cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS" : 18 Documents clear
EPISTEMOLOGI AL-QURAN DALAM MEMBANGUN SAINS ISLAM Misbahuddin, Iing
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate on the Quran as the basis of Islamic epistemology in building science. The concept of science in the Quran, from the point of view of philosophy. Framework used to analyze this theme is the philosophical framework. In the paradigm of philosophy, science concepts can be classified in three dimensions; the first, an epistemological dimension, namely the study of philosophy from the aspect of how to acquire knowledge. Part of this philosophy is called the theory of knowledge, namely methodology to gain knowledge or science, or how to obtain a true knowledge; second, the ontological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the object of study of science, or the nature of the study of science; and the third, axiological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the purpose and use value and the value of the benefits of science. Part of this philosophy better known as the theory of value. And what about his role in building the Islamic sciences in Islamic universities in particular and in the Islamic world in general. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi al-Quran sebagai landasan epistemologi dalam membangun sains Islam. Konsep ilmu dalam al-Quran, ditinjau dari sudut pandang filsafat. Kerangka yang dipakai untuk menganalisis tema ini adalah kerangka pemikiran filsafat. Dalam paradigma filsafat, konsep ilmu dapat diklasifikasi dalam tiga dimensi; pertama, dimensi epistemologis, yakni kajian filsafat dari aspek bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini disebut teori ilmu pengetahuan, yaitu metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar; kedua, dimensi ontologis, yakni cabang filsafat yang membahas tentang objek kajian ilmu pengetahuan, atau hakikat segala yang menjadi kajian ilmu; dan ketiga, dimensi  aksiologis, yakni cabang filsafat yang mem-bahas tentang tujuan dan nilai guna serta nilai manfaat ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini lebih dikenal dengan teori nilai. Dan  bagaimana   peranannya dalam membangun  sains Islam di perguruan tinggi Islam   khususnya  dan di dunia Islam  pada umumnya. Keywords: al-Quran, ayat al-matluwah, ayat al-majluwah, al-‘ilm, al-ḥikmah, dan al-ma‘rifah.
ISLAM: MEMBENTUK SAINS DAN TEKNOLOGI Danusiri, Danusiri
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The establishment of science-technology Islam originated from the transcendental consciousness that God acts directly provide instruction to people in his capacity as al-Alim and al-Muallim al-Nās with inspiration pattern into intuition or follow the instructions of the Quran on the basis of faith in the verses relating to science-technology. God teaching techniques outlined by humans with the conceptualization, theorization, saintifikasi, and technologization the verses of Allah either paragraph quraniyyah and kauniyyah. Starting point is the establishment of science-technology read. Results of reading will get something, a concept, or a variable. Thus, the more the reading of a Muslim will increasingly have something, concepts or variables. If the reader can find the basic relationship of two or more things, concepts, variables, then he can find one unit theory. Segususan systematic theory will result in one branch of science. Human intellectual activity that knows no stopping, then starting from only one branch of science will continue to be found various kinds of science. The next route, childbirth science technology. And, science-technology school of Islam embraced the benefits of technology for the service in order to obtain marḍatillah. Abstrak: Rute pembentukan sains-teknologi Islam berawal dari kesadaran transendental bahwa Allah berperan langsung memberikan pengajaran kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai al-‘Alim dan al-Mu’allim al-nās dengan pola pengilhaman  ke dalam intuisi atau mengikuti  petunjuk  al-Quran  atas dasar iman dalam ayat-ayat  yang berkaitan dengan sains-teknologi. Teknik pengajaran Allah dijabarkan oleh manusia dengan jalan konseptualisasi, teorisasi, saintifikasi, dan teknologisasi terhadap ayat-ayat Allah baik ayat quraniyyah maupun kauniyyah. Dan, sains-teknologi Islam menganut mazhab manfaat  teknologi untuk ibadah dalam rangka memperoleh marḍatillah. Keywords: konsep, teori, sains, teknologi, marḍatillah.
PERJALANAN SINGKAT PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU Hermawan, Hermawan
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Philosophy of science is part of the philosophy that answers some questions about the nature of science. This field learn the basics of philosophy, assumptions and implications of science, which includes, among others, natural sciences and social sciences. Here, the philosophy of science is closely related to epistemology and ontology. The philosophy of science seeks to explain issues such as: what and how a concept and can be called as a scientific statement, how the concept was born, how science can explain, predict and utilize nature through technology; how to determine the validity of an information; formulation and use of the scientific method; kinds of reasoning that can be used to obtain a conclusion; and the implications of scientific methods and models to society and to science itself. In this regard, this article will present a brief history of the development of philosophy of science to how the contribution of Islam to establish the philosophy of science. Thus it would be seen clearly similarities and differences in the aspects of epistemological, ontological, and axiological of various schools of philosophy that has developed: rationalism, empiricism, and Islam.   Abstrak: Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Berkaitan dengan ini, artikel ini akan memaparkan sejarah singkat perkembangan filsafat ilmu hingga bagaimana kontribusi Islam dalam membangun filsafat ilmu tersebut. Dengan demikian akan terlihat dengan jelas kesamaan dan perbedaan aspek-aspek epistemologis, ontologis, dan aksiologis dari berbagai macam aliran filsafat yang sudah berkembang: rasionalisme, empirisme, dan Islam.     Keywords: filsafat ilmu, rasionalisme, empirisme,  al-Quran.
KERUSAKAN LINGKUNGAN: EPISTEMOLOGI SAINS ISLAM DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA Mangunjaya, Fachruddin
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article examines the challenges of environmental degradation and arguing to retun back to the Quran as a search of epistemological foundation of science and a necessary strong foundation in managing the balance of carrying for the earth and environmental crisis. This study also explores the principles of Islamic in view of the environmental approach such as the understanding keywords about the God creation (Ilm-al-Khalq), which can be laid as foundations such as tawḥīd, which encourage the belief that the only the Creator with all power single, the khalifah (caliph) that empasis on man responsibility, mīzān which refers to maintaining a balance and keeping the fitrah as ordered of (human) nature in order to maintain the patterns of life and the integrity of Gods creation.   Abstrak: Artikel ini menguji tantangan-tantangan degradasi lingkungan dan mengajukan pendapat untuk kembali kepada al-Quran sebagai sebuah cara mencari dasar epistemologi sains dan sebuah dasar yang kuat dalam mengelola keseimbangan bagi bumi dan krisis lingkungan. Studi ini mengeksplorasi prinsip-prinsip Islam dalam memandang terhadap pendekatan lingkungan seperti adanya pemahaman kata-kata kunci tentang ciptaan Tuhan (‘Ilm al-Khalq), yang bisa ditempatkan sebagai dasar-dasar, yang mendorong keimanan sehingga hanya ada Sang Pencipta dengan kekuatan yang tunggal, sang khalifah yang menekankan pada tanggung jawab manusia, mīzān yang merujuk pada mempertahankan keseimbangan pola-pola kehidupan dan integritas makhluk Tuhan.   Keywords: Islamic epistemology, science, lingkungan, khalīfah, mīzān.
MEMBACA AYAT-AYAT AL-QURAN DENGAN PERSPEKTIF IAN G. BARBOUR Bisri, Achmad
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asbtract: This aticle aims to understand the science verses of the Quran with Ian G. Barbour perspective.  To elaborate the problem, I used the qualitative research with hermeneutic analysis. There are three findings important in the research. Firstly, regarding the relation between religion and science Ian G. Barbour divided four typologies: conflict, independence, integration, and dialogue. Secondly, regarding to the Quran verses in the line with Barbour’s thought to be found that some possibilities the science explain the scientific verses of the Quran. Thirdly, with Barbour’s perspective it was found the fact that relation the Qur’an and the science were conflict, independence, and integration. Abstrak: Artikel ini bertujuan memahami ayat-ayat sains dengan perspektif Ian G. Barbour. Untuk menjelaskan masalah ini, saya menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis hermeneutik. Adapun temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Pertama, dalam mengemukan hubungan antara agama dan sains, Ian G. Barbour membagi ke dalam empat tipologi (konflik, independen, integrasi, dan dialog). Ia melihat bahwa keempat tipologi ini dijumpai di kalangan saintis dan agamawan. Kedua, Berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran yang senada dengan pemikiran Ian G. Barbour memang ditemukan adanya kemungkinan sains menjelaskan ayat-ayat ilmiah dalam al-Quran.  Ketiga, dengan perspektif Ian G. Barbour, ditemukan fakta bahwa relasi al-Quran dan sains berada pada tipologi konflik, independen, dan integratif. Konflik terjadi ketika sains berbicara tentang alam yang terbebas dari campur tangan Tuhan; independensi terjadi ketika berkaitan dengan teori evolusi Darwin. Namun, integrasi terjadi juga ketika sains mampu memecahkan informasi-informasi ilmiah yang disajikan al-Quran. Keywords: al-Quran, sains, dialog, integrasi, independen.
BENDA ASTRONOMI DALAM AL-QURAN DARI PERSPEKTIF SAINS Hasan, Muhammad
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The objects in the sky in an astronomical perspective is very much the type and amount, but in the perspective of The Quran consists only of the sun, moon, and stars. The Quran gives cues and clues about the movement of the heavenly bodies. Sky objects in the perspective of the Koran already set his destiny, and had been subdued, so consistently and definitely outstanding. According to The Quran cue each celestial bodies, circulation and no silent, including the sun are also outstanding. In the circulation of the month, has its own characteristics, because only months in circulation set manzilah-manzilah, so the moon when seen from Earth show different form, sometimes the perfect (full moon), and sometimes show an imperfect form. Thus, it can be well known, when the month of the date of 1,2,3, and so on, so that people can practice their religion is based on the moon trip. Abstrak: Benda-benda di langit dalam perspektif astronomi sangat banyak jenis dan jumlahnya, namun dalam perspektif al-Quran hanya terdiri dari matahari, bulan, dan bintang. Al-Quran  memberikan  isyarat  dan  petunjuk  mengenai  pergerakan benda-benda  langit tersebut. Benda-benda langit  dalam  perspektif  al-Quran  sudah  ditetapkan  takdir-Nya,  dan telah  ditundukkan, sehingga beredar  secara  konsisten  dan  pasti. Menurut isyarat al-Quran masing-masing  benda  langit,  beredar  dan  tidak  ada  yang  diam, termasuk matahari juga beredar. Dalam peredaran bulan, memiliki ciri tersendiri, karena  hanya bulan  yang dalam  peredarannya  ditetapkan  manzilah-manzilah,  sehingga  bulan  ketika  dilihat  dari  bumi  menunjukkan  wujud yang berbeda-beda, kadang  sempurna (bulan  purnama),   dan terkadang menunjuk-kan  wujud yang    tidak  sempurna. Dengan  demikian, dapat  dikenal  dengan  baik,  kapan bulan  tanggal  1,2,3, dan  seterusnya,  sehingga  manusia dapat  melaksanakan  ibadah berdasarkan  perjalanan  bulan  tersebut. Keywords:  matahari, bulan, bintang, al-Quran, astronomi
BENDA ASTRONOMI DALAM AL-QURAN DARI PERSPEKTIF SAINS Hasan, Muhammad
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.409

Abstract

Abstract: The objects in the sky in an astronomical perspective is very much the type and amount, but in the perspective of The Quran consists only of the sun, moon, and stars. The Quran gives cues and clues about the movement of the heavenly bodies. Sky objects in the perspective of the Koran already set his destiny, and had been subdued, so consistently and definitely outstanding. According to The Quran cue each celestial bodies, circulation and no silent, including the sun are also outstanding. In the circulation of the month, has its own characteristics, because only months in circulation set manzilah-manzilah, so the moon when seen from Earth show different form, sometimes the perfect (full moon), and sometimes show an imperfect form. Thus, it can be well known, when the month of the date of 1,2,3, and so on, so that people can practice their religion is based on the moon trip. Abstrak: Benda-benda di langit dalam perspektif astronomi sangat banyak jenis dan jumlahnya, namun dalam perspektif al-Quran hanya terdiri dari matahari, bulan, dan bintang. Al-Quran memberikan isyarat dan petunjuk mengenai pergerakan benda-benda langit tersebut. Benda-benda langit dalam perspektif al-Quran sudah ditetapkan takdir-Nya, dan telah ditundukkan, sehingga beredar secara konsisten dan pasti. Menurut isyarat al-Quran masing-masing benda langit, beredar dan tidak ada yang diam, termasuk matahari juga beredar. Dalam peredaran bulan, memiliki ciri tersendiri, karena hanya bulan yang dalam peredarannya ditetapkan manzilah-manzilah, sehingga bulan ketika dilihat dari bumi menunjukkan wujud yang berbeda-beda, kadang sempurna (bulan purnama), dan terkadang menunjuk-kan wujud yang tidak sempurna. Dengan demikian, dapat dikenal dengan baik, kapan bulan tanggal 1,2,3, dan seterusnya, sehingga manusia dapat melaksanakan ibadah berdasarkan perjalanan bulan tersebut. Keywords: matahari, bulan, bintang, al-Quran, astronomi
ISLAM: MEMBENTUK SAINS DAN TEKNOLOGI Danusiri, Danusiri
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.405

Abstract

Abstract: The establishment of science-technology Islam originated from the transcendental consciousness that God acts directly provide instruction to people in his capacity as al-'Alim and al-Mu'allim al-Nās with inspiration pattern into intuition or follow the instructions of the Quran on the basis of faith in the verses relating to science-technology. God teaching techniques outlined by humans with the conceptualization, theorization, saintifikasi, and technologization the verses of Allah either paragraph quraniyyah and kauniyyah. Starting point is the establishment of science-technology read. Results of reading will get something, a concept, or a variable. Thus, the more the reading of a Muslim will increasingly have something, concepts or variables. If the reader can find the basic relationship of two or more things, concepts, variables, then he can find one unit theory. Segususan systematic theory will result in one branch of science. Human intellectual activity that knows no stopping, then starting from only one branch of science will continue to be found various kinds of science. The next route, childbirth science technology. And, science-technology school of Islam embraced the benefits of technology for the service in order to obtain marḍatillah. Abstrak: Rute pembentukan sains-teknologi Islam berawal dari kesadaran transendental bahwa Allah berperan langsung memberikan pengajaran kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai al-‘Alim dan al-Mu’allim al-nās dengan pola pengilhaman ke dalam intuisi atau mengikuti petunjuk al-Quran atas dasar iman dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan sains-teknologi. Teknik pengajaran Allah dijabarkan oleh manusia dengan jalan konseptualisasi, teorisasi, saintifikasi, dan teknologisasi terhadap ayat-ayat Allah baik ayat quraniyyah maupun kauniyyah. Dan, sains-teknologi Islam menganut mazhab manfaat teknologi untuk ibadah dalam rangka memperoleh marḍatillah. Keywords: konsep, teori, sains, teknologi, marḍatillah.
PERJALANAN SINGKAT PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU Hermawan, Hermawan
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.406

Abstract

Abstract: Philosophy of science is part of the philosophy that answers some questions about the nature of science. This field learn the basics of philosophy, assumptions and implications of science, which includes, among others, natural sciences and social sciences. Here, the philosophy of science is closely related to epistemology and ontology. The philosophy of science seeks to explain issues such as: what and how a concept and can be called as a scientific statement, how the concept was born, how science can explain, predict and utilize nature through technology; how to determine the validity of an information; formulation and use of the scientific method; kinds of reasoning that can be used to obtain a conclusion; and the implications of scientific methods and models to society and to science itself. In this regard, this article will present a brief history of the development of philosophy of science to how the contribution of Islam to establish the philosophy of science. Thus it would be seen clearly similarities and differences in the aspects of epistemological, ontological, and axiological of various schools of philosophy that has developed: rationalism, empiricism, and Islam. Abstrak: Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Berkaitan dengan ini, artikel ini akan memaparkan sejarah singkat perkembangan filsafat ilmu hingga bagaimana kontribusi Islam dalam membangun filsafat ilmu tersebut. Dengan demikian akan terlihat dengan jelas kesamaan dan perbedaan aspek-aspek epistemologis, ontologis, dan aksiologis dari berbagai macam aliran filsafat yang sudah berkembang: rasionalisme, empirisme, dan Islam. Keywords: filsafat ilmu, rasionalisme, empirisme, al-Quran.
KERUSAKAN LINGKUNGAN: EPISTEMOLOGI SAINS ISLAM DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA Mangunjaya, Fachruddin
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.407

Abstract

Abstract: This article examines the challenges of environmental degradation and arguing to retun back to the Quran as a search of epistemological foundation of science and a necessary strong foundation in managing the balance of carrying for the earth and environmental crisis. This study also explores the principles of Islamic in view of the environmental approach such as the understanding keywords about the God creation (Ilm-al-Khalq), which can be laid as foundations such as tawḥīd, which encourage the belief that the only the Creator with all power single, the khalifah (caliph) that empasis on man responsibility, mīzān which refers to maintaining a balance and keeping the fitrah as ordered of (human) nature in order to maintain the patterns of life and the integrity of God's creation. Abstrak: Artikel ini menguji tantangan-tantangan degradasi lingkungan dan mengajukan pendapat untuk kembali kepada al-Quran sebagai sebuah cara mencari dasar epistemologi sains dan sebuah dasar yang kuat dalam mengelola keseimbangan bagi bumi dan krisis lingkungan. Studi ini mengeksplorasi prinsip-prinsip Islam dalam memandang terhadap pendekatan lingkungan seperti adanya pemahaman kata-kata kunci tentang ciptaan Tuhan (‘Ilm al-Khalq), yang bisa ditempatkan sebagai dasar-dasar, yang mendorong keimanan sehingga hanya ada Sang Pencipta dengan kekuatan yang tunggal, sang khalifah yang menekankan pada tanggung jawab manusia, mīzān yang merujuk pada mempertahankan keseimbangan pola-pola kehidupan dan integritas makhluk Tuhan. Keywords: Islamic epistemology, science, lingkungan, khalīfah, mīzān.

Page 1 of 2 | Total Record : 18