cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2011): February 2011" : 36 Documents clear
Inventarisasi Ikan Hias Pantai Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta: Sebuah Kajian Awal Sidharta, Boy Rahardjo; Probosunu, Namastra ; Suwarman, Suwarman
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.477 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.68

Abstract

Kajian “Inventarisasi Ikan Hias di Pantai Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)” ini diharapkan dapat memberikan data yang lebih akurat dan tepat tentang keberadaan ikan hias di kawasan ini. Kawasan kajian berdasar survei kawasan/lingkungan menetapkan delapan (8) pantai di Kabupaten Gunungkidul sebagai lokasi kajian. Dari delapan pantai tersebut didapat sebanyak 67 jenis ikan hias. Temuan ini seyogianya segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang dalam bentuk penetapan rencana strategis (renstra) yang terkait dengan sumber daya ikan hias, meliputi antara lain: rencana konservasi, pemintakatan (zonasi), pengelolaan, pengembangan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan.
Vegetasi Mangrove sebagai Bahan Makanan pada Empat Suku di Papua Mangrove Vegetation as Foods amongst Ethnics in Papua Mahmud , Mahmud
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.085 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.63

Abstract

Vegetasi mangrove merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Penelitian dilakukan dengan observasi lapangan dan telah pustaka. Tujuan penelitian untuk mengetahui vegetasi mangrove yang dipergunakan sebagai bahan makanan pada empat suku yang ada di Papua Hasil penelitian menunjukkan terdapat 7 jenis dari 3 suku vegetasi mangrove yang dimanfaatkan sebagai makanan. Ke-7 jenis tersebut :Bruguiera gymnorrhiza Lam, Ceriops tagal B.Rob, Nypa fruticans Wurmb, Bruquiera parviflora, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba J.Sm, dan Sonneratia avota dari 3 suku Rhizophoraceae, Sonneratiaceae, Arecaceae. Kegunaan vegetasi mangrove sebagai bahan makanan di antaranya: sebagai makanan pokok, rujakan, pengganti pinang, pengganti kelapa, penambah rasa, dan minuman.
Aplikasi Abu Sekam pada Padi Gogo (Oryza sativa L.) terhadap Kandungan Silikat dan Prolin Daun serta Amilosa dan Protein Biji Yugi Rahayu, Ahadiyat; Harjoso, Tri
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.29 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.58

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi abu sekam terhadap kandungan prolin dan silikat daun serta kualitas hasil yaitu protein dan amilosa biji padi gogo dan hubungan korelasi antar keempat komponen tersebut pada kondisi pertanaman 80 persen kapasitas lapang pada skala pot. Penelitian dilakukan di polibag dalam screen house Fakultas Pertanian Unsoed dengan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan faktor varietas (Situ patenggang, Limboto, Towuti, Batutegi dan Aek sibundong) dan faktor abu sekam (0, 2, 4, 6 t/ha), diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian abu sekam dosis 2−6 t/ha mampu meningkatkan kandungan silikat daun antara 18,49−29,43% dan menurunkan kandungan amilosa biji pada lima varietas sekitar 4,19−6,92%. Pemberian abu sekam dosis 2−6 t/ha mampu meningkatkan kandungan prolin daun antara 27,56−70,63% dan protein biji antara 2,35−16,71%. Antarvarietas menunjukan bahwa kandungan prolin tertinggi dihasilkan oleh varietas Batu tegi 18,58 persen dan protein biji pada varietas Situ patenggang 9,55%. Terdapat korelasi antar karakter fisiologis yaitu antara silikat-prolin (0,62) dan kandungan protein-amilosa biji (-0,78).
Ukuran Diameter dan Takaran Vermikompos Menentukan Produksi Inokulan Fungi Mikoriza Arbuskula dan Biomassa Legum Penutup Tanah Nusantara, Abimanyu D.; Kusmana , Cecep; Mansur , Irdika; K. Darusman, Latifah; Soedarmadi, Soedarmadi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.9 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.53

Abstract

Vermikompos merupakan pupuk organik yang diproduksi dengan bantuan sistem pencernaan dan mikrob dalam usus cacing tanah. Vermikompos diketahui berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman dan perkembangan simbiosis mikoriza. Penelitian ini bertujuan mencari ukuran diameter dan bobot vermikompos yang optimal untuk menghasilkan biomasa tanaman kudzu (P. phaseoloides Roxb) dan inokulum fungi mikoriza arbuskula (FMA) G. etunicatum NPI-126. Percobaan rumah kaca dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok dengan kombinasi ukuran diameter dan bobot vermikompos sebagai perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa vermikompos berpotensi positif sebagai pengganti pupuk buatan untuk meningkatkan produksi biomassa tanaman kudzu dan inokulum FMA G. etunicatum NPI-126. Vermikompos dengan ukuran diameter < 250 µm bobot 150–172 mg menghasilkan bobot kering akar dan kolonisasi FMA di akar tanaman kudzu serta jumlah spora G. etunicatum tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Kolonisasi FMA di akar tanaman berkorelasi positif dengan jumlah spora G. etunicatum.
Potensi Bekasam Bandeng (Chanos chanos) sebagai Sumber Angiotensin I Converting Enzyme Inhibitor Wikandari, Prima Retno; Suparmo , Suparmo; Marsono , Y.; Rahayu , Endang S.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.935 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.69

Abstract

Bekasam adalah produk fermentasi ikan. Bekasam diduga mempunyai aktivitas Angiotensin I Converting Enzyme (ACE) inhibitor, yang disebabkan oleh terbentuknya peptida ACE inhibitor hasil aktivitas proteolitik enzim endogenous ikan dan bakteri asam laktat. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan populasi bakteri asam laktat, pH, total asam, perubahan protein terlarut dan besarnya aktivitas ACE inhibitor selama proses fermentasi bekasam. Jumlah populasi bakteri laktat meningkat dari 5,16 menjadi 8,15 log CFU/g, nilai pH menurun dari 6,5 menjadi 4,41 disertai dengan peningkatan total asam. Bekasam bandeng menunjukkan aktivitas antihipertensi sebesar 51,77% yang terbentuk pada hari ke 6, dan tidak menunjukkan aktivitas penghambatan pada proses fermentasi selanjutnya. Besarnya aktivitas ACE inhibitor berkorelasi dengan terjadinya kenaikan protein terlarut selama proses fermentasi bekasam.
Aktivitas Immobilized α-Amylase dan Free α-Amylase dari Zoogloea ramigera ABL 1 dalam Medium Pati Cair dengan Perlakuan Faktor Lingkungan Retnaningrum, Endah; Nafisah, Zukrotun
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.282 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.64

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter aktivitas immobilized amylase dan free amylase dari isolat amilolitik Zoogloea ramigera ABL 1 dengan beberapa kondisi lingkungan yang berbeda, seperti suhu, pH, temperatur, dan ion logam. Amilase dengan aktivitas enzimatik tertinggi diunduh dari kultur bakteri dalam medium pati cair melalui sentrifugasi. Enzim hasil pengunduhan kemudian diperlakukan immobilization technique dengan direaksikan Ca-alginat. Enzim tanpa perlakuan immobilization technique merupakan free amylase. Kedua amilase kemudian dikarakterisasi berdasar aktivitas spesifik enzim pada kondisi temperatur 30°C; pH (4−10), pH 7; temperature (10−80°C), dan penambahan 1 mM ion logam (CaCl2, CuSO4, FeSO4.7H2O, MgSO4.7H2O, MnCl2..4H2O, ZnSO4) dengan temperatur dan suhu optimum hasil penelitian sebelumnya. Aktivitas spesifik immobilized amylase pada semua kondisi lingkungan lebih stabil dan tinggi daripada free amylase. Immobilized amylase bersifat stabil pada kisaran suhu 10–60°C, dan aktivitas optimumnya terjadi pada suhu 30°C. Immobilized amylase tersebut juga stabil pada kisaran pH 4–7, dengan aktivitas optimum berada pada pH 7. Aktivitas immobilized amylase yang tertinggi terjadi pada penambahan 1 mM ion logam MnCl2.4H2O. Sebaliknya, free enzyme dipengaruhi oleh penambahan 1 mM CaCl2. Perlakuan immobilization technique pada amilase dari Zoogloea ramigera ABL 1 terbukti dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas spesifik enzim dengan kisaran pH dan temperatur yang luas, serta penambahan ion logam.
Peranan Dimetil Sulfoksida sebagai Krioprotektan dalam Mempertahankan Kualitas Spermatozoa Ikan Gurami, Osphronemus goramy Lacepede, 1801, Dua Puluh Empat Jam Pascakriopreservasi Abinawanto, Abinawanto; Bayu , Mariana D.; Lestari , Retno; Sunarma , Ade
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.151 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.54

Abstract

Penelitian dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh berbegai konsentrasi DMSO (0%, 5%, 7%, 10%, 13%, 15%, dan 17%) sebagai krioprotektan terhadap kualitas spermatozoa ikan gurami, Osphronemus goramy Lacepede, 1801, dua puluh empat jam pascakriopreservasi. Penelitian dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi. Semen dikoleksi dengan cara pengurutan (stripping) dan dievaluasi secara makroskopis (warna, pH, dan volume) dan mikroskopis (persentase motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan konsentrasi spermatozoa) baik sebelum maupun sesudah kriopreservasi. Semen diencerkan dengan pengencer yang mengandung ekstender 189M dan krioprotektan DMSO (0%, 5%, 7%, 10%, 13%, 15%, dan 17%), disimpan pada cryotube 2 ml dan dikriopreservasi selama 24 jam. Peningkatan konsentrasi DMSO memengaruhi kualitas spermatozoa ikan gurami pascakriopresevasi. Konsentrasi DMSO yang terbaik berdasarkan hasil pengamatan adalah DMSO konsentrasi 13% (P > 0,05) dengan persentase motilitas sebesar 68,58%; abnormalitas sebesar 29%; dan viabilitas sebesar 63,5%.
Burung Diurnal (Animalia: Aves) di Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja, Manokwari, Papua Barat Pattiselanno , Freddy; Koibur , Johan F.; Manik , Hotlan; Arobaya, Agustina Y.S.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.795 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.70

Abstract

Penetapan Kadar Metilripariokromen-A pada Organ Eupatorium riparium Reg. dari Daerah yang Berbeda Chrystomo , Linus Y.; Sumardi , Issirep; Hartanto , L. Nugroho; Wahyuono , Subagus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.083 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.65

Abstract

Metilripariokromen-A merupakan senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman Eupatorium riparium Reg.(Asteraceae). Metilripariokromen-A memiliki aktivitas yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi seperti aktivitas vasodilatasi, diuretik, penurunan laju denyut jantung, penurunan tekanan darah sistolik, ekskresi Na + , K + dan CL - . Metilripariokromen-A juga mampu menurunkan pertumbuhan koloni jamur Aspergillus flavus, toksis terhadap jamur patogen Collectotrichum gloeosporioides, menghambat perkecambahan biji gulma Galinsoga ciliate dan G. parviflora. E. riparium mempunyai potensi sebagai sumber bahan alam untuk pembuatan obat, fungisida dan herbisida. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi metilripariokromen-A pada organ akar, batang dan daun E. riparium serta untuk menetapkan kadar metilripariokromen-A pada ekstrak was bensin E. riparium yang berasal dari daerah G. Merapi Kaliurang, G. Menoreh Samigaluh dan Tawangmangu Karanganyar. Konsentrasi senyawa bioaktif sangat tergantung dengan kondisi lingkungan abiotik dan genotif. Metode yang digunakan untuk analisis identifikasi dan penetapan kadar metilripariokromen-A adalah Kromatografi Lapis Tipis-Densitometri (KLT-Densitometri). Berdasarkan hasil analisis KLT- Densitometri menunjukkan bahwa metilripariokromen-A hanya terdapat di dalam organ daun. Hasil penetapan kadar metilripariokromen-A menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antarsampel dari ketiga daerah yang berbeda. Kadar metilripariokromen-A tertinggi terdapat dalam ekstrak was bensin daun E. riparium yang berasal dari G. Menoreh Samigaluh (9,48%) selanjutnya dari G. Merapi Kaliurang (5,37%) dan dari Tawangmangu Karanganyar (9,30%).
Ragam Alel Mikrosatelit DNA Autosom pada Masyarakat Bali Aga Desa Sembiran Kabupaten Buleleng Bali Junitha , I Ketut; Bagus Alit, Ida
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.747 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.60

Abstract

Berdasarkan data sejarah dan arkeologis, masyarakat Bali sekarang ini merupakan hasil perkembangan sejarah zaman pra-sejarah. Masyarakat Bali kuno yang masih memiliki tradisi zaman pra-sejarah disebut masyarakat Bali Aga atau Bali Mula. Pada umumnya masyarakat Bali Aga menempati daerah pegunungan seperti desa Tenganan, Terunyan, Sembiran dan Sidatapa, sedangkan masarakat Bali lainnya disebut masyarakat bali Dataran yan tinggal di kota-kota dan daerah pantai. Sebanyak delapan penanda genetik mikrosatelit autosom (D2S1338, D3S1358, D5S818, D7S820, D11S1984, D13S317, D16S539 dan D21S11) digunakan untuk menentukan variasi alel yang tersebar pada masyarakat desa Bali Aga Sembiran kabupaten Buleleng Bali untuk kepentingan forensik. Dalam penelitian ini ditemukan sebanyak 46 ragam alel dari 8 lokus yang digunakan, ragam alel perlokus berkisar antara 3 pada lokus D5S818 sampai 9 alel pada lokus D11S1984. Nilai kemampuan pembeda (power of discrimination/PD) tertinggi ditemukan pada lokus D11S1984 (0,9394) diikuti oleh D21S11(0,8922), D16S539 (0,8915), D13S317 (0,8602), D7S820 (0,8398), D3S1358 (0,8014), D2S1338 (0,5518) dan D5S818 (0,0143). Hasil ini menunjukkan bahwa lokus D5S818 tidak baik digunakan dalam analisis DNA untuk kepentingan forensik pada masyarakat Bali Aga desa Sembiran.

Page 1 of 4 | Total Record : 36


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue