cover
Contact Name
-
Contact Email
mipa.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mipa.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Mathematics and Natural Sciences, D12 Building 1st Floor, Universitas Negeri Semarang, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Indonesia 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences
ISSN : 02159945     EISSN : 27747832     DOI : https://doi.org/10.15294/ijmns
Core Subject : Education,
The scope of the journal includes the following areas of research: Natural Sciences, Mathematics, and Applied Sciences
Articles 506 Documents
ANALISIS METODE KARMARKAR UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH PROGRAM LINIER Indriani, DR; Suyitno, H; -, Mashuri
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 36, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui dasar matematis dalam metode Karmarkar, mengetahui penyelesaian masalah program linier dengan metode Karmarkar, serta menganalisis penyelesaian masalah program linier dengan metode simpleks dan metode Karmarkar. Penelitian ini dilakukan dengan studi literatur. Penyelesaian program linier dengan metode Karmarkar, mula-mula harus diubah dalam bentuk kanonik Karmarkar, kemudian diselesaikan dengan metode Karmarkar. Penyelesaian program linier dengan metode Karmarkar dilakukan secara manual dan dengan menggunakan program Matlab, kemudian hasil dari keduanya dilakukan analisis. Kesimpulannya adalah bahwa metode Karmarkar adalah suatu metode titik interior yang menembus dari daerah fisibel untuk mencapai suatu solusi optimum sedangkan metode simpleks bergerak dari titik ekstrim menuju ke penyelesain optimum. Titik interior dilambangkan dengan banyaknya variabel. Menyelesaikan masalah dengan metode Karmarkar yaitu dengan mengubah bentuk dasar program linier ke bentuk kanonik Karmarkar, dilanjutkan dengan perhitungan iterasi hingga nilai  minimum (kanonik Karmarkar) kurang dari 0,05. Metode Karmarkar membutuhkan perhitungan yang relatif lebih besar untuk persoalan program linier yang berukuran kecil dan lebih cepat diselesaikan dengan metode simpleks, sedangkan untuk kendala yang lebih besar metode Karmarkar lebih efisien dibandingkan metode simpleks. This research purpose is to determine the basic mathematical Karmarkarmethods, to know the solving linear programs with Karmarkar method, and to analyze the problem solving linear program with the simplex method and Karmarkar method. This research was literature study. The completion of linear programs with Karmarkar method was done manually by using Matlab program, then the results of both was analyzed. The conclusion is the Karmarkar method is a method that penetrates the interior point of the feasible region to achieve an optimum solution while the simplex method moves from the extreme point toward the optimum completion. The interior point is denoted by is the sum of variable. To resolve the problem with the Karmarkar method is to change the basic shape into a canonical form linear program of Karmarkar, it is followed by the calculation of iterations until a minimum value of Z (canonical of Karmarkar) is less than 0,05. Linear programming problems are usually small, Karmarkar method requires the calculation of a relatively larger and more quickly solved by the simplex method. Karmarkar method is faster than the simplex method.  
PEMODELAN FISIK APLIKASI METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK MENDETEKSI KEBERADAAN AIR TANAH -, Supriyadi; -, Susilo; -, Sunaro; -, Setyawan
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 35, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah studi geofisika berupa pemodelan fisis dengan memanfaatkan metode geolistrik tahanan jenis. Medium yang digunakan adalah tanah merah dan tanah liat. Pada media tersebut diinjeksikan arus dan kemudian dilakukan pengukuran terrhadap arus maupun potensialnya. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan 4 buah elektroda, yakni 2 elektroda arus dan 2 elektroda potensial. Konfigurasi yang digunakan adalah konfigurasi Schlumberger yang diharapkan dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan air. Instrumen yang digunakan adalah resistivitymeter Naniura NRD 22S yang dilengkapi dengan empat buah elektroda yang berfungsi dalam pembacaan output respon beda potensial akibat arus yang diinjeksikan ke dalam permukaan tanah merah melalui dua buah elektroda arus dan dua buah elektroda potensial. Hasil inversi 2-D menggunakan perangkat lunak Res2Dinv menunjukkan bahwa metode geolistrik konfigurasi Schlumberger dapat digunakan untuk mengetahui keberadaan air tanah beserta nilai resistivitasnya yaitu untuk tanah liat 1 posisi, 2 posisi, dan 3 posisi dengan volume injeksi air kumulatif berkisar antara 14.4-70.0 Ωm. This research is geophysical study of physical modeling by using geoelectric resistivity method, and it used land and clay as media. The current was injected to the media then measured its current and potential. The measurement used 4 electrodes, consisting of 2 current electrodes and 2 potential electrodes. This research used Schlumberger configuration which is expected to be used to investigate the presence of water. Resistivitymeter Naniura NRD 22S with 4 electrodes was used to read the output response of potential difference as a result of injected current to red earth through 2 current electrodes and 2 potential electrodes. 2-D inversion result using Res2Dinv software showed that geoelectric method Schlumberger configuration can be used to determine the groundwater presence and its resistivity values for 1 position, 2 positions, and 3 positions of clay with cumulative injected water volume about 14.4-70.0 Ωm.
MODEL VOLATILITAS ARCH(1) DENGAN RETURN ERROR BERDISTRIBUSI SKEWED STUDENT-T Saputri, E. D.; Nugroho, D. B.; Setiawan, A.
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 39, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model volatilitas Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH)lag 1, dimana return error berdistribusi skewed Student-t, diaplikasikan untuk runtun waktu return kurs beli harian Euro (EUR) dan Japanese Yen (JPY) terhadap Indonesian Rupiah (IDR) dari Januari 2009 sampai Desember 2014. Metode indepence chain Metropolis-Hastings (IC-MH) yang efisien dibangun dalam algoritmaMarkov Chain Monte Carlo (MCMC) untuk memperbarui nilai-nilai parameter dalam model yang tidak bisa dibangkitkan secara langsung dari distribusi posterior. Meskipun 95% interval highest posterior density dari parameter skewness memuat nol untuk semua data pengamatan, tetapi sebagian besar distribusi posteriornya berada di daerah negatif, yang mengindikasikan dukungan terhadap distribusiskewed Student-t. Selain itu diperoleh nilai derajat kebebasan disekitar 15 dan 18, yang mengindikasikan dukungan terhadap heavy-tailedness.Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH) volatility model of lag 1, where return error has a skewed Student-t distribution,  for the buying rate Euro (EUR) and Japanese Yen (JPY) to Indonesian Rupiah (IDR) from January 2009 to December 2014,. An efficient independence chain Metropolis-Hastings (IC-MH) method is developed in an algorithm Markov Chain Monte Carlo (MCMC) to update the parameters of the model that could not be sampled directly from their posterior distributions. Although 95% highest posterior density interval from skewness parameter contains zero for all the data, most of the posterior distribution located in the negative area, indicating support for the skewed Student-t distribution into the return error. Furthermore the value of degrees of freedom is found around 15 and 18, indicating support for the heavy-tailedness.
ANALISIS EKSISTENSI DAN KARAKTERISASI KONTROL OPTIMAL VAKSINASI DALAM MODEL EPIDEMI SEIR DENGAN DUA WAKTU TUNDA Setiawan, R; -, Soeyono; Pambudi, D
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam makalah ini dibahas eksistensi dan karakterisasi kontrol optimal untuk permasalahan vaksinasi. Model dasar epidemi yang digunakan adalah model penyebaran penyakit S E I R ( Susceptible, Exposed, Invected Recovered ) untuk populasi yang diasumsikan konstan dan menggunakan laju insidensi bilinear βSI/N. Analisis juga menambahkan dua parameter waktu tunda pada variabel keadaan dan variabel kontrol. Permasalahan optimasi meliputi pendefinisian fungsi tujuan yang melibatkan variabel keadaan dan variabel kontrol serta sistem persamaan diferensial (model penyebaran penyakit) sebagai kendala untuk permasalah optimasi. Analisis karakterisasi dengan menggunakan Kriteria Minimum Pontryagin dilakukan terhadap Augmented Hamiltonian dari permasalahan optimasi yang telah dibentuk untuk menentukan kondisi transversal dan kontrol optimumnya.{0>Dalam makalah ini dibahas eksistensi dan karakterisasi kontrol optimal untuk permasalahan vaksinasi.<}0{>This paper discusses the existence and characterization of optimal control for vaccination issue.<0} {0>Model dasar epidemi yang digunakan adalah model penyebaran penyakit SEIR (Susceptible,Exposed, Invected Recovered) untuk populasi yang diasumsikan konstan dan menggunakan laju insidensi bilinear .<}0{>The epidemy basic model used was SEIR (Susceptible,Exposed, Invected Recovered) disease spreading model for population which was assumed to be constant and uses βSI/N bilinear incidence rate.<0} {0>Analisis juga menambahkan dua parameter waktu tunda pada variabel keadaan dan variabel kontrol.<}0{>Analysis also adds two parameters of delayed time on condition variable and control variable.<0} {0>Permasalahan optimasi meliputi pendefinisian fungsi tujuan yang melibatkan variabel keadaan dan variabel kontrol serta sistem persamaan diferensial ( model penyebaran penyakit ) sebagai kendala untuk permasalah optimasi.<}0{>Optimalization issue include the definition of objective function which engage condition variable and control variable and differential equation system (disease spreading model) as the constraint of optimalization issue.<0} {0>Analisis karakterisasi dengan menggunakan Kriteria Minimum Pontryagin dilakukan terhadap Augmented Hamiltonian dari permasalahan optimasi yang telah dibentuk untuk menentukan kondisi transversal dan kontrol optimumnya.<}0{>Charakterization using Pontryagin Minimum Criteria was done against Augmented Hamiltonian from optimalization issue which was formed to determine transversal condition and its optimum control.<0}
RESPON PEMBENTUKAN KALUS KORO BENGUK (MUCUNA PRURIENS L.) PADA BERBAGAI KONSENTRASI 2,4-D DAN BAP Ariani, R.; Anggraito, Y. U.; Rahayu, E. S.
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 39, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi 2,4-dichlorophenoxy acetic acid (2,4-D) dan benzylamino purin (BAP) optimal dalam pembentukan kalus dari eksplan setengah biji koro benguk (Mucuna pruriens L.). Rancangan penelitian yang digunakan ialah rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yaitu konsentrasi 2,4-D (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) dan BAP (1 ppm, 2 ppm, 3 ppm) untuk induksi kalus. Hasil induksi dipindahkan pada media MS0, kemudian dilanjutkan pada media MS yang ditambah BAP, IBA, GA. Parameter yang diamati adalah waktu terbentuk kalus, persentase eksplan berkalus, berat kalus per eksplan, warna dan tekstur kalus. Pada tahap induksi kalus, BAP 3 mg/l menyebabkan pertumbuhan kalus terberat dibandingkan konsentrasi lainnya. Sementara pada tahap diferensiasi, konsentrasi BAP 3 ppm dan 2,4-D 1 ppm merupakan konsentrasi yang mengakibatkan persentase kalus sehat tertinggi. Perlakuan 2,4-D 1 ppm dan BAP 3 ppm menghasilkan kalus putih transparan, kompak, dan berat kalus tertinggi (0,49 gram). Konsentrasi tersebut merupakan konsentrasi yang disarankan untuk menumbuhkan kalus koro bengukThis research aimed to determine the optimal concentration of 2,4-D and BAP in callus formation from an explant of half seed Mucuna pruriens. The research design was used completely randomized design with two factors: the concentration of 2,4-D (0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, 2 ppm)  and BAP (1 ppm, 2 ppm, and 3 ppm) for callus inductions. The induction result is moved to MS0 medium, then continued to MS medium which was added by BAP, IBA, GA. The measured parameters were: callus formation time, the percentage of callus explants, the weight of callus for each explants, color and texture of callus. During induction phase BAP 3 ppm caused the heaviest callus growth than others, meanwhile in differentiation phase BAP 3 ppm and 2,4-D 1 ppm caused the highest percentage of healthy callus. Treatment of 2,4-D 1 ppm and BAP 3 ppm produced white and compact transparent callus with weight 0.49 grams. This concentration was recommended to grow the M. pruriens callus.
EFEKTIVITAS SKARIFIKASI DAN SUHU PERENDAMAN TERHADAP PERKECAMBAHAN BIJI KEPEL [Stelechocarpus burahol (Blume) Hook. F & Thompson] SECARA IN VITRO DAN EX VITRO Isnaeni, E; Habibah, NA
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 2 (2014): October 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempermudah perkecambahan biji kepel. Sampel berupa biji kepel yang diperoleh dari Desa Jambean Kec. Kepil Kab. Wonosobo. Perkecambahan biji kepel menggunakan rancangan acak lengkap (RAK) tiga faktor yang terdiri dari perlakuan skarifikasi (disayat, tanpa disayat), suhu (20oC, 40oC, 60oC, 80oC) dan teknik perkecambahan (in vitro, ex vitro). Biji kepel direndam selama 15 menit. Tiap percobaan masing-masing 5 ulangan. Parameter yang diukur adalah waktu munculnya kecambah, persentase perkecambahan, panjang radikula dan jumlah cabang akar. Analisis data menggunakan ANAVA tiga jalan dan jika data signifikan dilakukan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tanpa disayat, suhu 40oC, dan dengan teknik ex vitro optimal untuk mempercepat perkecambahan, sedangkan dengan teknik in vitro, biji kepel tidak berkecambah dalam waktu 5 bulan.This reseacrh aimed to facilitate germination of kepel seed. Sample used kepel seed from Jambean village, Kepil Wonosobo. The research used complete random design with three factors: scarification (sliced, unsliced), temperature (20oC, 40oC, 60oC, 80oC) and germination techniques (in vitro, ex vitro). Kepel seed soaked in temperature above for 15 minutes. Each experiment repeated 5 times. The parameters observed were times of early germination, germination percentage, radicule length and number of root branches. Data analyzed by three way ANOVA and if significantly different tested further by DMRT test. The results showed that the interaction between unsliced at 40oC in ex vitro was optimum to speed up germination, while in vitro treatment, kepel seed not germinated in 5 months.
KAJIAN VARIASI SUHU ANNEALING DAN HOLDING TIME PADA PENUMBUHAN LAPISAN TIPIS BaZr0,15Ti0,85O3 DENGAN METODE SOL GEL Hadiati, S; Ramelan, AH; Variani, VI; Hikam, M; Soegijono, B; Saputri, DF; Iriani, Y
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 36, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penumbuhan lapisan tipis BaZr0,15Ti0,85O3 telah dilakukan menggunakan metode sol gel di atas substrat Pt/Si yang disiapkan dengan spin coater. Penumbuhan lapisan tipis menggunakan variasi suhu annealing 8000C dan 9000C, dan variasi waktu tahan (holding time) 3 jam dan 4 jam dengan kecepatan putar 4000 rpm. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan, seiring dengan bertambahnya waktu tahan menunjukkan bertambahnya intensitas yang semakin tinggi. Hal ini  menandakan tingkat kekristalan makin tinggi. Namun, dengan penambahan suhu annealing maka intensitas semakin kecil. Setelah dilakukan penghalusan menggunakan metode Rietveld dengan program GSAS, parameter kisi lapisan tipis BaZr0,15Ti0,85O3 semakin besar dengan bertambahnya suhu annealing dan waktu tahan serta memiliki struktur kristal tetragonal. Partikel size yang didapat dengan formula Scherer semakin besar seiring dengan bertambahnya suhu annealing dan waktu tahan. Hal ini juga ditunjukkan dari SEM, ukuran butir semakin besar seiring dengan bertambahnya suhu annealing, akan tetapi pada varisi suhu annealing ukuran butir tidak dapat ditentukan.  Thin Films BaZr0,15Ti0,85O3 have deposited on Pt/Si substrate by using sol gel method that was prepared by using spin coater. Deposition of thin films applies by using annealing temperatures in 8000C and 9000C, while the holding time was 3 and 4 hours and the rotation speed was 4000 rpm.The XRD characterization results show that the x-ray intensity increases along with the increasing of its holding time therefore it indicates that the crystallinity level is higher. Meanwhile the x-ray intensity decreases along with the increasing of annealing temperature. The refinement results using the Rietveld method with the GSAS program show that the thin films BaZr0.15Ti0.85O3 have tetragonal crystal structure and its lattice parameter value increases along with the increasing of its annealing temperature and holding time. Particle size obtained by Scherer formula was increasing along with the increasing of the annealing temperature and holding time. It was also shown from the SEM characterization results that the particle size increased along with the increasing of the annealing temperature but the grain size variation cannot determined.
MODEL SPASIAL AUTOTOREGRESIF POISSON UNTUK MENDETEKSI FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP JUMLAH PENDERITA HIV DI PROVINSI JAWA TIMUR Rohimah, SR
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 38, No 2 (2015): October 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam upaya menangani jumlah pengidap HIV atau AIDS pada tiap kabupaten di Provinsi Jawa Timur diperlukan pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhinya secara spasial maupun nonspasial. Jumlah pengidap HIV atau AIDS merupakan data cacahan (count data) dan kejadian warga mengidap HIV atau AIDS merupakan kejadian yang jarang terjadi, sehingga dalam penelitian ini menggunakan  model Spatial Autoregressive Poisson (SAR Poisson). Penggunaan model SAR Poisson bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh secara spasial maupun nonspasial terhadap jumlah pengidap HIV atau AIDS di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pengidap HIV atau AIDS di Provinsi Jawa Timur yaitu: jumlah warga yang tuna susila, jumlah korban penyalahgunaan NAPZA, jumlah keluarga fakir miskin, dan jumlah wanita rawan sosial ekonomi. Pendugaan parameter dalam penelitian ini menggunakan metode maksimum likelihood. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh korelasi spasial yang signifikan sebesar  yang berarti bahwa jumlah pengidap HIV atau AIDS pada suatu wilayah atau lokasi yang berdekatan akan berpengaruh terhadap jumlah pengidap HIV atau AIDS pada tiap kabupaten di Provinsi Jawa Timur pada lokasi di sekitarnya. Koefisien determinasi diperoleh dari model ini sebesar 0,51.In efforts to handle the number of people living with HIV or AIDS in each municipality in East Java province are required knowledge about the factors that influence spatially and nonspatially. Number of people living with HIV or AIDS is the counting data and the incidence of residents living with HIV or AIDS is very rare, so in this study using a model Spatial Autoregressive Poisson (Poisson SAR). Use of SAR Poisson models aimed to determine the factors that influence spatially and nonspatially to the number of people living with HIV or AIDS in East Java province. Based on the research results was obtained the factors that influence the number of people living with HIV or AIDS in East Java province are the number of people who do prostitution, the number of victims of drug abuse, the number of destitute families, and the number of women prone to socioeconomic. The estimation of the parameters in this study using maximum likelihood method. Based on the results of this study showed significant spatial correlation of ρ = 0.2, which means that the number of people living with HIV or AIDS in a region or a nearby location will affect the number of people living with HIV or AIDS in each municipality in the province of East Java at locations in the vicinity. The coefficient of determination obtained from this model of 0.51.
MANAJEMEN KUALITAS MEDIA PENDEDERAN LELE PADA LAHAN TERBATAS DENGAN TEKNIK BIOFLOK Abulias, MN; Utarini SR, DR; Winarni, ET
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akuakultur intensif bisa menyebabkan menurunnya kandungan oksigen dan meningkatnya kandungan limbah pada ekosistem perairan, khususnya nitrogen organik. Transfer teknologi sudah dilakukan dengan tujuan untuk mengelola kegiatan budidaya lele pada daerah terbatas menggunakan bioflok. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pertumbuhan ikan lele yang dipelihara menggunakan sistem bioflok dan non bioflok. Sampel penelitian yang digunakan adalah 500 bibit ikan berumur 10 hari, yang dipelihara selama 30 hari. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, 15, dan 30. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah panjang dan berat ikan. Parameter lingkungan yang diamati adalah suhu air dan udara, karbondioksida terlarut, oksigen terlarut, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan peningkatan panjang dan berat tubuh benih lele pada kedua media budidaya. Meskipun peningkatan pertumbuhan tidak terlalu tinggi, namun cukup memberikan gambaran bahwa benih lele yang dipelihara dengan aplikasi bioflok mengalami pertumbuhan yang lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pakan yang diberikan dan media pemeliharaannya mampu mendukung pertumbuhan benih lele. Media pemeliharaan yang mengaplikasikan teknik bioflok menunjukkan kondisi yang lebih baik dan relatif ideal untuk pendederan lele. Hal ini juga diperkuat dengan relatif rendahnya tingkat kematian benih selama pemeliharaan, yaitu  10%. Intensive aquaculture might decrease of the dissolved oxygen and increase the wastes, particularly organic nitrogen, in the aquatic ecosystem. Technology transfer has long been made to improve the catfish rearing management in confined tanks using biofloc. The objective of the research was to compare the growth of catfish reared in non-biofloc and biofloc systems. Samples were 500 catfish seedlings aged 10 days and reared for 30 days. Observations were made on day 0, 15, and 30. Growth parameters observed were length and weight of the fish. The environmental parameters observed were air and water temperatures, dissolved carbon dioxide, dissolved oxygen, and pH. The length and weight of the fish on both rearing media were not quite noticeable, however, this can give illustration that catfish seedlings reared in biofloc system grew better than in non-biofloc system. This indicated that the feed given to the fish and the biofloc rearing media could support the fish growth and the media in the biofloc system showed better condition and relatively ideal for the rearing of catfish seedlings. This was supported by the relatively low fish mortality during the study, i.e. 10%.
OPTIMASI TEMPERATUR HIDRODESULFURISASI TIOFEN TERKATALISIS NI-MO/ZEOLIT ALAM -, Harjito
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 35, No 2 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan kajian mengenai pengaruh temperatur hidrodesulfurisasi terhadap produk hidrodesulfurisasi tiofen. Penelitian dilakukan untuk mengetahui temperatur optimum hidrodesulfurisasi tiofen dengan katalis Ni-Mo/zeolite alam. Variasi temperatur yang dilakukan adalah 3000C, 3500Cdan 4000C. Katalis Ni-Mo/Zeolit alam dipreparasi secara koimpregnasi. Proses hidrodesulfurisasi dilakukan dengan umpan campuran tiofen-n-heksan dengan komposisi 1:1. Sebagai gas pembawa digunakan gas hydrogen dengan laju alir 25 mL/menit. Hasil hidrodesulfurisasi didinginkan dan dianalisis dengan kromatografi gas. Hasil analisis menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah produk dan komponen produk pada setiap kenaikan temperatur 500C. Namun demikian kenaikan jumlah produk pada kenaikan temperatur dari 3500C ke 4000C jika dibandingkan dengan kenaikan produk pada kenaikan temperatur dari 3000C ke 3500C tidak cukup signifikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa temperatur hidrodesulfurisasi tiofen terkatalisis Ni-Mo/Zeolit alam adalah 3500C. The study on the effect of temperature on the product tiofen hydrodesulfurization by using Ni/Mo/natural tiofen-n-hexane. The study was done conducted to determine the optimum temperature of  hydrodesulfurization tiofen by using Ni-Mo/ natural zeolite catalyst and the temperature variation was 300oC, 350oC dan 400oC. The Ni-Mo/ natural Zeolit  catalysts were prepared by coimpregnation and hydrodesulfurization process was done by tiofen-n-hexane feed mixture with composition of 1:1, hydrogen gas was used as a carrier gas with a flow rate 25 ml/min. The result of  hydrodesulfurization was cooled and analyzed by gas chromatography  and it revealed an increasing number of products and product components at for each 50°C rising of temperature. However, the increasing of number of products on the temperature rise of  350°C to 400°C was not significant if compared to the increasing of product temperature that increased from 300°C to 350°C. So it can be concluded that the temperature of hydrodesulfurization tiofen catalyzed by Ni-Mo/ natural Zeolit was 350°C.