cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
APRON
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 12 (2018)" : 15 Documents clear
SRUKTUR LAKON SAYEMBORO SODO LANANG DALAM PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG MALANG DI PADEPOKAN ASMOROBANGUN MALLA HAYATI, NUNUN
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui dan mendeskripsikan struktur lakon dalam pertunjukan ?Sayemboro Sodo Lanang? yang dipentaskan oleh kelompok seniman wayang topeng Malang di padepokan Asmorobangun. Sebagai salah satu pertunjukan tradisional, wayang topeng Malang selalu dipentaskan dengan cara tidak menggunakan naskah tertulis, melainkan secara lisan dan mengandalkan kemampuan ingatan dari seorang Dalang. Analisis struktur lakon secara otomatis mendorong peneliti melakukan transkip naskah lakon, diharapkan mampu memperjelas pemahaman tentang lakon wayang Topeng.Rumusan masalah pertunjukan ?Sayemboro Sodo Lanang? ialah bagaimana struktur lakon tersebut. Untuk dapat menganalisis permasalahan tersebut maka diperlukan adanya metode atau suatu cara yang nantinya diharapkan bisa memberikan hasil yang lebih baik. Pada ?Struktur Lakon Sayemboro Sodo Lanang? metode yang digunakan merupakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Dalam metode penelitian kualitatif tersebut maka didapat data-data yang sifatnya deskriptif. Data-data tersebut dikumpulkan dengan beberapa cara yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka.Hasil dari pencapaian penelitian ini adalah mengenai tema, alur, dan penokohan. Di lihat dari pertunjukannya, lakon ?Sayemboro Sodo Lanang? mengandung unsur tema kepemimpinan atau nilai-nilai leluhur. Alur lakon ini memiliki alur linier, alur tersebut dapat dilihat dari urutan-urutan adegan dan cerita yang ditampilkan dalam lakon yang dimulai dari tahap eksposisi, komplikasi, klimaks dan resolusi. Untuk penokohan lakon ini mempunyai tiga jenis yang meliputi tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonis.Kata kunci: Struktur lakon, Wayang Topeng Malang, Sayemboro Sodo lanang.
KONTRIBUSI PELEM FESTIVAL TERHADAP MASYARAKAT DESA PELEM KECAMATAN PRINGKUKU KABUPATEN PACITAN DWI RAHAYU, OKTAVIA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelem Festival merupakan salah satu festival berskala internasional yang diselenggarakan oleh SACPA (Sampang Agung Center for Performing Art) yang bertempat di Desa Pelem yaitu desa terpencil berada di ujung barat Kabupaten Pacitan. Festival tersebut pertama kali diselenggarakan pada tahun 2016 dan setelah 2 tahun dapat terselenggara lagi di tahun 2018. Pelem Festival dalam penyelenggaraannya dipimpin oleh seorang Direktur yaitu Agung Gunawan. Agung menggagas Pelem Festival bertujuan untuk membuka jaringan yang lebih luas dan sebagai ruang silaturahmi antar seniman dalam negeri maupun luar negeri juga sebagai ruang silaturahmi bagi masyarakat Desa Pelem. Pelem Festival menarik untuk diteliti karena merupakan festival berskala internasional, yang ternyata banyak peminatnya baik kalangan para seniman pendukung maupun masyarakat penonton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi menggunakan pendekatan partisipan observer yaitu pengamatan terlibat. Penyelenggaraan Pelem Festival memiliki kontribusi terhadap masyarakat yaitu, bagi seniman, bagi penonton, dan bagi masyarakat Desa Pelem itu sendiri. Salah satu kontribusinya adalah masyarakat Desa Pelem dapat mempelajari bahasa asing secara tidak langsung. Masyarakat Desa Pelem memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi dengan seniman luar negeri tetapi masyarakat terus melakukan komunikasi dengan bahasa tubuh yang mudah dimengerti. Melalui bahasa tubuh, perlahan Masyarakat Desa Pelem juga mempelajari bahasa Inggris yang diucapkan para seniman luar negeri setelah memahami maksud dari bahasa tubuh masyarakat setempat saat berkomunikasi. Kata kunci: Pelem Festival, Kontribusi, Masyarakat
ANALISA SLOMPRET DALAM MUSIK TARI JARANAN TURONGGO YAKSO PUJI PRASETYO, HENDRA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaranan Turonggo Yakso merupakan genre pertunjukan tari yang hidup di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Keberadaan Jaranan Turonggo Yakso pada awalnya merupakan seni ritual kemudian berkembang menjadi pertunjukan populer yang masih mampu bertahan di tengah arus globalisasi saat ini. Pada setiap pertunjukan Jaranan Turonggo Yakso selalu diiringi menggunakan alat musik gamelan yang sederhana, yaitu slompret, kendang, kethuk, bonang 2 (ro) dan 6 (nem), angklung, dan gong. Secara auditif penampilan slompret sebagai instrumen musik yang paling menonjol dan mendominasi karakter musik tari Jaranan Turonggo Yakso.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, (1) bagaimana keberadaan instrumen slompret dalam perspektif ensambel musik Tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek, (2) bagaimana struktur dan teknik penyajian slompret dalam ensambel musik Tari Jaranan Turonggo Yakso? Tujuan penelitian adalah, (1) untuk mengetahui keberadaan instrumen slompret dalam perpektif ensambel musik tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek, (2) untuk mendeskripsikan struktur dan teknik penyajian slompret dalam Tari Jaranan Turonggo Yakso. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, pengamatan, dan wawancara, yang dengan dilengkapi pencatatan.Hasil penelitian menunjukan bahwa, musik tari Jaranan Turonggo Yakso merupakan elemen pertunjukan penting yang berfungsi sebagai pendukung suasana dan karakter gerak tari. Keberadaan instrumen slompret merupakan identitas utama dalam pertunjukan Tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek. Secara musikal, keberadaan slompret dalam ensambel musik tari berfungsi sebagai melodi yang utama atau pokok, sedangkan secara struktural penampilan slompret selalu berperan sebagai pembuka gendhing, melodi pokok, dan juga sebagai ?isen-isen?, hingga penutup. Oleh karena keberadaan dan peranannya sangat mendominasi jalannya pertunjukan, maka dapat dikatakan bahwa slompret merupakan identitas utama musik Tari Jaranan Turonggo Yakso di Kabupaten Trenggalek.Kata kunci: slompret, identitas, musik tari, Jaranan Turonggo Yakso.
KARAKTERISTIK TARI BRANYA’ RAMPAK PRAPATAN DALAM PERTUNJUKAN TOPÈNG DHÂLÂNG “RUKUN PERAWAS” DESA SLOPENG RIZKIYAH, KHOZINATUR
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana asal-usul Tari Branya? Rampak Prapatan, dan bagaimana karakteristik Tari Branya? Rampak Prapatan. Penelitian ini dilakukan di Desa Slopeng Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep terhadap objek penelitian, yaitu Tari Branya? Rampak Prapatan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan berbagai cara, meliputi: studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi.Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Tari Branya? Rampak Prapatan merupakan tari gubahan baru yang diciptakan oleh seniman kelompok ?Rukun Perawas? bersama dengan seniman tari bernama Taufickurrahman pada tahun 2002. Tari Branya? Rampak Prapatan ditampilkan sebagai tari pembuka dalam pertunjukan Topèng Dhâlâng kelompok ?Rukun Perawas?, serta sebagai taria lepas yang tidak terikat dengan pertunjukan, seperti tari penyambutan tamu, tari pengiring pengantin, dan sebagainya. Karakteristik Tari Branya? Rampak Prapatan terletak pada karakter gerak dan musik pengiringnya. Karakter gerak dalam Tari Branya? Rampak Prapatan terdapat tiga karakter, yaitu kasar, alosan, dan branya?/têngngaan. Masing-masing karakter gerak tersebut diiringi dengan tiga gending yang berbeda pula, meliputi gending Sawungrono, Miskalan, dan Nang-Nong. Busana yang digunakan juga merupakan busana khas topeng gaya Dasuk. Sedangkan karakter topeng yang digunakan memiliki warna dasar putih. Warna dasar putih, secara universil melambangkan satriya utama (masih muda), kesucian. Bentuk hidung ?pangotan, bentuk mata ?thelengan?, bentuk alis melengkung agak tebal, berkumis tipis, bentuk mulut bibir setengah terbuka dan memakai godek.Kata kunci : Karakteristik Tari Branya? Rampak Prapatan
MAKNA SIMBOLIS TATA RIAS, TATA BUSANA DAN PROPERTI TARI JARANAN BUTO DI KABUPATEN BANYUWANGI KUSUMA FIRDAUS, HAVIVA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 12 (2018)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolis Tata Rias, Tata Busana dan Properti dalam Tari Jaranann Buto di Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) bentuk dan makna simbolis tata rias tari jaranan buto di Kabupaten Banyuwangi yakni makna simbolis dalam bentuk objek tata riasnya. Dalam bentuk dan makna simbolisnya ditemukan bahwa tata rias Jaranan Buto meliputi bentuk alis, bentuk mata dan bentuk hidung yang memiliki 3 warna putih, merah dan hitam. 2) bentuk dan makna simbolis tata busana tari jaranan buto di Kabupaten Banyuwangi yakni makna simbolis dalam bentuk objek busananya. Dalam bentuk dan makna simbolisnya ditemukan bahwa tata busana Jaranan Buto meliputi bentuk busana atas, busana badan dan busana bawah yang memiliki 3 warna merah, kuning dan hitam. 3) bentuk dan makna simbolis properti tari jaranan buto di Kabupaten Banyuwangi yakni makna simbolis dalam bentuk objek propertnya. Dalam bentuk dan makna simbolisnya ditemukan bahwa properti Jaranan Buto meliputi jaran berkepala buto yang memiliki 3 karakter yaitu Prenges, Teleng dan Gantengan, Barongan berkepala buto, Celeng, dan Pecut sebagai pusaka. Bentuk dan makna ini akan memberi makna ketika Jaranan Buto melakukan sebuah pertunjukkannuya. Kata kunci: Bentuk, Makna, Simbolis

Page 2 of 2 | Total Record : 15