cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Mintakat: Jurnal Arsitektur
ISSN : 14117193     EISSN : 26544059     DOI : 10.26905
Core Subject : Social, Engineering,
Mintakat: Jurnal Arsitektur (JAM) dalam versi jurnal online yang terbit di tahun 2017 ini sebenarnya adalah format baru dari penerbitan offline sejak tahun 2000. Jurnal ini diterbitkan oleh oleh Group Konservasi Arsitektur & Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang. Dalam format online JAM merencanakan akan terbit 2 (dua) kali dalam setiap volume pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2017): September 2017" : 6 Documents clear
ADAPTASI TEKNOLOGI DI RUMAH ADAT SUMBA Ririk Winandari
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.172 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i2.1470

Abstract

Pulau sumba memiliki beberapa kampung adat yang masih dan akan terus dipertahankan di masa depan. Masing-masing kampung adat memiliki karakter arsitektur khas, sebuah representasi arsitektur megalitik di bagian Timur nusantara, yang tidak dapat dijumpai di tempat lain. Kekhasan tersebut merupakan bentukan fisik sebuah proses panjang kegiatan dan budaya masyarakat setempat yang juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, bahkan politik penguasa. Keinginan untuk mempertahankan kekhasan inilah yang menjadi kekuatan utama konservasi rumah adat Sumba. Pada dasarnya, konservasi merupakan upaya yang dilakukan untuk melestarikan bangunan, mengefisienkan penggunaan serta mengatur arah perkembangan di masa mendatang. Di masa kini, upaya tersebut harus didukung oleh perkembangan teknologi. Tanpa dukungan teknologi, bisa dibayangkan ratusan kayu yang harus ditebang, ratusan kubik batu cadas tepian pantai yang harus dipindahkan, dan ratusan alang-alang yang harus ditanam. Dengan kata lain, penggunaan teknologi serta alternatif material sangat diperlukan untuk mempermudah pelestarian bangunan dan lingkungan. Tentunya, penggunaan teknologi tersebut harus berada dalam koridor pelestarian bangunan dan lingkungan. Paper ini akan memaparkan mengenai bantuan teknologi dalam proses kesinambungan budaya dan fisik bangunan rumah adat Sumba.  DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i2.1470
KARAKTER FISIK KOTA CAKRANEGARA Lalu Mulyadi
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.528 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i2.1471

Abstract

Tujuan utama konservasi kota lama di Indonesia adalah pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa membuang karakter khusus yang perlu dipertahankan untuk warisan dan identitas kota. Kawasan Cakranegara di Lombok yang dahulu merupakan kota lama dengan pola gridnya merupakan kota yang perlu diketahui karakter khusus secara fisik serta konsep tata ruangnya. Makalah ini mencoba mengkaji konsep tata ruang kota Cakranegara terutama pada karakter fisiknya Metode yang digunakan untuk mengidentifikasikan karakter fisik dengan pengamatan visual. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola grid dan kedudukan pura adalah karakter yang menonjol. Kajian ini menyimpulkan bahwa prinsip tata ruang fisik dibentuk oleh konsep tata ruang rumah dan pemukiman. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i2.1471
REVITALISASI RUMAH TRADISIONAL DI DESA POTO-SUMBAWA SEBAGAI OBYEK WISATA BUDAYA, MELALUI PENDEKATAN PERILAKU SPASIAL Junianto HW
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.19 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i2.1538

Abstract

Kajian ini berangkat dari pemikiran bahwa pelestarian Rumah Tradisional di desa Poto,  merupakan parameter kunci, dalam peningkatan daya tarik wisata. Disisi lain, rumah tinggal di desa Poto, Moyohilir – Sumbawa Besar, signifikan terkait dengan pengembangan produktifitas kerajinan Tenun ikat, serta daya tarik wisata. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumbawa, menjadikan desa Poto sebagai Desa Wisata. Sebagai Kabupaten pemekaran, kegiatan wisata sangat diharapkan  untuk menunjang pendapatan daerah, serta masyarakatnya. Disisi lain, ada indikasi kurang tepat, yakni dengan dengan melokalisir kegiatan menenun di sebuah Balai Panenun. Kebijakan ini semula untuk tujuan peningkatan atraksi wisata, dengan menjadikannya terpusat. Namun, kenyataan bertolak belakang dengan tradisi menenun masyarakat setempat yang tidak lepas dengan kegiatan rumah tangga. Menenun masih menjadi kegiatan sampingan kaum perempuan, sambil memasak, mengasuh anak, dan kegiatan rumah lainnya. Melalui kajian perilaku, diperoleh kecenderungan perilaku spasial, sebagai acuan revitalisasi. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i2.1538
BANGUNAN “SEMI VERTIKAL” DI KAWASAN DINDING BENTENG KRATON YOGYAKARTA. KAJIAN ASPEK VERNAKULAR DALAM PELESTARIAN SETING BANGUNAN DAN KAWASAN Dina Poerwoningsih
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.441 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i2.1539

Abstract

Benteng Kraton Yogyakarta merupakan salah satu elemen pembentuk struktur kota tradisional Yogyakarta disamping Kraton, Tamansari, dan Dalem. Seperti halnya permasalahan kota-kota yang bernilai historis lainnya, isu-isu preservasi dan konservasi menjadi salah satu wacana dalam menyikapi pertumbuhan dan perkembangan kota. Secara visual dan fisik, saat ini Benteng Kraton Yogyakarta hanya tersisa kurang dari seperempat bagian saja. Selebihnya dan sebagian besar kini menjadi area hunian bagi sebuah komunitas masyarakat Yogyakarta. Kondisi benteng saat ini  sangat memperlihatkan karakter kontemporer suatu lingkungan urban. Seperti halnya Tamansari yang telah mengalami perubahan fisik jauh lebih awal, Benteng Kraton dapat diprediksi akan mengalami hal yang sama. Lingkungan Kraton Yogyakarta dengan keberadaan monumen bersejarahan di dalamnya menuntut upaya pemeliharaan, di sisi lain kebutuhan masyarakat warga lingkungan Kraton menuntut pemenuhan yang tidak sejalan dengan upaya pemeliharaan tersebut. Salah satu upaya Kraton untuk melestarikan eksistensi Benteng Kraton sebagai bangunan bernilai sejarah adalah diaturnya ketinggian bangunan di kawasan Kraton yang tidak melebihi tinggi Bangunan Kraton. Kondisi yang ada saat ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk mengabaikan aturan tersebut untuk alasan-alasan pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan masyarakat kawasan. Diperlukan  suatu pemahaman dan upaya-upaya kompromi yang dapat  menghubungkannya. Upaya revitalisasi merupakan salah satu pendekatan yang dipandang paling optimal. Mendukung upaya revitalisasi tersebut, memahami bagaimana suatu komunitas hidup dalam suatu urban heritage menjadi sangat penting. Bangunan ”Semi Vertikal” merupakan  salah satu fenomena-vernakular yang dilakukan masyarakat dalam rangka mengapresiasi aturan Kraton. Tulisan ini ditujukan untuk memaparkan fenomena ”istimewa” tersebut. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i2.1539
MENGGAGAS PELESTARIAN PERMUKIMAN TRADISIONAL DUSUN SADE SEBAGAI LANSEKAP BUDAYA YANG MAMPU MENGANTISIPASI KEBUTUHAN PENGHUNINYA Philipus Agus Sukandar
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.03 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i2.1687

Abstract

Perkampungan adat di dusun Sade merupakan salah satu lansekap budaya Sasak yang sudah ditetapkan pemerintah setempat sebagai salah satu kawasan wisata di Lombok yang harus dikonservasi namun eksistensi tradisionalitasnya terancam hilang karena penduduknya merasa lingkungan permukiman ini tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhannya. Sebagai permukiman yang masih hidup, tentusaja tidak mungkin memaksakan kebijakan-kebijakan pelestarian yang sekedar melindungi artefaknya. Pengelolaan berdasar konsep pelestarian lansekap budaya merupakan upaya perlindungan yang sekaligus diharapkan bisa menjadi alat dalam mengolah transformasi dan revitalisasi suatu kawasan. Pendekatan ini diharapkan juga mampu memberikan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik berdasarkan kekuatan aset-aset budaya yang ada. Proses  menemukenali karakter keragaan fisik visual tatanan lansekapnya berikut preferensi masyarakat terhadap lingkungannya yang diantaranya melalui inventarisasi bentuk perubahan fisik yang terjadi, merupakan langkah awal dari seluruh kegiatan yang diperlukan. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i2.1687
STRATEGI PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN KAWASAN PERMUKIMAN SEGI EMPAT EMAS TUNJUNGAN SURABAYA Septi Dwi Cahyani; Rendra Suprobo Aji
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.816 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v18i2.1692

Abstract

Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan suatu upaya memaksimalkan potensi Sumber Daya Alam yang ada secara terencana, bertanggung jawab, dan sesuai dengan daya dukungnya. Kemakmuran rakyat, kelestarian fungsi, dan keseimbangan lingkungan hidup merupakan hal yang utama dalam mendukung pembangunan berwawasan lingkungan sebagai wujud penerapan keberlanjutan. Pembentukan suatu kota sebenarnya diawali oleh keberadaan kampong, tak terkecuali Kota Surabaya. Seiring berjalannya waktu, permukiman penduduk asli yang terbentuk sebagai cikal bakal kampong berkembang dengan kemunculan ragam etnis dari berbagai wilayah. Sekelompok masyarakat dengan latar sosial budaya tertentu membentuk kampong-kampong yang keberadaanya masih dapat dipertahankan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Permukiman di Kawasan Segi Empat Emas Tunjungan Surabaya merupakan salah satu kawasan permukiman yang masih mampu bertahan di tengah-tengah area percepatan pertumbuhan bisnis. Permukiman ini dinilaimemiliki karakter yang patut dipertahankan karena turut menjadi saksi bersejarah dari identitas kawasannya yang berada pada cakupan wilayah konservasi. Untuk menjaga eksistensi dari kawasan permukiman tersebut, pentingnya menyusun strategi pembangunan permukiman berwawasan lingkungan melalui temuan masalah yang ditangani berdasarkan konsep lingkungan (permukiman ekologis, arsitektur hijau), ekonomi (pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan), dan peran masyarakat setempat sehingga dapat menunjang pembangunan optimal. DOI: https://doi.org/10.26905/mintakat.v18i2.1692

Page 1 of 1 | Total Record : 6