cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2014): September" : 8 Documents clear
PENGARUH TINGGI BEDENGAN PADA DUA VARIETAS LOKAL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) Holish -; Eko Murniyanto; Catur Wasonowati
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.754 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1442

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif, komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah, karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan Jawa Timur yang  sangat fluktuatif  harga maupun produksinya. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura di Desa Telang, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan yang berada pada ketinggian ± 3 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah grumusol. Penelitian dilakukan pada bulan November 2011 sampai dengan Februari 2012. Perlakuan  tinggi bedengan tidak menunjukkan  pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada semua parameter. Perlakuan tinggi bedengan 40 cm (T1) cenderung menghasilkan jumlah daun ( 29,66), bobot basah pertanaman (43,37 g) dan bobot basah umbi per bedengan (3450 g)  dan bobot kering umbi per bedengan (8,9 g)  lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan tinggi bedengan 50 cm (T2) dan 60 cm (T3). Perlakuan jenis varietas tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada semua parameter. Perlakuan varietas Nganjuk (V2) cenderung menghasilkan tinggi tanaman (26,12 cm)  dan jumlah daun (27) lebih tinggi dibandingkan varietas lokal Madura (V1), sedangkan varietas lokal Madura  (V1) cenderung memberikan bobot basah umbi per tanaman (39,24 g) dan bobot basah umbi per bedengan  (3150 g) lebih tinggi dibanding varietas Nganjuk (V2). Perlakuan tinggi bedengan dan dua varietas bawang merah tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada semua parameter pengamatan.Kata Kunci : varietas lokal, bawang merah, tinggi bedengan.
PERBAIKAN KUALITAS BUAH KESEMEK DENGAN PENYEMPROTAN ALKOHOL (Quality Improvement of Persimmon Fruit by Spraying Alcohol) Eko Setiawan
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.998 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1449

Abstract

Kesemek (Diospyros kaki) merupakan buah klimaterik dan mempunyai sifat astrigen. Untuk menghilangkan sifat astrigen pada buah kesemek di Indonesia dilakukan dengan perendaman air kapur. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari alternatif lain untuk menghilangkan sifat astrigen kesemek sehingga meningkatkan kualitas buah. Kesemek diberi perlakuan disemprot dengan alkohol 70%, direndam air kapur kemudian dibandingkan kadar gula, tingkat kekerasan serta penampilan warna pada 10 hari setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan dalam sepuluh hari setelah pemeraman, perlakuan penyemprotan dengan alkohol 70% mempunyai kadar gula lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan perendaman air kapur. Tingkat kekerasan buah pada perendaman air kapur lebih tinggi dibandingkan penyemrotan alkohol 70%. Warna buah dengan penyemrotan alkohol 70% lebih bersih dan menarik.Kata kunci: alkohol 70%, Diospyros kaki, air kapur, penyemprotan
PENGARUH PEMANASAN DAN PENYIMPANAN TERHADAP AKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK LERAK (Sapindus rarak) PADA LARVA Crocidolomia pavonana (F.) (LEPIDOPTERA: CRAMBIDAE) Gracia Mediana; Djoko Prijono
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.222 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1443

Abstract

Hama Crocidolomia pavonana merupakan salah satu kendala biotik penting pada budi daya tanaman sayuran famili Brassicaceae. Salah satu sarana pengendalian hama yang ramah lingkungan ialah insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh pemanasan dan penyimpanan terhadap aktivitas insektisida ekstrak buah lerak (Sapindus rarak) pada larva C. pavonana. Irisan buah lerak digiling dalam akuades menggunakan blender. Tiga macam ekstrak lerak yang diuji ialah (1) ekstrak tanpa pemanasan dan langsung digunakan, (2) ekstrak yang disiapkan dengan pemanasan pada suhu 40 °C dan langsung digunakan, serta (3) ekstrak dengan pemanasan dan disimpan pada suhu  ruang selama 7 hari. Setiap ekstrak diuji pada enam taraf konsentrasi dengan menggunakan metode perlakuan daun pakan. Larva instar II C. pavonana diberi pakan daun kubis perlakuan selama 2 hari dan daun tanpa perlakuan pada 2 hari berikutnya. Data kematian larva uji dicatat setiap hari sampai hari ke-4 dan diolah dengan analisis probit. Secara umum mortalitas larva C. pavonana pada semua perlakuan meningkat tajam antara 24 dan 48 jam setelah perlakuan (JSP). Berdasarkan LC95 pada 96 JSP, ekstrak lerak dengan pemanasan (LC95 2,53%) sekitar 1,7 kali lebih toksik terhadap larva C. pavonana daripada ekstrak lerak tanpa pemanasan (LC95 4,19%), tetapi toksisitas ekstrak tersebut menurun sekitar 2,9 kali lipat setelah disimpan pada suhu ruang selama 7 hari (LC95 7.43%). Selain mengakibatkan kematian, perlakuan dengan ekstrak lerak juga dapat menghambat perkembangan larva C. pavonana dari instar II ke instar IV.Kata kunci: insektisida nabati, ketahanan simpan, cara penyiapan, toksisitas.
VALIDASI BAKTERI PELARUT FOSFAT INDIGENUS MADURA PADA RHIZOSFER Gita Pawana
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.974 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1444

Abstract

ABSTRACTOften generalized that the determination effectiveness of biological agents depends on environment. The purpose of this study is to obtain an explanation of the role of growth limiting factors, chemical or physical on the effectiveness Madura indigenous Pseudomonas aeruginosa as a phosphate solubilizing. The method used in achieving the goal of research is, perform in vitro studies on the type of carbon source (sugar) and the level of salinity as the growth limiting factors of bacteria on the effectiveness of phosphate dissolution and study the influence of the the rice rhizosphere type of phosphate available. Found that in vitro, the type of carbon source and salinity levels affect phosphate concentrations and abundance of bacterial cells. Increased levels of salinity decreases the abundance of bacterial cells. Average cell population fluorescent pseudomonads in fields rice rhizosphere is higher than the lowland rice rhizosphere, the cell population fluorescent pseudomonads higher level provide higher available phosphate and vegetative growth of rice better.Key words:  Phosphate solubilizing, limiting growth, carbon source, salinity, the rhizosphere Madura indigenous.
PENGHAMBATAN JUMLAH ANAKAN TERPANGKAS SAGU (Metroxylon sago Rottb) DENGAN MENGGUNAKAN MULSA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN TERPELIHARA Eko Sulistyono; M.H. Bintoro Djefrie; Rachmat Sumitro
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.052 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1434

Abstract

dilakukan untuk menjawab apakah pemberian mulsa dapat menghambat pertumbuhan jumlah anakan sagu (Metroxylon sago Rottb).  Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan enam ulangan. Perlakuan adalah tanpa mulsa, pemulsaan dengan tebal 30 cm, dan pemulsaan dengan tebal 60 cm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mulsa mempengaruhi jumlah anakan, jumlah daun anakan terpangkas, tinggi anakan terpangkas, tetapi tidak mempengaruhi jumlah daun dan ukuran daun anakan terpelihara.  Pemberian mulsa dengan tebal 60 cm menurunkan jumlah anakan sebesar 73.7% dibandingkan dengan control (tanpa pemberian mulsa) pada dua minggu setelah pemberian mulsa.  Pemberian mulsa dengan tebal 60 cm juga menurunkan jumlah daun anakan terpangkas sebesar 51%, 28% dan 19% masing-masing pada dua, empat dan enam minggu setelah pemberian mulsa.  Penelitian menyimpulkan bahwa pemberian mulsa dengan tebal 60 cm dapat menghambat jumlah anakan terpangkas dari tanaman sagu
PENGARUH PEMUPUKAN FOSFOR DAN KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA Sudradjat -; Nindyta Agustina Siagian
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.633 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1445

Abstract

Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) is one of plantation commodities that contribute to foreign exchange. Palm oil production is influenced by the expansion of the area  and  intensification using the fertilization at main nursery and plantation. Macro elements such as N, P, and K required by the oil palm are in large quantities. The study was conducted from November, 2011 to  May, 2012 at Cikabayan Experimental Station, IPB Darmaga Campus, Bogor. The treatment was laid-out in a factorial randomized block design with three replications. The first factor was P: 0, 3.00, 6.00, and 12.00 g P plant-1 ;  and the second was K: 0, 9.00, 18.00 and 36.00 g K plant-1. The results of the study showed that phosphor did not influence the plant height, number of frond, number of chlorophyll, and stem diameter. Potassium fertilizer influenced the stem diameter at 24 weeks after planting (WAP). There were the interaction between P and K  on stem diameter variable at 16 and 20 WAP.Keywords :  Fertilizer, phosphor, potassium, Elaeis Guineensis Jacq.
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata L ) PADA SISTEM TANAM SATU BARIS DAN DUA BARIS Rizka Novi Sesanti; Risa Wentasari; Waheed Ismad; Wahyu Fajar Yanti
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.598 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1440

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) membandingkan pertumbuhan jagung manis yang ditanam dengan pola tanam satu baris (SB) dan dua baris (DB). (2) Membandingkan produksi jagung manis yang ditanam dengan pola tanam dua baris dan satu baris. Penelitian menggunakan 2 perlakuan yaitu pola tanam dua baris dan satu baris. Pola tanam dua baris menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm (dalam barisan) dan 80 cm antar barisan, sedangkan pola tanam satu baris menggunakan jarak tanam sesuai dengan anjuran 75 x 20 cm.  Untuk membandingkan nilai tengah data yang diperoleh digunakan uji t independen. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot jagung dengan kelobot (gram), bobot jagung tanpa kelobot (gram), diameter tongkol (cm), panjang tongkol (cm), berat kering berangkasan tanaman (gram). Hasil yang diperoleh adalah: (1) Perlakuan pola tanam SB dan DB pada tanaman jagung manis tidak mengakibatkan terjadinya perbedaan jumlah daun, namun perbedaan terjadi pada tinggi tanaman jagung manis. Pola tanam SB memiliki nilai rata-rata tinggi tanaman lebih besar (215,65 cm ) dibandingkan pola tanam DB (198,85 cm); (2) Pola tanam SB memiliki nilai bobot tongkol dengan kelobot dan tanpa kelobot yang lebih besar dibandingkan pola tanam DB yaitu berturut-turut 642 g (SB) dan 319 g (DB) serta 274,5 g (SB) dan 236,75 g (DB); (3) Pengamatan terhadap panjang tongkol, diameter, dan bobot kering berangkasan menunjukan adanya perbedaan akibat perlakuan pola tanam SB dan DB.Kata kunci : pola tanam, jagung manis, jarak tanam
RESPON TANAMAN KEDELAI SAYUR EDAMAME TERHADAP PERBEDAAN JENIS PUPUK DAN UKURAN JARAK TANAM Anisa Fajrin; Sinar Suryawati; Sucipto -
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.908 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1448

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman kedelai sayur edamame terhadap jenis pupuk dan ukuran jarak tanam serta kombinasi keduanya. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2012–Maret 2013 pada awal musim hujan di Desa Daleman, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep dengan jenis tanah latosol. Bahan yang digunakan adalah benih kedelai sayur edamame, pupuk kompos, pupuk petroganik, pupuk NPK phonska dan pestisida sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul, meteran, timbangan dan peralatan lain yang mendukung penelitian. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial dan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jenis pupuk : kompos 1 ton/ha (P1), petroganik 1 ton/ha (P2), NPK Ponska 0,25 ton/ha (P3) dan faktor kedua adalah jarak tanam 12 x 25 cm (J1), 12 x 35 cm (J2), 15 x 25 cm (J3), 15 x 35 cm (J4). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan pada taraf 1% jika ada pengaruh perlakuan. Kombinasi  perlakuan jenis pupuk dan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan. Jenis pupuk berpengaruh sangat nyata terhadap semua parameter pengamatan kecuali bobot dan jumlah polong hampa. Pupuk NPK phonska memberikan nilai rata-rata parameter pengamatan tertinggi yang berbeda sangat nyata dibandingkan kompos dan petroganik. Ukuran jarak tanam tidak berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan kecuali terhadap bobot polong per hektar.  Jarak tanam 12 x 25 cm2 menghasilkan bobot polong per hektar tertinggi yang berbeda sangat nyata dengan ukuran jarak tanam yang lain.Kata kunci: kedelai sayur edamame, jenis pupuk, jarak tanam.

Page 1 of 1 | Total Record : 8