cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Mintakat: Jurnal Arsitektur
ISSN : 14117193     EISSN : 26544059     DOI : 10.26905
Core Subject : Social, Engineering,
Mintakat: Jurnal Arsitektur (JAM) dalam versi jurnal online yang terbit di tahun 2017 ini sebenarnya adalah format baru dari penerbitan offline sejak tahun 2000. Jurnal ini diterbitkan oleh oleh Group Konservasi Arsitektur & Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang. Dalam format online JAM merencanakan akan terbit 2 (dua) kali dalam setiap volume pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2003): September 2003" : 6 Documents clear
CIRI KHAS ARSITEKTUR RUMAH BELANDA (Studi Kasus Rumah Tinggal Di Pasuruan) Pindo Tutuko
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 4, No 1 (2003): September 2003
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.329 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v4i1.1954

Abstract

Arsitektur rumah tinggal sebagai hasil kebudayaan adalah perpaduan suatu karya seni dan pengetahuan tentang bangunan, dengan demikian arsitektur juga membicarakan berbagai aspek tentang keindahan dan konstruksi bangunan. Dalam menelaah rumah-rumah kolonial tidak terlepas dari gaya arsitektur yang dibawa oleh Belanda pada saat itu.  Ada tiga ciri yang harus diperhatikan untuk dapat memahami struktur ruang lingkup sosial kota kolonial, yaitu budaya, teknologi dan struktur kekuasaan kolonial. Keterbukaan sebuah kota pusat pemerintahan dan perdagangan mengharuskan adanya perkembangan komunikasi dan teknologi pada awal abad XX. Kota-kota lama di Jawa sampai dengan abad XVIII tidak mengalami perkembangan yang berarti. Kota-kota yang tidak mempunyai fungsi perdagangan umumnya menjadi kota pusat pemerintahan daerah. Sebagai studi, dipakai kota Pasuruan untuk pengamatan bangunan kolonialnya. Berkenaan dengan adanya industri gula, maka Kota Pasuruan digunakan sebagai pusat penelitian gula pada masa itu.  Belanda masuk ke Pasuruan pada tahun 1743, maka semestinya pembuatan rumah yang bergaya Belanda juga berkiblat pada gaya arsitektur asli di Belanda. Tulisan ini dibatasi pada gaya arsitektur yang terjadi pada masa arsitektur modern sampai dengan berpindahnya ibukota Karesidenan Pasuruan ke Malang (Juli 1928) dan runtuhnya industri gula (1930). Akibat perkembangan industri dan pengingkaran-pengingkaran terhadap keindahan karya seni, serta berbagai unsur yang tumbuh dalam kehidupan sosial dengan tidak adanya kontrol yang ketat, terlepaslah ikatan akan kebiasaan mencipta bangunan dengan menyertakan ragam hias. Sudah barang tentu masalah ini melibatkan berbagai masalah dan pandangan akan nilai-nilai yang sangat kompleks. Tidak semua ciri arsitektur yang ada di Belanda diterapkan pada bangunan yang dibangun Belanda di Pasuruan. Terdapat 2 periode pembangunan rumah di Pasuruan, yaitu masa sebelum adanya Pusat Penelitian Gula dan sesudahnya. Adanya sistem rumah induk dan doorloop yang menghubungkan dengan fungsi service. Adanya penyesuaian terhadap iklim tropis di Indonesia pada rancangan rumah tinggal. Bahan utama untuk dinding yang digunakan adalah Bata, dengan ketebalan pasangan 1 bata. Cenderung sederhana permainan strukturnya dan minim ornamen.
PENGARUH SUARA (SOUND) PADA TEMPAT KERJA (WORKPLACE) Erna Winansih
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 4, No 1 (2003): September 2003
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.922 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v4i1.1955

Abstract

Banyak faktor menentukan produktivitas dan kepuasan kita dalam bekerja tapi dalam dekade ini ahli psikologi telah menyadari bahwa lingkungan fisik merupakan mediator yang penting dalam penentuan produktivitas dan kepuasan pegawai atau pekerjanya. Kebisingan berpengaruh banyak pada perilaku bekerja. Dalam setting industri dapat mengakibatkan kehilangan pendengaran yang serius. Kebisingan yang amat sangat khususnya berbahaya jika pekerja tidak menyadari terjadinya kurang pendengaran yang lambat laun mengakibatkan ketulian dan hampir tidak dipersepsi. Selain melihat akibat-akibat dari kebisingan ini berpengaruh pada penurunan performansi, tergantung pada jenis pekerjaan atau tugas yang dikerjakan, personil itu sendiri (manusianya), dan tipe kebisingan. Kebisingan mengancam atau berpengaruh buruk terhadap performansi saat kombinasi pegawai tertentu, jenis tugas (pekerjaan) tertentu dan tipe kebisingan yang juga terjadi, tapi tidak dalam lingkungan lainnya.Pada jenis pekerjaan tertentu kebisingan justru cukup meningkatkan atau memberikan semangat (arouse) performansi seseorang. Kebisingan di kantor mungkin akan mempengaruhi perilaku interpersonal yang penting, mungkin dengan berkurangnya tolong menolong. Terdapat juga dugaan bahwa jika seseorang terpapar dengan kebisingan atau suara yang keras dalam jangka waktu yang lama akan berpengaruh pada fisiologis selain kehilangan pendengaran (tuli).
MANFAAT PENGGUNAAN METODA KONSOLIDASI TANAH DALAM RANGKA PENATAAN WILAYAH PERKOTAAN Hery Budiyanto
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 4, No 1 (2003): September 2003
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1860.72 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v4i1.1956

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan penduduk perkotaan di negara berkembang termasuk Indonesia adalah sangat pesat, hal ini menimbulkan permasalahan penyediaan tanah untuk perumahan dan fasilitas kota, sementara persediaan tanah untuk menghadapi perkembangan penduduk semakin tidak mencukupi sehingga perlu dilakukan langkah-langkah inovatif agar masalah ini bisa teratasi tanpa menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunaan metoda Konsolidasi Tanah. Tulisan ini akan menupas manfaat penggunaan serta dasar-dasar metoda Konsolidasi Tanah.
BANGUNAN RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA TENGAH Rini Trisulowati
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 4, No 1 (2003): September 2003
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3280.978 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v4i1.1957

Abstract

Kehidupan masyarakat tradisional Jawa tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya, Identitas diperlihatkan melalui bentuk dan simbol pada lingkungan. Hubungan yang dihayati berkaitaan erat dengan alam sekitarnya. Didalam pembahasan ini terutama menyangkut latar belakang (sejarah perkembanganya), filosofinya, bentuk, bahan bangunan  dan orientasi pada rumah tinggal yaitu rumah tinggal tradisional Jawa Tengah. Akibat perkembangan teknologi, alam pemikiran serta adanya benturan budaya melalui proses akulturasi dan pertimbangan-pertimbangan lainnya maka tidak sepenuhnya dapat dilakukan dan diterapkan sikap budaya masyarakat modern pada masa sekarang dengan masyarakat tradisional pada masa lalu
DI ANTARA KE- MASA LALU-AN DAN KE-KINI-AN KOTA BERSEJARAH Imam Santoso
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 4, No 1 (2003): September 2003
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.712 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v4i1.1958

Abstract

Kerinduan akan masa lalu pada sebuah kota tentunya akan lebih terasa indah, ketika menempatkan kesejarahan kota tersebut pada suatu posisi yang benar dan tepat. Sebagai contohnya L’arc de Grand au Defense di Paris (semacam ‘Regol’ dalam istilah Jawa) yang tentunya dapat menjadi panutan para arsitek di negeri ini di dalam memberi sentuhan pada suatu karya kearsitekturan kota yang berakar dan memiliki perhatian pada arti kesejarahan. Melihat fenomena terhadap pemakaian bangunan yang bernilai kesejarahan atau ke-kuno-an (klasik) adalah sebagai pengikat fungsi baru yang cenderung mempunyai nilai positif. Di kota-kota di Indonesia sepertinya hal tersebut belum mencapai perkembangan kota yang ideal antara ke-masa lalu-an dan ke-kini-an, masyarakat masih menilai dan melihat bahwa yang kuno tersebut adalah usang. Sehingga perlu untuk mencontoh dalam kasus bangunan La Defense di kota Paris baru, dimana perancangnya berhasil memberikan nuansa lain pada kota baru tersebut tanpa meninggalkan ciri-ciri yang ada pada kota Paris lama, dengan memanfaatkan apa yang disebut ‘historis axis’ sebagai pengikatnya.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP LINGKUNGAN PERMUKIMANNYA DI DAS BRANTAS Soesanto Soesanto
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol 4, No 1 (2003): September 2003
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2110.714 KB) | DOI: 10.26905/mintakat.v4i1.1959

Abstract

Malang adalah sebuah kota dengan mayoritas penduduknya adalah pendatang, dan dikenal sebagai kota  pelajar yang sebagian besar masyarakat terdiri dari pelajar dan mahasiswa. Dari tahun ke tahun. Malang semakin padat  , kebutuhan akan permukiman pun semakin bertambah.  Di tengah-tengah kota Malang  permukiman  semakin padat , banyak masyarakat   hidup dengan taraf perekonomian  yang rendah (masyarakat marginal).  Kondisi tersebut menjadikan  peneliti yang secara moral memiliki  beban dan tanggung jawab untuk ikut memecahkan solusi permasalahan  dalam   membantu Pemerintah Daerah Malang untuk ikut berperan serta menyumbangkan pemikirannya dalam  menyelesaikan permasalahan yang terjadi dimasyarakat  khususnya di sekitar bantaran Das Brantas Malang . Dari beberapa masyarakat  kehidupan perekonomian rendah, diambil sampel  lingkungan masyarakat  bawah sebanyak 30 KK (kepala keluarga) yang hidup secara sederhana menempati lahan di RW II RT 05  DAS  Brantas Kelurahan Kesatrian  Kecamatan Blimbing. Dari hasil  wawancara 11 pertanyaan kunci yang dianalisis didapat  simpulan bahwa aspirasi masyarakat di bantaran Sungai Brantas tepatnya di Kelurahan Kesatrian RW II RT 05 Kecamatan Blimbing, tidak akan mau dipindahkan walaupun keadaan ekonomi mereka yang serba kekurangan dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat karena mereka lebih mengutamakan kehidupan bersama dengan kerukunan dan rasa kekeluargaan yang tinggi sehingga mereka dapat saling menolong, bukan karena keadaan Sungai Brantas atau kondisi kesehatan masyarakat yang kurang baik ataupun kondisi rumah yang tidak memenuhi standar.

Page 1 of 1 | Total Record : 6