cover
Contact Name
-
Contact Email
mipa.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mipa.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Mathematics and Natural Sciences, D12 Building 1st Floor, Universitas Negeri Semarang, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Indonesia 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences
ISSN : 02159945     EISSN : 27747832     DOI : https://doi.org/10.15294/ijmns
Core Subject : Education,
The scope of the journal includes the following areas of research: Natural Sciences, Mathematics, and Applied Sciences
Articles 506 Documents
MANAJEMEN KUALITAS MEDIA PENDEDERAN LELE PADA LAHAN TERBATAS DENGAN TEKNIK BIOFLOK
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 37, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v37i1.3142

Abstract

Akuakultur intensif bisa menyebabkan menurunnya kandungan oksigen dan meningkatnya kandungan limbah pada ekosistem perairan, khususnya nitrogen organik. Transfer teknologi sudah dilakukan dengan tujuan untuk mengelola kegiatan budidaya lele pada daerah terbatas menggunakan bioflok. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pertumbuhan ikan lele yang dipelihara menggunakan sistem bioflok dan non bioflok. Sampel penelitian yang digunakan adalah 500 bibit ikan berumur 10 hari, yang dipelihara selama 30 hari. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, 15, dan 30. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah panjang dan berat ikan. Parameter lingkungan yang diamati adalah suhu air dan udara, karbondioksida terlarut, oksigen terlarut, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan peningkatan panjang dan berat tubuh benih lele pada kedua media budidaya. Meskipun peningkatan pertumbuhan tidak terlalu tinggi, namun cukup memberikan gambaran bahwa benih lele yang dipelihara dengan aplikasi bioflok mengalami pertumbuhan yang lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pakan yang diberikan dan media pemeliharaannya mampu mendukung pertumbuhan benih lele. Media pemeliharaan yang mengaplikasikan teknik bioflok menunjukkan kondisi yang lebih baik dan relatif ideal untuk pendederan lele. Hal ini juga diperkuat dengan relatif rendahnya tingkat kematian benih selama pemeliharaan, yaitu  10%. Intensive aquaculture might decrease of the dissolved oxygen and increase the wastes, particularly organic nitrogen, in the aquatic ecosystem. Technology transfer has long been made to improve the catfish rearing management in confined tanks using biofloc. The objective of the research was to compare the growth of catfish reared in non-biofloc and biofloc systems. Samples were 500 catfish seedlings aged 10 days and reared for 30 days. Observations were made on day 0, 15, and 30. Growth parameters observed were length and weight of the fish. The environmental parameters observed were air and water temperatures, dissolved carbon dioxide, dissolved oxygen, and pH. The length and weight of the fish on both rearing media were not quite noticeable, however, this can give illustration that catfish seedlings reared in biofloc system grew better than in non-biofloc system. This indicated that the feed given to the fish and the biofloc rearing media could support the fish growth and the media in the biofloc system showed better condition and relatively ideal for the rearing of catfish seedlings. This was supported by the relatively low fish mortality during the study, i.e. 10%.
OPTIMASI TEMPERATUR HIDRODESULFURISASI TIOFEN TERKATALISIS NI-MO/ZEOLIT ALAM
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 35, No 2 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v35i2.2625

Abstract

Telah dilakukan kajian mengenai pengaruh temperatur hidrodesulfurisasi terhadap produk hidrodesulfurisasi tiofen. Penelitian dilakukan untuk mengetahui temperatur optimum hidrodesulfurisasi tiofen dengan katalis Ni-Mo/zeolite alam. Variasi temperatur yang dilakukan adalah 3000C, 3500Cdan 4000C. Katalis Ni-Mo/Zeolit alam dipreparasi secara koimpregnasi. Proses hidrodesulfurisasi dilakukan dengan umpan campuran tiofen-n-heksan dengan komposisi 1:1. Sebagai gas pembawa digunakan gas hydrogen dengan laju alir 25 mL/menit. Hasil hidrodesulfurisasi didinginkan dan dianalisis dengan kromatografi gas. Hasil analisis menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah produk dan komponen produk pada setiap kenaikan temperatur 500C. Namun demikian kenaikan jumlah produk pada kenaikan temperatur dari 3500C ke 4000C jika dibandingkan dengan kenaikan produk pada kenaikan temperatur dari 3000C ke 3500C tidak cukup signifikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa temperatur hidrodesulfurisasi tiofen terkatalisis Ni-Mo/Zeolit alam adalah 3500C. The study on the effect of temperature on the product tiofen hydrodesulfurization by using Ni/Mo/natural tiofen-n-hexane. The study was done conducted to determine the optimum temperature of  hydrodesulfurization tiofen by using Ni-Mo/ natural zeolite catalyst and the temperature variation was 300oC, 350oC dan 400oC. The Ni-Mo/ natural Zeolit  catalysts were prepared by coimpregnation and hydrodesulfurization process was done by tiofen-n-hexane feed mixture with composition of 1:1, hydrogen gas was used as a carrier gas with a flow rate 25 ml/min. The result of  hydrodesulfurization was cooled and analyzed by gas chromatography  and it revealed an increasing number of products and product components at for each 50°C rising of temperature. However, the increasing of number of products on the temperature rise of  350°C to 400°C was not significant if compared to the increasing of product temperature that increased from 300°C to 350°C. So it can be concluded that the temperature of hydrodesulfurization tiofen catalyzed by Ni-Mo/ natural Zeolit was 350°C.
Fe Filtration Comparison of Micro-Size Carbon Materials from Coconut Shell, Rice Straw, and Bamboo for Mataram Canal Water
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 40, No 2 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v40i2.12877

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan material karbon berukuran mikro (MSC) berbahan dasar tempurung kelapa, bambu, dan jerami padi melalui ultrasonikasi dalam fase cair. Bahan MSC yang telah dihasilkan selanjutnya digunakan sebagai material filtrasi logam besi (Fe) untuk sampel air yang diambil dari selokan Mataram Yogyakarta. Kandungan Fe untuk berbagai sampel air setelah proses filtrasi menggunakan ketiga material MSC dibandingkan berdasarkan atomic absorption spectroscopy (AAS). Dalam penelitian ini, alat-alat ultrasonikasi dan filtrasi sederhana merupakan hasil rakitan sendiri. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kandungan Fe dalam sampel air selokan Mataram mengalami penurunan setelah difiltrasi menggunakan material MSC. Kandungan Fe dalam sampel air sebelum difiltrasi adalah 0,9039 ppm, namun setelah difiltrasi menggunakan material MSC berbahan tempurung kelapa, bambu, dan jerami, kandungan Fe berturut-turut menjadi 0,0439 ppm; 0,0430; dan 0,0671 ppm.  Dengan demikian, filtrasi Fe yang paling baik untuk sampel air selokan Mataram adalah menggunakan material MSC berbahan bambu.This study aims to produce micro-sized carbon (MSC) materials from coconut shell, bamboo, and rice straw via ultrasonication in liquid-phase. The MSCs obtained are utilized as iron (Fe) filtration for Mataram canal water. The Fe content of the water samples after filtration using the three MSC materials are compared based on atomic absorption spectroscopy (AAS). In this study, the ultrasonication and simple filtration apparatuses are self-custom made. The results of this study indicate that Fe content has decreased after filtration treatments. The Fe content of the Mataram canal water sample before filtration is 0.9039 ppm, but after filtration using coconut shell, bamboo, and rice straw carbon materials the Fe content becomes 0.0439 ppm, 0.0430 ppm and 0.0671 ppm, respectively. Thus, the best Fe filtration for Mataram canal water sample is using MSC material from bamboo.
Potensi Eugenol Sebagai Agen Proteksi Kerusakan Struktur Paru Akibat Paparan Asap Rokok
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 41, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v41i2.16748

Abstract

Asap rokok mengandung senyawa radikal bebas tidak stabil yang menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif berhubungan dengan respon inflamasi yang menjadi awal dari ppok. Eugenol adalah senyawa aktif yang terkandung pada minyak cengkeh. Eugenol merupakan antioksidan eksogen yang mampu menetralisir radikal bebas sehingga dapat dijadikan agen proteksi kerusakan akibat paparan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi potensi eugenol sebagai agen proteksi pada kerusakan paru tikus akibat paparan asap rokok. Sampel 25 tikus dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok A0 dan A1 masing-masing adalah kelompok kontrol negatif dan positif. Kelompok A2, A3, A4 adalah kelompok perlakuan dengan minyak cengkeh berturut-turut dosis 23mg; 33mg; dan 43 mg/200g BB. Semua kelompok kecuali kontrol negatif, dipapar dengan asap rokok 2×15 menit. Perlakuan selama 33 hari. Spesimen paru kanan dibuat preparat histologi dengan pewarnaan HE. Data berupa perbandingan derajat kerusakan paru pada masing-masing kelompok dianalisis dengan Kruskal-Wallis dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak cengkeh dengan kandungan senyawa aktif eugenol berpotensi sebagai agen proteksi pada kerusakaan paru tikus akibat paparan asap rokok dengan dosis efektif sebesar 23 mg/200g BB.Cigarette smoke contains unstable free radical compounds that can cause oxidative stress. Oxidative stress related to inflammation respons that can lead of COPD. Eugenol is an active compound contained in clove oil. Eugenol is an exogenous antioxidant that can neutralize free radicals so that it can be used as a protective agent of damage due to exposure to free radicals. The purpose of this research is to analyze the potential of eugenol as a protective agent in rat lung damage due to exposure to cigarette smoke. Samples of 25 rats were divided into five groups. Groups A0 and A1 are negative and positive control. Group A2, A3, A4 are a group treated with clove oil at a dose of 23 mg; 33mg; and 43 mg / 200g BB. All groups except negative controls were exposed to cigarette smoke 2x15 minutes. Treatment for 33 days. The right lung specimen was made histological preparations with the HE method. Data in the form of a comparison of the degree of lung damage in each group were analyzed by Kruskal wallis and Mann Whitney. he results showed that clove oil with the active ingredient eugenol had the potential to be a protective agent for lung damage due to exposure to cigarette smoke with an effective dose of 23 mg/200g BB.
MODEL VOLATILITAS ARCH(1) DENGAN RETURN ERROR BERDISTRIBUSI SKEWED STUDENT-T
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 39, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v39i1.7707

Abstract

Model volatilitas Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH)lag 1, dimana return error berdistribusi skewed Student-t, diaplikasikan untuk runtun waktu return kurs beli harian Euro (EUR) dan Japanese Yen (JPY) terhadap Indonesian Rupiah (IDR) dari Januari 2009 sampai Desember 2014. Metode indepence chain Metropolis-Hastings (IC-MH) yang efisien dibangun dalam algoritmaMarkov Chain Monte Carlo (MCMC) untuk memperbarui nilai-nilai parameter dalam model yang tidak bisa dibangkitkan secara langsung dari distribusi posterior. Meskipun 95% interval highest posterior density dari parameter skewness memuat nol untuk semua data pengamatan, tetapi sebagian besar distribusi posteriornya berada di daerah negatif, yang mengindikasikan dukungan terhadap distribusiskewed Student-t. Selain itu diperoleh nilai derajat kebebasan disekitar 15 dan 18, yang mengindikasikan dukungan terhadap heavy-tailedness.Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (ARCH) volatility model of lag 1, where return error has a skewed Student-t distribution,  for the buying rate Euro (EUR) and Japanese Yen (JPY) to Indonesian Rupiah (IDR) from January 2009 to December 2014,. An efficient independence chain Metropolis-Hastings (IC-MH) method is developed in an algorithm Markov Chain Monte Carlo (MCMC) to update the parameters of the model that could not be sampled directly from their posterior distributions. Although 95% highest posterior density interval from skewness parameter contains zero for all the data, most of the posterior distribution located in the negative area, indicating support for the skewed Student-t distribution into the return error. Furthermore the value of degrees of freedom is found around 15 and 18, indicating support for the heavy-tailedness.
MODEL SEIR UNTUK EPIDEMI FLU BABI PADA POPULASI BABI DENGAN LAJU KONTAK JENUH
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 35, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v35i1.2100

Abstract

Babi merupakan inang alami dari virus influensa yang secara anatomis, fisiologis, dan imunitas mirip (similar) dengan yang ada pada manusia. Virus influenza subtipe A yang ada pada manusia yaitu H1N1, H3N2 dan H1N2 merupakan enzootic pada populasi babi di dunia. babi dapat terinfeksi oleh turunan-turunan virus influenza tipe A dari manusia maupun dari burung dan dalam hal ini dianggap sebagai inang sementara (Intermediate hosts) dari turunan-turunan virus flu babi yang berpotensi menyebabkan epidemi bahkan pandemi. Evolusi antigenik dari virus influenza pada babi terjadi dengan laju sekitar 6 kali lebih lambat dibandingkan dengan virus influenza pada manusia. Dalam tulisan ini akan dikaji model matematika untuk epidemi flu babi pada populasi babi. Model yang diberikan merupakan model deterministik dengan laju kontak jenuh yang merupakan perumuman dari laju kontak standar. Perumuman ini dinyatakan dengan adanya probabilitas suatu individu melakukan kontak yang dinyatakan sebagai suatu fungsi dari populasi. Pengkajian yang dilakukan meliputi penentuan titik ekuilibrium model matematika dan analisa kestabilannya. Diharapkan hasil kajian ini dapat bermanfaat dalam penanggulangan wabah flu babi pada sumber utama yaitu populasi babi sehingga dapat dilakukan pencegahan sebelum mewabah di populasi manusia. Pigs are a natural host of influenza virus that are similar anatomically, physiologically, and immunity which in humans. Influenza viruses of A subtype in humans are H1N1, H3N2 and H1N2. They are enzootic in the swine population in the world. Pigs can be infected by strains of type A influenza viruses from humans or from birds. Pigs are considered as a temporary host (intermediate hosts) of the derivatives of the swine flu virus that has the potential to cause epidemics and even pandemics. Antigenic evolution of influenza viruses in pigs occurred at rate about 6 times slower than the influenza viruses in humans. In this paper the mathematical model will be assessed for swine flu epidemic in pig populations. The model provided a deterministic model with saturated contact rate which is a generalization of the standard contact rate. This generalization is expressed by the probability of an individual contact that is expressed as a function of population. In this paper, it will be analyzed the equilibrium point of mathematical models and their stability.
Aktivitas Antibakteri Kombinasi Temu Putih dan Temulawak terhadap Streptococcus Mutans
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 40, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v40i1.12478

Abstract

Temu putih (Curcuma zedoaria) dan temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek antibakteri ekstrak tunggal dan kombinasi temu putih dan temulawak terhadap Streptococcus mutans. Perbandingan temu putih dan temulawak yang digunakan dalam larutan sampel kombinasi ekstrak adalah 1:1, 1:3, 3:1, dengan konsentrasi 5/10 dan 10/10 (b/v). Metode penelitian yang dilakukan dimulai dengan maserasi menggunakan pelarut n-heksan dan etanol 70% kemudian dilakukan uji fitokimia, dan pengujian karakteristik ekstrak menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectroscopy (GC-MS), selanjutnya dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol temu putih dan temulawak mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tannin. Karakterisasi menggunakan GC-MS ekstrak temu putih dan temulawak didapatkan 3 senyawa aktif utama yang memiliki aktivitas antibakteri yakni germacrone, α-curcumene, dan zingiberene. Ekstrak tunggal temu putih memiliki daya antibakteri yang paling baik diantara sampel lainnya. Kombinasi ekstrak temu putih dan temulawak tidak memiliki efek antibakteri yang lebih baik dari ekstrak tunggalnya.White Turmeric and Curcuma are worthwhile plant because the secondary metabolic compound in it that have antimicrobial effect. This research aims to find the effect of single extract antibacterial and combination of white turmeric and curcuma towards Streptococcus mutans. Ratio of white turmeric and curcuma which are used in the solvent sample of combination extract are 1:1, 1:3, 3:1, with concentration 5/10 and 10/10 (b/v). Method of the study is started with maceration using solvent n-Hexane and ethanol, then phytochemical check. The extract characteristic check is usedGas Chromatography-Mass Spectroscopy(GC-MS), after that antibacterial activity test towards Streptococcus mutans is done by diffusion disk method. The result of the study shows that white turmeric and curcuma ethanol extract contains flavonoid, saponin, and tannin. Characterization of white turmeric extract using GC-MS shows 3 top compounds that have antibacterial effect; germacrone, α-curcumene, and zingiberene. Single extract white turmeric has finest antibacterial capacity. On the other side, combination of white turmeric and curcuma extract does not have better effect than the single extract.
RESPON PEMBENTUKAN KALUS KORO BENGUK (MUCUNA PRURIENS L.) PADA BERBAGAI KONSENTRASI 2,4-D DAN BAP
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 39, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v39i1.7695

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi 2,4-dichlorophenoxy acetic acid (2,4-D) dan benzylamino purin (BAP) optimal dalam pembentukan kalus dari eksplan setengah biji koro benguk (Mucuna pruriens L.). Rancangan penelitian yang digunakan ialah rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yaitu konsentrasi 2,4-D (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) dan BAP (1 ppm, 2 ppm, 3 ppm) untuk induksi kalus. Hasil induksi dipindahkan pada media MS0, kemudian dilanjutkan pada media MS yang ditambah BAP, IBA, GA. Parameter yang diamati adalah waktu terbentuk kalus, persentase eksplan berkalus, berat kalus per eksplan, warna dan tekstur kalus. Pada tahap induksi kalus, BAP 3 mg/l menyebabkan pertumbuhan kalus terberat dibandingkan konsentrasi lainnya. Sementara pada tahap diferensiasi, konsentrasi BAP 3 ppm dan 2,4-D 1 ppm merupakan konsentrasi yang mengakibatkan persentase kalus sehat tertinggi. Perlakuan 2,4-D 1 ppm dan BAP 3 ppm menghasilkan kalus putih transparan, kompak, dan berat kalus tertinggi (0,49 gram). Konsentrasi tersebut merupakan konsentrasi yang disarankan untuk menumbuhkan kalus koro bengukThis research aimed to determine the optimal concentration of 2,4-D and BAP in callus formation from an explant of half seed Mucuna pruriens. The research design was used completely randomized design with two factors: the concentration of 2,4-D (0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, 2 ppm)  and BAP (1 ppm, 2 ppm, and 3 ppm) for callus inductions. The induction result is moved to MS0 medium, then continued to MS medium which was added by BAP, IBA, GA. The measured parameters were: callus formation time, the percentage of callus explants, the weight of callus for each explants, color and texture of callus. During induction phase BAP 3 ppm caused the heaviest callus growth than others, meanwhile in differentiation phase BAP 3 ppm and 2,4-D 1 ppm caused the highest percentage of healthy callus. Treatment of 2,4-D 1 ppm and BAP 3 ppm produced white and compact transparent callus with weight 0.49 grams. This concentration was recommended to grow the M. pruriens callus.
FITOREMEDIASI KADMIUM (CD) PADA LEACHATE MENGGUNAKAN KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica Forsk.) (STUDI KASUS TPA JATIBARANG)
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 38, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v38i1.5481

Abstract

Leachate TPA Jatibarang yang tercemar kadmium (Cd) kemungkinan dapat dibersihkan secara fitoremediasi menggunakan kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan kangkung air sebagai fitoremediator dalam menyerap Cd dalam leachate TPA Jatibarang. Sebelum penelitian, dilakukan uji pendahuluan kandungan Cd dalam leachate maupun dalam kangkung air. Kangkung diaklimatisasi dalam air bersih selama 3 hari, selanjutnya ditimbang seberat 300 gram kemudian diletakkan ke dalam ember berisi 10 L leachate. Sampel leachate dan organ tanaman diambil setiap 2 hari sekali (2 hari, 4 hari, 6 hari, dan 8 hari). Faktor intensitas cahaya diambil setiap hari pada pukul 08.00-09.00 WIB menggunakan lux meter, sedangkan nilai pH dan suhu leachate diukur menggunakan kertas indikator pH dan termometer sebelum dan sesudah perlakuan. Perameter yang diamati adalah akumulasi Cd dalam akar, batang, dan daun kangkung air pada masing-masing lama waktu pananaman. Akumulasi Cd diukur dengan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Data penyerapan Cd dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu kangkung air ditanam dalam leachate berpengaruh terhadap akumulasi Cd pada tanaman. Penyerapan Cd oleh kangkung air mencapai jenuh pada hari ke-8 dengan total penyerapan 0,052 ppm. Akumulasi Cd paling besar pada akar kangkung yaitu 0,023 ppm.Cadmium (Cd) that contained in TPA Jatibarang’s leachate can be cleaned by phytoremediation using water spinach (Ipomoea aquatica Forsk.). This research aimed to determine the ability of the water spinach as a fitoremediator in adsorb cadmium (Cd) that contained in TPA Jatibarang’s leachate. The research was conducted by using a randomized completely design (RCD) factorial, with longer treatment planted time in leachate water spinach was 0 day, 2 days, 4 days, 6 days, and 8 days respectively. The observed parameters of Cd accumulation in roots, stems, and leaves of water spinach in each long exposure time, as well as temperature, pH, and light intensity in research location. Analyses of Cd accumulation was AAS (Atomic Absorption Spectrofotometry). Data analyzed using Anova and then a LSD with significance level 95%. The results showed that the duration of the water spinach planted in leachate effect on Cd accumulation in plant. The adsorption of Cd in water spinach was reached the saturation at 8th days with a total adsorption 0.052 ppm. The greatest Cd accumulation in plant organs water spinach was in root that is 0.023 ppm.
PEMODELAN TOTALLY ASYMMETRIC EXCLUSION PROCESS DUA DIMENSI UNTUK LALU LINTAS KENDARAAN PADA PERTIGAAN JALAN YANG SEARAH
Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences Vol 36, No 2 (2013): October 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijmns.v36i2.2973

Abstract

Abstrak __________________________________________________________________________________________ Penelitian ini mengkaji model dinamik yaitu Totally Asymmetric Exclusion Process (TASEP) khususnya dalam dua dimensi (2D). Selain itu akan dibahas pula mengenai syarat batas dan aturan dinamika yang digunakan dalam pemodelan ini. TASEP telah diaplikasikan dalam berbagai bidang, salah satunya ialah pemodelan lalu lintas kendaraan (traffic flow). Sistem dua dimensi yang akan dikaji adalah sistem yang diskrit, yakni sistem ke kisi dua dimensi. Sistem ini dimodifikasi menjadi bentuk pertigaan (junction) yang searah. Lebih jauh lagi, kendaraan yang melalui pertigaan dimodelkan sebagai partikel yang melompat dari satu kisi ke ke kisi yang lain. Nilai kepadatan dan rapat arus partikel dalam sistem tersebut ditentukan secara numerik. Persamaan kontinuitas untuk menggambarkan dinamika partikel dalam TASEP diselesaikan menggunakan metode Euler. Profil kepadatan dan rapat arus partikel dipengaruhi oleh laju masukan (input rate) dan laju keluaran (output rate) lompatan partikel.   Abstract __________________________________________________________________________________________ The research analyzed a dynamic model of Totally Asymmetric Exclusion Process (TASEP), especially in two dimensions (2D) and  also the boundary and rules dynamic conditions  used in this modeling. TASEP has been applied in various fields, one of them is the modeling of vehicle traffic. Two-dimensional system that will be studied is the discrete system of two-dimensional lattice system. The system is modified into the form of unidirectional T-junction . Furthermore, the vehicles that pass the junction are modeled as particles that jump from one lattice to another lattice. The value of the density and current density of particles in the system is determined numerically. The continuity equation to describe the dynamics of particles in TASEP is solved by using Euler's method. The profiles of particle density and current density are influenced by the rate of input and output rate of particle jumps.