cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018" : 8 Documents clear
MAKNA DAN SIMBOL BERENTAK DALAM UPACARA BESALE PADA MASYARAKAT SUKU ANAK DALAM DI DUSUN JOHOR BARU DESA BUNGKU, KABUPATEN BATANGHARI JAMBI Arini Novriawati
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.038 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2494

Abstract

Tulisan ini mengupas makna dan simbol Berentak dalam upacara Besale pada masyarakat Suku Anak Dalam di dusun Johor Baru desa Bungku Kabupaten Batanghari Jambi. Berentak adalah tari yang dilakukan oleh dukun untuk berkomunikasi dengan Hyang dalam upacara besale. Besale pada masyarakat Suku Anak Dalam Batin 9 berfungsi untuk mengobati penyakit yang berasal dari gangguan roh halus. Tari dan semua aspek pendukung pada upacara besale mewakili sebagai tanda yang bertujuan untuk mengetahui makna dan simbol dalam upacara besale sebagai identitas dari masyarakat Suku Anak Dalam Batin 9.Untuk memecahkan permasalahan, penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika, yaitu ilmu yang membahas tentang tanda. Salah satunya dipelopori oleh Ferdinand De Saussure. Saussure yang melihat tanda dari sudut pandang bahasa. Tanda disusun oleh dua elemen, yaitu penanda (signified), aspek citra tentang bunyi (semacam kata atau representasi visual), dan petanda (signifier) suatu konsep tempat citra-bunyi itu disandarkan. Penelitian ini menganalogikan gerak sebagai media ungkap seperti penggunaan bahasa. Hal ini tampak pada berentak sebagai sebuah tanda, dimana gerak sebagai penanda dan besale sebagai petanda. Bahasa tersebut setara dengan keseluruhan pertunjukan besale. Tanda yang hadir dalam sebuah pertunjukan seperti, tari, pelaku, properti, iringan, kostum, tempat dan waktu pelaksanaan menjadi aspek saling terkait satu sama lain sehingga sebuah tanda yang dimaknai dapat terpecahkan.Simbol yang terdapat pada upacara besale tampak pada pelaku, tari, properti, iringan, kostum, waktu dan tempat pelaksanaan yang saling mendukung satu sama lain. Hal ini sebagai penggambaran Suku Anak Dalam Batin 9 dalam menjalankan adat-istiadat mereka. Dikarenakan adanya pengaruh dari kepercayaan Animisme pada masa lampau. Makna yang terkandung pada upacara besale ialah gambaran dari perjuangan, ketulusan dan tanggung jawab masyarakat sebagai bentuk permohonan maaf dan memohon keselamatan agar terhindar dari malapetaka
NGOYOG BALI JINJIT Jiyu Wijayanti
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.577 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2495

Abstract

Ngoyog bali Jinjit, adalah judul dari koreografi yang dirancang, ditarikan oleh empat penari putri. Istilah ngoyog bali jinjit didapat dalam teknik gerak dalam tari gaya Yogyakarta yang selanjutnya dijadikan rangsang kinestetis, disajikan secara simbolik representasional dengan tipe tari studi dan murni.Metode yang dipakai dalam penciptaan tari ini adalah metode kontruksi oleh Jacqueline Smith. Hal ini dipandang sesuai diterapkan dalam membimbing mahasiswa pemula untuk mewujudkan suatu koreografi. Tahapan-tahapan yang sifatnya hirarkis, yang satu mengkait dengan yang lain, yang dimulai dari adanya rangsang, kemudian ditanggapi dengan memperhatikan langkah-langkah dan tahapan akhirnya mampu membentuk rangkaian motif yang selanjutnya dirangkai dalam sebuah kesatuan yang disebut dengan koreografi.Ngoyog Bali Jinjit dipahami sebagai gerak yang terus menerus, dari titik kembali ke titik, memberi kesan ada suatu proses perputaran. Unsur-unsur putaran tangan, kaki, dan badan diujudkan dalam motif-motif gerak yang terangkai. Permainan ruang dan waktu mengacu pada metode konstruksi tiga yaitu motif menuju komposisi kelompok, dengan memvariasikan antara gerak rampak dan berturutan.
Pergeseran Fungsi Tari Berutuk dari Desa Trunyan, Bali Fisabil Mahardika Putra
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.793 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2500

Abstract

Tulisan ini menjawab pertanyaan tentang fungsi tari Berutuk dari desa Trunyan, Bali. Pertunjukan tari ini dilakukan oleh laki-laki yang masih perjaka berjumlah ganjil, namun yang umum dilaksanakan berjumlah 21 orang. Para penari berutuk ini merupakan simbol dari penjaga Ratu Sakti Pancering Jagat beserta permaisurinya. Pakaian yang digunakan terbuat dari daun pisang kepok yang kering dan menggunakan topeng.Pada awalnya kesenian Berutuk sangat disakralkan karena dapat memberi kesejahteraan masyarakat setempat dengan perwujudan datangnya hujan, namun sejak tahun 1997 mengalami desakralisasi. Saat ini kesenian tersebut mengalami pergeseran fungsi karena modenisasi dimana menggunakan pendekatan rasionalisme yang mana rasional bertolak belakang dengan takhayul. Artinya kesenian tersebut dapat diselenggarakan dengan sangat sakral, tetapi juga dapat diselenggarakan untuk kepentingan hiburan atau kesenian semata.Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan. Teori yang digunakan adalah teori rasional dimana teori tersebut berhasil menjawab bahwa pergeseran fungsi tari berutuk dikarenakan rasio. Teori ini tidak mempercayai hal-hal yang tidak rasional.
BENTUK KOREOGRAFI TARI BEDANA HASIL REVITALISASI TAMAN BUDAYA PROVINSI LAMPUNG Eris Aprilia
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.942 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2496

Abstract

Tari Bedana merupakan tari tradisi masyarakat Lampung yang berkembang di wilayah pesisir pada masa perkembangan agama Islam. Seiring perkembangannya tari Bedana sempat mengalami pasang surut, hingga akhirnya dilakukan revitalisasi dan ditampilkan kembali oleh Taman Budaya provinsi Lampung sebagai bentuk tari yang baru namun tetap berpijak pada nilai-nilai dan pola tradisi yang ada. Bagi masyarakat Lampung, tari Bedana merupakan tari pergaulan yang di dalamnya berisi filosofi pencerminan tata kehidupan masyarakat Lampung, yang digunakan sebagai simbol adat istiadat agama dan etika dalam pergaulan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk koreografi hasil revitalisasi. Bagaimana proses revitalisasi yang dilakukan Taman Budaya sehingga di dapatkan bentuk tari Bedana saat ini. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan koreografi yang difungsikan untuk menganalisis kajian teks koreografi. Pendekatan koreografi merupakan cara mengkaji analisis teks koreografi suatu tarian dengan melihat aspek bentuk gerak, teknik gerak, gaya gerak, jumlah penari, jenis kelamin dan postur tubuh, struktur keruangan, struktur waktu, struktur dramatik, tata teknik pentas yang meliputi tata cahaya dan tata rias busana.Hasil analisis koreografi menunjukkan bahwa tarian ini yang sebelumnya memiliki tiga belas ragam gerak, saat ini menjadi sembilan ragam gerak yang telah dibakukan. Gerak tersebut meliputi tahtim, khesek injing, khesek gantung, ayun, ayun gantung, belitut, jimpang, gelek, humbak moloh. Selain itu pada peralatan pendukung lainnya seperti busana dan aksesoris tari Bedana saat ini ditambahkan busana yang mencirikan daerah Lampung. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa proses revitalisasi yang dilakukan oleh Taman Budaya dan instansi yang terkait telah membawa jati diri hingga menunjukkan ciri khas atau identitas daerah Lampung.
BENTUK KOREOGRAFI REYOG KENDANG SANGGAR “SANGTAKASTA” KABUPATEN TULUNGAGUNG Yussi Ambar Sari
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.441 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2501

Abstract

Reyog Kendang merupakan tarian khas Tulungagung, yang tergolong tarian kelompok dengan jumlah penari 6 sesuai jumlah properti kendang. Adapun kendang sebagai properti utamanya, terdiri dari: Kendang 1, Kendang 2, Trinting, Imbal 1, Imbal 2, dan Keplak. Tarian ini bisa ditarikan oleh laki-laki ataupun perempuan. Tarian ini menggambarkan arak-arakan prajuri Kediri ketika mengiringi pengantin Ratu Kilisuci ke Gunung Kelud. Inti dari beberapa cerita tersebut tentang lamaran seorang Putri cantik yang bernama Klilisuci. Salah satu sanggar yang melestarikan tarian ini adalah Sanggar Sangtakasta, pimpinan Endin Didik Handoko, yang diresmikan tanggal 13 April 2013.Penelitian ini menganalisis bentuk Koreografi Reyog Kendang Sanggar Sangtakasta di Tulungagung. Untuk itu digunakan pendekatan koreografi yang i analisisi koreografi dengan analisis bentuk gerak, teknik gerak, isi gerak, aspek ruang, aspek waktu, aspek tenaga, dan gaya gerak.Hasil analisis menunjukkan bahwa Sanggar Sangtakasta memiliki variasi dalam bentuk gerak, rias dan tata iringan. Jumlah 8 penari yang terdiri dari4 penari perempuan dan 4 penari laki-laki, membuat koreografi dalam wujud gerak, desain lantai, dan permainan level tarian ini semakin menarik. Rias yang digunakan penari perempuan menggunakan rias korektif, sedangkan penari laki- laki menggunakan rias karakter. Instrumen selain kendang dalam tarian ini yaitu saron demung, kenthongan, calung, gitar, siter, tamborin, drum, gong, kenong, suling, rinding, angklung, dan bass.
JALA (Jaring Menangkap Ikan) Riska Gebrina
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.949 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2497

Abstract

Karya tari Jala merupakan gambaran aktivitas masyarakat pesisir Aceh dalam menjalani keseharian sebagai seorang nelayan dalam usaha mencari rezeki. Di dalamnya suasana kegotongroyongan dengan nilai kekompakkan, semangat dan kebersamaan. Jala yang artinya adalah jaring untuk menangkap ikan, proses yang dilakukan pada tari ini menggunakan properti tali dan dirajut menjadi sebuah jala atau jaring.Berawal dari rangsang visual yaitu saat melihat para nelayan yang pergi ke laut untuk mencari ikan sebagai mata pencaharian sehari-hari. Tari ini menceritakan tentang aktivitas para nelayan yang ada di Aceh yang menangkap ikan di laut, namun lebih memperlihatkan bagaimana cara membuat sebuah rangkaian tali untuk menangkap ikan yang disebut Jala.Pendekatan kreativitas adalah milik semua orang yang mampu atau bisa membuat sebuah inovasi baru, baik itu inovasi baru tanpa adanya unsur tradisi maupun inovasi yang ada perkembangan tradisi berdasarkan pemikiran masing-masing seniman yang mempunyai daya kemampuan yang berbeda-beda juga. Melalui pendekatan inilah cara berpikir dan cara bekerja secara kreatif akan dibangun. Pendekatan kedua adalah koreografi, merupakan suatu seni dalam membuat dan merancang suatu komposisi tari, yang digunakan sebagai landasan dalam mencipta yang meliputi bentuk penyajian tari, gerak tema, judul, tata rias, tata busana, pola lantai, musik, properti.
UPAYA PELESTARIAN TARI TREBANG RANDU KENTIR PADA SANGGAR ASEM GEDE DESA MUNTUR KECAMATAN LOSARANG KABUPATEN INDRAMAYU-JAWA BARAT Irayanti Irayanti
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.193 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2498

Abstract

Tari Trebang Randu Kentir merupakan pengembangan dari Kesenian Trebang yang diperkirakan telah berkembang cukup lama di Losarang. Kesenian Trebang telah akrab dengan kepercayaan animisme, nuansa kehinduan, hingga pengaruh dari agama Islam sekitar abad ke 17. Tari Trebang Randu Kentir mulai dikenalkan secara luas pada tahun 1970 oleh Cahya dengan mengangkat sebuah cerita rakyat tentang hanyutnya Nyi Dariwan di Sungai Cimanuk. Pada tahun 2009, Tari Trebang Randu Kentir diangkat kembali oleh Dede Jaelani dari Sanggar Asem Gede. Usaha yang dilakukan Dede Jaelani, sejalan dengan apa yang tengah pemerintah Indramayu lakukan mengenai program revitalisasi pada tahun 2011 dengan menghidupkan kembali kesenian daerah yakni Tari Trebang Randu Kentir agar dapat dilestarikan, dikelola dan dikembangkan.Pendekatan yang digunakan yaitu ilmu sosiologi dan koreografi. Ilmu sosiologi diharapkan dapat membantu untuk mengetahui aktivitas dari Sanggar Asem Gede dan apresiasi masyarakat terhadap Tari Trebang Randu Kentir. Pendekatan koreografi digunakan untuk membedah aspek bentuk, teknik, isi serta pengembangan gerak dalam koreografi Tari Trebang Randu Kentir pada Sanggar Asem Gede.Beberapa cara dan usaha pelestarian yang dilakukan Sanggar Asem Gede, yaitu mengembangkan bentuk, pembagian materi dan susunan gerak (SD, SMP, SMA/sederajat), pelatihan tari, dan sosialisasi. Tidak hanya Sanggar Asem Gede, pemerintah dan masyarakat secara tidak langsung diharapkan mampu mendukung dan menjaga Tari Trebang Randu Kentir agar masih bias dinikmati oleh generasi berikutnya.
NGIDAK CINCING Dwi Purnama
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.908 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2499

Abstract

Ngidak Cincing terispirasi dari upacara Cing Cing Goling. Cing Cing Goling adalah sebuah rangkaian upacara adat Rasulan yang diselenggarakan di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Sejarah Cing Cing Goling diawali dari peperangan tentara Keraton Majapahit dengan Keraton Demak. Cing Cing Goling berasal dari kata cincing yang berarti menyingkapkan kain dalam bahasa Jawa, dan goling yang berarti ngglimpang.Melihat fenomena di atas muncul ide untuk menciptakan sebuah karya tari yang bersumber dari upacara adat Cing Cing Goling. Keunikan seorang penari yang menyincingkan kainnya dalam upacara adat Cing Cing Goling menjadi hal yang menarik dan menjadi fokus perhatian. Karya tari ini menyajikan rasa ketakutan, kebersamaan dan ritual yang ada dalam prosesi upacara adat Cing Cing Goling dengan menggunakan motif gerak cincing.Karya koreografi Ngidak Cincing ini ditarikan oleh tujuh penari putri. Adapun jumlah penari sebagai pertimbangan untuk komposisi koreografi, sedangkan untuk pemilihan jenis kelamin karena yang terjadi dalam cerita Cing Cing Goling adalah seorang istri Raja. Karya koreografi mengangkat konsep tentang ritual khusus dari upacara adat Cing Cing Goling. Musik yang digunakan dalam karya tari ini adalah Gamelan Jawa Laras Slendro.

Page 1 of 1 | Total Record : 8