cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Sekaran, Gunungpati, Semarang, Central Java, Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lembaran Ilmu Kependidikan
ISSN : -     EISSN : 02160847     DOI : 10.15294/lik
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 29 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 1 (2013)" : 29 Documents clear
Pengembangan Model Instrumen Asesmen Pencapaian Perkembangan Fisik Motorik Anak pada Taman Kanak-Kanak -, Utsman
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1)  mendeskripsikan  model  instrumen asesmen  yang digunakan oleh guru untuk mendeteksi pencapaian perkembangan fisik motorik anak usia dini pada Taman Kanak-Kanak (TK), (2)  mengembangkan  instrumen asesmen   pencapaian perkembangan fisik motorik anak usia dini di  TK  yang   kreteria valid, reliabel,  dan goodness of  fit statistic. Penelitian ini menggunakan model Research and Development dari  Plomp sebagai berikut, yaitu: (1) mengkaji  teori, hasil penelitian, dan instrumen asesmen  yang digunakan  guru, (2) mendesain konstruks,  indikator, deskriptor,  item instrumen, menetapkan  skor, dan pedoman penggunaan instrumen. (3)   validasi  keterbacaan instrumen,  validasi  expert, dan validasi dengan focus group discussion. (4)   uji  empirik  dengan  menggunakan subjek coba   anak Taman Kanak-Kanak, dan (5) mensosiaalisaikan  model. Hasilnya menunjukkan: (1) Ada tiga model instrumen asesmen yang digunakan guru TK, yaitu  model isntrumen asesmen berbasis kompetensi, berbasis perkembangan anak, dan berbasis semester, (2)  Instrumen asesmen pencapaian perkembangan fisik motorik  anak usia dini  adalah  valid, reliabel, dan goodness of  fit statistic karena  faktor loading item terkecil adalah, 0,830 (>0,50), koefisiensi reliabilitas Cronbach’s Alpha terkecil 0,946 (α>0,70), P-value  >0,05 dan  root mean square error of approximation (RMSEA) < 0,05. The objectives of this research : (1) to describe  the achievement assessment instrument of early childhood   psychomotor development    used by teachers  at  kindergarten, (2) to develop an assessment instrument for achievement of    psychomotoric development  of early childhood at kindergartens which meet the criteria of validity, reliability, and goodness of fit  statistic. This research is Reserach Devolepment as follows: (1) reviewing  the theory, research, and assessment instruments used by teachers, (2) construct design, indicators, descriptors, item instrument, set score, and guidelines for the use of the instrument. (3) validation of the instrument legibility,   expert validity, and by focus group discussion. (4) using the empirical test subject trying to kindergarten children, and (5) disseminate the model. The results show: (1) There are three models of the instruments used kindergarten teacher, that are: the competency-based model, based on a child’s development, and the semester-based, (2) assessment instrument attainment of physical motor development of early childhood is valid, reliable, and goodness of fit statistic because it is the smallest factor loading items, 0.830 (> 0.50), Cronbach’s Alpha reliability coefficient of 0.946 smallest (α> 0.70), P-value> 0.05 and root mean square error of approximation (RMSEA) <0.05.
PENGELOLAAN KELAS UNGGULAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAM Baedi, Mohammad
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengelolaan kelas unggulan di SMP Negeri 2 Kramat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus.  Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa perencanaan  pengelolaan kelas unggulan di SMP N 2 Kramat dengan menerapkan  beberapa  langkah, yaitu: pertama,  merumuskan  visi, misi dan  tujuan  sekolah; kedua, membentuk kepanitiaan, ketiga, proses perumusan; dan keempat, penetapan perencanaan, 2) Pengorganisasian pengelolaan kelas unggulan dibentuk kepantiaan 3) Pelaksanaan pengelolaan kelas unggulan dibentuk merencanakan kebutuhan kelas unggulan dan 4) Evaluasi yang  digunakan dalam pengelolaan kelas unggulan yaitu dengan menggunakan  analisis SWOT. The purposes of this study to know and analysis intensive class management at SMP N 2 Kramat. This research used the qualitative method with research strategy of studying case. The method of gathering the data were done by interview, observation, dan studying the document. The result shows that intensive class management planning at SMP N 2 Kramat, were implementing some steps, as follows 1) formulating vision, mission and school target, 2) forming comitee, 3) formulating process, and 4) planning strategy. 2) Organizing for intensive class management is making committee,3) Actuating for intensive class management was intensive class needs planning, and 4) evaluating for  intensive class management used SWOT analysis.
TINGKAT KESULITAN PARTIKEL DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG BAGI PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS Rosliyah, Yuyun
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa sulit soal tes partikel dalam kalimat bahasa Jepang yang diberikan pada mahasiswa di Jurusan bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang. Dari hasil penyekoran diperoleh hasil  mahasiswa kelompok atas dan kelompok bawah masing-masing berjumlah 18 mahasiswa. Hasil tes menunjukkan, menunjukkan tingkat kesulitan soal tes terdiri dari tiga kategori, yakni sangat mudah, mudah, dan cukup mudah. Sedangkan butir soal dengan kategori sulit dan sangat sulit tidak ditemukan dalam data penelitian ini. Dengn demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan partikel di dalam tes termasuk dalam kategori tidak sulit. This study aims to determine how difficult about the test particles in a Japanese sentence given to the students in the English Department of Semarang State University. After the test, scoring sorted by highest score to lowest score, then get the upper and lower groups of students 18 students of each. Resulting from the test, the difficulty level of test consists of three categories: very easy, easy, and pretty easy. While the item about the difficult and very difficult categories is not found in the data of this study. It can be concluded that the use of particles in the test for students in the English Department are grouped into the category not difficult
MODEL PEMBINAAN GURU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PASCA SERTIFIKASI DI KOTA SEMARANG -, Ngabiyanto
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pembinaan profesionalisme guru pasca sertifikasi guru dalam jabatan dan model pembinaannya. Metode penelitian adalah research and development (R&D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi guru PKn SMP/SMA/SMK Negeri di Kota Semarang memiliki katagori penilaian bervariatif dalam ke empat aspek kompetensi, mulai dari nilai tinggi hingga nilai rendah. Ke empat kompetensi itu adalah: (1) kompetensi paedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesiaonal. Simpulan penelitian menyatakan bahwa guru Pendidikan Kewarganegaraan meskipun telah memperoleh sertifikasi sebagai tanda keprofesionalannya, namun masih terdapat kompetensi yang heterogen dan tidak semua kompetensi tinggi nilainya. This study aimed to gain insight into the professionalism of teachers coaching post-certification of teachers and models of supporting them. The research method is a research and development (R & D). The results showed that the Civics teacher competence SMP / SMA / SMK Negeri Semarang city has varied assessment category in the four aspects of competence, ranging from high value to low value. The four competencies are: (1) paedagogik competence, (2) personal competence, (3) social competence, and (4) competence profesiaonal. Conclusion The study shows that although the Citizenship Education teachers have obtained certification as a sign of professionalism, but there are a heterogeneous competencies and not all competencies highly valued.
GAME EDUKASI BAHASA INGGRIS DENGAN INPUT SUARA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAGI SISWA SMP/MTs Wibawanto, Wandah
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompetensi bahasa adalah model yang mempersiapkan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa fungsional. Permasalahan yang muncul adalah metode pembelajaran, penyelenggara pendidikan dan kemampuan pengalihan siswa. Dari permasalahan tersebut maka kompetensi bahasa Inggris tujuan dapat dicapai tetapi belum optimal. Game pendidikan sebagai bentuk media pembelajaran memiliki konten yang secara tidak langsung dapat mengambil pemain ke dalam proses komunikasi. Desain game pendidikan dengan menggunakan pendekatan wacana kompetensi menampilkan representasi dari kondisi sosial di dunia nyata dan kemudian diadaptasi dalam bentuk virtual. Dengan menggunakan input suara sebagai pengendali utama, pemain diharapkan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi mereka, termasuk mendengar, berbicara, dan membaca dalam konteks sosio-kultural seperti yang ditunjukkan dalam permainan. Language competence is a model that prepares students to communicate with the functional language. The problems that arise are the methods of learning, education providers and the ability diversion of the students. From these problems then the objective English language competence can be achieved but not yet optimal. Educational games as a form of learning media have a content that may indirectly take the players into a communication process. The design of educational games using discourse competence approach displays representations of social conditions in the real world and then adapted in virtual form. By using sound input as main controllers, players are expected to improve their communication skills, include listening, speaking, and reading in the socio-cultural context as shown in the game.
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS VII E SMP NEGERI 3 BATANG -, Eminingsih
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas belajar siswa kelas VII E di SMP Negeri 3 Batang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan dua kali siklus tindakan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII E SMP Negeri 3 Batang sebanyak 40 siswa terdiri atas 19 siswa putra dan 21 siswa putri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  hasil belajar siswa pada akhir siklus mengalami peningkatan 95%, sedangkan aktifitas belajar siswa mengalami peningkatan hingga 94%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas belajar siswa pada mata pelajaran matematika khususnya siswa kelas VII E di SMP Negeri 3 Batang tahun pelajaran 2009/2010. This study aimed to determine whether the type STAD cooperative learning model to improve learning outcomes and learning activities in class VII E SMP Negeri 3 Trunk. This study uses classroom action research with two cycles of action. Subjects were students of class VII E SMP Negeri 3 Rods 40 students consisted of 19 boys and 21 girls students. The results showed that the learning outcomes of students at the end of the cycle has increased 95%, while the learning activities of students has increased to 94%. Thus it can be concluded that the application type STAD cooperative model can improve learning outcomes and student learning activities in math class VII E especially in SMP Negeri 3 Trunk academic year 2009/2010.
DINAMIKA ORGANISASI PROFESIONAL KEPENDIDIKAN DI INDONESIA Imam Farisi, Mohammad
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mengkaji dan mendeskripsikan dinamika organisasi kependidikan di Indonesia. Studi dilakukan pada situs-situs resmi organisasi profesi kependidikan menggunakan analisis konten atau teks web difokuskan pada sejarah perkembangan; pelaksanaan peran, fungsi, tugas dan kewenangan organisasi, serta kendala atau masalah yang dihadapi. Studi menunjukkan bahwa ada lebih dari 100 organisasi profesi pendidikan di Indonesia berbentuk asosiasi, federasi, forum, komunitas/masyarakat, serikat, klub, koalisi, aliansi, dan/atau lembaga. Dinamika organisasi dipengaruhi oleh faktor-faktor akademik-profesional, yuridis-formal, serta konteks sosial-politik organisasi. Secara umum, organisasi profesi pendidikan di Indonesia masih fokus pada fungsi pengembangan profesional. Sementara, fungsi advokasi hanya dilakukan oleh beberapa organisasi profesional; dan fungsi regulasi (standarisasi, akreditasi, sertifikasi, dan lisensi) masih dikoordinasikan dan dikendalikan oleh lembaga yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan/atau LPTK. Masalah yang dihadapi oleh organisasi terkait dengan pelaksanaan fungsi dan kewenangan organisasi di bidang regulasi. The study was aimed to examines and describes the dynamics of professional organizations of education in Indonesia focused on the development, implementation of the roles, functions, duties, authorities, and the problems are faced. Data was collected from the organizations official websites and analyzed using web’ content or textual analysis. The study shown that there are more than 100 professional organizations of education in Indonesia. It formed in association, federation, forum, community/society, union, club, coalition, alliance, and/or institution. The dynamics of the organizations were influenced by academic-professional, juridical-formal, as well as socio-political context of organizations. In general, professional organizations of education in Indonesia were still focused on the development functions of professional. Meanwhile, advocacy functions are performed by some professional organizations, and regulatory functions (standardization, accreditation, certification, and licensing) are remains coordinated and controlled by institutions established by the Ministry of National Education and/or LPTK. Problems which faced by organizations are related to the implemention of regulatory functions.
KESALAHAN PENGGUNAAN JOSHI PADA PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG TINGKAT DASAR Diner, Lispridona
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Joshi memiliki peranan penting dalam komunikasi bahasa Jepang. Jenis joshi yang banyak dan fungsinya yang sama tersebut, menjadi salah satu penyebab kesalahan pembelajar bahasa Jepang ketika menggunakannya dalam berkomunikasi melalui bahasa tulis dan bahasa lisan. Hal tersebut dapat dilihat melalui hasil ujian mata kuliah struktur bahasa Jepang tingkat dasar (bunpo shokyu kohan). Kesalahan pembelajar sebagian besar terdapat pada penggunaan partikel, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesalahan apa saja dan penyebab kesalahan penggunaan joshi yang dilakukan oleh pembelajar bahasa Jepang. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa sumber tulisan yaitu hasil ujian mata kuliah bunpo shokyu kohan. Berdasarkan pembahasan, disimpulkan bahwa kesalahan penggunaan joshi oleh pembelajar bahasa Jepang yaitu penggunaan joshi ni, de, wa, ga, e. Kesalahan bahasa tersebut yaitu intrabahasa, pembelajar bahasa dalam menggunakan joshi dalam bahasa Jepang dipengaruhi oleh bahasa ibu dan pembelajar tidak dapat membedakan dan memahami dengan benar fungsi joshi dalam kalimat bahasa Jepang. Joshi are important in communication of Japanese language. Kinds and that functions as the same of joshi, can is one of reasons error to use joshi for Japanese language learner in communication by writing or speaking. It can be looked by test grammar Japanese language basic level. Error, a learner mostly found in the used of particles, then purpose of this study is know about error anything and the cause of mistake or error use in joshi conducted by Japanese learner. Approach this research using a qualitative approach. These data in form of sources written which is exams course of Japanese grammar basic level. The result of research show that error was used joshi by Japanese learner are joshi ni, de,  wa, ga and e. Error of that language is intralanguage, Japanese learner when used Japanese influenced by mother tongue and the learner couldn’t distinguish of joshi function and understanding correctly of joshi function in Japanese language.
MODEL PENANAMAN KARAKTER BERWIRAUSAHA PADA PENDIDIKAN VOKASI Nurhalim, K.
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui proses pembelajaran yang dikembangkan pada pendidikan vokasi dalam penanaman karakter berwirausaha kepada warga belajar di PKBM. Fokus penelitian adalah model penanaman karakter berwirausaha yang dikembangkan dalam proses pembelajaran pada pendidikan vokasi. Sumber data adalah pengelola, dan  tutor/instruktur yang terlibat dalam kegiatan. Pengumpulan data dengan metode wawancara dan observasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik deskriptif dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan : (a) secara umum  proses pembelajaran pendidikan vokasi di PKBM berada pada kategori  tinggi dengan persentase mencapai 60,3%, berada pada kategori sedang sebanyak 38,7%; (b) penanaman karakter berwirausaha dimulai dari: (a) pemberian pengetahuan dan pemahaman tentang bidang usaha, (b) mempraktekkan usaha berdasarkan pada penguasaan jenis usaha, (c) evaluasi penguasaan pengetahuan dan keterampilan, dan (d) merintis usaha berdasarkan jenis usaha yang telah dikuasai; dan (c) arahan utama yang ingin dituju dalam proses pembelajaran dan penanaman karakter berwirausaha yaitu penguasaan  pengetahuan akademik, sikap, personal dan sosial, penguasaan keterampilan vokasi/skill yaitu memiliki keterampilan produksi dan jasa sesuai kebutuhan pasar, dan  penguasaan manajerial usaha kecil. Saran yang diajukan berdasar hasil penelitian adalah: (a) penyediaan sarana prasarana pembelajaran yang secara langsung menunjang proses pembelajaran, (b) dalam rangka peningkatan mutu proses pembelajaran diperlukan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) pengembangan kompetensi, terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional tutor, dan (c) dukungan dari berbagai pihak dalam penanaman karakter berwirausaha melalui pola kerjasama antara pemerintah, penyelenggara, masyarakat, dan dunia usaha perlu diefektifkan. The aim of this research is to acknowledge the education process developed by vocative education and the investment of entrepreneurships characteristics to the participant in PKBM. The focus of this study is the model which is used to develop the investment of entrepreneurships characteristics on education process in vocative education. The sources of data are the organizer and tutor/instructor who take involve in the activity. The collection of data is using interview and observation method meanwhile, to analyze the data, the observer using descriptive qualitative analysis technique. The result of the research shows that: (a) in general, the teaching process of vocative education in PKBM include in high category in the percentage of 60,3 %, in middle category in the percentage of 38,7 %; (b) the investment of entrepreneurship character is started from: (a) giving knowledge and perceptive about business, (b) doing the business based on the skill on the kind of business, (c) evaluate the acknowledgement of knowledge and skill, and (d) started the business based on the skill; and (c) the main goal in the teaching process and the investment of entrepreneurships characteristics is the acknowledgement about academic education, behavior, personal and social, the mastering of vocative skill/managerial skill of little business. The advices given based on the research are: (a) the available of equipment and utilities directly can support teaching process, (b) in order to gain the quality of teaching process, need to establish education and practicing to develop the competencies, especially pedagogic competency, tutor professional competency, and (c) the support in the investment of entrepreneurships characteristics by having cooperation between government, the establisher, society, and the world of business.
PENGEMBANGAN MODEL DIKLAT MENGGAMBAR BERTEMA KONSERVASI PADA GURU TK DI KOTA SEMARANG Utomo, Kamsidjo Budi
Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 42, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lik.v42i1.11025

Abstract

Hasil penelitian awal, diketahui babwa program Diklat yang ada, belum ditangani secara professional. Yakni belum menerapkan prinsip-prinsip managemen secara benar, seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Program Dildat yang ada masih bersifat insidental top-down, tidak ada sosialisasi, tidak ada pre-test dan pas-test dan tidak ada monitoring dalam pelaksanaan. Hasil tidak terpantan, Umuk inovasi model diklat menggambar bertema konservasi diperlukan metode penelitian pengembangan Research and Development (R&D). Jenis penelitian ini untuk mengembangkan dan menghasilkan produk dan menguji keterandalan produk, Bersifat longitudinal, bertahap-tahap, mengaplikasikan merode Deskriptif (penelitian awal, menghimpun data kondisi yang ada di lapangan), Evaluatif (dalam proses uji coba pengembangan produk), eksperimen (oji keampuhan produk yang dihasilkan). Program diklat menggambar yang barn, ada sosialisasi, peserta dilibatkan dalam FGD (Forum Group Discussion). Ada pre-test dan pos-test. Hasil program diklat yang baru dapat diketahui. Nilai pos-test meningkat pesat, dari nilai pre-test, peserta diklat sebanyak 20 orang 100% berhasil meningkat secara signifikan.

Page 1 of 3 | Total Record : 29


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2023): September: Technology and Innovation in Education, Inclusive Education and Equi Vol 52, No 1 (2023): April: Curriculum and Learning, Technology and Innovation in Education Vol 51, No 2 (2022): September: Curriculum and Learning, Inclusive Education and Equity Vol 51, No 1 (2022): April: Technology and Innovation in Education, Leadership, Policy, and Educatio Vol 50, No 2 (2021): September: Leadership, Policy, and Educational Governance Vol 50, No 2 (2021): September Vol 50, No 1 (2021): April Vol 50, No 1 (2021): April: Curriculum and Learning, Technology and Innovation in Education Vol 49, No 2 (2020): September Vol 49, No 1 (2020): April Vol 48, No 2 (2019): September Vol 48, No 1 (2019): April Vol 47, No 2 (2018): September Vol 47, No 1 (2018): April Vol 46, No 2 (2017): September 2017 Vol 46, No 1 (2017): Lembaran Ilmu Kependidikan: April 2017 Vol 46, No 1 (2017): April 2017 Vol 45, No 2 (2016): September 2016 Vol 45, No 2 (2016): Lembaran Ilmu Kependidikan: September 2016 Vol 45, No 1 (2016): Lembaran Ilmu Kependidikan: April 2016 Vol 45, No 1 (2016): April 2016 Vol 44, No 2 (2015): Lembaran Ilmu Kependidikan: September 2015 Vol 44, No 2 (2015): September 2015 Vol 44, No 1 (2015): Lembaran Ilmu Kependidikan: April 2015 Vol 44, No 1 (2015): April 2015 Vol 43, No 2 (2014): September 2014 Vol 43, No 2 (2014): Edisi September 2014 Vol 43, No 1 (2014): April 2014 Vol 43, No 1 (2014): Edisi April 2014 Vol 42, No 2 (2013) Vol 42, No 2 (2013) Vol 42, No 1 (2013) Vol 42, No 1 (2013) Vol 41, No 2 (2012) Vol 41, No 2 (2012) Vol 41, No 1 (2012) Vol 41, No 1 (2012) Vol 40, No 1 (2011) Vol 40, No 1 (2011) Vol 39, No 2 (2010) Vol 39, No 2 (2010) Vol 39, No 1 (2010) Vol 39, No 1 (2010) Vol 38, No 2 (2009) Vol 38, No 2 (2009) Vol 38, No 1 (2009) Vol 38, No 1 (2009) Vol 37, No 2 (2008) Vol 37, No 2 (2008) Vol 37, No 1 (2008) Vol 37, No 1 (2008) Vol 36, No 2 (2007) Vol 36, No 2 (2007) Vol 36, No 1 (2007) Vol 36, No 1 (2007) More Issue