Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 3, No 1 (2011): March 2011"
:
11 Documents
clear
UPAYA PELESTARIAN HUTAN MELALUI PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN BERSAMA MASYARAKAT
Damayatanti, Prawestya Tunggul
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2296
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) oleh Perhutani di Desa Bodeh dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di Desa Bodeh Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program PHBM dilakukan dengan merangkul masyarakat sekitar hutan untuk bersama mengelola hutan dengan semangat berbagi peran, pemanfaatan lahan atau ruang, maupun hasil hutan dengan adanya bagi hasil yang diperoleh masyarakat sebagai kompensasi keterlibatannya dalam pelaksanaan PHBM. Partisipasi masyarakat desa Bodeh dalam pelaksanaan PHBM membuahkan hasil yaitu berkurangnya lahan kosong karena masyarakat dilibatkan dan mau terlibat dalam mengelola hutan serta dalam kegiatan reboisasi, menurunnya tingkat kerusakan serta tingkat pencurian kayu di hutan karena masyarakat juga terlibat dalam menjaga hutan, sehingga kelestarian dan keamanan hutan meningkat. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh perhutani maupun masyarakat dalam pelaksanaan PHBM adalah kendala dalam kegiatan persiapan lapangan, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pengamanan hutan.  The objective of this research is to determine the implementation of Collaborative Forest Resource Management (in Indonesian is called PHBM) by Perhutani in Bodeh Village and constraints encountered in the implementation. The study used a qualitative approach. Research sites is in Bodeh Village, Randublatung, Blora District.The results showed that the PHBM program is conducted by embracing forest communities to manage forests together with the spirit of sharing the role, land use or space, and forest products with the profit shared with the community as compensation for their involvement in the implementation of PHBM. Participation of rural communities in the implementation of PHBM in Bodeh resulted in the reduction of vacant land for the community get involved in forest management and reforestation activities; reduction of the levels of damage and the level of illegal logging in the forest because the community are also involved in maintaining the forest, thus increasing the sustainability and security of the forest . The constraints faced by perhutani and society in the implementation of PHBM is a constraint in the activity of field preparation, planting, plant maintenance, and safeguarding of forests.
EKONOMI PEKARANGAN DI PEDESAAN JAWA
Mulyanto, Dede
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2289
Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisa peran pekarangan sebagai sumber ketersediaan pangan, energi rumahtangga, dan uang tunai bagi rumahtangga petani. Bagi orang Jawa lahan tidak hanya tempat bekerja mereka tetapi sebagai sebuah status sosial, ekoncomi dan politik di masyarakat. Disinilah pekarangan, sebuah lahan kecil di rumah, mengambil peran ketika petani menghadapai kesulitan ekonomi yang dikarenakan lahan garapannya tidak menguntungkan. Rumusan masalahnya adalah bagaimana karakteristik desa Wetankali dan bagaimana bentuk pemanfaatan ekonomi pekarangan yang terjadi di sana. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografis disertai survei dengan kuisioner dan analisis data sekunder. Penelitian ini dilakukan di Desa Wetankali Kecamatan Kutocilik Kabupaten Banyumas. Pekarangan bagi masyarakat Jawa merupakan benteng yang dengannya mereka dapat bertahan hidup. Pekarangan ditanami beberapa jenis tanaman ynag dapat dijual untuk menambah pendapatan rumahtangga petani. Bersaamaan dengan pertumbuhan penduduk yang naik, pekarangan berubah bentuk menjadi semakin sempit karena masyarakat lebih memilih menggunakan lahannya untuk hunian. Akibatnya, untuk rumahtangga miskin, sumber makanan pendukung dan energi murah mulai menghilang. The objective of this article is to analyse the role played by house yards or home garden as source of food storage, household energy, and cash for peasant household. For Javanese peasant, yard was not only a place for work, but also a space to represent economy and social status. The importance of house yards is felt in difficult situation such as economic crises and corpse failure. Research questions in this anysisis are how about the characteristics of Wetankali village and how about the pattern of using home garden or home yard there. Research method used is etnography with survey using questionaire and secondary data analysis. The research was conducted in Watankali, Kutocilik Banyumas. For Javanese, yards become a place for final defence. Peasent often plant their home garden with several kind of plants that have economical value to sell so that they will earn money from it. Along with the tendency of population growth, traditional home garden is changed to become housing complex. Consequently, for poor household, the source of food suplement and cheap energy deteriorates.
ADAPTASI PETANI DI KALIMANTAN SELATAN
Wahyu, -
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2298
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji antropologi transmigrasi, terutama tentang kemampuan adaptif transmigran di lokasi baru. Banyak transmigran datang dari daerah dengan latar belakang budaya dan alam yang berbeda-beda, ada yang dari daerah pegunungan, daerah sulit air, maupun daerah irigasi. Penelitian ini menganalisis tiga variabel: budaya (tradisi), motivasi, dan kemampuan dasar petani, yang diperkirakan memiliki hubungan dekat dengan kemampuan adaptif di lokasi yang baru. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Lokasi penelitian dilakukan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling acak bertahap (multi stages cluster random sampling). Sampel pada penelitian berjumlah 320 yang dengan perincian 160 di sawah pasang surut dan 160 di sawah irigasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik wawancara dengan berpedoman pada daftar pertanyaan dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis faktor (komponen utama), analisis jalur dan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan adaptif transmigran tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidup fisik tempat baru yang ditinggali, juga darimana mereka berasal tetapi juga oleh faktor-faktor sosial ekonomi dan budaya yang telah menjadi bagian hidup mereka.The objective of this research is to examine the transmigration anthropology, especially about the ability of adaptive migrants in the new location. Many migrants come from areas with cultural backgrounds and of different nature, some from the mountains, the area is water, and irrigation areas. This study analyzes three variables: culture (tradition), motivation and basic skills of farmers, which is estimated to have close ties with adaptive capabilities in the new location. The research method used is quantitative research methods. What research is conducted in two districts, namely Barito Kuala district and Banjar Regency. The sampling method used in this study is multiple stages cluster random sampling. Samples in the study amounted to 320 160 with details on tidal rice fields and 160 in rice irrigation. Data collection techniques used in this study is based on the technique of interview questionnaires and observation. Analysis of the data used is a factor analysis (principal component), path analysis and product moment correlation analysis. The results showed that the ability of adaptive migrants are not only influenced by the physical conditions of the environment they live in a new place, as well as where they came from but also by socio-economic factors and the culture that has become part of their lives.
Persepsi Masyarakat Sekaran Tentang Konservasi Lingkungan
Luthfi, Asma;
Wijaya, Atika
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2290
Isu konservasi lingkungan menjadi sebuah studi yang menarik belakangan ini karena efek dari global warming sudah semakin dirasakan oleh manusia. Kebijakan nasional dan international dengan perspektif konservasi lingkungan semakin dikuatkan, begitu pula dengan Unnes dengan visi kampus konservasinya. Selain kebijakan tersebut, komunitas lokal sebenarnya memiliki persepsi sendiri tentang konservasi lngkungan dari sistem nilai dan pengetahuannya. Tujuan penelitian ini adalah melihat persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan dan penerapan persepsi dalam aktivitas masyarakat. Metode yang digunakan adalah kuliatatif untuk memperoleh data yang akurat dan valid. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat sebagai petani. Tingkat ketergantungan pada lingkungan membentuk persepsi akan konservasi melekat pada pola hidup keseharian mereka. Tapi persepsi tersebut berubah seiring dengan perubahan sosial di masyarakat. Interaksi antara msyarakat Sekaran dengan mahasiswa sebagai pendatang mendorong perubahan pandangan tentang alam dan mata pencaharian. Ketika sistem mata pencaharian mereka tidak lagi tergantung sepenuhnya pada manajemen sumber daya alam, begitu pula percepsi akan konservasi lingkungan turut berubah. Hal ini dibuktikan dengan pola aktivitas mereka yang tidak lagi berkomitmen sepenuhnya pada konservasi lingkungan. Ritual kolektif yang dahulu berfungsi untuk pemeliharaan lingkungan, kini digantikan oleh aktivitas personal dengan makna yang sempit. Â The issue of environmental conservation is an interesting study nowadays because the effect of global warming has been felt by mankind. Many national and international policies that toward environmental conservation perspective is encouraged, so did Unnes with its vision of conservation. Besides these policies, local communities actually have a perception about environmental conservation from their values and knowledge systems. The aim of this research is to find out society perception about environment conservation and the appearance of perception on the daily activities of the society. The research method is qualitative to gain accountable and valid data. Perceptions of environmental conservation can not be separated from their activities as farmers. The level of dependency on environtment makes perception of conservation is embedded well within the pattern of their daily lives. But this perception has shifted in line with social changes that occur. The presence of Unnes in their territory is the main factor of social changes in society. Interaction between Sekaran society with students as immigrant helped change their views about the nature and the occupation system. When the occupation system no longer depend entirely on the management of natural resources, so the perception of environmental conservation also shifted. This can be seen on their activity patterns that no longer has a full commitment to environmental conservation. Communal ritual that used to function as a place of transformation values of environmental conservation has been replaced with the personal activities of environmental hygiene has a narrower meaning.
PEMBELAJARAN SOSIOLOGI YANG MENGGUGAH MINAT SISWA
Insriani, Hezti
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2300
Mata pelajaran Sosiologi dipandang oleh sejumlah siswa sebagai mata pelajaran yang membosankan. Muatan materi sosiologi yang menyajikan banyak teori dan konsep seperti mengandung konsekuensi kepada siswa untuk menuntut semuanya dihafal secara baik. Model pembelajaran yang membosankan semakin membuat mata pelajaran ini kurang diminati oleh siswa. Strategi inovatif sudah dilakukan, namun pada prakteknya operasionalisasi model pembelajaran itu kurang efektif sehingga guru banyak yang kembali menggunakan model pembelajaran konvensional. Artikel ini ditulis untuk menyampaikan model pembelajaran Sosiologi bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan pengalaman saya mengajar. Menurut pengalaman saya, strategi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran sosiologi antara lain adalah mengajukan pertanyaan kritis, eksplorasi artikel dan gambar/foto, nonton film, penelitian sederhana, dan membuat catatan harian. Melalui startegi ini, pembelajaran yang bersifat konstruktivisme lebih mudah dioperasional. Cara ini lebih dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pembelajaran secara mandiri dan menjadikan siswa lebih dekat memahami kenyataan sosial sebagai bagian dari kehidupannya sekaligus sebagai materi pembelajaran sosiologi. Students often regard Sociology as a boring subject. The subject presents many sociological theories and concepts students to memorize. Boring method of teaching further makes the course less attractive to students. Innovative strategy have been used, but in practice the method is not effective and teachers return to conventional models. This article is written based on the author’s experience in teaching Sociology among high school students. Based on my experience, strategies that can be used to create innovative learning include asking critical questions, exploring articles and pictures / photos, analyzing movies, doing simple research, and keeping a diary. Through this strategy, constructivist learning is much easier to run. This method is better able to provide the opportunity for students to develop independent learning and make students more intensively to understand social reality as a part of his life as well as the learning materials of sociology.
FUNGSI SUNGAI BAGI MASYARAKAT DI TEPIAN SUNGAI KUIN KOTA BANJARMASIN
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2293
Banjarmasin merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai kota seribu sungai. Kota ini bernama Banjarmasin karena kondisi geografisnya yang dikelilingi oleh sungai besar dan kecil. Salah satu sungai tersebut adalah sungai yang melewati wilayah Desa Kuin Kuin Utara, Selatan Kuin dan Kuin Cerucuk. Tujuan artikel ini adalah untuk membahas fungsi sungai bagi masyarakat yang tinggal di tepi Sungai Kuin Banjarmasin Kalimantan Selatan. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sungai tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga berfungsi untuk kegiatan ekonomi, interaksi, dan sosialisasi.Banjarmasin is the capital of South Kalimantan Province, which is also known as the city of a thousand rivers. The city is named Banjarmasin due to its geographical conditions which is surrounded by large and small rivers. One of the rivers is the Kuin river that passes through the village of Kuin, North and South Kuin and Kuin Cerucuk. The purpose of this article is to discuss the functions of the river for the people living on the banks of the River Kuin Banjarmasin South Kalimatan. The writing used descriptive qualitative method. Data were collected through interviews and observation. The results show that the river does not only serve as transportation routes, but also serves as economic activity, interaction, and socialization.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2303
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaannya model pembelajaran tutor sebaya (peer teaching) di SMAN I Brebes. Subjek dalam penelitian ini adalah guru sosiologi kelas XI IPS 1 dan siswa kelas XI IPS 1. Hasil penelitian menunjukkan peer teaching memerlukan persiapan yang matang, dan setiap tahap pelaksanaan hendaknya dievaluasi untuk mendapatkan hasil yang baik. Faktor pendukung dalam pelaksanaan model pembelajaran tutor sebaya antara lain yaitu adanya interaksi antara guru dengan siswa, minat belajar siswa cukup tinggi, guru dan siswa lebih akrab dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan tutor sebaya dalam kelompok belajar membuat suasana pembelajaran lebih menarik, sedangkan faktor penghambatnya antara lain yaitu kurangnya persiapan dari para tutor, sarana dan prasarana kurang memadai, kegiatan pembelajaran kurang kondusif, dan sumber belajar kurang memadai. The objective of this study is to examine the implementation of peer tutoring learning model (peer teaching) in SMAN I Brebes. Subjects in this study were teachers sociology class XI IPS 1 and class XI IPS 1. Results show that the implementation of peer teaching requires preparation, and each stage of the implementation should be evaluated to obtain good results. Factors supporting the implementation of peer tutoring learning model, among others, the interaction between teachers and students, and also student interest is high; teachers and students are more familiar in learning activities, and peer tutor involvement in the study group to make the learning environment more attractive. The inhibiting factor of peer teaching strategy include among others the lack of preparation of the tutors, inadequate infrastructure, lack of conducive learning activities, and learning resources are inadequate.
PERILAKU MASYARAKAT DESA HUTAN DALAM MEMANFAATKAN LAHAN DI BAWAH TEGAKAN
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2287
Kelestarian hutan dan kehidupan ekonomi masyarakat desa hutan merupakan dua isu penting. Pada saat muncul masalah kerusakan hutan, seringkali yang dianggap penyebabnya adalah masyarakat desa hutan. Terkait dengan isu tersebut muncul alternatif pemanfaatan lahan hutan untuk mendukung perekonomian masyarakat khususnya di sekitar hutan tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan yang disebut lokasi Pemanfaatan Lahan Di bawah Tegakan. Tujuan artikel ini adalah membahas bagaimana perilaku masyarakat desa hutan dalam memanfaatkan lahan di bawah tegakan tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan. Dalam penelitian ini pendekatan kualitatif menjadi basisnya, dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam pengambilan datanya. Triangulasi sumber sebagai teknik validitas data dan analisis interpretatif sebagai teknik analisisnya.Perilaku penduduk sekitar terhadap lingkungan hutan ditunjukkan dengan hal-hal berikut: membuka lahan, memanfaatkan lahan hutan untuk pertanian, menjaga kelestarian hutan, dan menjaga keamanan hutan. Pemanfaatan lokasi ini berpengaruh pada kelembagaan dalam masyarakat petani desa hutan. Jenis-jenis tanaman yang bervariasi juga mulai dikembangkan baik itu palawija maupun buah-buahan. Pemanfaatan lahan di bawah tegakan ini perlu terus dilakukan sebagai solusi peningkatan aspek perekonomian dan upaya pelestarian hutan.Forest conservation and economic life of the rural community are two important cross-cutting issues in environmental conservation and economic empowerment. When deforestation rises, rural communities around the forest are often stereotypes as the cause of deforestation. To address the problem, an alternative is offered. People can use the land without damaging the forest by planting crops under the trees. This planting under trees system can increase the community’s economy, especially for the community near the forest. The objective of this article is to discuss the behavior of rural community in the use of land under the forest trees without causing forest destruction. The study method used id qualitative approach. The result of the research indicates that behavior of the population around the forest environment can be classified in the following: open land, forest land use for agriculture, forest preserve, and maintain the security of the forest. The use of under trees site for farming has the institutional impact on rural farming community forest. The farmers have different the types of plants to develop both the crops and fruits. Land use under this trees stand appears to be successful solution to increase the economic welfare on the one side and forest conservation efforts on the other side.
EKSISTENSI WADUK CACABAN SEBAGAI TEMPAT KEGIATAN WIRAUSAHA BAGI MASYARAKAT
Astuti, Tri
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2295
Masyarakat Kedungbanteng memanfaatkan Waduk Cacaban sebagai tempat kegiatan wirausaha. Masyarakat bergerak dalam bidang sektor informal karena dalam wilayah tersebut dimungkinkan hanya bermodalkan ketrampilan dan pendidikan yang minim. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis profil dan aktivitas pedagang di Waduk Cacaban yang sering tanpa ijin pemerintah. Penelitian dilakukan dengan observasi mendalam dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Kedungbanteng berdagang di Waduk Cacaban karena suatu anggapan bahwa Waduk Cacaban merupakan tanah warisan nenek moyang yang digunakan untuk tujuan kesejahteraan hidup mereka. Oleh karena itu, masyarakat merasa tidak memerlukan ijin resmi dari pihak pengelola Waduk ketika mereka membuka tempat usaha di waduk tersebut. Ketika petugas menertibkan keberadaan para pedagang, terkadang mereka tidak mengindahkan hal tersebut. Karena anggapan tersebut, ada pula keyakinan kalau ada orang dari luar daerah Kedungbanteng yang berjualan di tempat tersebut, usahanya tidak lancar dan akhirnya harus gulung tikar. Hal tersebut menujukan adanya kekuatan budaya dalam masyarakat bahwa Waduk Cacaban merupakan sebuah tempat yang diwariskan nenek moyang mereka khusus untuk masyarakat Kedungbanteng.Kedungbanteng community makes Cacaban Dam as a place of entrepreneurial activity. The community is engaged in informal sector where they only need minimal skills and education. The purpose of this study is to analyze the profile and activity in of merchants in Cacaban Dam who often do business without government approval. The study was conducted through in-depth observations and interviews. The results show the trade in Cacaban Reservoir occurred because of a presumption that the reservoir Cacaban is a heritage land used for the purpose of the welfare of the Kedungbanteng community. Therefore, people feel they do not require official permission from the management of the reservoir when they open a place of business in these reservoirs. When government officer disciplined the traders, sometimes they do not heed it. Because of these assumptions, there is also a belief that there are people from outside the area that sell in Cacaban dam will not be smooth and finally had to go out of business. The case studies illustrates the force of culture in human life.
SISTEM BUDAYA BAHARI KOMUNITAS NELAYAN LUNGKAK DESA TANJUNG LUAR, LOMBOK TIMUR, NUSA TENGGARA BARAT
Husain, Fadly
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.4173
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana sistem pengetahuan komunitas nelayan Lungkak sebagai salah satu kearifan lokal dan modal sosial dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya laut. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Lokasi penelitian tersebut ditentukan secara purposive menurut pokok permasalahan penelitian yang dirumuskan. Data kualitatif akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam (In-depth Interview) dan pengamatan terlibat (observation participation). Dalam penelitian ini pengolahan dan analisis data dilakukan secara bersamaan dalam sebuah proses yang dilakukan secara terus menerus sejak pengumpulan data dilakukan khususnya dalam proses pengorganisasian, pemilihan, dan kategorisasi antar data dalam bentuk uraian naratif atau thick description. Komunitas nelayan Lungkak mempunyai kearifan lokal berupa sistem pengetahuan tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya laut. Sistem pengetahuan ini berupa pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi, pengetahuan tentang tempat penangkapan dan posisi rumah ikan, pengetahuan tentang musim (Pola musim dan waktu-waktu munculnya ikan), pengetahuan tanda-tanda di laut dan di angkasa, pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya, sistem keyakinan/kepercayaan (upacara/ritual dan pantangan-pantangan).The purpose of this study was to determine how knowledge system of fishing community of Lungkak as one of the local knowledge and social capital in managing and utilizing their natural resources. The study was conducted with qualitative methods with the type of descriptive research. The study site is purposively determined according to basic research problems formulation. Qualitative data will be collected through in-depth interview and participation observation. In this study the processing and data analysis carried out simultaneously in a process that is conducted continuously since data collection is done especially in the organizing process, selection, and categorization between data in the form of thick description or narrative description. Fishing community of Lungkak has a system of local knowledge in management and utilization of marine resources. Knowledge system is a knowledge of the economic value of marine life, the knowledge of the location and the location of the house catching fish, the knowledge of the seasons (winter pattern and emergence times of fish), the knowledge of the signs at sea and in space, the knowledge of the socio-cultural environment, system of beliefs (rituals and taboos).