cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Mediator
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 2 (2004)" : 17 Documents clear
Ragam Etika Bahasa Komunikasi: Perspektif Qur’ani Yahya, Wildan
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyampaian pesan dengan tutur kata yang arif dan bijaksana akan membantu tercapainya tujuan. Di dalam al-Qur‘an, diungkapkan aneka ragam etika bahasa komunikasi yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi. Aneka ragam etika bahasa itu adalah: (1) Qaulan ma’rûfâ, tutur kata yang baik sesuai dengan adat atau tradisi yang berlaku; (2) Qaulan sadîdâ, perkataan yang benar dan tepat; (3) Qaulan balîghâ, susunan bahasa yang efektif dan membekas; (4) Qaulan karîmâ, ungkapan kata yang santun dan mulia; (5) Qaulan layyinâ, tutur bahasa yang halus dan lemah lembut; (6) Qaulan maisûrâ, percakapan yang mudah dan sederhana; dan (7) Qaulan tsaqîlâ, perkataan yang menggetarkan dan berbobot.
Representasi Perempuan Indonesia dalam Komunikasi Visual: Wacana yang (Belum) Berubah Astuti, Santi Indra
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai sebuah narasi yang bercerita tentang riwayat panjang kemanusiaan, ada banyak hal yang bisa ditapaki dari produk-produk komunikasi visual kita, entah itu film, media massa, ataupun iklan. Sosok perempuan dalam film, dari segi kuantitas, menduduki posisi yang cukup sentral. Ini dialami pula oleh perempuan yang tampil dalam majalah dan iklan—setidaknya wajah perempuan bertaburan di mana-mana. Namun, kondisi sedemikian tidak serta-merta meniscayakan adanya representasi perempuan dalam wacana yang cukup bermutu. Penelusuran atas berbagai literatur yang menyoal representasi perempuan di tiga media komunikasi visual, yaitu film, majalah, dan iklan memperlihatkan wacana tentang perempuan yang belum berubah dari stereotip klasik. Untuk mengubah stereotip ini, gerakan feminis yang digagas oleh para aktivis tidaklah cukup. Perempuan mesti menyediakan ruang dan waktu untuk berdialog secara leluasa dengan dirinya sendiri, guna menegosiasikan secara kritis pelbagai pemaknaan yang ditawarkan pada mereka dalam upaya mengonstruksi diri ataupun masyarakat yang lebih ramah terhadap eksistensi perempuan.
Ibu sebagai Ikon Periklanan: Dari “Supermom” sampai “Smart Mom” Chatamallah, Maman
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia periklanan tak pernah sepi dari gempita –mulai dari gempita seputar pernak-pernik periklanan, gemerlap selebritis periklanan, riuh rendah omset iklan yang luar biasa di tengah krisis, sampai pada diskusi menyoal isu-isu politis dalam periklanan. Iklan, bagaimanapun, adalah sebuah medium representasi simbolik, yang tak lepas dari tarik-menarik antarberbagai kepentingan. Ibu, sebagai bagian dari perempuan, sering disimbolisasikan oleh iklan secara verbal ataupun nonverbal. Dari berbagai citraan yang muncul, terlihat bahwa dominasi citra Ibu dalam periklanan Indonesia ternyata belum beranjak dari gambaran klasik tentang perempuan tradisional: berkutat di ruang domestik, tersubordinasi di bawah bayang-bayang suami, dan terperangkap dalam ilusi sebagai sosok yang selalu siap berkorban, kendati sesungguhnya dikorbankan.
Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Kesenjangan Informasi Ratnasari, Anne
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat dewasa ini, di satu sisi memberikan peluang bagi kemajuan masyarakat, tetapi di sisi lain juga telah menimbulkan kesenjangan informasi, baik pada tingkat makro maupun mikro. Pada tingkat makro, kesenjangan ini sangat tampak dalam hal ketidakseimbangna arus informasi dan penguasaan teknologi di kalangan negara-negara maju (core nations) dan negara-negara sedang berkembang (peripheral nations). Melalui penguasaan teknologi yang luas, dan dengan misi penguasaan pasar dunia, arus informasi dari negara-negara maju ke negara-negara sedang berkembang jauh lebih banyak ketimbang sebaliknya. Hal ini terjadi akibat sejarah panjang sejak masa kolonial. Pada tingkat mikro, kesenjangan informasi terjadi akibat perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi. Mereka yang memiliki tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi lebih tinggi cenderung memiliki peluang lebih tinggi pula dalam mengakses informasi dibandingkan mereka yang tingkat pendidikan dan tingkat ekonominya lebih rendah.
Kampanye Publik tentang Antikorupsi Ibrahim, Idi Subandy
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setelah reformasi bergulir sejak Mei 1998, muncul harapan praktik penyelenggaraan pemerintahan yang lebih memberikan harapan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Namun, harapan itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan, karena masih berakar-kuatnya praktik KKN(korupsi, kolusi, dan nepotisme) dalam pemerintahan, parlemen, dan kehidupan publik. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah “kampanye publik antikorupsi” untuk melawan praktik KKN ini. Kampanye publik harus dilakukan secara terencana dan sistematis. Ia juga harus bersifat informatif, persuasif, dan edukatif, dengan memanfaatkan media komunikasi konvensional maupun inkonvensional secara optimal agar kampanye bisa mendorong publik berpartisipasi secara aktif dalam kampanye antikorupsi.
Cross-Cultural Health Communication Mulyana, Deddy
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap kebudayaan memiliki pandangan yang beragam tentang kesehatan atau penyakit, kehidupan atau kematian. Ada masyarakat yang menganggap penyakit sebagai nasib yang harus diterima secara fatalistik. Ada pula masyarakat yang memandangnya sebagai cobaan dari Tuhan, dsb. Selain itu, terdapat juga perbedaan konsep untuk menamai jenis penyakit tertentu pada sejumlah pengguna bahasa yang berbeda. Nama suatu penyakit dalam suatu bahasa tidak bisa diterjemahkan langsung ke dalam bahasa lain. Dokter berkebangsaan Amerika, misalnya, akan kebingungan bila menangani pasien orang Indonesia yang berpenyakti “raja singa”, karena nama penyakit itu tak bisa diterjemahkan langsung menjadi “king lion”. Keragaman budaya ini berimplikasi pada para petugas kesehatan, perawat, dokter, untuk memahami budaya pasien, yang ditanganinya, yang berasal dari komunitas budaya berbeda. Kekeliruan memahami latar belakang budaya pasien dapat menimbulkan kesalahan dalam mendiagnosis penyakit, menangani pasien, atau menentukan resep obat.
Membaca Sebuah Sistem Komunikasi Gani, Rita
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul Buku: Sistem Komunikasi Indonesia; Penulis: Nurudin; Penerbit: PT Rajawali Press, Jakarta; Tahun Terbit: Maret 2004; Tebal: xii + 218 halaman.

Page 2 of 2 | Total Record : 17