cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
BAPALA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal berkala ilmiah mahasiswa yang diterbitkan oleh Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jur. Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unesa. Jurnal ini berisikan publikasi kependidikan, kesastraan, dan kebahasaan.
Arjuna Subject : -
Articles 173 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2018)" : 173 Documents clear
JARGON YANG DIGUNAKAN OLEH SUPORTER PERSEBAYA PURITA AFRIANTI, PUNGKI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu jenis atau hasil dari proses variasi bahasa adalah Jargon. Jargon sendiri merupakan kosakata khusus yang digunakan dalam bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Jargon sering kali digunakan pada komunitas atau kelompok ?kelompok tertentu. Jargon ini bersifat khusus namun masih dapat dipahami oleh masyarakat umum tidak bersifat rahasia. Suporter Persebaya atau yang disebut Bonek mania tentu saja mempunyai berbagai macam jargon yang menjadi ciri khas atau menjadi sebuah sebutan yang sudah tidak asing lagi di telinga sesama Bonek. Bisa jargon yang muncul secara sengaja maupun karena ketidak sengajaan muncul begitu saja atas respon suatu keadaan di lingkungan Bonek. Dalam penelitian ini mempunyai tujuan menghasilkan deskripsi. Bagaimana bentuk dan jenis variasi jargon yang ada di kalangan Bonek, Makna jargon di kalangan Bonek, serta mengetahui Fungsi jargon Bonek yang dominan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, Penelitian deskriptif ini akan mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor-faktor suatau objek. data yang dideskripsikan memaluli metode penganalisisan data penelitian ini adalah metode padan dan metode Agih. Metode padan adalah metode yang dipakai untuk mengkaji atau menentukan identitas satuan lingual penentu dengan memakai alat penentu berada di luar bahasa, terlepas dari bahasa, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan, seperti memperhatikan organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa Sudaryanto,2015:13?14 ). Kata Kunci: Bonek, Jargon, Makna, Fungsi.
KEKUASAAN DALAM NOVEL SEPOHON KAYU DI TENGAH GURUN KARYA HARRY D MOHAN (KAJIAN HEGEMONI ANTONIO GRAMSCI) AMALIYAH, NABILAH
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK KEKUASAAN DALAM NOVEL SEPOHON KAYU DI TENGAH GURUN KARYA HARRY D MOHAN (KAJIAN HEGEMONI ANTONIO GRAMSCI)Kata kunci: Hegemoni, Antonio Gramsci, Konsensus, Kebudayaan, kaum intelektual, negara, novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hegemoni yang terjadi dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan. Menggunakan teori Hegemoni Antonio Gramsci dan mendeskripsikan tentang; a) Hegemoni kebudayaan dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan, b) Peran kaum intelektual dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan, c) Peran negara dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena penelitian ini berupa menafsirkan karya sastra novel dan data yang diperoleh adalah pemaparan tentang bukti-bukti dari hasil analisis novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan menggunakan teori hegemoni dalam bentuk deskripsi. Dapat disimpulkan hasil dari penelitian ini adalah 1) mekanisme konsensus yang terdapat dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun dibentuk oleh penguasa kepada tokoh yang dikuasai, dalam novel kesepakatan yang dibuat oleh penguasa disepakati oleh yang dikuasai sehingga terdapat konsensus. 2) Peristiwa hegemoni kebudayaan yang terdapat dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan meliputi hegemoni budaya berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa. Kebudayaan menjadi kekuatan material bagi masyarakat khusus yang berhasil dilakukan, 3) Peran kaum intelektual yang terdapat dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan dari terdapatnya supremasi kepala sekolah, lembaga sosial atau sekolah. Juga peran guru senior terhadap guru junior yang berhasil dilakukan oleh kaum intelektual, 4) Peran negara dalam novel Sepohon Kayu di Tengah Gurun karya Harry D Mohan terdapat wilayah dari masyarakat sipil, terdapat organisasi dalam formasi sosial yang tidak merupakan didanai oleh negara dan produksi material. ABSTRACT POWER IN THE NOVEL SEPOHON WOOD IN THE MIDDLE WORK OF HARRY D MOHANS WORKS (STUDY OF HEGEMONI ANTONIO GRAMSCI)Keywords: Hegemony, Antonio Gramsci, Consensus, culture, intellectuals, countries, Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel This study aims to find out how the hegemony that occurred in the novel Sepohon Kayu in Tengah Gurun by Harry D Mohan. Using Antonio Gramscis theory of hegemony and describing about; a)Consensus in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan b) Cultural hegemony in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan, c) The role of intellectuals in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan, d) The role of the state in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan. This research uses descriptive qualitative method because this research is in the form of interpreting novel literature and the data obtained is the presentation of the evidence from the analysis of the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan using the theory of hegemony in the form of description. It can be concluded that the results of this study are 1)the consensus mechanism contained in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan was fromed by the ruler to the mastered figure, in the novel the agreement made by the ruler was agreed upon by the masters so that there as consensus. 2)The cultural hegemony events in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan include cultural hegemony based on Javanese peoples beliefs. Culture became a material force for the special community that was successfully carried out, 3) The role of intellectuals in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan from the supremacy of the principal, social institution or school. Also the role of senior teachers towards junior teachers is successfully carried out by intellectuals, 4) The role of the state in the Sepohon Kayu di Tengah Gurun?s novel by Harry D Mohan is a region of civil society, there are organizations in social formation that are not funded by the state and production material.
DEIKSIS DALAM RUBRIK "WAWANCARA" PADA MAJALAH AULA EDISI JANUARI-DESEMBER 2018 KHOLIDAH, NURUL
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Deiksis merupakan penunjukan secara langsung sesuatu dalam peristiwa berbahasa dan memiliki referen yang berubah-ubah. Pada penelitian ini difokuskan pada tiga jenis deiksis, yakni deiksis persona, sosial, dan wacana. Objek dari penelitian ini ialah rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA edisi Januari-Desember 2018. Objek tersebut dianggap memiliki deiksis yang cukup beragam, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) penggunaan deiksis persona dalam rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA, 2) penggunaan deiksis sosial dalam rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA, 3) penggunaan deiksis wacana dalam rubrik ?Wawancara? pada majalah AULA. Metode pengumpulan data yang digunakan ialah metode dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik baca dan catat. Metode penganalisisan yang digunakan ialah metode padan, sedangkan teknik yang digunakan ialah teknik pilah unsur penentu (PUP). Hasil yang didapatkan pada penelitian ini ialah sebagai berikut. 1) Penggunaan deksis persona ditemukan tiga macam yakni deiksis persona pertama dalam bentuk tunggal (?saya?) dan jamak (?kami? dan ?kita?), deiksis persona kedua dalam bentuk tunggal (?kamu?, ?anda?, dan ?engkau?) dan jamak (?kalian?), deiksis persona ketiga dalam bentuk tunggal (?dia?, ?ia?, dan ?beliau?) dan jamak (?mereka?). Faktor yang mempengaruhi penggunaan deiksis tersebut ialah faktor status sosial dan usia. 2) Penggunaan deiksis sosial ditemukan cukup beragam yang secara umum sesuai dengan fungsinya (?kiai?, ?syekh?, ?gus?, dan sebagainya). Status sosial ialah faktor yang paling berpengaruh dalam penggunaan deiksis sosial, selain itu juga ada faktor usia. 3) Penggunaan deiksis wacana ditemukan dalam lima bentuk. Tiga dari bentuk deiksis wacana tersebut termasuk dalam katafora (?begitu?, ?demikian?, dan ?tersebut?), sedangkan dua dari bentuk wacana tersebut termasuk dalam anafora (?begini? dan ?berikut?). Faktor yang mempengaruhi penggunaan deiksis wacana ialah letak acuan yang dituju oleh deiksis itu sendiri. Kata Kunci: deiksis persona, deiksis sosial, dan deiksis wacana. Abstract Deixis is the direct appointment of something in a language event and has a changing referent. In this study focused on three types of deixis, namely personal, social, and discourse deixis. The object of this research is the "Wawancara" rubric in the AULA magazine edition January-December 2018. The object is considered to have quite diverse deviations, so this research aims to describe 1) the use of person deixis in the "Wawancara" rubric in AULA magazine, 2) the use of social deixis in the "Interview" rubric of AULA magazine, 3) the use of deixis discourse in the "Wawancara" rubric in AULA magazine. Method of data collection used is a method of documentation. Data collection techniques used are reading and writing techniques. The analysis method used is the matching method, whereas the technique used is the determining element (PUP). The results obtained in this study are as follows. 1) The use of personel dexis was found to be three types namely the first person deixis in the singular (saya) and plural (kami and kita), the second person deixis in the singular ( kamu, anda, and engkau/?kau?) and plural (kalian), the third deixis in the singular (dia, ia, and beliau) and plural (mereka). Factors affecting the use of such deixis are social and age status factors. 2) The use of social deixis was found to be quite diverse which generally corresponds to the function (?kiai?, ?syekh?, ?gus?, and etc). Status social is the most influential in the use of social deixis, in addition there is also age factor. 3) The use of deixis discourse found in five forms. The three of the form of the deixis discourse are included in the katafora (begitu, demikian and tersebut), while the two are the other forms included in the anafora (begini and berikut). Factors affecting the use of discourse deixis are the references of the deixis itself. Keywords: personal deixis, social deixis, and discourse deixis.
KEETISAN KELOMPOK ANAK DALAN NOVEL ANAK SERI KECIL-KECIL PUNYA KARYA (KKPK) (PERSPEKTIF KARAKTER JOHN GARMO) ANDREAN PRAKESTAWASTI, VERONICA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian sastra anak menggunakan sumber data berupa empat novel anak seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Empat novel tersebut berjudul Ambilkan Bulan, The Five Smart Girls, Say No to Bullying, dan The Evergreen. Novel anak tersebut menunjukkan tindakan tokoh anak yang selalu membantu teman dan mengutamakan temannya. Dilihat dari tindakan tokoh tersebut menunjukkan bahwa anak berkarakter. Tindakan perilaku etis sekolompok anak dalam novel menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai karakter. Nilai-nilai dalam cerita novel dapat diinternalisasinya sebagai pengembangan karakter bagi anak. Sastra anak diciptakan dengan tujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral untuk membentuk karakter anak. diteliti dengan teori sistem. Teori sastra anak ini bukan hanya melihat sastra dari tingkat teks itu sendiri, melainkan tindakan otoritas sosial terhadap teks yang cocok untuk anak-anak. Oleh karenanya pembuatan sastra anak digunakan sebagai media untuk menginternalisasi nilai moral untuk membentuk karakter anak. Karakter tersebut menurut John Garmo ada lima, yaiti kesetiaan, keberanian, kerendahan hati, kebaikkan, dan bersyukur bersyukur. Hasil penelitian ini memamaparkan berbagai tindakan anak yang berkarakter sesuai dengan nilai moral. Karkater tersebut yaitu kesetiaan, keberanian, kerendahan hati, kebaikkan, dan bersyukur. Data hasil analisis menunjukkan bahwa, terdapat enam data kesetiaan, tujuh daya keberanian, enam data kerendahan hati, dua belas data kebaikaan, dan dua data bersyukur. Data tersebut menunjukkan analisis terhadap empat novel anak seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK).
FITUR-FITUR DISTINGTIF PELAFALAN BUNYI BAHASA INDONESIA OLEH YOUTUBER JEPANG (STUDI KASUS: GENKI) , EFENDI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai negara pengakses internet terbanyak nomor lima di dunia, Indonesia sering dijadikan pangsa pasar oleh pengguna media sosial untuk menghasilkan pundi-pundi materi. Salah satunya adalah lewat media sosial Youtube. Pembuat konten (Youtuber), baik dari dalam maupun luar negeri, saling berlomba dalam membuat konten agar dapat menarik minat netizen di Indonesia. Salah satu Youtuber luar negeri yang melakukan hal tersebut ialah Genki. Genki merupakan seorang public figure dari Jepang yang tinggal di Indonesia. Dalam konten yang dibuat terjadi sebuah fenomena campur kode. Dikatakan demikian karena Genki melafalkan dua bahasa secara bersamaan, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Jika diperbandingkan, bahasa Indonesia yang sering digunakan dalam berdialog. Meski tergolong lancar, namun beberapa kali dijumpai perbedaan bunyi dalam bahasa yang dilafalkan.Skripsi yang berjudul Fitur-fitur Distingtif Pelafalan Bunyi Bahasa Indonesia oleh Youtuber Jepang (Studi Kasus: Genki) ini berusaha untuk membedah perbedaan apa saja yang ditemukan dalam pelafalan bahasa Indonesia oleh Genki. Dari penelitian yang sudah dilakukan, perbedaan dibedakan atas tiga jenis, yaitu: (1) perubahan ciri distingtif (bunyi [ u ] menjadi [ ? ], [ ? ] menjadi [ ? ], dan [ ? ] menjadi [ I ], bunyi [ l ] menjadi [ ? ], [ r ] menjadi [ ? ], [ s ] menjadi [ t?s ], dan [ n ] menjadi [ ? ]); (2) pelesapan segmen bunyi (pelesapan bunyi [ ? ], bunyi [ n ], bunyi [ ? ], serta bunyi sertaan [ m ]); dan (3) penambahan segmen bunyi (bunyi [ g ], [ o ], [ ? ], [ I ], dan [ ? ]).Beberapa perbedaan di atas ditemukan di beberapa kondisi. Dalam penelitian ini, perbedaan akan dijelaskan dengan merujuk pada fitur-fitur distingtif yang dimiliki oleh bunyi. Penjabaran fitur-fitur distingtif tersebut nantinya akan berlanjut pada penjelasan perbedaan kondisi antara organ wicara Genki dengan pelafal asli bahasa Indonesia. Tahap selanjutnya perbedaan tersebut akan ditulis dalam bentuk kaidah atau rumus fonologis sesuai dengan prinsip aliran Fonologi Generatif.
IMPLIKATUR DAN PRAANGGAPAN DALAM ACARA WAKTU INDONESIA BERCANDA DI NET TV EPISODE TOURNAMENT APRIL 2018 MAULIDYNA RIYANTO, PUTRI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIMPLIKATUR DAN PRAANGGAPAN DALAM ACARA WAKTU INDONESIA BERCANDA DI NET TV EPISODE TOURNAMENT APRIL 2018Nama : Putri Maulidyna RiyantoNIM : 15020074094Program Studi : Pendidikan Bahasa IndonesiaJurusan : Bahasa dan Sastra IndonesiaFakultas : Bahasa dan SeniNama Lembaga : Universitas Negeri SurabayaPembimbing : Dr. Maria Mintowati, M.PdKata Kunci : Tuturan, Implikatur, Praanggapan, HumorTuturan adalah bentuk komunikasi lisan yang diujarkan si penutur kepada mitra tutur untuk menyampaikan sebuah maksud. Tuturan berperan penting dalam membangun komunikasi yang baik dan lancar. Adanya persamaan latar belakang pengetahuan serta pemahaman konteks tuturan antara si penutur dan mitra tutur, merupakan kunci utama dalam berkomunikasi. Komunikasi yang terjalin antara si penutur dan mitra tutur dalam kehidupan sehari-hari dapat memunculkan implikatur dan praanggapan. Begitu pula dalam tuturan dalam acara televisi, pasti ada implikatur dan praanggapan yang muncul. Salah satu acara yang memiliki tuturan berimplikatur dan berpraanggapan adalah Waktu Indonesia Bercanda di Net TV. Penelitian Pragmatik dengan kajian implikatur dan praanggapan ini, dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah tuturan para pemain Waktu Indonesia Bercanda, dengan datanya berupa tuturan yang mengandung implikatur dan praanggapan. Metode dokumentasi dan metode simak dengan teknik SBLC serta teknik catat, digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Peneliti sebagai instrumen utama, menggunakan instrumen bantu berupa tabel untuk mempermudah penelitian yang dilakukan. Tahapan selanjutnya dalam menganalisis data penelitian, digunakan metode padan ekstralingual dengan teknik hubung banding membedakan (HBB).Dari penelitian ini ditemukan beberapa jenis implikatur dan praanggapan serta makna tuturan berdasarkan jenis dan konteks tuturannya dalam acara WIB. Jenis implikatur yang paling banyak ditemukan dalam acara WIB episode tournament yakni Implikatur Percakapan (IP) menegaskan yang memiliki makna untuk memberikan penekanan terhadap maksud yang ingin disampaikan di penutur kepada mitra tutur. Sedangkan jenis praanggapan yang paling dominan yakni Praanggapan Leksikal (PL) yang bermakna memberikan makna lain dari tuturan yang diucapakan oleh si penutur.
CAMPUR KODE DAN ALIH KODE PADA TUTURAN KELOMPOK MASYARAKAT MULTILINGUAL DI KAMPUNG INGGRIS PARE KEDIRI KHIKMAH, ELYKA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK CAMPUR KODE DAN ALIH KODE PADA TUTURAN KELOMPOK MASYARAKAT MULTILINGUAL DI KAMPUNG INGGRIS PARE KEDIRI Nama : Elyka Khikmah NIM : 15020074049 Program Studi : Pendidikan Bahasa Indonesia Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Bahasa dan Seni Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Dr. Maria Mintowati, M.Pd Kata Kunci : multilingual, kampung inggris, alih kode, campur kode Masyarakat penutur suatu bahasa sangat beragam. Keberagaman bahasa ini muncul karena adanya kebutuhan penutur yang digunakan sesuai dengan situasi dan konteks sosialnya sehingga memungkinkan masyarakat Indonesia menggunakan dan memiliki lebih dari satu bahasa. Masyarakat yang menggunakan lebih dari satu bahasa ini disebut multilingual. Kampung Inggris yang terletak di Desa Telungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri merupakan masyarakat multilingual karena, mereka mengenal dan menggunakan tiga bahasa yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Adanya keberagaman bahasa menimbulkan terjadinya peralihan bahasa maupun penyisipan dari suatu bahasa kebahasa lain, sehingga menyebabkan terjadinya masalah sosiolinguistik yakni alih kode dan campur kode. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud alih kode dan campur kode serta penyebab alih kode dan campur kode pada masyarakat multilingual di kampung Inggris Pare Kediri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yang digunakan untuk memperoleh hasil berupa data tertulis yang bersumber dari penutur-penuturnya. Sumber data penelitian ini adalah tuturan masyarakat multilingual di kampung Inggris. Data penelitian ini adalah tuturan-tuturan berwujud alih kode dan campur kode oleh masyarakat multilingual di kampung Inggris. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah ditemukannya 1) bentuk alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, dari Bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. 2) bentuk campur kode berupa penyisipan kata, perulangan kata dan klausa berasal dari bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Penyisipan frasa berasal dari bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Penyisipan baster yang merupakan perpaduan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dan antara bahasa Jawa dan bahasa Inggris. Selanjutnya penyisipan unsure berwujud idiom berbahasa Inggris. 3) faktor yang melatarbelakangi terjadinya alih kode yaitu pembicara atau penutur, perubahan situasi dan hadirnya pihak ketiga. 4) faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode yaitu pembicara, lawan tutur, keterbatasan padanan kata, inggin menciptakan suasana santai dan pengaruh unsur prestise.
KONJUNGSI PADA TEKS BACAAN BUKU SISWA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) TERBITAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN WULANDARI, DEFI
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak KONJUNGSI PADA TEKS BACAAN BUKU SISWA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) TERBITAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Nama :Defi Wulandari NIM : 15020074040 Prodi :S1/ Pendidikan bahasa dan Indonesia Fakultas :Bahasa dan Seni Universitas :Universitas Negeri Surabaya Pembimbing :Prof. Dr. Kisyani Laksono, M. Hum. Tahun : 2019 Buku siswa seharusnya memiliki keterkaitan antar unsur-unsur kalimat yang beragam. Unsur-unsur kalimat itu dihubungkan melalui penggunaan sebuah konjungsi. Menurut beberapa ahli, konjungsi memiliki berbagai jenis dan fungsi. Keberadaan konjungsi tersebut berguna untuk memperjelas pemahaman pembaca mengenai isi buku, dalam hal ini buku teks pelajaran. Menurut Alwi dkk (1998:440), konjungsi merupakan hubungan perkaitan proposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana. Sebagai upaya tercapainya ketentuan umum Permendiknas tahun 2008 nomor 2 pada pasal 1 ayat (3) maka disusunlah penelitian ini yang bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan jenis, fungsi, dan frekuensi konjungsi yang ada dalam teks bacaan buku siswa kelas X revisi 2016, kelas XI revisi 2017, dan kelas XII revisi 2018 sehingga hasil penelitian dapat digunakan sebagai pertimbangan penulis dalam meningkatkan penggunaan konjungsi dalam bukunya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan bantuan kuantitatif berjenis deskriptif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan dengan mendeskripsikan seta memaparkan data-data yang ada, kemudian data yang ada dianalisis tidak menggunakan prosedur statistik maupun bentuk hitungan lainnya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh (Chaer, 2008:98) yang berbunyi konjungsi atau kata penghubung adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frase dengan frase, antara klausa dengan klausa, atau antara kalimat dengan kalimat. Konjungsi dikelompokkan menjadi 3 bentuk yaitu Koordinatif, Subkoordinatif, dan Antarkalimat. Dari penelitian ini ditemukan bentuk konjungsi 1) koordinatif, 2) subkoordinatif, 3) antarkalimat dalam ketig buku. Jenis konjungsi Koordinatif terbanyak ditemukan didalam buku kelas X1 yaitu sebanyak 19 jenis sedangkan buku kelas XII ditemukan 18 jenis dan yang paling sedikit jenisnya yaitu pada teks bacaan buku kelas X yaitu 8 jenis. Kemudian jenis Subkoordinatif terbanyak terdapat dalam buku kelas X yaitu 25 jenis sedangkan buku kelas XI yaitu 24 jenis dan buku kelas XII yaitu 14 jenis. Konjungsi antarkalimat jenis terbanyak ditemukan didalam teks bacaan dalam buku kelas X yaitu 6 jenis, buku kelas XII terdapat 4 jenis, buku kelas XI terdapat 3 jenis. Fungsi konjungsi koordinatif yang muncul pada buku kelas X terdapat 5 fungsi yaitu meliputi (F1,f2,f3,f4,f8) pada buku kelas XI terdapat 8 fungsi yaitu (F1,f2,f3,f4,f5,f6,f7,f8) pada buku kelas XII terdapat 8 fungsi yaitu (F1,f2,f3,f4,f5,f6,f7,f8). Frekuensi konjungsi Koordinatif dalam teks bacaan buku siswa kelas (X terdapat 259 kali kemunculan konjungsi KO), (XI terdapat 523 kali kemunulan konjungsi KO), (XII terdapat 701 kali kemunculan konjungsi KO). Frekuensi konjungsi Subkoordinatif yang terdapat dalam buku siswa kelas (X terdapat 267kali kemunculan konjungsi SK), (XI terdapat 308 kali kemunulan konjungsi SK), (XII terdapat 163 kali kemunculan konjungsi SK). Frekuensi konjungsi Antarkalimat yang terdapat dalam buku siswa kelas (X terdapat 37 kali kemunculan konjungsi AK), (XI terdapat 9 kali kemunulan konjungsi AK), (XII terdapat 20 kali kemunculan konjungsi AK). Berdasarkan ketiga hal tersebut tampak bahwa pemakaian konjungsi dalam buku siswa kelas X revisi 2016, XI revisi 2017, XII revisi 2018 masih perlu dicermati karena perkembangannya kurang baik. Kata Kunci : Konjungsi, buku siswa Abstract CONJUNGCTION ON INDONESIAN STUDENTS BOOKING READING TEXT OF HIGH SCHOOL LEVELS (HIGH SCHOOL) PUBLISHED MINISTRY OF EDUCATION AND CULTURE. Name : Defi Wulandari NIM : 15020074040 Study Program : S1/ Language Education and Indonsia Faculty of Language and art University : Surabaya State University Advisor : Prof. Dr.Kisyani Lasono, M. Hum Year : 2019 Keyword : Conjungction, Student book Student books should have links between various sentence elements. The sentence elements are connected through the use of a conjunction. According to some experts, conjunctions have various types and functions. The existence of these conjunctions is useful to clarify the readers understanding of the contents of the book, in this case the textbook. According to Alwi et al (1998: 440), conjunction is a linking relationship of propositions that are expressed explicitly by grammatical and semantic elements in the sentences that make up the discourse. In an effort to achieve the general provisions of the 2008 Permendiknas number 2 in article 1 paragraph (3), this study was prepared to identify the forms and types, functions, and frequency of conjunctions in the reading text of students of class X revision 2016, revised XI class 2017 , and revised XII class 2018 so that the results of the study can be used as a consideration for the author in increasing the use of conjunctions in his book. This study used a qualitative approach with descriptive quantitative assistance. Qualitative descriptive research is a research that is conducted by describing the existing data, then the existing data analyzed does not use statistical procedures or other forms of calculation. The theory used in this study is the theory put forward by (Chaer, 2008: 98) which reads conjunctions or conjunctions are words that connect syntactic units, both between words and words, between phrases with phrases, between clauses and clauses , or between sentences with sentences. Conjunctions are grouped into 3 forms: Coordinative, Sub-coordinative, and Inter-Talent. From this study found the form of conjunctions 1) coordinative, 2) sub-coordinative, 3) interfaith in the three books. The most coordinated conjunction types found in the book class X1 are as many as 19 types while the class XII books are found in 18 types and the least types are those in the text reading book class X which is 8 types. Then the most sub-coordinate types are found in class X books, which are 25 types while books in class XI are 24 types and class XII books are 14 types. The most types of interfaith conjunctions found in the reading text in class X books are 6 types, class XII books have 4 types, class XI books have 3 types. The coordinative conjunction functions that appear in class X books have 5 functions, which include (F1, f2, f3, f4, f8) in class XI books, there are 8 functions, namely (F1, f2, f3, f4, f5, f6, f7, f8) in class XII there are 8 functions, namely (F1, f2, f3, f4, f5, f6, f7, f8). Coordinative conjunction frequency in class student text reading text (X there are 259 times the occurrence of KO conjunctions), (XI there are 523 times KO conjunctions), (XII there are 701 occurrences of KO conjunctions). Sub-coordinate conjunction frequency contained in class student books (X is 267 times the emergence of SK conjunctions), (XI there are 308 occurrences of SK SKJ conjunctions), (XII there are 163 occurrences of SK conjunctions). The frequency of intercalms conjunctions contained in class student books (X there are 37 times the appearance of AK conjunctions), (XI there are 9 times the occurrence of AK conjunctions), (XII there are 20 times the appearance of AK conjunctions). Based on these three things, it appears that the use of conjunctions in the 2016 revised class X student book, 2017 revised XI, 2018 revision XII still needs to be examined because the development is not good enough. Keywords: Conjunction, student book
PERKEMBANGAN VERBA BAHASA INDONESIA DALAM KBBI III DAN KBBI V SILFIA IKA ARIYANTI, ELSA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa yang telah dikukuhkan sebagai bahasa negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bahasa masyarakat Indonesia untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebab itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai satu di antara acuan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar selalu diperbarui. Pembaruan KBBI sampai dengan edisi kelima menunjukkan perkembangan bahasa Indonesia. Berdasarkan perkembangan bahasa Indonesia, ditemukan salah satu hal menarik untuk diteliti, yakni verba. Dari berbagai data awal, tampak bahwa terjadi perkembangan verba bahasa Indonesia dari segi jumlah, bentuk, dan makna. Verba disebut penting dalam kalimat karena berpengaruh terhadap keberadaan atau ketiadaan unsur-unsur lain dalam kalimat. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah metode simak. Metode simak dilakukan dengan menyimak setiap lema verba bahasa Indonesia dalam KBBI III dan KBBI V. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik catat. Pemilihan teknik catat didasarkan pada data penelitian yang berupa lema-lema berkategori verba berlambang v yang bersumber dari KBBI III dan V. Hasil penelitian perkembangan verba bahasa Indonesia dalam KBBI diperoleh berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Hasil pertama menunjukkan terdapat perkembangan jumlah verba dalam KBBI. Ditemukan 3146 verba asal dalam KBBI III dan 3120 verba asal dalam KBBI V. Berikutnya ditemukan 2404 verba berafiks dalam KBBI III dan 2303 verba berafiks dalam KBBI V. Jumlah verba berbentuk ulang dalam KBBI III sejumlah 406, sedangkan dalam KBBI V sejumlah 394. Hasil kedua menunjukkan terdapat perkembangan verba asal dalam KBBI. Ditemukan keberadaan verba asal dalam KBBI III dan V diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu keberadaan verba asal tanpa perubahan, pelesapan verba asal, dan perubahan kategori pada verba asal. Hasil ketiga menunjukkan terdapat perkembangan verba turunan dalam KBBI. Ditemukan 322 verba turunan yang bertambah, 9 verba turunan yang berkurang, 591 verba turunan yang melesap pada KBBI V dan 450 verba turunan yang melesap pada KBBI III. Hasil keempat menunjukkan terdapat perkembangan makna verba dalam KBBI. Ditemukan jenis perkembangan makna dengan frekuensi terbanyak adalah adalah perluasan berdasar temuan dalam KBBI, yaitu 1283. Berikutnya ialah perluasan makna berdasar teori, yaitu 28. Selanjutnya ialah penyempitan 7, dan perubahan total 3. Kata Kunci: verba, verba asal, verba turunan, perkembangan makna verba, KBBI
PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA PEMBELAJARAN MENULIS TEKS DRAMA SMP NEGERI 1 DRIYOREJO DHANA ISWARA, ARYA
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh beberapa rumusan masalah, diantaranya sebagai berikut: (1) Bagaimana proses penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran menulis teks drama siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Driyorejo Tahun Ajaran 2018/2019, (2) Bagaimana hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Driyorejo Tahun Ajaran 2018/2019 dalam pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw, (3) Bagaimana respon siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Driyorejo Tahun Ajaran 2018/2019 dalam pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran menulis teks drama siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Driyorejo Tahun Ajaran 2018/2019, (2) Hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Driyorejo Tahun Ajaran 2018/2019 dalam pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan metode kooperatif jigsaw, (3) Respon siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Driyorejo Tahun Ajaran 2018/2019 dalam pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan metode kooperatif jigsaw. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan metode deskriptif kualitatif. Jenis eksperimen yang digunakan adalah eksperimen semu atau Quasi Experimemt dengan desain pembelajaran Pre-test dan Post-test. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, penilaian unjuk kerja, angket. Observasi bertujuan untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa saat pembelajaran. Penilaian unjuk kerja bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa saat pretes dan postes. Angket bertujuan untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan metode kooperatif tipe Jigsaw. Hasil penelitian ini pada proses penerapan kooperatif tipe jigsaw menunjukkan aktivitas guru dalam pembelajaran menulis teks drama tanpa menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw atau sebelum perlakuan (treatment) yang berada pada baik sebesar 38,46% dan yang berada pada sangat baik sebesar 61,54% sedangkan aktivitas guru dalam pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw atau setelah perlakuan (treatment) yang berada pada baik sebesar 41,7% yang berada pada sangat baik sebesar 58,3%. Serta aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks drama tanpa menggunakan metode kooperatif jigsaw yang berada pada cukup sebesar 26,7%, lalu yang berada pada baik sebesar 53,3% dan yang berada pada sangat baik sebesar 20% sedangkan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks drama dengan menggunakan metode kooperatif jigsaw yang berada pada baik sebesar 53,3% dan yang berada pada sangat baik sebesar 46,7%. Hasil belajar siswa saat pre-test keseluruhan adalah 1858 dengan rata-rata kelas sebesar 53,8 dan hasil belajar siswa saat post-test keseluruhan adalah 2730,6 dengan rata-rata kelas sebesar 86,6 dengan perbedaan selisih nilai keseluruhan 872,6 dan perbedaan selisisih rata-rata kelas 32,8. Nilai keseluruhan kelas mengalami peningkatan sebesar 46,9% dan rata-rata kelas juga mengalami peningkatan sebesar 60,9%. Respon siswa terhadap pembelajaran menulis teks drama dengan metode kooperatif jigsaw, 90,6% menyatakan bahwa pembelajaran menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw membantu, menyenangkan, dan tidak membosankan dan 9,4% menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw Kata Kunci: Kooperatif, Jigsaw, Menulis, Teks Drama