cover
Contact Name
Muhammad Farkhan
Contact Email
farkhan@uinjkt.ac.id
Phone
+6285881159046
Journal Mail Official
alturats@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Tarumanegara, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan Banten, Indonesia 15419
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Buletin Al-Turas
ISSN : 08531692     EISSN : 25795848     DOI : https://dx.doi.org/10.15408/bat
JOURNAL BULETIN ALTURAS (ISSN 0853-1692; E-ISSN: 2579-5848) is open access journal that is published by Faculty of Adab and Humanities, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. It serves to disseminate research and practical articles that relating to the current issues on the study of history, literature, cultures, and religions. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines by using Bahasa Indonesia, English, and Arabic.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas" : 10 Documents clear
Al-Nahwu 'Inda al-Bashriyyiin wa al-Kufiyyiin (al-Qarn al-Awwal ila al-Tsalits al-Hijriy) Bachmid, Ahmad
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.589 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4052

Abstract

كانت في نشأة النحو العربي أدوار، الدور الأول الوضع والتكوين، وهذا من دور البصرة، وهي أول مدينة عينت بالنحو واللغة، تبدأ مدرسة البصرة من أبي أسود الدؤالي الذي توفي بها سنة 67هــ  إلى عهد الخليل بن أحمد (ت 175 هـ). ولقد ظهر اللحن في صدر الإسلام بسبب اختلاط العرب وامتزاجهم بالأعاجم، مما جعل علماء البصرة يحرصون على رسم أوضاعها خوفا عليها من الفناء والذوبان في اللغة الأعجمية. الطبقة الأولى من البصريين تبدأ من عهد نصر بن عاصم (ت 89 ه) إلى يحى بن يعمر (ت 129 ه)، والطبقة الثانية من البصريين فى الدور الأول تبدأ هذه الطبقة من عهد عبد الله بن إسحاق (ت 117 ه) إلى عهد أبى عمرو بن العلاء (ت 154 ه). الدور الثانى : دور النمو والنشوء والارتقاء، وهذا من دور البصرة والكوفة، وقد سبقت البصرة بنحو مائة عام الكوفة التي جاءت بعدها لتأسس مذهبا خاصا في النحو. تقابل الطبقة الثالثة من البصريين الطبقة الأولى من الكوفيين، ومن أشهر علمائها أبو جعفر الرؤاسي (ت 175 هــ) ومعاذ الهراء (ت 178 هــ)، ومن علماء البصريين في هذا الدور الأخفش الأكبر (ت 172 ه)  وسيبويه (ت 180 ه). الدور الثالث  دور النضج والكمال، لقد بلغ النحو نضجه وكماله فأصبحت القضايا النحوية علما مستقلا---Abstrak Dalam perkembangan ilmu nahwu, terdapat beberapa fase, fase pertama peletakan dan penyusunan. Ini berpusat di Bashrah, sejak peletakan pertama oleh Abu al-Aswad sampai al-Khalil ibn Ahmad. Pada waktu itu lahn telah tersebar luas sehingga menuntut mereka untuk segera mengkodifikasi nahwu. Terjadinya lahn diseabkan oleh interaksi bangsa arab dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Periode pertanma bashrah dimulai pada masa Nasr Ibn Ashim (w.89 M) sampai masa Yahya Ibn Ya'mur (w. 129 H). Periode kedua Bashrah dimulai dari masa Abdullah Ibn Ishaq (w. 117 H) Sampai masa Amr Ibn al-Ala (w. 154 H). Kedua, masa pertumbuhan, yaitu masa perkembangan di mana  nahwu bukan hanya berkembang di Bashrah melainkan pula di Kufah. Tokoh Kufah pada fase ini antara lain Abu Ja’far al-Ru’asi (w. 175 H) dan Muazd al-Harra (w. 178 H), sedangkan tokoh Bashrah antara lain al-Akhfasy al-Akbar (w. 172 H) dan Imam Sibawaih (w. 180 H).   Ketiga, fase kematangan dan penyempurnaan, dimana ilmu nahwu telah telah dikodifikasi oleh ulama-ulama di kedua kota tersebut. 
Hambatan Membaca Aksara Arab Bagi Anak Disleksia di Sanggar Baca Jendela Dunia Karlina Helmanita
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.553 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4047

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hambatan anak disleksia ketika belajar membaca aksara Arab dengan melihat jenis disleksia yang dialami responden, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi anak disleksia, memberikan metode alternatif guna meminimalisir hambatan membaca aksara Arab bagi anak-anak disleksia; mengetahui lebih dekat tahapan membaca yang dicapai anak diseleksia, sampai memberikan perlakuan (treatment) yang dapat membantu anak disleksia membaca aksara Arab secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tehnik pengumpulan data secara deduktif-induktif secara bolak-balik sampai data dianggap cukup dan dapat mengantarkan pada temuan penelitian. Karenanya proses pengumpulan data menggunakan teknik observasi, rekaman, dan partisipasi aktif kepada 2 orang anak disleksia di Sanggar Baca Jendela Dunia. Temuan penelitian ini merekomendasikan kepada 1) Pelaku pendidikan non formal---guru ngaji, TK dan TP Alquran, dan mentor atau relawan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang menangani baca tulis latin maupun Arab--- secara lebih sistematis, terprogram dalam menangani anak-anak disleksia ketika membaca aksara Arab, termasuk melalui baca al-Quran; 2) Orangtua dalam mendidik, membimbing, mengawasi, dan memberikan perhatian terhadap cara mengatasi hambatan membaca aksara Arab dapat ditangani secara setara dengan baca tulis latin; 3) Para penggiat di bidang linguistik Arab hendaknya dapat mengembangkan pendekatan, perlakuan (treatment) yang tepat untuk anak-anak disleksia, khususnya dalam penanganan kegiatan membaca aksara Arab. ---Abstract The goal of this research is to find out the handicaps of child’s dyslexia in learning to read Arabic letters by observing the type of dyslexia undergone by respondents, indentifying the handicaps occurred to dyslexia, providing alternative method in order to minimize the handicaps in learning Arabic letters for dyslexia; to get close to know reading steps achieved by dyslexia, giving treatment that can help dyslexia in learning Arabic letters continuesly. This research uses qualitative method by collecting deductive-inductive data adequately to come into a conclusion of this research. Therefore, the process of collecting data is by using observation, recording, and actively participation for two children dyslexia in Sanggar Baca Jendela Dunia. The research findings can give recommendations as follows: 1) informal educators, such as islamic teachers, kindergarten, and Al-Qur’an learning institution, and mentor or volunteers of Social Reading Institution (Taman Bacaan Masyarakat) who can handle Arabic reading-writing systematically and well-organized to cope with dyslexia in reading Arabic letters, including to read Al-Qur’an; 2) Parents in educating, guiding, observing, and to give attention to overcome the handicaps in reading Arabic letters can be handled equally to Latin alphabets; 3) The practioners of Arabic linguists should develop effective approach and  treatment for dyslexia, especially in handling to read Arabic letters.  DOI: 10.5281/zenodo.556799
Pengaruh Perang Dunia II Terhadap Revolusi Mesir 1952 Shalahuddin al-Ayubbi
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.016 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4045

Abstract

Abstrak Pendudukan Mesir oleh Napoleon, Kaisar Prancis, pada tahun 1798 memperkenalkan dunia Arab dengan peradaban modern. Selain menjajah, Prancis juga mengenalkan produk-produk peradaban yang baru. Alhasil, orang Islam mulai mengenal berbagai wacana terbaru di masa itu. Turki sebagai penguasa dunia Islam tidak tinggal diam. Ia mengutus Muhammad Ali Pasha untuk mengusir Prancis dari Mesir. Setelah melalui peperangan yang melelahkan akhirnya Prancis  dapat  dikalahkan.  Tak  lama  kemudian, Muhammad Ali mentahbiskan diri  sebagai penguasa Mesir dan melanjutkan proyek pembaruan yang sebelumnya diletakkan oleh Prancis. Dunia Islam kembali bergolak, paska kekalahan blok Jerman dalam Perang Dunia I pada 1918, dimana Turki tergabung di dalamnya. Mesir jatuh ke tangan Inggris sebagai bagian dari pemenang perang. Hingga awal Perang Dunia II, Mesir masih berada di tangan Inggris. Hal ini ditunjukkan dengan dijadikannya Mesir sebagai pangkalan perang Sekutu ketika mengalahkan tentara Jerman di front Afrika Utara pada bulan November 1942. Perang Dunia II diakhiri dengan kemenangan Sekutu dan kekalahan Jerman dan pendukungnya. Meskipun Mesir tidak terlibat langsung, pengaruh PD II sangat kental dalam menumbuhkembangkan semangat nasionalisme untuk bebas dari cengkeraman penguasa lokal yang menjadi wakil dari Inggris. Selain itu, kemenangan Rusia sebagai salah satu peserta PD II, ikut membawa wacana sosialisme ke Mesir yang diadopsi oleh gerakan Opsir Bebas sebagai ideologi dan nilai dasar pergerakannya. Selanjutnya, Opsir Bebas yang telah bekerja sama dengan Ikhwanul Muslimin menjadi aktor intelektual dan penggerak bagi rakyat Mesir untuk menjemput revolusi pada tahun 1952.---Abstract The french emperor, Napoleon, who inhabited Egypt, had introduced  the modern civilization of Arab  in 1798 to the world. Besides, Franch also introduced the modern products. As the result, many muslims began to have a new view of the time. Turk as a new ruler of muslims world had to take a part for it. It delegated Muhammad Ali Pasha to expelled Franch from Egypt. After finishing the exhausting war, he finally conquered French. Soon, Muhammad Ali Pasha confirmed himself as a new ruler of Egypt and continued the new project which was planned by Franch. World of Islam began to flared up after Germany had been defeated during the World War I in 1918, where Turk joined in it. Egypt were handed down to England as the winner. By the beginning of World War II, Egypt were still controlled by England. It can be seen from the Egypt where allied force base was put in it during the defeat of Germany in North Africa on November 1942. World War II was ended by the allies glory and the the loses of Germany and its supporters. Despite of Egypt had not involved, however, the effects of world War II had arisen the nationalism to get rid of local ruler as the British representative. In addition to this, the glory of Russia as one of the participants of World War II had brought a new view of socialism into Egypt which was adapted by free movement as the basic ideology and values. Next, the free movement opsir who cooperated with Ikhwanul Muslimin became the intellectual actor and locomotive for people in  Egypt to have revolution in 1952. DOI : 10.5281/zenodo.556797
Translation Accuracy of English Idiomatic Expression into Indonesian in “Big Hero 6” Film Subtitle by Lebah Ganteng Fitri Iskandar
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.983 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4051

Abstract

Abstract This article discusses about the types of idiomatic expression and the translation accuracy of English idiomatic expression into Indonesian in “Big Hero 6” film subtitle translated by Lebah Ganteng by using qualitative descriptive method. The writer analyses the data by classifying the type of idiomatic expressions based on McCarthy and O’Dell’s theory about the types of idiom, giving explication toward the translation strategy of idiomatic expression that is done by the translator based on Mona Baker’s theory about translation strategy of idiom, and analyzing the translation accuracy of English idiomatic expression translation into Indonesian considering the appropriate of the context of film and related theory about accuracy-rating assessment by Nababan. As the result, the types of idiomatic expression applied in that film are compound, verb +object, prepositional phrase, and whole clause and sentence. The translator seems prefer to use omission of entire idiom, paraphrasing, and using idiom of similar meaning and form strategy in translating idiom expression. ---Abstrak Tulisan ini membahas tentang jenis-jenis ungkapan idiom dan keakurasian terjemahan subtitle idiom dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam film “Big Hero 6” yang diterjemahkan oleh tim Lebah Ganteng dengan menggunakan metode deskriptif. Penulis mengklasifikasi jenis ungkapan idiom berdasrkan teori   McCarthy dan O’Dell, mengenai jenis-jenis idiom, dengan memberikan eksplikasi terhadap strategi penerjemahan yang dilakukan berdasarkan teorinya Mona Baker, Strategi Penerjemahan Idiom. Di samping itu penulis juga menganalisis keakurasian penerjemahan ungkapan idiom dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan konsep Penilaian Penerjemahan yang diajukan oleh Nababan. Hasil dari pembahasan tentang penerjemahan idiom yang ada dalam film tersebut, penulis menyimpulkan bahwa penerjemah tampaknya lebih sering menggunakan penghilangan idiom, memparafrasa, dan menggunakan kesamaan idiom antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. DOI : 10.5281/zenodo.556810
Peranan Pangreh Praja di Tanah Partikelir Batavia 1900-1942 Siswantari, Siswantari
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.263 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4046

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang peranan pangreh pradja di tanah partikelir di Batavia. Pendapat para ahli selama ini lebih banyak mengungkapkan bahwa Pangreh Pradja menjalani peranan dualisme, disatu pihak kedudukannya merupakan bagian dari pemerintah Kolonial Belanda, namun dipihak lain kedudukannya merupakan bagian dari struktur kekuasaan tuan tanah. Karena itu Pangreh Pradja lebih condong untuk memperhatikan kepentingan tuan tanah. Ketika terjadi pemberontakan di tanah partekelir, Pangreh Pradja menjadi sasaran kemarahan petani, seperti kasus pemberontakan di Condet dan Tanggerang. Wilayah Batavia hampir keseluruhannya merupakan tanah partikelir, yang menarik di tanah ini bahwa tidak semuanya di tanah partikelir Batavia terjadi pemberontakan petani. Dari penelitian penulis dapat diketahui bahwa tidak semua pada tanah partikelir Batavia terjadi pemberontakan,  disebabkan lokasi tanah partikelir di Batavia dekat dengan pemerintah pusat. Karena itu masalah keamanan dan kesejahteraan penduduk didalamnya menjadi sorotan pemerintah, yang membuat  Pangreh Pradja kinerjanya sangat disorot pemerintah. Hal lainnya yang menyebabkan tidak terjadinya pemberontakan di tanah partikelir adalah: Untuk kasus tanah partikelir Kebayoran, yang diangkat menjadi kepala desa adalah ulama yang dihormati---Abstract This article discusses about the role of pangreh pradja in tanah partikelir Batavia. Most of the experts tend to exposed that Pangreh Pradja had dualism role, on the one hand his role as part of Dutch colonial, on the other hand he also had role as the landlord. That is why he tent to show his attention for the landlord.  When the revolt broke out in tanah partikelir, Pangreh Pradja became the victim of the farmer hatred, such as the revolt in Condet and Tangerang. Most of the Batavia were nearly became Tanah Partikelir, where not all the land in Batavia had occured revolution done by farmers. From this article, the writer found that not all tanah partikelir in Batavia had occured revolution. It is becaused the location of tanah partikelir Batavia was near from central government. Therefore, the security and prosperity of people became the main focus of the government, which attract government for Pangreh Pradja role. The other things which avoid revolution in tanah partikelir Batavia: for this case Tanah Partikelir Kebayoran, which was appointed as the head of village was the respected ulama. So that the revolution can be avoided.DOI : 10.5281/zenodo.556798
Sejarah dan Peranan Masjid Gammalamo Jailolo Halmahera dalam Menyingkap Jejak Warisan Budaya Kesultanan Jailolo Novita Siswayanti
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.718 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4049

Abstract

AbstrakMasjid Gammalamo adalah Masjid pertama dan tertian yang telah berdiri di Jailolo Halmahera. Masjid Gammalamo sebagai salah satu gedung-gedung bersejarah yang melambangkan jejak sosial dan budaya warisan Jailolo Kesultanan dalam penyebaran Islam dan penyiaran yang tergabung dalam Maloko Kie Raha empat Kesultanan Ternate di Maluku Utara, Tidore, Jailolo, dan ditandai. Penelitian pada Masjid Gammalamo dilakukan dengan pendekatan historis dan arkeologis dalam menelusuri sejarah masjid, mengungkapkan arsitektur yang unik dari bangunan dan simbolisme yang terkandung di dalamnya dan mengungkapkan warisan budaya Jailolo Kesultanan yang masih disimpan dalam peran Islam siaran.---Abstract Gammalamo Mosque is the oldest and the first mosque that have stood in Jailolo Halmahera. Gammalamo mosque as one of the historic buildings that symbolize the inherited social and cultural traces Jailolo Sultanate in the spread of Islam and broadcasting incorporated in Maloko Kie Raha four sultanates of Ternate in North Maluku, Tidore, Jailolo, and Bacan. Research on Gammalamo Mosque is done with historical and archaeological approach in tracing the history of the mosque, revealing the unique architecture of its buildings and the symbolism contained in them and reveal the cultural heritage of the Sultanate Jailolo which is still preserved in the role of Islam broadcast.DOI : 10.5281/zenodo.556802
Eksistensi Perempuan dalam Novel Mudhakkirāt Ṭabībah Karya El Saadawi dan Layar Terkembang Karya Alisjahbana Deffi Syahfitri Ritonga
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.636 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4048

Abstract

Abstrak Penelitian ini menemukan bahwa eksistensi diri bukan merupakan kodrati bawaan sejak lahir, namun dibentuk dari kesadaran pribadi yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Kesimpulan besar penelitian ini sekaligus juga membuktikan bahwa karya sastra bukanlah sebuah benda budaya otonom yang berdiri sendiri, melainkan sebuah penggambaran dialektika panjang dengan banyak unsur  kehidupan dan keilmuan. Misalnya budaya, agama, dan kehidupan sosial, yang memungkinkan terjadinya kemiripan antara karya sastra suatu negara dengan karya sastra negara lainnya. ---Abstract The study found that the self-existence is not an innate, but it is constructed from the personal consciousness influenced by the social environment. A major conclusion of this research while also proving that a literary work is not an autonomous cultural objects that stand alone, but rather a portrayal of a long dialectic with many elements of life and science. For example, cultures, religions, and social life, which allow the occurrence of similarities between a country's literature with literary works in other countries.DOI : 10.5281/zenodo.556800
Muslim Kamboja di Bawah Rezim Komunis Khmer Merah 1975-1979 Dirga Fawakih
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.499 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4044

Abstract

Abstrak Tulisan ini bertujuan menganalisa mengenai apa motif diskriminasi dan bagaimana kebijakan rezim Khmer Merah terhadap etnis dan agama minoritas di Kamboja,  di  mana  etnis  Cham-Melayu   yang  notabennya  beragama  Islam termasuk di dalamnya. Selain itu skripsi ini juga ingin melanjutkan tulisan P.B Lafont yang dalam artikelnya belum menjawab mengenai apa motif diskriminasi yang dilakukan Khmer Merah terhadap umat Islam di Kamboja. Penelitian ini bersifat analytical history, maka dari itu penulis menggunakan metode penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian sejarah pada umumnya, yakni, heuristik, verifikasi, interpretasi,dan historiografi. Dalam penelitian ini penulis mendapatkan temuan-temuan baru terkait motif yang melatarbelakangi diskriminasi Khmer Merah  terhadap  umat  Islam  di  Kamboja.  Selain  itu  penulis  juga  menemukan fakta-fakta terkait kebijakan rezim Khmer Merah terhadap etnis dan agama minoritas di Kamboja. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat melengkapi penelitian-penelitian terdahulu yang belum sempat menjawab permasalahan yang menjadi fokus kajian tulisan ini.---AbstrakThis article aim at analyzing the descrimination motive and the policy of Cham regime toward the religion and etnique minority in Cambodia, where Cham-Malay  etnique are mostly muslims.  Besides, this article also wants to contoinue the previous article of P.B Lafont which still did’t answer about the descrimination motive done by the Cham toward muslims in Cambodia. This article uses historical approach, the writer uses the common methode mostly done by many historians, the heuristics, verivication, interpretation, and historiography. In this article, the writer found new findings relating to the motive supporting the Cham descrimination toward Muslims in Cambodia. In addition to this, the writer found new facts relating to the policy of Cham regime toward religion and etnique minority in Cambodia. Therefore, this article is expected to accomplish the previous research which couldn’t answer the problem which becomes the focus of this article. DOI : 10.5281/zenodo.556796
Ba'dhu al-Qadhaya al-Balaghiyyah al-Muta'alliqah fi al-Qur'an al-Karim Tahqiq wa dirasah li ahad al-abwab al-Waridah fi kitabi fath al-Khabir Zanuar Anwari
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.3 KB) | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4058

Abstract

ملخص البحثتنوّعت الدراسات التي تناولت القرآن الكريم من جوانبه المتعدّدة على أيدي المتخصّصين بها. والغاية الأسمى من تلك الدراسات هي البرهنة على حقيقة أنّ القرآن الكريم هو معجزة خالدة. ومن أهمّ تلك الدراسات ما تناولت الجانب البلاغيّ من القرآن، فدرايته من الشروط الضرورية لمن أراد أن يفسّر شيئا من القرآن الكريم. وقد نشط العلماء بالتأليف في هذا المجال قديما وحديثا، سواء أولئك الذين أفردوا مباحث البلاغة في كتاب خاصّ أم الذين أدخلوها ضمن مباحث علوم القرآن. والشيخ محمّد محفوظ الترمسي (1285-1338 هـ) واحد من بين هؤلآء العلماء المحدثين البارزين في هذا الميدان. ألّف الشيخ كتابا في علم التفسير، سمّاه بـ"فتح الخبير بشرح مفتاح التفسير"وهو شرح لمنظومة في علم التفسير لأحد العلماء المشهورين من بلاد أفريقيا، الشيخ عبد اللّه فودي النيجيري المغربيّ. والكتاب المشار إليه لم يزل في شكله المخطوط، ولم يحقّق بعد. هذا البحث محاولة متواضعة للتطرّق إلى الوجوه البلاغيّة والمتعلّقة بالمعاني منها خصوصا، التي أوردها الشيخ محفوظ في كتابه وآراءه حول تلك القضايا.---Abstrak Salah satu diantara deretan ulama kontemporer yang ternama dalam bidang ini adalah Syaikh Muhammad Mahfudz al-Tarmasi (1285-1338 H). Salah satu karya beliau dalam bidang ilmu tafsir adalah kitab “FATH AL-KHABIR BI SYARH MIFTAH AL-TAFSIR “ merupakan sebuah kitab yang memberikan penjelasan (syarh) terhadap kitab nadham (syair) dalam disiplin ilmu tafsir karangan seorang ulama terkenal dari Afrika bernama Syaikh Abdullah foudi an-Nijeri al-Maghribi. Karangan Syaikh Muhammad Mahfudz al-Tarmasi ini masih berupa naskah dalam bentuk manuscript yang belum dikaji keotentikannya serta belum dicetak secara modern. Penelitian yang penulis lakukan ini merupakan bentuk usaha pertisipatif untuk lebih menyingkap aspek-aspek retorik yang dikandung kitab tersebut khususnya hal-hal yang terkait dengan disiplin ilmu ma’ani (salah satu cabang ilmu retorika bahasa Arab yang mengkonsentrasikan diri pada pembahasan arti kata, pengertiannya dalam suatu ungkapan, serta penggunaannya disesuaikan dengan konteks yang ada), serta pendapat-pendapat yang dikemukakan Syaikh Mahfudz al-Tarmasi terkait kasus-kasus yang ada di dalamnya.
Identitas Historis Orang Loloda di Pesisir Halmahera Hingga Pasca Era Reformasi Indonesia 1999-2010 Abd. Rahman
Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v22i2.4043

Abstract

Abstrak Tujuan dari paper ini adalah untuk menjelaskan perjuangan orang-orang Loloda dalam mencari kembali identitas dirinya di Halmahera Maluku Utara, di mana sejarah menjadi landasan berpikir dan bertindak dalam mencapai tujuannya bahkan sampai sekarang. Perjuangan orang Loloda itu mulai semakin gencar seiring dengan berlakunya undang-undang otonomi daerah nomor 22 tahun 1999 sampai hari ini. Semarak diberitakan bahwa tokoh-tokoh adat masyarakat Loloda menuntut kabupaten tersendiri lepas dari Kabupaten Halmahera Utara (Loloda Utara) dan Barat (Loloda Selatan) dengan nama ”Kabupaten Loloda Pasifik”. Isu lain yang berkembang ialah bahwa sampai saat ini masyarakat Loloda belum menikmati kekayaan sumber daya alamnya sendiri yang melimpah dan diabaikan. Mereka mulai kembali mencari identitas diri lewat sejarahnya yang hingga kini masih dianggap kabur dan sarat diskriminasi. Sikap disintegrasi pun mulai muncul dari yang sebelumnya berskala kabupaten menjadi berskala propinsi. Mereka ingin melepaskan diri, keluar dari Propinsi Maluku Utara dan menyatakan diri siap bergabung dengan Propinsi Sulawesi Utara apabila aspirasinya tidak terpenuhi. Pertanyaannya adalah bagaimana hubungan antara sejarah daerah ini dengan munculnya tuntutan perubahan status Loloda dari kecamatan ke kabupaten baru yang diharapkan.---Abstract The purpose of this paper is to describe the struggle of Loloda people to find their true identity in Halmahera, North Maluku, where the history of the foundation of thingking and acting in achieving its goals even now. The struggle of people Loloda formulate his identity began to become more frequent, they are accompanied by a search history in the area of the sea and the Maluku Island. In addition since, num. 22th 1999 along with the beginnings of the issue of autonomy in Indonesia until now, lively reported that traditional leaders of society Loloda sue the district of its own apart from the district North Halmahera (North Loloda) and west (South Loloda) with the name “District of Loloda Pasific”. Another growing issue is that until now, people Loloda not enjoy the wealth of its own natural resources are abundant and ignored. They started back in search for identity through history which is still considered to be vague and full of discrimination. Attitude began to emerge from the disintegration of the previously district-wide scale to the provinces, where they want to break away, out of North Maluku province and declared themselves ready to join the North Sulawesi province. The question which then must be answered is, what is the relationship between the local history of this region with the aspiration of the Loloda people to form a new district even want to join with other provinces.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 1 (2025): Buletin Al-Turas Vol. 31 No. 1 (2025): Buletin Al-Turas Vol. 30 No. 2 (2024): Buletin Al-Turas Vol 30, No 2 (2024): Buletin Al-Turas Vol. 30 No. 1 (2024): Buletin Al-Turas Vol 29, No 2 (2023): Buletin Al-Turas Vol 29, No 1 (2023): Buletin Al-Turas Vol 28, No 2 (2022): Buletin Al-Turas Vol 28, No 1 (2022): Buletin Al-Turas Vol 27, No 2 (2021): Buletin Al-Turas Vol 27, No 1 (2021): Buletin Al-Turas Vol 26, No 2 (2020): Buletin Al-Turas Vol 26, No 1 (2020): Buletin Al-Turas Vol 25, No 2 (2019): Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 1 (2019): Buletin Al-Turas Vol 25, No 1 (2019): Buletin Al-Turas Vol. 24 No. 2 (2018): Buletin Al-Turas Vol 24, No 2 (2018): Buletin Al-Turas Vol 24, No 1 (2018): Buletin Al-Turas Vol. 24 No. 1 (2018): Buletin Al-Turas Vol 23, No 2 (2017): Buletin Al-Turas Vol. 23 No. 2 (2017): Buletin Al-Turas Vol 23, No 1 (2017): Buletin Al-Turas Vol 22, No 2 (2016): Buletin Al-Turas Vol 22, No 1 (2016): Buletin Al-Turas Vol. 22 No. 1 (2016): Buletin Al-Turas Vol 21, No 2 (2015): Buletin Al-Turas Vol 21, No 1 (2015): Buletin Al-Turas Vol 20, No 2 (2014): Buletin Al-Turas Vol 20, No 1 (2014): Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas Vol 19, No 1 (2013): Buletin Al-Turas Vol 18, No 2 (2012): Buletin Al-Turas Vol 17, No 1 (2011): Buletin Al-Turas Vol 16, No 3 (2010): Buletin Al-Turas Vol 16, No 2 (2010): Buletin Al-Turas Vol 16, No 1 (2010): Buletin Al-Turas Vol 15, No 3 (2009): Buletin Al-Turas Vol 15, No 1 (2009): Buletin Al-Turas Vol 14, No 2 (2008): BULETIN AL-TURAS Vol 14, No 1 (2008): Buletin Al-Turas Vol 13, No 2 (2007): Buletin Al-Turas Vol 13, No 1 (2007): Buletin Al-Turas Vol 12, No 3 (2006): Buletin Al-Turas Vol 12, No 2 (2006): Buletin Al-Turas Vol 12, No 1 (2006): Buletin Al-Turas Vol 11, No 3 (2005): Buletin Al-Turas Vol 11, No 2 (2005): Buletin Al-Turas Vol 11, No 1 (2005): Buletin Al-Turas Vol 10, No 3 (2004): Buletin Al-Turas Vol 10, No 2 (2004): Buletin Al-Turas Vol 10, No 1 (2004): Buletin Al-Turas Vol 9, No 2 (2003): Buletin Al-Turas Vol 9, No 1 (2003): BULETIN AL-TURAS Vol 8, No 1 (2002): Buletin Al-Turas Vol 7, No 2 (2001): BULETIN AL-TURAS Vol 7, No 1 (2001): BULETIN AL-TURAS Vol 6, No 1 (2000): BULETIN AL-TURAS Vol 5, No 2 (1999): BULETIN AL-TURAS Vol 5, No 1 (1999): BULETIN AL-TURAS Vol 4, No 1 (1998): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 3 (1996): Buletin Al-Turas Vol 2, No 2 (1996): BULETIN AL-TURAS Vol. 2 No. 2 (1996): BULETIN AL-TURAS Vol 2, No 1 (1996): Buletin Al-Turas Vol 1, No 2 (1995): Buletin Al-Turas Vol 1, No 1 (1995): Buletin Al-Turas More Issue