cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
PERGESERAN PERAN DAN FUNGSI ALUN-ALUN KALIWUNGU SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK Indrianingrum, Lulut; Azizah, Anis Nur; Prasetya, Gilang Eko; Hidayah, Nurul
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v17i1.6887

Abstract

The existence of the square Kaliwungu very far from the characteristics of such a square. Not only the shape, but the function of the square has also shifted away. Although the existence as public space  was still visible in the morning, but it the afternoon until evening, the square transformed into market. The function of the square as a public open space has been dominated as economic functions. From time to time the role of the square undergone many changes since the days of pre-colonial, colonial, post-colonial and current period. Changes in the role and function of the square as a public open space Kaliwungu basically occurs when the policy was issued regarding the transfer function around the market square into the parking lot of the mosque. It shows that the square as the center of the city has a strategic location that can not be separated from economic activities.Keberadaan alun-alun Kaliwungu sangat jauh dari karakteristik sebuah alun-alun tersebut. Tidak hanya bentuknya, tapi fungsi alun-alun juga sudah bergeser jauh. Walaupun pada pagi hari masih nampak keberadaannya, namun coba kita lihat pada sore hingga malam hari, alun-alun Kaliwungu berubah total menjadi pasar sore kaliwungu. Fungsi alun-alun sebagai ruang terbuka publik telah terdominasi sebagai fungsi ekonomi. Dari waktu ke waktu peran alun-alun mengalami banyak perubahan sejak zaman pra kolonial, kolonial, pasca kolonial dan masa saat ini. Perubahan peran dan fungsi alun-alun Kaliwungu sebagai ruang terbuka publik yang paling mendasar terjadi saat dikeluarkan kebijakan mengenai pengalihan fungsi pasar disekitar alun-alun menjadi tempat parkir masjid. Hal tersebut menunjukan bahwa alun-alun sebagai pusat kota memiliki letak strategis yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan ekonomis.
ANALISA PENGEMBANGAN POTENSI DESA KANDRI SEBAGAI PUSAT KULINER SINGKONG DI SEMARANG Setyowati, Wiwit; Indrianingrum, Lulut; Banowati, Eva
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v14i1.7100

Abstract

Kandri Village is one of villages in Gunungpati district that known as various types of processed cassava. The potential of rural areas strongly support to be developed into  culinary center because near with Kreo Caves tourism and the construction of reservoirs that would also potentially become a new tourist area and the existence of Kandri Village adds by traversed path of the tourism Gunungpati district is a potential to be further developed to support tourism in the Semarang city. Its necessary assessment about the development of Kandri Village as a center of cassava culinary in Semarang. Research uses qualitative rationalistic approach. The development Kandri as a center of culinary tape and processed needs to get support from the government and other stakeholders. Society of processed cassava producers tend to look for cassava raw materials from outside Kandri because raw material shortages. Marketing system is limited to orders and culinary exhibits. Manufacturer and distributor of tape at Kandri consists of two types of daily and seasonal. Zone of culinary tape and other located in Talun Kacang and integrated with Kreo Caves tourism and Jatibarang Reservoir.Kelurahan Kandri merupakan salah satu desa di Kecamatan Gunungpati yang terkenal akan berbagai jenis hasil olahan singkongnya. Potensi kawasan desa sangat mendukung untuk dikembangkan lebih jauh menjadi pusat kuliner karena terdapat obyek wisata Gua Kreo dan adanya pembangunan waduk yang nantinya juga berpotensi menjadi area wisata baru serta keberadaan Kelurahan Kandri yang dilalui jalur pergerakan kepariwisataan kecamatan Gunungpati menambah potensi kawasan untuk dikembangkan lebih jauh untuk mendukung kepariwisataan kota Semarang. Pengkajian lebih dalam mengenai pengembangan Kelurahan Kandri sebagai pusat kuliner singkong di Semarang perlu dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif Rasionalistik. Pengembangan Kandri sebagai pusat kuliner tape dan olahannya perlu mendapatkan dukungan pemerintah dan stakeholder lain. Masyarakat produsen olahan singkong cenderung mencari bahan baku singkong dari luar Kandri karena keterbatasan bahan baku. Sistem pemasaran masih terbatas pada pesanan dan pameran kuliner. Produsen dan distributor tape di Kandri terdiri dari dua jenis yaitu harian dan musiman. Mintakat kawasan sentra kuliner tape dan olahannya terletak di kawasan Talun Kacang dan terintegrasi dengan kawasan pariwisata Goa Kreo dan Waduk Jatibarang.
Pengaruh Penambahan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis L.F.) pada Mortar Semen Ditinjau Dari Kuat Tekan dan Daya Serap Air Suroso, Hery
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v8i2.20152

Abstract

Abstract: Due to the fact that the price of materials of  building becomes more expensive,  while the larger waste of industrial foresty can not be used optimally yet,  thus it is  necessary to make a research in terms the use of waste process of forestry industries,  especially waste of saw dust as content material in cement mortar.  It is expected to obtion benefits such as increasing additional and  useful  values of material, diversity  of  constructional  material  types, promoting  material existence and much less  overcoming negative effect  wood industrial  waste.  Cement mortar with mixture  of saw dust relatively has low heat and electrical conductivity,  has isolator characteristic and good acoustic, so this material is compatible for soundproof  room.  In this research, morlar was made from Muntilan sand,  Nusantara  Cement type I and Teak wood dust (Tectona Grandis L.F.) which  comes  from  saw  wood industries in Sarip  village's, subdistrict  in Wirosari, Grobogan Regency, Purwodadi. Object experiment that already has made from this research shape is cube, size of 50X50X50 mm3. The result shows that spread values in the field was 95% - 103.5% with w/c value which  resulted  (from  0%-20% saw dust to the weight of sand and weight of cement) continued between 1.05- 1.10.  The decreasing of stress mortar cement is subtitute weight of  sand from 0% up to 20% saw dust, from 128. 740 kg/cm2 becomes 15. 279 kg/cm2, while the stress mortar cement is substitute with weight of cement from 0% up to 20% saw dust from  113.84 kg/cm2 becomes 45. 070kglcm2. The  increasing  water absorption mortar cement is  substitute  weight  of sand from 0% up to 20% saw dust from 9.569% becomes 46.481% while water absorption mortar cement is  substitute weight of cement from  0% up to  20% saw dust  from  11.013%  becomes 16.015%.Abstrak: Melihat kenyataan bahwa semakin mahalnya harga bangunan, sementara limbah industri kehutanan yang begitu besar belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, maka perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan masalah pemanfaatan limbah industri kehutanan, khususnya limbah serbuk gergaji sebagai isian pada mortarv semen. Dengan pemanfaatan tersebut diharapkan diperoleh keuntungan antara lain meningkatkan nilai tambah dan nilai guna bahan, diversifikasi jenis bahan konstruksi, menunjang pengadaan bahan dan sedikit banyak dapat mengatasi dampak negatif limbah industri kayu. Mortar semen dengan bahan campuran serbuk gergaji memiliki daya hantar panas dan listrik yang relatif rendah, mempunyai sifat isolasi dan akustik yang baik sehingga bahan ini cocok untuk ruang kedap suara. Pada penelitian ini mortar dibuat dari pasir Mutilan, Semen Nusantara type 1 dan serbuk gergaji kayu jati (Tectona grandis L.F.) yang didatangkan dari pabrik penggergajian kayu di Desa Sarip Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan, Purwodadi. Benda uji yang dibuat dalam penelitian ini berbentuk kubus dengan ukuran 50X50X50 mm3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sebar dilapangan sebesar 95% - 103% dengan nilai fas yang dihasilkan (dari 0% hingga 20% serbuk gergaji terhadap berat pasir dan berat semen) berturut-turut bernilai antara 1,05 - 1,10. Penurunan nilai kuat tekan mortar semen substitusi berat pasir dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 128,740 kg/cm2 menjadi 15,279 kg/cm2 sedangkan nilai kuat tekan mortar semen substitusi berat semen dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 113,84 kg/cm2 menjadi 455,070 kg/cm2. Peningkatan daya serap air mortar semen substitusi berat pasir dari 0% hingga 20% serbuk gergaji dari 9,569% menjadi 46,481 % sedangkan nilai daya serap air mortar semen substitusi berat semen dari 0% hingga 20 % serbuk gergaji dari 11,013 % menjadi 16,015 %
TIPOLOGI POLA SPASIAL DAN SEGREGASI SOSIAL LINGKUNGAN PERMUKIMAN CANDI BARU Setyohadi K., Bambang
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v9i2.1612

Abstract

Settlement environment asthe receptacle of essence societies life is a produce of people culture materialism. Result of tectonies between culture aspect and built environment that's running as comprehensivly. Candi Baru settlement as receptacle of tectonies above full of people culture element in assuming natural condition. Space structure that's unique with social segregation division (elite, neutral, bottom) to be valuable it's era. Space gradation in concept where in the rear of under line settlement in the pattern of 'Kampung Kota" urban city by structured as organic growth. Squares and street, and mass scattered create special built as strongly in the naturalist. Special patterns mention above forming organizational element and structurals in the typology. The meaning of typology is classifications discription of the availability of type. In the element scope that's discripted for classification are two element; special of environmental communal and special of social segregation. Approaching is done by similarity in special visual in the classification of social segregation.Keywords: typology, special pattern, social segregationLingkungan pemukiman sebagai pewadahan harkat kehidupan masyarakat pada essensinya merupakan produk hasil materialisasi budaya masyarakatnya. Hasil olah tektonika antara aspek budaya (culture) dan lingkungan fisik (built enfirontment) yang berjalan secara komprehensif. Pemukiman Candi Baru sebagai hasil olah tektonika tersebut sarat akan pemaknaan unsur budaya masyarakat dalam menyikapi kondisi naturalnya. Pola struktur ruang kawasan yang spesifik (unique) dengan pembagian segregasi sosial (elit, menengah, bawah) menjadi nilai lebih pada jamannya. Konsepsi gradasi ruang, dimana pada bagian belakang pemukiman kelas menengah ini hidup pemukiman kelas bawah dalam bentuk “kampung kota” dengan struktur yang tumbuh secara organis. Ruang-ruang  terbuka dan jalan (street and square). Serta sebaran tatanan masa membentuk pola spasial yang kuat dalam sosok bentang alamnya. Pola-pola spasial tersebut membentuk elemen organisasional dan struktural ke dalam tipologi. Yang dimaksud dengan tipologi dalam hal ini adalah deskripsi klasifikasi dari tipe yang ada. Adapun lingkup unsur yang di deskripsikan klasifikasinya adalah dua unsur pokok yaitu pola spasial komunal lingkungan dan pola spasial segregasi sosial. Pendekatan dilakukan melalui kesamaan atau ketunggalrupaan visual spasial dalam satu klasifikasi segregasi sosial.Kata Kunci: tipologi, pola spasial, segregasi sosia
IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA SEMARANG Agung Nugradi, Didik Nopianto
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v11i1.6967

Abstract

According to the regulation in Indonesia, Urban Green  Open Space much covered to 30% of  the city area and  20% much be for public space. The aim of this study is for identification Urban Green Open Space in Semarang City. The method is joint for primary data and secondary data. Interview with questioner and observation is for primary data, and mapping  documentary is for secondary data. The result of this study indicate Urban Green Open Space in Semarang City covered   23,146.70 ha or  61.94 %, so this is suitable to the regulation. Further, for Public Green Open Space, there are not suitable to the regulation, because Semarang City has only 1,483.32  ha  or just only 3.97 %. The recommendation is, the Government of Semarang City much increase more Public Green Open Space  for  area   5.990,76  ha, so that covered about 20% city area.  Public Green Open Space could  developed  from Private Green Open Space, because there are many  areas all around Semarang City still under developed. Development of Public Green Open Space in Semarang City  consist of : Urban Forestry, Wayside Trees,  River Green Belt, Beach Green Belt, Public Recreation Area, and Public Park and Square.Berdasarkan ketentuan dari Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ditetapkan luas Ruang Terbuka Hijau (RTH)  adalah sebesar 30% dari luas kota dan 20% dari RTH tersebut harus bersifat publik. Penelitian ini bertujuan  mengidentifikasi  Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang. Metoda yang digunakan  untuk mendapatkan data adalah menggabungkan data primer dari kuesioner, pengukuran lapangan dengan data sekunder yang diperoleh dari dokumen buku dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas RTH di Kota Semarang mencapai 23.146,70 ha atau 61,94 % dari luas kota, ini berarti telah memenuhi ketentuan Undang-undang. Untuk RTH publik, Kota Semarang  belum memenuhi ketentuan, karena RTH publik yang ada hanya seluas 1.483,32  ha atau hanya sebesar 3,97 % dari luas kota. Saran yang diajukan adalah agar Pemerintah Kota Semarang perlu segera  merencanakan penambahan RTH publik sebesar minimal   5.990,76  ha untuk mencapai RTH publik Kota Semarang mencapai 20%. Pengembangan RTH publik dapat dilakukan pada RTH yang semula bersifat privat yang  memiliki luas  relatif besar, yaitu  sebesar  44,7 % dari luas kota. Pengembangan RTH publik ini dapat berupa hutan kota, lapangan bermain, lapangan sepak bola, tempat rekreasi publik dan pemakaman umum. Pengembangan RTH publik juga dapat dilakukan pada sempadan pantai dan sungai, dengan melakukan pengelolaan yang memadai.
Socio-economic transformation of the local community as gentrification’s implication in DKI Jakarta Province Dewi, Santy Paulla
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v19i2.11175

Abstract

Jakarta has a rapid development which attracts newcomers to come and live in. Hereinafter, the newcomers look for the house which in accordance to their income and preferences. They chose inner city kampong for residing and their existence displacing the Betawi people as the local community. The newcomers’ presence led displacement and transformed the neighbourhood. Likewise, they had also influenced in the socio-economic transformation related with education, women worker, community relationship, and lifestyle.  
TIPOLOGI PERUBAHAN FUNGSI LAHAN BANGUNAN DI PERKOTAAN STUDI KASUS PERKEMBANGAN BANGUNAN KOMERSIAL PENGGAL JALAN MONJALI – JALAN ABU BAKAR ALI YOGYAKARTA Mulyandari, Hestin
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v16i2.7223

Abstract

Yogyakarta City area and agglomeration region bordering Sleman Yogyakarta city in the last three years are rapid-rapid growth occurs commercial buildings such as hotels, apartments, shops, cafes, shopping centers, and others, which urged residential or vacant land. This study uses research methods - exploratory study with literature searches and policies related to land-use commercial buildings along the river; distribution of land use survey of commercial buildings in the piece of Monjali Road - Road Abu Bakar Ali, which intersect with the riverbanks Code, which became part of the rear of the large buildings. The study area is the observed distribution of the growth of commercial buildings around the Code River, which is divided into three zones: the northern zone (Prof. Ir. KRMT Wreksodiningrat bridge - Sardjito bridge) as many 9 points, the middle zone (Sardjito bridge - Amarta bridge) as many 10 points, and southern zone (Amarta bridge - Juminahan bridge) as many 9 points. Further analysis of the typology of changes in the function of open land and settlements into another function that is analyzed in three stages (2003, 2010, 2013), with some sampling. Typology of land use change affect the change in shape of the building blocks into a single block as edges or field block or vice versa. Conclusions and suggestions from the results of this study is the principle of development of the area by land use change should be environmentally and humanism with the existing settlements, because the effect on water conservation issues, hence the need for the legality of the planning and construction of the facility, in order not to damage the environment and has harmony with the character of existing neighborhoods.Daerah Kotamadya Yogyakarta dan Aglomerasi Kabupaten Sleman yang berbatasan dengan Kotamadya Yogyakarta dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sedang pesat-pesatnya terjadi pertumbuhan bangunan komersial seperti hotel, apartemen, ruko, kafe, pusat perbelanjaan, dan lain-lain, yang mendesak permukiman dan/ atau lahan kosong. Penelitian ini menggunakan  metode penelitian - eksploratif dengan penelusuran studi literatur dan kebijakan terkait dengan  pemanfaatan lahan bangunan komersial di bantaran sungai; survey sebaran pemanfaatan lahan bangunan komersial pada penggal Jalan monjali – Jalan Abu Bakar Ali, yang bersinggungan dengan bantaran sungai Code, yang menjadi bagian belakang bangunan-bangunan besar tersebut.Wilayah penelitian yang diamati adalah sebaran pertumbuhan bangunan komersial di sekitar Sungai Code, yang dibagi menjadi 3 zona: zona utara (jembatan Prof. Ir.KRMT Wreksodiningrat – jembatan Sardjito) 9 titik, zona tengah (jembatan Sardjito – jembatan Amarta) 10 titik, dan zona selatan (jembatan Amarta – jembatan Juminahan) 9 titik. Selanjutnya dilakukan analisa tipologi perubahan fungsi lahan terbuka/permukiman menjadi fungsi lain yang dianalisa dalam tiga tahap (2003, 2010, 2013), dengan beberapa sampling pada tiga zona tersebut. Tipologi perubahan fungsi lahan mempengaruhi perubahan bentuk bangunan dari Blok Tunggal menjadi blok sebagai Tepi atau Blok Medan maupun sebaliknya. Kesimpulan dan saran dari hasil penelitian ini adalah prinsip pengembangan kawasan dengan perubahan fungsi lahan harus berwawasan lingkungan dan humanis dengan permukiman yang sudah ada, karena berpengaruh pada masalah konservasi air, oleh karena itu perlunya legalitas perencanaan dan pembangunan fasilitas, agar tidak merusak kelestarian lingkungan serta memiliki harmoni dengan karakter lingkungan yang ada.
PENGAWETAN KAYU SENGON MELALUI RENDAMAN DINGIN MENGGUNAKAN BAHAN PENGAWET ENBOR SP DITINJAU TERHADAP SIFAT MEKANIK Pangestuti, Endah Kanti; Lashari, Lashari; Hardomo, Agus
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v18i1.6695

Abstract

The use of wood in construction world continues to increase both for the use of structural and non-structural.  Needs a very large timber impact on the availability of wood shrinks every year as a result of exploitation by large scale. One attempt to extend the service life of wood is the wood preservation. This study aims to determine mechanical properties of wood by soaking sengon due to cold preservation with preservative EnborSP. The method used is the method of experiments carried out in the Laboratory of Materials of Civil Engineering, Faculty of Engineering, State University of Semarang. The preservation process used isa process with a cold soaking method, with a preservative solution EnborSP with a concentration of 0%, 3%, 6% and 9%. The response observed was the value-the value retention of preservatives, and mechanical properties (compressive strength of parallel fiber direction, flexural strength and surface hardness) of wood. Preservation method applied is cold soaking (for 5 days or 120 hours). Average retention value-average increase of 2.57kg/m3 (3%), 4.89kg/m3 (6%), and 6.74kg/m3 (9%). Value - average compressive strength of parallel to the direction of the wood fiber sengon increase of 149.39kg/cm2 (0%), 156.35kg/cm2 (3%), 187.80kg/cm2 (6%), and 216, 44kg/cm2 (9%). Value – average flexural strength sengon increase of 175.36kg/cm2 (0%), 202.55kg/cm2 (3%), 272.64kg/cm2 (6%), and 362.81kg/cm2 (9%). Value – average penetration sengon wood decreased from 0.93cm (0%), 0.67cm (3%), 0.57cm (6%), and 0.43cm (9%). This decrease shows that there is an increase in the value of the wood sengon surface hardness. Salah satu usaha untuk memperpanjang umur pemakaian kayu adalah dengan pengawetan kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik kayu sengon akibat pengawetan secara rendaman dingin dengan bahan pengawet Enbor SP. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Laboratorium Kerja Kayu Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Proses pengawetan yang digunakan adalah proses dengan metode rendaman dingin, dengan larutan bahan pengawet Enbor SP dengan konsentrasi 0 %, 3 %, 6 %, dan 9 %. Respon yang diamati adalah nilai – nilai retensi bahan pengawet dan serta sifat mekanis (kuat tekan tekan sejajar arah serat, kuat  lentur dan kekerasan permukaan) kayu. Metode pengawetan yang diterapkan adalah rendaman dingin (selama 5 hari atau 120 jam). Nilai retensi rata – rata mengalami kenaikan dari 2,57 kg/m3 (3 %), 4,89 kg/m3 (6 %), dan 6,74 kg/m3 (9 %). Nilai rata – rata kekuatan tekan sejajar arah serat kayu sengon mengalami kenaikan dari 149,39 kg/cm2 (0 %), 156,35 kg/cm2 (3 %), 187,80 kg/cm2 (6 %), dan 216,44 kg/cm2 (9 %). Nilai rata – rata kekuatan lentur kayu sengon mengalami kenaikan dari 175,36 kg/cm2 (0 %), 202,55 kg/cm2 (3 %), 272,64 kg/cm2 (6 %), dan 362,81 kg/cm2 (9%). Nilai rata – rata penembusan kayu sengon menurun dari 0,93 cm (0 %), 0,67 cm (3 %), 0,57 cm (6 %), dan 0,43 cm (9 %). Penurunan ini memperlihatkan bahwa ada peningkatan nilai kekerasan permukaan kayu sengon.
ANALISA GRADASI AGREGAT CAMPURAN PASIR PANTAI DAN PASIR LOKAL SEBAGAI BAHAN BETON KEDAP AIR DAN BETON NORMAL Suroso, Hery
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v14i2.7091

Abstract

The use of beach sand as concrete material has not been done in Indonesia, it is necessary to further research. The problem is how the material properties, characteristics of the mix aggregate and aggregate characteristics as a watertight concrete and normal concrete. Types of experimental studies. Variable is the ratio of Sand Beach, Local Sand and gravel. Methods of data collection using the method of measurement or test the experimental design. Methods of analysis by means of data processing test results.From the research, all the material properties used as a safe aggregate concrete. Characteristics of beach sand grains are refined, somewhat coarse grained Local Sand and gravel aggregate grain Pudak Umbrella maximum 20mm. For normal concrete, the comparison of mixed sand beach Tegal, Kali Gung and Gravel Pudak Umbrella 10%: 30%: 60%. Pemalang beach sand, and gravel Pudak Kali Gung Umbrella 10%: 30%: 60%, Sand Beach Rod, and the Pebbles Pudak Kaliboyo Umbrella 10%: 15%: 70%. Jepara beach sand, and gravel Pudak Muntilan Umbrella 7%: 26%: 67%. Apex beach sand, and gravel Pudak Cepu umbrella not the comparison that go into default. For concrete waterproof concrete assuming weight 2300 kg, fas 0.4, 10% sand beach Tegal: 20% Kali Gung: 70% Gravel Umbrellas Pudak 206.72 kg minimum weight of cement, 10% sand beach Pemalang: 30% Kali Gung: 60% Gravel umbrellas Pudak 219.67 kg, 1% Sand Beach Rod: 30% Kaliboyo: 69% Gravel umbrellas Pudak 202.14 kg, 7% Sand Beach Jepara: 26% Muntilan: 67% Gravel umbrellas Pudak 235.38 kg, 10% sand Apex Beach: 20% Cepu: 70% Gravel umbrellas Pudak 176.81 kg. From the results of the study concluded that beach sand can be used as normal concrete and concrete watertight, but gradation need to be tested repeatedly in order to obtain gradation into a predefined limit.Penggunaan Pasir Pantai sebagai bahan beton belum banyak dilakukan di Indonesia, untuk itu perlu penelitian lebih lanjut. Permasalahannya adalah bagaimanakah sifat-sifat material, karakteristik agregat campuran dan karakteristik agregat sebagai bahan beton kedap air dan beton normal. Jenis penelitian eksperimen. Variabelnya adalah perbandingan Pasir Pantai, Pasir Lokal dan kerikil. Metode pengumpulan data menggunakan metode pengukuran atau tes pada rancangan eksperimen. Metode analisis dengan cara pengolahan data hasil pengujian.Dari hasil penelitian, sifat-sifat material semua agregat aman dipakai sebagai bahan beton. Karakteristik Pasir Pantai butirannya terlalu halus, Pasir Lokal berbutir agak kasar dan kerikil Pudak Payung butir agregatnya maksimal 20mm. Untuk beton normal, diperoleh perbandingan campuran Pasir Pantai Tegal, Kali Gung dan Kerikil Pudak Payung 10%:30%:60%. Pasir Pantai Pemalang, Kali Gung dan Kerikil Pudak Payung 10%:30%:60%, Pasir Pantai Batang, Kaliboyo dan Kerikil Pudak Payung 10%:15%:70%. Pasir Pantai Jepara,Muntilan dan Kerikil Pudak Payung 7%:26%:67%. Pasir Pantai Rembang, Cepu dan Kerikil Pudak payung tidak diperoleh perbandingan yang masuk ke dalam standar. Untuk beton kedap air dengan asumsi berat beton 2300 kg, fas 0,4, 10% Pasir Pantai Tegal:20%Kali Gung:70%Kerikil Pudak Payung berat semen minimal 206,72kg, 10% Pasir Pantai Pemalang:30% Kali Gung:60%Kerikil Pudak Payung 219,67kg, 1% Pasir Pantai Batang:30% Kaliboyo:69% Kerikil Pudak Payung 202,14kg, 7% Pasir Pantai Jepara:26%Muntilan:67% Kerikil Pudak Payung 235,38kg, 10% Pasir Pantai Rembang:20% Cepu:70% Kerikil Pudak Payung 176,81kg. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pasir pantai dapat digunakan sebagai bahan beton normal dan beton kedap air, namun gradasinya perlu diuji secara berulang agar didapatkan gradasi yang masuk kedalam batas yang sudah ditetapkan.
The Implication of Studentification To Community’s Physical And Social Economicaspects In Tembalang Higher Education Area Dewi, Santy Paulla; Ristianti, Novia Sari
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v21i1.19027

Abstract

Abstract. Studentification is a neighbourhood changes caused by the students’ presence in the permanent settlement then influence the area; students accomodation supply and community’s social economic aspects. This research revealed the influence of studentification in Tembalang higher education area to the physical and social economic aspects. Qualitative research method was used to explain more about the studentification influence and the Tembalang development trend. Interview conducted to some key figures in the community such as Lurah, community leaders, and students to find out their perception regarding the neighbourhood transformation. Based on analysis, it showed that studentification emerged since the Pleburan campus moved to Tembalang campus which students accomodation demand increased significantly. Moreover, the studentification influences seen from the increasing of land price, land use conversion, and students’ life style that affected the community’s job-shifting. However, the development of Tembalang higher education area still on the track based on the guidance and spatial pattern structure recommendation of Semarang Spatial Plan 2011-2030.

Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 1 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue