cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2017)" : 9 Documents clear
Pengantar Volume 11/2 pegantar Jurnal
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1358

Abstract

-
KRISIS EKOLOGI GLOBAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM Muh. Syamsudin
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1353

Abstract

This paper discusses the most essential aspect in developing environment, which is the preservation of equilibrium between natural and social environments. This balance can be achieved through rising an awareness toward equilibrium principles and avoiding destructive attitudes. For Muslim, there is an excellent teaching from the Quran: “But seek, through that which Allah has given you, the home of the Hereafter; and [yet], do not forget your share of the world. And do good as Allah has done good to you. And desire not corruption in the land. Indeed, Allah does not like corrupters”. The appreciation of Muslim attitudes upon this verse opens up the possibility to create awareness among them on the important of preserving environments. This implies that those who practices the teachings of Islam should have a more sense of ecological crisis than to those who do not enough understanding of the teachings of Islam.Dalam tulisan ini digambarkan bahwa hakikat pokok dalam pengembangan lingkungan hidup adalah terpeliharanya keseimbangan alam dan keseimbangan lingkungan hidup sosial.Ini bisa tercapai jika akal dan nafsu terkendali megindahkan azas keseimbangan dan terhindar sikap merusak (destruktif). Petunjuk lain bagi umat Islam adalah Surat al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. Penghayatan sikap Muslim ini membuka kemungkinan bagi sikap hidup memelihara kelestarian lingkungan hidup. Selain itu, “Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka, agar mereka kembali (jalan yang benar)” (QS. Ar. Ruum, 41).Bahkan lebih lanjut, masyarakat yang memiliki sikap hidup Muslim ini harus lebih peka terhadap penanggulangan krisis ekologi dibandingkan dengan masyarakat yang kurang menghayati agama.Keywords: ecological crisis, globalization, and Islamic teachings.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KORBAN BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006 MENJADI DIFABLE DAKSA Astri Hanjarwati; Muh. Aris Marfai; M. Pramono Hadi; R. Rijanta
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1354

Abstract

The magnitude of the risk due to a disaster depends on several factors, namely the hazard (natural hazard), vulnerability, and capacity. The earthquake that occurred in 2006 in Bantul District caused the death toll, damage to the building, and the victim who suffered severe injuries to become people with disability. The purpose of this study is to analyze the factors causing earthquake victims to be people with disability. Questionnaires were distributed to 130 respondents, using simple random sampling technique. Based on the result of the research, the factors causing difable daksa are (1) threats: all difable daksa live in earthquake prone areas, (2) vulnerability: house building made from material that easily collapsed, (3) capacity: have knowledge and means of disaster mitigation, (4) community behavior during earthquake disaster: people do not know how to safely handle earthquake disaster.Besarnya risiko akibat suatu bencana tergantung pada beberapa faktor, yaitu ancaman (natural hazard), kerentanan (vulnerability)dan kapasitas/ kemampuan(capacity). Gempa bumi yang terjadi tahun 2006 di Kabupaten Bantul menyebabkan korban meninggal dunia, kerusakan bangunan dan korban yang mengalami luka parah sehingga menjadi difable daksa. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor-faktor penyebab korban bencana gempa bumi menjadi difable daksa. Kuesioner di sebar kepada 130 responden, dengan teknik simple random sampling. Berdasarkan pada hasil penelitian faktor-faktor penyebab menjadi difable daksa adalah (1) ancaman: semua difable daksa tinggal pada daerah rawan bencana gempa bumi, (2) kerentanan: bangunan rumah terbuat dari material yang mudah roboh, (3) kapasitas/ kemampuan: tidak mempunyai pengetahuan dan sarana mitigasi bencana, (4) perilaku masyarakat ketika terjadi bencana gempa bumi: masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara aman menghadapi bencana gempa bumi.Key Word: Earthquake, Difabel, Capability and Ri
DISKURSUS PEMBANGUNAN MANUSIADALAM PERDA SYARÎ’AH Ahmad Muhlasul
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1345

Abstract

Since its emergence, sharia nuanced regulations reap controversy. They are lately suspected as a part from project of International khilafah or even regarded as a part from project of radicalization laden with the smell of sectarian. There’s not little academic who regards that the existence of perda sharia as something that is contra productive and defies with the concept of nationalism intimated with Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity), also with the vision of global development, is the vision of human development followed by the whole countries in the world as a benchmark for development. This article is a summary from the whole research about the dimension of human development within perda sharia containing about the contestation between the vision of domestic and global policy. It is a literacy/library research using qualitative approach served and analyzed descriptively employing the theory of (development) Capabilitiy by Amartya Sen and Theory of Public Policy. The research is aimed to give a description about the relevance of Perda Sharia towards the concept of global development. The result of the research shows that there is conflict and tension between the vision of domestic and global policy. This thing is showed by the dominance of the incoherence between the content and context of perda sharia with the concept of human development and the latest models of policy developed by the UN.Sejak kelahirannya, Perda-Perda bernuansa Syarî’ah menuai kontroversi. Belakangan ia ditengarai sebagai bagian dari proyek khilafah internasional atau bahkan dianggap bagian dari proyek radikalisasi yang sarat dengan aroma sektarian. Tidak sedikit kalangan akademis yang menganggap bahwa keberadaan Perda Syarî’ah sebagai hal yang kontraproduktif dan bertentangan dengan konsep nasionalisme yang berbhinneka tunggal ika, serta bertentangan dengan visi pembangunan global, yaitu visi Pembangunan Manusia yang dianut oleh semua negara di dunia sebagai tolak ukur pembangunan.Artikel ini merupakan ringkasan dari keseluruhan penelitian tentang Dimensi Pembangunan Manusia dalam Perda Syarî’ah yang memuat tentang kontestasi antara visi kebijakan domestik dan global. Penelitian tersebut merupakan penelitian pustaka (literasi/library research) dengan pendekatan kualitatif yang disajikan dan dianalisa secara deskriptif menggunakan teori (Pembangunan) Kapabilitas Amartya Sen dan Teori Kebijakan Publik. Penelitian ditujukan untuk, memberikan deskripsi tentang relevansi Perda Syarî’ah terhadap Konsep Pembangunan global.Hasil penelitian menunjukkan adanya konflik dan ketegagan antara visi kebijakan domestik dan global. Hal itu ditunjukkan oleh dominannya inkoherensi antara kontent dan konteks Perda Syarî’ah dengan Konsep Pembangunan Manusia dan Model-Model Kebijakan terkini yang dikembangkan oleh PBB (UNDP).Key Words: Human Development, Sharia Law and Nationalism
PERANAN GAYA KELEKATAN KEPADA ORANGTUA DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA Ismatul Izzah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1355

Abstract

This study aims to determine the relationship between attachment style to parents with self-esteem in adolescents. Subjects in this study were 154 adolescents in Yogyakarta City aged 13-17, still living with both parents, and still have a complete parent. This research uses quantitative research methods with scale as a measuring tool used. The first scale is the self-esteem scale, and the second scale is the scale of attachment to both parents. Pearson correlation analysis is used to analyze the relationship between the two research variables. The result of Pearson correlation analysis showed that there was a significant correlation between parental attachment style and self-esteem in adolescence that is p = 0.000 and correlation value (r) of 0.481.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya kelekatan kepada orangtua dengan harga diri pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah 154 remaja di Kota Yogyakarta yang berumur 13-17, masih tinggal bersama kedua orangtua dan masih memiliki orangtua yang lengkap. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan skala sebagai alat ukur yang digunakan. Skala yang pertama adalah skala harga diri dan skala yang kedua adalah skala kelekatan kepada kedua orangtua. Analisis korelasi Pearson digunakan untuk menganalisis hubungan kedua variabel penelitian. Hasil analisis korelasi pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gaya kelekatan kepada orangtua dan harga diri pada remaja yaitu p = 0.000 dan nilai korelasi (r) sebesar 0.481.Key Words: Attachment Style, Self-Esteem, Adolescence, Yogyakarta City
TAHAPAN PEMIKIRAN MASYARAKAT DALAM PANDANGAN IBN KHALDUN Moh. Pribadi
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1346

Abstract

This research discusses the ideas of a Muslim sociologist, Ibn Khaldun, on “society’s life cycles and the stage of human reasons”. The main sources of this research are the works of IbnKhaldun, especially the social history part of the Muqadimah. This research employs hermeneutics method as proposed by Garcia. The research found that, according to Ibn Khaldun, the social and political life of society is developed through several steps, which are: badui (barbaric), awakening and civic society (al-thur al bawdy, al-thur al-ghazwy, and al-thur al-hadlary). Meanwhile, the reasons of society is developed through several phases, which are: theology, metaphysics, and positive (al-‘aql al-tamyiz, al-‘aql al-tajriby and al-‘aql al-nadzary).Tulisan ini sedikit memberikan paparan pemikiran tokoh sosiologi Ibn Khaldun tentang “siklus kehidupan masyarakat dan tahapan perkembangan akal budi manusia”. Data tulisan ini murni bersumber dari teks buku Muqadimah Ibn Khaldun dalam kategori sejarah sosial. Dalam hal ini penulis mencoba menggunakan pisau analisis hermeneutika (takwil) teks yang ditulis oleh Gracia. Dari analisis ini penulis menyimpulkan bahwa: menurut Ibn Khaldun, secara sosiologis (kehidupan sosial dan politik) masyarakat berkembang melalui tahapan badui, kebangkitan dan sipil (al thûr al badwy, al thûr al ghazwy dan al thûr al ĥadlary). Sedangkan melalui akal budinya, masyarakat akan berkembang melalui fase teologi, metafisik dan positif (al ‘aql al tamyîzy, al ‘aql al tajriby dan al ‘aql al nadzary).Key words: Ibn Khaldun, social life’s cycle and stages of human reasons
NEGOSIASI OTORITAS KEPEMIMPINAN PONDOK PESANTREN PABELAN MASA KEPEMIMPINAN KYAI HAMAM DJA’FAR 1965-1993 Muhammad Ikhsan Ghafur
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1356

Abstract

Pesantren is an institution where its leadership is based on the descendants of the founders. However, with the development of the era, pondok pesantren has begun to experience system changes such as bureaucracy in it. This pesantren bureaucratization have an impact on the authority of kyai in which the leadership based on descendants turns into a certain qualification. The existence of pesantren bureaucratization does not eliminate the traditional authority. This is because in this bureaucracy there are some family members who have a certain position, so that between the traditional and legal authority are still applied in the modern pesantren. The combination of traditional authority and legal authority has become a demand for the survival of pesantren. The existence of traditional authority is due to the culture that exists in society, while legal authority has become a necessity of the development of the era.Pesantren merupakan lembaga di mana kepemimpinannya berdasarkan keturunan dari pendiri. Namun dengan adanya perkembangan zaman, pondok pesantren sudah mulai mengalami perubahan sistem di dalamnya dengan adanya birokrasi di pesantren. Birokratisasi pesantren ini tentunya berdampak pada otoritas kyai di mana kepemimpinan berdasarakan keturunan berubah menjadi kualifikasi tertentu. Adanya birokratisasi pesantren tidak menghilangkan otoritas tradisional yang ada. Hal ini dikarenakan di dalam birokrasi tersebut terdapat beberapa anggota keluarga yang menjabati posisi tertentu, sehingga antara otoritas tradisional dan legal tetap berlaku di dalam pondok pesantren modern. Gabungan antara otoritas tradisional dan otoritas legal sudah menjadi tuntutan untuk keberlangsungan hidup pesantren. Adanya otoritas tradisional disebabkan budaya yang ada di masyarakat, sementara otoritas legal sudah menjadi kebutuhan dari perkembangan zaman.Keywords: pesantren, heredity, bureaucracy and authority
FISHUM TERKEMUKA DENGAN KARYA Tri Muryani
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1357

Abstract

terlampir
NAHDLATUL UlAMA (NU) DALAM DINAMIKA POLITIK LOKAL: Studi Kasus pada PEMILUKADA di Kabupaten Sumenep Tahun 2010 Nur Faizin
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i2.1352

Abstract

Nahdlatul Ulama (NU) plays an important role in various aspects of Indonesians’ life. In a political sphere, NU had became a respected political party. Eventually, NU decided to withdraw from politics through the declaration of khittah, which was mandated by the National Alim Ulama NU meeting at Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, East Java on 13-16 Rabi’ul Awwal 1404 H / 18-21 December 1983 M. However, this declaration is not immediately release its’ cadres not to plunge in the political stage. Nowadays, many NU cadres occupying important positions both in local and the central government. Therefore, it is interesting to observe how local elite of NU in Sumenep during the local election contribute to shape political dynamics in the region. This research using qualitative research method by employing interpretive and naturalistic approaches to the subject of study. The key informants for this research are those who actively engage in politics, especially the elites of the NU and their followers. This study found that there are continuity relations between the NU elites who take part in practical political stage and those who are behind the political stage. In addition, the battle of several candidates for government position among the local elites of NU pushed the blessing of kyai away from the significant factor of voters to decide whom they had chosen in the last election.NU (Nadlatul Ulama) berperan penting dalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam ranah politik, NU pernah menjadi sebuah partai besar yang disegani. Akhirnya ia memilih keluar dari lingkaran percaturan pilitik praktis melalui khittah NU 1926 yang dipuruskan melalui musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 13-16 Robi’ul Awwal 1404 H/18-21 Desember 1983 M. Sejak saat itu NU dan politik terpisah secara praktis. Namun demikian tidak dengan serta merta melepas para kader-kadernya untuk tidak terjun di panggung politik. Saat ini telah banyak kader NU menduduki posisi penting baik di pemerintahan daerah hingga pemerintahan pusat. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari background rumah asal mereka sebagai golongan nahdliyin. Begitu pula yang terjadi di daerah Kabupaten Sumenep. Sejak pemilihan umum secara langsung tidak sedikit kader NU duduk di pemerintahan lokal sebgai DPRD ataupun kepala pemerintah daerah (bupati). Yang menjadi persoalan utama di sini ialah tidak hanya mereka yang menang merebut kuasa, namun lebih pada bagaimana pengaruh elite lokal NU dalam dinamika Pemilukada di Kabupaten Sumenep terutama pada tahun 2010. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang memfokuskan diri pada perhatian dengan berbagai metode mencakup pendekatan interpretatif dan naturalistik terhadap subjek kajiannya. Sedangkan lokasi penelitian ialah di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sasaran penelitian masyarakat Sumenep dan elite NU Kabupaten Sumenep. Walau penelitian berlangsung selama satu bulan penelitian termasuk prelimenary research. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa rangkaian kesinambungan antara elite NU yang berkiprah di panggung politik praktis dan mereka yang berada di belakang panggung. Selain itu pertarungan beberapa calon kepala pemerintahan yang nota bane adalah rata-rata sebagai warga nahdliyin tidak menjadikan pengaruh atau restu kiai sebagai alasan utama pemilih pada Pemilukada tahun 2010 memilih calon yang dikehendaki.Key words: NU, Local Election, Kyai, and Politics.

Page 1 of 1 | Total Record : 9