cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu@institutkristenrealbatam.ac.id
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : https://doi.org/10.53547/775swq73
Core Subject :
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika is an open-access, peer-reviewed, and nationally accredited journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia. The journal is registered under ISSN 2685-3485 (online) and ISSN 2685-3515 (print) and publishes articles in both Indonesian and English. The primary focus of DIEGESIS is Pentecostal-Charismatic theology, approached from academic, interdisciplinary, and contextual perspectives. Its scope includes biblical and hermeneutical studies, church history, spirituality, and the relationship between theology and issues of society, culture, Christian education, psychology, and religions. DIEGESIS is nationally accredited at SINTA 2 level (Decree No. 295/C/C3/KPT/2026) for the 2025–2029 period. It is published twice a year, in June and December, and welcomes contributions from academics and theological practitioners, both nationally and internationally. All manuscripts that meet the submission requirements are evaluated by expert reviewers through a double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "vol. 8 no. 2: desember 2025" : 6 Documents clear
Koreksi Paulus terhadap Spiritualitas Eskapis dalam 1 Korintus 15 Rynaldi Mahardika Situmeang
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/s3b4ha30

Abstract

This article examines Paul’s correction of escapist spirituality in 1 Corinthians 15 by situating the doctrine of resurrection within the historical, cultural, and theological context of the Corinthian community. Influenced by Greek dualism, some believers rejected bodily resurrection and reinterpreted salvation as a purely spiritual reality detached from the body and history. Through an apologetic argument, Paul affirms the resurrection of Christ as a historical and eschatological event that constitutes the foundation of Christian faith and the guarantee of believers’ resurrection. The concept of soma pneumatikon underscores that resurrection does not abolish the body but entails an ontological transformation under the power of the Spirit. Within the framework of inaugurated eschatology, resurrection is presented as a reality already initiated in Christ while awaiting its final consummation. Consequently, resurrection functions as a theological correction to escapist, individualistic, and ahistorical forms of spirituality. Keywords: 1 Corinthians 15; new creation; Pauline eschatology; resurrection of the body; escapist spirituality Abstrak Artikel ini memperlihatkan koreksi Paulus terhadap spiritualitas eskapis dalam 1 Korintus 15 dengan menempatkan ajaran kebangkitan dalam konteks historis, kultural, dan teologis jemaat Korintus. Dipengaruhi oleh dualisme filsafat Yunani, sebagian jemaat menolak kebangkitan tubuh dan mereduksi keselamatan menjadi pengalaman rohani yang terlepas dari tubuh dan sejarah. Melalui argumentasi yang bersifat apologetik, Paulus menegaskan kebangkitan Kristus sebagai peristiwa historis dan eskatologis yang menjadi dasar iman Kristen serta jaminan kebangkitan orang percaya. Konsep soma pneumatikon menunjukkan bahwa kebangkitan bukan penghapusan tubuh, melainkan transformasi ontologis tubuh di bawah kuasa Roh. Dalam kerangka inaugurated eschatology, kebangkitan dipahami sebagai realitas yang telah dimulai di dalam Kristus sekaligus menantikan penggenapan akhir. Dengan demikian, kebangkitan berfungsi sebagai koreksi teologis terhadap spiritualitas yang eskapis, individualistik, dan a-historis. Kata kunci: 1 Korintus 15; ciptaan baru; eskatologi Paulus; kebangkitan tubuh; spiritualitas eskapis
The Tension between Divine Sovereignty and Human Agency in Pentecostal Theology: Miracles, Healing, and the ‘Word of Faith’ Movement Upa Silaen; Ibiang O. Okoi; Foret Nicholson
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/pv6qz253

Abstract

Pentecostal theology has long emphasized the dynamic interplay between divine sovereignty and human agency, particularly in the realms of miracles, healing, and faith. However, the rise of the Word of Faith movement with its teachings on “claiming” blessings through faith has intensified theological and pastoral tensions within Pentecostalism. This study examines the biblical, historical, and theological foundations of Pentecostal views on healing, contrasting classical Pentecostal perspectives with the more controversial Word of Faith approach. It further analyzes how this core tension manifests in the gendered dynamics of global healing ministries, where women’s Spirit-empowered authority often exists in paradoxical tension with institutional patriarchy. While early Pentecostals like William Seymour and Charles Parham viewed healing as a sovereign act of God, albeit responsive to faith, later figures such as Kenneth Hagin and Kenneth Copeland framed faith as an almost mechanistic force that obligates divine intervention. The paper explores key biblical passages (e.g., Mark 5:34, James 5:14-16, and 2 Corinthians 12:7-10) to assess whether the Word of Faith movement aligns with Scripture or risks reducing God’s power to human manipulation. It also engages critiques from Pentecostal scholars (e.g., Gordon Fee, Amos Yong) who warn against the movement’s potential for spiritual abuse, particularly in its tendency to blame believers for unanswered prayers. The study further analyzes pastoral implications, including theodicy concerns when healing does not occur, the ethical pitfalls of prosperity-centered preaching, and the need for an ecclesial practice that affirms the Spirit’s sovereign distribution of healing gifts across gender lines. Ultimately, the paper argues for a balanced Pentecostal theology that upholds both God’s sovereignty and human responsibility, one that makes theological space for the full exercise of charismatic gifts by all believers, thereby avoiding the extremes of passive fatalism and presumptive “faith formulas.” By reclaiming the early Pentecostal emphasis on the Spirit’s unpredictability and the biblical theology of suffering, and by confronting its own gendered paradoxes, contemporary Pentecostalism can navigate these tensions with greater theological integrity and pastoral sensitivity. Keywords: divine healing; divine sovereignty; pentecostal theology; word of faith movement Abstrak Teologi Pentakosta sejak lama menekankan keterkaitan dinamis antara kedaulatan ilahi dan agensi manusia, khususnya dalam ranah mujizat, kesembuhan, dan iman. Namun, kemunculan gerakan Word of Faith dengan ajarannya tentang “mengklaim” berkat melalui iman telah memperuncing ketegangan teologis dan pastoral di dalam Pentakostalisme. Studi ini menelaah dasar biblika, historis, dan teologis dari pandangan Pentakosta tentang kesembuhan, dengan membandingkan perspektif Pentakosta klasik dan pendekatan Word of Faith yang lebih kontroversial. Studi ini juga menganalisis bagaimana ketegangan mendasar tersebut termanifestasi dalam dinamika pelayanan kesembuhan di berbagai konteks global yang bercorak gender, di mana otoritas perempuan yang diberi kuasa oleh Roh seringkali berada dalam ketegangan paradoksal dengan struktur patriarki institusional. Sementara para Pentakosta awal seperti William Seymour dan Charles Parham memandang kesembuhan sebagai tindakan kedaulatan Allah, meskipun tanggap terhadap iman, tokoh-tokoh kemudian seperti Kenneth Hagin dan Kenneth Copeland membingkai iman sebagai suatu kekuatan yang hampir mekanistik yang mewajibkan intervensi ilahi. Artikel ini mengeksplorasi bagian-bagian Alkitab kunci (misalnya Markus 5:34; Yakobus 5:14–16; dan 2 Korintus 12:7–10) untuk menilai apakah gerakan Word of Faith sejalan dengan Kitab Suci atau justru berisiko mereduksi kuasa Allah menjadi manipulasi manusia. Tulisan ini juga berinteraksi dengan kritik para sarjana Pentakosta (misalnya Gordon Fee, Amos Yong) yang memperingatkan potensi penyalahgunaan rohani dalam gerakan tersebut, khususnya kecenderungannya menyalahkan orang percaya atas doa yang tidak dijawab. Studi ini selanjutnya menganalisis implikasi pastoral, termasuk persoalan teodise ketika kesembuhan tidak terjadi, jebakan etis dari pengkhotbahan yang berpusat pada kemakmuran, serta kebutuhan akan praktik gerejawi yang menegaskan distribusi kedaulatan karunia kesembuhan oleh Roh melintasi batas-batas gender. Akhirnya, artikel ini berargumen bagi suatu teologi Pentakosta yang seimbang yang menegakkan baik kedaulatan Allah maupun tanggung jawab manusia yang memberi ruang teologis bagi pelaksanaan penuh karunia-karunia karismatik oleh semua orang percaya, sehingga menghindari ekstrem pasif fatalistik maupun “rumus iman” yang presumtif. Dengan memulihkan penekanan Pentakosta awal pada ketidak-terdugaan Roh dan teologi penderitaan yang alkitabiah, serta dengan menghadapi paradoks gendernya sendiri, Pentakostalisme kontemporer dapat menavigasi ketegangan ini dengan integritas teologis dan kepekaan pastoral yang lebih besar. Kata kunci: kesembuhan ilahi; kedaulatan ilahi; teologi Pentakosta; gerakan Word of Faith
Peirasmos and Dokimion in the New Testament: Contextual-Theological Analysis and Contemporary Implications Wennar; Djone Georges Nicolas; Peter Oyugi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/k917qv76

Abstract

This study investigates the Koine Greek terms peirasmos (temptation) and dokimion (testing) in the New Testament to clarify the widespread confusion among contemporary Christians regarding the origins, purposes, and theological significance of trials. Employing a qualitative method grounded in textual analysis, linguistic study, and hermeneutics, this research examines the etymology, distribution, and contextual use of both terms across selected New Testament passages. The study reveals that peirasmos frequently denotes a challenge that intends to weaken or disrupt faith, whereas dokimion refers to a refining test designed to strengthen and validate spiritual character. Nevertheless, the findings also show that peirasmos, when responded to in faith, can function as a means through which dokimion takes place, producing endurance and spiritual maturity. In light of contemporary challenges such as materialism, moral relativism, digital pressure, and identity fragmentation, this study demonstrates the relevance of these biblical concepts for shaping Christian responses to modern ethical and spiritual struggles. By integrating linguistic, historical, and contextual-theological analysis, this research provides a framework for understanding how believers can transform temptation into opportunities for growth and spiritual resilience. The study contributes to contextual theology by bridging biblical interpretation with practical implications for Christian life in a rapidly changing world. Keywords: crisis of faith; dokimion and peirasmos; modern era spirituality; spiritual maturity; weak loyalty Abstrak Penelitian ini mengkaji istilah Yunani Koine peirasmos (pencobaan) dan dokimion (ujian) dalam Perjanjian Baru untuk memperjelas kerancuan pemahaman di kalangan umat Kristen masa kini mengenai asal-usul, tujuan, dan signifikansi teologis dari berbagai tantangan iman. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi linguistik, analisis teks, dan pendekatan hermeneutika, penelitian ini menelusuri akar kata, distribusi, serta konteks penggunaan kedua istilah tersebut dalam beberapa bagian Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peirasmos sering merujuk pada tantangan yang bertujuan melemahkan atau menjatuhkan iman, sedangkan dokimion menggambarkan proses pengujian yang dimaksudkan untuk memurnikan dan menguatkan karakter rohani. Temuan juga mengindikasikan bahwa peirasmos, apabila dihadapi dengan iman, dapat menjadi sarana bagi terjadinya dokimion yang menghasilkan ketekunan serta kematangan rohani. Dalam konteks modern seperti materialisme, relativisme moral, tekanan digital, dan krisis identitas, konsep-konsep ini terbukti relevan untuk membentuk respons Kristen terhadap pergumulan etis dan spiritual masa kini. Dengan mengintegrasikan analisis linguistik, historis, dan teologi kontekstual, penelitian ini memberikan kerangka untuk memahami bagaimana orang percaya dapat mengubah pencobaan menjadi kesempatan pertumbuhan rohani. Penelitian ini berkontribusi pada teologi kontekstual dengan menjembatani pemahaman biblika dengan tantangan praktis kehidupan Kristen kontemporer. Kata kunci: dokimion dan peirasmos; kematangan rohani; kesetiaan lemah; krisis iman; spiritual era modern
Kasih, Damai, dan Keadilan sebagai Dasar Etika Demonstrasi dalam Perspektif Kristen Estheria Kurnia; Yanto Paulus Hermanto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/dvq3ks02

Abstract

The phenomenon of demonstrations within the modern socio-political landscape places Christians in an ethical dilemma between the call to pursue justice and the commitment to uphold love and peace. Using a qualitative approach through literature study and contextual theological reflection, this research examines how Christian ethics can serve as a normative framework for Christian participation in public protests. The findings demonstrate that demonstrations carried out with pure motives, integrity of faith, and non-violent principles are consistent with the values of the Gospel. Furthermore, this study offers a theological reinterpretation that the concept of love cannot be reduced to passive, gentle, or conflict-avoiding attitudes, but may also be expressed through prophetic actions such as firm protest, sharp critique, and bold speech aimed at upholding truth and defending human dignity. In this sense, love functions as a moral force that does not generate chaos but awakens public moral consciousness, restrains injustice, and promotes more humane social transformation. Thus, this study expands the discourse of public theology by asserting that love, peace, and justice constitute the ethical foundation that guides Christians in maintaining the integrity of their faith within the public sphere. Keywords: ethics of demonstration; Christian ethics; integrity of faith; love and peace; public awareness Abstrak Fenomena demonstrasi dalam konteks sosial-politik modern menempatkan orang Kristen pada dilema etis antara panggilan memperjuangkan keadilan dan komitmen terhadap kasih serta damai. Penelitian ini, melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan refleksi teologi kontekstual, menelaah bagaimana etika Kristen dapat menjadi kerangka normatif bagi partisipasi umat dalam aksi demonstrasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa demonstrasi yang dilakukan dengan motivasi murni, integritas iman, dan prinsip non-kekerasan selaras dengan nilai-nilai Injil. Lebih jauh, penelitian ini menawarkan reinterpretasi teologis bahwa konsep kasih tidak dapat direduksi pada sikap pasif, lembut, atau menghindari konflik, tetapi dapat terwujud dalam ekspresi profetis seperti protes tegas, kritik tajam, dan suara lantang yang bertujuan menegakkan kebenaran serta membela martabat manusia. Dalam pengertian ini, kasih berfungsi sebagai energi moral yang bukan menciptakan kekacauan, tetapi membangkitkan kesadaran publik, menahan laju ketidakadilan, dan mendorong perubahan sosial yang lebih manusiawi. Dengan demikian, penelitian ini memperluas diskursus teologi publik dengan menegaskan bahwa kasih, damai, dan keadilan merupakan fondasi etika demonstrasi yang membimbing orang Kristen menjaga integritas iman di ruang publik. Kata kunci: etika berdemostrasi; etika Kristen; integritas iman; kasih dan perdamaian; kesadaran publik
Spirit-Led Formation: Pentecostal Pneumatology and Children’s Spirituality in the Digital Era Didimus Sutanto B. Prasetya; Johnly Mewengkang; Gunawan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/bd3fte71

Abstract

This study explores how Pentecostal pneumatology provides a theological foundation for shaping children’s spirituality in the digital era. The research addresses the problem of spiritual superficiality among Generation Alpha, which grows up in a technology-saturated environment that both connects and distracts. Using a qualitative theological approach that integrates hermeneutic and grounded theory methods, this study analyzes biblical texts (Acts 2; Joel 2) and recent scholarly findings in Pentecostal and Christian education. The results show that the Holy Spirit continues to work powerfully in digital contexts, forming children as active participants in God’s redemptive mission. A Spirit-led transformative framework is proposed, encompassing experiential, relational, cognitive, ethical, and missional dimensions that guide Christian education and family discipleship. The study concludes that technology can serve as a sacred medium for faith formation when it is directed by the Holy Spirit and supported by a Spirit-centered pedagogy. Keywords: Christian education; digital culture; Pentecostal pneumatology; spiritual formation; spirituality of children Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pneumatologi Pentakosta memberikan dasar teologis untuk pembentukan spiritualitas anak di era digital. Permasalahan utama yang diangkat adalah meningkatnya kecenderungan superfisialitas iman di kalangan Generasi Alfa yang tumbuh dalam budaya digital yang sarat dengan konektivitas, namun sering kali miskin kedalaman rohani. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kualitatif dengan metode hermeneutik dan grounded theory, yang menggabungkan kajian eksegesis terhadap teks biblika (Kisah Para Rasul 2 dan Yoel 2) dengan analisis kepustakaan atas penelitian-penelitian terkini dalam bidang teologi Pentakosta dan pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roh Kudus tetap berkarya secara aktif dalam konteks digital, membentuk anak-anak sebagai peserta yang berdaya rohani dalam misi penebusan Allah. Melalui kerangka Spirit-Led Transformative Formation, ditemukan bahwa pembentukan spiritualitas anak dapat dikembangkan melalui lima dimensi, yaitu pengalaman, relasional, kognitif, etis, dan misioner. Dengan demikian, teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi iman, tetapi dapat menjadi media kudus untuk pendidikan rohani apabila diarahkan oleh bimbingan Roh Kudus serta didukung oleh pendekatan pedagogis yang berpusat pada karya-Nya. Kata kunci: budaya digital; formasi rohani; pendidikan Kristen; pneumatologi Pentakosta; spiritualitas anak
Maria Pasca Kematian Yusuf dan Tanggung Jawab Filial Yesus: Analisis Naratif Yohanes 19:25-27 Roy Haries Ifraldo Tambun
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/agy9gt67

Abstract

This study examines John 19:25–27 as a manifestation of Jesus' filial responsibility toward Mary who was a widow after Joseph's death. Through a narrative analysis of the four Gospels, this study shows that Mary was most likely a widow before Jesus began His public ministry. This conclusion is supported by six cumulative biblical indicators: the disappearance of the figure of Joseph from the Gospel narrative after Luke 2, the mention of Jesus as the "son of Mary" in Mark 6:3 which is unusual in Jewish patriarchal culture, the beginning of Jesus' ministry at the age of about thirty, Joseph's absence from the Canaanite wedding and throughout Jesus' ministry, Joseph's absence in the trial and crucifixion narratives,  and Jesus' actions on the cross entrusting Mary to her beloved disciples. The expressions "Mother, this is your son" and "This is your mother" are understood not to be mere practical arrangements, but to relational declarations that form new filial bonds and affirm the concept of the spiritual family. This research enriches the biblical understanding of widowhood in the context of first-century Judaism and provides a theological basis for the development of a sensitive, inclusive, and communal-oriented pastoral ministry of the church toward widows. Keywords: churches and widows; Joseph's death; Mary as widow; Jesus and Mary; John 19:25-27 Abstrak Penelitian ini mengkaji Yohanes 19:25–27 sebagai manifestasi tanggung jawab filial Yesus terhadap Maria yang berstatus janda setelah kematian Yusuf. Melalui analisis naratif terhadap keempat Injil, studi ini menunjukkan bahwa Maria kemungkinan besar telah menjadi janda sebelum Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Kesimpulan ini didukung oleh enam indikator alkitabiah yang bersifat kumulatif: hilangnya figur Yusuf dari narasi Injil setelah Lukas 2, penyebutan Yesus sebagai “anak Maria” dalam Markus 6:3 yang tidak lazim dalam budaya patriarkal Yahudi, dimulainya pelayanan Yesus pada usia sekitar tiga puluh tahun, ketidakhadiran Yusuf dalam peristiwa pernikahan Kana dan sepanjang pelayanan Yesus, ketiadaan Yusuf dalam narasi pengadilan dan penyaliban, serta tindakan Yesus di kayu salib yang mempercayakan Maria kepada murid yang dikasihi. Ungkapan “Ibu, inilah anakmu” dan “Inilah ibumu” dipahami bukan sekadar pengaturan praktis, melainkan deklarasi relasional yang membentuk ikatan filial baru dan menegaskan konsep keluarga rohani. Penelitian ini memperkaya pemahaman biblika mengenai status janda dalam konteks Yahudi abad pertama dan menyediakan dasar teologis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang sensitif, inklusif, dan berorientasi pada tanggung jawab komunal terhadap para janda. Kata Kunci: gereja dan janda; kematian Yusuf; Maria sebagai janda; Yesus dan Maria; Yohanes 19:25-27

Page 1 of 1 | Total Record : 6