cover
Contact Name
Ayusia Sabhita Kusuma
Contact Email
ayusia.kusuma@unsoed.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
insignia.hi@unsoed.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Insignia: Journal of International Relations
ISSN : 20891962     EISSN : 25979868     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Insignia Journal of International Relations is published biannually (April & November) by Laboratorium of International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University. This journal contains articles or publications from all issues of International Relations such as: International Politics, Foreign Policy, Security Studies, International Political Economy, Transnational Studies, Area Studies & Non-traditional Issues.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
Tantangan Implementasi ASEAN Community: Kasus di Kota Malang Rijal, Najamuddin Khairur
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 01 (2017): April 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.416 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.01.486

Abstract

Abstract This paper examines the challenges of implementing the ASEAN Community that are elaborated based on the understanding and views of the management of International Relations Students Association in Malang. The data used is the primary data obtained from the results of structured interviews and questionnaires to 60 respondents. While secondary data is used to support the discussion. As the result, there are three challenges of implementing the ASEAN Community. First, the understanding of society related to the description of the characteristics/goals of each pillars of ASEAN Community is low. The second challenge is people are more familiar with the term of MEA, so there are reduction of understanding about ASEAN Community is limited to the economic dimension. Third, the lack of understanding and the reduction of understanding is inseparable from the source of information about ASEAN Community which originated more dominant from secondary information. Keywords: ASEAN Community, AEC, Malang City Abstrak Tulisan ini mengkaji mengenai tantangan implementasi ASEAN Community yang dielaborasi berdasarkan pengetahuan dan pandangan mahasiswa pengurus Himahi di Kota Malang. Data yang digunakan merupakan data primer yang diperoleh dari hasil wawancara terstruktur dan pengisian angket kepada 60 responden. Adapun data sekunder digunakan untuk mendukung uraian pembahasan. Hasil penelitian menemukan bahwa ada tiga tantangan dalam implementasi ASEAN Community. Pertama, pemahaman masyarakat masih rendah terutama berkaitan dengan penjabaran dari karakteristik/tujuan masing-masing pilar ASEAN Community. Tantangan kedua adalah masyarakat lebih familiar dengan istilah MEA sehingga terjadi reduksi pemahaman tentang ASEAN Community hanya sebatas pada dimensi ekonomi. Ketiga, rendahnya pemahaman dan adanya reduksi pemahaman itu tidak terlepas dari sumber informasi tentang ASEAN Community yang lebih dominan diperoleh dari informasi sekunder. Kata-kata Kunci: ASEAN Community, MEA, Kota Malang
Politik Luar Negeri Indonesia dan Malaysia Terhadap China di Era Perang Dingin
Insignia: Journal of International Relations Vol 1 No 01 (2014): November 2014
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1299.834 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2014.1.01.426

Abstract

Since the proclamation on the 1st October 1949, the People's Republic of China has gained an important role in international relations after World War II. The success of communism conquered China, has changed the dynamics of competition between the United States and the Soviet Union that lead the Western Bloc and the Eastern Bloc. The situation has forced the newly independent states in this era, like Indonesia and Malaysia, to determine their position. In addition to facing the same international politics pressures, the two countries also have relations in the domestic issues related to China, namely the existence of the local Communist Party and ethnic of "Chinese overseas". The external and domestic factors that ultimately affect the choice of the countries' foreign policy towards China. This article attempts to identify and explore the factors that influence the similarities and differences in Indonesia and Malaysia foreign policy towards China using the approach threat perception, leader perception and domestic legitimacy within the framework of neo-classical realism. This article is expected to provide scientific contributions to understanding the comparison of Indonesia and Malaysia foreign policy towards China. Keywords: Indonesia and Malaysia foreign policy, the existence of China, Cold War era, threatperception, leader perception, domestic legitimacy, neo-classical realism
Analisis Efektivitas G20 Dalam Menangani Krisis Finansial Tahun 2008
Insignia: Journal of International Relations Vol 3 No 02 (2016): November 2016
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.187 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2016.3.02.468

Abstract

AbstrakKrisis finansial 2008 menjadi sebuah permasalahan yang sulit dan menantang untuk diselesaikan, yang membawa pada pentingnya reformasi artsitektur tata kelola ekonomi global. G20 muncul sebagai sebuah tata kelola ekonomi global yang signfikan. Kedua puluh negara anggota G20 dapat mengambil peran yang signifikan dalam ekonomi glob-al. Berbagai upaya dikeluarkan oleh G20 dalam menyelesaikan krisis finansial 2008. Salah satu upayanya adalah dengan pemberian stimulus fiskal sebesar 2% dari PDB negara anggota G20. Kebijakan lainnya terus didorong oleh G20 untuk membuat aturan dan pengawasan yang efektif serta berbagai kebijakan sektor finansial lainnya. Efektivitas G20 dalam menyelesaikan krisis finansial G20 menjadi penting untuk dianalisa untuk membuat tata kelola ekonomi global yang lebih baik.Kata-Kata Kunci : G20, krisis finansial 2008, efektivitas, KTT G20 AbstractFinancial crisis 2008 posed a serious of deeper and more challenging problem, that led to calls for urgent reform of the architecture of global economic governance. G20 emerged as a significant global economic governance. The twenty members of G20 can take a significant role in economic global. Various efforts were made by G20 through policies resulted from the Summit. Those efforts include providing fiscal stimulus in the amount of 2% from GDP the member of G20. Other policies have been pushed by G20 to make an effective regulatory, supervisory and other financial sec-tor policies. The effectiveness of G20 in handling financial crisis 2008 was important to be analyzed to make a global economic governance will be better.Keywords : G20, financial crisis 2008, effectiveness, G20’s summit.
Peran dan Tantangan Kerjasama Subregional dalam Mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA): Pendekatan Multilevel Governance Riyanto, Budi
Insignia: Journal of International Relations Vol 2 No 02 (2015): November 2015
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.269 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2015.2.02.456

Abstract

AbstrakPenelitian ini menganalisa pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) melalui pendekatan multilevel governance. Yakni, melihat dinamika integrasi ekonomi ASEAN dalam proses pengambilan kebijakan baik di tingkat makro-regional yakni pada level regional ASEAN, maupun mikro-regional yang dalam hal ini peranan di level subregional. Kapasitas kerjasama subregional sangat penting terutama sebagai dinamisator ekonomi di wilayah-wilayah terbelakang sekaligus sebagai wadah dalam menerapkan kebijakan alternatif untuk mencapai tujuan-tujuan integrasi ekonomi regional. Kemampuan ASEAN untuk mendorong penyempitan jarak kesenjangan pembangunan antara negara-negara CLMV (Kamboja, Laos, Myanamar dan Vietnam) dengan ASEAN6, serta kesenjangan konektivitas antara tiga subregional yakni GMS (Greater Mekong Subregion), IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle), dan BIMP-EAGA (Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area) sangat penting dalam upaya mendorong konvergensi kepentingan dan kohesivitas regional menuju kawasan yang berdaya saing. Kata-Kata Kunci: multilevel governance, integrasi ekonomi regional, kesenjangan pembangunan, kesenjangan konektivitas, subregional. AbstractThis research analyzes the formation of the ASEAN Economic Community (AEC) using multilevel governance approach. It sees through the dynamic integration of ASEAN in the process of policy-making both at macro-regional level that is the ASEAN regional level, as well as micro-regional role in this regard subregional. The capacity of subregional cooperation is particularly important as the economic dynamist in remote areas as well as the container in implementing alternative policies to achieve the objectives of regional economic integration. ASEAN's ability to drive the distance narrowing the development gap between CLMV countries (Cambodia, Laos, Myanamar and Vietnam) with ASEAN6, as well as the gap between the three subregional connectivity the GMS (Greater Mekong Subregion), IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle), and BIMP-EAGA (Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area) is very important in order to encourage the convergence of interests and regional cohesion towards regional competitiveness. Keywords: multilevel governance, regional economic integration, development gap, connectivity gap, subregional.
Standar Ganda Politik Luar Negeri Amerika Serikat Terhadap Kudeta Mesir 2013 Wahyudi, Herry
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.758 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.595

Abstract

This research will examine the double standards of US foreign policy against the coup in Egypt in 2013, given that the US intervention against the Middle East region is very dominant. Attention and the US response be different in response to the case of the coup in Egypt. US seemed to not make this case as a priority despite the coup led to the violation of human rights and democracy. The response shown by the US is very different compared to the US intervention against Iraq and Libya are rated US itself as defending human rights and democracy in the region. The purpose of this research is to find out why the US double standards in its foreign policy related to the Egyptian coup. Data will be explored through literature method (library research). Overall the data will be correlated with foreign political theory of rational actor models that can explain the reason for choosing the attitude of the US double standard in a coup in Egypt in 2013 based on the selection and cost-benefit considerations on the measures taken. The results of this paper indicate that the indication of the double standards shown by the US to Egypt coup influenced by the victory of the Muslim Brotherhood (IM) as a political Islam that could interfere with the stability and US interests in the Middle East. Some of the options and the consequences have been considered by the US in response to the case, including participating ignoring their violations of democracy and human rights in the case even though it was contrary to the foundations and principles of US foreign policy. Another indication that support multiple standards is the response of US allies in the Middle East, such as Israel, Saudi Arabia and the United Arab Emirates who consider IM as a threat to the stability and the Middle East region. Keywords: US double standards, US foreign policy, coup Egypt, political Islam, Muslim Brotherhood Penelitian ini akan mengkaji standar ganda politik luar negeri Amerika Serikat terhadap kudeta di Mesir tahun 2013, mengingat bahwa intervensi AS terhadap kawasan Timur Tengah sangat dominan. Perhatian dan respon AS terlihat berbeda dalam menanggapi kasus kudeta di Mesir. AS seolah tidak membuat kasus ini sebagai prioritas walaupun kudeta tersebut berujung pada pelanggaran HAM dan demokrasi. Respon yang diperlihatkan oleh AS sangat berbeda jika dibandingkan dengan intervensi AS terhadap Irak dan Libya yang dinilai AS sendiri sebagai upaya penegakan HAM dan demokrasi di kawasan tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mencari tahu mengapa AS bersikap standar ganda dalam politik luar negerinya terkait dengan kudeta Mesir. Data akan ditelaah melalui metode kepustakaan. Keseluruhan data akan dikorelasikan dengan teori politik luar negeri model aktor rasional yang dapat memaparkan alasan AS untuk memilih sikap standar ganda dalam kudeta Mesir 2013 berdasarkan pemilihan dan pertimbangan untung-rugi atas tindakan yang telah diambil. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indikasi standar ganda yang diperlihatkan oleh AS terhadap kudeta Mesir dipengaruhi oleh kemenangan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai political Islam yang dapat mengganggu stabilitas dan kepentingan AS di Timur Tengah. Beberapa pilihan dan konsekuensi telah dipertimbangkan oleh AS dalam merespon kasus ini, termasuk ikut mengabaikan adanya pelanggaran demokrasi dan HAM dalam kasus tersebut walaupun hal tersebut bertentangan dengan landasan dan prinsip politik luar negeri AS. Indikasi lain yang mendukung standar ganda ialah respon sekutu AS di Timur Tengah, seperti: Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang menganggap IM sebagai ancaman bagi stabilitas dan kawasan Timur Tengah. Kata kunci: standar ganda AS, politik luar negeri AS, kudeta Mesir, politik Islam, Ikhwanul Muslimin
Kinerja Pemerintah DKI Jakarta Dalam Kerjasama Sister City Dengan Seoul di Bidang Perdagangan
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 01 (2017): April 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.452 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.01.473

Abstract

AbstractInternational cooperation nowadays is not only designated for goverment to government relations, but also for substateand non-state actors as each has equal opportunities to involve in international relations. The province of Jakartaas one of the sub-state actors implements this opportunity by establishing sister city cooperation with localgovernments of similar interests from around the world. The main focus in this paper is to evaluate the effectiveness ofthe sister city between the province of Jakarta and Seoul, especially in trade sector, including to find the impedimentsin its implementation.Keywords: sister city, trade, cooperation, evaluation.AbstrakKerjasama internasional yang dilakukan saat ini tidak lagi hanya diperuntukan untuk hubungan yang dilakukan olehpemerintah antar negara saja, karena aktor lokal maupun aktor non-negara saat ini juga mempunyai kesempatan yangsama untuk terlibat dalam hubungan internasional. Pemerintah DKI Jakarta sebagai salah satu aktor lapisan di bawahPemerintah Indonesia mengimplementasikan kesempatan tersebut dengan menjalin kerjasama sister city antarpemerintah daerah dari berbagai negara. Titik fokus pembahasan tulisan ini adalah mengevaluasi kinerja PemerintahDKI Jakarta dalam kerjasama sister city dengan Seoul, termasuk melihat faktor-faktor yang menghambatimplementasi kerjasama.Kata Kunci: sister city, perdagangan, kerjasama, evaluasi.
Terorisme dan Keamanan Kolektif ASEAN Wiratma, Harist Dwi; Suharman, Yoga
Insignia: Journal of International Relations Vol 3 No 01 (2016): April 2016
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.169 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2016.3.01.464

Abstract

AbstrakMasalah terorisme adalah masalah yang signifikan setelah serangan World Trade Center pada 11 September 2012. Kasus ini mengancam negara-negara muslim di dunia. Meskipun begitu, ini tidak bisa menjadi dasar bahwa orang-orang Muslim di dunia adalah seorang teroris. Terorisme telah menjadi salah satu ancaman non-tradisional yang bisa membahayakan orang dalam skala besar. Oleh karena itu, persepsi pendekatan dan konsep keamanan non-tradisional menjadi salah satu cara yang akan digunakan dalam makalah ini. Untuk memandu jalannya penelitian ini, beberapa tujuan yang harus dicapai dalam penelitian ini telah dirumuskan. Tujuan tersebut adalah mengembangkan kajian akademik untuk menghadapi tantangan yang dihadapi oleh negara-negara di Asia Tenggara, untuk menganalisis paradoks keamanan kolektif ASEAN dalam memerangi terorisme.Kata-kata Kunci: terrorisme, keamanan kolektif, teori persepsi, kebijakan, Asia Tenggara. AbstractTerrorism issues is significant problem after the World Trade Center attacks on Sept 11, 2012. This case become threaten to muslim countries in the world. But this can’t be the basis that the people of the world's Muslim is a terrorist. Terrorism has become one of the non-traditional threats that could endanger other people on a large scale. Therefore, perceptions approaches and non-traditional security concept to be one way to be used in this paper. To guide the course of this research, several objectives that needs to be achieved in this study has been formulated. Those objectives are: develop an academic review of the challenges faced by countries in Southeast Asia, to analyze the paradox of ASEAN collective security in combating terrorism.Keywords: terrorism, collective security, perception theory, policy, Southeast Asia
Double Standard Indonesia Dalam Diplomasi Kemanusiaan
Insignia: Journal of International Relations Vol 2 No 01 (2015): April 2015
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.293 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2015.2.01.451

Abstract

AbstrakAspek Hukum Humaniter dan Diplomasi Kemanusiaan jika dilihat dari perspektif Indonesiasebenarnya dapat dipertanyakan. Hal ini disebabkan oleh adanya double standard yang ditetapkanoleh Indonesia dalam penanganan masalah Kemanusiaan sehingga Indonesia sama saja denganAmerika Serikat dalam konteks ini. Hal ini diperkuat dengan data-data mengenai Pembantaianmassal yang terjadi pada tahun l965, pelanggaran-pelanggaran Kemanusiaan di Timor-Timur,Tanjung Priok, Papua, Aceh lalu terbunuhnya beberapa mahasiswa pada era reformasi di Indonesiapada tahun 1998 merupakan pelanggaran berat terhadap kemanusiaan yang sampai saat ini belumtuntas diselesaikan. Pada sisi yang lain Juru bicara Presiden Teuku Faizasyah malah mengklaimbahwa Diplomasi Kemanusiaan menjadi jargon dari kebijakan luar negeri Indonesia. Kata-Kata Kunci : Diplomasi Kemanusiaan, Hukum Humaniter, Pelanggaran TerhadapKemanusiaan AbstractHumanitaran law and humanitarian diplomacy from Indonesia prespective could be questioned.Why? Because in my opinion Indonesia like a janus person, it same with America in this positionwith double standard. What that I said it couldbe subjective but if we look a data about collision ofhuman right in Indonesia it could be the answer from my opinion before. It’s began from 1965with genocide, The Collision of Human Rights in East Timor, Tanjung Priok, Papua and Aceh, theabbattoir of students in reformation process 1998 all of that problems it can’t be finished all untilnow. But it couldbe a joke in my opinion when Indonesian president Spokeperson, TeukuFaizasyah, claimed that humanitarian diplomacy is ‘flagship’ for Indonesian foreign policy(Minutes of Meeting at the Department of International Relations UGM March 2012). So, in thispaper i will focus to analyze the janus attitude of Indonesia in it’s humanitarian diplomacy. Keywords : Humanitarian Diplomacy, Humanitarian Law, The Collision of HumanitarianAspects
Kebijakan Pengelolaan Air Limbah Dalam Penanganan Limbah Batik Di Kota Pekalongan
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.389 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.667

Abstract

AbstractSince batik is recognized by UNESCO as a nation heritage, batik industry in Pekalongan is increasing, but it caused environmental issues. Then, the government of Pekalongan issued local regulation No. 9 of 2015 about waste water management to minimalized the waste impact in Pekalongan. The sustainable development can be meant as a development concept which fulfills needs of the present without forfeiting the fulfillment rights of needs for future generation. There are three understanding apects in the sustainable development, such as social aspect, economy and environment. Generally, the implementation of local regulation No. 9 of 2015 about waste water management in Pekalongan is a balancer of the sustainable development from batik industry which has been done. There are three sustainable development principles which are suitable with local regualation No. 9 of 2015, such as principle of intergenerational equity, principle of integration between environmental protection and development, and principle of preventive measure. In its implementation, these principles have been already done, but the use of IPAL which has not been maximized caused less water quality standard and become an indication of river pollution.Keywords: batik, waste water, local regulation, sustainable development AbstrakSemenjak diakuinya batik oleh UNESCO sebagai warisan bangsa, industri batik di Kota Pekalongan semakin meningkat, namun hal tersebut menimbulkan peramasalahan lingkungan. Pemerintah Kota Pekalongan kemudian mengeluarkan Perda No 9 tahun 2015 tentang pengelolaan Air Limbah guna meminimalisisr dampak limbah di Kota Pekalongan. Pembangunan berkelanjutan dapat diartikan sebagai konsep pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pada generasi yang akan datang. Terdapat tiga aspek pemahaman dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Secara umum implementasi Perda Kota Pekalongan No 9 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Air Limbah merupakan suatu penyeimbang dari pembangunan berkelanjutan dari industri batik yang telah terlaksana. Terdapat tiga prinsip pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan Perda No 9 Tahun 2015, yaitu prinsip keadilan antar generasi (Intergenerational equity), Prinsip Keterpaduan antara Perlindungan Lingkungan Hidup dan Pembangunan, dan prinsip tindakan pencegahan. Pada implementasinya, semua sudah terlaksana, namun penggunaan IPAL yang belum maksimal sehingga menimbulkan kadar baku mutu air diatas yang seharusnya dan menjadi indikasi pencemaran sungai.Kata-kata kunci: batik, air limbah, peraturan daerah, pembangunan berkelanjutan
The Influence of China in Environmental Security and Peace in Mongolia Fachrie, Muhammad
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.721 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.1.597

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengeksplanasi bagamana Cina mempengaruhi keamanan lingkungan dan perdamaian di Mongolia. Di Mongolia, Cina melibatkan diri di beberapa sektor seperti ekosistem, energi, populasi, makanan dan ekonomi. Aktivitas-aktivitas ini menyebabkan  kerusakan lingkungan seperti penggurunan, kepunahan hewan liar, deforestasi,  kerusakan lingkungan yang disebabkan  pembangkit listrik tenaga air, kesehatan makanan, dan polusi lingkungan yang disebabkan pertambangan. Peter Hough, seorang ahli keamanan lingkungan, dalam bukunya yang berjudul “Memahami Keamanan Global, Edisi Kedua”, menjelaskan bahw permasalahan-permasalahan lingkungan bisa menjadi sebuah keamanan manusia. Ini berarti bahwa keamanan lingkungan adalah salah satu dari beberapa dimensi-dimensi dari keamanan manusia. Kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi permasalahan lingkungan saja, akan tetapi ini juga menjadi permasalahan keamanan. Untuk mengeksplanasi hal tersebut, konsep dimensi keamanan lingkungan dan pendekatan konflik lingkungan digunakan, karena fenomena keamanan ini berfokus pada manusia dan bukan negara. Kata Kunci: Keamanan Tradisional, Mongolia, China, Lingkungan, perdamaian

Page 2 of 21 | Total Record : 206