cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
BAHASTRA
ISSN : 02154994     EISSN : 25484583     DOI : 10.26555
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 1 (2015): Bahastra" : 14 Documents clear
SASTRA DAN PENGAJARANNYA: DARI HILIR KE HULU Widijanto, Tjahjono
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.543 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3976

Abstract

Permasalahan dalam pengajaran sastra, yaitu belum tercapainya apresiasi sastra merupakan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Permasalahan kehidupan dan kebudayaan pun bersamaan lahir dengan kondisi pengajaran sastra yang belum optimal. Sehubungan dengan hal itu, diperlukan teknik/metode kreatif untuk pengajaran teks sastra sehingga memberikan rangsangan makna pada diri pelajar. Akan tetapi, kekayaan dan upaya memperkaya guru terhadap penge­tahuan dan imajinasi merupakan kunci penting teroptimalisasi model-model kreatif alternatif.
DEKONSTRUKSI DALAM PUISI “SATU LORONG” KARYA REMY SYLADO Merawati, Fitri
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.426 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3972

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dekonstruksi yang terdapat dalam puisi “Satu Lorong” karya Remy Sylado. Teori Dekonstruksi merupakan salah satu dari teori Pascastruktural. Teori ini menyatakan bahwa penanda tidak berkaitan langsung dengan petanda. Dekonstruksi menurut Derrida merupakan sebuah metode membaca teks secara sangat cermat hingga pembedaan konseptual hasil ciptaan penulis yang menjadi landasan teks tersebut tampak tidak konsisten dan paradoks dalam menggunakan konsep-konsepnya dalam teks secara keseluruhan. Dengan kata lain, teks tersebut gagal memenuhi kriterianya sendiri.Hasil analisis menunjukkan oposisi-oposisi dalam diksi dari segi muatan semantik dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu oposisi yang mengimplikasikan nilai, seperti ‘surga dengan neraka’ dan oposisi yang mengimplikasikan entitas, seperti ‘nyanyian romantis dengan lagu sedih’. Selain itu, tipografi puisi ini menciptakan paralelisme antara pasangan-pasangan oposisinya, seperti ‘Kesedihan adalah nyanyian romantis…/ Selaksa kali dalam usia yang pendek…/ Di sengsara kita, kita madahkan lagu sedih…’.
SASTRA MODERN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN ETIKA MORAL DAN KARAKTER Hasanah, Uswatun
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.156 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3977

Abstract

Tulisan ini memaparkan fungsi sastra sebagai wahana, wadah, dan media pembelajaran etika dan moral. Meskipun bukan merupakan kitab etika dan moral, cipta sastra relatif fungsional dan baik sebagai media pembelajaran etika dan moral. Sikap hati-hati dan cermat serta proporsional sangat diperlukan pada waktu memfungsikan sastra sebagai media pembelajaran etika dan moral. Hal ini dimaksudkan agar hakikat cipta sastra sebagai karya seni tidak tereduksi menjadi kitab etika-moral dan karakter di samping agar harapan yang berlebihan tidak ditumpukan kepada sastra sebagai media pembelajaran etika dan moral. Dengan sikap hati-hati, cermat, dan proporsional, maka sastra niscaya dapat menjadi pintu masuk memberikan pengalaman etis dan moral bagi para pelajar. Lebih lanjut, hal ini mengimplikasikan bahwa sastra dapat diharapkan sebagai salah satu media penanaman etika-moral dan karakter kepada pelajar.
CAMPUR KODE DAN INTERFERENSI DI LINGKUNGAN KOS AVITO. Putri Pratiwi, Cerianing
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.118 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3973

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk campur kode pada percakapan pengguni kos Avito dan mendeskripsikan bentuk Interferensi pada percakapan pengguni kos Avito. Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa percakapan pengguni kos Avito cukup banyak menggunakan campur kode. Penggunaan campur kode tersebut dipengaruhi oleh  identitas peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menafsirkan atau menjelaskan. Pencampuran bahasa dilakukan karena dilatarbelakangi oleh situasi dan penutur yang sama-sama berasal dari daerah (Jawa), penutur A yang mencampurkan bahasa Indonesia ke bahasa Jawa di latar belakangi oleh keterbiasaan dalam menuturkan tuturan dengan orang. Sama halnya dengan penutur B yang mencampurkan bahasa Jawa ke bahasa Indonesia dilatar belakangi oleh adanya kutipan-kutipan orang yang dibicarakan, sehingga penutur B mencampurkan bahasa Indonesia ketika mengutip pembicaraan seseorang. Interferensi yang terjadi dikarenakan kesalahan bahasa yang berupa unsur bahasa sendiri yang dibawa ke dalam bahasa atau dialek lain yang dipelajari. Interferensi ini terjadi dalam pembentukan kata dengan menyerap afiks-afiks bahasa lain.
EKSLUSI DAN INKLUSI PADA RUBRIK METROPOLITAN HARIAN KOMPAS: ANALISIS WACANA KRITIS BERDASARKAN SUDUT PANDANG THEO VAN LEEUWEN Andheska, Harry
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.249 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3974

Abstract

Penggunaan teori kritis sebagai alat pengkajian dalam penelitian ini disebabkan oleh adanya persoalan tentang penumpang kereta rel listrik (KRL) yang sering melanggar aturan dengan menaiki atap kereta tersebut. Penelitian ini pada dasarnya lebih menekankan titik perhatiannya pada sosok penumpang KRL sebagai sosok yang senantiasa termajinalkan dalam kehidupan sosial. Kajian ini merupakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Kajian ini juga terbatas hanya pada satu teks berita yang dimuat dalam satu rubrik metropolitan pada haian Kompas. Model analisis wacana yang digunakan adalah model Theo Van Leuween dengan tujuan untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana para penumpang yang duduk di atap KRL dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat dua jenis eksklusi yang dilakukan, yakni pasivasi dan nominalisasi; sedangkan inklusi ada tiga jenis, yakni diferensiasi, abstraksi, dan identifikasi. Keterbatasan dalam kajian ini disebabkan karena faktor kajian yang hanya terfokus pada satu teks berita.
PROFIL TIGA JURUSAN BAHASA INDONESIA DI TIONGKOK SELATAN DAN BARAT DAYA Sudaryanto, Sudaryanto
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.523 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3975

Abstract

Bahasa Indonesia telah dipelajari di 45 negara, termasuk Republik Rakyat Tiongkok. Di Tiongkok selatan dan barat daya, terdapat tiga universitas yang membuka Jurusan Bahasa Indonesia, yaitu Universitas Bahasa-bahasa Asing Guangdong, Universitas Kebangsaan Guangxi, dan Universitas Kebangsaan Yunnan. Ketiganya terletak di provinsi yang berbeda-beda, namun termasuk ke dalam wilayah Tiongkok selatan dan barat daya. Para pengajar di tiga universitas tersebut umumnya telah berkualifikasi magister, dan ada pula yang telah berkualifikasi doktor. Program pengajaran di tiga universitas itu umumnya menggunakan sistem “3+1”, tiga tahun belajar di Tiongkok dan setahun belajar di Indonesia. Para mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di tiga universitas itu umumnya aktif mengikuti perkuliahan dan kegiatan kebudayaan Indonesia.
PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI BUDAYA JAWA (KETOPRAK) Fujiastuti, Ariesty
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.06 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3970

Abstract

Kebudayaan ketoprak merupakan salah satu kesenian yang melekat dalam kehidupan masyarakat selain wayang kulit dan wayang orang. Ketoprak adalah suatu bentuk seni pertunjukan tradisional yang mengangkat cerita sehari-hari, cerita-cerita rakyat yang ada di Jawa dalam bentuk sajian drama dengan dialog bahasa Jawa dan diiringi gamelan. Cerita yang dibawakan seperti cerita babad, sejarah, dan cerita-cerita asing yang berasal dari Arab (seribu satu malam) dan cina. Ketoprak digunakan sebagai wahana pendidikan karakter yang bertujuan untuk mengembalikan roh budaya Jawa di antara generasi muda yang saat ini dinilai semakin pudar. Mayoritas remaja lebih menggemari budaya praktis atau instan. Remaja semakin tidak mengenal sopan-santun dan tata karma. Ketoprak perlu dikenalkan kepada generasi muda untuk membentuk karakter karena kaya akan nilai budaya Jawa seperti tata krama, sopan santun, dan hormat kepada orang tua. Oleh sebab itu, budaya ketoprak mempunyai peran penting dalam penanaman pendidikan karakter. Ketoprak sebagai media pendidikan karakter dapat dilihat dari dialog-dialog (bahasa) yang digunakan dalam ketoprak dan dilihat dari cerita yang terkandung dalam ketoprak.
PROFIL TIGA JURUSAN BAHASA INDONESIA DI TIONGKOK SELATAN DAN BARAT DAYA Sudaryanto Sudaryanto
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.523 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3975

Abstract

Bahasa Indonesia telah dipelajari di 45 negara, termasuk Republik Rakyat Tiongkok. Di Tiongkok selatan dan barat daya, terdapat tiga universitas yang membuka Jurusan Bahasa Indonesia, yaitu Universitas Bahasa-bahasa Asing Guangdong, Universitas Kebangsaan Guangxi, dan Universitas Kebangsaan Yunnan. Ketiganya terletak di provinsi yang berbeda-beda, namun termasuk ke dalam wilayah Tiongkok selatan dan barat daya. Para pengajar di tiga universitas tersebut umumnya telah berkualifikasi magister, dan ada pula yang telah berkualifikasi doktor. Program pengajaran di tiga universitas itu umumnya menggunakan sistem “3+1”, tiga tahun belajar di Tiongkok dan setahun belajar di Indonesia. Para mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di tiga universitas itu umumnya aktif mengikuti perkuliahan dan kegiatan kebudayaan Indonesia.
SASTRA DAN PENGAJARANNYA: DARI HILIR KE HULU Tjahjono Widijanto
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.543 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3976

Abstract

Permasalahan dalam pengajaran sastra, yaitu belum tercapainya apresiasi sastra merupakan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Permasalahan kehidupan dan kebudayaan pun bersamaan lahir dengan kondisi pengajaran sastra yang belum optimal. Sehubungan dengan hal itu, diperlukan teknik/metode kreatif untuk pengajaran teks sastra sehingga memberikan rangsangan makna pada diri pelajar. Akan tetapi, kekayaan dan upaya memperkaya guru terhadap penge­tahuan dan imajinasi merupakan kunci penting teroptimalisasi model-model kreatif alternatif.
PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI BUDAYA JAWA (KETOPRAK) Ariesty Fujiastuti
BAHASTRA Vol 34, No 1 (2015): Bahastra
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.06 KB) | DOI: 10.26555/bahastra.v34i1.3970

Abstract

Kebudayaan ketoprak merupakan salah satu kesenian yang melekat dalam kehidupan masyarakat selain wayang kulit dan wayang orang. Ketoprak adalah suatu bentuk seni pertunjukan tradisional yang mengangkat cerita sehari-hari, cerita-cerita rakyat yang ada di Jawa dalam bentuk sajian drama dengan dialog bahasa Jawa dan diiringi gamelan. Cerita yang dibawakan seperti cerita babad, sejarah, dan cerita-cerita asing yang berasal dari Arab (seribu satu malam) dan cina. Ketoprak digunakan sebagai wahana pendidikan karakter yang bertujuan untuk mengembalikan roh budaya Jawa di antara generasi muda yang saat ini dinilai semakin pudar. Mayoritas remaja lebih menggemari budaya praktis atau instan. Remaja semakin tidak mengenal sopan-santun dan tata karma. Ketoprak perlu dikenalkan kepada generasi muda untuk membentuk karakter karena kaya akan nilai budaya Jawa seperti tata krama, sopan santun, dan hormat kepada orang tua. Oleh sebab itu, budaya ketoprak mempunyai peran penting dalam penanaman pendidikan karakter. Ketoprak sebagai media pendidikan karakter dapat dilihat dari dialog-dialog (bahasa) yang digunakan dalam ketoprak dan dilihat dari cerita yang terkandung dalam ketoprak.

Page 1 of 2 | Total Record : 14