cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2011): September" : 6 Documents clear
MENGGUGAT ETIKA JAWA DALAM NOVEL DONYANE WONG CULIKA KARYA SUPARTO BRATA Jupriono D; Soekarno HS
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 1 (2011): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i1.70

Abstract

D. Jupriono[1] Soekarno Hs.[2] Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya diglossiafbs@gmail.com Abstrak Nilai-nilai etika Jawa direpresentasikan dalam novel karya Suparto Brata, Donyane Wong Culika (2004) adalah prinsip-prinsip menjaga dan memelihara keserasian sosial melalui toleransi, rasa hormat, malu, salut (sungkan), oleh ambisi menekan dan kepentingan pribadi. Representasi nilai-nilai etika Jawa dalam novel ini juga rusak oleh massa serta (bangsawan) priyayi, pejabat, orang-orang kerajaan. Melalui ilustrasi karakter dan perilaku karakter 'dalam novel ini, sebenarnya Suparto Brata protes dengan etika Jawa yang diklaim lebih terhormat karena dalam novel ini membuktikan bahwa massa serta priyayi melakukan urusan tipu dan cinta.kata kunci: sosiologi sastra, pendekatan moral-filosofis, etika jawa, harmoni    Abstract Javanese ethic values represented in the novel by Suparto Brata, Donyane Wong Culika (2004), are the principles of keeping and maintaining the social harmony through tolerance, respect, ashamed, salute (sungkan), by suppressing ambition and personal interest. The representation of Javanese ethic values in this novel is also broken by the masses as well as priyayi (aristocrat), officials, royal people. Through character illustration and characters’ behavior in this novel, actually Suparto Brata protests to Javanese ethics which are claimed to be more honored since in this novel it proves that the masses as well as priyayi do deceitfulness and love affairs. key words: sociology of literarature, moral-phlosophical approach, javanese ethics, harmony [1] Drs. D. Jupriono, M.Si., peminat kajian kebudayaan Jawa; mengajar mata kuliah filsafat Sejarah Pemikiran Modern pada Fakultas Sastra, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya; aktif di Pusat Penelitian Sastra dan Strategi Kebudayaan (PPSSK), LPPKM, Untag Surabaya.   [2] Dr. Drs. H. Soekarno Hs., M.Si., peminat kajian etika sosial, pengajar mata kuliah Dasar-dasar Filsafat (DDF), Etika, dan Logika, sekaligus Dekan Fakultas Sastra, Untag Surabaya; serta dosen S2-S3 Program Studi Kebijakan Publik, Program Pascasarjana, Untag Surabaya.  
YOGA PADA PANCATANTRA INDIA DAN KALADESA PADA TANTRI KAMANDAKA JAWA KUNO: KAJIAN SASTRA BANDINGAN Ambar Andayani
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 1 (2011): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i1.71

Abstract

Ambar Andayani Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya diglossiafbs@gmail.com  Abstrak India Pancatantra adalah pola dasar dari Tantri Kamandaka Jawa kuno, Laos dan Siam Tantrai Tanthai. Penelitian ini bertujuan membandingkan antara Pancatantra dan Tantri Kamandaka yang berasal dari dua negara di benua yang sama, Asia, dan dari periode yang berbeda (200 SM dan 1200 ini). Studi sastra komparatif menunjukkan bahwa kedua karya ini menghasilkan warna lokal. Warna-warna lokal dianalisis dengan motif Thompson dan itu semiotik Riffaterre yang dilakukan oleh tingkat heuristik dan hermeneutik. Melalui aplikasi interpretasi dan sastra interdisipliner, simbol-simbol yang ditemukan dalam cerita rakyat dijelaskan. Perbandingan dari kedua dongeng mencapai makna otentik, memodifikasi "Sebuah Louse dan A Bug" di Indian Pancatantra Yoga dan "Louse A dan A Bug" di Tantri Kamandaka Jawa kuno yang menceritakan tentang Kaladesa. Akhirnya transformasi dari yoga ke kaladesa diselidiki dengan konsep akulturasi. kata kunci: sastra komparatif, motif, simbol, yoga   Abstract Indian Pancatantra is the archetype of Old Javanese Tantri Kamandaka, Laos Tantrai and Siam Tanthai. This research wants to compare between Pancatantra and Tantri Kamandaka which comes from two different countries in the same continent, Asia, and from different periods (200 BC and 1200’s). This comparative literary study shows that they produce local colors. These local colors are analyzed with Thompson’s motif and Riffaterre’s semiotic which is conducted by heuristic and hermeneutic levels. Through the applications of interpretation and interdisciplinary literature, the symbols found in the folktales are explained. The comparison of both fables achieves the authentic meanings, “A Louse and A Bug” in Indian Pancatantra modifies Yoga and “A Louse and A Bug” in Old Javanese Tantri Kamandaka tells about Kaladesa. Finally the transformation from yoga into kaladesa is investigated with the concept of acculturation. key words: comparative literature, motive, symbol, yoga  
DAMPAK PARADIGMA DESKRIPTIF DAN PARADIGMA KRITIS DALAM PENGAJARAN TERHADAP LINGUISTIK KARAKTER MAHASISWA D Jupriono
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 1 (2011): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i1.72

Abstract

D. Jupriono Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya diglossiafbs@gmail.com   Abstrak Selama lebih dari 50 tahun, mengajar linguistik di Indonesia telah didominasi dengan paradigma deskriptif, yang hanya menekankan pada sistem linguistik atau bahkan tata bahasa saja. Paradigma deskriptif memang menempatkan bahasa sebagai objek yang otonom, netral, dan terisolasi dari masyarakat. Selanjutnya, apa karakteristik dari paradigma deskriptif dalam pengajaran bahasa? Bagaimana dampak terhadap bangunan mahasiswa karakter? Apa paradigma yang mampu untuk menangani kekurangan yang disebabkan oleh implementasi paradigma deskriptif? Jika linguistik paradigma kritis dianggap lebih baik, apa karakteristik? Bagaimana dampak pelaksanaan paradigma kritis dalam pengajaran bahasa terhadap karakter siswa? Pembahasan ini adalah pada pendekatan kualitatif-kritis. Desain diterapkan untuk mempelajari dampak dari paradigma deskriptif dan kritis dalam pengajaran bahasa terhadap karakter siswa adalah analisis wacana kritis (CDA). Hasil dari penelitian ini adalah pertama, paradigma deskriptif dalam pengajaran bahasa menumpulkan kesadaran siswa untuk masalah-masalah sosial; paradigma deskriptif hanya akan melahirkan siswa yang memiliki karakter tanggung jawab egois, apatis dan tidak ada masalah sosial, kedua, untuk membangun karakter mahasiswa yang peduli masyarakat dan memiliki kesadaran kritis, pengajaran bahasa harus memiliki paradigma kritis. Dengan paradigma kritis, kuliah linguistik akan mengangkat teks wacana aktual masalah sosial (ketidakadilan, ketimpangan, hubungan dominasi-subordinasi antara kelompok-kelompok, dll). kata kunci: pengajaran bahasa, paradigma deskriptif, paradigma kritis, analisis wacana kritis   Abstract For more than 50 years the linguistic teaching in Indonesia has been dominated with descriptive paradigm, which merely focuses on linguistic system or even only grammar. Descriptive paradigm indeed places language as an object which is autonomous, neutral, and isolated from society. Next, what are the characteristics of descriptive paradigm in linguistic teaching? How is the impact toward student character building? What paradigm which is capable to handle the lacks caused by descriptive paradigm implementation? If the critical paradigm linguistic is considered better, what are the characteristics? How is the impact of critical paradigm implementation in linguistic teaching toward student character? The discussion is on the qualitative-critical approach. The design applied to study the impact of descriptive and critical paradigm in linguistic teaching toward student character is critical discourse analysis (CDA). The results of this research are firstly, descriptive paradigm in linguistic teaching blunts student awareness to social problems; descriptive paradigm will only bear students which have character of selfish, apathetic and no responsibility to social problems, secondly, to build student character which cares of society and has critical awareness, linguistic teaching should have critical paradigm. With critical paradigm, linguistic lectures will lift up actual discourse texts of social problems (unfairness, lameness, relation of domination-subordination between groups, etc.). key words: linguistic teaching, descriptive paradigm, critical paradigm, critical discourse analysis
THE STUDIES OF THE BILDUNGSROMAN HERMAN HESSE'S DEMIAN IN AND CHARLES DICKENS' DAVID COPPERFIELD M Supriyatno
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 1 (2011): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i1.73

Abstract

Supriyatno Unisda Lamongan diglossiafbs@gmail.com Abstrak Bildungsroman play an important role in the literary movement. Its role is centered on the development of the central character or education. Bildungsroman novels aimed at guiding the reader to greater personal enrichment on an adventure of the protagonist from youth to adulthood. Charles Dickens is known as one of the writers who focus on the development of the central character or education. One of his best works are David Copperfield. David Copperfield David Copperfield describes life as the main character in the story, from childhood to adulthood. Another writer Herman Hesse's attention to the way the character of emotional maturity. Demian is a work that describes the search Demian Hesse, the main character, to the emotional maturity of his life. Therefore, this study will be studied by using the characteristics of the Bildungsroman in David Copperfield and Demian. key words: bildungsroman, protagonist, personality development   Abstrak Bildungsroman berperan penting dalam gerakan sastra. Peranannya berpusat pada pengembangan atau pendidikan karakter sentral. Novel Bildungsroman bertujuan membimbing pembaca untuk pengayaan pribadi yang lebih besar pada petualangan protagonis dari masa muda hingga dewasa. Charles Dickens dikenal sebagai salah satu penulis yang perhatian pada pengembangan atau pendidikan karakter sentral. Salah satu karya terbaiknya adalah David Copperfield. David Copperfield menggambarkan tentang kehidupan David Copperfield sebagai karakter utama dalam cerita, dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Herman Hesse penulis lain yang perhatian pada perjalanan kematangan emosi karakter. Demian adalah karya Hesse yang menggambarkan pencarian Demian, karakter utama, untuk kematangan emosional dalam hidupnya. Oleh karena itu, penelitian ini akan dipelajari dengan menggunakan karakteristik Bildungsroman pada novel David Copperfield dan Demian. kata Kunci: Bildungsroman, protagonist,  personality development  
JUDI YANG MENCANDU DALAM NOVEL ‘THE GAMBLER’ KARYA FYODOR DOSTOEVSKY Achmad Fanani
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 1 (2011): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i1.75

Abstract

Achmad Fanani Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang akufanani@gmail.com Abstrak The Gambler adalah sebuah novel yang ditulis oleh Fyodor Dostoevsky tentang seorang guru muda yang bekerja di keluarga seorang jenderal Rusia yang pernah menjadi orang kaya. Novel ini, seperti dapat dilihat dalam novel back-cover, adalah refleksi dari kecanduan ke penulis judi rolet. Dostoevsky menyelesaikan penulisan novel ini dalam batas waktu yang sangat singkat sehingga ia dapat melunasi utang judi. Adapun tokoh utama dalam novel The Gambler, Alexei Ivanovich, dapat dikategorikan sebagai seorang pathological gambler. Hal ini dikarenakan dia memenuhi paling tidak 5 dari 10 karakteristik seorang pathological gambler yaitu preoccupation (terobsesi dengan perjudian), tolerance (meningkatkan jumlah taruhan), escape (sebagai bentuk pelarian), chasing (selalu berusaha memenangkan kembali apa yang kalah), loss of control (kehilangan kontrol diri), dan bailout (dan mengandalkan uang dari orang lain). kata kunci: penjudi, perjudian, kecanduan     Abstract The Gambler is a novel written by Fyodor Dostoevsky about a young teacher who worked in the family of a Russian general who was once a wealthy man. This novel, as can be seen in the back-cover of the novel, is a reflection of the author’s addiction to roulette, Dostoevsky completed the writing of this novel in a very short deadline so that he could pay off his gambling debts. The main character of this novel, Alexei Ivanovixh, can be categorized as a pathological gambler. He meets at least five out of ten characteristics of a pathological gambler: preoccupation, tolerance, escape, chasing, loss of control, and bailout. key words: gambler, gambling, addicted  
PERBANDINGAN MITOS YANG TERDAPAT PADA LEGENDA KO-SODATE YUUREI (JEPANG) DAN LEGENDA KUNTILANAK (INDONESIA): KAJIAN SASTRA BANDINGAN Diessy Hermawati Bravianingrum
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 3 No. 1 (2011): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v3i1.80

Abstract

Diessy Hermawati Bravianingrum Universitas Pesantren Tinggi Darul’Ulum Jombang cc_dizzy@yahoo.com  Abstrak Mitos adalah bentuk warisan cerita tertentu dari tradisi lisan yang dapat diinterpretasikan dalam urutan simbolis semesta alam atau ketertiban umum. Legenda (Kosodate Yuurei) (Jepang) dan Kuntilanak (Indonesia) memiliki simbol yang sama dan digambarkan dalam bentuk serupa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Jepang dan Indonesia 1) jenis yang terkandung dalam mitos kedua adalah mitos legenda simbolis. 2) Persepsi tentang legenda Jepang (Ko-sodate Yuurei) adalah positif, dan opini publik terhadap legenda Kuntilanak Indonesia adalah negatif. kata kunci: mitos, legenda dan forklor   Abstract Myth is an inherited form of certain stories from oral tradition that can be interpreted in a symbolic order of the Worlds or the public order. Legend (Kosodate Yuurei) (Japan) and Kuntilanak (Indonesia) has the same symbols and depicted in a similar form. The results of this study indicate that the Japanese society and Indonesia are 1) the type contained in the second myth is the myth symbolic legend. 2) Perceptions of Japan's legend (Ko-sodate Yuurei) is positive, and public opinion against the legend Kuntilanak Indonesia is negative. key words: myth, legend and forklor

Page 1 of 1 | Total Record : 6