cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 18581196     EISSN : 23553596     DOI : -
Core Subject : Health,
KEMAS Journal: Research Study in Public Health publishes the article based on research or equivalent to research results in public health or other disciplines related to public health that has not been loaded/published by other media. The journal contains articles about epidemiology and biostatistics, health policy and administration, public health nutrition, environmental health, occupational health and safety, health promotion, reproductive health, maternal and child health, and other related articles in public health. The journal can be used by health practitioners, health caregivers, teachers, medical students, and people who are interested in public health issues. The journal was first published in July 2005 and subsequently published twice a year, in July and January. KEMAS Journal is a peer review journal and can be accessed in http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas. Semarang State University (Unnes) is a leading university in Indonesia with the vision to become a world-class conservation university. The conservation vision is closely related to the study of public health sciences. Unnes also published high quality e-journal from various disciplines, integrated, and managed through Open Access Journals that can be accessed in http://journal.unnes.ac.id. The IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia/The Association of Indonesian Public Health Expert) is a non-profit membership association dedicated to advance public health as a scientific discipline and profession that serves public good for Indonesia and humanity.
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2013)" : 42 Documents clear
PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS PADAT PADA PUSKESMAS KABUPATEN PATI Pratiwi, Dyah; Maharani, Chatila
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2833

Abstract

Puskesmas merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan yang menghasilkan limbahmedis padat. Puskesmas di Kabupaten Pati telah memiliki incinerator untuk mengelolalimbah medis padat. Masalah penelitian adalah bagaimana proses pengelolaan limbahmedis padat di Puskesmas Kabupaten Pati dan apakah sudah sesuai dengan KepmenkesNo.1428/Menkes/SK/XII/2006. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana prosespengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Kabupaten Pati. Metode penelitiandeskriptif dengan rancangan studi kasus di 3 Puskesmas, yaitu Puskesmas A, B, dan C.Instrumen penelitian menggunakan pedoman wawancara,alat perekam gambar, dan alatperekam suara. Hasil penelitian menunjukkan proses pengelolaan limbah medis padatpada puskesmas yang seharusnya menggunakan incinerator, belum semua puskesmasmelakukannya. Puskesmas A melakukan penanganan akhir limbah medis padatmenggunakan incinerator, Puskesmas B dengan pembakaran biasa, dan PuskesmasC dengan melakukan pembakaran di dalam tong berdiameter 40 cm tanpa tidakmenggunakan incinerator. Simpulan penelitian, pengelolaan limbah medis padat padaPuskesmas Kabupaten Pati belum sesuai dengan ketentuan dalam pengelolaan limbahmedis menurut Kepmenkes No 1428/MENKES/SK/XII/2006. Public Health Center is one of the health care unit that produces solid medical waste.Public Health Centers in Pati have incinerator to manage solid medical waste. Researchproblem was how to process solid medical waste in health centers Pati and whether it is inaccordance with Kepmenkes No.1428/Menkes/SK/XII/2006. Research purpose to determinethe process of solid medical waste management in health centers Pati. Descriptive researchmethods by case study in 3 health centers, namely A , B , and C. Research instrument wereinterview guides, image recording, and voice recorder. Th e results showed solid medicalwaste management processes in health centers should use the incinerator, but not all healthcenters did it. Health center A handling solid medical waste by incinerators, Health centerB by usual burning, and Health Center C burning in the barrel with diameter of 40 cmwithout incinerator. Th e conclusions, medical management of solid medical waste in healthcenter Pati not accordance with the provision of management medical waste according toKepmenkes No. 1428/MENKES/SK/XII/2006.
MASA KERJA DAN SIKAP KERJA DUDUK TERHADAP NYERI PUNGGUNG Koesyanto, Herry
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2824

Abstract

Angka prevalensi kejadian nyeri punggung yaitu 7,6% sampai 37% per tahun, masalahnyeri punggung pada pekerja umumnya dimulai pada usia dewasa muda dengan puncakprevalensi kelompok usia 25-60 tahun. Masalah penelitian adalah bagaimana hubunganmasa kerja dan sikap kerja duduk terhadap nyeri punggung pekerja tenun sarung di DesaWanarejan Utara Pemalang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubunganmasa kerja dan sikap kerja duduk terhadap nyeri punggung. Metode penelitian crosssectional. Populasi penelitian adalah pekerja tenun sarung berjumlah 92 pekerja dansampel berjumlah 46 pekerja. Instrumen penelitian yang digunakan kuesioner, lembarpenilaian REBA, dan meteran gulung. Hasil penelitian menunjukkan hubungan tiapvariabel bebas dengan nyeri punggung sebagai berikut: (1) usia (p=0,04; OR=4,583); (2)masa kerja (p=0,02; OR=5); dan (3) sikap kerja duduk (p=0,43). Simpulan penelitian,nyeri punggung berhubungan dengan usia, masa kerja, dan sikap kerja.Incidence of back pain prevalence rate of 7.6% to 37% every year, the problem of backpain in workers generally begins in young adulthood with a peak prevalence age group25-60 years old. Research problem was how relationships work period and sitting positiontowards back pain in workers woven sarong in North Wanarejan village, Pemalang. Research purpose was to determine the relationship of work period and sitting positiontowards back pain. Cross-sectional research method. Population study were woven sarongworkers amounts 92 workers and samples were 46 workers. Research instrument usedquestionnaires, REBA assessment sheets, and roll meter. Th e results showed the relationshipof each independent variables with back pain as follow : (1) age (p=0.04; OR=4.583), (2)working period (p=0.02; OR=5), and (3) sitting position (p=0.43). Th e conclusion, backpain associated with age, working period, and work position.
PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWA Irmawaty, Lenny
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2829

Abstract

Meningkatnya perilaku seksual pranikah berdampak pada kehamilan di luar nikah. Masalahpenelitian adalah faktor apakah yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikahmahasiswa siswa di STIKes Medistra Indonesia Jakarta pada tahun 2011. Tujuan penelitianuntuk melihat pengaruh faktor predisposisi (karakter, konsep diri, pengetahuan, sikap, danreligiusitas), faktor reinforcing (peran teman sebaya, peran keluarga dan sikap PA dalamsiswa mentoring pribadi tentang kesehatan reproduksi remaja) dan faktor pemungkin(tinggal siswa) perilaku seksual pranikah mahasiswa. Metode penelitian kuantitatif dengandesain cross sectional. Subyek penelitian adalah siswa berusia ≤ 24 tahun dan belum menikahdi STIKes Medistra Indonesia Jakarta pada tahun 2011, berjumlah 582 responden. Tekniktotal sampling menggunakan analisis korelasi dan regresi dengan α = 0,05. Hasil penelitianmenunjukkan ada tiga variabel dalam faktor predisposisi memiliki pengaruh yang signifi kanterhadap perilaku seksual pranikah siswa yaitu karakter, konsep diri dan sikap. Kekuatankarakter 2%, konsep diri 2%, dan sikap 15% terhadap perilaku seksual pranikah siswa.Simpulan penelitian, faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah siswa di STIKesMedistra Indonesia termasuk karakter, konsep diri dan sikap. The increasing premarital sexual behavior impact on pregnancy outside marriage. Researchproblem was whether factors associated with premarital sexual behavior of college studentsSTIKes Medistra Indonesian in Jakarta in 2011. Research purpose to know the eff ect ofpredisposing factors (personality, self-concept, knowledge, attitudes, and religiosity), reinforcingfactors (the role of peers, family roles, and attitudes of students’ teacher to personal mentoringon adolescent reproductive health) and enabling factors (student residence) behavior premaritalsexual students. Quantitative research methods with cross sectional design. Subjects were studentsaged ≤ 24 years old and not married in STIKes Medistra Indonesia Jakarta in 2011, totaling 582respondents. Total sampling technique using correlation and regression analysis with α=0.05.Th e results showed there were three variables in predisposing factors have a signifi cant infl uenceon premarital sexual behavior of students that character, self-concept, and attitude. 2% strengthcharacter, 2% self-concept, and 15% attitude toward students premarital sexual behavior. Th econclusions, the factors aff ecting premarital sexual behavior of students were character, selfconcept,and attitude.
DETERMINASI PENYAKIT TUBERKULOSIS DI DAERAH PEDESAAN Suharyo, Suharyo
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2834

Abstract

Menurut laporan WHO tahun 2013, prevalensi TB di Indonesia menempati urutanketiga setelah India dan China yaitu hampir 700 ribu kasus, angka kematian masihtetap 27/100 ribu penduduk. Karakteristik wilayah pedesaan menjadi determinantersendiri pada kejadian penyakit TB. Masalah penelitian,adalah bagaimana faktordeterminan TB pada penduduk di pedesaan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikanfaktor determinan TB pada penduduk di pedesaan. Metode penelitian kualitatifmelalui wawancara mendalam dan dilakukan analisis deskripsi isi. Hasil penelitianmenunjukkan sebagian besar penderita TB paru berpendidikan menengah, dalam masausia produktif, dan dalam kategori kurang mampu dari sisi ekonomi. Tempat tinggalsebagian besar penderita TB paru belum memenuhi kriteria rumah sehat baik dari sisikepadatan hunian, pencahayaan, ventilasi, dan kelembaban. Hampir semua penderitaTB paru mempunyai pengetahuan cukup baik, namun masih ada sebagian yang masihberperilaku buruk, yaitu tidak menutup mulut saat batuk. Peran tokoh masyarakat dipedesaan belum menunjang program pencegahan dan penanggulangan penyakit TBparu. Peran petugas kesehatan (koordinator TB paru) masih terbatas melaksanakanpengobatan, penyuluhan, dan belum melaksanakan pencarian kasus baru secara aktif.Simpulan penelitian, factor yang menjadi determinan penyakit TB di daerah pedesaanadalah pengetahuan, pendidikan, dan kondisi rumah. According to WHO report in 2013, the prevalence of TB in Indonesia ranks third aft er Indiaand China was nearly 700 thousand cases, the mortality rate was still 27/100 thousandsinhabitants. Characteristics of rural areas as determinant on TB incidence. Researchproblem was how the determinant factors of TB in rural areas. Research purpose to describethe determinant factors of TB in rural areas. Qualitative research method through indepthinterview and analysis content description. Th e results showed the majority of patients withpulmonary tuberculosis have secondary education, in the productive age period, and in lesscategory of economic. Most TB patients have not healthy home, both in residential density,lighting, ventilation, and humidity. Almost all patients with pulmonary tuberculosis havepretty good knowledge, but some of them have bad behaviour, which does not cover themouth when coughing. Th e role of leaders in rural communities not yet support to pulmonaryTB prevent and control programs. Th e role of health workers (coordinator of pulmonaryTB) was still limited for treatment, counseling, and did not make an active search of newcases. Th e conclusions, determinant factors of TB in rural areas were knowledge, education,and house conditions.
PERILAKU PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DI MASYARAKAT Nuryanti, Erni
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2825

Abstract

Data penyakit demam berdarah tahun 2006-2009 menunjukkan bahwa Desa Karangjati,Kabupaten Blora setiap tahun terdapat penderita penyakit demam berdarah. Masalahpenelitian adalah faktor apa sajakah yang mempengaruhi perilaku pemberantasansarang nyamuk Masyarakat Desa karangjati Kabupaten Blora. Tujuan penelitianuntuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perilaku pemberantasan sarang nyamukMasyarakat. Metode penelitian explanatory research, dengan metode penelitian surveimenggunakan pendekatan cross sectional. Responden dipilih secara random. Datadiperoleh dengan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat, bivariat,dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang terbukti berhubungandengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue adalahpengetahuan, sikap, ketersediaan informasi, dan peran petugas kesehatan. Variabel yangtidak terbukti berhubungan dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk demamberdarah dengue adalah umur, pendidikan, jenis kelamin dan pendapatan. Simpulanpenelitian, pengetahuan, sikap, ketersediaan informasi, dan peran petugas kesehatanberpengaruh terhadap perilaku pemberantasan sarang nyamuk demam berdarahdengue di masyarakat. Data dengue fever in 2006-2009 showed that the Karangjati village, Blora every year therewere people with dengue fever. Research problem was what factors that infl uence the behaviorof the mosquito breeding eradication in Karangjati Village Blora community. Researchpurpose was to determine factors that infl uence the behavior of mosquito breeding eradicationcommunity. Explanatory research method by cross sectional survey. Respondents wereselected by random. Data obtained using questionnaire and analyzed by univariate, bivariate,and multivariate. Th e results showed that variables associated with dengue hemorrhagicfever mosquito breeding eradication behavior were knowledge, attitude, availabilityof information, and the role of health workers. Variables that no associated with denguehemorrhagic fever mosquito breeding eradication behavior were age, education, gender,and income. Th e conclusions, knowledge, attitudes, availability of information, and the roleof health workers associated with dengue hemorrhagic fever mosquito breeding eradicationbehavior.
KEBIASAAN MAKAN PAGI, LAMA TIDUR DAN KELELAHAN KERJA (FATIGUE) PADA DOSEN Yogisutanti, Gurdani; Kusnanto, Hari; Setyawati, Lientje; Otsuka, Yasumasa
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2830

Abstract

Latar belakang. Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang sehat, yang dapat dikurangidengan istirahat maupun tidur. Kurang tidur (sleepiness) telah menjadi fokus masalah dalam isukesehatan kerja. Namun, penelitian kelelahan kerja pada dosen masih sangat terbatas dan belummenjadi perhatian. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan pagi, lamawaktu tidur dengan kelelahan kerja. Metode. Desain cross sectional digunakan dalam penelitian dansebanyak 77 partisipan berasal dari 2 sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Makanpagi dan lama waktu tidur per hari (variabel bebas) diukur menggunakan kuesioner. Kelelahankerja (variabel terikat) diukur menggunakan reaction timer yang dilakukan selama 3 hari dalam 1minggu. Kelelahan kerja merupakan rerata waktu reaksi dari hasil pengukuran. Hasil. Rerata waktutidur 6,12±0,670 jam, sebanyak 52(67,5%) dosen mempunyai kebiasaan makan pagi. Rerata waktureaksi 233,83±46,64 milidetik. Hasil uji statistik menggunakan uji korelasi didapatkan tingkatkelelahan berkorelasi negatif dengan kebiasaan makan pagi (p=0,000; r=-0,472) dan waktu tidur(p=0.000; r=-0,459). Kesimpulan. Kelelahan kerja dosen disebabkan kurang tidur dan intake kaloriyang dibutuhkan untuk beraktivitas. Untuk mengatasi kelelahan kerja perlu peningkatan kesadarandan pengetahuan dosen tentang keselamatan dan kesehatan kerja terutama kebiasaan makan danwaktu istirahat yang baik dan sehat agar menjadi budaya kerja. Background. In a healthy person fatigue is a normal phenomenon, experienced by everyone andusually easily relieved by rest or sleep. Increased sleepiness at work is now increasingly being focusedon a safety health issue. However, research on university teacher’s fatigue is very limited and has notbeen fully addressed. Objective. Th e Objective of this study was to clarify the relationship betweensleeping duration, breakfast habits and fatigue in university teacher. Method. Cross-sectional surveywas used and 77 participants were given a questionnaire about sleeping duration, breakfast habits andfatigue symptoms. Fatigue level was measured with reaction timer in the morning when they arrivedat the workplace and before they left the workplace. Correlation analyses were used to identify therelationship between independents and dependent variables. Result. Average hour of sleep was 6.12hours per night (SD=0.67) and 67.5% participants were not having breakfast. Level of fatigue in themorning was mostly in light fatigue level (259.68±49.16 mms), which was signifi cantly correlated withsleep duration (r=0.459; p=0.000), which was signifi cantly correlated with breakfast habits (r=-0.472;p=0.000). Conclusion. Fatigue level was associated with sleep deprivation and low intake calories frombreakfast. University teachers may suff er from fatigue at their beginning of work because of the lack ofsleep duration, while in the evening, fatigue became higher because of the lack energy from breakfast.To manage the fatigue level for university teachers should be considered to improve university teacher’sknowledge about sleep and breakfast and have enough time to sleep and breakfast before working.
KUALITAS SUMBER AIR MINUM DAN PEMANFAATAN JAMBAN KELUARGA DENGAN KEJADIAN DIARE Wandansari, Arry Pamusthi
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2826

Abstract

Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakitpotensial KLB yang sering disertai dengan kematian. Pada tahun 2012 sampai bulanApril dijumpai 148 kasus diare dan 35 di antaranya berasal dari Desa Karangmangu.Masalah penelitian adalah bagaimana hubungan antara kualitas sumber air minum danpemanfaatan jamban keluarga dengan kejadian diare di Desa Karangmangu KecamatanSarang Kabupaten Rembang. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antarakualitas sumber air minum dan pemanfaatan jamban keluarga dengan kejadian diare.Metode penelitian explanatory research dengan pendekatan secara cross sectional.Populasi adalah penduduk Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang.Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, sejumlah 45 KK.Analisis data dengan uji chi square atau uji fi sher sebagai alternatifnya. Hasil penelitianmenunjukkan ada hubungan antara kualitas sumber air minum (p = 0,008) danpemanfaatan jamban keluarga (p = 0,005) dengan kejadian diare. Simpulan penelitian,ada hubungan antara kualitas sumber air minum dan pemanfaatan jamban keluargadengan kejadian diare.Diarrhea is an endemic disease in Indonesia and a potential outbreak disease are oft encause death. In 2012 until April found 148 diarrhea cases and 35 of them came from Karangmanguvillage. Research problem was how the relationship between quality of drinkingwater sources and utilization of family latrines with diarrhea incidence in Karangmanguvillage, Sarang District, Rembang. Research purpose was to determine the relationshipbetween the quality of drinking water sources and utilization of family latrines with diarrheaincidence. Explanatory research method with cross sectional approach. Th e populationis Karangmangu village community, Sarang district, Rembang. Sampling using purposivesampling, amounts 45 families. Data analysis by chi-square test or Fisher test as an alternative.Th e results showed no relationship between the quality of drinking water sources(p=0.008) and family latrine use (p=0.005) to diarrhea incidence. Th e conclusions, therewas a relationship between the quality of drinking water sources and utilization of familylatrines with diarrhea incidence.
SARUNG TANGAN LATEX SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DERMATITIS KONTAK Ningtiyas, Ardhinka Fitri
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2835

Abstract

Berdasarkan survei pendahuluan di CV. Yuasa Food Wonosobo, ditemukan 3 dari 7pekerja pengupas Karika Dieng merasakan gatal dibagian pergelangan tangan dan sekitarkuku walaupun memakai sarung tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikemampuan sarung tangan latex untuk mencegah dermatitis kontak pada pekerja bagianpengupasan Karika Dieng di CV. Yuasa Food Wonosobo. Jenis penelitian ini adalaheksperimen semu dengan pendekatan Pre-test Post-test Control Group Design yangdilakukan pada tahun 2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling.Populasi dalam penelitian ini adalah 30 pekerja, sedangkan sampel dalam penelitian iniberjumlah 8 pekerja. Hasil uji wilcoxon diperoleh hasil signifi kansi 1,000 berarti tidakterdapat perbedaan yang bermakna antara hasil pre-test dan post-test. Berdasarkan hasilpenelitian dapat disimpulkan bahwa sarung tangan latex dapat digunakan sebagai upayapencegahan dermatitis kontak pada pekerja bagian pengupasan Karika Dieng di CV.Yuasa Food Wonosobo. Based on a pre-study in CV. Yuasa Food Wonosobo, there were 3 from 7 workers who peelKarika Dieng felt itchy in their wrist and around the nails even wore gloves. Th e purposeof the study was to fi nd out the ability latex gloves for preventing the contact dermatitis inworkers parer Karika Dieng in CV. Yuasa Food Wonosobo. Th e study was quasi experimentwith approaches pre-test post-test control group design conducted in 2012. Sampling wasconducted with a random sampling. Population in this study were 30 workers, the sampleswere 8 workers. Wilcoxon test result obtained 1,000 signifi cant results that means therewas no signifi cant diff erences in value between pretest and posttest. Based on the result ofthis study concluded that the latex gloves can be used for preventing dermatitis contact inworkers who peel Karika Dieng in CV. Yuasa Food Wonosobo.
KEBIASAAN MAKAN PAGI, LAMA TIDUR DAN KELELAHAN KERJA (FATIGUE) PADA DOSEN
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2830

Abstract

Latar belakang. Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang sehat, yang dapat dikurangidengan istirahat maupun tidur. Kurang tidur (sleepiness) telah menjadi fokus masalah dalam isukesehatan kerja. Namun, penelitian kelelahan kerja pada dosen masih sangat terbatas dan belummenjadi perhatian. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan pagi, lamawaktu tidur dengan kelelahan kerja. Metode. Desain cross sectional digunakan dalam penelitian dansebanyak 77 partisipan berasal dari 2 sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Makanpagi dan lama waktu tidur per hari (variabel bebas) diukur menggunakan kuesioner. Kelelahankerja (variabel terikat) diukur menggunakan reaction timer yang dilakukan selama 3 hari dalam 1minggu. Kelelahan kerja merupakan rerata waktu reaksi dari hasil pengukuran. Hasil. Rerata waktutidur 6,12±0,670 jam, sebanyak 52(67,5%) dosen mempunyai kebiasaan makan pagi. Rerata waktureaksi 233,83±46,64 milidetik. Hasil uji statistik menggunakan uji korelasi didapatkan tingkatkelelahan berkorelasi negatif dengan kebiasaan makan pagi (p=0,000; r=-0,472) dan waktu tidur(p=0.000; r=-0,459). Kesimpulan. Kelelahan kerja dosen disebabkan kurang tidur dan intake kaloriyang dibutuhkan untuk beraktivitas. Untuk mengatasi kelelahan kerja perlu peningkatan kesadarandan pengetahuan dosen tentang keselamatan dan kesehatan kerja terutama kebiasaan makan danwaktu istirahat yang baik dan sehat agar menjadi budaya kerja. Background. In a healthy person fatigue is a normal phenomenon, experienced by everyone andusually easily relieved by rest or sleep. Increased sleepiness at work is now increasingly being focusedon a safety health issue. However, research on university teacher’s fatigue is very limited and has notbeen fully addressed. Objective. Th e Objective of this study was to clarify the relationship betweensleeping duration, breakfast habits and fatigue in university teacher. Method. Cross-sectional surveywas used and 77 participants were given a questionnaire about sleeping duration, breakfast habits andfatigue symptoms. Fatigue level was measured with reaction timer in the morning when they arrivedat the workplace and before they left the workplace. Correlation analyses were used to identify therelationship between independents and dependent variables. Result. Average hour of sleep was 6.12hours per night (SD=0.67) and 67.5% participants were not having breakfast. Level of fatigue in themorning was mostly in light fatigue level (259.68±49.16 mms), which was signifi cantly correlated withsleep duration (r=0.459; p=0.000), which was signifi cantly correlated with breakfast habits (r=-0.472;p=0.000). Conclusion. Fatigue level was associated with sleep deprivation and low intake calories frombreakfast. University teachers may suff er from fatigue at their beginning of work because of the lack ofsleep duration, while in the evening, fatigue became higher because of the lack energy from breakfast.To manage the fatigue level for university teachers should be considered to improve university teacher’sknowledge about sleep and breakfast and have enough time to sleep and breakfast before working.
SARUNG TANGAN LATEX SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DERMATITIS KONTAK
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i1.2835

Abstract

Berdasarkan survei pendahuluan di CV. Yuasa Food Wonosobo, ditemukan 3 dari 7pekerja pengupas Karika Dieng merasakan gatal dibagian pergelangan tangan dan sekitarkuku walaupun memakai sarung tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikemampuan sarung tangan latex untuk mencegah dermatitis kontak pada pekerja bagianpengupasan Karika Dieng di CV. Yuasa Food Wonosobo. Jenis penelitian ini adalaheksperimen semu dengan pendekatan Pre-test Post-test Control Group Design yangdilakukan pada tahun 2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling.Populasi dalam penelitian ini adalah 30 pekerja, sedangkan sampel dalam penelitian iniberjumlah 8 pekerja. Hasil uji wilcoxon diperoleh hasil signifi kansi 1,000 berarti tidakterdapat perbedaan yang bermakna antara hasil pre-test dan post-test. Berdasarkan hasilpenelitian dapat disimpulkan bahwa sarung tangan latex dapat digunakan sebagai upayapencegahan dermatitis kontak pada pekerja bagian pengupasan Karika Dieng di CV.Yuasa Food Wonosobo. Based on a pre-study in CV. Yuasa Food Wonosobo, there were 3 from 7 workers who peelKarika Dieng felt itchy in their wrist and around the nails even wore gloves. Th e purposeof the study was to fi nd out the ability latex gloves for preventing the contact dermatitis inworkers parer Karika Dieng in CV. Yuasa Food Wonosobo. Th e study was quasi experimentwith approaches pre-test post-test control group design conducted in 2012. Sampling wasconducted with a random sampling. Population in this study were 30 workers, the sampleswere 8 workers. Wilcoxon test result obtained 1,000 signifi cant results that means therewas no signifi cant diff erences in value between pretest and posttest. Based on the result ofthis study concluded that the latex gloves can be used for preventing dermatitis contact inworkers who peel Karika Dieng in CV. Yuasa Food Wonosobo.

Filter by Year

2013 2013