cover
Contact Name
-
Contact Email
mipa.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mipa.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Mathematics and Natural Sciences, D12 Building 1st Floor, Universitas Negeri Semarang, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Indonesia 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences
ISSN : 02159945     EISSN : 27747832     DOI : https://doi.org/10.15294/ijmns
Core Subject : Education,
The scope of the journal includes the following areas of research: Natural Sciences, Mathematics, and Applied Sciences
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 2 (2014): October 2014" : 36 Documents clear
TRANSFER PANAS LUBANG HITAM SCHWARZSCHILD Tiandho, Y; -, Triyanta
Jurnal MIPA Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Jurnal MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mekanika kuantum menunjukkan bahwa lubang hitam memiliki temperatur sebagai indikasi dapat mengemisikan partikel. Persamaan transfer panas secara general mengandung operator Laplacian yang sifatnya dipengaruhi oleh ruang. Kelengkungan ruang-waktu di daerah sekitar lubang hitam sangat besar sehingga operator Laplacian untuk menghitung distribusi temperaturnya merupakan Laplacian ruang lengkung. Persamaan Fourier untuk lubang hitam Schwarzschild bergantung pada jarak dan radius Schwarzschild. Pada keadaan tunak solusi dari komponen radius mengandung polinomial Legendre dan solusi dari komponen sudut ruang mengadung fungsi spherical harmonics. Untuk kasus dengan persamaan diferensial terhadap waktu bernilai konstan solusi menyimpulkan bahwa temperatur bertambah seiring waktu. Hasil yang telah didapatkan secara umum dapat digunakan untuk menentukan distribusi temperatur pada ruang lengkung akibat suatu objek bermassa M. Koreksi ini sekaligus menggambarkan peristiwa transfer panas dalam konteks relativitas umum.Quantum mechanics show that black hole has temperature that indicated that black hole can emit particles.<0} {0>Persamaan transfer panas secara general mengandung operator Laplacian yang sifatnya dipengaruhi oleh ruang.<}0{>Generally the heat transfer equation contains Laplacian operators that is influenced by space.<0} {0>Kelengkungan ruang-waktu di daerah sekitar lubang hitam sangat besar sehingga operator Laplacian untuk menghitung distribusi temperaturnya merupakan Laplacian ruang lengkung.<}0{>The space-time arch in the surrounding of black hole is very big so that Laplacian operators to calculate the temperature distribution is the arch space Laplacian.<0} {0>Persamaan Fourier untuk lubang hitam Schwarzschild bergantung pada jarak dan radius Schwarzschild.<}0{>Fourier equation for Schwarzschild black hole is depended on the distance and radius of Schwarzschild.<0} {0>Pada keadaan tunak solusi dari komponen radius mengandung polinomial Legendre dan solusi dari komponen sudut ruang mengadung fungsi spherical harmonics.<}0{>At ateady state the dolution od radius component containing Legendre polynomial and the solution of component corner containing spherical harmonics function.<0} {0>Untuk kasus dengan persamaan diferensial terhadap waktu bernilai konstan solusi menyimpulkan bahwa temperatur bertambah seiring waktu.<}0{>For the case with differential equationon the constant time, the solution is that temperature will increase over time.<0} {0>Hasil yang telah didapatkan secara umum dapat digunakan untuk menentukan distribusi temperatur pada ruang lengkung akibat suatu objek bermassa M. Koreksi ini sekaligus menggambarkan peristiwa transfer panas dalam konteks relativitas umum.<}0{>The result can generally be used to determine the distribution of temperature in the arch space due to mass object M. This correction can at once reflects the heat transfer phenomenon in context of general relativity.
ASETILASI PADA FENOL DAN ANISOL MENGGUNAKAN ANHIDRIDA ASAM ASETAT BERKATALIS Zr4+-ZEOLIT BETA Retnoningrum, DA; Cahyono, E; Kusuma, E
Jurnal MIPA Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Jurnal MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zeolit beta pada umumnya memiliki keasaman tinggi dan berpotensi aktif sebagai katalis heterogen dalam asilasi Friedel-Crafts senyawa aromatik. Untuk meningkatkan stabilitas dan selektivitasnya, zeolit beta perlu diaktivasi dan dimodifikasi terlebih dahulu dengan mengembankan logam aktif zirkonium dengan metode pertukaran ion. Karakterisasi katalis meliputi analisis kristalinitas katalis dengan XRD, sifat permukaan katalis dengan Surface Area Analyzer dan uji keasaman dengan pengadsorbsi piridin. Dalam penelitian ini, dipelajari aktivitas dan selektivitas katalis Zr4+-zeolit beta dalam reaksi asetilasi fenol dan anisol. Reaksi dilakukan pada berbagai variasi suhu yaitu 100 dan 130C dengan waktu reaksi yaitu pada jam ke 4, 8 dan 12. Hasil asetilasi kemudian dianalisis menggunakan GC, FTIR dan analisis produk menggunakan GC-MS. Asetilasi fenol dengan katalis Zr4+-zeolit beta menghasilkan produk fenil etanoat dengan kadar 95,87% dan selektivitas 100%. Hasil ini didapatkan pada suhu reaksi 130C dan waktu reaksi 8 jam. Asetilasi pada cincin benzena baik pada fenol maupun anisol tidak terjadi, hal ini karena asetilasi pada cincin benzena lebih sukar dibandingkan asetilasi pada gugus OH fenol. Perlu adanya kondisi lain untuk melakukan asetilasi pada cincin benzena. Asetilasi anisol pada waktu reaksi 24 jam dan temperatur 130C didapatkan produk dengan kadar 74%.Beta zeolite generally has a high acidity and potentially active as heterogeneous catalyst in the Friedel-Crafts acylation of aromatic compounds. To improve its stability and selectivity, beta zeolite needs to be activated and modified in advance with zirconium to elicit active metal using ion exchange method. Characterization of catalyst include catalyst’s crystallinity using XRD analysis, the nature of the catalyst surface with the Surface Area Analyzer and the acidity test using pyridine adsorption. In the current study the activity and the selectivity of catalyst Zr4+-beta zeolite was studied in the acetylation reaction of phenol and anisole. Reaction was carried out at various temperatures, i.e. 100 and 130C with the reaction time at 4th, 8th and 12th hours. Acetylation results were then analyzed using GC, FTIR and product analysis using GC-MS. Acetylation of phenol with catalyst Zr4+- beta zeolite produced phenyl ethanoate at level of 95.87% and selectivity 100%. These results were obtained at a reaction temperature of 130C and the reaction time of 8 hours. Acetylation at both the benzene ring of phenol and anisole did not occur, it is because acetylation at the benzene ring was more difficult than acetylation at the OH group of phenol. It needs to apply other conditions to do acetylation of benzene ring. Acetylation of anisole at 24-h reaction time and temperature of 130C resulted in product with level of 74%. 
TRANSFER PANAS LUBANG HITAM SCHWARZSCHILD Tiandho, Y; -, Triyanta
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mekanika kuantum menunjukkan bahwa lubang hitam memiliki temperatur sebagai indikasi dapat mengemisikan partikel. Persamaan transfer panas secara general mengandung operator Laplacian yang sifatnya dipengaruhi oleh ruang. Kelengkungan ruang-waktu di daerah sekitar lubang hitam sangat besar sehingga operator Laplacian untuk menghitung distribusi temperaturnya merupakan Laplacian ruang lengkung. Persamaan Fourier untuk lubang hitam Schwarzschild bergantung pada jarak dan radius Schwarzschild. Pada keadaan tunak solusi dari komponen radius mengandung polinomial Legendre dan solusi dari komponen sudut ruang mengadung fungsi spherical harmonics. Untuk kasus dengan persamaan diferensial terhadap waktu bernilai konstan solusi menyimpulkan bahwa temperatur bertambah seiring waktu. Hasil yang telah didapatkan secara umum dapat digunakan untuk menentukan distribusi temperatur pada ruang lengkung akibat suatu objek bermassa M. Koreksi ini sekaligus menggambarkan peristiwa transfer panas dalam konteks relativitas umum.Quantum mechanics show that black hole has temperature that indicated that black hole can emit particles.<0} {0>Persamaan transfer panas secara general mengandung operator Laplacian yang sifatnya dipengaruhi oleh ruang.<}0{>Generally the heat transfer equation contains Laplacian operators that is influenced by space.<0} {0>Kelengkungan ruang-waktu di daerah sekitar lubang hitam sangat besar sehingga operator Laplacian untuk menghitung distribusi temperaturnya merupakan Laplacian ruang lengkung.<}0{>The space-time arch in the surrounding of black hole is very big so that Laplacian operators to calculate the temperature distribution is the arch space Laplacian.<0} {0>Persamaan Fourier untuk lubang hitam Schwarzschild bergantung pada jarak dan radius Schwarzschild.<}0{>Fourier equation for Schwarzschild black hole is depended on the distance and radius of Schwarzschild.<0} {0>Pada keadaan tunak solusi dari komponen radius mengandung polinomial Legendre dan solusi dari komponen sudut ruang mengadung fungsi spherical harmonics.<}0{>At ateady state the dolution od radius component containing Legendre polynomial and the solution of component corner containing spherical harmonics function.<0} {0>Untuk kasus dengan persamaan diferensial terhadap waktu bernilai konstan solusi menyimpulkan bahwa temperatur bertambah seiring waktu.<}0{>For the case with differential equationon the constant time, the solution is that temperature will increase over time.<0} {0>Hasil yang telah didapatkan secara umum dapat digunakan untuk menentukan distribusi temperatur pada ruang lengkung akibat suatu objek bermassa M. Koreksi ini sekaligus menggambarkan peristiwa transfer panas dalam konteks relativitas umum.<}0{>The result can generally be used to determine the distribution of temperature in the arch space due to mass object M. This correction can at once reflects the heat transfer phenomenon in context of general relativity.
ASETILASI PADA FENOL DAN ANISOL MENGGUNAKAN ANHIDRIDA ASAM ASETAT BERKATALIS Zr4+-ZEOLIT BETA Retnoningrum, DA; Cahyono, E; Kusuma, E
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zeolit beta pada umumnya memiliki keasaman tinggi dan berpotensi aktif sebagai katalis heterogen dalam asilasi Friedel-Crafts senyawa aromatik. Untuk meningkatkan stabilitas dan selektivitasnya, zeolit beta perlu diaktivasi dan dimodifikasi terlebih dahulu dengan mengembankan logam aktif zirkonium dengan metode pertukaran ion. Karakterisasi katalis meliputi analisis kristalinitas katalis dengan XRD, sifat permukaan katalis dengan Surface Area Analyzer dan uji keasaman dengan pengadsorbsi piridin. Dalam penelitian ini, dipelajari aktivitas dan selektivitas katalis Zr4+-zeolit beta dalam reaksi asetilasi fenol dan anisol. Reaksi dilakukan pada berbagai variasi suhu yaitu 100 dan 130C dengan waktu reaksi yaitu pada jam ke 4, 8 dan 12. Hasil asetilasi kemudian dianalisis menggunakan GC, FTIR dan analisis produk menggunakan GC-MS. Asetilasi fenol dengan katalis Zr4+-zeolit beta menghasilkan produk fenil etanoat dengan kadar 95,87% dan selektivitas 100%. Hasil ini didapatkan pada suhu reaksi 130C dan waktu reaksi 8 jam. Asetilasi pada cincin benzena baik pada fenol maupun anisol tidak terjadi, hal ini karena asetilasi pada cincin benzena lebih sukar dibandingkan asetilasi pada gugus OH fenol. Perlu adanya kondisi lain untuk melakukan asetilasi pada cincin benzena. Asetilasi anisol pada waktu reaksi 24 jam dan temperatur 130C didapatkan produk dengan kadar 74%.Beta zeolite generally has a high acidity and potentially active as heterogeneous catalyst in the Friedel-Crafts acylation of aromatic compounds. To improve its stability and selectivity, beta zeolite needs to be activated and modified in advance with zirconium to elicit active metal using ion exchange method. Characterization of catalyst include catalyst’s crystallinity using XRD analysis, the nature of the catalyst surface with the Surface Area Analyzer and the acidity test using pyridine adsorption. In the current study the activity and the selectivity of catalyst Zr4+-beta zeolite was studied in the acetylation reaction of phenol and anisole. Reaction was carried out at various temperatures, i.e. 100 and 130C with the reaction time at 4th, 8th and 12th hours. Acetylation results were then analyzed using GC, FTIR and product analysis using GC-MS. Acetylation of phenol with catalyst Zr4+- beta zeolite produced phenyl ethanoate at level of 95.87% and selectivity 100%. These results were obtained at a reaction temperature of 130C and the reaction time of 8 hours. Acetylation at both the benzene ring of phenol and anisole did not occur, it is because acetylation at the benzene ring was more difficult than acetylation at the OH group of phenol. It needs to apply other conditions to do acetylation of benzene ring. Acetylation of anisole at 24-h reaction time and temperature of 130C resulted in product with level of 74%. 
MODIFIKASI MODEL THERMALLY PADA HEAT ASSISTED MAGNETISASI REVERSAL NANO PARTIKEL MAGNETIK Sadnawanto, W; -, Cari; Purnama, B
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modifikasi skema mekanisme Heat Assisted Magnetic Recording (HAMR) adalah sistem magnetisasi berbantukan panas untuk menurunkan medan switching telah dilakukan. Bahan magnetik dengan anisotropi tegak lurus tinggi yaitu CoPtCr ditinjau sebagai cell memori pada sistem Hard Disk Drive (HDD). Penyelesaian persamaan Landau-Lifshitz-Gilbert dalam program simulasi mikromagnetik digunakan untuk menghitung medan switching pada beragam modifikasi skema HAMR.  Tiga skema modifikasi HAMR diusulkan berdasar pada pola penulisan data pada suhu tinggi (yaitu mendekati suhu Curie). Hasil simulasi memperlihatkan bahwa penulisan data pada medan konstan membutuhkan medan switching terendah.  Selebihnya, fluktuasi medan switching akibat modifikasi efek panas relatif kecil dibandingkan dua skema lainnya. The modification of Heat Assisted Magnetic Recording (HAMR) mechanism scheme i.e. the heat-assisted magnetization to reduce the switching field has been done.<0} {0>Bahan magnetik dengan anisotropi tegaklurus tinggi yaitu CoPtCr ditinjau sebagai cell memori pada sistem Hard Disk Drive (HDD).<}0{>Magnetic meterial with high right-corner anisotropy i.e. CoPtCr has been reviewed as memory cell in a Hard Disk Drive (HDD) system.<0} {0>Penyelesaian persamaan Landau-Lifshitz-Gilbert dalam program simulasi mikromagnetik digunakan untuk menghitung medan switching pada beragam modifikasi skema HAMR.<}0{>The completion Landau-Lifshitz-Gilbert equation in a micromagnetic simulation program is used to calculate tyhe switching field in various HAMR scheme modifications.<0}  {0>Tiga skema modifikasi HAMR diusulkan berdasar pada pola penulisan data pada suhu tinggi (yaitu mendekati suhu Curie).<}0{>Three HAMR scheme modifications is proposed based on data writing pattern at high temperature (i.e. close to Curie temperature).<0}   {0>Hasil simulasi memperlihatkan bahwa penulisan data pada medan konstan membutuhkan medan switching terendah.<}0{>Simulation result showed that data writing in a constant field needs lowest switching field.<0}  {0>Selebihnya, fluktuasi medan switching akibat modifikasi efek panas relatif kecil dibandingkan dua skema lainnya.<}0{>Moreover, switching field fluctuation caused by the modification of heat effect is the lowest compared to other schemes.<0}
ANALISIS EKSISTENSI DAN KARAKTERISASI KONTROL OPTIMAL VAKSINASI DALAM MODEL EPIDEMI SEIR DENGAN DUA WAKTU TUNDA Setiawan, R; -, Soeyono; Pambudi, D
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam makalah ini dibahas eksistensi dan karakterisasi kontrol optimal untuk permasalahan vaksinasi. Model dasar epidemi yang digunakan adalah model penyebaran penyakit S E I R ( Susceptible, Exposed, Invected Recovered ) untuk populasi yang diasumsikan konstan dan menggunakan laju insidensi bilinear βSI/N. Analisis juga menambahkan dua parameter waktu tunda pada variabel keadaan dan variabel kontrol. Permasalahan optimasi meliputi pendefinisian fungsi tujuan yang melibatkan variabel keadaan dan variabel kontrol serta sistem persamaan diferensial (model penyebaran penyakit) sebagai kendala untuk permasalah optimasi. Analisis karakterisasi dengan menggunakan Kriteria Minimum Pontryagin dilakukan terhadap Augmented Hamiltonian dari permasalahan optimasi yang telah dibentuk untuk menentukan kondisi transversal dan kontrol optimumnya.{0>Dalam makalah ini dibahas eksistensi dan karakterisasi kontrol optimal untuk permasalahan vaksinasi.<}0{>This paper discusses the existence and characterization of optimal control for vaccination issue.<0} {0>Model dasar epidemi yang digunakan adalah model penyebaran penyakit SEIR (Susceptible,Exposed, Invected Recovered) untuk populasi yang diasumsikan konstan dan menggunakan laju insidensi bilinear .<}0{>The epidemy basic model used was SEIR (Susceptible,Exposed, Invected Recovered) disease spreading model for population which was assumed to be constant and uses βSI/N bilinear incidence rate.<0} {0>Analisis juga menambahkan dua parameter waktu tunda pada variabel keadaan dan variabel kontrol.<}0{>Analysis also adds two parameters of delayed time on condition variable and control variable.<0} {0>Permasalahan optimasi meliputi pendefinisian fungsi tujuan yang melibatkan variabel keadaan dan variabel kontrol serta sistem persamaan diferensial ( model penyebaran penyakit ) sebagai kendala untuk permasalah optimasi.<}0{>Optimalization issue include the definition of objective function which engage condition variable and control variable and differential equation system (disease spreading model) as the constraint of optimalization issue.<0} {0>Analisis karakterisasi dengan menggunakan Kriteria Minimum Pontryagin dilakukan terhadap Augmented Hamiltonian dari permasalahan optimasi yang telah dibentuk untuk menentukan kondisi transversal dan kontrol optimumnya.<}0{>Charakterization using Pontryagin Minimum Criteria was done against Augmented Hamiltonian from optimalization issue which was formed to determine transversal condition and its optimum control.<0}
EFEKTIVITAS SKARIFIKASI DAN SUHU PERENDAMAN TERHADAP PERKECAMBAHAN BIJI KEPEL [Stelechocarpus burahol (Blume) Hook. F & Thompson] SECARA IN VITRO DAN EX VITRO Isnaeni, E; Habibah, NA
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempermudah perkecambahan biji kepel. Sampel berupa biji kepel yang diperoleh dari Desa Jambean Kec. Kepil Kab. Wonosobo. Perkecambahan biji kepel menggunakan rancangan acak lengkap (RAK) tiga faktor yang terdiri dari perlakuan skarifikasi (disayat, tanpa disayat), suhu (20oC, 40oC, 60oC, 80oC) dan teknik perkecambahan (in vitro, ex vitro). Biji kepel direndam selama 15 menit. Tiap percobaan masing-masing 5 ulangan. Parameter yang diukur adalah waktu munculnya kecambah, persentase perkecambahan, panjang radikula dan jumlah cabang akar. Analisis data menggunakan ANAVA tiga jalan dan jika data signifikan dilakukan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tanpa disayat, suhu 40oC, dan dengan teknik ex vitro optimal untuk mempercepat perkecambahan, sedangkan dengan teknik in vitro, biji kepel tidak berkecambah dalam waktu 5 bulan.This reseacrh aimed to facilitate germination of kepel seed. Sample used kepel seed from Jambean village, Kepil Wonosobo. The research used complete random design with three factors: scarification (sliced, unsliced), temperature (20oC, 40oC, 60oC, 80oC) and germination techniques (in vitro, ex vitro). Kepel seed soaked in temperature above for 15 minutes. Each experiment repeated 5 times. The parameters observed were times of early germination, germination percentage, radicule length and number of root branches. Data analyzed by three way ANOVA and if significantly different tested further by DMRT test. The results showed that the interaction between unsliced at 40oC in ex vitro was optimum to speed up germination, while in vitro treatment, kepel seed not germinated in 5 months.
SIFAT MEKANIK KOMPOSIT COKELAT BATANG DENGAN FILLER BIJI METE Wiguna, P A; Aji, M P; Yulianto, A
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan komposit yang banyak dijumpai di masyarakat umumnya terbuat dari material berat seperti, logam, keramik, atau polimer. Pada bahan pangan terdapat pula yang termasuk ke dalam kategori material komposit, diantaranya adalah cracker, cookie, kue pie, chasew chocolate, dan lain sebagianya. Diantara komposit bahan pangan tersebut yang paling banyak digemari sebagai makanan camilan adalah  cokelat. Hal menarik yang dikaji pada studi ini berkaitan dengan sifat mekanik komposit cokelat yaitu kekuatan tekan dari komposit tersebut. Komposit ini terbuat dari bahan makanan cokelat dengan variasi  fraksi massa mete sebagai filler yaitu 13 %, 17%, 20%, 23%, 26 %, dan 29%. Matriks yang digunakan adalah cokelat jenis dark chocolate. Sifat mekanik yang dikaji adalah kuat tekan pada komposit cokelat batang. Parameter ini diukur untuk mengetahui ukuran maksimum beban yang dapat diterima komposit tersebut. Komposit yang memiliki kekuatan tekan terbesar ada pada cokelat batang dengan fraksi massa mete 29 % yaitu sebesar 2,81 MPa. Hal ini menunjukkan  bahwa variasi fraksi massa mete berpengaruh pada sifat mekanik material komposit karena berkaitan dengan perilaku distribusi partikel. Kuat tekan komposit cokelat teramati meningkat dengan kenaikan jumlah biji mete pada cokelat batang.Generally, the composite materials found in the civilization are made from heavy materials, e.g. metals, ceramics, and polymers. In fact, the composite material also found in food, such as crackers, cookies, pies, and cashew chocolates. Cashew chocolates usually consumed as the most favourite snack. The most interesting object from this study is related with the mechanical composite characteristic of the chocolate, i.e. compressive strength. Chocolate composite is made from chocolate with variety of cashew mass fraction as the filler, i.e. 13 %, 17%, 20%, 23%, 26 %, and 29%. In this study, the composite matrix was a dark chocolate, whereas the mechanical characteristic determined was a compressive strength of the chocolate bar.  This parameter was calculated to determine the maximum weight which could be received by the composite. The result showed that the composite had the biggest compressive strength (2.81 MPa) was a chocolate bar with mass fraction of cashew 29%. It indicated that variation of cashew mass fraction affected the mechanical characteristic of composite. It was also related to the particle distribution performance. The compressive strength value of chocolate was greater together with the increase of the quantity of cashew nut.   
PERBANDINGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN NAIVE BAYES DALAM DETEKSI SESEORANG TERKENA PENYAKIT STROKE Rohmana, I.; Arifudin, R.
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah membuat aplikasi Jaringan Syaraf Tiruan dan Naive Bayes untuk memprediksi penyakit stroke dan membandingkan tingkat akuratan dari kedua metode yang digunakan. Sebuah aplikasi software MATLAB diciptakan untuk mendeteksi seseorang Suspect stroke.  Metode yang baik dalam mesin pembelajaran berdasarkan data training adalah Jaringan Syaraf Tiruan dan Naive Bayes, variabel data faktor gejala penyakit stroke digunakan sebagai data training dalam proses pembelajaran dari sistem yang dibuat menentukan prediksi penyakit stroke. Dari 120 data percobaan yang dilakukan, akan dihitung akurasi hasil kerja sistem yang dibagi menjadi data pelatihan dan data pengujian. Diperoleh persentase hasil kerja sistem yaitu Jaringan Syaraf Tiruan sebesar 71,11 persen, sedangkan Naive Bayes sebesar 80,55 persen. Naive Bayes lebih akurat daripada Jaringan Syaraf Tiruan dalam hal pengambilan keputusan data baru namun Jaringan Syaraf Tiruan memiliki teknik yang lebih bagus dibandingkan dengan Naive Bayes. Jaringan Syaraf Tiruan mempunyai karakteristik belajar dari data sebelumnya.The purpose of this research are make application system of Artificial Neural Network and Naive Bayes to predict stroke  and to compare the accuration between of  both methods. An application applying MATLAB software has been invented to detect a stroke suspect. A good method in learning machine based on the training data is Artificial Neural Network and Naive Bayes method, by using the data variable of some common stroke symptoms used as the training data in the learning process of the system which is going to be built to determine whether prediction of stroke disease. From 120 experiments data which had been done, will be counted the accuracy of the system which divided into some training data and the other experiment data. Retrieved the percentage of  accuracy system, The Artificial Neural Network is 71,11 percent whereas Naive Bayes is 80,555 percent. Naive Bayes is more accurate than Artificial Neural Network in terms of new data decision making, but Artificial Neural Networks has better technique than Naive Bayes. Artifical Neural Network has the characteristics of learning from previous data.
KEANEKARAGAMAN SPESIES DAN PERANAN RODENTIA DI TPA JATIBARANG SEMARANG Susanto, A; Ngabekti, S
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies dan mengetahui peranan ordo Rodentia di TPA Jatibarang Semarang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode perangkap kurungan (trapping) dan peranan ordo Rodentia diketahui dari analisis makanan dalam lambung. Penelitian dilakukan pada bulan September-Oktober 2014. Hasil penelitian menemukan sebanyak enam spesies Rodentia terdiri dari celurut rumah (Suncus murinus), tikus riol (Riol norvegicus), mencit rumah (Mus musculus), tikus rumah (Rattus rattus), tikus wirok (Bandicota indica) dan tikus sawah (Rattus argentiventer). Indeks keanekaragaman spesies rendah (H’=0,5-0,65). Analisis lambung menujukkan bahwa ada empat jenis makanan ordo Rodentia terdiri atas bahan organik, biji-bijian, serangga, dan lain-lain yang tidak teridentifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat keanekaragaman spesies Rodentia di TPA Jatibarang Semarang tergolong rendah. Peranan ordo Rodentia berperan sebagai detritivor, granivor, dan insektivor.This purpose of this research was to identify the species biodiversity and to find the role of Rodentia in TPA Jatibarang Semarang. This research was conducted using trap method and the stomach of the captured animals was analyzed to determine their role. This research period was September-October 2014. The research found six species of Rodentia, namely house shrew (Suncus murinus), riol rat (Rattus norvegicus), house mouse (Mus musculus), house rat (Rattus rattus), bandicoot rat (Bandicota indica) and field mouse (Rattus argentiventer). The diversity index is relatively low (H’=0.5-0.65). Stomach analysis showed that there were four kind Rodentia diet and were dominated by material organic, seeds, insects, and other unidentified material. It was concluded that the level of diversity spesies Rodentia in TPA Jatibarang Semarang is low. The species in ordo Rodentia has role as detritivore, granivore, and insectivore.

Page 2 of 4 | Total Record : 36