cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 18581196     EISSN : 23553596     DOI : -
Core Subject : Health,
KEMAS Journal: Research Study in Public Health publishes the article based on research or equivalent to research results in public health or other disciplines related to public health that has not been loaded/published by other media. The journal contains articles about epidemiology and biostatistics, health policy and administration, public health nutrition, environmental health, occupational health and safety, health promotion, reproductive health, maternal and child health, and other related articles in public health. The journal can be used by health practitioners, health caregivers, teachers, medical students, and people who are interested in public health issues. The journal was first published in July 2005 and subsequently published twice a year, in July and January. KEMAS Journal is a peer review journal and can be accessed in http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas. Semarang State University (Unnes) is a leading university in Indonesia with the vision to become a world-class conservation university. The conservation vision is closely related to the study of public health sciences. Unnes also published high quality e-journal from various disciplines, integrated, and managed through Open Access Journals that can be accessed in http://journal.unnes.ac.id. The IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia/The Association of Indonesian Public Health Expert) is a non-profit membership association dedicated to advance public health as a scientific discipline and profession that serves public good for Indonesia and humanity.
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2013)" : 42 Documents clear
KETERSEDIAAN SARANA SANITASI DASAR, PERSONAL HYGIENE IBU DAN KEJADIAN DIARE Mafazah, Lailatul
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare merupakan penyakit menular yang penting karena merupakan penyumbang utama ketiga angka kesakitan dan kematian anak di berbagai negara termasuk Indonesia.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara ketersediaan sarana sanitasi dasar lingkungan dan personal hygiene ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pemalang tahun 2012. Jenis penelitian ini yaitu explanatory research dengan metode survey dan rancangan penelitian cross sectional dengan jumlah populasi seluruh balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo pada tahun 2012 yaitu sebanyak 3.789 balita. Sampel berjumlah 95 balita. Instrumen yang digunakan adalah check list dan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (menggunakan uji chi square dengan α=0,05). Hasil dari penelitian ini, variabel yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pemalang adalah ketersediaan sarana air bersih (p=0,001), ketersediaan sarana pembuangan tinja (p=0,002), ketersediaan sarana tempat pembuangan sampah (p=0,001), ketersediaan sarana pembuangan air limbah (p=0,001) dan personal hygiene ibu (p=0,001). Diarrhoea is an important infectious disease because there are assist third main of mortility and morbidity of children in almost country belong Indonesia. Annualy, diarrhoea disease attack 59 million Indonesian people and 2/3 of them are children under five years old throught 600.000 people was offers. The aim of the study was to find correlations between mother’s knowledge grade and availability of environmental sanitation with diarrhoea cases on children at Puskesmas Purwoharjo  District of Pemalang in 2012. This study was explanatory research, which used survey method and cross sectional study. The population is all of children at Puskesmas Purwoharjo areas in 2012 there are 3.789. The sample are 95 of children under 5 years old. The instrument of the study were using check list and questionnaire. Data were analyzed univariate and bivariate  (using chi square test with α=0,05). The conclusion of this study were there variables were correlated with diarrhoea cases of children including source of clean water (p=0,001), medium of faeces dismissal (p=0,002), rubbish treatment (p=0,001), waste water disposal (p=0,001), the mother’s hygiene grade (p=0,001).
KEEFEKTIFAN RODENTISIDA RACUN KRONIS GENERASI II TERHADAP KEBERHASILAN PENANGKAPAN TIKUS Astuti, Desi Rini
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit menular zoonosis yang disebabkan bakteri patogen leptospira dengan reservoar utama dalam penularan adalah tikus. Pengendalian tikus secara kimiawi selama ini menggunakan rodentisida racun akut yang menyebabkan jera umpan pada tikus. Disamping itu angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi. Permasalahan yang timbul adalah begaimana keefektifan rodentisida racun kronis generasi II terhadap keberhasilan penangkapan tikus di daerah fokus leptospirosis. Penelitian dilakukan di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan G.pati, Kota Semarang, pada tahun 2013. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan penelitian post test only by control group. Pada penelitian ini digunakan purposive sampling. Jumlah sampelnya adalah 50 rumah. Dari hasil penelitian ini didapatkan data tikus yang tertangkap dengan rodentisida racun kronis generasi II sebanyak 35 ekor dan dengan kontrol ikan asin sebanyak 54 ekor. Berdasarkan hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa penggunaan rodentisida racun kronis generasi II tidak efektif terhadap keberhasilan penangkapan tikus (p= 0,986 > α= 0,05).  Keberhasilan penangkapan  (Trap Succes) tikus di daerah ini tergolong  tinggi sebesar 17,8 %. Jumlah tikus tertangkap yang paling banyak adalah jenis Rattus rattus diardii sebesar 62 % (55 ekor) dan jenis kelamin tikus terbanyak adalah jantan 57 % (51 ekor). Leptospirosis is a zoonotic infectious diseases caused by leptospira pathogenic bacteria with rat as the primary transmission reservoir. The chemically rats controllings used to using acute rodenticide poison that causes the deterrent effect bait in rats. The problem that arises was how the effectiveness of using rodenticide anticoagulant second generation toward the success of catching rats on the leptospirosis focus area. This type of research was quasi experimental research design with a post-test only by control group. A purposive sampling was used in this research. The samples were 50 houses. From the results of the observation, there were 35 rats were caught using rodenticide anticoagulant second generation while the control group which was using salted fish caught 54 rats. Based on the Mann Whitney test results it can be concluded that the use of rodenticide anticogulant second generation was not effective towards the success of catching rats (p= 0,986 > α= 0,05). The success of the rats capture (trap success) in this area was relatively high amounting to 17,8%. The highest number of rats caught was from the kind of Rattus rattus diardii amounting to 62% (55 rats) and most of them were male with the number of 57% (51 rats).
PRAKTIK PENCEGAHAN FILARIASIS Agustiantiningsih, Dina
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filariasis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Pekalongan, dan tercatat 1 kelurahan merupakan daerah endemis filariasis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan praktik pencegahan filariasis di kelurahan Kertoharjo. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional yang dilakukan pada tahun 2012. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 72 orang yang ditentukan secara random sampling. Hasil penelitian ini diperoleh ada hubungan dengan praktik pencegahan filariasis yaitu tingkat pendidikan (p=0,041), jenis pekerjaan (p= 0,047), tingkat pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,000), persepsi (p=0,000) dan dukungan kepala keluarga (p=0,000). Sementara yang tidak ada hubungan dengan praktik pencegahan filariasis yaitu umur (p=0,476), jenis kelamin (p= 0,570), tingkat pendapatan (p=0,113), sosialisasi pengobatan massal (p=0,769), dukungan TPE (p=0,220) dan memelihara hewan ternak (p=0,997). Elephantiasis was still being a problem for Pekalongan citizen and one village is endemic filariasis. The purposed of the study was to find out the factors related to preventive action toward elephantiasis. This research was analytic research used cross sectional research design that began in 2012. Sample was taken using random sampling which finds 72 peoples. The result of the study found that were a correlation between elephantiasis preventive action with education level (p=0,041), occupation (p= 0,047), knowledge level (p=0,000), behavior (p=0,000), perception (p=0,000) and patriarch support (p=0,000). Mean while there is no correlation between the preventive actions with age (p=0,476), sex (p= 0,570), income rate (p=0,113), therapy socialization (p=0,769), TPE support (p=0,220) and keeping cattle (p=0,997).
FAKTOR RISIKO CHOLINESTERASE RENDAH PADA PETANI BAWANG MERAH Rosyid Budiawan, Agung
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan pestisida yang tidak sesuai dengan prosedur mengakibatkan gangguan kesehatan pada petani. Salah satu indicator keracunan pestisida adalah melihat aktivitas Cholinesterase pada tubuh petani. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan Cholinesterase pada petani bawang merah di Ngurensiti Pati. Penelitian dilakukan pada tahun 2012, jenis penelitian ini Explanatory Research dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok tani bawang merah “Ngudi Makmur”. Sampel berjumlah 50 petani. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner dan pemeriksaan Cholinesterase  Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (Chi-Square).  Hasil pemeriksaan pada petani Desa Ngurensiti Pati didapat hasil 50% petani dengan Cholinesterase di bawah normal. Simpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara frekuensi penyemprotan (p-value 0,011) pemakaian APD (p-value 0,047), status kesehatan (p-value 0,01) sikap (p-value 0,024), pengetahuan (p-value 0,02), dengan Cholinesterase, dan tidak ada hubungan antara lama penyemprotan (p-value 1,000), hygiene perorangan petani (p-value 0,774), masa kerja (p-value 1,000), dengan Cholinesterase. Pesticide was not used in accordance with the procedures can cause health problems to farmers. One indicator of pesticide poisoning was seem in Cholinesterase activity in the body of farmers. The purpose of this study to determine the factors associated with cholinesterase on onion farmers in Ngurensiti Pati. The research was used explanatory research with cross-sectional. The population in this study was the onion farmer groups “Ngudi Prosperous”. The sample amounted to 50 farmers. The research instruments was questionnaire and examination data were analyzed by cholinesterase univariate and bivariate (Chi-Square). Examination results in farmers Ngurensiti Pati village got the result 50% of farmers with below normal cholinesterase. The conclutions of this study was no relationship between the frequency of spraying (p-value 0.011) Personal Protective Equipment use (p-value 0.047), health status (p-value 0.01) attitude (p-value 0.024), knowledge (p-value 0.02), a cholinesterase, and no association between duration of spraying (p-value 1.000), personal hygiene farmers (p-value 0.774), year (p-value 1.000), with cholinesterase.
FAKTOR RISIKO CHOLINESTERASE RENDAH PADA PETANI BAWANG MERAH Rosyid Budiawan, Agung
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v8i2.2822

Abstract

Penggunaan pestisida yang tidak sesuai dengan prosedur mengakibatkan gangguan kesehatan pada petani. Salah satu indicator keracunan pestisida adalah melihat aktivitas Cholinesterase pada tubuh petani. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan Cholinesterase pada petani bawang merah di Ngurensiti Pati. Penelitian dilakukan pada tahun 2012, jenis penelitian ini Explanatory Research dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok tani bawang merah “Ngudi Makmur”. Sampel berjumlah 50 petani. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner dan pemeriksaan Cholinesterase  Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (Chi-Square).  Hasil pemeriksaan pada petani Desa Ngurensiti Pati didapat hasil 50% petani dengan Cholinesterase di bawah normal. Simpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara frekuensi penyemprotan (p-value 0,011) pemakaian APD (p-value 0,047), status kesehatan (p-value 0,01) sikap (p-value 0,024), pengetahuan (p-value 0,02), dengan Cholinesterase, dan tidak ada hubungan antara lama penyemprotan (p-value 1,000), hygiene perorangan petani (p-value 0,774), masa kerja (p-value 1,000), dengan Cholinesterase. Pesticide was not used in accordance with the procedures can cause health problems to farmers. One indicator of pesticide poisoning was seem in Cholinesterase activity in the body of farmers. The purpose of this study to determine the factors associated with cholinesterase on onion farmers in Ngurensiti Pati. The research was used explanatory research with cross-sectional. The population in this study was the onion farmer groups “Ngudi Prosperous”. The sample amounted to 50 farmers. The research instruments was questionnaire and examination data were analyzed by cholinesterase univariate and bivariate (Chi-Square). Examination results in farmers Ngurensiti Pati village got the result 50% of farmers with below normal cholinesterase. The conclutions of this study was no relationship between the frequency of spraying (p-value 0.011) Personal Protective Equipment use (p-value 0.047), health status (p-value 0.01) attitude (p-value 0.024), knowledge (p-value 0.02), a cholinesterase, and no association between duration of spraying (p-value 1.000), personal hygiene farmers (p-value 0.774), year (p-value 1.000), with cholinesterase.
FAKTOR RISIKO KANKER PAYUDARA WANITA Anggorowati, Lindra
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v8i2.2635

Abstract

Masalah penelitian adalah faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara di RSUD Kudus Tahun 2010. Metode penelitian adalah analitik obsevasional dengan rancangan kasus kontrol. Sampel kasus dalam penelitian ini adalah penderita kanker payudara pasien RSUD Kudus dan sampel kontrol adalah wanita bukan penderita kanker payudara yang merupakan tetangga dari penderita kanker payudara, sejumlah 59 kasus dan 59 kontrol yang diperoleh dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara adalah obesitas (p=0,00; OR=4,49; CI=2,01-10,02), usia melahirkan anak pertama (p=0,00; OR=4,99; CI=1,90-13,87), riwayat pemberian ASI (p=0,00; OR=5,49; CI=2,05-14,74), dan usia menarche (p=0,00; OR=6,66; CI=2,84-15,65). Simpulan penelitian adalah faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara adalah obesitas, usia melahirkan anak pertama, riwayat pemberian ASI, dan usia menarche. Research problem was what the risk factors of breast cancer. Research purpose was to determine the risk factors of breast cancer in Kudus hospitals Year 2010. The method was analytic observational study with case-control design. Sample cases were hospital patients with breast cancer and control samples were women without breast cancer who was neighbor of breast cancer patients, a number of 59 cases and 59 controls were obtained with a total sampling technique. The instrument used a questionnaire. Data analysis by Chi-square test (α=0.05). The results showed that there were correlation the incidence of breast cancer with obesity (p=0.00; OR=4.49 CI= 2.01 to 10.02), the first child bearing age (p=0.00; OR=4.99 CI=1.90 to 13.87), history of breast feeding (p=0.00; OR=5.49 CI=2.05 to 14.74), and the age of menarche (p=0,00; OR=6.66 CI=2.84 to 15.65). Research conclusion, obesity, age of first child, breastfeeding history, and age of menarche were risk factors of breast cancer.
KEIKUTSERTAAN PELANGGAN WANITA PEKERJA SEKS DALAM VOLUNTARY CONSELING AND TESTING (VCT) Fibriana, Arulita Ika
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v8i2.2640

Abstract

Pelanggan wanita pekerja seks (WPS) merupakan kelompok berisiko HIV/AIDS. Kelompok tersebut perlu melakukan  Voluntary Conseling and Testing (VCT). Studi pendahuluan pada bulan November 2011 di Resosialisasi Argorejo Semarang menunjukkan sangat kurangnya kesediaan pelanggan untuk melakukan VCT (4,5% yang bersedia). Permasalahan penelitian adalah bagaimana partisipasi pelanggan WPS di resosialisasi Argorejo dalam melakukan VCT. Tujuan penelitian untuk mengetahui partisipasi pelanggan WPS dalam melakukan VCT. Metode penelitian survei dengan pendekatan  cross sectional  terhadap 93 pelanggan WPS di Lokalisasi Argorejo Semarang. Variabel penelitian meliputi persepsi kerentanan, persepsi keparahan HIV/AIDS, persepsi manfaat VCT, persepsi hambatan VCT, motivasi/isyarat melakukan VCT, dan praktik VCT. Hasil penelitian menunjukkan partisipasi pelanggan WPS di resosialisasi Argorejo dalam melakukan VCT masih rendah yaitu 60,2% (56 orang). Simpulan penelitian adalah partisipasi pelanggan WPS dalam melakukan VCT masih rendah Customers female sex workers (FSW) is risk group of HIV/AIDS. This group needs Voluntary Counseling and Testing (VCT). Preliminary study in November 2011 in Argorejo resocialization Semarang showed willingness of customers to undertake VCT was very lack (just  4.5 % were willing). Research problem was how participation Argorejo resocialization customers in VCT. The research purpose was to determine the FSW customer participation in VCT. Survey research method used with cross sectional approach to 93 Argorejo Localization customers in Semarang. Variables include the perception of vulnerability research, perception of HIV/AIDS severity, perception of VCT benefits, VCT obstacle perception, motivation/cue VCT, and VCT practices. The results showed socialization Argorejo customer participation in VCT was low at 60.2% (56 people). Conclusion, FSW customer participation in VCT was very low
KONSUMSI PEPAYA (CARICA PAPAYA) DALAM MENURUNKAN DEBRIS INDEX Cahyati, Widya Hary
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v8i2.2636

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh konsumsi pepaya (Carica papaya) dalam menurunkan debris index pada anak sekolah dasar. Tujuan penelitian adalah ingin mengetahui pengaruh konsumsi pepaya (Carica papaya) dalam menurunkan  debris index pada anak sekolah dasar. Metode penelitian adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan pendekatan pre dan post test. Populasi adalah siswa kelas IV SDN Gayamsari 05 Kota Semarang. Sampel merupakan seluruh siswa kelas IV yaitu menggunakan total sampling sebesar 43 siswa. Instrumen yang digunakan adalah biskuit manis, buah pepaya, timbangan makanan, kartu indeks, kapas dan alkohol, kaca mulut, sonde, dan disclosing solution. Data dianalisis dengan uji t tidak berpasangan dengan uji alternatif adalah uji Mann Whitney dengan derajat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan dapat disimpulkan bahwa ada beda debris index sebelum dan sesudah mengkonsumsi pepaya (p value=0,0001). Simpulan penelitian adalah konsumsi papaya efektif menurunkan debris index. The research problem was how the papaya (Carica papaya) consumption in reducing debris index in elementary school children. The purpose of this study was to determine the effect of papaya (Carica papaya) consumption in reducing debris index in elementary school children. Population was fourth grade students of SDN 05 Gayamsari Semarang. The sample was fourth grade students by total sampling, equal to 43 students. The instrument used sweet biscuits, papaya fruit, food scale, index cards, cotton, alcohol, mirror mouth, sonde, and disclosing solution. Data analyzed by unpaired t test with the alternative test was the Mann Whitney test with a significance level of 0.05. The results showed there was difference of debris index before and after consuming papaya (p value=0.0001). Conclusion, papaya consumption was effective to reduce debris index.
KETERSEDIAAN SARANA SANITASI DASAR, PERSONAL HYGIENE IBU DAN KEJADIAN DIARE Mafazah, Lailatul
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v8i2.2819

Abstract

Diare merupakan penyakit menular yang penting karena merupakan penyumbang utama ketiga angka kesakitan dan kematian anak di berbagai negara termasuk Indonesia.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara ketersediaan sarana sanitasi dasar lingkungan dan personal hygiene ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pemalang tahun 2012. Jenis penelitian ini yaitu explanatory research dengan metode survey dan rancangan penelitian cross sectional dengan jumlah populasi seluruh balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo pada tahun 2012 yaitu sebanyak 3.789 balita. Sampel berjumlah 95 balita. Instrumen yang digunakan adalah check list dan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (menggunakan uji chi square dengan α=0,05). Hasil dari penelitian ini, variabel yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pemalang adalah ketersediaan sarana air bersih (p=0,001), ketersediaan sarana pembuangan tinja (p=0,002), ketersediaan sarana tempat pembuangan sampah (p=0,001), ketersediaan sarana pembuangan air limbah (p=0,001) dan personal hygiene ibu (p=0,001). Diarrhoea is an important infectious disease because there are assist third main of mortility and morbidity of children in almost country belong Indonesia. Annualy, diarrhoea disease attack 59 million Indonesian people and 2/3 of them are children under five years old throught 600.000 people was offers. The aim of the study was to find correlations between mother’s knowledge grade and availability of environmental sanitation with diarrhoea cases on children at Puskesmas Purwoharjo  District of Pemalang in 2012. This study was explanatory research, which used survey method and cross sectional study. The population is all of children at Puskesmas Purwoharjo areas in 2012 there are 3.789. The sample are 95 of children under 5 years old. The instrument of the study were using check list and questionnaire. Data were analyzed univariate and bivariate  (using chi square test with α=0,05). The conclusion of this study were there variables were correlated with diarrhoea cases of children including source of clean water (p=0,001), medium of faeces dismissal (p=0,002), rubbish treatment (p=0,001), waste water disposal (p=0,001), the mother’s hygiene grade (p=0,001).
PENGEMBANGAN MODEL INDEKS PEMBANGUNAN GIZI Budiono, Irwan
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v8i2.2641

Abstract

Kemajuan pembangunan gizi dapat diukur dengan Indeks Pembangunan Gizi (IPG). Perlu pengembangan instrumen IPG untuk menilai dan memetakan kemajuan pembangunan gizi yang dicapai oleh kabupaten atau kota. Masalah penelitian adalah bagaimana pengembangan model indeks pembangunan gizi. Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan  model indeks pembangunan gizi. Metode penelitian survei dilakukan di kota dan Kabupaten Semarang. Pengkajian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan melalui FGD, serta eksplorasi pendapat pakar untuk pengembangan instrumen. Penelitian kuantitatif untuk mengkontruksi instrumen dan pengukuran IPG. Hasil penelitian menunjukkan IPG terdiri dari 4 dimensi utama yaitu status gizi, konsumsi energi dan zat gizi, keamanan pangan, serta gaya hidup. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata IPG Kota Semarang sebesar 0,701 (kategori sedang), dengan rata-rata tiap dimensi adalah : status gizi 0,947 (baik), konsumsi energi dan zat gizi 0,458 (kurang), keamanan pangan 0,729 (sedang), gaya hidup 0,672 (sedang). Rata-rata IPG Kabupaten Semarang sebesar 0,652 (sedang), dengan rata-rata tiap dimensi adalah : status gizi 0,979 (baik), konsumsi energi dan zat gizi 0,474 (kurang), keamanan pangan 0,833 (baik), gaya hidup 0,322 (kurang). Simpulan penelitian menunjukkan rendahnya indeks dimensi gaya hidup (khususnya di Kabupaten Semarang) sehingga perlunya Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) gizi lebih intensif. Nutritional development progress can be measured by Nutrition Development Index (NDI). It is necessary for NDI development to assess and mapping the nutritional development progress achieved by a county. Research problem was how develop the nutrition development index nutrition development index model. Research purpose was to develop the nutrition development index nutrition development index model in Semarang districts Assessment used qualitative and quantitative approaches. Qualitative research was used by focus group discussions (FGD) and expert opinion exploration to develop the instrument. Quantitative research was used to construct instruments, and NDI measurement. The results showed four main dimensions of IPG were nutritional status, energy and nutrients consumption, food safety, and lifestyle. The results showed an average of IPG of Semarang city was 0.701 (medium category). The average of each dimension: 0.947 nutritional status (good), the consumption of energy and nutrients 0,458 (approximately), food safety 0.729 (medium), 0.672 lifestyle (moderate). The average of IPG Semarang District was 0.652 (medium). The average of each dimension was 0.979 nutritional status (good), the consumption of energy and nutrients 0.474 (approximately), 0,833 food safety (good), lifestyle 0.322 (approximately). Conclusion, index lifestyle dimensional was low (especially in Semarang District), so need Information, Education, and Communication (IEC) about nutrition more intensive.

Filter by Year

2013 2013