Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam
Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam is published by IAIN Ponorogo twice a year in May and November on the development of Islamic thought and have accredited Sinta 2 based on decree of Direktur Jenderal Penguatan Riset Dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Number: 34/E/Kpt/2018, Date 10 December 2018. Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam invites enthusiasts studies Islamic thought to contribute articles in accordance with scientific standards. Editors reserve the right to revise without changing the content and purpose of writing.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam"
:
10 Documents
clear
Memposisikan Perenungan Filsafat tentang Relasi Alam dan Tuhan dalam Bingkai Paradigma Sains Modern
Imam Amrusi Jailani
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.56
This article is not intended to judge or comment on philosophical ideas about the creation of the cosmos from the perspective of modern science, but merely to serve as a comparison and reflection materials. Accurate assessment of the thoughts of philosophers would not be optimal if the modern scientific approaches is used here because their methods are completely different. The philosophers usually use philosophical or spiritual approaches, while the scientists uses modern science and material approaches. If it has been understood that the qualities manifested by something (not the thing itself) is more interesting, it can be understood that the Islamic cosmology presents a perspective that has no connection with a scientific cosmology because of its constantly changing. Here there is a qualitative correspondence scheme illustrating the relative position between the God, the cosmos, and humans.
Konstruksi Paradigmatis Pemikiran Teologi Islam Kritis
Zainul Abas
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.61
An important question in this paper is how is paradigm construction of critical theological thought. To understand its construction, this paper shows paradigm shifting of thought of Islamic theology since classic era to contemporary. The shifting is since Khawarij growth that discuss about big sin, unbeliever, believer, heaven, and hell. Now, theological thought had grown and entered in various scientific paradigm. These themes are very variational too, even new thing that is nothing before. Critical theological thoughts belong to paradigms or new world views that is important for contemporary era. Critical theological thought in Indonesia had been stated by critical intelectuals such as Abdurrahman Wahid, Muslim Abdurrahman, Masdar F. Mas ’udi, and Kuntowijoyo. Paradigm of critical Islamic theology is an emancipatory thought on modern culture and society, for example critique of economics, politics, and structure. This thought starts from reaction of unjust social system. This thought starts from point of suffering in praxis. Its objective is to build social structure that freed human being from every oppression. Critical theological thought did not separate theory and practice, knowledge and action, theoritical rationality and practical rationality. This thought reflects critically something practice in historical sosial life.
Refleksi Filosofis atas Teologi Islam Mengenai Lingkungan dan Pelestariannya
Alim Roswantoro
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.55
Tulisan ini berusaha menggali gagasan teologis Islam mengenai ekologi dan merefleksikannya secara filosofis untuk mengungkap makna fundamentalnya. Upaya ini didorong oleh berbagai fenomena kerusakan alam yang semakin meluas yang berakibat pada pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam kehidupan di bumi. Teologi Islam mengenai lingkungan dan pelestariannya dikonsepsikan melalui berbagai sumber teologis Islam, yaitu ayat-ayat al-Qur’an dan hadis. Penulis mencoba untuk menemu kan makna nya dan melengkapinya dengan berbagai pandangan dari para pemikir Muslim mengenai hal itu. Setelah memperoleh pemaham - an yang bermakna mengenai ekologi Islam, artikel ini akhir nya merefleksi kannya atau mengontemplasikannya secara filosofis. Hasil dari refleksi atau kontemplasinya adalah bahwa ekologi Islam bukan - lah sekedar ekologi natural, tetapi ekologi religius yang substansi nya adalah hakikat teomorfis dari eksistensi manusia.
Potret Kontestasi Filsafat Islam dalam Era Sains Modern
Usuluddin, Win
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.57
The modern scientists have been considering philosophy as meaningless field for long time because it questions non exact field, not real and not actual. Therefore, it is believed that they do not need phiÂlosophy anymore. Islamic philosophy discussing a lot about mystic and metaphysic also get significant challenge in the era of modern science. This paper will try to discuss the construction built by Islamic philosoÂphy particularly in its contestation in the era of modern science. Some of that constructive efforts are by demonstrating and introducing IslamÂic philosophy in more actual sense, for example by remapping Islamic philosophy followed by rearranging Islamic epistemology in order to reveal that Islamic philosophy does not only limit the object of knowlÂedge on physical object but also nonÂphysic. Hence, we need to discuss the reality of mystical experience intensively in order to explain ratioÂnally that the reality of mystical experience is real. Another problem we are going to discuss here is the objectivity and integrity of knowledge in Islamic Philosophy’s view and to make historical reflection in order to build scientific tradition to develop Islamic philosophy in the future.
Moderasi Khawarij Ibadiyah
Rofiq, Ahmad Choirul
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.62
Generally many historians depict Kharijite sect with negaÂtive image as a group that has an extreme religious ideas and nonconÂformist political attitudes. Furthermore Kharijite sect was regarded as an extremist faction and radical terrorist who prefers violence against any goverment that has deviated from Islamic doctrine according to Kharijite perspective. Similar to many religious sects, Kharijite sect also separated into many factions. This separation is usually caused by difference views that frequently arouse a dispute and conflict among them. In addition, they occasionally consider another faction as an unÂbeliever and infidel group. Because of this schism, the Kharijite sect became very weak so that can be destroyed easily. One of the Kharijite factions is Ibadite faction that is assessed by scholars as the closest facÂtion to Sunnite sect because the Ibadites have moderate views so that can survive and exist until now whereas almost Kharijite factions tend to have extreme views and perform violent actions to achieve their aims. The successful indoctrination and thorough strategy might cause this moderation attitude.
Pandangan Teologis Santri di Pesantren Jawa Timur
Moh. Asror Yusuf
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.64
Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan teologis santri di beberapa pesantren di Jawa Timur dewasa ini dan materi buku akidah yang dikaji, dengan metode penelaahan pustaka, observasi, dan kuisioner. Paham Asy’ariyah berkembang dengan baik dan diikuti mayoritas umat Islam di Indonesia, meski dalam beberapa dekade terakhir sebagian kalangan mengkritisi paham ini. Di pesantren, paham Asy’ariyah bersama dengan Maturidiyah diajar kan, utama nya, melalui buku-buku akidah/tauhid. Beradasarkan data yang terkumpul, pandangan teologis santri tidak sama persis antara satu dengan lain‑nya, dan ada beberapa ragam pandangan teologis santri. Pandangan santri tidak semua sama dengan Asy’ariyah tapi juga ada yang sudah ter pengaruh oleh pandangan lain yang lebih rasional dan progresif. Umum nya santri banyak berpandangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, sejalan dengan materi-materi dalam buku akidah di pesantren juga me maparkan ajaran dua aliran ini. Tapi sebagian meski jumlah nya sedikit ada yang berpandangan sejalan dengan pandangan Mu’tazilah. Pandang an santri ini tampaknya tidak tidak semata-mata dipengaruhi oleh isi buku akidah yang dipelajarinya di pesantren, melainkan juga di pengaruhi oleh buku-buku lainnya, pengajaran di pendidikan formal, dan sumber informasi lainnya. Oleh karena itu, asumsi dan klaim yang mengata kan bahwa seluruh santri berpandangan Asy’ariyah tampak menye derhanakan persoalan dan perlu didiskusikan lebih lanjut.
Konstruksi Epistemologi dalam Filsafat Illuminasi Suhrawardi
Mohammad Muslih
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.59
Artikel ini mengkaji secara filosofis konstruksi epistemologi Filsafat Illuminasi Suhrawardi dengan mengungkap argume nnya tentang proses keilmuan. Secara lebih khusus, akan menunjuk kan kritik Suhrawardi terhadap logika Peripatetik dan kemudian memposisikannya dalam proses penggalian ilmu. Kemudian mengungkap tawaran Suhrawardi yang ia klaim sebagai dapat mengantar manusia mem peroleh pengetahuan yang se benarnya, dengan menemukan syarat bagi suatu pengetahuan yang valid. Pemikiran demikian sudah tentu akan menjadi model keilmuan alternatif di tengah perkembangan keilmuan yang bercorak rasiona listik. Dengan mengungkap anasiranasir lebih dalam, bisa jadi pengetahuan model illuminasi ini dapat sebagai alternatif bagi krisis keilmuan modern saat ini. Ada beberapa per soalan yang di bahas, antara lain kegelisahan Suhrawardi atas problem logika dan persoalan validitas pengetahuan, lalu mengurai kan metode dasar Filsafat Isyraqiyah, dan yang paling pokok membahas struktur fundamental Logika Illuminasi. Tidak lupa artikel ini juga menunjukkan konsekuensi epistemologi Suhrawardi dengan tesis Tuhan itu merupakan objek “ kenal” bukan objek “ tahu”.
Pemikiran Islam dalam Jejak Kajian Humaniora
M. Alie Humaedi
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.65
Humaniora, suatu disiplin ilmu yang dianggap sama tuanya dengan peradaban manusia. Dalam khazanah pemikiran Islam, disiplin ilmu ini tidak hanya dikembangkan oleh ahli ilmu adab (sosial kemanusiaan), tetapi juga oleh para teolog skolastik yang sebenarnya sangat berhati-hati dalam mengembangkan analisis dan interpretasi konteks terhadap teks-teks keagamaan. Perbedaan sudut pandang di antara keduanya pun melahirkan metode dan paham keilmuan yang ikut menyumbang tradisi perkembangan ilmu humaniora Barat. Sumbang an pemikiran Islam itu kemudian diakui Barat, sebagai buah imaginative geography dari perspektif orientalisme yang meng anggap Timur sebagai liyan (al-ãkhar). Usaha menjadikan kembali Timur sebagai diri (al-anã), oksidentalisme, pun begitu tampak dalam gerakan kontemporer disiplin ilmu humaniora. Disiplin ilmu ini kemudian mewujud sebagai alat analisis konteks terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat, yang tidak lagi semata tertuju pada kajian sastra dan kebahasaan. Perkembangan mutakhirnya tidak lepas dari jasa pemikir an rasional para ahli ilmu kalam (teolog) yang ditandai dengan menguat nya tafsir atas teks (tura>th). Secara fungsional, pemikiran Islam dalam jejak kajian humaniora telah ikut membuka kritisisme baru pengembang an masyarakat dan ilmu penge tahuan.
Implikasi Pemikiran Epistemologi Ibn Rushd
A. Khudori Soleh
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.60
Kajian epistemologi mendiskusikan tentang sumber dan metode pengetahuan. Menurut Ibn Rushd, pengetahuan bersumber atas 2 hal: wahyu dan realitas, baik fisik maupun non-fisik. Namun, kedua sumber ini tidak bersifat mandiri melainkan satu kesatuan yang tidak ter pisahkan, sehingga pengetahuan yang lahir dari kedua nya tidak saling ber tentangan. Sarana yang digunakan untuk mendapat kan pengetahu an ter diri atas 3 hal: indera eksternal, indera internal, dan intelek, sedang metode nya terdiri atas 2 tahapan, yaitu pembentuk an teori (tas}awwur) dan penalaran logis (tas}di>q). Pemikiran epistemologi Ibn Rushd ini mem punyai konsekuensi-konsekuensi tertentu. Konsep dua sumber penge tahuan dapat mempertemukan agama dan filsafat, tetapi juga dapat menggiring kepada materialism dan sekularisme jika di p isahkan. Sementara itu, pada aspek sarana, pemberian prioritas pada rasio di banding intelek dapat dianggap mengerdilkan potensi dasar manusia yang tidak hanya terdiri atas rasio, tetapi juga emosi dan spiritualitas, padahal potensi emosi dan spiritual dinilai lebih besar daripada rasio yang hanya menyumbang 20% dari kesuksesan manusia.
Metode Memperoleh Ilmu Huduri Menurut Mulla Sadra
Fathul Mufid
AL-TAHRIR Vol 12, No 2 (2012): Filsafat dan Teologi Islam
Publisher : IAIN Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21154/al-tahrir.v12i2.58
Epistemological discourse of ilmu h}ud}u>ri> (knowledge by presence), according to the history of Islamic thought, has emerged in the Islamic world before Mulla> S}adra>, particularly among Muslim Peripatetic in one side, with Illumination philosophers, ‘irfa>ni>’thought, and sufi philosophers in other side. These paradigm differences, according to the history, create differences in epistemological concept of ilmu h}ud}u>ri> which ends on truth claim, and affect on continued polemics. Mulla> S}adra> in his intellectual career has encountered this kind of epistemological polemics. This research aims to describe Mulla> S}adra>’s frame of epistemological thought of ilmu h}ud}u>ri> in the midst of the epistemological polemics. The findings are, that Mulla> S}adra>’s typology of philosophical thought on ilmu h}ud}u>ri> is h}ikmah, that is an association between rational and mystical vision, which then is in harmonic with syariah.