cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Pendidikan Geografi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014" : 7 Documents clear
INOVASI PERENCANAAN KOTA TANGGAP PERUBAHAN IKLIM : RESILIENT INFRASTRUCTURE CITIES, SWARM PLANNING, DAN BUILT-IN RESILIENCE
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yasin Yusup *) Abstrak. Perubahan iklim akan terus memberi efek pada komunitas, ekologi, dan ekonomi di seluruh dunia. Untuk menghadapinya tidak ada pilihan lain selain adaptasi baru terhadap perubahan iklim dalam bentuk resiliensi terhadap bencana. Resiliensi merupakan kapasitas sistem (bisa komunitas, kota, atau sistem ekonomi) untuk menghadapi perubahan dan terus berkembang. Pemikiran Resiliensi menggeser fokus perencanaan dari berdebat mengenai solusi alternatif menjadi bekerja sama dengan beragam pengetahuan (diverse knowledge) untuk menyusun strategi adaptif yang yang dapat membantu kita bergerak ke arah yang diinginkan. Praktek perencanaan kota yang tanggap terhadap perubahan iklim dapat berupa resilient infrastucture cities, swarm planning, atau built-in resilience.   Kata kunci : perubahan iklim, adaptasi, resiliensi
TUNTUTAN REFORMASI PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wiwik Sri Utami*)   Abstrak: Implementasi kurikulum 2013 sudah dilaksanakan mtahun pelajaran 2013-2014. Dalam kurikulum 2013 masih menitik beratkan ketercapaian kompetensi sebagaimana yang diharapkan juga terjadi pada kurikulum sebelumnya. Beberapa hal yang mendasar dari implementasi kurikulum 2013 adalah adanya keinginan untuk melakukan reformasi pembelajaran  untuk menghadapi tantangan global yang dihahadapi oleh dunia pendidikan Indonesia. Hal pokok yang menjadi dasar dilaksanakannya reformasi pembalajaran meliputi penetapan kompetensi lulusan, materi pelajaran, proses pembelajaran, penilaian, kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, serta pengelolaan kurikulum. Dalam makalah ini hanya memfokuskan pada proses pembelajaran yang menyangkut perubahan pendekatan pembelajaran dan pengintegrasian teknologi informasi komunikasi atau information comuniction technology (TIK/ICT) dalam semua mata pelajaran.   Kata kunci: kurikulum 2013, reformasi pembelajaran, TIK/ICT  
KERENTANAN PENDUDUK DESA NGABLAK DAN DESA NGULANAN KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO TERHADAP BANJIR BENGAWAN SOLO
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agus Sutedjo*) Abstrak. Beberapa desa di Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro sering mengalami banjir akibat meluapnya Bengawan Solo, antara lain adalah Desa Ngablak dan Desa Ngulanan.  Lokasi ke dua desa tersebut berdekatan dan sama-sama terletak di pinggir Bengawan Solo. Namun pada beberapa tahun terakhir jumlah korban banjir yang tejadi selalu berbeda berbeda, korban banjir di Desa Ngablak selalu lebih besar. Dari kenyataan itu adakah perbedaan  1) tingkat kerentanan sosial, 2) tingkat kerentanan ekonomi, 3) tingkat kerentanan lingkungan terbangun, dan 4) tingkat kerentanan penduduk terhadap banjir Bengawan Solo di Desa Ngulanan dan Desa Ngablak Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Untuk itu diperlukan data tingkat pendapatan, mata pencaharian, lokasi pekerjaan, tingkat pendidikan, ikatan sosial, interaksi sosial, kondisi rumah dan kondisi penggenangan banjir dari kepala keluarga sebagai responden yang rumahnya mengalami kebanjiran. Responden sebagai sampel penilitian diambil secara acak untuk setiap desa. Semua data diperoleh melalui wawancara dengan bantuan kuesioner dan observasi lapangan yang selanjutnya dianalisis dengan metode skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kerentanan ekonomi antara penduduk Desa Ngablak dan Desa Ngulanan, keduanya dalam kategori tingkat kerentanan sangat rendah, sedangkan kerentanan sosial penduduk di kedua desa sama-sama pada kategori tingkat kerentanan tinggi. Untuk kerentanan lingkungan terbangun terjadi perbedaan, yakni tingkat kerentanan sedang pada penduduk Desa Ngablak dan tingkat kerentanan sangat rendah pada penduduk desa Ngulanan. Secara umum, penduduk Desa Ngablak dan Desa Ngulanan kurang rentan dalam menghadapi banjir Bengawan Solo yang datang sewaktu-waktu, namun dari skor yang diperoleh dapat diketahui bahwa penduduk Desa Ngablak mendekati rentan sedangkan penduduk Desa Ngulanan mendekati tidak rentan. Perbedaan tersebut berdampak pada perbedaan cara penanggulangan atau pencegahan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh banjir pada masyarakat setempat. Orang tua dan anak-anak di Desa Ngablak  perlu lebih diperhatikan dibandingkan di Desa Ngulanan sehubungan dengan kejadian banjir yang terjadi dan berdampak terhadap kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Kata Kunci : kerentanan, banjir
SISTEM INFORMASI PENANGGULANGAN BENCANA LONGSORLAHAN BERBASIS SIG (SUATU TELAAH PUSTAKA)
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Steeves W. J. Louhenapessy *)   Abstrak : Keberadaan Indonesia dengan kondisi morfologi wilayah yang bergunung dan berbukit dengan sebaran daerah datar yang sempit pada sebagian besar daerah pulau-pulau kecil serta daerah berlereng terjal pada beberapa pulau besar akibat terjadinya proses sejarah pengangkatan dan pembentukan kepulauan Indonesia dapat berakibat pada potensi bencana yang terjadi. Penulisan ini menentukan dan menggambarkan pentingnya suatu kejadian longsor serta pentingnya suatu sistem informasi bahaya longsorlahan berdasarkan tingkat kerawanan yang dihasilkan lewat media-media peta dan SIG.  Kebutuhan akan SIG untuk pemetaan dan proses penyelesaian masalah terkait longsor sangat dibutuhkan dan sangat penting.  Pemanfaatan SIG ini sekaligus dapat meningkatkan daya guna dalam pemanfaatannya mengatasi longsor dengan menilai kharakteristik longsor kemudian di buat menjadi suatu sistem informasi longsor yang dijadikan dasar penetapan tingkat kerawanan serta berfungsi sebagai pencegahan serta pengurangan resiko yang dapat terjadi akibat longsor dalam sistem informasi penanggulangan longsor.   Kata kunci :  Longsorlahan, SIG, Sistem informasi penggulangan bencana longsor
PENURUNAN KUALITAS LAHAN DI DAS BRANTAS HULU JAWA TIMUR
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aida Kurniawati *)    Abstrak : Tujuan makalah ini adalah menelaah kajian penurunan kualitas lahan di DAS Brantas dengan mengkaji erosi di DAS Brantas. Upaya pengelolaan DAS Brantas telah dilakukan namun kondisinya belum membaik. Dari  bencana banjir, tanah longsor, sedimentasi bahkan kekeringan Laju erosi yang tinggi di DAS Brantas bagian hulu (terutama Sub DAS Bantas Hulu, Amprong, Lesti dan Genteng). Laju erosi  yang tercatat di Waduk Sutami tahun 1988 sekitar 6.93 juta m3/tahun. Setelah dibangun Waduk Sengguruh dibangun, maka tingkat sedimentasi di Waduk Sutami turun menjadi 1.79 juta m3/tahun. Sejak 1988 -2003, Waduk Sutami dan Sengguruh mengalami Sedimentasi sekitar 5,4 juta m3/tahun. Waduk Sutami setelah beroperasi 31 tahun mengalami kehilangan tampungan efektif sekitar 43,6% (dari 253 juta m3 menjadi 145.2 juta m3) dengan total sedimen yang masuk waduk sebesar 167,4 juta m3 (Tim, 2011)   Kata kunci : lahan, erosi, kerusakan DAS
REDUKSI KONSENTRASI PM10 DI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA SURABAYA
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muzayanah*)   Abstrak : Keberadaan Partikulat Matter PM10 di udara ambien menjadi permasalahan ekosistem. Ruang terbuka hijau (RTH) bisa mereduksi PM10 udara ambien. Digunakan parameter kumulatif konsentrasi PM10 (KPM10) sebagai indikator reduksi konsentrasi PM10 dari udara ambien. Nilai K_PM10 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Surabaya yaitu RTH Taman Prestasi berbeda.   Kata kunci : PM10, ambien, reduksi, RTH
DAMPAK PERLADANGAN BERPINDAH PADA EKOSISTEM DAN LINGKUNGAN HUTAN
Pendidikan Geografi Vol 12, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sulistinah *)   Abstrak: Sistem pertanian dengan cara ladang berpindah dapat menjadi salah satu bentuk system pertanian yang banyak diminati dari dulu hingga saat ini. Kegiatan ladang berpindah yang dilakukan secara berlebihan menyebabkan kerusakan serius terhadap ekosistem dan lingkungan hutan. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui atau membahas tentang faktor-faktor yang menyebabkan petani melakukan ladang berpindah, membahas tentang dampak dari ladang berpindah, serta bagaimana upaya mengurangi dampak kegiatan ladang berpindah. Faktor-faktor penyebab ladang berpindah adalah 1) Faktor ekonomis mencakup harga, akses pasar, modal dan kebutuhan ekonomi rumah tangga, 2) Faktor ekologis meliputi kualitas tanah, topografi lahan, dan perilaku tanaman, 3) Faktor social meliputi status social dan hubungan-hubungan social, 4) Faktor cultural mencakup pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai budaya yang terkait dengan pengelolaan lahan hutan. Dampak dari perladangan berpindah yaitu : terjadi pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, terjadi penurunan kesuburan tanah secara drastis, terjadi perubahan iklim mikro dan iklim makro, terjadi gangguan habitat satwa, terjadi penurunan biodirensitas, dan terjadi peningkatan luas lahan alang-alang. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi laju perladangan berpindah adalah peraturan yang terstruktur yang di mulai dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah daerah, kemudian pengembangan model perladangan agroforestry (wanatani) dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Usaha mengurangi dampak dari ladang berpindah dapat dilakukan dengan  metode tanpa olah tana, pengolahan tanah minimal, dan pengolahan tanah menurut kontur.   Kata Kunci : perladangan berpindah, ekosistem

Page 1 of 1 | Total Record : 7