cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_imaji@uny.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni
ISSN : 16930479     EISSN : 25800175     DOI : -
IMAJI is a journal containing the results of research/non-research studies related to arts and arts education, including fine arts and performing arts (dance, music, puppetry, and karawitan). IMAJI is published twice a year in April and October by the Faculty of Languages and Arts of Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with AP2SENI (Asosiasi Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik se-Indonesia/Association of Drama, Dance, and Music Education Study Programs in Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI" : 8 Documents clear
PROSES KREATIF PERUPA I MADE SUPENA I Gde Suryawan
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.618 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (1) Biografi Supena, (2) Konsep karya Supena, (3) Proses kreatif Supena, (4) Periodisasi karya Supena,  dan  (5)  aspek  teks  hingga  konteks  pada  karya  Supena.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan telaah dokumen terhadap proses kreatif I Made Supena. Hasil penelitian sebagai berikut. (1) Supena adalah salah satu perupa dari Singapadu, Bali. Ia berasal dari keluarga seniman. Ayahnya, I Ketut Muja, adalah seorang pematung. Kakaknya, I Wayan Jana, juga seorang pematung. Adiknya, I Ketut Sugantika, adalah seorang pelukis. Sementara itu iparnya, Ni Nyoman Sani, merupakan seorang pelukis. (2) Konsep karya Supena adalah menggali persoalan alam dan kehidupan untuk direpresentasikan secara formalistik. (3) Selain melukis Supena juga mengembangkan gagasannya dalam    bentuk patung, instalasi, dan Performance Art. Sebagai seorang perupa Supena  lebih memilih bekerja secara individual. (4) Priodisasi karya Supena adalah tradisional, formalistik, dan emosi. (5) Karya Supena dapat dibaca berdasarkan pendekatan teks yang menyangkut unsur-unsur seni rupa dan nilai estetis yang terkandung dalam karya, serta dapat pula dibaca konteksnya dengan menarik pemaknaan yang ada dibalik teks karya Supena.
KAJIAN ETIKA, ETIS DAN ESTETIKA DALAM KARYA SENI RUPA Djoko Maruto
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.238 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3629

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karya seni rupa menyangkut garis, warna, bentuk, dan komposisi yang memenuhi kriteria etika, etis, dan estetika. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data berupa lukisan dan patung yang dipilih secara proporsional dan  purpossive sampling. Analisa data dilakukan proses ini ada tiga hal utama yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi sebagai suatu yang jalin-menjalin pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data berlangsung. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) garis lebih berperan sebagai pembentuk kontur objek (outline) dan juga pembentuk orang, bangunan, pohon, awan, serta gunung. Dalam hal ini, garis menjadi sarana pengungkapan ide, suasana, dan kesan; (2) warna yang digunakan cenderung warna campuran, misalnya primer dan sekunder untuk memberi kesan kematangan melalui warna-warna, seperti merah, kuning, hijau, ungu,  dan  oranye;  (3)  bentuk  gambar  cenderung menampilkan figur manusia secara realis; (4)  komposisi cenderung menampilkan pusat perhatian sehingga objek dapat terfokus; (5) karya yang memenuhi kriteria etika, etis, dan estetika, terutama karya  rupa  yang  ada  unsur  erotisme  atau  nude,bergantung  pada  teks, konteks,serta kegunaannya.
TINJAUAN REPERTOAR MUSIK SIMFONI DALAM PEMBELAJARAN ORKESTRA DI JURUSAN PENDIDIKAN SENI MUSIK FBS UNY - Fu'adi
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2721.137 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3640

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tinjauan repertoar musik simfoni untuk mengembangkan pembelajaran orkestra di Jurusan Pendidikan Seni Musik FBS UNY. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Repertoar merupakan salah satu cara untuk menemukan bagian-bagian pokok dan karakter tertentu dalam karya musik simfoni. Ilmu Bentuk Musik dan Ilmu Sejarah Musik dapat dijadikan sebagai landasan teori bahwa simfoni Klasik karya W.A. Mozart, seperti Simfoni nomor 38 dalam D Major, dan karya simfoni Romantik karya Franz Schubert, seperti Simfoni nomor 2 dalam Bes Mayor, umumnya memiliki bentuk sonata (allegro) dan memiliki karakter gaya yang meliputi tekstur, nuansa kontras, melodi, variasi ritme, dinamika, dan perubahan warna suara. Tinjauan repertoar dalam pembelajaran orkestra di Jurusan Pendidikan Seni Musik FBS UNY, yang menggunakan karya-karya musik simfoni sebagai materi pembelajaran, dapat berkembang  sebagai  sebuah orkestra pendidikan.
TENUN GRINGSING ORELASI MOTIF, FUNGSI, DAN ARTI SIMBOLIK Sri Utami
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.126 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3632

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tenun gringsing, baik dari sisi korelasi motif, fungsi, maupun arti simboliknya. Hasil penelitian sebagai berikut. Kain  tenun Gringsing  terdapat  di  desa Tenganan,  Pegringsingan, Karangasem, Bali.Tenun Gringsing tergolong dalam Wastra Wali atau Kain Bebali (Kain Bali) sebagai kain sakral yang sangat sederhana baik dalam penampilan maupun pembuatannya. Berbagai kain tenunan hasil produksi masyarakat Tenganan Bali, tidak hanya digunakan sebagai pakaian saja tetapi juga dikaitkan dengan berbagai kepercayaan. Ia ikut mengiringi berbagai ritual keagamaan, adat, dan daur hidup manusia. Di samping itu, kain Bali, khususnya kain Gringsing, dipercaya sebagai sarana pengobatan. Kain ini dianggap sakral karena dipercaya dapat memberikan petuah, petunjuk, harapan, dan kesembuhan. Kesemuanya diungkapkan dengan berbagai nama, warna, corak, dan  ragam hias kain.
PERTUNJUKAN WAYANG “PAKELIRAN PADAT” SEBAGAI LTERNATIF MEMBANGKITKAN RASA MENYUKAI WAYANG DAN MUSIK GAMELAN Cipto Budi Handoyo
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.777 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3149

Abstract

Pertunjukan wayang  dan  gamelan di  berbagai tempat, termasuk di lingkungan  kampus  Universitas  Negeri  Yogyakarta  (UNY),  seringkali berlangsung memprihatinkan. Penonton dari kalangan mahasiswa biasanya sangat sedikit. Gejala  ini menarik untuk dikaji  lebih  lanjut,  terutama berkaitan dengan faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya ketertarikan mahasiswa terhadap keseniaan wayang dan pertunjukan gamelan. Penelitian yang telah dilakukan pada Mei 2012 menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap wayang dan gamelan ternyata positif. Hal ini berbeda secara nyata (signifikan) dengan keadaan sebelumnya (beberapa bulan sebelum adanya pertunjukan wayang dan gamelan), selisih mean antara sebelum dan sesudah pertunjukkan sebesar 5,133 dengan signifikansi 0,012 lebih kecil daripada 0,05. Fakta di atas menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan persepsi mahasiswa terhadap wayang dan gamelan secara signifikan. Oleh karena persepsi dalam penelitian ini dimaknai bahwa apabila positif artinya menyukai/mencintai, maka terjadinya peningkatan persepsi antara sebelum dan sesudah pertunjukan wayang dan gamelan menjelaskan bahwa telah terjadi peningkatan rasa menyukai/mencintai  terhadap wayang dan gamelan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa peningkatan rasa suka terhadap pertunjukan wayang dan gamelan disebabkan pagelaran tidak berlangsung semalam suntuk, seperti biasanya wayang digelar. Pertunjukan wayang yang tidak berlangsung semalam suntuk  inilah yang dinamakan dengan “Pakeliran Padat”. Dengan  demikian,  pergelaran  wayang  dengan  “Pakeliran  Padat”  dapat dikembangkan sebagai alternatif membangkitkan rasa menyukai/mencintai terhadap wayang dan gamelan.
SEJARAH MUSIK KERONCONG DI SURABAYA Rully Aprilia Zandra
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.517 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3634

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah musik keroncong di Surabaya. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) pengamatan, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi. Sumber data yang digunakan berasal dari (1) narasumber/informan, (2) data tertulis, (3) foto, dan (4) rekaman musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keroncong telah ada di Surabaya sejak awal abad ke-19 dan berkembang hingga sekarang. Perkembangannya sangat dinamis sehingga menghasilkan musik keroncong yang memiliki karakteristik khas. Sejak abad ke-20 perkembangan musik keroncong di Surabaya dipengaruhi oleh pasang surut suasana politik. Pengaruh politik terhadap musik keroncong terlihat pada bentuk dan gaya penyajiannya.
DHAKON: NILAI HISTORIS, SIMBOLIS, DAN EKSPERIMENTAL DALAM UPAYA PELESTARIAN I Gusti Ngurah Edi Basudewa
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.495 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3637

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai historis, simbolis, dan eksperimental dari dhakon sebagai permainan tradisional. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Dhakon berasal dari kata  dhaku  yang mendapat akhiran  -an. Dhaku berarti mengaku bahwa sesuatu itu miliknya. Jadi, dalam permainan ini dikandung tujuan bahwa isi permain berusaha mengaku bahwa sesuatu itu adalah miliknya. Dhakon secara internasional dinamakan mancala  yang berasal dari bahasa Arab 'Naqala.' Kata ini berarti bergerak. Menurut dugaan, asal permainan ini berasal dari Jordania setelah ditemukan papan mainan yang berusia 7000-5000 tahun sebelum masehi. Sementara itu, di Afrika permainan ini  juga dikenal dengan nama oware. Di Jawa permainan tradisional dhakon menjadi permainan yang popular. Permainan ini sering dimainkan oleh masyarakat biasa sampai kaum bangsawan atau priyayi. Selain itu, terdapat pula dhakon pusaka yang memiliki nilai simbolis. Dhakon merupakan salah satu unsur budaya yang harus dilestarikan. Salah satu cara yang dapat dilakukan  adalah dengan eksperimental.  Eksperimental merupakan upaya untuk mengangkat nilai-nilai yang  terkandung dalam permainan tradisional untuk diekspresikan menjadi sebuah karya seni dengan media tertentu yang menampilkan kebaruan, tetapi tanpa mengurangi nilai historis dan simbolisnya. Tujuan utamanya adalah untuk pelestarian  saja.
Ida Bagus Candra Yana Ida Bagus Candra Yana
Imaji Vol 12, No 1 (2014): IMAJI FEBRUARI
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.308 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i1.3635

Abstract

Abstrak Penelitian  ini  bertujuan  mendeskripsikan  bentuk  visual  dance- photography pada Tari Baris Tunggal dengan menggunakan teknik strobo-light. Hasil  penelitian sebagai  berikut.  Hasil  pemotretan  dance  photography  dapat dihadirkan sebagai karya seni fotografi melalui pemilihan efek tematis dan pendekatan kreatif-estetik. (1) Pemilihan fokus pemotretan pada gerakan aktor, sebagai pola dasar kreasi, diwujudkan sebagai karya seni fotografi ekspresi atas pertimbangan estetik ide kreatif (ideasional) dan kemampuan teknis pemotretan (teknikal). (2) Teknik pemotretan berorientasi pada implementasi praktis sehingga dihasilkan tema karya foto tercipta berbentuk  freezed, blurred,  dan  multiple- images.  (3) Karya foto tercipta, selain mempunyai nilai estetik ekstrinsik juga mempunyai nilai estetik  intrinsik yang baik. Akibatnya, hasil penciptaan dance photography  ini bukan hadir dalam bentuk yang dokumentatif belaka namun merupakan penghadiran karya  seni  fotografi ekspresi pada  tataran kreatif estetik

Page 1 of 1 | Total Record : 8