cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Joglo
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 1 (2013): Joglo" : 5 Documents clear
SELECTION AND IMMOBILIZATION OF ISOLATED ACETIC ACID BACTERIA ON THE EFFICIENCY OF PRODUCING ACID IN INDONESIA Kapti Rahayu Kuswanto; Sri Luwihana Djokorijanto; Hisakazu - Lino
Joglo Vol. 26 No. 1 (2013): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Screening of AAB(Acetic acid bacteria) isolates from cane sugar juice in Indonesia for acid and alcohol tolerance was performed. Among the isolates tested, strain INT-7 was observed to grow to as high as 9% acetic acid and 15% alcohol. Based on the screening study, INT-7 is belong to Acetobacter pasteurianus were chosen for vinegar fermentation. The pure culture of strain INT-7 on unpasteurized coconut sap was found to have high acidity (5.42%) compared to pasteurized sap (3.42%). Strain INT-7 exhibited higher acid production of 62.7g/L in 5% ethanol under static condition compared to reference strains JCM 7640 Acetobacter aceti and JCM 7641 A. pasteurianus with 52.3g/L and 30.8g/L acid, respectively. On other study, results revealed the efficiency (2X) of using fermentor for acid formation compared to samples fermented with shaking. In addition, the crude metabolites of INT-7 suggest inhibitory effect against the growth of E.coli and Salmonella sp. but not against S. aureus, while strain of INT-17 metabolites inhibited the growth of all pathogenic bacteria tested. The immobilization of A.pasteurianus strain INT-7 for improving the ethanol resistance was done in the alginate gel. The result showed that optimum condition of A. pasteurianus INT-7 cell entrapped (107CFU/mL) on 3% alginate and the ratio of cell number and alginate solution was 1:3 v/v. The optimum condition of acetic acid fermentation by immobilized cells were initial pH 6.0, ethanol concentration 7.5% (v/v), temperature at 30o C for 7 days produced acetic acid (35.81 g/L) is higher than free cells (16.29 g/L). The efficiency of fermentation by immobilized cells and free cells were 36.73% and 16.71%, respectively.   Keywords: Acetic acid bacteria, selection, immobilization, producing higher acid.
KETAHANAN EKONOMI PETANI DALAM RANGKA MENGATASI GAGAL PANEN PADI DI DESA SIDOHARJO KECAMATAN SIDOHARJO KABUPATEN SRAGEN Endang Sri Sudalmi; JM Sri Hardiatmi
Joglo Vol. 26 No. 1 (2013): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inti dari permasalahan dalam penelitian ini adalah ola tanam yang dilakukan petani Sidoharjo, penyebab gagal panen padi dan usaha-usaha yang dilakukan petani untuk memenuhi kebutuhan keluarga pada waktu gagal panen padi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui : (1) Pola tanam ; (2) Penyebab gagal panen padi dan luas garapan yang gagal panen ; dan (3) Usaha-usaha yang dilakukan petani waktu gagal panen padi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Lokasi di Desa Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen. Pengambilan data dengan wawancara dan pencatatan. Analisis data dengan tabulasi dan dianalisis. Hasil yang diperoleh dari penelitian : Pola tanam di Desa Sidoharjo pada tahun 2010-2011 : padi-padi-padi.Penyebab gagal panen padi pada umumnya karena adanya serangan hama wereng coklat, tikus, gulma dan kekurangan air. Luas garapan yang terserang ada yang 10 – 15 % bahkan ada yang sampai 50 % dari luas garapan.Usaha-usaha yang dilakukan petani pada waktu gagal panen untuk memenuhi kebutuhan keluarga yaitu dengan : berdagang, buruh serabutan, buruh pabrik bahkan ada yang hutang.   Kata Kunci : Ketahanan Ekonomi Petani, Gagal Panen Padi
PENGARUH SUHU PEMANASAN DAN UKURAN MESH DALAM EKSTRAKSI SENYAWA ANTOSIANIN KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) Wulandari W.Y - -; Suhartatik - -
Joglo Vol. 26 No. 1 (2013): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.), dikenal masyarakat sebagai tanaman yang dimanfaatkan untuk teh dan berpotensi sebagai pewarna alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu pemanasan dan ukuran mesh rendemen ekstrasi senyawa antosianin. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi sampel yaitu sudah dikeringkan dengan kadar air mencapai 10,25 % dan dibuat bubuk dengan ukuran mesh 40,60, dan 80. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kodisi optimal proses ekstraksi senyawa antosianin kelopak bunga rosella ungu (Hibiscus sabdariffa L) yaitu pada suhu 85°C dengan ukuran mesh 60 dan lama pemanasan 9 jam, dengan nilai rendemen 221,3067 ppm.   Kata Kunci : Rosella (Hibiscus sabdariffa L.), antosianin, suhu dan mesh
PERBANYAKAN TANAMAN UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) DENGAN JUMLAH MATA TUNAS PADA VARIETAS UNGGUL MEKAR MANIK DAN LOKAL Saiful - Bahri; Sartono Joko Santoso
Joglo Vol. 26 No. 1 (2013): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berjudul Perbanyakan Tanaman Ubi Kayu  (Manihot esculenta Crantz) Dengan Jumlah Mata Tunas Pada Varietas Unggul dan Lokal bertujuan untuk mengetahui jumlah mata tunas yang digunakan untuk bibit yang berpotensi menghasilkan pertumbuhan tanaman ubi kayu yang baik pada varietas unggul Mekar Manik dan lokal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 hingga Maret 2013 di Green House Fakultas Pertanian Universitas Slamet Riyadi, Surakarta. Metode Penelitiannya adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan faktor I (V) adalah Macam Varietas (Mekar Manik dan Lokal), dan faktor II (T) adalah Jumlah Mata Tunas Stek. Adapun hasilnya dapat disimpulkan sebagai berikut : Perlakuan jumlah mata tunas pada varietas lokal menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman relatif berbeda antar jumlah mata tunas 1,2 dengan jumlah mata tunas 3,4,5. Demikian juga pada varietas unggul Mekar Manik yang menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman relatif berbeda antara jumlah mata tunas 1,2 dengan jumlah mata tunas 3,4,5. Dengan demikian pertumbuhan tinggi tanaman tidak tergantung pada jenis varietasnya tetapi tergantung pada jumlah mata tunas yang ditanam. Perbedaan tinggi tanaman disebabkan oleh perbedaan potensi pertumbuhan kedua varietas itu sendiri.Perlakuan jumlah mata tunas pada varietas lokal dan unggul Mekar Manik menghasilkan pertumbuhan jumlah daun yang berbeda antara jumlah mata tunas 1,2 dengan jumlah mata tunas 3,4.  Potensi jumlah daun kedua varietas relatif lebih homogen.Perlakuan jumlah mata tunas pada varietas lokal dan unggul Mekar Manik menghasilkan pertumbuhan jumlah tunas atau batang yang tumbuh yang berbeda antara jumlah mata tunas 1,2 dengan jumlah mata tunas 3,4, 5.  Potensi jumlah batang yang dapat tumbuh hingga umur 3 bulan kedua varietas relatif lebih homogen.  Pada perlakuan jumlah mata tunas 3-5 menghasilkan jumlah batang yang tumbuh sekitar 2 batang. Kata Kunci  : jumlah mata tunas ubi kayu
KAJIAN KARAKTERISTIK FRUIT LEATHER DENGAN VARIASI JENIS PISANG (Musa paradisiaca) DAN SUHU PENGERINGAN Merkuria - Karyantina; Linda - Kurniawati; Agung S Wardana
Joglo Vol. 26 No. 1 (2013): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan energy pisang penyedia energy dan kalori instan, yang mudah tersedia. Pisang merupakan buah yang mudah rusak dan perlu adanya upaya untuk mempertahankan daya simpan. Salah satu produk olahan pisang adalah fruit leather. Fruit leather berbentuk lembaran tipis (2-3 mm), kadar air 10-15%, konsistensi dan rasa yang spesifik seperti bahan mentahnya. Penelitian mengkaji jenis dan suhu yang optimal dalam pembuatan fruit leather pisang sehingga diperoleh produk yang baik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor 1 : jenis pisang (pisang ambon hijau, pisang raja nangka, pisang kapok putih) dan faktor 2 : suhu pengeringan (60oC, 70oC, 80oC, 90oC . Paramater yang diamati adalah kadar air, kadar abu dan kadar gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pisang, suhu pengeringan dan kombinasinya menunjukkan tidak berbeda nyata. Kadar air tertinggi pada perlakuan menggunakan pisang raja nangka dengan suhu pengeringan 60oC. Kadar air terendah (25,85%) pada fruit leather pisang dengan pisang kapok putih dan suhu pengeringan 70oC. Hasil analisis kadar abu menunjukkan bahwa kadar abu tertinggi pada perlakukan dengan menggunakan pisang raja nangka dengan suhu pengeringan 60oC (4,57 gram per 100 gram). Kadar air terendah pada pisang kapok putih dengan suhu pengeringan 60oC (3,12 gram per 100 gram). Hasil analisis kadar gula menunjukkan tidka beda nyata pada semua jenis pisang, suhu pengeringan dan kombinasinya. Kadar gula tertinggi pada fruit leather dengan pisang ambon hijau dan suhu pengeringan 70oC (19,31 gram/100 gram).Kadar gula terdah pada fruit leather dengan menggunakan pisang kapok putih dan suhu pengeringan 60oC (5,97 gram/100 gram).   Kata kunci : fruit leather, pisang, suhu pengeringan

Page 1 of 1 | Total Record : 5