cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2018): February 2018" : 10 Documents clear
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Alga Merah dari Pantai Luk, Sumbawa terhadap Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus Yulianti, Yulianti; Baso Manguntungi, Asmawati Yunianti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.987 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1888

Abstract

Indonesia termasuk negara maritim yang memiliki sumber kekayaan alam laut yang melimpah. Salah satunya yaitu alga yang persebarannya hampir di seluruh perairan Indonesia termasuk di kawasan laut Luk, Sumbawa. Jenis alga potensial yang memiliki paling banyak kandungan senyawa metabolit primer dan sekunder adalah alga merah. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kasar alga merah dari pantai Luk. Penelitian ini meliputi pengidentifikasian alga merah berdasarkan ciri morfologi, dilanjutkan dengan mengekstraksi alga merah menggunakan metode maserasi dengan pelarut akuades yang sebelumnya dilakukan tiga preparasi sampel yaitu pengeringan (27 °C), pemanasan (70-80 °C) dan pendinginan (-10 °C), masing-masing diuji dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% kemudian diuji secara in vitro terhadap Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus. Hasil identifikasi dari tiga spesies alga merah yang didapatkan dari pantai Luk yaitu Gracilaria salicornia, Galaxaura sp, dan Halymenia sp. Pengujian antibakteri alga merah menunjukkan  zona hambat yang berbeda pada setiap spesies terhadap kedua bakteri patogen. Masing-masing ekstrak kasar alga merah memiliki metode preparasi ekstrak optimal yang berbeda. Zona hambat terbesar dari ekstrak Gracilaria salicornia terhadap S. thypi pada metode pengeringan dengan konsentrasi 100% dan terhadap S. aureus pada metode pendinginan dengan konsentrasi 60%. Ekstrak Galaxaura sp terhadap S. thypi pada metode pendinginan (100%), terhadap S. aureus pada metode pengeringan (80%). Ekstrak Halymenia sp terhadap S. thypi pada metode pemanasan (40%), terhadap S. aureus pada metode pemanasan (80%).
Kualitas dan Aktivitas Antioksidan Seduhan Teh Rambut Jagung (Zea mays) dengan Variasi Lama Pelayuan dan Usia Panen Hartanto, Giovanni Natasha; Yuliana Reni Swasti, Franciscus Sinung Pranata
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.186 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1889

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh usia panen rambut jagung dan variasi waktu pelayuan terhadap kualitas dan aktivitas antioksidan pada teh rambut jagung. Pemanfaatan rambut jagung masih sangat minim, sehingga berpotensi untuk diolah menjadi teh celup. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2 x 3 dengan faktor lama pelayuan (0; 9; 18 jam) dan usia panen (muda, setelah 70 - 80 hari tanam; dan tua, > 110 hari setelah tanam). Parameter yang diuji meliputi kadar air (%), kadar abu (%), kadar serat kasar (%), angka kapang khamir (koloni/g), angka lempeng total (koloni/g), warna, kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan. Teh rambut jagung usia panen muda yang dilayukan 9 jam memiliki kualitas yang paling baik dengan dengan kadar air 4,48%, kadar abu 5,31%, kadar serat kasar 13,66%, total fenolik 19,83 μg/g (40 ppm), aktivitas antioksidan 44,56%, AKK 0 koloni/g, ALT 1,053 x 103 koloni/g yang memenuhi SNI 3836:2013 serta disukai panelis
Ekstrak Etanol Biji Pinang Muda (Areca catechu L) Meningkatkan Apoptosis pada Sel Testikular Mencit (Mus musculus L) Sumarsono, Sony Heru; Ayda T Yusuf, Eka Pasana Pujowati Indra Wibowo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.382 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1890

Abstract

Biji pinang memiliki potensi sebagai bahan antifertilitas dan diduga dapat menginduksi apoptosis sel-sel spermatogenik. Penelitian ini membahas tentang perubahan jaringan testikular mencit akibat pemberian ekstrak etanol biji pinang muda. Ekstrak etanol biji pinang muda disiapkan dengan maserasi, penjemuran, perendaman dan evaporasi hingga diperoleh serbuk ekstrak etanol yang kemudian dilarutkan dalam larutan Gum Arab 1% sesuai dosis. Mencit jantan galur Swiss Webster (umur8 minggu, berat 30-35 gram) dibagi dalam 5 kelompok perlakuan: (1) K = Kontrol, (2) KP = Kontrol pelarut (Gum Arab 1%), (3) P1 = Perlakukan 1 (dosis 300 mg/kg berat badan (bb)), (4) P2= Perlakuan 2 (dosis 500 mg/kg bb), dan (5) P3=Perlakuan 3 (dosis 700 mg/kg bb), diberikan secara oral (gavage) selama 17 hari. Mencit ditimbang sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Mencit dibunuh pada hari ke 18 dengan dislokasi leher, testis diisolasi, ditimbang dan difoto untuk mengetahui penambahan berat dan ukuran. Preparat histologi sayatan testis disiapkan dengan pewarnaan HE dan TUNEL (terminal deoxynucleotidyl transferase dUTP nick end labeling) assay untuk mengamati apoptosis. Hasil pengamatan menunjukkan terjadi (1) penurunan berat relatif testis kelompok P3, (2) ukuran testis relatif lebih kecil pada kelompok perlakuan, (3) perbedaan struktur jaringan testis pada kelompok P2 dan P3, al: (a) jumlah tubulus seminiferus lebih sedikit, (b) diameter tubulus seminiferus lebih kecil, (c) jarak antar tubulus seminiferus lebih renggang, (d) penurunan jumlah sel testikular, dan (e) peningkatan jumlah sel yang mengalami apoptosis. Ekstrak etanol biji pinang menyebabkan peningkatan apoptosis dan memiliki potensi sebagai agen alami antifertilitas pria. 
Kualitas Yoghurt Sinbiotik Dengan Kombinasi Tepung Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) dan Sari Buah Mangga (Mangifera indica var. arumanis) F. Sinung Pranata, Ngatini Ekawati Purwijantiningsih
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.928 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1891

Abstract

Yoghurt sinbiotik merupakan yoghurt yang dibuat dengan mengombinasikan probiotik dan prebiotik. Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) mengandung senyawa bioaktif diosgenin dan inulin yang digunakan sebagai substrat untuk pertumbuhan probiotik. Mangga (Mangifera indica) mengandung glukosa yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan bakteri asam laktat (BAL). Bakteri asam laktat (BAL) yang ditambahkan sebagai starter yakni Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium longum. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan kombinasi tepung kimpul dan sari buah mangga (K:M) terhadap kualitas fisik, kimia, mikrobiologis, organoleptik dan mendapatkan konsentrasi optimum penambahan kombinasi (K:M) yang menghasilkan kualitas yoghurt sinbiotik yang paling baik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan kombinasi (K:M) sebanyak 10:4%, 7:7%, 4:10%, dan 0:0% dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati meliputi warna, viabilitas BAL, salmonella, kadar lemak, protein, serat larut, derajat keasaman (pH), total asam laktat, gula reduksi dan uji organoletik. Data dianalisis dengan ANOVA, dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan (K:M) berpengaruh nyata terhadap peningkatan viabilitas BAL, kadar gula reduksi, derajat keasaman (pH), dan kadar asam laktat. Penambahan kombinasi (K:M) 4:10% menghasilkan kualitas yoghurt sinbiotik yang baik, paling disukai oleh panelis dengan rasa asam, tekstur semisolid, viabilitas BAL 1 x 109 CFU/ml, negatif Salmonella, kadar lemak 1,69%, kadar protein 3,55%, kadar serat larut 2,36%, kadar asam laktat 1,48% dan pH 4.
Endonesia (Endophyte for Indonesia): Biofertilizer Berbasis Mikroba Endofit guna Meningkatkan Kualitas Pembibitan Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) di Indonesia Manguntungi, Baso; Asmawati, Rian Adha Ardinata Muhammad Al Azhar; Tegar Aprilian1, Kurniawan Eka Putra
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.902 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1892

Abstract

Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit (Elaeis guineensis) dengan jumlah produksi mencapai 48% dari total volume produksi minyak sawit di dunia. Produksi minyak kelapa sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang stabil selama 20 tahun terakhir yaitu sebesar 11% setiap tahunnya. Proses pembibitan kelapa sawit menjadi faktor penentu dalam keberhasilan perkebunan kelapa sawit. Penggunaan pupuk kimia pada pembibitan kelapa sawit diketahui dapat menimbulkan banyak dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Guna mengatasi permasalahan tersebut, pemanfaatan teknologi mikroba endofit indigen sebagai agen aktif dalam biofertiizer perlu dilakukan. Mikroba endofit adalah mikroba yang hidup didalam jaringan tanaman dan memiliki kemampuan untuk mendorong pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mendapatkan strain mikroba endofit potensial sebagai agen bioaktif dalam biofertilizer dan pengaruhnya terhadap proses pembibitan kelapa sawit. Analisis data dilakukan dengan uji ANOVA menggunakan aplikasi SPSS 20 dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil isolasi mikroba endofit dari akar tanaman kelapa sawit diperoleh 7 isolat jamur endofit dan 9 isolat bakteri endofit. Hasil penelitian menunjukan konsorsium bakteri 20%, konsorsium bakteri 10%, dan konsorsium jamur 10% berturut-turut memiliki pengaruh terhadap peningkatan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun kelapa sawit dibandingkan dengan perlakuan lainnya
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Alga Merah dari Pantai Luk, Sumbawa terhadap Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus Yulianti Yulianti; Asmawati Yunianti Baso Manguntungi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1888

Abstract

Indonesia termasuk negara maritim yang memiliki sumber kekayaan alam laut yang melimpah. Salah satunya yaitu alga yang persebarannya hampir di seluruh perairan Indonesia termasuk di kawasan laut Luk, Sumbawa. Jenis alga potensial yang memiliki paling banyak kandungan senyawa metabolit primer dan sekunder adalah alga merah. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kasar alga merah dari pantai Luk. Penelitian ini meliputi pengidentifikasian alga merah berdasarkan ciri morfologi, dilanjutkan dengan mengekstraksi alga merah menggunakan metode maserasi dengan pelarut akuades yang sebelumnya dilakukan tiga preparasi sampel yaitu pengeringan (27 °C), pemanasan (70-80 °C) dan pendinginan (-10 °C), masing-masing diuji dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% kemudian diuji secara in vitro terhadap Salmonella thypi dan Staphylococcus aureus. Hasil identifikasi dari tiga spesies alga merah yang didapatkan dari pantai Luk yaitu Gracilaria salicornia, Galaxaura sp, dan Halymenia sp. Pengujian antibakteri alga merah menunjukkan  zona hambat yang berbeda pada setiap spesies terhadap kedua bakteri patogen. Masing-masing ekstrak kasar alga merah memiliki metode preparasi ekstrak optimal yang berbeda. Zona hambat terbesar dari ekstrak Gracilaria salicornia terhadap S. thypi pada metode pengeringan dengan konsentrasi 100% dan terhadap S. aureus pada metode pendinginan dengan konsentrasi 60%. Ekstrak Galaxaura sp terhadap S. thypi pada metode pendinginan (100%), terhadap S. aureus pada metode pengeringan (80%). Ekstrak Halymenia sp terhadap S. thypi pada metode pemanasan (40%), terhadap S. aureus pada metode pemanasan (80%).
Kualitas dan Aktivitas Antioksidan Seduhan Teh Rambut Jagung (Zea mays) dengan Variasi Lama Pelayuan dan Usia Panen Giovanni Natasha Hartanto; Franciscus Sinung Pranata Yuliana Reni Swasti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1889

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh usia panen rambut jagung dan variasi waktu pelayuan terhadap kualitas dan aktivitas antioksidan pada teh rambut jagung. Pemanfaatan rambut jagung masih sangat minim, sehingga berpotensi untuk diolah menjadi teh celup. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 2 x 3 dengan faktor lama pelayuan (0; 9; 18 jam) dan usia panen (muda, setelah 70 - 80 hari tanam; dan tua, > 110 hari setelah tanam). Parameter yang diuji meliputi kadar air (%), kadar abu (%), kadar serat kasar (%), angka kapang khamir (koloni/g), angka lempeng total (koloni/g), warna, kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan. Teh rambut jagung usia panen muda yang dilayukan 9 jam memiliki kualitas yang paling baik dengan dengan kadar air 4,48%, kadar abu 5,31%, kadar serat kasar 13,66%, total fenolik 19,83 μg/g (40 ppm), aktivitas antioksidan 44,56%, AKK 0 koloni/g, ALT 1,053 x 103 koloni/g yang memenuhi SNI 3836:2013 serta disukai panelis
Ekstrak Etanol Biji Pinang Muda (Areca catechu L) Meningkatkan Apoptosis pada Sel Testikular Mencit (Mus musculus L) Sony Heru Sumarsono; Eka Pasana Pujowati Indra Wibowo Ayda T Yusuf
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1890

Abstract

Biji pinang memiliki potensi sebagai bahan antifertilitas dan diduga dapat menginduksi apoptosis sel-sel spermatogenik. Penelitian ini membahas tentang perubahan jaringan testikular mencit akibat pemberian ekstrak etanol biji pinang muda. Ekstrak etanol biji pinang muda disiapkan dengan maserasi, penjemuran, perendaman dan evaporasi hingga diperoleh serbuk ekstrak etanol yang kemudian dilarutkan dalam larutan Gum Arab 1% sesuai dosis. Mencit jantan galur Swiss Webster (umur8 minggu, berat 30-35 gram) dibagi dalam 5 kelompok perlakuan: (1) K = Kontrol, (2) KP = Kontrol pelarut (Gum Arab 1%), (3) P1 = Perlakukan 1 (dosis 300 mg/kg berat badan (bb)), (4) P2= Perlakuan 2 (dosis 500 mg/kg bb), dan (5) P3=Perlakuan 3 (dosis 700 mg/kg bb), diberikan secara oral (gavage) selama 17 hari. Mencit ditimbang sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Mencit dibunuh pada hari ke 18 dengan dislokasi leher, testis diisolasi, ditimbang dan difoto untuk mengetahui penambahan berat dan ukuran. Preparat histologi sayatan testis disiapkan dengan pewarnaan HE dan TUNEL (terminal deoxynucleotidyl transferase dUTP nick end labeling) assay untuk mengamati apoptosis. Hasil pengamatan menunjukkan terjadi (1) penurunan berat relatif testis kelompok P3, (2) ukuran testis relatif lebih kecil pada kelompok perlakuan, (3) perbedaan struktur jaringan testis pada kelompok P2 dan P3, al: (a) jumlah tubulus seminiferus lebih sedikit, (b) diameter tubulus seminiferus lebih kecil, (c) jarak antar tubulus seminiferus lebih renggang, (d) penurunan jumlah sel testikular, dan (e) peningkatan jumlah sel yang mengalami apoptosis. Ekstrak etanol biji pinang menyebabkan peningkatan apoptosis dan memiliki potensi sebagai agen alami antifertilitas pria. 
Kualitas Yoghurt Sinbiotik Dengan Kombinasi Tepung Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) dan Sari Buah Mangga (Mangifera indica var. arumanis) Ngatini Ekawati Purwijantiningsih F. Sinung Pranata
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1891

Abstract

Yoghurt sinbiotik merupakan yoghurt yang dibuat dengan mengombinasikan probiotik dan prebiotik. Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) mengandung senyawa bioaktif diosgenin dan inulin yang digunakan sebagai substrat untuk pertumbuhan probiotik. Mangga (Mangifera indica) mengandung glukosa yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan bakteri asam laktat (BAL). Bakteri asam laktat (BAL) yang ditambahkan sebagai starter yakni Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium longum. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan kombinasi tepung kimpul dan sari buah mangga (K:M) terhadap kualitas fisik, kimia, mikrobiologis, organoleptik dan mendapatkan konsentrasi optimum penambahan kombinasi (K:M) yang menghasilkan kualitas yoghurt sinbiotik yang paling baik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan kombinasi (K:M) sebanyak 10:4%, 7:7%, 4:10%, dan 0:0% dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati meliputi warna, viabilitas BAL, salmonella, kadar lemak, protein, serat larut, derajat keasaman (pH), total asam laktat, gula reduksi dan uji organoletik. Data dianalisis dengan ANOVA, dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan (K:M) berpengaruh nyata terhadap peningkatan viabilitas BAL, kadar gula reduksi, derajat keasaman (pH), dan kadar asam laktat. Penambahan kombinasi (K:M) 4:10% menghasilkan kualitas yoghurt sinbiotik yang baik, paling disukai oleh panelis dengan rasa asam, tekstur semisolid, viabilitas BAL 1 x 109 CFU/ml, negatif Salmonella, kadar lemak 1,69%, kadar protein 3,55%, kadar serat larut 2,36%, kadar asam laktat 1,48% dan pH 4.
Endonesia (Endophyte for Indonesia): Biofertilizer Berbasis Mikroba Endofit guna Meningkatkan Kualitas Pembibitan Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) di Indonesia Baso Manguntungi; Rian Adha Ardinata Muhammad Al Azhar Asmawati; Kurniawan Eka Putra Tegar Aprilian1
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 1 (2018): February 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i1.1892

Abstract

Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit (Elaeis guineensis) dengan jumlah produksi mencapai 48% dari total volume produksi minyak sawit di dunia. Produksi minyak kelapa sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang stabil selama 20 tahun terakhir yaitu sebesar 11% setiap tahunnya. Proses pembibitan kelapa sawit menjadi faktor penentu dalam keberhasilan perkebunan kelapa sawit. Penggunaan pupuk kimia pada pembibitan kelapa sawit diketahui dapat menimbulkan banyak dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Guna mengatasi permasalahan tersebut, pemanfaatan teknologi mikroba endofit indigen sebagai agen aktif dalam biofertiizer perlu dilakukan. Mikroba endofit adalah mikroba yang hidup didalam jaringan tanaman dan memiliki kemampuan untuk mendorong pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan mendapatkan strain mikroba endofit potensial sebagai agen bioaktif dalam biofertilizer dan pengaruhnya terhadap proses pembibitan kelapa sawit. Analisis data dilakukan dengan uji ANOVA menggunakan aplikasi SPSS 20 dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil isolasi mikroba endofit dari akar tanaman kelapa sawit diperoleh 7 isolat jamur endofit dan 9 isolat bakteri endofit. Hasil penelitian menunjukan konsorsium bakteri 20%, konsorsium bakteri 10%, dan konsorsium jamur 10% berturut-turut memiliki pengaruh terhadap peningkatan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun kelapa sawit dibandingkan dengan perlakuan lainnya

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue