cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 6, No. 2, Agustus 2019" : 12 Documents clear
Industri Ico Timpo Di Cabenge Kabupaten Soppeng, 2003 2017 Nurmayanti Nurmayanti; Patahuddin Patahuddin; Muh Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.10782

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang keberadaan tembakau dan industri Ico Timpo di Cabenge, Perkembangan industri Ico Timpo, Kemunduran Industri Ico Timpo, dan Peran serta Dampak Tembakau dan Industri Ico Timpo di Cabenge. Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode historis, dengan tahapan kerja yang meliputi, heuristik, kritik, interpretasi dan juga historiografi. Konsep ilmu sosial seperti Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi juga digunakan untuk menganalisis masalah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang berdirinya industri Ico Timpo di Cabenge diawali kebiasaan masyarakat mengunyah sirih dan tembakau namun berangsur-angsur ditinggalkan dan diganti dengan merokok dan berdirilah industri Ico Timpo dan berkembang hingga dapat dipasarkan ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan hingga Kolaka.  Namun karena banyaknya persaingan dan datangnya industri tembakau Jawa menyebabkan industri Ico Timpo yang bersifat tradisional mengalami kemunduran. Berdasarkan hasil penelitian di atas disimpulkan bahwa industri tembakau di Cabenge mengalami pasang surut yang berlangsung dari tahun 2003-2017. Hal ini memberikan peran dan dampak yang cukup besar pagi perekonomian masyarakat dan pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yakni: heuristic, kritik sumber, interpretasi dan historiografi.Keyword: Ico Timpo, Tembakau, Cabenge
Masyarakat Nelayan Kampung Sicini Arungkeke, Jeneponto 2014-2017 Karmilawati Karmilawati; Najamuddin Najamuddin
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.44 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.12149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang masyarakat nelayan, munculnya modernisasi dan perkembangan alat tangkap serta bagaimana dampak yang ditimbulkan dalam kehidupan baik dalam bidang sosial, bidang ekonomi maupun dalam bidang pendidikan bagi masyarakat nelayan yang ada di Kampung Sicini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat nelayan yang ada di kampung Sicini kabupaten Jeneponto banyak menggantungkan hidupnya bekerja sebagai pelaut hal ini disebabkan karena wilayah lautnya yang sangat luas. Perkembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Kampung Sicini di mulai pada awal tahun 2014 yakni dengan masuknya motornisasi perahu yang dikenal dengan perahu Fiber. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari peran pemeritah dimana diadakannya penyuluhan yang dilakukan oleh Dapertemen Kelautan dan Perikanan yang bekerja sama dengan pemerintah setempat tentang penggunaan teknologi modern. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masuknya teknologi modernisasi berupa penerapan teknologi modern dibidang perikan dapat menambah pendapatan masyarakat sekaligus meningkatkan taraf kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. Serta letak geografis kampung Sicini yang mendukung sumber daya laut untuk kehidupan nelayannya. Prosedur dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan: Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi.Kata Kunci : Masyarakat Nelayan, Kampung Sicini, Jeneponto Abstrack This study aims to determine the background of the fishing community, the emergence of modernization and the development of fishing gear and how the impacts caused in life both in the social, economic and educational fields for the fishing community in Kampung Sicini. The results showed that the fishing communities in the Sicini village of Jeneponto district relied a lot on their lives working as sailors because of the vast sea area. The development of the socioeconomic life of the people in Kampung Sicini began in early 2014 with the introduction of boat motorization known as Fiber boat. This development is inseparable from the role of the government where counseling is held by the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries in collaboration with local governments on the use of modern technology. Based on the results of the study it can be concluded that the inclusion of modernization technology in the form of the application of modern technology in fisheries can increase people's income while increasing the socio-economic standard of life of their people. As well as the geographical location of the Sicini village which supports marine resources for the lives of its fishermen. The procedure in this study uses the historical method with stages: Heuristics, Criticism, Interpretation and Historiography.Keywords: Fishermen Community, Sicini Village, Jeneponto 
Pedagang Etnis Cina di Pattallassang Kabupaten Takalar 1971-2017 Utami Nanda Pertiwi; Mustari Bosra; Asmunandar Asmunandar
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.10781

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah keberadaan pedagang Etnis Cina di Pattallassang Kabupaten Takalar (1971-2017), hubungan pedagang Etnis Cina dengan masyarakat setempat di tinjau dari segi ekonomi dan sosial, serta bagaimana pola perdagangan Etnis Cina. Penelitian ini merupakan  penelitian sejarah yang menggunakan metode sejarah melalui tahapan kerja yakni heuristik atau pengumpulan data, kritik sumber, interpretasi, historiografi atau hasil penulisan. Kedatangan para pedagang Cina di Takalar khususnya di desa Pattallassang secara Historis belum ditemukan angka pasti, namun ditemukan bukti Arkeologi di daerah Pattallassang yaitu salah satu kuburan etnik Cina yang berkisar tahun 1953-an yang terdapat di batu nisan tersebut dan masih menggunakan ejaan lama seperti kata Kuburnja. Namun barulah pada tahun 1971, terdapat etnis Cina yang bekerja sebagai pedagang. Dalam proses perdagangan etnis Cina yang datang ke Kabupaten Takalar, mereka  melakukan pembauran dengan masyarakat seperti perkawinan yang keturunannya kemudian disebut Cina peranakan. Istilah ini menunjuk pada masyarakat keturunan Cina yang kakek-neneknya telah menikah dengan masyarakat lokal yang juga dikenal dengan istilah Cina Baba dan Cina Nona. Sistem perdagangan yang dianut pedagang Etnis Cina berakar kuat pada sistem kongsi. Kongsi adalah suatu permufakatan antara dua orang atau lebih untuk melakukan usaha secara bersama dengan tujuan menikmati secara bersama manfaat atau keuntungan yang diperoleh dari usaha itu. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian lapangan terdiri dari wawancara ( Ryan Lie, Cici Nova, Ery Chou, Baba Henry, dan Baba Ling) dan mengumpulkan sumber arsip ( dokumen dari kantor desa dan BPS Kabupaten Takalar ) serta literatur-literatur yang berhubungan.
Legalisasi Lotto di Makassar, 1967-1969 Fitri Handayani; Mustari Bosra
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.848 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.10823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang legalisasi Lotto di Makassar, dinamika penyelenggaraan Lotto di Makassar, serta dampak legalisasi Lotto dalam kehidupan masyarakat Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analisis dengan menggunakan metode penelitian sejarah melalui tahap heurisik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian yang disajikan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa Pola dasar pembangunan daerah Kotamadya Makassar yang berisikan pemberantasan kemiskinan, kebodohan dan kemelaratan (3K) sesuai dengan PELITA terhambat karena kurangnya dana. Walikota Kotamadya Makassar pada saat itu, H.M. Dg. Patompo mencari jalan keluar dengan mengumpulkan dana pembangunan inkonvensional berupa pajak perjudian dengan memilih Lotere Totalisator (Lotto) yang saat itu marak diselenggarakan di Kota lain. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan Lotto di Makassar pada satu sisi mampu membantu menambah pendapatan asli daerah, namun pada sisi lain Lotto ini juga menjadi virus yang membuat pemikiran spekulatif berkembang dikalangan masyarakat yaitu dengan mendapatkan untung dari hasil Lotto tanpa harus bekerja keras dan juga menghilangkan budaya siri’ yang dianut oleh masyarakat Bugis Makassar.Kata Kunci: Lotto, Makassar, dan PajakThis study aims to determine the background of Lotto legalization in Makassar, the dynamics of the implementation of Lotto in Makassar, and the impact of Lotto legalization on the lives of Makassar people. This research is a descriptive-analysis study using historical research methods through the heurisic, criticism, interpretation and historiography stages. The results of the study presented in this paper show that the basic pattern of regional development in the Municipality of Makassar which contains poverty, ignorance and poverty (3K) in accordance with PELITA is hampered due to lack of funds. The Mayor of Makassar Municipality at the time, H.M. Dg. Patompo sought a way out by collecting unconventional development funds in the form of a gambling tax by selecting Lottery Totalisator (Lotto), which at that time was rife in other cities. From the results of this study it can be concluded that the implementation of Lotto in Makassar on the one hand is able to help increase local original income, but on the other hand this Lotto is also a virus that makes speculative thinking develop among the community by getting profits from Lotto results without having to work hard and also eliminating siri’ culture adhered to by the Bugis Makassar community.Keywords: Lotto, Makassar and Tax 
Perkembangan Madrasah Aliyah Negeri Palopo, 1990-2007 Hapsari Hapsari; Bustan Bustan
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.088 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.12151

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses peralihan PGAN ke MAN Palopo, perkembangan MAN Palopo dalam kurun waktu tahun 1990-2007, serta peran MAN Palopo dalam bidang pendidikan dan keagamaan dan bidang sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peralihan dari PGAN menjadi MAN melalui beberapa tahap yaitu mulai dari PGAN 4 tahun kemudian masa belajarnya ditambah 2 tahun menjadi PGAN 6 tahun kemudian menjadi MTs dan akhirnya menjadi MAN. Seiring berjalannya waktu setelah mengalami peralihan MAN Palopo ini juga mengalami perkembangan dari segala aspek, baik dari sisi akademik maupun non akademik serta dari segi perkembangan fisik maupun non fisik madrasah. MAN Palopo ini memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat setempat, misalnya dalam bidang pendidikan dan keagamaan yaitu penanaman akhlakul karimah, media sosialisasi keislaman dan benteng moralitas peserta didik dan juga dalam bidang sosial yaitu sebagai wadah untuk beradaptasi dengan masyarakat setempat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa MAN Palopo yang didirikan pada tahun 1990 mengalami perkembangan yang cukup pesat yang dibuktikan dengan adanya perbaikan dan penambahan fasilitas di sekolah serta prestasi akademik maupun non akademik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahapan yaitu : heuristik (pengumpulan data atau sumber), kritik sumber yang terdiri dari kritik intern dan ekstern, interpretasi atau penafsiran sumber dan historiografi yaitu penulisan sejarahKata Kunci : Madrasah Aliyah, Palopo                    AbstractThis study aims to determine the process of transition from PGAN to MAN Palopo, the development of MAN Palopo in the period 1990-2007, and the role of MAN Palopo in the fields of education and religion and the social field. The results of this study indicate that the transition from PGAN to MAN through several stages, starting from PGAN 4 years later, the study period was added 2 years to PGAN 6 years later to become MTs and finally became MAN. Over time after undergoing the transition MAN Palopo is also experiencing growth in all aspects, both in terms of academic and non-academic as well as in terms of physical and non-physical development of madrasas. This Palopo MAN has a very important role for the local community, for example in the field of education and religion, namely the cultivation of morality, the Islamic media and the morality of students' morality and also in the social field as a forum to adapt to the local community. This study concludes that MAN Palopo, which was established in 1990, has experienced quite rapid development as evidenced by the improvement and addition of facilities in schools as well as academic and non-academic achievements. This study uses a historical research method which consists of four stages, namely: heuristics (collecting data or sources), source criticism consisting of internal and external criticism, interpretation or interpretation of sources and historiography, namely writing historyKey words: Madrasah Aliyah, Palopo
Tradisi Adat Pattaungeng Situs Tinco di Soppeng, 2007-2017 Eka Yanti; Jumadi Jumadi; Muh Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.654 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.10839

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang keberadaan Tradisi Adat Pattaungeng, proses pelaksanaan serta cara masyarakat mempertahankan Tradisi Adat Pattaungeng Di Situs Tinco. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri atas 4 tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi serta historiografi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Adat Pattaungeng merupakan kegiatan  tahunan yang telah dilaksanakan secara turun temurun. Pemerintah mulai ikut berpartisipasi mulai tahun 2012. Faktor pendukung yang menyebabkan pelaksanaan Tradisi Adat Pattaungeng masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat di daerah tinco yaitu adanya niat dari dalam diri untuk membudayakan dan melestarikan tradisi adat pattaungeng, adanya penerus atau pergantian generasi yang akan melaksanakan sehingga budaya tersebut tetap terlaksana dan bertahan didalam masyarakat. Tradisi tersebut dilaksanakan antar bulan september-oktober.Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Tinco melakukan  Tradisi Adat Pattaungeng dengan keyakinan bahwa tradisi tersebut di laksanakan untuk tola bala, untuk keselamatan dan kesejahteraan agar terhindar dari bencana. Serta ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas reski yang berlimpah di berikan Tuhan kepada mereka.Keyword: Tradition, Pattaungeng, Tinco The purpose of this study was to determine the background of the existence of the Pattaungeng Indigenous Tradition, the implementation process and the way the community maintained the Pattaungeng Indigenous Tradition on the Tinco Site. This study uses a historical method consisting of 4 stages, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography. The results showed that the Pattaungeng Traditional Tradition is an annual activity that has been carried down for generations. The government began to participate starting in 2012. Supporting factors that led to the implementation of the Pattaungeng Indigenous Tradition are still carried out by the community in the Tinco area, namely the existence of an inner intention to cultivate and preserve the pattaungeng traditional traditions, the successor or succession of generations who will carry out so that the culture remains implemented and survived in society. The tradition is carried out between September-October. Based on the results of the above research it can be concluded that the people in Tinco carry out the Pattaungeng Traditional Tradition with the belief that the tradition is carried out for tolaala, for safety and prosperity in order to avoid disaster. As well as gratitude to God for the abundant blessings God gave themKeyword: Tradition, Pattaungeng, Tinco
Petani Cengkeh di Kelurahan Mannanti Sinjai, 1977-2018 Muh. Summung Awar; Amirullah Amirullah; Ahmadin Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.12140

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang Petani Cengkeh Di Kelurahan Mannanti (1977-2018) dengan memaparkan latar belakang petani cengkeh, perkembangan cengkeh, serta dampak pada kehidupan sosial ekonomi petani cengkeh di Kelurahan Mannanti tahun 1977-2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang berkembangnya pertanian cengkeh di Kelurahan Mannanti adanya inisiatif sendiri yaitu seorang tokoh masyarakat bernama Gunawang Makkarateng selaku ketua APCI (Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia) cabang Kabupaten Sinjai sekaligus petani pertama yang membudidayakan tanaman cengkeh. Adapun perkembangan petani cengkeh tidak terlepas dari tingkat pendapatan cengkeh baik sebelum, saat, dan sesudah diberlakukannya kebijakan pemerintah. Sementara dampak yang ditimbulkan yakni mampu mengubah kehidupan petani sebelum dan sesudah diberlakukan kebijakan pemerintah, yaitu munculnya kalangan haji baru, memiliki prabot rumah tangga seperti Televisi, Kulkas, DVD meja dan kursi tamu, meja makan  dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula kendaraan roda empat, dan sepeda motor, dan memiliki lahan pertanian yang luas serta menyekolahkan anaknya sampai di perguruan tinggi. Namun, pada saat diberlakukan kebijakan justru mengecewakan petani akibat harga cengkeh yang rendah. Munculnya juga kalangan elit baru dan kesempatan kerja bagi masyarakat lain dengan adanya sistem upah. Maka dapat di simpulkan bahwa petani cengkeh di Kelurahan Mannanti Kabupaten Sinjai (1977-2018) sebelum dan susudah diberlakukan kebijakan mengalami peningkatan. Namun pada saat diberlakukan kebijakan mengalami penurunan. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian sejarah yang meliputi heuristik yaitu tahapan pengumpulan data, kritik sumber bertujuan menilai dan menentukan sumber, interpretasi yaitu menafsirkan data dan tahap historiografi atau penyajian atau penulisan sejarah. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian lapangan terdiri dari wawancara dengan petani cengkeh dan mengumpulkan sumber arsip (arsip kantor kelurahan) serta literatur-literatur  yang berhubungan dengan penelitian ini. Kata kunci: Petani Cengkeh, Mannanti  AbstractThis study aims to find out about Clove Farmers in Mannanti Village (1977-2018) by describing the background of clove farmers, clove development, and the impact on the socio-economic life of clove farmers in Mannanti Village in 1977-2018. The results of the study showed that the background of the development of clove farming in the Mannanti village was that there was an initiative of its own namely a community leader named Gunawang Makkarateng as chairman of the Sinjai District branch of the Indonesian Clove Farmers Association and the first farmer to cultivate clove plants. The development of clove farmers is inseparable from the level of clove income both before, during, and after the implementation of government policy. While the impact that is caused is able to change the lives of farmers before and after the enactment of government policies, namely the emergence of new hajj groups, having household furniture such as television, refrigerators, DVD tables and guest chairs, dining tables and so on. Do not miss the four-wheeled vehicles, and motorbikes, and have extensive agricultural land and send their children to college. However, when the policy came into effect, it disappointed farmers due to low clove prices. There is also the emergence of new elites and job opportunities for other communities with a wage system. So it can be concluded that the clove farmers in the Mannanti Kelurahan of Sinjai Regency (1977-2018), before and after the policy was enacted, had increased. However, at the time of its enactment the policy has decreased. This study uses a historical research methodology which includes heuristics, namely the stages of data collection, source criticism aimed at assessing and determining the source, interpretation of interpreting the data and historiographic stage or presenting or writing history. The method of data collection is carried out by means of field research consisting of interviews with clove farmers and collecting archival sources (village office archives) as well as literature relating to this research.Keywords: Clove Farmers, Mannanti 
Penetrasi Ajaran Islam dalam Tradisi Pernikahan di Sinjai, 1999-2003 Astuti Astuti; Amirullah Amirullah
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.10783

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui latar belakang, dinamika serta dampak dari adanya penetrasi ajaran Islam dalam tradisi pernikahan di Desa Biroro Kabupaten Sinjai. Prosedur dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan: Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetrasian ajaran Islam terhadap budaya lokal dalam pernikahan adat bugis di Desa Biroro disebut sebagai penetrasi kultural spiritual karena ditemukannya perembesan dan perpaduan antara budaya lokal dengan ajaran Islam sehingga budaya yang berkembang sekarang, di dalamnya mengandung nilai-nilai agama yang sakral. Kekentalan penerapan tradisi nenek moyang dalam suatu  kegiatan atau upacara, misalnya upacara pernikahan yang setiap rangkaian-rangkaian acara yang berlangsung baik pra-pernikahan hingga pelaksanaan dan pasca-pernikahan semuanya penuh dengan aturan adat menjadi sebab utama gerakan penetrasian. Selanjutnya dibentuklah Korps Mubaligh sebagai perkumpulan yang akan bertugas menyampaikan serta meratakan ajaran agama Islam secara kaffah dalam masyarakat dengan metode dakwah yang lembut dan damai. Beragam respon yang dituai, pujian bahkan penolakan keras terjadi namun tidak melemahkan pergerakan mubaligh hingga terjadinya penyerangan markas Korps Mubaligh yang menjadi pelemah pergerakan. Walaupun mengalami kemunduran, ternyata ada dampak yang dirasakan atau hasil yang membekas di masyarakat yakni penyelenggaraan kegiatan sosial kemasyarakatan serta penyelenggaraan upacara atau tradisi tertentu di Desa Biroro secara berangsur-angsur dilaksanakan dengan berlandaskan pada syariat Islam.Kata kunci : Pernikahan, Mubaligh dan Biroro
Nelayan Lonrae Kabupaten Bone 1975-2017 Dian Artifah Arfah; Najamuddin Najamuddin
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.10841

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehidupan nelayan di Kelurahan Lonrae, perkembangan dari segi alat tangkap dan perkembangan armada perahu yang digunakan serta dampak yang timbul dalam bidang sosial ekonomi dan budaya pada masyarakat Nelayan di Kelurahan Lonrae. Prosedur penelitian ini mengacu pada beberapa tahapan dalam metode penelitian sejarah yang terdiri dari Heuristik (pengumpulan data) dengan wawancara serta sumber tertulis), kritik, interpretasi (penafsiran) dan terakhir adalah historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nelayan di Kelurahan Lonrae mengalami perkembangan  baik dari pola penangkapan ikan, segi alat tangkap yang digunakan. Selain Perkembangan pada alat tangkap juga terjadi pada perkembangan perahu yang digunakan oleh masyarakat nelayan di Kelurahan Lonrae selanjutnya perkembangan pada masyarakat nelayan di Kelurahan Lonrae seperti usaha rumah tangga masyarakat nelayan di Kelurahan Lonrae seperti pedagang Ikan Asap yang digeluti oleh kalangan perempuan yang memberikan keuntungan lumayan sebesar Rp.500.000,- perminggu yang memberikan dampak terhadap sektor perekonomian. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan dari segi alat tangkap dan perahu yang dipergunakan merangsang munculnya pelaku ekonomi yang turut berpartisipasi serta memanfaatkan peluang untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat nelayan terutama dalam bidang ekonomi, hal ini menunjukkan bahwa keadaan ekonomi turut mempengaruhi status sosial dalam masyarakat.    Kata Kunci: Nelayan, Kelurahan Lonrae This study aims to determine the background of the life of fishermen in Lonrae Kelurahan, developments in terms of fishing gear and the development of the fleet of boats used and the impacts arising in the socio-economic and cultural fields of the fishing communities in Lonrae Kelurahan. This research procedure refers to several stages in the historical research method consisting of Heuristics (data collection) with interviews and written sources), criticism, interpretation (interpretation) and finally historiography (history writing). The results of this study indicate that fishermen in the Lonrae Village experienced a good development in terms of fishing patterns, in terms of fishing gear used. In addition to developments in fishing gear also occurred in the development of boats used by the Lonrae fishing community and further developments in the fishing communities in Lonrae Kelurahan such as household businesses in Lonrae Kelurahan such as Smoked Fish traders among women  gived advantage is Rp.500.00,- who have an impact on the economic sector. Based on the results of this study it can be concluded that the development in terms of fishing gear and boats used stimulates the emergence of economic actors who participate and take advantage of opportunities to improve the lives of fishing communities, especially in the economic field, this shows that economic conditions also influence social status in societyKeywords: Fishermen, Kelurahan Lonrae
Sekolah Rakyat di Enrekang, 1950-1959 Musdalifah Muchlis; Jumadi Jumadi
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.12144

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pendidikan di Enrekang sebelum tahun 1950, sistem  pendidikan sekolah rakyat dan  perkembangan sekolah rakyat di Enrekang tahun 1950-1959. Sistem dan perkembangan sekolah rakyat dalam penelitian ini berfokus pada kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, guru sekolah rakyat, minat murid, kondisi dan peralatan sekolah. Jenis penelitian ini adalah penelitian Kualitatif, dengan menggunakan metode sejarah melalui tahapan: heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah rakyat sudah ada pada masa pemerintahan Belanda tahun 1905 sedangkan di Enrekang tahun 1926 namun  nama Volkschool. Nama sekolah Rakyat dipakai setelah Indonesia merdeka. Kondisi Sekolah rakyat di Enrekang sebelum tahun 1950 masih dalam keadaan terbelakang namun setelah lima tahun merdeka keadaan sudah semakin membaik.  Sistem pendidikan sekolah rakyat setelah kemerdekaan terutama dalam kurikulum yang awalnya hanya belajar membaca, menulis dan berhitung kini semakin bertambah.seperti contohnya belajar sejarah. Sekolah rakyat di Enrekang mengalami perkembangan di lihat dari semakin banyaknya sekolah yang berubah dari SR 3 atau 4 menjadi 6 tahun karena jumlah siswa bertambah. Perkembangan tersebut karena adanya peran aktif masyarakat dan pemerintah yang turut andil dalam kemajuan pendidikan.Kata Kunci: Sekolah rakyat dan Enrekang.AbstractThis study aims to determine the condition of education in Enrekang before 1950, the education system of public schools and the development of community schools in Enrekang in 1950-1959. The system and development of community schools in this study focused on government policy, community participation, community school teachers, student interests, school conditions and equipment. This type of research is a qualitative study, using the historical method through stages: heuristics (source collection), source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that the people's school had existed during the Dutch administration in 1905 while in Enrekang in 1926 the name was Volkschool. The name People's school was used after Indonesian independence. The condition of people's schools in Enrekang before 1950 was still underdeveloped, but after five years of independence the situation had improved. The education system of the people's schools after independence, especially in the curriculum which initially only learned to read, write and count is now increasing. For example studying history. Public schools in Enrekang are experiencing growth in view of the increasing number of schools that change from SR 3 or 4 to 6 years as the number of students increases. This development was due to the active role of the community and the government that contributed to the progress of education.Keywords: Community school and Enrekang

Page 1 of 2 | Total Record : 12