cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH" : 8 Documents clear
Ibn Khaldun dan Pemikir Sosial Budaya M. Zainuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.833 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i2.5186

Abstract

The greatness of Ibn Khaldun's name makes the world recognized and reviewed his thoughts. If we revisit the treasury of medieval Islamic intellectual thought and develop a tradition of thought in the world of campus, this tradition and culture is good to do. This paper raises who is really the figure of Ibn Khaldun and how his thoughts are especially on his social cultural thinking. Ibn Khaldun's theory of social phenomena includes the theory of evolution that views social phenomena as the dynamics of society, nations and states that differ across generations. The human society according to Ibn Khaldun is an independent entity. and can be perfectly managed regardless of religious values. He says humans can be good and evil at the same time. Man is evil because of animal nature, and on the contrary, man is good because of his involvement with other human beings. Ibn Khaldun's mind is so visionary that it is relevant to the context of the development of the era as developed by modern philosophers which actually comes from the socio-cultural view of Ibn Khaldun. Begitu besar nama Ibn Khaldun sehingga dunia mengakui dan mengkaji kembali pemikiran-pemikirannya. Jika kita menguak kembali khazanah pemikiran intelektual Islam abad pertengahan dan mengembangkan tradisi pemikiran di dunia kampus, tradisi dan budaya ini bagus untuk dilakukan. Tulisan ini mengangkat siapakah sesungguhnya sosok Ibn Khaldun itu dan bagaimana pemikirannya khususnya pada pemikiran sosial budayanya. Teori fenomena sosial Ibn Khaldun termasuk teori evolusi yang memandang fenomena sosial sebagai dinamika masyarakat, bangsa dan negara yang berbeda antar generasi. Masyarakat manusia menurut Ibn Khaldun adalah suatu entitas yang independen. dan dapat diurus secara sempurna lepas dari nilai-nilai agama. Menurutnya manusia bisa baik clan jahat pada saat yang sama. Manusia jahat karena adanya sifat dasar kebinatangan, dan sebaliknya, manusia itu baik karena keterlibatannya dengan manusia lain. Pemikiran Ibn Khaldun sangat visioner sehingga relevan dengan konteks perkembangan jaman sebagaimana yang kemudian dikembangkan oleh filsuf modern yang sesungguhnya bermuara dari pandangan sosial budaya Ibnu Khaldun.  
Menemukan Jati Diri dan Menempatkannya pada Posisinya yang Tepat Muhammadiyah Dja'far
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.611 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i2.5187

Abstract

This paper discusses how to find the identity is very important to then put it in the right position. This is based on the understanding that humans who want the happiness of the Hereafter, will take the path that is not less than six kinds of positions, namely: a diligent person, or a scientist, or a student or officer, or entrepreneur, or a person solely subjected to monotheism . Whoever has attained the most honorable degree will feel the presence of his heart with God in all things. Nothing else occurred to him, and no one else tapped his hearing, nor his views, except those charged with worship. It is not worth a person who desires this dignity to himself, then becomes lazy in his worship. Indeed, the signs of this man who attains this dignity do not occur to him in an anxious, unimaginable heart, and will not be surprised by the shock of the situation anyhow. Tulisan ini membahas tentang bagaimana menemukan jati diri sangat penting untuk kemudian menempatkannya pada posisi yang tepat. Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa  manusia yang menginginkan kebahagiaan akhirat, akan menempuh jalannya yang tidak kurang dari enam macam posisi yaitu : orang yang tekun beribadah, atau ilmuwan, atau pelajar (mahasiswa) atau pejabat, atau pengusaha, atau orang yang semata-mata menekuni tauhid. Barangsiapa telah mencapai derajat yang paling mulia akan merasakan kehadiran hatinya bersama dengan Allah dalam segala halnya. Tiada lagi hal lain terlintas dalam hatinya, dan tiada lagi yang mengetuk pendengarannya, maupun pandangannya, kecuali yang bermuatan ibadah. Tidak pantas sama sekali seorang yang menginginkan martabat ini pada dirinya, lalu menjadi malas ibadahnya. Sesungguhnya tanda-tanda orang yang mencapai martabat ini tidak terlintas dalam hatinya sifat kuatir, dan tidak terbayang suatu maksiat di dalam hatinya, serta tidak akan dikejutkan oleh kegoncangan situasi bagaimanapun. 
Kekerasan dan Kekuasaan dalam Praksis Berbahasa: Memahami Kekerasan dalam Perspektif Galtung Mudjia Rahardjo
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.077 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i2.5179

Abstract

As a social phenomenon, violence has attracted the interest of social scientists to further study, cultivate and explore its exploratory theorists. One of them is Johan Galtung. This paper explores Galtung's theory of violence in relation to language practice. According to Johan Galtung, violence occurs when humans are affected in such a way that actual physical and mental realizations are under their potential realization. Galtung will see something as violent if in the future the event can be overcome or prevented, but still left. As a symbolic reality, language can not be separated from the inner world of the wearer and the social setting that exists. These include social conflicts such as violence, murder, rape, looting, harassment, robbery, repression, and so on. Coinciding with the violent phenomenon that plagues this nation, modesty or ethical language is now experiencing erosion or extraordinary setbacks. To overcome this, ethics of language decency needs to be addressed in the context of language teaching in Indonesian cultural lands. Sebagai fenomena sosial, kekerasan telah menarik minat para ilmuwan sosial untuk lebih jauh mempelajari, menggeluti dan mencari  teoretis eksplanatorisnya. Salah satu di antaranya ialah Johan Galtung. Tulisan ini memaparan tentang teori kekerasan Galtung dalam hubunganya dengan praktik bahasa. Menurut Johan Galtung, kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Galtung akan melihat sesuatu sebagai kekerasan bila di masa mendatang peristiwa tersebut bisa diatasi atau dicegah, tetapi tetap dibiarkan. Sebagai realitas simbolik, bahasa tidak bisa lepas dari dunia batin pemakainya dan setting sosial yang ada. Termasuk di antaranya konflik-konflik sosial berupa kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, pelecehan, perampokan, penindasan, dan lain sebagainya. Berbarengan dengan fenomena kekerasan yang melanda bangsa ini, kesopanan atau etika berbahasa kini mengalami erosi atau kemunduran luar biasa. Untuk mengatasi itu, etika kesopanan berbahasa perlu disikapi dalam konteks pengajaran bahasa dalam lahan budaya Indonesia.    
Belajar Memahami Turats Wildana Wargadinata
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.291 KB) | DOI: 10.18860/el.v2i2.5185

Abstract

The problem of source authenticity is the first question that a man who seeks the truth asks. This paper explains the phenomenon of turats and dynamics in several generations. Many people who strongly reject turats for no apparent reason, because they have not understood it. Conversely many also receive turats with a round but also understand it. Their unfamiliarity with turats, because they have lost the formulas of the salaf they use in every rulisannya. Each turats is written with a code that is a particular formula used by a group of humans to establish a secret relationship between them. The turats code here does not mean the secrets to be stored but it has been used among salaf scholars. Masalah penelusuran keaslian sumber  adalah permasalahan pertama yang clipertanyakan seorang manusia yang mencari kebenaran. Tulisan ini menjelaskan fenomena turats dan dinamikanya pada beberapa generasi. Banyak orang yang menolak keras turats tanpa alasan yang jelas, dikarenakan mereka belum memahaminya. Sebaliknya banyak juga yang menerima turats dengan bulat tetapi juga memahaminya. Ketidakpahaman mereka terhadap turats, karena mereka telah kehilangan rumusan yang dimiliki para salaf yang mereka pakai dalam setiap rulisannya. Setiap turats ditulis dengan kode yang merupakan sebuah rumusan tertentu yang dipakai oleh sekelompok manusia untuk mengadakan hubungan rahasia antara mereka. Kode turats disini bukan berarti rahasia yang harus disimpan akan tetapi memang telah dipakai diantara ulama salaf.    
Ibn Khaldun dan Pemikir Sosial Budaya Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i2.5186

Abstract

The greatness of Ibn Khaldun's name makes the world recognized and reviewed his thoughts. If we revisit the treasury of medieval Islamic intellectual thought and develop a tradition of thought in the world of campus, this tradition and culture is good to do. This paper raises who is really the figure of Ibn Khaldun and how his thoughts are especially on his social cultural thinking. Ibn Khaldun's theory of social phenomena includes the theory of evolution that views social phenomena as the dynamics of society, nations and states that differ across generations. The human society according to Ibn Khaldun is an independent entity. and can be perfectly managed regardless of religious values. He says humans can be good and evil at the same time. Man is evil because of animal nature, and on the contrary, man is good because of his involvement with other human beings. Ibn Khaldun's mind is so visionary that it is relevant to the context of the development of the era as developed by modern philosophers which actually comes from the socio-cultural view of Ibn Khaldun. Begitu besar nama Ibn Khaldun sehingga dunia mengakui dan mengkaji kembali pemikiran-pemikirannya. Jika kita menguak kembali khazanah pemikiran intelektual Islam abad pertengahan dan mengembangkan tradisi pemikiran di dunia kampus, tradisi dan budaya ini bagus untuk dilakukan. Tulisan ini mengangkat siapakah sesungguhnya sosok Ibn Khaldun itu dan bagaimana pemikirannya khususnya pada pemikiran sosial budayanya. Teori fenomena sosial Ibn Khaldun termasuk teori evolusi yang memandang fenomena sosial sebagai dinamika masyarakat, bangsa dan negara yang berbeda antar generasi. Masyarakat manusia menurut Ibn Khaldun adalah suatu entitas yang independen. dan dapat diurus secara sempurna lepas dari nilai-nilai agama. Menurutnya manusia bisa baik clan jahat pada saat yang sama. Manusia jahat karena adanya sifat dasar kebinatangan, dan sebaliknya, manusia itu baik karena keterlibatannya dengan manusia lain. Pemikiran Ibn Khaldun sangat visioner sehingga relevan dengan konteks perkembangan jaman sebagaimana yang kemudian dikembangkan oleh filsuf modern yang sesungguhnya bermuara dari pandangan sosial budaya Ibnu Khaldun.
Menemukan Jati Diri dan Menempatkannya pada Posisinya yang Tepat Dja'far, Muhammadiyah
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i2.5187

Abstract

This paper discusses how to find the identity is very important to then put it in the right position. This is based on the understanding that humans who want the happiness of the Hereafter, will take the path that is not less than six kinds of positions, namely: a diligent person, or a scientist, or a student or officer, or entrepreneur, or a person solely subjected to monotheism. Whoever has attained the most honorable degree will feel the presence of his heart with God in all things. Nothing else occurred to him, and no one else tapped his hearing, nor his views, except those charged with worship. It is not worth a person who desires this dignity to himself, then becomes lazy in his worship. Indeed, the signs of this man who attains this dignity do not occur to him in an anxious, unimaginable heart, and will not be surprised by the shock of the situation anyhow. Tulisan ini membahas tentang bagaimana menemukan jati diri sangat penting untuk kemudian menempatkannya pada posisi yang tepat. Hal ini berdasarkan pemahaman bahwa  manusia yang menginginkan kebahagiaan akhirat, akan menempuh jalannya yang tidak kurang dari enam macam posisi yaitu: orang yang tekun beribadah, atau ilmuwan, atau pelajar (mahasiswa) atau pejabat, atau pengusaha, atau orang yang semata-mata menekuni tauhid. Barangsiapa telah mencapai derajat yang paling mulia akan merasakan kehadiran hatinya bersama dengan Allah dalam segala halnya. Tiada lagi hal lain terlintas dalam hatinya, dan tiada lagi yang mengetuk pendengarannya, maupun pandangannya, kecuali yang bermuatan ibadah. Tidak pantas sama sekali seorang yang menginginkan martabat ini pada dirinya, lalu menjadi malas ibadahnya. Sesungguhnya tanda-tanda orang yang mencapai martabat ini tidak terlintas dalam hatinya sifat kuatir, dan tidak terbayang suatu maksiat di dalam hatinya, serta tidak akan dikejutkan oleh kegoncangan situasi bagaimanapun.
Kekerasan dan Kekuasaan dalam Praksis Berbahasa: Memahami Kekerasan dalam Perspektif Galtung Rahardjo, Mudjia
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i2.5179

Abstract

As a social phenomenon, violence has attracted the interest of social scientists to further study, cultivate and explore its exploratory theorists. One of them is Johan Galtung. This paper explores Galtung's theory of violence in relation to language practice. According to Johan Galtung, violence occurs when humans are affected in such a way that actual physical and mental realizations are under their potential realization. Galtung will see something as violent if in the future the event can be overcome or prevented, but still left. As a symbolic reality, language can not be separated from the inner world of the wearer and the social setting that exists. These include social conflicts such as violence, murder, rape, looting, harassment, robbery, repression, and so on. Coinciding with the violent phenomenon that plagues this nation, modesty or ethical language is now experiencing erosion or extraordinary setbacks. To overcome this, ethics of language decency needs to be addressed in the context of language teaching in Indonesian cultural lands. Sebagai fenomena sosial, kekerasan telah menarik minat para ilmuwan sosial untuk lebih jauh mempelajari, menggeluti dan mencari  teoretis eksplanatorisnya. Salah satu di antaranya ialah Johan Galtung. Tulisan ini memaparan tentang teori kekerasan Galtung dalam hubunganya dengan praktik bahasa. Menurut Johan Galtung, kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Galtung akan melihat sesuatu sebagai kekerasan bila di masa mendatang peristiwa tersebut bisa diatasi atau dicegah, tetapi tetap dibiarkan. Sebagai realitas simbolik, bahasa tidak bisa lepas dari dunia batin pemakainya dan setting sosial yang ada. Termasuk di antaranya konflik-konflik sosial berupa kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, pelecehan, perampokan, penindasan, dan lain sebagainya. Berbarengan dengan fenomena kekerasan yang melanda bangsa ini, kesopanan atau etika berbahasa kini mengalami erosi atau kemunduran luar biasa. Untuk mengatasi itu, etika kesopanan berbahasa perlu disikapi dalam konteks pengajaran bahasa dalam lahan budaya Indonesia.  
Belajar Memahami Turats Wargadinata, Wildana
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i2.5185

Abstract

The problem of source authenticity is the first question that a man who seeks the truth asks. This paper explains the phenomenon of turats and dynamics in several generations. Many people who strongly reject turats for no apparent reason, because they have not understood it. Conversely many also receive turats with a round but also understand it. Their unfamiliarity with turats, because they have lost the formulas of the salaf they use in every rulisannya. Each turats is written with a code that is a particular formula used by a group of humans to establish a secret relationship between them. The turats code here does not mean the secrets to be stored but it has been used among salaf scholars. Masalah penelusuran keaslian sumber  adalah permasalahan pertama yang clipertanyakan seorang manusia yang mencari kebenaran. Tulisan ini menjelaskan fenomena turats dan dinamikanya pada beberapa generasi. Banyak orang yang menolak keras turats tanpa alasan yang jelas, dikarenakan mereka belum memahaminya. Sebaliknya banyak juga yang menerima turats dengan bulat tetapi juga memahaminya. Ketidakpahaman mereka terhadap turats, karena mereka telah kehilangan rumusan yang dimiliki para salaf yang mereka pakai dalam setiap rulisannya. Setiap turats ditulis dengan kode yang merupakan sebuah rumusan tertentu yang dipakai oleh sekelompok manusia untuk mengadakan hubungan rahasia antara mereka. Kode turats disini bukan berarti rahasia yang harus disimpan akan tetapi memang telah dipakai diantara ulama salaf.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2000 2000


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue