan kritik terhadap kebijakan - kebijakan pemerintah maupun kondisi politik pada masa tersebut namun tetap dilakukan dengan prinsip meniti buih, ngono yo ngono, ning ojo ngono dan mili ning ora melu keli.Kata Kunci: Kedaulatan Rakyat, Pembredelan
PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DESA GONDOSULI KECAMATAN GONDANG TULUNGAGUNG 2013-2017 DIO MAULANA, ANDRE; , ARTONO
Avatara Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenjangan kawasan perkotaan dan perdesaan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meminimalisir proses urbanisasi. Pengembangan kawasan minapolitan merupakan upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan nelayan dan meningkatkan konsumsi perikanan nasional. Berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.35/kempen-kp/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan di Desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung.Penelitian ini mengambil rumusan masalah tentang (1) Arah pengembangan kawasan minapolitan di desa Gondosuli Kecamatan Gondang Tulungagung? (2) Dampak terhadap kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Gonsosuli?. Penulis mengambil rentang waktu tahun 2013-2017 sesuai program pemerintah berlangsung selama 5 tahun.Hasil penelitian ini menjelaskan arah pengembangan minapolitan di desa Gondosuli mendapat dukungan pemerintah daerah dalam bentuk investasi, kredit, pengadaan fasilitas ?cold-storage were housing serta penelitian dalam bentuk penyuluhan maupun were housing. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung sebagai leading sector melaksanakan berbagai kegiatan seperti : pembangunan gedung pertemuan kelompok, bantuan alat pencetak pakan, pembangunan jalan, Sertifikasi Hak Atas Tanah Pembudidaya Ikan (Sehatkan).Pengembangan kawasan minapolitan memberikan dampak sosial budaya dan perekonomian bagi masyarakat desa Gondosuli. Dampak sosial budaya dari pengembangan kawasan minapolitan membuat hubungan silaturahmi semakin dekat dengan terbentuknya kelompok pembudidaya. Pagelaran kesenian wayang, jaranan dan lomba pemancingan gratis merupakan bentuk rasa syukur dari hasil budidaya. Dibidang ekonomi budidaya perikanan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.Kata kunci: Minapolitan, Gondosuli, Sosial Budaya dan Ekonomi.