cover
Contact Name
AYU PUSPITASARI
Contact Email
ayu.puspitasari@ekonomi.untan.ac.id
Phone
+6281584248678
Journal Mail Official
ayu.puspitasari@ekonomi.untan.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi Pontianak 78124, West Kalimantan, Indonesia
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)
ISSN : -     EISSN : 30635322     DOI : -
Core Subject :
Jurnal KIAFE (e-ISSN 3063-5322) is a peer-reviewed, open-access scholarly journal published by the Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura. The journal was first published in January 2012 and initially served as a platform for disseminating scientific articles written by accounting students of the Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura. During its early publication period, the journal was issued four times a year, in January, March, July, and October. In 2024, Jurnal KIAFE underwent editorial and management restructuring to strengthen its journal governance, peer-review process, publication standards, and scholarly quality. Since 2025, Jurnal KIAFE has been published three times a year, in April, August, and December. The journal publishes original research articles, conceptual papers, research-based case studies, and scholarly review articles that address significant developments and issues in accounting within Indonesian and international contexts. The journal covers financial accounting, management accounting, public sector accounting, sharia accounting, auditing and assurance, taxation, accounting information systems and digital accounting, social and environmental accounting, suuntustainability accounting, and accounting education. All submitted manuscripts undergo an initial editorial screening and a double-anonymous peer-review process before publication.
Arjuna Subject : -
Articles 1,926 Documents
INFLUENCE WORK DISCIPLINE ON EMPLOYEE PERFORMANCE AT PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA PONTIANAK B11108081, Tri Febriantoro B11108081 trio
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14104

Abstract

ABSTRACT Work discipline can be seen as something big benefits , good for the organization and for the employee . For the organization the discipline will guarantee the maintenance of order and performance of duties , and obtain the optimal results. While for the employee will get work environment that please them and will increase their passion to do their job . Therefore the employee get to do the job with passion and full awareness and can develop their mind and energy as much as they can to reach the goal of the organization or the company . Employee performance one of the success indicator operational a company to reach a goal . Motive from this research is to know influence factor "“ factor work discipline at employee performance on PT . DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak . In this research use by primary data that obtained in the questionnaire , and then analyze the data with SPSS program version 16.0 . From the research that has been done that goal and the ability factor is influence performance work , fringe benefits factor is not influence to the performance work , justice factor is not influence to the performance work , decisive factor is not influence to the performance work and human relation factor is not influence to the performance work . Key Word : Goal and The Ability Factor , Fringe Benefits Factor , Justice Factor , Decisive Factor , Human Relation Factor BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam perkembangan sumber daya manusia yang modern, maka menjadi tugas manajemen untuk mempelajari dan mengembangkan berbagai upaya-upaya agar diintegrasikan secara efektif ke dalam organisasi yang dipimpinnya. Pengawasan terhadap aparatur negara menuju pada administrasi yang sempurna sangat tergantung pada kualitas dan profesionalisme karyawan negeri itu sendiri. Selain dari profesionalisme yang harus dimiliki, hal-hal yang lebih hakiki adalah bagaimana mengusahakan agar sumber daya manusia ( SDM ) memiliki citra yang baik, mempunyai jati diri, dan mempunyai persepsi atau visi yang sama terhadap pekerjaannya dimanapun dia berada. Selain itu kinerja juga dapat diartikan suatu hasil dan usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Untuk itu seorang atasan perlu mempunyai ukuran kinerja para karyawan, sehingga tidak timbul suatu masalah. Informasi tentang kinerja karyawan juga diperlukan bila atasan ingin mengubah sistem yang ada.Faktor penyebab ini tergantung orangnya sendiri dan lingkungan kerjanya. Tidak sesuainya kinerja karyawan dengan kecakapan itu bagi seorang karyawan mungkin karena tidak menyukai pimpinannya atau dapat juga karena kekurangan energi dan lain sebagainya. Untuk mengetahui perkembangan jumlah karyawan yang ada pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah ini. Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak Tahun 2010 "“ 2012 1.2 Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang penelitian, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah : Bagaimana pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. 1.4 Kegunaan Penelitian Bagi penulis Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti serta merupakan salah satu cara untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura khususnya Jurusan Manajemen. Bagi instansi Hasil penelitian ini merupakan bahan masukan bagi Instansi atau PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak, terutama unsur pimpinan yang terkait dengan disiplin kerja karyawan, sehingga disiplin kerja yang baik akan mendorong semangat dan kegairahan kerja yang baik, dan pada akhirnya akan menghasilkan kinerja karyawan dan produktifitas kerja yang baik pula. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 1) Pengertian Disiplin Kerja Kedisiplinan merupakan unsur yang sangat berperan penting dalam manajemen sumber daya manusia yang dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya suatu organisasi atau perusahaan. Tanpa adanya disiplin kerja yang baik maka tujuan dari organisasi akan terhambat. Maka dari itu disiplin kerja merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan pihak organisasi. Berikut pengertian disiplin kerja menurut Hasibuan (2002:193), yang dimaksud dengan kedisiplinan yang baik adalah "Kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan dan norma-norma sosial yang berlaku. Kesadaran adalah sikap seseorang secara sukarela menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Jadi dia akan mematuhi/mengerjakan semua tugasnya dengan baik, bukan paksaan. Kesediaan adalah suatu sikap tingkah laku, dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan peraturan perusahaan baik yang tertulis maupun tidak tertulis". Menurut Edy Sutrisno (2009 : 93), "Disiplin kerja merupakan suatu sikap atau tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik tertulis maupun tidak tertulis". Menurut Teguh dan Rosidah (2003:236), "Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan dan prosedur". Dari pernyataan yang telah dikemukakan diatas bahwa, semakin tinggi disiplin seorang karyawan maka akan mempengaruhi tingkat dan kualitas kerjanya. Untuk itu perhatian terhadap disiplin kerja harus sangat dan perlu diperhatikan dengan seksama. Dengan disiplin yang tinggi akan mempengaruhi mutu dan kualitas pekerjaan pada diri seorang karyawan, untuk itu pemimpin dituntut untuk semaksimal mungkin menanamkan rasa disiplin yang tinggi pada semua karyawannya. 2) Jenis-Jenis Disiplin Kerja Setiap Instansi masing-masing menerapkan disiplin kerja yang berbeda-beda didasarkan pada kebutuhan dan tindakan yang dilakukan pimpinan. Menurut Handoko ( 2001:208-211 ), terdapat 3 jenis disiplin, yaitu sebagai berikut: a. Disiplin Preventif Disiplin Preventif merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mendorong karyawan mentaati peraturan sehingga tidak terjadi pelanggaran. Tujuannya adalah agar karyawan berusaha untuk menegakkan disiplin diri ketimbang paksaan dari atasan. b. Disiplin Korektif Disiplin Korektif merupakan suatu tindakan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran yang lebih lanjut dan meluas. Tindakan Korektif biasanya diambil bertujuan agar:Perilaku pelanggar menjadi lebih baik, Mencegah karyawan lain melakukan tindakan serupa, dan Mempertahankan standard kelompok yang konsisten dan efektif. c. Disiplin Progresif Merupakan kebijakan yang berarti bahwa terhadap pengulangan pelanggaran akan dijatuhkan hukuman yang lebih berat tujuannya memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memperbaiki diri sebelum dikenai hukuman yang lebih serius. Dengan cara ini akan memberikan waktu bagi pimpinan untuk bekerja sama dengan karyawan guna memperbaiki kesalahan yang dilakukan. 3) Faktor-Faktor Yang Mendorong Disiplin Kerja Menurut Moenir (2002:182) terdapat tiga faktor yang mendorong atau berfungsi menumbuhkan dan memelihara disiplin, diantaranya: KesadaranKeteladananKetaatan Pengaturan Kesadaran jelas merupakan faktor utama sedangkan keteladanan dan ketaatan pengaturan merupakan faktor penyerta. Keteladanan dan ketaatan pengaturan tidak akan mampu tanpa dilandasi oleh kesadaran, sebaliknya jika ada kesadaran maka keteladanan dan ketaatan pengaturan akan memperkuat sikap disiplin seseorang. Tujuan dari disiplin yang sebenarnya adalah untuk menjuruskan atau mengarahkan perilaku pada realisasi yang harmonis dari tujuan-tujuan yang diinginkan. 4) Pengertian Kinerja Karyawan Kinerjakaryawan merupakan output atau hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang karyawan, atau dapat pula dikatakan sebagai tolak ukur keberhasilan dari pekerjaan yang telah dilakukan. Setiap organisasi baik itu instansi pemerintah ataupun swasta, selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja karyawan. Keberhasilan mengelola karyawan yang baik dan benar dapat dilihat dari kinerja karyawannya. Jika kinerja karyawan meningkat, maka instansi akan memperoleh citra yang baik. Dengan meningkatnya kinerja, maka pekerjaan akan lebih cepat diselesaikan dan kualitas pekerjaan yang dihasilkan juga lebih baik. Kinerjakaryawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi antara lain kuantitas, kualitas, ketepatan waktu, efektifitas biaya, pengawasan dan dampak antar pribadi (Mathis dan Jackson 2002:78-79). 5) Pengukuran kinerja karyawan Kinerja karyawan yang satu dengan kinerja karyawan yang lain tidak sama, karena masing-masing pegawai mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Tetapi secara umum dapat dikatakan kinerja karyawan dikatakan baik apabila dengan kinerja karyawannya tersebut dapat memenuhi apa yang diinginkan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk mencapai tujuan. Jadi dapat dikatakan bahwa kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang diperoleh dan diberikan karyawan kepada perusahaan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Menurut Bernadin dan Russel dalam Ruky (2002:15), mengajukan enam kriteria primer yang dapat digunakan unluk mengukur kinerja: 1) Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan. 2) Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan. 3) Timeliness, adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki, dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain. 4) Cost-effectiveness, adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya organisasi (manusia, keuangan, teknologi, material) dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi, atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumber daya. 5) Need for supervison, merupakan tingkat sejauh mana seorang pejabat dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan. 6) Interpersonal impact, merupakan tingkat sejauh mana karyawan/pegawai memelihara harga diri, nama baik dan kerja sama diantara rekan kerja dan bawahan. 6) Kajian Empiris. Penelitian yang dilakukan oleh Melisa (2007), yang berjudul "Analisis Disiplin Kerja Pegawai Pada Kantor Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa disisplin kerja pegawai pada Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Kalimantan Barat. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian survei pada Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dengan menggunakan 65 orang sebagai responden. Penelitian ini didukung teori manajemen sumber daya manusia dan uraian teoritis lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor "“ faktor yang ada berhubungan dalam pembentukan Kedisiplinan dari para pegawai Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat. 2.2 Kerangka Pemikiran Berikut ini adalah gambar kerangka pemikiran dari penelitian ini BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif dan kausal asosiatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari gejala tertentu sehingga ditemukan kejadian-kejadian relative, distribusi, dan hubungan-hubungan antara variabel sosiologis dengan tingkat eksplanasi berdasarkan penelitian kausal asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Umar, 2000:81). Jenis Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini, terdiri dari beberapa jenis diantaranya : Data Primer Data primer yaitu suatu data yang langsung penulis kumpulkan dari responden yang diperoleh dengan cara wawancara langsung kelapangan dengan cara menyebarkan kuesioner. Data Sekunder Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer maupun pihak lain (Umar, 2005:130). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui studi pustaka dengan mempelajari literatur dan penelitian pihak lain yang berkaitan dengan motivasi kerja dan kinerja karyawan dari instansi terkait. 3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel disiplin kerja dan kinerja karyawan.Disiplin kerja merupakan suatu sikap atau tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik tertulis maupun tidak tertulis", sedangkan kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun waktu tertentu. Untuk lebih jelasnya variabel, indikator, dan item pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2. Pengukuran variabel penelitian dengan menggunakan skala likert, dimana responden menyatakan tingkat setuju atau tidak setuju mengenai berbagai pernyataan.Skala yang diajukan terdiri atas 5 titik. Skala-skala ini nantinya dijumlahkan untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku berikut ini: (1) Sangat Tidak Setuju setara dengan Sangat Tidak Baik. (2) Tidak Setuju setara dengan Tidak Baik. (3) Kurang Setuju setara dengan Kurang Baik. (4) Setuju setara dengan Baik dan, (5) Sangat Setuju setara dengan Sangat Baik. 3.3. Sumber Data 1. Teknik Pengumpulan Dataa. Wawancara Wawancara yaitu mengajukan suatu pertanyaan kepada pimpinan dan karyawan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Kuesioner Kuesioner yaitu cara pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada atasan dan karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Studi Dokumenter Studi dokumenter yaitu data yang dikumpulkan dari laporan "“ laporan atau dokumen "“ dokumen yang perusahaan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. 2.Populasi dan Sampel Populasi Adapun pengertian dari populasi menurut Umar (2000 : 77) adalah "wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai karakteristik tertentu dan mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel". Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan yang berjumlah 83 orang (tidak termasuk kepala kantor) pada PT.DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Sampel Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 83 sampel (tidak termasuk kepala kantor). 3.3 Tahapan Penelitian Setelah semua data dan keterangan dari hasil penelitian dengan kuesioner akan dianalisis secara : Analisis kualitatif Analisis kualitatif yaitu dengan menganalisis hasil jawaban dari kuesioner yang kemudian diolah, dipersentasekan, dan disajikan dalam bentuk tabel, sehingga dapat ditarik kesimpulan. Analisis kuantitatif Analisis kuantitatif adalah metode yang bertujuan untuk menganalisis ketergantungan/asosiasi variabel independent/bebas (X) terhadap variabel dependent/terikat (Y) dengan menggunakan regresi berganda, namun terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari : uji Validitas dan Uji Reliabilitas kemudian dilakukan uji Multikolinearitas, uji Heteroskedastisitas, uji Autokorelasi, dan Uji Normalitas. Model regresi berganda yang digunakan adalah Keterangan : Y= Kinerja A= Intersep atau Konstanta B1,B2,B3,B4,B5 =Koefisien Regresi X1 = Tujuan dan Kemampuan X2 = Balas Jasa X3 = Keadilan X4 = Ketegasan X5 = Hubungan Kemanusiaan E = Error Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan program SPSS versi 16.0, selanjutnya dari hasil regresi yang diperoleh, dilakukan pengambilan keputusan untuk menentukan apakah hipotesis diterima atau ditolak dengan cara : Uji Koefisien Regresi Secara Parsial(Uji t) dengan = 5% Hipotesis : Ho: Diduga Disiplin Kerja secara parsial tidak ada berpengaruh dengan kinerja karyawan. Ha:Diduga Disiplin Kerja secara parsial ada berpengaruh dengankinerja karyawan. Kriteria Pengujian: Ho diterima jika "“t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel. Ha ditolak jika "“t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel. Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F) dengan = 5% Hipotesis: Ho: Diduga tidak ada pengaruh antara Tujuan dan Kemampuan, Balas Jasa, Keadilan, Ketegasan, Hubungan Kemanusiaansecara simultan terhadap kinerja karyawan. Ha: Diduga ada pengaruh yang signifikan antara Tujuan dan Kemampuan, Balas Jasa, Keadilan, Ketegasan, Hubungan Kemanusiaan secara simultan terhadap kinerja karyawan. Kriteria Pengujian : Ho diterima bila F hitung ≤ F tabel. Ha ditolak bila F hitung > F tabel. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, diketahui bahwa yang menjadi objek penelitian dalam penulisan ini adalah karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Dari kuesioner yang telah disebarkan kepada 83 responden (karyawan), dapat diperoleh informasi yang diperlukan untuk analisis, diantaranya karakteristik responden mengenai: 1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Adapun yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak sebanyak 83karyawan. Berikut ini gambaran responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1. Dari Tabel 4.1 menunjukan bahwa sebagian besar responden adalah laki-laki sebanyak 89.16%(74 orang) sedangkan perempuan sebanyak 10.84% (9 orang) pada karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan tingkat displin dan kinerja laki-laki dan perempuan, karena pada karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianaktidakada pembedaan antara laki-laki dan perempuan.Semuakaryawan mendapat perlakuan dan kesempatan kerja yang sama. 2. Karakteristik responden berdasarkan usia Usia responden dalam penelitian ini dibagi dalam 4 kelompok usia yaitu usia 20 tahun "“ 29 tahun, 30 tahun "“ 39 tahun, 40 tahun "“ 49 tahun dan usia ≥ 50 tahun. Berikut ini gambaran responden berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 4.2. Dari Tabel 4.2 terlihat dari keseluruhan jumlah responden, bahwa karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak yang berusia antara 20 tahun - 29 tahun yaitu sebanyak 51 orang atau sebesar 61.45%, yang berusia antara 30 tahun - 39 tahun sebanyak 21 orang atau 25.30%, yang berusia antara 40 tahun- 49 tahun sebanyak 6 orang atau sebesar 7.23%, dan berusia ≥ 50 tahun sebanyak 5 orang atau sebesar 6.02%. Jadi, mayoritas usia karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak berusia di atas 20-29 tahun. Karena pada golongan usia ini karyawan lebih banyak skill dan dikarenakan usia yang produktif didalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab mereka. 3. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan terakhir Tingkat pendidikan terakhir mempunyai peranan yang sangat penting dalam hubungannya dengan tingkat produktivitas seorang karyawan. Melalui pendidikan terakhir seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung dibentuk dan dikembangkan sikap mental, kepribadian, keterampilan dan kreativitasnya.Berikut ini gambaran responden berdasarkan tingkat pendidikan terakhir dapat dilihat pada Tabel 4.3 Dari Tabel 4.3 terlihat dari keseluruhan jumlah responden, bahwa karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak yang lulusan SD sebanyak 9 orang atau 10.84%, SMP sebanyak 16 orang atau sebesar 19.28%, SMA sebanyak 52 orangatau 62.65%, S1 sebanyak 7 orang atau 7.23%. Jadi, mayoritas karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak lulusan SMA. D. Analisis Data 1. Uji Validitas. Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang diukur. Uji validitas sering digunakan untuk mengukur ketepatan suatu item dalam koesioner atau skala, apakah item-item pada kuesioner tersebut sudah tepat dalam mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas yang digunakan adalah uji validitas item. Pada tabel 4.4 menunjukkan hasil pengujian validitas, dimana dari hasil diatas dapat diketahui nilai korelasi antara skore disemua variabel dengan skore total. Nilai ini kemudian kita bandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikansi 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 83, maka didapat nilai r tabel sebesar 0.216. Dapat dilihat bahwa semua item memiliki nilai korelasi lebih dari 0.216, artinya untuk semua item dinyatakan valid. 2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang (Priyatno 2010:97-100). Berikut ini hasil pengujian reliabilitas terhadap semua variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.5. Dalam pengujian reliabilitas menggunakan batasan tertentu seperti 0.6. Menurut Sekaran (1992), reliabilitas kurang dari 0.6 adalah kurang baik. Hasil uji reliabilitas diatas menunjukkan bahwa nilai Cronbach"™s Alpha untuk semua variabel lebih dari 0.6, artinya semua variabel dinyatakan Reliabel. E. Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT.DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. 1. Uji Asumsi Klasik 1.1 Uji Multikolinearitas Multikolinearitas pada satu model dapat dilihat dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) pada model regresi tidak lebih dari 10 dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,1 maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolineariatas. Berikut ini adalah Tabel 4.17 hasil dari uji multikolinearitas dengan menggunakan software SPSS 17: Pada Tabel 4.17 menunjukkan hasil pengujian multikolinearitas, pada kolom VIF dapat diketahui bahwa nilai VIF untuk tujuan dan kemampuan sebesar 6.230, balas jasa sebesar 6.109, keadilan sebesar 2.053, ketegasan sebesar 1.141 dan hubungan kemanusiaan sebesar 1.967, karena nilai VIF kurang dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak ditemukan adanya masalah multikolinearitas. 1.2 Uji Linearitas Variabel dikatakanmempunyai hubungan yang linear bila signifikansi kurang dari 0.05.Berikut ini adalah Tabel 4.18 hasil dari uji linearitasdengan menggunakan software SPSS 17,0. Berdasarkan tabel 4.18 dapat diketahui bahwa variabel tujuan dan kemampuan (X1) terhadap kinerja (Y) bahwa tingkat signifikansi pada baris linearity sebesar 0.000. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel tujuan dan kemampuan (X1) dan kinerja (Y) memiliki hubungan yang linear. Berdasarkan tabel 4.19 dapat diketahui bahwa variabel balas jasa (X2) terhadap kinerja (Y) bahwa tingkat signifikansi pada baris linearity sebesar 0.000. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel tujuan dan kemampuan (X2) dan kinerja (Y) memiliki hubungan yang linear. Berdasarkan tabel 4.20 dapat diketahui bahwa variabel keadilan (X3) terhadap kinerja (Y) bahwa tingkat signifikansi pada baris linearity sebesar 0.067. Karena tingkat signifikansi lebih besar dari 0.05, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel tujuan dan kemampuan (X3) dan kinerja (Y) tidak memiliki hubungan yang linear. Berdasarkan tabel 4.21 dapat diketahui bahwa variabel ketegasan (X2) terhadap kinerja (Y) bahwa tingkat signifikansi pada baris linearity sebesar 0.03. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel tujuan dan kemampuan (X1) dan kinerja (Y) memiliki hubungan yang linear. Berdasarkan tabel 4.22 dapat diketahui bahwa variabel hubungan kemanusiaan (X5) terhadap kinerja (Y) bahwa tingkat signifikansi pada baris linearity sebesar 0.154. Karena tingkat signifikansi lebih besar dari 0.05, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel tujuan dan kemampuan (X1) dan kinerja (Y) tidak memiliki hubungan yang linear. 1.3 UjiHeteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana terjadi ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Pada pembahasan ini akan dilakukan Uji Heteroskedastisitas dengan menggunakan Uji Spearman"™s rho, yaitu mengkorelasikan nilai residual (Unstandardized residual) dengan masing-masing variabel independen. Jika signifikansi korelasi kurang dari 0.05 maka pada model regresi terjadi masalah Heteroskedastisitas (Priyatno 2010:83-86). Berikut ini adalah Tabel 4.23 hasil dari uji heteroskedastisitas dengan menggunakan software SPSS 17,00. Pada Tabel 4.23 diatas menunjukkan hasil pengujian Heteroskedastisitas, pada kolom Unstandardized Residual dapat dilihat bahwa nilai signifikansi Sig.(2-tailed)) masing- masing variabel independen, dapat diketahui korelasi antara tujuan dan kemampuan dengan Unstandardized Residual menghasilkan nilai signifikansi 0.614 , korelasi antara Balas jasa dengan Unstandardized Residual menghasilkan nilai signifikansi 0.443, Keadilan dengan Unstandardized Residual menghasilkan nilai signifikansi 0,999, Ketegasan dengan Unstandardized Residual menghasilkan nilai signifikansi 0,599, Hubungan kemanusiaan dengan Unstandardized Residual menghasilkan nilai signifikansi 0,888. Karena nilai signifikansi korelasi lebih dari 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak ditemukan adanya masalah heteroskedastisitas. 1.4 Uji Normalitas. Normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi variable pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi datanya normal atau mendekati normal. Berikut ini adalah Tabel 4.24 hasil dari uji normalitas dengan menggunakan software SPSS 17.00. Dari output hasil uji di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi dari variabel kinerja adalah sebesar 0,030, tujuan dan kemampuan sebesar 0,010, balas jasa sebesar 0,051, keadilan sebesar 0,002, ketegasan sebesar 0,048, hubungan kemanusiaan sebesar 0,000. Karena signifikansi untuk semua variabel kurang dari 0,05 dapat disimpulkan bahwa populasi data semua variabel belum berdistribusi normal. Untuk mengubah nilai signifikansi agar berdistribusi normal maka penulis melakukan uji normalitas dengan menggunakan residual. Hasil dari uji normalitas data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.25 di bawah ini. a. Test distribution is Normal. Sumber: Data olahan SPSS (2014). Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa setelah dilakukan residual maka untuk hasil yang didapat menjadi normal atau nilai signifikansinya lebih dari 0,05. 2. Uji Regresi Linier Berganda Berikut ini hasil pengujian regresi linear berganda terhadap semua variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.26 Y = a + b1 .X1 + b2.X2 + b3.X3 + b4.X4 + b5.X5 Y = 43.373 + (2.055).X1 + (-0.839).X2 + (-3.675).X3 + (0.567).X4 + (-3.973).X5 Y = 43.373 + 2.055X1 - 0.839X2 - 3.675X3 + 0.567X4 - 3.973X5 Keterangan : Y = Kinerja a = Konstanta b1,b2 = Koefisien Regresi X1 = Tujuan dan Kemampuan X2 = Balas Jasa X3 = Keadilan X4 = Ketegasan X5 = Hubungan Kemanusiaan 3. Pengujian Hipotesis 3.1 Uji Statistik t (Parsial) Digunakan untuk menguji koefisiean regresi secara individual. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah secara parsial masing- masing variabel bebas mempunyai pengaruh signifikansi atau tidak terhadap variabel terikat. Berdasarkan hasil pengolahan data dari Tabel 4.26, maka dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Tujuan dan Kemampuan (X1) a.1 Menentukan Hipotesis. Ho : Secara parsial tidak ada pengaruh antara Tujuan dan Kemampuan (X1) dengan Kinerja. Ha : Secara parsial ada pengaruh antara Tujuan dan Kemampuan (X1) dengan Kinerja. 2 Menentukan Tingkat Signifikansi. Tingkat signifikansi menggunakan 0.05 (α = 5%). a.3 Menentukan nilai signifikan. Berdasarkan output / hasil diperoleh nilai signifikan sebesar 0.010 a.4 Kriteria Pengujian. Ho diterima jika nilai siqnifikan 0,05 Ha diterima jika nilai siqnifikan 0,05 a.5 Membandingkan Nilai Signifikan dengan Tingkat Signifikan nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.010 ≤ 0.05 ), maka Ha diterima. a.6 Kesimpulan. Oleh karena nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.010 ≤ 0.05 ), maka Ha diterima. Artinya secara parsial tujuan dan kemampuan (X1) berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Adapun dalam kondisi yang sebenarnya tujuan dan kemampuan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan karena antara tujuan dari perusahaan dan kemampuan karyawan yang seimbang. Antara lain SDM yang bekerja di perusahaan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA adalah orang yang mempunyai keahlian di bidangnya masing masing. b. Balas Jasa (X2) b.1 Menentukan Hipotesis. Ho : Secara parsial tidak ada pengaruh antara balas jasa (X2) dengan Kinerja. Ha : Secara parsial ada pengaruh antara balas jasa (X2) dengan Kinerja. b.2 Menentukan Tingkat Signifikansi. Tingkat signifikansi menggunakan 0.05 (α = 5%). b.3 Menentukan nilai siqnifikan. Berdasarkan output / hasil diperoleh nilai siqnifikan sebesar 0.385 b.4 Kriteria Pengujian. Ho diterima jika nilai siqnifikan 0,05 Ha diterima jika nilai siqnifikan 0,05 b.5 Membandingkan Nilai Signifikan dengan Tingkat Signifikan nilai signifikan > tingkat signifikan ( 0.385 > 0.05 ), maka Ho diterima. b.6 Kesimpulan. Oleh karena nilai signifikan > tingkat signifikan ( 0.385 > 0.05 ), maka Ho diterima. Artinya secara parsial balas jasa (X2) tidak berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Adapun dalam kondisi yang sebenarnya balas jasa tidak berpengaruh terhadap kinerja karywan karena tidak adanya timbal balik dengan karyawan, seperti tidak adanya penghargaan yang diberikan kepada karyawan. c. Keadilan (X3) c.1 Menentukan Hipotesis. Ho : Secara parsial tidak ada pengaruh antara Keadilan (X3) dengan Kinerja. Ha : Secara parsial ada pengaruh antara Keadilan (X3) dengan Kinerja. c.2 Menentukan Tingkat Signifikansi. Tingkat signifikansi menggunakan 0.05 (α = 5%). c.3 Menentukan nilai siqnifikan. Berdasarkan output / hasil diperoleh nilai siqnifikan sebesar 0.134 c.4 Kriteria Pengujian. Ho diterima jika nilai siqnifikan 0,05 Ha diterima jika nilai siqnifikan 0,05 c.5 Membandingkan Nilai Signifikan dengan Tingkat Signifikan nilai signifikan > tingkat signifikan ( 0.538 > 0.05 ), maka Ho diterima. c.6 Kesimpulan. Oleh karena nilai signifikan > tingkat signifikan ( 0.538 > 0.05 ), maka Ho diterima. Artinya secara parsial keadilan (X3) tidak berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Adapun dalam kondisi yang sebenarnya keadilan tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan mungkin karena belum adanya keadilan yang tercipta di area pabrik. d. Ketegasan (X4) d.1 Menentukan Hipotesis. Ho : Secara parsial tidak ada pengaruh antara Ketegasan (X4) dengan Kinerja. Ha : Secara parsial ada pengaruh antara Ketegasan (X4) dengan Kinerja. d.2 Menentukan Tingkat Signifikansi. Tingkat signifikansi menggunakan 0.05 (α = 5%). d.3 Menentukan nilai siqnifikan. Berdasarkan output / hasil diperoleh nilai siqnifikan sebesar 0.073 d.4 Kriteria Pengujian. Ho diterima jika nilai siqnifikan 0,05 Ha diterima jika nilai siqnifikan 0,05 d.5 Membandingkan Nilai Signifikan dengan Tingkat Signifikan nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.073 0.05 ), maka Ha diterima. d.6 Kesimpulan. Oleh karena nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.073 0.05 ), maka Ho diterima. Artinya secara parsial Ketegasan (X4) berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Adapun dalam kondisi yang sebenarnya ketegasan tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan karena kurang tegasnya pimpinan terhadap aturan yang berlaku. e. Hubungan Kemanusiaan (X5) e.1 Menentukan Hipotesis. Ho : Secara parsial tidak ada pengaruh antara Hubungan Kemanusiaan (X5) dengan Kinerja. Ha : Secara parsial ada pengaruh antara Hubungan Kemanusiaan (X5) dengan Kinerja. e.2 Menentukan Tingkat Signifikansi. Tingkat signifikansi menggunakan 0.05 (α = 5%). e.3 Menentukan nilai siqnifikan. Berdasarkan output / hasil diperoleh nilai siqnifikan sebesar 0.878 e.4 Kriteria Pengujian. Ho diterima jika nilai siqnifikan 0,05 Ha diterima jika nilai siqnifikan 0,05 e.5 Membandingkan Nilai Signifikan dengan Tingkat Signifikan nilai signifikan > tingkat signifikan ( 0.878 > 0.05 ), maka Ho diterima. e.6 Kesimpulan. Oleh karena nilai signifikan > tingkat signifikan ( 0.878 > 0.05 ), maka Ho diterima. Artinya secara parsial Hubungan Kemanusiaan (X5) tidak berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Adapun dalam kondisi yang sebenarnya hubungan kemanusiaan tidak berpengaruh terhadap kinerja karywan karena belum terciptanya hubungan yang harmonis baik. 3.2 Uji Statistik F (Simultan). Uji statistik F dilakukan untuk megetahui apakah variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. hasil uji statistik F dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.27. Berdasarkan hasil pengolahan data dari Tabel 4.27, maka dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Merumuskan Hipotesis. Ho : Tidak ada pengaruh antara tujuan dan kemampuan, balas jasa, keadilan, ketegasan dan hubungan kemanusiaan terhadap Kinerja. Ha : Ada pengaruh antara tujuan dan kemampuan, balas jasa, keadilan, ketegasan dan hubungan kemanusiaan terhadap Kinerja b. Menentukan Tingkat Signifikansi. Tingkat signifikansi menggunakan 0.05 (α = 5%). c. Menentukan nilai siqnifikan. Berdasarkan tabel diperoleh F hitung sebesar 0.000 e. Kriteria Pengujian. Ho diterima jika nilai siqnifikan 0,05 Ha diterima jika nilai siqnifikan 0,05 f. Membandingkan Nilai Signifikan dengan Tingkat Signifikan nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.000 0.05 ), maka Ha diterima. g. Kesimpulan. Karena nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.000 0.05 ), maka Ha diterima, artinya tujuan dan kemampuan (X1), balas jasa (X2), keadilan (X3), ketegasan (X4), hubungan kemanusiaan (X5), secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang berkaitan dengan pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak, maka dapat ditarik kesimpulan : Berdasarkan pengujian secara parsial atau uji t, ditemukan bahwa nilai signifikan t ≤ tingkat signifikan (0,010 ≤ 0,005) artinya tujuan dan kemampuan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Berdasarkan pengujian secara parsial atau uji t, ditemukan bahwa nilai signifikan t > tingkat signifikan (0,385 > 0,005) artinya balas jasa tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Berdasarkan pengujian secara parsial atau uji t, ditemukan bahwa nilai siginifikan t > tingkat signifikan (0,538 > 0,005) artinya keadilan tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Berdasarkan pengujian secara parsial atau uji t, ditemukan bahwa nilai signifikan t > tingkat signifikan (0,073 > 0,005) artinya ketegasan berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Berdasarkan pengujian secara parsial atau uji t, ditemukan bahwa nilai signifikan t > tingkat signifikan (0,878 > 0,005) artinya hubungan kemanusiaan tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Berdasarkan pengujian secara simultan atau uji F, nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.000 0.05 ), maka Ha diterima, artinya tujuan dan kemampuan (X1), balas jasa (X2), keadilan (X3), ketegasan (X4), hubungan kemanusiaan (X5), secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Implikasi dan Rekomendasi Pengaruh Faktor Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak Kalimantan Barat Implikasi teoritis memberikan gambaran sebuah perbandingan mengenai rujukan-rujukan yang dipergunakan dalam penelitian ini. Perbandingan ini dapat ditunjukkan dari rujukan penelitian terdahulu dengan temuan penelitian yang saat ini di analisis. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang disiplin, dapat disimpulkan bahwa displin adalah ketaatan yang sifatnya impersonal, tidak memakai perasaan dan tidak memakai perhitungan pamrih atau kepentigan pribadi. Dari hasil penelitian yang dilakukan terbukti bahwa faktor tujuan dan kemampuan, ketegasan paling berpengaruh, ini dikarenakan pada PT.DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak lebih memperhitungkan kemampuan untuk mencapai tujuan mencapai hasil yang maksimal. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Melisa (2007), yang berjudul "Analisis Disiplin Kerja Pegawai Pada Kantor Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa disisplin kerja pegawai pada Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Kalimantan Barat. Sehubungan dengan dilakukannya penelitian ini, mengenai "Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak", maka dapat disampaikan rekomendasi atau saran sebagai berikut : Hasil penelitian ini menghasilkan analisis faktor tujuan dan kemampuan, berpengaruh signifikan dan balas jasa, hubungan kemanusiaan, keadilan faktor ketegasan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, walaupun faktor keadilan, balas jasa, dan hubungan kemanusiaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan diharapkan atasan untuk tetap memberikan arahan kepada seluruh karyawannya dengan cara memberikan wewenang dan tanggungjawab penuh dalam menangani pekerjaan yang menjadi beban tugasnya agar PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak kedepannya dapat berjalan sesuai dengan visi dan misinya. Perusahaan memberikan balas jasa seperti gaji ataupun tunjangan-tunjangan dan juga penghargaan lainnya yang sesuai dengan pekerjaan karyawan tersebut agar karyawan dapat meningkatkan disiplin kerjanya. Perusahaan memperlakukan secara adil semua karyawannya agar masing-masing karyawan merasa diperlakukan sama sehingga tidak ada kecemburuan antar karyawan. Perusahaan berlaku tegas kepada semua karyawan yang tidak disiplin dengan memberikan sanksi atau hukuman. Perusahaan harus memperhatikan hubungan kemanusiaan yang terjadi di dalam lingkungan perusahaan seperti hubungan antara pimpinan dan bawahan atupun sesama karyawan. ABSTRACT Work discipline can be seen as something big benefits , good for the organization and for the employee . For the organization the discipline will guarantee the maintenance of order and performance of duties , and obtain the optimal results. While for the employee will get work environment that please them and will increase their passion to do their job . Therefore the employee get to do the job with passion and full awareness and can develop their mind and energy as much as they can to reach the goal of the organization or the company . Employee performance one of the success indicator operational a company to reach a goal . Motive from this research is to know influence factor "“ factor work discipline at employee performance on PT . DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak . In this research use by primary data that obtained in the questionnaire , and then analyze the data with SPSS program version 16.0 . From the research that has been done that goal and the ability factor is influence performance work , fringe benefits factor is not influence to the performance work , justice factor is not influence to the performance work , decisive factor is not influence to the performance work and human relation factor is not influence to the performance work . Key Word : Goal and The Ability Factor , Fringe Benefits Factor , Justice Factor , Decisive Factor , Human Relation Factor BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam perkembangan sumber daya manusia yang modern, maka menjadi tugas manajemen untuk mempelajari dan mengembangkan berbagai upaya-upaya agar diintegrasikan secara efektif ke dalam organisasi yang dipimpinnya. Pengawasan terhadap aparatur negara menuju pada administrasi yang sempurna sangat tergantung pada kualitas dan profesionalisme karyawan negeri itu sendiri. Selain dari profesionalisme yang harus dimiliki, hal-hal yang lebih hakiki adalah bagaimana mengusahakan agar sumber daya manusia ( SDM ) memiliki citra yang baik, mempunyai jati diri, dan mempunyai persepsi atau visi yang sama terhadap pekerjaannya dimanapun dia berada. Selain itu kinerja juga dapat diartikan suatu hasil dan usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Untuk itu seorang atasan perlu mempunyai ukuran kinerja para karyawan, sehingga tidak timbul suatu masalah. Informasi tentang kinerja karyawan juga diperlukan bila atasan ingin mengubah sistem yang ada.Faktor penyebab ini tergantung orangnya sendiri dan lingkungan kerjanya. Tidak sesuainya kinerja karyawan dengan kecakapan itu bagi seorang karyawan mungkin karena tidak menyukai pimpinannya atau dapat juga karena kekurangan energi dan lain sebagainya. Untuk mengetahui perkembangan jumlah karyawan yang ada pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah ini. Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak Tahun 2010 "“ 2012 1.2 Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang penelitian, dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah : Bagaimana pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. 1.4 Kegunaan Penelitian Bagi penulis Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti serta merupakan salah satu cara untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura khususnya Jurusan Manajemen. Bagi instansi Hasil penelitian ini merupakan bahan masukan bagi Instansi atau PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak, terutama unsur pimpinan yang terkait dengan disiplin kerja karyawan, sehingga disiplin kerja yang baik akan mendorong semangat dan kegairahan kerja yang baik, dan pada akhirnya akan menghasilkan kinerja karyawan dan produktifitas kerja yang baik pula. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 1) Pengertian Disiplin Kerja Kedisiplinan merupakan unsur yang sangat berperan penting dalam manajemen sumber daya manusia yang dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya suatu organisasi atau perusahaan. Tanpa adanya disiplin kerja yang baik maka tujuan dari organisasi akan terhambat. Maka dari itu disiplin kerja merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan pihak organisasi. Berikut pengertian disiplin kerja menurut Hasibuan (2002:193), yang dimaksud dengan kedisiplinan yang baik adalah "Kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan dan norma-norma sosial yang berlaku. Kesadaran adalah sikap seseorang secara sukarela menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Jadi dia akan mematuhi/mengerjakan semua tugasnya dengan baik, bukan paksaan. Kesediaan adalah suatu sikap tingkah laku, dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan peraturan perusahaan baik yang tertulis maupun tidak tertulis". Menurut Edy Sutrisno (2009 : 93), "Disiplin kerja merupakan suatu sikap atau tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik tertulis maupun tidak tertulis". Menurut Teguh dan Rosidah (2003:236), "Disiplin adalah prosedur yang mengoreksi atau menghukum bawahan karena melanggar peraturan dan prosedur". Dari pernyataan yang telah dikemukakan diatas bahwa, semakin tinggi disiplin seorang karyawan maka akan mempengaruhi tingkat dan kualitas kerjanya. Untuk itu perhatian terhadap disiplin kerja harus sangat dan perlu diperhatikan dengan seksama. Dengan disiplin yang tinggi akan mempengaruhi mutu dan kualitas pekerjaan pada diri seorang karyawan, untuk itu pemimpin dituntut untuk semaksimal mungkin menanamkan rasa disiplin yang tinggi pada semua karyawannya. 2) Jenis-Jenis Disiplin Kerja Setiap Instansi masing-masing menerapkan disiplin kerja yang berbeda-beda didasarkan pada kebutuhan dan tindakan yang dilakukan pimpinan. Menurut Handoko ( 2001:208-211 ), terdapat 3 jenis disiplin, yaitu sebagai berikut: a. Disiplin Preventif Disiplin Preventif merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk mendorong karyawan mentaati peraturan sehingga tidak terjadi pelanggaran. Tujuannya adalah agar karyawan berusaha untuk menegakkan disiplin diri ketimbang paksaan dari atasan. b. Disiplin Korektif Disiplin Korektif merupakan suatu tindakan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran yang lebih lanjut dan meluas. Tindakan Korektif biasanya diambil bertujuan agar:Perilaku pelanggar menjadi lebih baik, Mencegah karyawan lain melakukan tindakan serupa, dan Mempertahankan standard kelompok yang konsisten dan efektif. c. Disiplin Progresif Merupakan kebijakan yang berarti bahwa terhadap pengulangan pelanggaran akan dijatuhkan hukuman yang lebih berat tujuannya memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memperbaiki diri sebelum dikenai hukuman yang lebih serius. Dengan cara ini akan memberikan waktu bagi pimpinan untuk bekerja sama dengan karyawan guna memperbaiki kesalahan yang dilakukan. 3) Faktor-Faktor Yang Mendorong Disiplin Kerja Menurut Moenir (2002:182) terdapat tiga faktor yang mendorong atau berfungsi menumbuhkan dan memelihara disiplin, diantaranya: KesadaranKeteladananKetaatan Pengaturan Kesadaran jelas merupakan faktor utama sedangkan keteladanan dan ketaatan pengaturan merupakan faktor penyerta. Keteladanan dan ketaatan pengaturan tidak akan mampu tanpa dilandasi oleh kesadaran, sebaliknya jika ada kesadaran maka keteladanan dan ketaatan pengaturan akan memperkuat sikap disiplin seseorang. Tujuan dari disiplin yang sebenarnya adalah untuk menjuruskan atau mengarahkan perilaku pada realisasi yang harmonis dari tujuan-tujuan yang diinginkan. 4) Pengertian Kinerja Karyawan Kinerjakaryawan merupakan output atau hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang karyawan, atau dapat pula dikatakan sebagai tolak ukur keberhasilan dari pekerjaan yang telah dilakukan. Setiap organisasi baik itu instansi pemerintah ataupun swasta, selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja karyawan. Keberhasilan mengelola karyawan yang baik dan benar dapat dilihat dari kinerja karyawannya. Jika kinerja karyawan meningkat, maka instansi akan memperoleh citra yang baik. Dengan meningkatnya kinerja, maka pekerjaan akan lebih cepat diselesaikan dan kualitas pekerjaan yang dihasilkan juga lebih baik. Kinerjakaryawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi antara lain kuantitas, kualitas, ketepatan waktu, efektifitas biaya, pengawasan dan dampak antar pribadi (Mathis dan Jackson 2002:78-79). 5) Pengukuran kinerja karyawan Kinerja karyawan yang satu dengan kinerja karyawan yang lain tidak sama, karena masing-masing pegawai mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Tetapi secara umum dapat dikatakan kinerja karyawan dikatakan baik apabila dengan kinerja karyawannya tersebut dapat memenuhi apa yang diinginkan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk mencapai tujuan. Jadi dapat dikatakan bahwa kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang diperoleh dan diberikan karyawan kepada perusahaan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Menurut Bernadin dan Russel dalam Ruky (2002:15), mengajukan enam kriteria primer yang dapat digunakan unluk mengukur kinerja: 1) Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan. 2) Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan. 3) Timeliness, adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki, dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain. 4) Cost-effectiveness, adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya organisasi (manusia, keuangan, teknologi, material) dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi, atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumber daya. 5) Need for supervison, merupakan tingkat sejauh mana seorang pejabat dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan. 6) Interpersonal impact, merupakan tingkat sejauh mana karyawan/pegawai memelihara harga diri, nama baik dan kerja sama diantara rekan kerja dan bawahan. 6) Kajian Empiris. Penelitian yang dilakukan oleh Melisa (2007), yang berjudul "Analisis Disiplin Kerja Pegawai Pada Kantor Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa disisplin kerja pegawai pada Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Kalimantan Barat. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian survei pada Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dengan menggunakan 65 orang sebagai responden. Penelitian ini didukung teori manajemen sumber daya manusia dan uraian teoritis lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor "“ faktor yang ada berhubungan dalam pembentukan Kedisiplinan dari para pegawai Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat. 2.2 Kerangka Pemikiran Berikut ini adalah gambar kerangka pemikiran dari penelitian ini BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif dan kausal asosiatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari gejala tertentu sehingga ditemukan kejadian-kejadian relative, distribusi, dan hubungan-hubungan antara variabel sosiologis dengan tingkat eksplanasi berdasarkan penelitian kausal asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Umar, 2000:81). Jenis Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini, terdiri dari beberapa jenis diantaranya : Data Primer Data primer yaitu suatu data yang langsung penulis kumpulkan dari responden yang diperoleh dengan cara wawancara langsung kelapangan dengan cara menyebarkan kuesioner. Data Sekunder Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer maupun pihak lain (Umar, 2005:130). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui studi pustaka dengan mempelajari literatur dan penelitian pihak lain yang berkaitan dengan motivasi kerja dan kinerja karyawan dari instansi terkait. 3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini adalah variabel disiplin kerja dan kinerja karyawan.Disiplin kerja merupakan suatu sikap atau tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik tertulis maupun tidak tertulis", sedangkan kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun waktu tertentu. Untuk lebih jelasnya variabel, indikator, dan item pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2. Pengukuran variabel penelitian dengan menggunakan skala likert, dimana responden menyatakan tingkat setuju atau tidak setuju mengenai berbagai pernyataan.Skala yang diajukan terdiri atas 5 titik. Skala-skala ini nantinya dijumlahkan untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku berikut ini: (1) Sangat Tidak Setuju setara dengan Sangat Tidak Baik. (2) Tidak Setuju setara dengan Tidak Baik. (3) Kurang Setuju setara dengan Kurang Baik. (4) Setuju setara dengan Baik dan, (5) Sangat Setuju setara dengan Sangat Baik. 3.3. Sumber Data 1. Teknik Pengumpulan Dataa. Wawancara Wawancara yaitu mengajukan suatu pertanyaan kepada pimpinan dan karyawan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Kuesioner Kuesioner yaitu cara pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada atasan dan karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Studi Dokumenter Studi dokumenter yaitu data yang dikumpulkan dari laporan "“ laporan atau dokumen "“ dokumen yang perusahaan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. 2.Populasi dan Sampel Populasi Adapun pengertian dari populasi menurut Umar (2000 : 77) adalah "wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai karakteristik tertentu dan mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel". Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan yang berjumlah 83 orang (tidak termasuk kepala kantor) pada PT.DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Sampel Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 83 sampel (tidak termasuk kepala kantor). 3.3 Tahapan Penelitian Setelah semua data dan keterangan dari hasil penelitian dengan kuesioner akan dianalisis secara : Analisis kualitatif Analisis kualitatif yaitu dengan menganalisis hasil jawaban dari kuesioner yang kemudian diolah, dipersentasekan, dan disajikan dalam bentuk tabel, sehingga dapat ditarik kesimpulan. Analisis kuantitatif Analisis kuantitatif adalah metode yang bertujuan untuk menganalisis ketergantungan/asosiasi variabel independent/bebas (X) terhadap variabel dependent/terikat (Y) dengan menggunakan regresi berganda, namun terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari : uji Validitas dan Uji Reliabilitas kemudian dilakukan uji Multikolinearitas, uji Heteroskedastisitas, uji Autokorelasi, dan Uji Normalitas. Model regresi berganda yang digunakan adalah Keterangan : Y= Kinerja A= Intersep atau Konstanta B1,B2,B3,B4,B5 =Koefisien Regresi X1 = Tujuan dan Kemampuan X2 = Balas Jasa X3 = Keadilan X4 = Ketegasan X5 = Hubungan Kemanusiaan E = Error Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan program SPSS versi 16.0, selanjutnya dari hasil regresi yang diperoleh, dilakukan pengambilan keputusan untuk menentukan apakah hipotesis diterima atau ditolak dengan cara : Uji Koefisien Regresi Secara Parsial(Uji t) dengan = 5% Hipotesis : Ho: Diduga Disiplin Kerja secara parsial tidak ada berpengaruh dengan kinerja karyawan. Ha:Diduga Disiplin Kerja secara parsial ada berpengaruh dengankinerja karyawan. Kriteria Pengujian: Ho diterima jika "“t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel. Ha ditolak jika "“t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel. Uji Koefisien Regresi Secara Simultan (Uji F) dengan = 5% Hipotesis: Ho: Diduga tidak ada pengaruh antara Tujuan dan Kemampuan, Balas Jasa, Keadilan, Ketegasan, Hubungan Kemanusiaansecara simultan terhadap kinerja karyawan. Ha: Diduga ada pengaruh yang signifikan antara Tujuan dan Kemampuan, Balas Jasa, Keadilan, Ketegasan, Hubungan Kemanusiaan secara simultan terhadap kinerja karyawan. Kriteria Pengujian : Ho diterima bila F hitung ≤ F tabel. Ha ditolak bila F hitung > F tabel. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, diketahui bahwa yang menjadi objek penelitian dalam penulisan ini adalah karyawan PT. DUTA PERTIWI NUSANTARA Pontianak. Dari kuesioner yang telah disebarkan kepada 83 responden (karyawan), dapat diperoleh informasi yang diperlukan u
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. ARYO BIMO PONTIANAK B11108189, Febry Azhari B11108189 fery
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14145

Abstract

Febry Azhari Abstrak Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi budaya organisasi dan kinerja karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak, Untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak. Bentuk penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan penelitian kausalitas dengan menggunakan metode survei. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara, dan. Populasi dalam penelitian ini adalah 73 orang karyawan, karena jumlah populasi kurang dari 100 maka penulis menggunakan penelitian jenis populasi dengan teknik sampling jenuh/ sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis linier sederhana untuk menganalisis pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Budaya Organisasi berpengaruh secara signifikan dengan kinerja karyawan PT. ARYO BIMO Pontianak. Hal ini ditunjukkan dari nilai signifikan tingkat signifikan (0.000 0.05), maka Ha diterima. Kata kunci : budaya organisasi, kinerja karyawan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Organisasi merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi satu sama lain, apabila salah satu dari sub sistem tersebut rusak, maka akan mempengaruhi sub-sub sistem yang lain. Sistem tersebut dapat berjalan dengan semestinya jika individu-individu yang ada di dalamnya berkewajiban mengaturnya, yang berarti selama anggota atau individunya masih suka dan melaksanakan tanggung jawab sebagaimana mestinya maka organisasi tersebut akan berjalan dengan baik. Manajemen sumber daya manusia merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas manusia, dengan memperbaiki sumber daya manusia, meningkatkan pula kinerja dan daya hasil organisasi, sehingga dapat mewujudkan pegawai yang memiliki disiplin dan kinerja yang tinggi sehingga diperlukan pula peran yang besar dari pimpinan organisasi. Dalam meningkatkan kinerja pegawai diperlukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan memperhatikan kebutuhan dari para pegawai, diantaranya adalah terbentuknya budaya organisasi yang baik dan terkoordinasi. Setiap individu selalu mempunyai sifat yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sifat tersebut dapat menjadi ciri khas bagi seseorang, sehingga kita dapat mengetahui bagaimana sifatnya. Sama halnya dengan manusia, organisasi juga mempunyai sifat-sifat tertentu. Melalui sifat-sifat tersebut kita juga dapat mengetahui bagaimana karakter dari organisasi tersebut. Sifat tersebut kita kenal dengan budaya organisasi atau organization culture. Budaya-budaya yang Dimiliki oleh setiap suku bangsa memiliki sistem nilai dan norma dalam mengatur masing-masing anggotanya dari suku bangsa tersebut maupun orang yang berasal dari suku lain, dengan demikian dapat dikatakan bahwa suatu organisasi juga memiliki budaya yang mengatur bagaimana anggota-anggotanya untuk bertindak. Budaya memberikan identitas bagi para anggota organisasi dan membangkitkan komitmen terhadap keyakinan dan nilai yang lebih besar dari dirinya sendiri. Meskipun ide-ide ini telah menjadi bagian budaya itu sendiri yang bisa datang di manapun organisasi itu berada. Suatu organisasi budaya berfungsi untuk menghubungkan para anggotanya sehingga mereka tahu bagaimana berinteraksi satu sama lain. Setiap individu yang tergabung di dalam sebuah organisasi memiliki budaya yang berbeda, disebabkan mereka memiliki latar belakang budaya yang berbeda, namun semua perbedaan itu akan dilebur menjadi satu di dalam sebuah budaya yaitu budaya organisasi, untuk menjadi sebuah kelompok yang bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi sebagaimana yang telah disepakati bersama sebelumnya, tetapi dalam proses tersebut tidak tertutup kemungkinan ada individu yang bisa menerima dan juga yang tidak bisa menerimanya, yang mungkin bertentangan dengan budaya yang dimilikinya. Kekuatan-kekuatan dalam lingkungan eksternal organisasi dapat mengisyaratkan kebutuhan perubahan budaya, misalnya dengan adanya persaingan yang makin tajam dalam suatu lingkungan instansi menuntut perubahan budaya organisasi untuk senantiasa mampu merespon keinginan masyarakat dengan lebih cepat. Di samping berasal dari lingkungan eksternal, kekuatan perubahan budaya juga bisa berasal dari dalam/internal, sebagai contoh jika kepala kantor menerapkan pendekatan-pendekatan baru untuk manajemen Suatu organisasi baik pemerintah maupun swasta dalam mencapai tujuan yang ditetapkan harus melalui sarana dalam bentuk organisasi yang digerakkan oleh sekelompok orang yang berperan aktif sebagai pelaku dalam mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan. Tercapainya tujuan organisasi hanya dimungkinkan karena upaya para individu yang terdapat pada organisasi tersebut. Dengan kata lain, kinerja individu berhubungan sejalan dengan kinerja organisasi. Pada organisasi pemerintaham, jika kinerja sumber daya aparatur pemerintah baik, maka kinerja institusi pemerintahan atau birokrasi akan baik juga. Kinerja sumber daya aparatur pemerintah akan baik bila mempunyai keahlian yang tinggi, bersedia bekerja karena digaji sesuai dengan perjanjian, mempunyai jaminan masa depan lebih baik. Gaji dan jaminan masa depan atau kesejahteraan merupakan hal yang dapat menciptakan motivasi seseorang utnuk bersedia melaksanakan kegiatan kerja dengan kinerja yang baik, maka akan berdampak pada kinerja yang baik pula. Permasalahan yang muncul seperti adanya kecenderungan karyawan merasa tidak senang dengan budaya yang terdapat di dalam organisasi tersebut yang terlihat dari kinerjanya sehari-hari. Adakalanya sang karyawan sering datang terlambat, suka menunda-nunda pekerjaan yang kemudian berimbas kepada timbulnya banyak keluhan dari pihak-pihak eksternal organisasi, misalnya keluhan dari pelanggan atau konsumen. Keluhan ini menimbulkan dampak negative terhadap perusahaan, apabila terus berlanjut, pelanggan yang telah lama bekerjasama akan merasa tidak puas, perilaku karyawan yang sering menunda pekerjaan seperti inilah yang dapat menggangu sistem yang telah lama di terapkan perusahaan. Menurut Mangkunegara (2001:67), difinisi kinerja pegawai sebagai berikut: "Kinerja pegawai adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya". Sedangkan menurut Bernadin dan Russel dalam Ruky (2002:15), mengajukan enam kriteria primer yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja pegawai antara lain : Quality, Quantity, Timeliness, Cost-effectiveness, Need for supervison, Interpersonal impact. Selain itu kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dan usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Untuk itu seorang atasan perlu mempunyai ukuran kinerja para pegawai, sehingga tidak timbul suatu masalah. Informasi tentang kinerja pegawai juga diperlukan bila atasan ingin mengubah sistem yang ada. Faktor penyebab ini tergantung orangnya sendiri dan lingkungan kerjanya. Tidak sesuainya kinerja pegawai dengan kecakapan itu bagi seorang pegawai mungkin karena tidak menyukai pimpinannya atau dapat juga karena kekurangan energi dan lain sebagainya. PT. ARYO BIMO Pontianak merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi muatan kapal laut (EMKL). PT. ARYO BIMO Pontianak didirikan pada tanggal 30 Juni 2007 yang dimana bisnis utamanya adalah jasa bongkar muat barang dari dan ke kapal serta mengurus dokumen-dokumen dan formalitas yang diperlukan untuk mengirim/ mengeluarkan barang ke/dari kapal atau ke/dari gudang/lapangan penumpukan container di pelabuhan. Tabel 1.1 berikut ini akan menyajikan daftar jumlah pegawai di PT. ARYO BIMO Pontianak tahun 2010-2013 : Tabel 1.1 Perkembangan Jumlah Pegawai PT. ARYO BIMO Pontianak Tahun 2010-2013 Tahun JUMLAH 2010 48 2011 55 2012 67 2013 73 Berdasarkan pada Tabel 1.1 terlihat bahwa pada tahun 2011 terjadi peningkatan jumlah pegawai sebanyak 7 orang dari tahun 2010. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan pegawai sebanyak 12 orang dari tahun 2011 dan pada tahun 2013 terjadi peningkatan pegawai sebanyak 6 orang dari tahun 2012. Hal ini terjadi disebabkan oleh berbagai hal seperti perekrutan pegawai baru dan pegawai yang berhenti atau mengundurkan diri. Adapun pembagian jumlah pegawai menurut bagian/unit kerja tersaji di table 1.2 sebagai berikut Tabel 1.2 Jumlah Pegawai Menurut Bagian Periode Desember 2013 NO BAGIAN / UNIT KERJA JUMLAH 1 Bagian Personalia 4 2 Bagian Keuangan 4 3 Bagian Pemasaran 2 4 Bagian Operasional 63 JUMLAH 73 Sumber : PT. ARYO BIMO Pontianak, 2013 Berdasarkan Tabel 1.2 menunjukkan bahwa jumlah pegawai pada PT. ARYO BIMO Pontianak berdasarkan Status Kepegawaian Tetap sebanyak 73 orang. Jumlah pegawai yang terbanyak terdapat pada bagian Bidang Operasional yaitu sebanyak 63 orang. Pada bagian Bidang Operasional terdiri dari supir, kernet, montir dan koordinator lapangan (mandor). Tabel 1.3 Jumlah Pegawai Tetap Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Periode Desember 2013 NO UNIT KERJA STATUS PEGAWAI JUMLAH S1 D3 SLTA 1 Bagian Personalia 2 - 2 4 2 Bagian Keuangan 1 1 2 4 3 Bagian Pemasaran 1 - 1 2 4 Bagian Operasional 3 4 56 63 JUMLAH 7 5 61 73 Sumber : PT. ARYO BIMO Pontianak, 2013 Berdasarkan Tabel 1.3 menunjukkan bahwa jumlah pegawai tetap pada PT. ARYO BIMO Pontianak berdasarkan pendidikan sebanyak 73 orang. Jumlah pegawai terbanyak terdapat pada tingkat pendidikan SLTA yaitu sebanyak 61orang. Setiap instansi menyadari bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi kualitas pegawai. Dalam prakteknya pegawai yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sangat mempengaruhi hasil kerja mereka, dan terkadang pegawai yang memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi cenderung menghargai dan menjunjung tinggi kebijakan perusahaan/organisasi. Demi kelancaran dan ketertiban dalam pelaksanaan tugas sehari-harinya, sangatlah ditentukan oleh kecakapan dan integritas tiap karyawan. Oleh karena itu, dalam pengelolaan SDMnya sangat diperlukan seorang pemimpin yang mampu membawahi karyawannya dengan gaya kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Budaya Organisasi terhadap kinerja yang diterapkan pada PT. ARYO BIMO Pontianak. Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. ARYO BIMO PONTIANAK. B. Perumusan Masalah Agar penelitian ini menjadi lebih mudah dan memiliki arah yang jelas, maka terlebih dahulu dirumuskan permasalahannya.adapun permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana deskripsi Budaya Organisasi dan Kinerja Karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak?Bagaimana pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak?C. Pembatasan Masalah Untuk menghindari kesimpangsiurandalam pembahasan penelitian, maka penelitian ini di batasi dan hanya menyangkut gambaran Budaya Organisasi Dan Kinerja Karyawan serta pengaruh dari Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak D. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah : Untuk mengetahui deskripsi budaya organisasi dan kinerja karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak. Untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak. BAB II LANDASAN TEORI 1. Budaya Organisasia. Pengertian Budaya Organisasi Budaya merupakan pengendali sosial dan pengatur jalannya organisasi atas dasar nilai dan keyakinan yang dianut bersama, sehingga menjadi norma kerja kelompok, dan secara operasional disebut budaya kerja karena merupakan pedoman dan arah perilaku kerja pegawai. Budaya organisasi merupakan keyakinan, tata nilai dan persepsi umum yang dianut secara luas dalam membentuk dan memberi arti kepada perilaku pegawai sehingga menjadi kebiasaan yang relatif sulit dirubah. Menurut Robins (2006:721), budaya organisasi merupakan suatu sistem dari makna/arti bersama yang dianut oleh para anggotanya yang membedakan organisasi dengan organisasi lainnya. Sedangkan menurut Amstrong (2005) dalam Chatab (2007:100) budaya organisasional atau korporat adalah pola nilai, norma, keyakinan, sikap, dan asumsi yang biasa sudah tidak diartikulasikan, namun membentuk dan menentukan cara orang (people) berkelakuan dan menyelesaikan sesuatu. Sedangkan menurut Wibowo (2010:19) budaya organisasi adalah filosofi dasar organisasi yang memuat keyakinan, norma-norma, dan nilai-nilai tersebut menjadi pegangan semua sumber daya manusia dalam organisasi dalam melaksanakan kinerjanya. b. Karakteristik Budaya Organisasi Budaya organisasi dalam suatu organisasi yang satu bebeda dengan yang ada dalam organisasi yang lain. Namun budaya organisasi menunjukkan cirri-ciri, sifat, atau karakteristik tertentu yang menunjukkan kesamaannya. Ada beberapa karakteristik budaya organisasi yang dikemukakan oleh para ahli: Robins (2006:721) dalam bukunya Perilaku Organisasi mengemukakan adanya tujuh karakteristik budaya organisasi, yaitu: Innovation and risk taking (inovasi dan pengambilan resiko), suatu tingkatan dimana pekerja didorong untuk menjadi inovatif dan mengambil resikoAttention to detail (perhatian pada hal detail), dimana pekerja diharapkan menunjukkan ketepatann analisis, dan perhatian pada hal detailOutcome orientation (orientasi pada hasil), dimana manajemen memfokuskan pada hasil atau manfaat daripada sekedar pada teknik dan proses yang digunakan untuk mendapatkan manfaat tersebut.People orientation (orientasi pada orang), dimana manajemen mempertimbangkan pengaruh manfaatnya pada orang dalam organisasi.Team orientation (orientasi pada tim), dimana aktifitas kerja di organisasi berdasar tim daripada individual.Aggressiveness (agresivitas), dimana orang cenderung lebih agresif dan kompetitif daripada easygoing.Stability (stabilitas), dimana aktivitas organisasional menkankan pada menjaga status quo sebagai lawan dari perkembangan. Victor Tan (2002) dalam Wibowo (2010: 47), juga mengemukakan 10 karakteristik budaya organisasi, namun dengan perincian yang sedikit berbeda dengan pendapat Robbins. Individual initiative (inisiatif individual),. Menunjukkan tingkatan tanggung jawab, kebebasan, dan ketidaktergantungan yang dimiliki individu. Risk tolerance (toleransi terhadap resiko). Suatu keadaan dimana pekerja didorong mengambil resiko, menjadi agresif dan inovatif.Direction (arah). Merupakan kemampuan organisasi menciptakan sasarn yang jelas dan menetapkan harapan kinerja.Integration (integrasi). Suatu yingkatan dimana suatu unit dalam organisasi didorong untuk bekerja dengan cara terkoordinasi.Management support (dukungan manajemen). Manajer menyediakan komunikasi yang jelas, bantuan, dan dukungan kepada bawahannya.Control (pengawasan). Merupakan jumlah aturan dan ketentuan dan jumlah pengawasan langsung yang dipergunakan untuk melihat dan mengawasi perilaku karyawan.Identity (identitas). Suatu tingkatan dimana anggota mengidentifikasi dengan organisasi secara kesluruhan, daripada dengan kelompok kerja tertentu atau bidang keahlian profesi tertentu.Reward system (system penghargaan). Dimana alokasi reward (kenaikan upah/gaji) didasarkan pada criteria alokasi biaya didasarkan pada criteria kinerja,sebagai lawan dari senioritas atau favoritism.Conflict tolerance (toleransi terhadap konflik). Suatu tingkatan dimanapekerja didorong untuk menyiram konflik dan kritikan secara terbuka.Communication pattern (pola komunikasi). Suatu tingkatan dimana komunikasi dibatasi pada hierarki formal. Menurut Luthan (2007) dalam Chatab (2007:11), beberapa karakteristik penting budaya organisasi mencakup sebagai berikut : Keteraturan perilaku yang dijalankan ; seperti pemakaian bahasa atau terminology yang sama.Norma; seperti standar perilaku yang ada pada suatu organisasi atau komunitas.Nilai yang dominan ; seperti mutu produk yang tinggi, efisiensi yang tinggi.Filosofi ; seperti kebijakan bagaimana pekerja diperlakukan.Aturan ; seperti tuntutan bagi pekerja baru untuk bekerja di dalam organisasi.Iklim organisasi ; seperti cara para anggota organisasi berinteraksi dengan pelanggan internal dan eksternalatau pengaturan tata letak bekerja (secara fisik). c. Fungsi Budaya Organisasi Fungsi budaya organisasi menunjukkan peranan atau kegunaan dari budaya organisasi. Chatab dalam bukunya Budaya Organisasi, menjelaskan fungsi budaya organisasi (2007:11) yaitu sebagai berikut: Identitas, yang merupakan ciri atau karakter organisasi.Social cohesion atau pengikat/pemersatu seperti bahasa Sunda yang bergaul dengan orang Sunda, sama hobi olahraganya.Sources, misalnya inspirasi.Sumber penggerak dan ppola perilaku.Kemampuan mengkatkan nilai tambah, seperti adanya aqua sebagai teknologi baru.Pengganti formalisasi, seperti olahraga rutin jumat yang tidak dipaksa.Mekanisme adaptasi terhadap perubahan seperti adanya rumah susun.Orientasinya seperti konteks tinggi (kata-kata menjadi jaminan), konteks rendah (tertulis menjadi penting) dan konteks rendah (karena diikuti tertulis) dengan subkonteks tinggi (perintah lisan). Adapun fungsi budaya organisasi menurut pandangan Robbins (2006:725) adalah: Mempunyai boundrary-difining roles, yaitu menciptakan perbedaan antaraorganisasi yang satu dengan yang lainnya.Menyampaikan rasa identitas untuk anggota organisasi.Budaya memfasilitasi bangkitnya komitmen pada sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri individual.Meningkatkan stabilitas system social. Budaya adalah perekat social yang membantu menghimpun organisasi bersama dengan memberikan standar yang cocok atas apa yang dikatakan dan dilakukan pekerja.Budaya melayani sebagai sense-making dan mekanisme control yang membimbing dan membentuk sikap dan perilaku kerja. d. Pembentukan/Menciptakan Budaya Menurut Chatab dalam bukunya Profil Budaya Organisasi (2007:12) mengatakan terbentuknya budaya terutamakarena adanya para pendiri, yaitu orang yang berpengaruhyang dominan atau kharismatik yang memperagakan bagaimanaorganisasi seharusnya bekerja dalam menjalankan misi guna meraih visi yang ditetapkan. Selanjutnya diseleksi orang yang memiliki pengetahuan, ketrampilan kepemimpinan dan keteladanan untuk melanjutkan pelaksanaan kegiatan sesuia dengan kaidah dan norma para pendirinya. Komitmen manajemen puncak yang dipergunakan amat menentukan implikasi perubahan budaya organisasi. Wujudnya dapat berupa penetapan & keterlibatan pimpinan puncak dan besarnya dukungan sumber daya yang dialokasikan. Kegiatan manajemen ini menjadi semakin penting karena dipandang sebagai aktivitas yang bertanggungjawab atas penciptaan, pertumbuhan dan kelangsungan organisasi. Organisasi agar selalu mensosilalisasikan program kegiatan dengan berbagai metode sosialisasi dan sesuai dengan tata nilai budaya, selama karir bekerja dari anggotanya. Pembentukan budaya dapat digambarkan seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 2.1 Terbentuknya Budaya organisasi Manajemen Puncak Filsafat dari pendiri organisasi Kriteria Seleksi Sosialisasi Budaya Organisasi Sumber : Chatab, (2007:13) e. Tipe Budaya Organisasi Robbins (2006:724), mengelompokkan tipe budaya menjadi network colture, mercenary culture, fragmented culture, dan communal culture. Penetapan tipe budaya tersebut dilakukan dengan menarik hubungan antara tingkat sosiabilitas dan solidaritas. Dimensi sosiabilitas ditandai oleh tingkat persahabatan terutama ditemukan di antara anggota organisasi. Adapun dimensi solidaritas ditandai oleh tingkatan dimana orang dalam organisasi berbagi pengertian bersama tentang tugas tujuan untuk apa mereka bekerja. Network culture Organisasi memandang anggota sebagai suatu keluarga dan teman (high on sociability, low on solidarity). Budaya ini di tandai oleh tingkat sosiabilitas atau kesenangan bergaul tinggi dan tingkat solidaritas atau kesetiakawanan rendah. Network culture sangat bersahabat dan bersukaria dalam gaya. Mercenary culture Organisasi berfokus pada tujuan (low on sociability, high on solidarity). Budaya organisasi ini ditandai oleh tingkat sosiabilitas rendah dan tingkat solidaritas tinggi. Mercenary culture melibatkan orang yang sangat focus dalam menarik bersama untuk membuat pekerjaan dilakukan. Fragmented culture Organisasi yang dibuat oleh para individualism (low on sociability, low on solidarity). Budaya ini ditandai solidaritas dan sosiabilitas yang rendah. Orang yang bekerja dalam fragmented culture sedikit melakukan kontak dan dalam banyak hal mereka bahkan tidak saling mengenal. Communal culture Organisasi menilai baik persahabatan dan kinerja (high on sociability, high on solidarity). Budaya ini ditandai oleh sosiabilitas dan solidaritas tinggi. Anggota communal culture sangat bersahabat dan bergaul dengan baik, baik secara pribadi maupun professional. Tipe budaya organisasi di atas dapat digambarkan seperti gambar 2.2. Gambar 2.2 Tipe Budaya Organisasi Mercenary Networked Tinggi Fragmented Rendah Rendah Tinggi Sumber: Robbins, (2006:724) f. Budaya Kuat dan Budaya Lemah Menurut Suwarto dan Koeshartono (2009:10) membedakan budaya kuat dan budaya lemah telah menjadi popular dalam suatu organisasi, Budaya kuat yaitu budaya yang didalamnya nilai-nilai dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas. Makin banyak anggota yang menerima nilai-nilai inti, makin besar komitmen mereka pada nilai-nilai itu, makin kuat budaya tersebut. Budaya yang kuat akan mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku anggota-anggotanya, karena tingkat kebersamaan dan intensitas menciptakan suatu iklim internal dari kendali perilaku. Budaya yang kuat juga akan membentuk kekohesian, kestiaan, dan komitmen organisasi, sehingga mengurangi kecenderungan pegawai untuk meningkatkan organisasi tersebut. CommunalBudaya lemah adalah budaya yang kurang didukung oleh para anggotanya, akan sangat dipaksakan sehimgga berpengaruh negatif terhadap suatu organisasi, karena akan member arah yang salah kepada pegawai. Budaya lemah terlihat dari kurangnya motivasi dan semangat kerja, timbul kecurigaan-kecurigaan, komunikasi kurang lancer. Akibatnya organisasi menjadi tidak efektif dan kurang kompetitif. Anggota organisasi mudah membentuk kelompok-kelompok yang bertentangan satu sama lain. Anggota organisasi tidak segan-segan mengorbankan kepentingan organisasi kelompok atau kepentingan diri sendiri. 2. Kinerja Karyawan a. Pengertian Kinerja Karyawan Kinerja pegawai merupakan output atau hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang pegawai, atau dapat pula dikatakan sebagai tolak ukur keberhasilan dari pekerjaan yang telah dilakukan. Setiap organisasi baik itu instansi pemerintah ataupun swasta, selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja pegawai. Keberhasilan mengelola pegawai yang baik dan benar dapat dilihat dari kinerja pegawainya. Jika kinerja pegawai meningkat, maka instansi akan memperoleh citra yang baik. Dengan meningkatnya kinerja, maka pekerjaan akan lebih cepat diselesaikan dan kualitas pekerjaan yang dihasilkan juga lebih baik. Kinerja pegawai adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi antara lain kuantitas, kualitas, ketepatan waktu, efektifitas biaya, pengawasan dan dampak antar pribadi (Mathis dan Jackson 2002:78-79). Kinerja (Performance) adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Manajemen Kinerja (performance management) adalah proses berorientasi tujuan yang diarahkan untuk memastikan bahwa proses-proses keorganisasian ada pada tempatnya untuk memaksimalkan produktivitas para pegawai, tim, dan organisasi. Menurut Simamora (2000:345), mengemukakan kinerja karyawan/pegawai adalah tingkat pada tahap dimana para karyawan/pegawai mencapai persyaratan-persyaratan pekerja. Pendapat lain dikemukakan oleh Gibson et al (2002:70), mengatakan bahwa "Performance/kinerja adalah hasil yang diinginkan dari perilaku". Perilaku setiap individu dalam organisasi adalah berbeda. Maka dari itu, kinerjanya akan berbeda pula, demikian juga pada suatu tim kerja. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai seorang pegawai, sebagai suatu proses dari input menuju ke output yang dicapai serta suatu penampilan kerja oleh pegawai di tempat kerjanya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. b. Pengukuran Kinerja Karyawan Kinerja pegawai yang satu dengan kinerja pegawai yang lain tidak sama, karena masing-masing pegawai mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Tetapi secara umum dapat dikatakan kinerja pegawai dikatakan baik apabila dengan kinerja pegawainya tersebut dapat memenuhi apa yang diinginkan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk mencapai tujuan. Jadi dapat dikatakan bahwa kinerja pegawai merupakan hasil kerja yang diperoleh dan diberikan pegawai kepada perusahaan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Menurut Bernadin dan Russel dalam Ruky (2002:15), mengajukan enam kriteria primer yang dapat digunakan unluk mengukur kinerja: 1) Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan. 2) Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan. 3) Timeliness, adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki, dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain. 4) Cost-effectiveness, adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya organisasi (manusia, keuangan, teknologi, material) dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi, atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumber daya. 5) Need for supervison, merupakan tingkat sejauh mana seorang pejabat dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan. 6) Interpersonal impact, merupakan tingkat sejauh mana karyawan/pegawai memelihara harga diri, nama baik dan kerja sama diantara rekan kerja dan bawahan. 3. Hubungan Variabel Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Robbins (2006:748) mendeskripsikan bagaimana nilai-nilai/karakteristik dari budaya organisasi terhadap kinerja. Robbins mendeskripsikan budaya organisasi sebagai suatu variabel. Anggota-anggota organisasi membentuk suatu persepsi subjektif secara keseluruhan mengenai organisasi berdasarkan kepada faktor-faktor seperti toleransi resiko, tekanan pada tim, dukungan orang, dan sebagainya. Persepsi yang yang terbentuk itu sebenarnya merupakan budaya atau kepribadian dari organisasi yang bersangkutan. Dukungan atau penolakan sebagaimana bentukan persepsinya, mempengaruhi anggota-anggota organisasi, atau dampak yang lebih besar adalah kepada terbentuknya budaya yang lebih kuat. Kinerja yang tinggi dihubungkan dengan budaya yang kuat. Sebaliknya, budaya yang lemah dihubungkan dengan kinerja yang rendah pula. Dengan budaya organisasi yang kuat dan kokoh diharapkan dapat mempererat individu yang ada didalam organisasi sehingga dapat membentuk sikap dan perilaku yang dapat menghasilkan kinerja yang maksimal demi peningkatan kinerja institusi/organisasi melalui pemahaman Budaya Organisasi. 4. Penelitian Terdahulu Penelitian ini memerlukan pengamatan terhadap penelitian-penelitian terdahulu sebagai bahan perbandingan. Dari banyak penelitian yang telah dilakukan terdapat perbedaan tentang variabel-variabel yang dipilih dan tentu menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula. penelitian ini merupakan replica dari beberapa penelitian yang menggunakan variabel budaya organisasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kinerja karyawan. Muhammad Dzulham (2008) tentang Pengaruh budaya Organisasi Dan Etos Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Fakultas Ekonomi Universitas Sumatra Utara. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif, metode yang digunakan metode surveii, dan menggunakan sampel jenuh atau sensus. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda, dan hasilnya menunjukkan bahwa budaya organisasi dan etos kerja baik secara parsial maupun secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai Fakultas Ekonomi USU. 4. Hipotesis Berdasarkan rumusan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan Ada pengaruh antara budaya organisasi dan kinerja karyawan pada PT. Aryo Bimo Pontianak. BAB III METODE PENELITIAN 1. Bentuk Penelitian Dalam penelitian ini ada dua jenis penelitian yang digunakan menurut kuncoro (2009:12) yaitu : Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai pengumpulan data untuk diuji hipotesis atau menjawab pertanyaan mengenai status terakhir dari subjek penelitian.Penelitian kausalitas adalah penelitian yang menunjukkan arah hubungan antara variable bebas dengan variable terikat, disamping mengukur kekuatan hubungannya. Dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode suervei. Menurut Kuncoro (2009:85) pada cara survey, peneliti mengajukan pertanyaan kepada subjek dan mengumpulkan jawaban melalui cara personal atau nonpersonal. 2. Jenis Data Data yang diperlukan, yaitu data primer dan data sekunder, dimana semua data tersebut mempunyai hubungan erat dengan persoalan yang dihadapi. a. Data Primer Yaitu data yang didapat dari sumber pertama baik individu maupun perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner yang biasa dilakukan oleh peneliti (Umar, 2004:99). Dalam penelitian ini penulis mengadakan wawancara langsung dengan pihak yang berkaitan langsung dengan penelitian, agar dapat memperoleh informasi yang diperlukan. Selain itu juga diperoleh dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada para karyawan PT. ARYO BIMO Pontianak. b. Data Sekunder Merupakan data primer yang sudah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau pihak lain, misalnya dalam bentuk table-tabel atau diagram (Umar, 2004: 100). Yang termasuk data sekunder dalam penelitian ini antara lain mengenai jumlah karyawan PT. ARYO BIMO Pontianak. 3. Metode Pengumpulan Dataa. Wawancara Wawancara merupakan teknik pengumpul data dengan tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dengan pihak yang bias membantu mengumpulkan data yang berkaitan denngan masalah ini. b. Kuesioner Adalah pengumpulan data dengan cara menyebarkan daftar pertanyaan untuk diajukan kepada responden dan diisi guna mendapatkan informasi dalam rangka memperoleh data yang diperlukan. 4. Populasi dan Sampela. Populasi Menurut sugiyono (2008: 115) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang masih aktif bekerja pada PT. ARYO BIMO Pontianak yang berjumlah 73 orang. b. Sampel Menurut Arikunto ( 1998:104-107 ), menyatakan bahwa " Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Apabila subyeknya kurang dari 100 orang, maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya itu lebih dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih". Karena jumlah populasi kurang dari 100 maka penulis menggunakan penelitian jenis populasi dengan teknik sampling jenuh/sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel yakni sebnayak 73 orang. Adapun jumlah populasi dan sampel yang akan diteliti pada PT. ARYO BIMO Pontianak adalah sebagai berikut: Tabel 3.1 Rincian Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian No Bagian/Unit Kerja Populasi dan Sampel Karyawan 1 Bagian Personalia 4 2 Bagian Keuangan 3 3 Bagian Pemasaran 2 4 Bagian Operasional 64 Jumlah 73 Sumber : PT. ARYO BIMO Pontianak, 2013 5. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Variabel dependen adalah variabel yang besar kecilnya atau tinggi rendahnya dipengaruhi oleh factor-faktor lain. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependent/terikat adalah kinerja (Y).Variabel independent adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independent/bebas adalah budaya organisasi (X). Adapun faktor yang menjadi indikator budaya organisasi menurut Robbins (2006:721) meliputi inovasi dan pengambilan resiko, perhatian pada hal detail, orientasi pada hasil, orientasi pada orang, orientasi pada tim, agresivitas, dan stabilitas. Sedangkan faktor yang menjadi indikator kinerja karyawan menurut Mathis and Jackson (2006:378) meliputi kualitas hasil, kehadiran, dan kemampuan bekerjasama. 1. Teknik Analisis Data Setelah semua data dan keterangan dari hasil penelitian dengan kuesioner akan dianalisis secara: Analisis Deskriptif, yaitu dengan menganalisis hasil jawaban dari kuesioner yang kemudian diolah, dan disajikan dalam bentuk tabel, sehingga dapat ditarik kesimpulan.Analisis Kuantitatif. Metode ini bertujuan untuk menganalisis ketergantungan/asosiasi variabel independent/bebas (X) terhadap variabel dependent (Y) dengan menggunakan regresi linier sederhana. Model regresi linier sederhana yang digunakan adalah: Y = b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 +b7X7 keterangan: Y = a + bX Y = Kinerja X = Budaya Organisasi a = Konstanta b = Koefisien Regresi Sebelum data tersebut dianalisis dalam model regresi linier berganda di atas, maka diperlukan beberapa uji penyimpangan model klasik, yaitu uji normalitas, dan uji multikoliniearitas. Pengujian Hipotesis Model regresi yang sudah memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan digunakan untuk menganalisis, melalui pengujian hipotesis sebagai beriku: Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji-F) Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Bentuk pengujian: H0 : bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan. H1 : minimal satu dari ≠0 i b, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan. Pada penelitian ini nilai t hitung akan akan dibandingkan dengan t tabel pada tingkat signifikan (α) = 5%. Kriteria penilaian hipotesis pada uji-F ini adalah: Terima H0 bila F hitung ≤ F tabel Tolak H0 (terima H1) bila F hitung > F tabel Pengujian Hipotesis Secara Parsial Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah setiap variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Bentuk pengujian : H0 : bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dari Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan. H1 : ≠0 i b, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dari Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan. Pada penelitian ini nilai t hitung akan dibandingkan dengan t tabel pada tingkat signifikan (α) = 5%. Kriteria pengambilan keputusan pada uji-t ini adalah : H0 diterima jika : -tabel ≤ t hitung ≤ t tabel H1 diterima jika : t hitung > t tabel t hitung ≤ - t tabel Pengujian R2 (Koefisien Determinasi) Pengujian ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar pengaruh variabel independen yang digunakan dalam penelitian mampu menjelaskan variasi total variabel dependent. Pengukuran besarnya persentase kebenaran dari uji regresi tersebut dapat dilihat melalui koefisien determinasi adjusted R2 (koefisien determinasi) mengukur proporsi dari variasi yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas. Nilai R2 (koefisien determinasi) ini nilainya terletak antara 0 dan 1 (0<R <1). Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan program SPSS for Windows 16.0. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dilakukan analisis data yang diperoleh dari penelitian lapangan terhadap sejumlah responden yang merupakan karyawan PT. Aryo bimo Pontianak. A. Karakteristik Responden1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin seseorang tentunya akan mempengaruhi pekerjaan yang dilakukannya. Ada pekerjaan yang lebih baik jika dikerjakan oleh laki-laki akan tetapi ada pula pekerjaan yang akan lebih baik jika dilakukan oleh perempuan. Berikut ini distribusi responden menurut jenis kelamin dalam Tabel 4.1 berikut ini : Tabel 4.1 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin Tahun 2013 Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Pria Wanita 69 4 94.52 5.48 Jumlah 73 100 Sumber : Data Olahan, 2014 Dari Tabel 4.1 menunjukkan bahwa jumlah responden antara laki-laki dan perempuan mempunyai jumlah yang berbeda, laki-laki sebanyak 94.52% (69 orang) dan perempuan sebanyak 5.48% (4 orang) pada Kantor PT. Aryo bimo Pontianak. 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia juga dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam bekerja atau melakukan sesuatu. Usia responden terdiri atas berbagai tingkatan dan untuk mempermudah dalam menganalisis. Untuk lebih jelas mengenai distribusi usia responden dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut: Tabel 4.2 Karakteristik Responden Menurut Tingkat Umur Tahun 2013 Umur Frekuensi Persentase (%) 18-24 25-44 45 thn- keatas 25 41 7 34.24 56.16 9.6 Jumlah 73 100 Sumber : Data Olahan, 2014 Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa usia paling dominan adalah 25-44 tahun sebesar 56.16% (41 orang) , sedangkan usia 18-24 tahun sebesar 34.24% (25 orang), dan usia 45 tahun keatas sebesar 9.6% (7 orang). Ini berarti bahwa umur karyawan relatif baik dan dalam usia produktif. 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Semakin tinggi pendidikan seseorang, biasanya mereka cenderung bertindak lebih cermat dan berhati-hati serta lebih banyak melakukan pertimbangan dalam menyelesaikan pekerjaan dan mengambil keputusan. Berikut Distribusi Tingkat Pendidikan Responden dalam Tabel 4.3: Tabel 4.3 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2013 Pendidikan Terakhir Frekuensi Persentase (%) SMA 61 83.56 Akademi 5 6.84 Perguruan Tinggi 7 9.6 Jumlah 73 100 Dari Tabel 4.3 terlihat bahwa sebagian besar Responden berpendidikan SMA yaitu sebesar 83.56% (61 orang), sedangkan Akademi sebesar 6.84% (5 orang), dan Perguruan Tinggi sebesar 9.6% (7 orang) 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Semakin lama bekerja tentulah semakin banyak pengalaman seseorang tersebut di dalam pekerjaannya. Karena berpengalaman di dalam bekerja seseorang akan semakin ahli dan terampil dalam menyelesaikan pekerjaan dan mengambil keputusan. Gambaran Responden menurut masa kerja dapat dilihat pada Tabel 4.4 : Tabel 4.4 Distribusi Responden Menurut Masa Kerja Tahun 2013 Masa Kerja (Tahun) Frekuensi Persentase (%) < 5 58 79.45 5 "“ 10 15 20.55 11 "“ 20 - - > 20 - - Jumlah 73 100 Sumber : Data Olahan, 2013 Melalui Tabel 4.4 menunjukan bahwa 79.45% responden telah bekerja kurang dari 4 tahun, dan 20.55% responden telah bekerja 5-10 tahun di PT. Aryo Bimo Pontianak. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas karyawan PT. Aryo Bimo Pontianak telah bekerja kurang dari 4 tahun. B. Uji Instrumen 1. Uji Validitas. Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang akan diukur. Uji validitas sering digunakan untuk mengukur ketepatan suatu item dalam koesioner atau skala, apakah item-item pada koesioner tersebut sudah tepat dalam mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas yang digunakan adalah uji validitas item. Tabel 4.5 Tabel Uji Validitas Variabel Indikator Korelasi Keterangan Budaya Organisasi (X) X1.1 0.601 Valid X1.2 0.537 Valid X2.1 0.643 Valid X2.2 0.617 Valid X3.1 0.466 Valid X3.2 0.553 Valid X4.1 0.136 Tidak Valid X4.2 0.313 Valid X5.1 0.653 Valid X5.2 0.734 Valid X6.1 0.416 Valid X6.2 0.583 Valid X7.1 0.221 Tidak Valid X7.2 0.351 Valid Kinerja (Y) Y1.1 0.619 Valid Y1.2 0.597 Valid Y2.1 0.422 Valid Y2.2 0.783 Valid Y3.1 0.775 Valid Y3.2 0.527 Valid Y4.1 0.690 Valid Y4.2 0.863 Valid Y5.1 0.640 Valid Y5.2 0.644 Valid Y6.1 0.775 Valid Y6.2 0.527 Valid Pada tabel 4.5 menunjukkan hasil pengujian validitas, dimana dari hasil diatas dapat diketahui nilai korelasi antara skor disemua variabel dengan skor total. Nilai ini kemudian kita bandingkan dengan nilai r tabel, r tabel dicari pada signifikansi 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 73, maka didapat nilai r tabel sebesar 0.230 2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang (Priyatno 2010:97-100). Berikut ini hasil pengujian reliabilitas terhadap semua variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.6. Tabel 4.6 Variabel Cronbach"™s Alpha Keterangan Budaya Organisasi (X) 0.788 Reliabel Kinerja (Y) 0.876 Reliabel Hasil Uji Reliabilitas Sumber: Data primer olahan (2014). Dalam pengujian reliabilitas menggunakan batasan tertentu seperti 0.6. Menurut Sekaran (1992), reliabilitas kurang dari 0.6 adalah kurang baik. Hasil uji reliabilitas diatas adalah budaya organisasi sebesar 0.788 dan Kinerja sebesar 0.876, sehingga dapat disimpulkan hasil untuk Budaya Organisasi dan Kinerja adalah reliabel. C. Analisis Budaya Organisasi Karyawan PT. Aryo Bimo Pontianak (X) Budaya Organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, pengukuran budaya organisasi dibatasi pada 7 karakteristik budaya organisasi dari Robbins, yang terdiri dari inovasi dan pengambilan rsiko, perhatian pada hal detail, orientasi pada hasil, orientasi pada orang, orientasi pada tim, agresivitas, dan stabilitas. dan pada sesi ini akan didiskripsikan mengenai beberapa hal yang mempengaruhi budaya organisasi karyawan berdasarkan pendapat responden atas pengalaman dalam bekerja, dengan kata lain adalah sejauh mana organisasi memiliki budaya kerja yang baik agar karyawan bekerja secara optimal. Berikut adalah uraian masing-masing dimensi variabel budaya organisasi yang dimaksud. D. Hasil Analisis Regresi Sederhana Analisis hasil penelitian mengenai pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan PT Aryo Bimo Pontianak dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dengan menggunakan model analisis regresi sederhana, sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menelaah pembuktian analisis kuantitatif. Pembuktian ini dimaksudkan untuk menguji variasi suatu model regresi yang digunakan dalam menerangkan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) dengan cara menguji kemaknaan dari keofisien regresinya. Berdasarkan perhitungan dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.20 Koefisien Regresi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -10.724 5.940 -1.805 .075 BUDAYA ORGANISASI 1.015 .101 .765 10.023 .000 a. Dependent Variable: KINERJA Dari tabel 4.20. diatas, maka hasil yang diperoleh dimasukkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = a + bX Y = Kinerja Karyawan X = Budaya Organisasi a = Konstanta b = Koefisien Regresi Sehingga diperoleh persamaan regresinya adalah sebagai berikut : Y = -10.724+ 1.015X Dimana : a = -10.724 angka tersebut menunjukkan kinerja pegawai bila budaya organisasi diabaikan. b = 1.015 artinya jika budaya organisasi mengalami peningkatan sebesar 1, maka nilai kinerja pegawai akan bertambah secara proporsional 1.015. 1. Uji Hipotesis Koefisien Regresi Sederhana (Uji t) Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Y). a. Menentukan Hipotesis Ho : secara parsial tidak ada pengaruh antara budaya organisasi dengan kinerja karyawan. Ha : secara parsial ada pengaruh antara budaya organisasi dengan kinerja karyawan b. Menentukan Tingkat Signifikan Tingkat signifikansi menggunakan 0.05 (α = 5%). c. Menentukan nilai signifikan Berdasarkan output / hasil diperoleh nilai signifikan sebesar 0.000. d. Kriteria Pengujian Ho diterima jika nilai siqnifikan 0,05 Ha diterima jika nilai siqnifikan 0,05 e. Membandingkan Nilai Signifikan dengan Tingkat Signifikan nilai signifikan tingkat signifikan ( 0.000 0.05 ), maka Ha diterima. f. Kesimpulan Oleh karena nilai signifikan tingkat signifikan (0.000 0.05), maka Ha diterima. Artinya ada pengaruh secara signifikan dengan kinerja karyawan PT. ARYO BIMO Pontianak. 2. Koefisien Determinasi ( R2) Hasil uji hipotesis yang menyatakan bahwa Budaya Organisasi mempunyai pengaruh terhadap Kinerja Karyawan, untuk menyakinkan atau tingkat kekuatan hubungan antar variabel dapat dilihat pada Tabel 4.21. Tabel 4.21 Uji Koefisien Determinasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .765a .586 .580 2.692 a. Predictors: (Constant), BUDAYA ORGANISASI Koefisien determinasi (R2) menunjukkan seberapa besar presentase variasi variabel independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variasi variabel dependen. Pada output model summary di atas menunjukkan nilai R Square atau koefisien determinasi (R2) sebesar 0.586 atau 58.6%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumban
ANALISIS PROSES RESTATEMENT DALAM RANGKA PENERAPAN PP NOMOR 71 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH BERBASIS AKRUAL PADA LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI KABUPATEN SEKADAU TAHUN 2014. B41112029, Siska Andriyani B41112029 siska
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14334

Abstract

SISKA ANDRIYANI B41112029 Changes in financial governance of the Republic of Indonesia has always been done to increase financial accountability and transparency of the government. This is evidenced by the issuance of Government Regulation 71 of 2010 on the application of accrual-based government accounting standards. The implementation of this regulation must be made by each government at the latest by 2015. The first step that must be taken is to restate their financial statement (Balance Sheet) in 2014. Data analysis methods used in this study is a qualitative method. From analyzing data and after restatement process has been done, there is a significant changes of the financial condition of Sekadau Regency, that is stated at the decline in the number of assets listed on the balance sheet. This is because there are a few adjustments to the balance sheet accounts in accordance with full accrual basis ruled in Government Regulation No. 71 of 2010. In addition, also found that the Sekadau Regency do not have data on the results of the investments made over the last few years yet, thus affecting the restatement process of financial statement. Of the existing conclusions , the researchers advise that the data related to the results of these investments could completed soon, so that the process of restatement made "‹"‹to its financial statements can be fully implemented. In addition, sustainability upgrades to human resources of Sekadau Regency also must be done to produce financial statements that relevant and transparent based on Government Regulation 71 of 2010. Keywords: Government Accounting, Restatement, Accrual
PENGENDALIAN INTERNAL SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DI MASJID AGUNG AL-FALAH PONTIANAK BERDASARKAN PSAK NO. 45 B41111108, Rafiq Jauhari Rafiq
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14335

Abstract

RAFIQ JAUHARIUNIVERSITAS TANJUNGPURA Abstraksi Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan sisteminformasi akuntansi serta sistem pengendalian internal yang dilakukan olehpengurus Masjid Agung Al-Falah Pontianak. Penelitian ini juga bertujuan untukmembandingkan tata cara penyusunan bentuk dan isi laporan keuangan MasjidAgung Al-Falah dengan PSAK No. 45. Dan untuk mengetahui apakah PSAK No.45 dapat diterapkan secara penuh atau tidak. Metode analisis yang digunakanadalah kuantitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data berupa wawancaradan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem informasiakuntansi yang diterapkan pengurus telah memadai, serta penerapan sistempengendalian internal dapat dikatakan telah berjalan efektif, mengacu kepada limaunsur pokok pengendalian internal. Saran sebaiknya pengurus menyediakanseorang staf yang memiliki pengetahuan tentang akuntansi dan sistempengendalian internal untuk memisahkan antara tugas pencatatan danpenyimpanan kas, agar penerapan sistem informasi akuntansi dan sistempengendalian internal dapat berjalan efektif., dan agar pelaporan keuangan diMasjid Agung Al-Falah Pontianak sesuai dengan PSAK No. 45 Kata kunci: Sistem Informasi Akuntansi, Sistem Pengendalian Internal,Organisasi Nirlaba keagamaan, PSAK No. 45
Analisis Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance dan Pengungkapan Sustainability Report Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Non-Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia) B41111110, Paryanyo yanto yanto
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14336

Abstract

Paryanto Universitas Tanjungpura ABSTRACT This research aims to analyze the influence of Good Corporate Governance (GCG) characteristic factors and the disclosure of Sustainability Report (SR) on Corporate Performance of the non-finance companies that listed in Indonesia Stock Exchange (IDX). The Good Corporate Governance (GCG) characteristics that was applied in this research are Board of Commissioner independence Proportion, Audit Committee size, Institutional ownership, Managerial ownership, and Dispersion ownership,whereas disclosure of Sustainability Report that was applied is GRI"™s Index. The population of this research are participant companies of Indonesia Sustainability Reporting Award (ISRA) that listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) where the companies had issued Annual Report and Sustainability Report in 2012 and 2014. Result of this research indicates that Board of Commissioner independence Proportion and Managerial ownership had a significant influence on the company"™s performance, whereas Audit Committee size, Institutional ownership, Dispersion ownership, and Sustainability Report disclosure had no significant effect to Company performance of the non-finance companies that listed in Indonesia Stock Exchange (IDX). Keywords: Good Corporate Governance (GCG), Sustainability Report (SR), Company Performance, Indonesia Sustainability Reporting Award (ISRA)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN Dalam Pemilihan Karir Menjadi Akuntan PublikFaktor-Faktor yang Mempengaruhi Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN Dalam Pemilihan Karir Menjadi Akuntan Publik B41111077, Samsu Aulian B41111077 aulian
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14339

Abstract

Samsu Aulian Universitas Tanjungpura ABSTRACT The purpose of this study is to find and analyzes the factors that affect students accounting the economics faculty of untan in career choice become public accountant .The factors that affect career choice become public accountant can be measured with a variable salary or financial award , professional training , the social values , work environment , consideration labor market and the intrinsic value the work Population in research this is a student accounting an undergraduate degree the economics faculty of Universitas Tanjungpura Pontianak.The technique samples use proportional random sampling.Samples to research this is a student accounting economics faculty regular A and B start of the 2011, 2012, 2013, 2014 and 2015 as many as 100 respondents.Data collection done through the distribution of kuisoner to students accounting the economics faculty of universitas tanjungpura pontianak..Data analysis in this research using analysis of multiple regression by using spss version 22. Which a conclusion can be obtained from this research is work environment significant to career choice college students to be public accountant. Variable salary or award financial, professional training, the social values, consideration labor market and intrinsic value the work is not significant to career choice college students to be public accountant. Keywords: career choice be public accountant , salary or award financial , professional training , the social values , work environment , consideration labor market , intrinsic value work
ANALISIS PENGARUH MOTIVASI KUALITAS, MOTIVASI KARIR, MOTIVASI EKONOMI, BIAYA PENDIDIKAN, MASA PENDIDIKAN TERHADAP MINAT MAHASISWA AKUNTANSI UNTUK MELANJUTKAN PROGRAM S2 AKUNTANSI B41111070, Heriyanto heri
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14361

Abstract

HERIYANTO B41111070 HERYSAFULL@YAHOO.CO.ID ABSTRACT This study attempts to know: ( 1 ) the influence motivation quality against interest students accounting FE UNTAN for continuing their studies to S2 accounting, ( 2 ) the influence motivation career to interest students accounting FE UNTAN for continuing their studies to S2 accounting, ( 3 ) the influence motivation to students economic interest accounting FE UNTAN for continuing their studies to S2 accounting, ( 4 ) the influence perception the a study of interest students accounting FE UNTAN for continuing their studies to S2 accounting, ( 5 ) the influence perception the cost of education to interest students accounting FE UNTAN for continuing their studies to S2 accounting, ( 6 ) the influence motivation the quality, the influence of motivation career, the influence of motivation economic, the influence of perception study period, and influence the cost of education together to interest students accounting FE UNTAN to continue S2 accounting. This research using sample 100 people student accounting FE UNTAN still active until academic year 2011 , 2012 , 2013 , 2014 , and 2015 , better than regular regular A and B .Sample obtained in incidental sampling .Lab data obtained using a questionnaire and then analyzed use regression analysis double by using SPSS version 22 . Which a conclusion can be obtained from the study is the variable motivation the quality and motivation economic significant on variables interest students for continuing their studies to S2 accounting, while motivation career , perception study period and perception the cost of education not significant on variables interest students to continue our to S2 accounting. keyword: interest students continuing their studies to S2 accounting, motivation the quality , motivation career , motivation economic , perception study period , perception the cost of education . ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh Motivasi kualitas terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi FE UNTAN untuk melanjutkan studi ke S2 akuntansi, (2) Pengaruh Motivasi karir terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi FE UNTAN untuk melanjutkan studi ke S2 akuntansi, (3) Pengaruh Motivasi ekonomi terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi FE UNTAN untuk melanjutkan studi ke S2 akuntansi, (4) Pengaruh persepsi masa studi terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi FE UNTAN untuk melanjutkan studi ke S2 akuntansi, (5) Pengaruh persepsi biaya pendidikan terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi FE UNTAN untuk melanjutkan studi ke S2 akuntansi, (6) Pengaruh Motivasi kualitas, pengaruh motivasi karir, pengaruh motivasi ekonomi, pengaruh persepsi Masa Studi, dan pengaruh biaya pendidikan secara bersama-sama terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi FE UNTAN untuk melanjutkan S2 akuntansi. Penelitian ini menggunakan sampel 100 orang mahasiswa jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN yang masih aktif sampai tahun akademik 2011, 2012, 2013, 2014, dan 2015, baik dari reguler A maupun reguler B. Sampel diperoleh secara incidental sampling. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan selanjutnya dianalisis mengunakan analisis regresi ganda dengan menggunakan SPSS versi 22. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah variabel motivasi kualitas dan motivasi ekonomi berpengaruh signifikan terhadap variabel minat mahasiswa untuk melanjutkan studi ke S2 akuntansi, sedangkan motivasi karir, persepsi masa studi dan persepsi biaya pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel minat mahasiswa untuk melanjutkan sudi ke S2 akuntansi. Kata kunci: minat mahasiswa melanjutkan studi ke S2 akuntansi, motivasi kualitas, motivasi karir, motivasi ekonomi, persepsi masa studi, persepsi biaya pendidikan.
ANALISISPENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING SYSTEMDALAMPERHITUNGAN TARIF KAMAR PADA TRANSERA HOTEL PONTIANAK B41111128, Febri Wardana febri
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14362

Abstract

FEBRY WARDHANA UNIVERSITAS TANJUNGPURA Abstraksi Metode activity based costing system adalah sebuah metode yang menerapkan konsep akuntansi biaya untuk menentukan harga dengan lebih akurat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perhitungan harga pokok tarifkamar hotel dengan menggunakan metode sederhana dan menggunakan metodeactivity based costing system. Metode analisis yang digunakan adalah metodeanalisis deskriptif yaitu analisis harga pokok tarif kamar hotel tahun 2014,menetapkan metode biaya berdasarkan activity based costing system, kemudianmembandingkan harga pokok tarif kamar hotel berdasarkan metode activity basedcosting system dengan realisasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perhitungan harga pokok tarif kamar hotel dengan menggunakan metode activity based costing system, apabila di bandingkan dengan harga pokok tarif kamar yang di gunakan pihak hotel maka metode activity based costing system memberikan hasil yang lebih besar untuk semua tipe kamar, yaitu kamar Superior sebesar Rp 233.235.62, kamar Deluxe sebesar Rp 232.392.67, kamar Executive sebesar Rp 246.576.41,. Hal ini disebabkan karena pada metode activity based costing system, biaya overhead masing-masing produk di bebankan pada banyak cost driver sehingga metode activity based costing system telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas ke setiap kamar secara tepat berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas. Dari kesimpulan yang ada peneliti memberikan saran agar Transera Hotel Pontianak sebaiknya mempertimbangkan perhitungan harga pokok tarif kamar hotel berdasarkan metode activity based costing system dan tetap mempertimbangkan faktor eksternal lainnya, seperti harga tarif pesaing dan kemampuan membayar (dayabeli) tamu hotel yang mempengaruhi penetapan harga Kata kunci : Activity Based Costing System, Harga, Cost Driver
ANALISIS SISTEM PENERIMAAN PAJAK BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN SETELAH PENGALIHAN MENJADI PAJAK DAERAH PADA DINAS PENDAPATAN KOTA PONTIANAK B41111042, yudo Ari Wardana B41111042 yudo
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14364

Abstract

YUDO ARI WARDANA B41111042 ABSTRACT This research purposed to know the effectiveness BPHTB tax income, BPHTB tax contribution to local tax, and what factors that affect the local tax income. Descriptive method is the research compiled to give systematic about the information that come from subject and object of the research. Descriptive research focusing to the systematicaly explanation about the fact which came from researching. The type of data that used in the research is the secondary data in from of local income statement in 4 years period from 2011 "“ 2014 which is obtained from Dinas Pendapatan Daerah Kota Pontianak and the result of the research before. The result of the research is the effectiveness ratio BPHTB income tax on 2011 is 137,68%, on 2012 is 106,22%, on 2013 is 102,71% and on 2014 107,94%, BPHTB contribution tax ratio to local tax on 2011 is 38,10%, on 2012 is 37,54%, on 2013 is 32,16%, and on 2014 is 31,13%, the factors that affect BPHTB income tax ratio potential 2011 is 31,22%, on 2012 is 35,57%, on 2013 is 31,53%, and 2014 is 27,40% collectible ratio on 2011 is 38,10%, on 2012 in 37,54%, on 2013 is 32,16%, and on 2014 is 31,13%, and arrears ratio on 2011 is -37,68%, on 2012 is -6,22%, on 2013 is -2,71%, and on 2014 is -7,94%.
ANALISIS PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 71 TAHUN 2010 PADA LAPORAN KEUANGAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN MELAWI TAHUN ANGGARAN 2011-2013 B41111066, Andrianus Andri adrianus
Jurnal KIAFE Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Undergraduate Program in Accounting, Department of Accounting, Faculty of Economics and Business, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/kiafe.v5i1.14365

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan laporan keuangan SKPD Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi tahun anggaran 2011, 2012, dan 2013 berdasarkan PP No. 71 Tahun 2010, serta kendala-kendala yang dihadapi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi dalam menerapkan PP. No. 71 Tahun 2010 dalam proses penyusunan Laporan Keuangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, teknik analisis data dilakukan dengan konversi laporan keuangan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi tahun anggaran 2011, 2012, dan 2013 berdasarkan PP No. 24 Tahun 2005 dengan mengacu pada PP No. 71 Tahun 2010 serta merekap hasil wawancara untuk mengetahui apa saja kendala SKPD Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi dalam menerapkan PP No. 71 Tahun 2010 dalam proses penyusunan Laporan Keuangan. Hasil penelitian ini menunjukan konversi penyajian laporan keuangan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi dengan PP No. 71 Tahun 2010 yaitu dengan adanya konversi ini Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi dalam menyusun Laporan Keuangan yang mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan yang berbasis akrual. Laporan keuangan yang akan dihasilkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 menjadi bertambah kuantitasnya hingga 5 laporan yaitu Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Secara garis besar Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya SKPD Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi sudah siap untuk mengimplementasikan PP Nomor 71 Tahun 2010 pada proses penyusunan laporan keuangan tahun anggaran 2014. Langkah-langkah awal yang telah dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Melawi dalam mengimplementasikan PP Nomor 71 Tahun 2010, diantaranya: Persiapan SDM melalui sosialisasi dan Bimtek mengenai PP Nomor 71 Tahun 2010. Kata Kunci: Penerapan, Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, Laporan Keuangan

Page 76 of 193 | Total Record : 1926


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 4 No. 1 (2026): April 2026 Vol. 3 No. 3 (2025): December 2025 Vol. 3 No. 2 (2025): August 2025 Vol. 3 No. 1 (2025): April 2025 Vol. 2 No. 4 (2024): October 2024 Vol. 2 No. 3 (2024): July 2024 Vol. 2 No. 2 (2024): April 2024 Vol. 2 No. 1 (2024): January 2024 Vol. 1 No. 3 (2023): JURNAL KAJIAN ILMIAH AKUNTANSI Vol. 1 No. 2 (2023): JURNAL KAJIAN ILMIAH AKUNTANSI Vol. 1 No. 1 (2023): JURNAL KAJIAN ILMIAH AKUNTANSI Vol. 12 No. 3 (2022): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 10 No. 4 (2021): Vol 4 Vol. 11 No. 4 (2021): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 11 No. 2 (2021): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 11 No. 1 (2021): KIAFE Vol. 10 No. 3 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 10 No. 1 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 9 No. 3 (2020): Jurnal Mahasiswa AK Vol. 9 No. 2 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 9 No. 1 (2019): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 8 No. 4 (2019): Jurnal Mahasiswa Akutansi Vol. 8 No. 3 (2019): Jurnal Mahasiswa Akutansi Vol. 8 No. 2 (2019): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 8 No. 1 (2019): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 7 No. 4 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 7 No. 3 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 7 No. 2 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 7 No. 1 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 6 No. 4 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 6 No. 3 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 6 No. 2 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 6 No. 1 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 5 No. 4 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 5 No. 3 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 5 No. 2 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 5 No. 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 4 No. 4 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 4 No. 3 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 4 No. 2 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 4 No. 1 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 3 No. 3 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 3 No. 2 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 3 No. 1 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 2 No. 3 (2013): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 2 No. 2 (2013): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 2 No. 1 (2013): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol. 1 No. 1 (2012): Jurnal Mahasiswa Akuntansi More Issue