cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
HUBUNGAN SOSIAL ANTARA ETNIS BANJAR DAN ETNIS MADURA DI KOTA BANJARMASIN Hidayat, Yusuf
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i1.2377

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami integrasi sosial antara etnis Banjar dan Madura di Kota Banjarmasin. Berbeda dengan kota lain di Kalimantan, di kota Banjarmasin, etnis Banjar dan Madura dapat hidup bersama tanpa ada konflik keras meskipun kedua etnis tersebut sama-sama dikenal sebagai etnis pedagang. Penelitian ini mengadopsi metode kualitatif yang berfokus pada keunikan setiap individu sebagai produsen realitas. Penelitian ini telah dilakukan di kota Banjarmasin dan telah mewawancarai sembilan informan. Hasil penelitian ini mengungkapkan beberapa fakta. Pertama, agama dan aktivitas ritual merupakan media integrasi bagi etnis Banjar dan Madura. Kedua, penegakan hukum dalam masyarakat telah menimbulkan rasa hormat masyarakat terhadap hak orang lain. Ketiga, sikap etnis Madura yang menghormati budaya lokal menumbuhkan pemahaman yang baik pada masyarakat etnis Madura terhadap etnis Banjar. The objective of this study is to explore social integration between Banjar ethnic and Madura ethnic in City of Banjarmasin. Different from the etnich condition in other town in Borneo, in Banjarmasin city, both ethnic can life together without any hard conflict although they both have been known as ethnic trader. This research adopted qualitative method focused on the uniqueness of each individual as producer of reality. This research has been done in Banjarmasin city. This research has found that: first, religion and its ritual and activity is a media of integration between Banjar and Madura Ethnic. Second, law empowering in society have made the society respect to the other right. Third, the attitudes of Madura ethnic who show respects to local culture have increased the understanding between Madura ethnic and Banjar ethnic.
PERANAN PAGUYUBAN TIONGHOA PURBALINGGA DALAM PELESTARIAN TRADISI CAP GO MEHPERANAN PAGUYUBAN TIONGHOA PURBALINGGA DALAM PELESTARIAN TRADISI CAP GO MEH Fitriyani, Rina
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i1.2398

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan peran Paguyuban Tionghoa Purbalingga (PTP) dalam menjaga kebudayaan Tionghoa, khususnya tradisi Cap Go Meh. Sebelum  Paguyuban Tionghoa Purbalingga terbentuk, perayaan Cap Go Meh hanya dirayakan dalam lingkup keluarga dan di dalam rumah saja, akan tetapi setelah adanya Paguyuban Tionghoa Purbalingga tradisi ini dirayakan secara terbuka sehingga tidak hanya golongan Tionghoa yang merasakan akan tetapi juga masyarakat Purbalingga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan lokasi penelitian di kabupaten Purbalingga. Menggunakan bentuk analisis interaktif, penelitian ini menghasilkan fakta-fakta sebagai berikut. Bentuk-bentuk pelestarian tradisi Cap Go Meh meliputi perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan tradisi Cap Go Meh. Makna tradisi Cap Go Meh bagi masyarakat Tionghoa Purbalingga adalah wujud syukur, dan sarana berkumpul. Tradisi ini mengandung nilai 8 Jalan Kebenaran bagi golongan Tionghoa sesuai ajaran Tridharma Tionghoa yaitu kesetiaan (loyality), integritas (integrity), kesopanan (propriety), kebenaran moral (righteousness), kehormatan (honour), bakti (filial piety), kebajikan (kindness), kasih sayang (love).The objective of this study is to describe the role of Chinese Society of Purbalingga (PTP) in conserving Chinese culture, especially the tradition of Cap Go Meh. Before the establishment of the Chinese Society of Purbalingga, Cap Go Meh was celebrated only in the sphere of family and home, but after the Chinese Society of Purbalingga was established, the tradition was celebrated openly so that not only the Chinese but also people of Purbalingga can feel its presence. The study method used is qualitative approach and the research sites is in the district Purbalingga. Using the form of interactive analysis, this research found the following facts. Preservation of Cap Go Meh tradition include these practices: protection, development, and utilization of Cap Go Meh tradition. The meaning of Cap Go Meh tradition for the Chinese community in Purbalingga is an act of gratitude, and means of assembly. Besides, this tradition contains the value of 8 way sof truth according to the teachings of the Chinese Tridharma, loyality, integrity,  propriety, righteousness, honor, filial piety, kindness, and love.
KONTRIBUSI MODAL SOSIAL DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PEDAGANG KAKI LIMA PASCARELOKASI Handoyo, Eko
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2743

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas kontribusi modal sosial terhadap peningkatan kesejahteraan pedagang kaki lima (PKL).  Penelitian dilakukan di Kota Semarang. Wilayah PKL yang diteliti adalah jalan Menteri Soepeno. Pemerintah Kota Semarang merelokasi PKL di wilayah Jalan Pahlawan ke jalan Menteri Supeno sebagai bagian dari upaya untuk  mewujudkan Kota Semarang sebagai pusat perdagangan dan jasa berskala internasional. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya peran modal sosial bagi pedagang kaki lima untuk bertahan di masa-masa sulit seperti relokasi. PKL yang dipindahkan ke jalan Menteri Soepeno dapat menerima kebijakan pemkot dan berdaptasi secara sosial dan ekonomi dengan lingkungan baru. Modal sosial, utamanya trust dan networking berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan pedagang. Untuk meningkatkan kesejahteraan PKL, pemerintah kota perlu mendukung dan mengembangkan modal sosial yang telah mereka miliki.AbstractThis article discusses the contribution of social capital to the welfare of street vendors (PKL). The study was conducted in the city of Semarang. The subject of study is the street vendors in Menteri Soepeno Street Semarang. Semarang city government  relocate the street vendors in the area from Jalan Pahlawan to Menteri Supeno as part of its effort to realize the Semarang city as a center of international trade and services. The result shows the importance of the role of social capital for street traders has to survive in difficult times such as relocation. PKL transferred to the road Soepeno Minister can receive local government policies and adapt socially and economically to the new environment. Social capital, particularly trust and networking contribute to improve the welfare of traders. This study concludes that to improve the welfare of street vendors, the city government needs to support and develop the street vendors social capital.© 2013 Universitas Negeri Semarang
PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MATA PELAJARAN SOSIOLOGI Putri, Noviani Achmad
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i2.2317

Abstract

Pembangunan fisik perlu diimbangi dengan pembangunan moral. Salah satu cara pembangunan moral terhadap generasi muda adalah melalui pendidikan karakter yang dilaksanakan di lembaga Sekolah Menengah Atas. Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan model penanaman nilai-nilai pendidikan karakter melalui mata pelajaran Sosiologi. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 5 Semarang. Hasil penelittian menunjukkan bahwa pendidikan karakter di SMA Negeri 5 Semarang dilaksanakan dengan cara diintegrasikan ke semua mata pelajaran yang ada. Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter melalui mata pelajaran Sosiologi dapat ditinjau dari beberapa aspek, di antaranya: materi Sosiologi yang telah dianalisis nilai-nilai karakternya, RPP dan Silabus Sosiologi yang berkarakter, metode penanaman oleh guru, media pembelajaran berbasis karakter dan evaluasi penanaman nilai-nilai pendidikan karakter. Pengembangan dan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter di SMA Negeri 5 Semarang juga dilakukan melalui penyediaan fasilitas seperti tempat ibadah, laboratorium bahasa dan budaya serta Pusat Sumber Belajar yang baik serta ditunjang dengan berbagai program sekolah mulai dari ekstra kurikuler, pengembangan budaya sekolah, wawasan wiyata mandala dan tentunya ditunjang dengan visi dan misi sekolah yang ada.Physical development needs to be balanced with moral development. One way of moral development in young people is through character education held in institutions of senior high school. The purpose of this study is to explore the experience ​​of SMAN 5 Semarang in habituating character education  through Sociology. The research results show that character education in SMA Negeri 5 Semarang is implemented integratedly into the existing subjects. The investment of character education values through sociology courses can be viewed from several aspects, such as character values, character-based lesson plan and syllabus, character building by teachers, character-based learning media and evaluation of the investment of character education values. Development and cultivation of character education values in SMA Negeri 5 Semarang is also done through the provision of facilities such as places of worship, cultural and language labs and good Learning Resource Center, accompanied by a variety of programs ranging from extra-curricular activity, school culture development, wiyata mandala insight and of course supported by the vision and mission of the school.
PERANAN MUATAN LOKAL MATERI BATIK TULIS LASEM SEBAGAI BENTUK PELESTARIAN BUDAYA LOKAL Nur Farid, Muhammad
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i1.2400

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana pelaksanaan muatan lokal batik tulis Lasem pada tingkat sekolah dasar di Kecamatan Lasem sebagai bentuk pelestarian budaya lokal. Hasil penelitian ini menunjukkan pelaksanaan muatan lokal batik tulis Lasem pada kelas empat dan kelas lima. Masing-masing tingkatan mempunyai fokus kemampuan yang berbeda. Fokus kelas empat adalah pengenalan tentang batik, alat dan bahan membatik serta pengenalan ragam hias batik, sedang fokus kelas lima adalahpenjelasan sejarah batik tulis Lasem, tahapan membatik batik tulis Lasem, ragam hias batik tulis Lasem. Praktik pada kelas lima mulai dari ngethel, membuat pola, nglengkreng, nerusi, dan isen-isen. Pelaksanaan muatan lokal batik tulis Lasem kelas enam yaitu tentang sejarah dan ragam hias batik tulis Lasem melanjutkan tahapan dari kelas lima yang belum selesai. Muatan lokal tersebut berhasil menanamkan kepedulian dan kecintaan anak-anak pada batik tulis Lasem.The objective of this study is to examine  the implementation of the local content batik Lasem at primary school in Lasem subdistrict as a form of local cultural preservation. The result of this study demonstrates that t local content batik Lasem is  implemented in fourth, fifth and sixth grade. Each level has different focus. The focus of the fourth grade is the introduction of batik, batik tools and materials as well as the introduction of decorative batik. The focus of the fifth grade is on the history of Lasem batik, barik stages, decorative Lasem batik. The practice in fifth grade include ngethel, make patterns, nglengkreng, nerusi, and isen-isen. The implementation of the local content batik Lasem at sixth grade is about the history and decorative batik Lasem continuing the unfinished subjects in the fifth grade. Local content successfully instill kids’ awarness and love on batik Lasem.
PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAR DALAM RITUAL DI KELENTENG BAN ENG BIO ADIWERNA Listiyani, Titin
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i2.2308

Abstract

Keberadaan Kelenteng Ban Eng Bio yang terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk Tionghoa dan non Tionghoa yang berbeda agama banyak membawa pengaruh. Salah satunya adalah dalam pelaksanaan ritual yang dilakukan di Kelenteng. Pelaksanaan ritual di Kelenteng tidak hanya melibatkan masyarakat Tionghoa yang berada di sekitar Kelenteng, tetapi juga masyarakat non Tionghoa yang berada di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji bagaimana pelaksanaan ritual yang dilakukan di Kelenteng Ban Eng Bio dalam membentuk solidaritas sosial, serta bagaimana partisipasi masyarakat Tionghoa dan non Tionghoa sekitar Kelenteng dalam ritual di Kelenteng Ban Eng Bio terhadap upaya pengembangan integrasi sosial. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan ritual yang dilakukan di Kelenteng melibatkan masyarakat Tionghoa dan non Tionghoa baik sebagai pendukung, pengaman maupun penonton, sehingga terjadi suatu solidaritas sosial diantara mereka. Partisipasi masyarakat non Tionghoa dan Tionghoa dapat meningkatkan integrasi sosial masyarakat khususnya di Desa Adiwerna. Keterlibatan masyarakat sekitar kelenteng khususnya masyarakat non Tionghoa dalam ritual masyarakat Tionghoa diupayakan tidak mengarah pada terjadinya percampuran agama yang dianggap bisa menumbuhkan masalah baru dalam hubungan antar umat beragama.The location of Ban Eng Bio temple in the middle of the Chinese and non-Chinese residences , with different religious backgrounds, brings many influences. One of them is the influence on the rituals performed in the temple. The implementation of the ritual in the temple does not only involve the Chinese community around the temple, but also non-Chinese communities in the surrounding areas. The objective of this reasearch is to study how rituals performed at the Ban Eng Bio temple  and the participation of non-Chinese and Chinese communities around the temple forms solidarity and social integration. The methods of research is a qualitative approach and data was collected through observation, interview and documentation. The research reveals that the rituals done in the temple involve non-Chinese and Chinese communities either as supporters, workers, or viewers, resulting in the strengthening of social solidarity among them. The participation of non-Chinese and Chinese society also improves the social integration of people, especially in the Village  of Adiwerna. The involvement of communities around the temples, especially non-Chinese people in Chinese society ritual does not lead into the mixing of religion because it can grow a new problem in inter-religious relations.
DARI DORO KE RAKI: EKONOMI GENDER DAN TRANSFORMASI SOSIAL PERTANIAN ORANG GALELA Murit, -
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v2i2.2282

Abstract

Sistem pertanian terbentuk di antaranya karena pengaruh ekologis, pandangan tentang manusia dan pandangan manusia tentang alam. Pada taraf tertentu, ketiga faktor ini saling berpengaruh dan pada akhirnya membentuk sistem pertanian sebagai sistem kebudayaan yang khas. Tujuan artikel ini adalah untuk membahas bagaimana sistem pertanian Galela Halmahera Utara dan bagaimana pengaruh transformasi pertanian Galela dari doro ke raki terhadap tingkat kesejahteraan ekonomi rumah tangga petani Galela. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam dan snowball, analisis data menggunakan penekatan struktural-fungsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam sistem pertanian orang Galela terdapat distribusi tenaga kerja rumah tangga yakni sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Kesejahteraan petani Galela tidak meningkat seiring peningkatan produksi pertanian karena petani meninggalkan usaha tani doro setelah usaha tani raki menjamin pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kebijakan negara yang cenderung mengabaikan regulasi harga komoditas pertanian dari intervensi pasar juga turut mempengaruhi kesejahteraan petani.Farming culture is formed by three factors: the influence of ecology, the view of man towards man, and human view of nature. To a certain extent, these three factors affect each other and eventually form the agricultural system as a distinctive cultural system. The objective of this article is to discuss a distinctive farm system, in Galela North Halmahera and the influence of agricultural transformation Galela from doro to raki on the level of economic well-being of households in Galela. The research method used is  qualitative approach, data collection is done by observation, in-depth interviews and snowball, data analysis using structural-functional approach. The results show that in the farming system Galela, there is systematic distribution of household labor both as producers and consumers. With transformation from doro to raki,  there is an increase in agricultural production. However, welfare of farmers in Galela do not increase because farmers leave the doro system, after the raki system meets the household needs. State policy that tends to ignore the price regulation of agricultural commodities market intervention also affects the welfare of farmers.
JARINGAN SOSIAL PEMASARAN PADA KOMUNITAS NELAYAN TRADISIONAL BANTEN Amiruddin, Suwaib
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2949

Abstract

Nelayan tradisional memiliki karakteristik ketergantungan terhadap kondisi alam dan hasil tangkapan yang diperoleh. Selain itu ketergantungan terjadi pula pada aspek permodalan dan jaringan sosial pemasaran. Penelitian ini mengeksplorasi karakteristik nelayan tradisional, proses dan jaringan sosial pemasaran antar kelompok dan jaringan sosial pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan penelitian adalah pemilik modal, pemilik perahu, nelayan, petugas TPI. Hasil penelitiannya adalah bahwa karakteristik komunitas nelayan tradisional di Lontar melakukan kegiatan penangkapan ikan berdasarkan pada jenis alat tangkap yang dimiliki terdiri dari rejung, jaring insang, ikan karang, rakek (kerang) kapasitas mesin perahu adalah 15-17pk. Jangkauan jarak melaut hanya berkisar 3-4 mill, jarak tempuh sekitar 1-2 jam untuk menjangkau lokasi penangkapan. Bagi nelayan yang memperoleh permodalan untuk melaut melalui langgan, maka pemasaran dikuasai oleh langgan, serta penentuan harga dan pemasaran semuanya dikendalikan oleh langgan. Sedangkan nelayan yang tidak memiliki ikatan pada langgan, maka jaringan sosial pemasaran hasil tangkapan dilakukan secara langsung melalui TPI Lontar. Transaksi di pelelangan, dilakukan mekanisme pengelompokan jenis dan ukuran ikan, dan kemudian diadakan penawaran harga secara terbuka dan disesuaikan dengan harga di pasaran.Traditional fisherman rely on seasonal condition when they do fishing, their fishing product, their capital, and social network marketing.The study aimed to investigate the characteristic of traditional fisherman. Their social system and their marketing strategies. It was a qualitative study using partisipative observation, in-depth interview, and documentation technique. The subjects of the study were capital owner, boat owner, fisherman, and officer of fish auction. The study showed that traditional fisherman community in Lontar did its fishing based on fishing equipment which consisted of rejung, net, reef fish, and clam.The boats capacity were about 15-17 pk, with 3-4 miles distance and 1-2 hours journey to fishing location. Traditional fishermen were highly depent on capital owner (langgan) whom they got the capital from and they gave the fishing products to. Moreover, langgan decided the price and fish marketting. Some of traditional fishermen could directly sold their fishing products themselves because they had their own capital. The fisherman community sold their fishing products in fish auction, which price was determinied by the kinds and sizes of the fishes.
RE-IMAJINASI KE-INDONESIA-AN DALAM KONTEKS ‘NETWORK SOCIETY’ Pujiriyani, Dwi Wulan
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2734

Abstract

AbstrakTulisan ini berusaha untuk mengungkap pengalaman keindonesiaan yang dihadapkan pada realitas kehidupan yang mengglobal. Dalam rangka memperoleh pemahaman yang lebih jauh tentang pemaknaan identitas keindonesiaan, tulisan ini akan mengacu pada pemaknaan identitas secara individual yaitu bagaimana individu merumuskan identitas keindonesiaannya, bagaimana identitas tersebut dibangun serta representasi identitas keindonesiaan yang kemudian muncul. Untuk mengaitkan dengan pemaknaan identitas secara global, konteks identitas yang dimunculkan dalam tulisan ini adalah identitas yang dirumuskan oleh subjek penelitian yang memiliki pengalaman tinggal di luar negeri. Hal ini terkait dengan konteks network society yang menandai semakin cairnya batas-batas teritorial. Dalam konteks mobilitas inilah identitas keindonesiaan atau seringkali dilekatkan dengan ‘nasionalisme’ seseorang, seringkali dipertanyakan. Pengalaman tinggal di luar negeri ini dijadikan frame untuk melihat bagaimana identitas keindonesiaan itu menemukan makna yang sebenarnya ketika dihadapkan pada identitas-identitas dalam jaringan masyarakat yang meluas.
Relocation as Empowerment: Response, Welfare, and Life Quality of Street Vendors After Relocation Handoyo, Eko; Widyaningrum, Nur Ranika
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3428

Abstract

Keberadaan PKL di sepanjang jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 menyebabkan terganggunya kelancaran, ketertiban, keindahan dan kebersihan jalan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemerintah Kabupaten Magelang merelokasi PKL di sepanjang jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 ke PKL Mertoyudan Corner. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana respons, kesejahteraan, dan kualitas hidup PKL pasca relokasi untuk melihat praktik pemberdayaan yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwan PKL di jalan raya Magelang-Yogyakarta km 5-8 sebagian besar menunjukkan respons yang positif terhadap kebijakan relokasi, yaitu dalam bentuk penerimaan dan persetujuan (40% di antaranya memutuskan pindah). Kesejahteraan PKL, terutama dilihat dari pendapatan mengalami penurunan. Kualitas hidup PKL yang diukur dari aspek penghasilan, pemenuhan kebutuhan material, derajat dipenuhinya kebutuhan hayati, kebutuhan manusiawi dan kebebasan memilih juga menunjukkan penurunan. Kesimpulannya relokasi sebagai pemberdayaan agar berfungsi dengan baik harus mengembangkan program-program kreatif untuk mempopulerkan tempat relokasi.The presence of street vendors along Highway Magelang-Yogyakarta KM 5-8 lead to the disruption of the smooth, order, beauty and cleanliness of the streets. To resolve these problems, the government relocate the street vendors to street vendors Mertoyudan Corner. The purpose of this study was to analyze how the response, quality of life, and well-being after relocation to illuminate the practice of effective of empowerment. This study used qualitative methods. results showed that street vendors in Magelang-Yogyakarta highway km 5-8 mostly show a positive response to the relocation policy, namely in the form of acceptance and approval, while 40% of them decide to move. The welfare of street vendors, expecially seen from the revenue decline and the quality of life as measured from the street vendors prosperous income aspect, the fulfillment of material needs, the degree of fulfillment of biological needs, human needs and freedom of choice also showed a decline. The study concludes that  to function properly,  relocation as empowerment should develop creative programs to develop the relocation sites.

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue