cover
Contact Name
Kukuh Tejomurti
Contact Email
kukuhmurtifhuns@staff.uns.ac.id
Phone
+6281225027920
Journal Mail Official
yustisia@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Jalan Ir. Sutami No. 36A, Kentingan, Surakarta Kodepos: 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Yustisia
ISSN : 08520941     EISSN : 25490907     DOI : https://doi.org/10.20961/yustisia.v9i3
Core Subject : Social,
The scope of the articles published in Yustisia Jurnal Hukum deal with a broad range of topics in the fields of Civil Law, Criminal Law, International Law, Administrative Law, Islamic Law, Constitutional Law, Environmental Law, Procedural Law, Antropological Law, Health Law, Law and Economic, Sociology of Law and another section related contemporary issues in Law (Social science and Political science). Yustisia Jurnal Hukum is an open access journal which means that all content is freely available without charge to the user or his/her institution. Users are allowed to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full texts of the articles, or use them for any other lawful purpose, without asking prior permission from the publisher or the author.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2: August 2014" : 12 Documents clear
HARMONISASI DAN SINKRONISASI PERATURAN HUKUM PERKOPERASIAN DAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO Muhammad Muhtarom
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11094

Abstract

AbstractThe presence of Act No. 1 of 2013 on Micro Finance Institutions, have given rise to legal problems for financial enterprises of Cooperative, because cooperatives engaged in financial services governed by two kinds of regulation, namely cooperative legislation and regulation of microfinance institutions (MFIs). Dualism of laws has given rise to overlapping regulation, supervision and oversight by the relevant agencies, as well as the contradictions settings between one to another. The legal problems required solutions through harmonization and synchronization of laws pertaining to the MFI Cooperative.Keywords: Synchronization, Cooperatives, the Finance Institution MicroAbstrakKehadiran Undang Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, telah memunculkan problem hukum bagi badan usaha Koperasi, karena Koperasi yang bergerak di bidang jasa keuangan diatur oleh dua macam regulasi, yaitu peraturan perundangan perkoperasian dan  peraturan Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Adanya dualisme peraturan hukum ini telah menimbulkan tumpang-tindih pengaturan, pengawasan dan pembinaan oleh instansi terkait, serta adanya kontradiksi-kontradiksi pengaturannya di antara satu dengan lainnya. Problem hukum itu memerlukan pemecahannya melalui harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangan yang berkaitan dengan LKM Koperasi.Kata Kunci: Sinkronisasi, Perkoperasian, Lembaga Keungan Mikro
KAJIAN FILOSOFIS TENTANG KONSEP KEADILAN DARI PEMIKIRAN KLASIK SAMPAI PEMIKIRAN MODERN Bahder Johan Nasution
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11106

Abstract

AbstractJustice, since the first issue, has been the subject of study both among philosophers and among theologians, politicians and thinkers or legal experts. However, if there are questions about justice, could not be determined what measures are used to determine something is fair or not. Various answers about justice usually never or rarely satisfying so that continues to be debated, so it can be concluded that the various formulations of justice is a relative statement. This issue ultimately encourages many people to take a shortcut by submitting formulation of justice to the legislators and judges who will formulate it based on their own considerations.Keywords : Philosophy, justiceAbstrakMasalah keadilan sejak dahulu telah menjadi bahan kajian baik dikalangan ahli filsafat maupun dikalangan agamawan, politikus maupun para pemikir atau ahli hukum. Pertanyaan tetang keadilan, tidak bisa ditentukan ukuran yang digunakan untuk menentukan sesuatu itu adil atau tidak. Berbagai jawaban tentang keadilan biasanya tidak pernah atau jarang yang memuaskan sehingga terus menjadi perdebatan, dengan demikian rumusan mengenai keadilan merupakan rumusan yang relatif. Persoalan ini pada akhirnya mendorong banyak kalangan untuk mengambil jalan pintas dengan menyerahkan perumusan keadilan kepada pembentuk undang-undang dan hakim yang akan merumuskannya berdasarkan pertimbangan mereka sendiri.Keywords: Kajian Filosofis, Konsep Keadilan
KEBIJAKAN SINOPTIK PENERAPAN HUKUM ADAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA Sutrisno Purwohadi Mulyono
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11096

Abstract

AbstractArticle 18B (2) of the Constitution 1945 normatively recognizes and respects the unities of society with customary law with its traditional rights. However, in the context of emerging empirical question which is based on a number of issues regarding the presence or absence of the role of customary law in the administration of the village administration. This article aims to identify and analyze the existence of the application of customary law through synoptic policy in the administration of the village administration as an effort to strengthen participatory democracy. Approach selected was socio-legal research with qualitative data analysis (qualitative research) that is descriptive. Techniques in collecting the data are interview, documentation and observation. The study concludes that the involvement of customary law, citizens feel partially responsible for the implementation of village governance system. But along with the development policy of national law customary law sometimes neglected. Recommendations of this study can be used as a basis for developing policies synoptic application of customary law in the administration of the village administration.Keywords: Synoptic Policy, Village Government.AbstrakPasal 18B ayat (2) UUD 1945 secara normatif mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Namun dalam konteks empiris muncul sejumlah pertanyaan yang bersumber pada permasalahan perihal ada tidaknya peran hukum adat dalam penyelenggaraan pemerintahan desa tersebut. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis eksistensi penerapan hukum adat melalui kebijakan sinoptik dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai upaya imemperkuat demokrasi partisipatoris. Pendekatan socio-legal research dipilih dalam penelitian kebijakan hukum ini menggunakan analisis data kualitatif (qualitative research) yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian menyimpulkan, dengan berperannya hukum adat, warga masyarakat merasa ikut bertanggungjawab terhadap terselenggaranya sistem pemerintahan Desa. Namun seiring dengan kebijakan pembangunan hukum nasional terkadang hukum adat terabaikan. Rekomendasi penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar membangun kebijakan sinoptik penerapan hukum adat dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.Kata Kunci : Kebijakan Sinoptik, Pemerintahan Desa.
MODEL PERJANJIAN EFEKTIF UNTUK MENGURANGI TINGKAT RESIKO DALAM PEMBIAYAAN MUDHARABAH PADA BANK SYARIAH Luthfiyah Trini Hastuti; Burhanudin Harahap; Solikhah Solikhah
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11086

Abstract

AbstractMudaraba is a cooperative institution agreed by jurists in lieu of debts or borrowing in the banking feared contain elements of usury. In a period of more than ten years, it was financing is not optimal as expected by the scientists of Islamic law. Research for this first year aims; (1) Inventory overview of Islamic banking desire to give of financing; (2) review the description of Islamic banking desire to give of financing; (3) Develop forms of legal protection that is ideal to be used as a model in reducing the level of risk faced by the Islamic banking in providing of financing; (4) Develop a model agreement ideal for Islamic banking in order to improve the provision of financing to customers. This study is an empirical research related to the identification and effectiveness of the law. The data used are primary data and secondary data. The primary data obtained through interviews and focus group discussions. Secondary data were obtained through library research related to the problem under study. Analyses were performed using content analysis (content analysis), which examines the contents of mudaraba cooperation. The results showed that; (1) In principle, Islamic banking has committed to provide financing is optimal; (2) the desire to provide optimal financing constraints facing many complex factors, ranging from the issue of the system to issue public unprepared to accept it; that society is pragmatic and less understand the real nature of mudaraba; (3) Islamic banks need to receive adequate legal protection for accounts receivable financing is not given in the form of a dishonest act of the customer; (4) model is ideal agreement of financing by Islamic banking is; (A) the customer in the form of the company because it is easy to mlakukan supervision; (B) similar business field. AbstrakMudharabah adalah pranata kerjasama yang disepakati oleh para ahli hukum Islam sebagai pengganti utang piutang atau pinjam meminjam dalam perbankan yang dikhawatirkan mengandung unsur riba. Dalam kurun waktu lebih dari sepuluh tahun ternyata pembiayaan mudharabah tidak optimal sebagaimana yang diharapkan oleh para ilmuwan hukum Islam. Penelitian ini bertujuan; (1) Menginventarisasi gambaran keinginan perbankan syariah dalam memberikan pembiayaan mudharabah; (2) mengkaji gambaran keinginan perbankan syariah dalam memberikan pembiayaan mudharabah; (3) Menyusun bentuk-bentuk perlindungan hukum yang ideal untuk dijadikan model  dalam mengurangi tingkat resiko yang dihadapi perbankan syariah dalam memberikan pembiayaan mudharabah; (4) Menyusun model perjanjian yang ideal bagi perbankan syariah agar dapat meningkatkan pemberian pembiayaan mudharabah kepada nasabah.Penelitian ini merupakan penelitian empiris yang berkait dengan identifikasi dan efektivitas hukum. Data yang dipergunakan adalah data primer yang diperoleh dengan wawancara dan focus group discussion dan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan yang berkait dengan persoalan yang dikaji lalu dianalisis dengan menggunakan analisis isi (content analysis), yaitu mengkaji isi kerjasama mudharabah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Pada prinsipnya perbankan syariah mempunyai mempunyai komitmen untuk memberikan pembiayaan mudharabah secara optimal; (2) keinginan untuk memberikan pembiayaan secara optimal menghadapi kendala berbagai faktor yang kompleks, mulai dari persoalan sistem sampai persoalan ketidaksiapan masyarakat untuk menerimanya; yaitu masyarakat bersifat pragmatis dan kurang memahami hakekat yang sebenarnya tentang mudharabah; (3) Perbankan syariah perlu mendapat perlindungan hukum secara memadai karena pembiayaan mudharabah tidak berbentuk piutang yang diberikan dari perbuatan yang tidak jujur dari nasabah; (4) Model perjanjian ideal pembiayaan mudharabah oleh perbankan syariah adalah; (a) nasabah berbentuk perusahaan karena mudah untuk mlakukan pengawasan; (b) bidang usaha yang sejenis;Kata kunci: mudharabah, perjanjian, kerjasama, perlindungan hukum.
MENELUSURI TEORI CHAOS DALAM HUKUM MELALUI PARADIGMA CRITICAL THEORY Faisal Faisal
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11108

Abstract

AbstractThe paper will study a dialectic domain of chaos theory of Charles Sampford’s law by using critical theory paradigm. The paper will present results of the study as follow: first, melee concept of chaos theory in any law may be uniformed by using ontological paradigm of the critical theory based on historical realism. Second, an intercept of ideas segments of Sampford’s chaos theory as a critical body can be seen from its paradigm epistemology they had built. Sampford developed his epistemology, namely both interpreter and reality are dialectic; the statement is similar with dialogic-dialectic’s one of critical paradigm. Third, the equality of essences between Sampford’s chaos theory and critical theory might be measured if methodological presentation of the critical theory paradigm about transactional-subjectivist is examined. Therefore, the reality is understood completely, impartially or mechanistically. As does chaos theory, Sampford elaborated it in his dialectical-integrative methodology, actually chaos theory of Sampford is trying to reject dualistic’s and reductionist’s view of points in attempts of making the reality is still intact. Based on what is held by critical cliques that the analysis focus will be based on contextual matter. AbstrakTulisan ini akan di arahkan untuk menelusuri ruang dialektis teori chaos dalam hukum charles Sampford dengan paradigma citical theory. Sebagaimana penelusuran yang dapat disajikan dalam tulisan ini, adalah; pertama, konsep melee dalam teori chaos dalam hukum dapat saja di seragamkan dengan ontologi paradigma critical theory dimana berpijak pada realisme historis. Kedua, bertemunya ruas berfikir teori chaos Sampford sebagai sosok critical dapat dilihat dari epistemologi paradigma yang dibangun keduanya. Sampford membangun epistemologinya yaitu penafsir dan realitas itu dialektis, hal ini senada dengan dialogis-dialektikal yang dimiliki paradigma critical. Ketiga, kesepadanan esensi antara teori chaos Sampford dan critical dapat saja terukur bila melihat sajian metodologi paradigma critical mengenai transaksional-subjektivis. Dengan demikian realitas di pahami secara utuh tidak parsial ataupun mekanistik. Sebagaimana teori chaos Sampford menguraikan hal ini pada metodologi dialektikal- integratif, sejatinya teori chaos Sampford sedang menolak pandangan dualistik dan reduksionis agar realitas terlihat lebih utuh. Berdasarkan dengan apa yang di anut oleh kalangan critical bahwasannya fokus analisa akan di dasarkan pada hal yang kontekstual.Kata kunci: Teori chaos, Teori Kritis, Paradigma, Positivisme Hukum
PARALEGAL DAN AKSES PEREMPUAN TERHADAP KEADILAN :KAJIAN TENTANG PERANAN PARALEGAL DALAM PEMBERDAYAAN HUKUM UNTUK MENINGKATKAN AKSES PEREMPUAN TERHADAP KEADILAN Rima Vien Permata Hartanto; Adriana Grahani Firdausy
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11098

Abstract

AbstractIndonesiahas alonghistoryin terms ofwomen’s access tojustice. The growth ofwomen’s organizationssince thelast two decadespushingthe strugglewomen’s access tojustice. Talks onwomen’s access tojusticeis thusbecoming veryrelevanttodaybecauseIndonesian womenstill facemany obstaclesin accessingjusticethrough the mechanism oflaw andjustice. Variousstudiesandreportshave revealedmany obstaclesthat women facein accessingjustice. To helpthe constraintsfaced by womenin accessingjustice, the role ofmediator(intermediaries) such asparalegals, local elite, localactivistsevenasNon GovernmentalOrganizations(NGOs) that providehelp, support, andservicesfor womento be important. Paralegalis a”tool” that isessential toimprovingwomen’s access tojustice. In generalparalegalis a person whoprovides assistanceto fight for justicein society. Workis doneby usingthe existing regulatoryorother legalbreakthrough. This paperdescribes howthe role ofparalegalsin thelegal empowermentto improvewomen’s access tojustice.Keywords: Paralegal, Women’s Accessto Justice, Legal EmpowermentAbstrakIndonesia memiliki sejarah cukup panjang dalam hal akses perempuan terhadap keadilan.Tumbuhnya berbagai organisasi perempuan sejak dua dekade terakhir mendorong perjuangan akses perempuan terhadap keadilan. Pembicaraan tentang akses perempuan terhadap keadilan dengan demikian menjadi sangat relevan sebab hingga saat ini perempuan Indonesia masih menghadapi banyak kendala dalam mengakses keadilan melalui mekanisme hukum dan keadilan. Berbagai studi dan laporan telah mengungkapkan berbagai kendala yang dihadapi perempuan dalam mengakses keadilan. Untuk membantu kendala yang dihadapi perempuan dalam mengakses keadilan, maka peranan penengah (intermediaries) seperti paralegal, elit lokal, aktivis lokal bahkan organisasi seperti Lembaga Swadaya Masyarakar (LSM) yang menyediakan bantuan , dukungan dan layanan terhadap perempuan menjadi penting. Paralegal merupakan “alat” yang penting untuk meningkatkan akses perempuan terhadap keadilan. Secara umum paralegal adalah orang yang melakukan pendampingan untuk memperjuangkan keadilan dalam masyarakat. Kerja ini dilakukan dengan menggunakan peraturan yang ada atau terobosan hukum lainnya.Tulisan ini menguraikan bagaimana peran paralegal dalam pemberdayaan hukum untuk meningkatkan akses perempuan terhadap keadilan.Kata Kunci: Paralegal, Akses Perempuan terhadap Keadilan, Pemberdayaan Hukum
PIDANA PENJARA DALAM PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA INDONESIA dede Kania
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11088

Abstract

AbstractImprisonment as the main criminal is the most threatened against offenders. Imprisonment in Indonesia criminal law as a legacy of colonial law enforcement. With the development of the concept of criminal theory form retributive to restorative sentencing, imprisonment and the implementation should be reviewed so that can be in accordance with human rights principles. This research examined the imprisonment in the Indonesian criminal law, customary criminal law, and Islamic Penal law, and also the concept of imprisonment renewal in the concept of Criminal Law Code of Indonesia, and then what is the punishment that is accordance with restorative justice theory that can protect the human rights of the convicted person, victims, and society.Key Word: Imprisonment, human rights, restorative justice.AbstrakPidana penjara sebagai pidana pokok merupakan pidana yang paling banyak diancamkan terhadap pelaku kejahatan. Pemberlakuannya merupakan peninggalan hukum kolonial. Dengan perkembangan pemikiran mengenai konsep pemidanaan dari retributif ke restoratif, pelaksanaan pidana penjara pun harus dikaji ulang sehingga dalam penjatuhan maupun pelaksanaannya dapat sesuai dengan prinsip hak asasi manusia. Penelitian ini mengkaji penerapan pidana penjara dalam hukum pidana Indonesia, hukum pidana adat, dan hukum pidana Islam, serta konsep pembaharuan pidana penjara dalam RKUHP, kemudian bentuk pembaharuan pemidanaan apakah yang sesuai dengan teori restorative justice yang dapat melindungi hak asasi terpidana, korban, dan masyarakat.Kata Kunci: Pidana penjara, hak asasi manusia, keadilan restoratif
ANALISIS ANTROPOLOGI HUKUM TENTANG PENGARUH NILAI-NILAI BUDAYA TERHADAP BUDAYA HUKUM MASYARAKAT BATAK-TOBA TERKAIT DENGAN BATAS USIA KAWIN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 Zulfadli Barus
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11110

Abstract

AbstractLegal Culture as collective respons to the Mariage Law (the Act No. 1 Year 1974), are different in every Adat Communities in Indonesia, especially in the Age Limit for man (19 years old) and woman (16 years old)  who are going to marry. So, this Act could be said as living law, if the value system of Adat Law Communities are relevant to the Age Limit to marry which are stated by the Act No.1 Year of 1974. In a few cases in the Batak Toba Society, the average of age limit to get merry are 27 years old for man and 23 years old for woman. Therefore, the legal culture of Batak Toba Society have been supported the Act No.1 Year 1974. It is also could get less deal number of mother who give birth to, if that it’s number has been grown up in Indonesia recently.Keywords : Anthropology of Law, the legal culture of Batak Toba Society, Act No.1 Year of 1974, the average of age limit to get merryAbstrakBudaya hukum sebagai respon kolektif masing-masing masyarakat Adat, terkait dengan batas usia kawin dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 disikapi berbeda berdasarkan nilai-nilai yang hidup di masing-masing masyarakat. Aturan tersebut menjadi hukum yang hidup (living law) bila nilai-nilai masyarakat adat tersebut mendukungnya, demikian pula sebaliknya. Dilingkungan masyarakat adat Batak Toba, fenomena rata-rata usia kawin bagi pria (27 tahun) dan wanita (23 tahun), sehingga tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan bila dilihat dari aspek kesehatan, hal ini dapat mengurangi resiko kematian ibu karena melahirkan, yang akhir-akhir ini cenderung meningkat di Indonesia.Kata kunci : Antropologi hukum, Hukum adat Batak-Toba, Undang-undang Perkawinan, batas usia perkawinan
ISLAH MENURUT HUKUM ISLAM RELEVANSINYA DENGAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA DI TINGKAT PENYIDIKAN Waluyadi Waluyadi
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11090

Abstract

AbstractThe purpose of this reseach is to describe the reality of peace at investigation levels,  then compared to islah according to Islamic law as the reason of criminal removing, to find / to know the relevance. Based on the relevance, it possible become material for the legislators to formulate islah as a model of law enforcement at the level of investigation. This research is the normative research supported by empirical research. The data used was primary and secondary data. Data was collected by means of study documentation and interviews. Data were analyzed quatitatively dan and presented quatitatively. The research showed that the completion of criminal case based on the agreement between perpetrator and victim, along the case have not reached the judge. If the agreement is violated, they agreed to use the formal law. Criminal case which are resolved with peace/islah personalized and value of the loss is relatively small. Islam placing islah as an alternative the completion of criminal matters, along the case have not reached the judge. In the literature and practice, settling disputes with peace  known as Alternative Dispute Resolution (ADR), which is based on Restorative Justice Theory. Al Qur’an has set peace/islah as a model the completion of criminal matters, long before these theories arises.  Peace/ islah in the completion of a criminal case at the level of investigation relevant to satisfy the principle of fast, simple, and inexpensive. AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan realitas perdamaian pada tingkat penyidikan, selanjutnya akan dibandingkan dengan islah menurut hukum Islam sebagai alasan penghapus pidana, untuk diketahui/ ditemukan relevansinya. Berdasarkan relevansi tersebut, dimungkinkan menjadi bahan bagi pembentuk undang-undang  untuk menformulasikan islah sebagai model penegakan hukum pidana pada  tingkat penyidikan. Penelitian ini merupakan penelitian normatif  yang didukung dengan penelitian  empiris. Data yang digunakan mencakup data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data  dilakukan dengan cara studi dokumentasi dan wawancara. Data dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan penyelesaian perkara pidana dengan perdamaian pada tingkat penyidikan mendasarkan kesepakatan pelaku dan korban. Apabila kesepakatan itu dilanggar, mereka sepakat untuk menggunakan hukum formal. Perkara pidana yang diselesaikan dengan perdamaian/ islah, bersifat personal dan nilai kerugiannya relatif kecil. Islam menempatkan perdamaian/islah sebagai alternatif penyelesaian perkara pidana, sepanjang perkara tersebut belum sampai ke tangan hakim. Dalam literatur dan praktik,  penyelesaian perkara dengan perdamaian disebut Alternative Disput Resolution (ADR) yang mendasarkan pada teori Restorative Justice. Al-Qur’an telah menetapkan Perdamaian/ Islam sebagai model penyelesaian perkara pidana, jauh sebelum teori-teori itu muncul. Perdamaian/ Islah  dalam penyelesaian perkara pidana ditingkat penyidikan, relevan untuk pemenuhan asas cepat, sederhana dan biaya ringan.Kata Kunci: Islah, Hukum Islam, Relevansi dan Penyidikan
YURISDIKSI PERADILAN TERHADAP PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA Niken Subekti Budi Utami; Supriyadi ,
Yustisia Vol 3, No 2: August 2014
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v3i2.11102

Abstract

AbstractThis research intends to find the answers of two problems. First, the factors that led to the unimplemented jurisdiction of the General Court of the Indonesian Armed Forces (TNI) that perform general crime as mandated by Decree No. VII / MPR / 2000 and Act No. 34 of 2004. Second, the perception of the military conception of justice with jurisdiction over soldiers who committed the crime. This study is a normative- empirical law that uses secondary data and primary data. The data collected by the study of documents and interviews. The data analysis using qualitative methods. The results showed that first the jurisdiction of the General Court of the soldiers who committed the crime can not be implemented because of the general Act No. 31 of 1997 on Military Justice has not been revised by Law Military Justice as new, second that some of the military still wants the soldiers who committed the crime, criminal acts both military and general crime, is in the jurisdiction of Military Justice.Keywords: Jurisdiction Court, Indonesian Army Forces (TNI)l, Crime.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas dua permasalahan. Pertama, faktor-faktor yang menyebabkan belum diimplementasikannya yurisdiksi Peradilan Umum terhadap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang melakukan tindak pidana umum sebagaimana diamanatkan oleh Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000 dan  Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004. Kedua, persepsi kalangan militer mengenai konsepsi peradilan yang berwenang mengadili prajurit TNI yang melakukan tindak pidana. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif-empiris yang menggunakan data sekunder dan data primer. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama yurisdiksi Peradilan Umum terhadap prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum belum dapat diimplementasikan karena Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer belum direvisi dengan Undang-Undang Peradilan Militer yang baru, kedua bahwa beberapa kalangan militer tetap menghendaki agar prajurit TNI yang melakukan tindak pidana, baik tindak pidana militer maupun tindak pidana umum, berada pada yurisdiksi Peradilan Militer.Kata Kunci: Yurisdiksi Peradilan, Prajurit TNI, Tindak Pidana

Page 1 of 2 | Total Record : 12