cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 3 (2004): September 2004" : 10 Documents clear
Lesio sebagai Komponen Tanggap Buah 20 Galur dan atau Varietas Cabai terhadap Inokulasi Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides Hidayat, Iteu Margareta; Sulastrini, Ine; Kusandriani, Yeni; Pemadi, A. H.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengevaluasi tanggap dari buah cabai pada sta dia hijau dan merah, dan untukmenentukan taraf resistensi dari 20 galur dan atau varietas cabai terhadap inokulasi Colletotrichum capsici danColletotrichum gloeosporioides. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap dengan tiga ulangandan penelitian dilaksanakan di Rumahkasa dan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dari bulan Maretsampai Desember 1999. Tanggap buah cabai terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides dievaluasi berdasarkan lebardan panjang lesio, di am e ter lesio, dan nisbah panjang/lebar lesio. Penentuan taraf resistensi berdasarkan taraf bedanyata Duncan P<0,05, dari di am e ter lesio pada hari keempat setelah inokulasi, dan pengelompokan denganmenggunakan pro gram systat. Buah pada sta dia hijau galur No. 327 dan serrano menunjukkan taraf resistensi yanglebih tinggi terhadap C. capsici; sedangkan buah pada sta dia merah jalapeno, serta buah hijau dan merah MC11resisten terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides.AB STRACT. Hidayat, I. M., I. Sulastrini, Y. Kusandriani, and A.H. Permadi. 2004. Le sion as com po nent offruit re sponse of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to in oc u la tion of Colletotrichum capsici andColletotrichum gloeosporioides. The ob jec tives of the ex per i ment were to eval u ate the re sponses of green and redfruits, and to de ter mine the re sis tant level of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to both fungi through woundinoculation of C. capsici and C. gloeosporioides. The ex per i ment was ar ranged in com pletely ran dom ized de sign withthree rep li cates, and con ducted in Screenhouse and Lab o ra tory, of the In do ne sian Veg e ta bles Re search In sti tute,(IVEGRI) Lembang, from March to De cem ber 1999. The re sponses were eval u ated based on width and length of le -sion, di am e ter of le sion, and the ra tio of length/width le sion. De ter mi na tion of re sis tant level based on Duncan mul ti -ple range test P<0.05 and systat programme on le sion di am e ter at 4 days af ter in oc u la tion. Green fruits of the va ri et iesNo. 327 and serrano showed a higher re sis tance level to C. capsici; whereas red fruits jalapeno as well as green and redfruits of MC11 con sis tently re sis tant to both C. capsici and C. gloeosporioides.
Aspek Nonteknis dan Indikator Efisiensi Sistem Pertanaman Tumpang Sari Sayuran Dataran Tinggi Adiyoga, Witono; Suherman, Rachman; Gunadi, Nikardi; Hidayat, Achmad
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di sentra produksi sayuran dataran tinggi Pangalengan, Jawa Barat pada bulan No vem ber2001. Observasi lapang dan survai for mal melalui wawancara dengan 23 orang petani responden diarahkan untukmemperoleh data/informasi dasar mencakup aspek non-teknis dan indikator efisiensi sistem pertanaman tumpangsaripada komunitas sayuran dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas sayuran utama yangdiusahakan secara monokultur maupun tumpangsari di Pangalengan adalah kentang, kubis, petsai, cabai dan tomat.Petani mempersepsi kentang sebagai komoditas sayuran yang teknik budidayanya pal ing dikuasai serta pal ing dapatdiandalkan/menguntungkan. Sementara itu, tomat dan kubis dikategorikan sebagai jenis sayuran yang memiliki risikoproduksi pal ing tinggi (terutama dikaitkan dengan risiko kehilangan hasil panen akibat serangan hama penyakit).Sebagian besar petani responden cenderung lebih sering memilih sistem pertanaman tumpangsari berdasarkanpertimbangan (a) memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi petani untuk menghindarkan kemungkinankehilangan hasil secara to tal serta kerugian finansial yang disebabkan oleh rendahnya harga salah satu komoditas yangditanam, (b) memanfaatkan lahan dan energi sinar matahari secara lebih efisien, (c) instabilitas hasil yang disebabkanoleh cekaman lingkungan maupun serangan hama penyakit secara keseluruhan dapat dikurangi oleh karena sistemterdiri dari dua atau lebih spesies tanaman yang berbeda, (d) memungkinkan penggunaan tenaga kerja dan modalproduksi secara lebih efisien, dan (e) dua atau lebih cabang usaha (jenis tanaman) yang menopang sistem tersebutdapat saling menutupi jika salah satu di antaranya mengalami kerugian. Sebagian besar petani responden cenderungmemberikan penilaian positif terhadap sta tus sistem pertanaman tumpangsari berkaitan dengan kemungkinanpeningkatan pendapatan usahatani, pengurangan risiko harga/hasil dan pemeliharaan/perbaikan kelestarianlingkungan. Evaluasi produktivitas sistem pertanaman tumpangsari menunjukkan bahwa nisbah kesetaraan lahanuntuk berbagai kombinasi tanaman, berkisar antara 1,13-2,10. Berdasarkan urutan kepentingannya, petanimempersepsi fluktuasi harga, ketersediaan modal dan insiden hama penyakit sebagai tiga kendala terpentingkeberhasilan sistem pertanaman tumpangsari sayuran dataran tinggi. Secara berturut-turut kemudian diikuti olehketersediaan lahan, ketersediaan pupuk/pestisida, ketersediaan air/pengairan, erosi tanah atau kesuburan tanah,ketersediaan informasi teknis dan ketersediaan tenaga kerjaABSTRACT. Adiyoga, W., R. Suherman, N. Gunadi dan A. Hidayat. 2002. Nontechnical aspects and efficiencyindicators of highland vegetable multiple cropping systems. This study was carried out in November 2001, in thehigland vegetable production center, Pangalengan, West Java. Field observation and formal survey to interview 23respondents were aimed to obtain information on non-technical aspects and efficiency indicators of highlandvegetable multiple cropping systems. Results indicate that potato, cabbage, chinese cabbage, hot pepper and tomatoare the most common vegetable crops grown in monocropping and multiple cropping systems. Farmers perceivepotato as the most familiar/manageable, in terms of cultural practices, and the most profitable crop. Tomato andcabbage are perceived as crops that have highest risk, in relation to pest and disease yield losses. There is an increasingtrend of the use of multiple cropping by farmers since (a) it may avoid the yield and financial total loss, (b) it couldutilize land and lights more efficiently, (c) it may reduce the yield instability caused by environmental stress andpests/diseases incidence, and (d) it may use labor and capital more efficiently. Most respondents are in favor of or inagreement with the multiple cropping system’s potential in increasing net income, reducing price and yield risks, andmaintaining and improving environmental conservation. Productivity evaluation of multiple cropping systems showsthat the land-equivalent ratio for some crop combinations is quite high (1.13-2.10). Based on its relative importance,farmers perceive price fluctuation, working capital availability and pest and disease incidence as the main threeconstraints that hamper the succesfulness of the highland vegetable multiple cropping systems. The other secondarycontraints are related to the availability of land, fertilizer and pesticide, water and irrigation, technical information,labor, and soil fertility and ero sion.
Pencampuran Spodoptera exigua Nu clear Polyhedrosis Virus dengan Insektisida Kimia untuk Mortalitas Larva Spodoptera exigua Hbn. di Laboratorium Moekaan, Tony Koestony
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan laboratorium telah dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ( ± 1.250 m dpl), mulaibulan Agustus sampai No vem ber 1999. Tujuan percobaan untuk mengetahui pengaruh pencampuran insektisida,efikasi, dan tenggang waktu membunuh campuran SeNPV dengan beberapa insektisida kimia terhadap larva S.exigua instar-2 atau 3. Sampel larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Brebes,Jawa Tengah dan diperbanyak di Rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Percobaan menggunakan metodepencelupan daun bawang merah ke dalam larutan for mula insektisida. For mula insektisida secara tunggal dancampuran diujikan pada 30 larva S. exigua di dalam cawan plastik, dengan empat ulangan pada tiap perlakuan.Mortalitas larva S. exigua diamati setiap 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolahmenggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Berdasarkan nilai LC50 campuran insektisida, campuranSeNPV dengan insektisida klorfluazuron, betasiflutrin, fifronil, profenofos, dimetoat, deltametrin, lamda sihalotrin,dan tebufenosida, menunjukkan efektivitas sinergistik dan meningkatkan efikasi, masing-masing sebesar 18,9; 24,3;19,0; 19,3; 19,5; 22,3; 16,3; dan 7,0 kali lipat jika dibandingkan dengan SeNPV secara tunggal. Selain itu, nilaitenggang waktu membunuh LT50 berkisar antara 86,4 sampai 136,8 jam atau kira-kira 4 sampai 6 hari.AB STRACT. Moekasan, T.K. 2004. Mix tures of SeNPV and chem i cal in sec ti cides against lar vae mor tal ity ofSpodoptera exigua Hbn. in lab o ra tory. A laboratory study has been conducted at Indonesian Vegetables ResearchIn sti tute, Lembang (±1,250 m asl), from Au gust to No vem ber 1999. The aim of the study was to de ter mine the ef fect ofbi nary mix tures, their ef fi cacy and le thal time against sec ond/third instar of S. exigua lar vae. Sam ple of S. exigua lar -vae were col lected from farm ers’ field in Brebes, Cen tral Jawa and mass pro duc tion done in a screenhouse. A dip pingmethod of cut ting shal lot leaves in a for mu lated of tested in sec ti cides was used. The for mu lated con cen tra tion of in -sec ti cides, alone and mix tures was tested to thirty S. exigua lar vae in a plas tic cup with four rep li ca tions. Mor tal ity of S.exigua lar vae was ob served at 24 hours af ter ex po sures and re peat edly ev ery 24 hours up to 168 hours of ex po sures.The mor tal ity data was an a lyzed us ing probit anal y sis to de ter mine the LC50 val ues. Based on LC50 value of in sec ti -cides mix tures, the ad di tion of chlorfluazurone, betacyfluthrine, fifronile, profenofos, dimethoate, deltamethrine,lamda sihalothrine, and tebufenozide to the SeNPV, in di cated syn er gism and in creased their ef fi cacy by 18.9; 24.3;19.0; 19.3; 19.5; 22.3; 16.3; and 7.0 fold higher, re spec tively, com pared to SeNPV singly. In ad di tion, the LT50 valuewere rang ing from 86.4 up to 136.8 hours or 4 to 6 days.
Kelayakan Teknis dan Ekonomis Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu pada Sistem Tanam Tumpanggilir Bawang Merah dan Cabai Moekasan, Tony Koestony; Suryaningsih, Euis; Sulastri, Ineu; Gunadi, Nikardi; Adiyoga, Witono; Hendra, A.; Martono, M. A.; Karsum, -
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan lapangan menggunakan metode perbandingan perlakuan berpasangan telah dilaksanakan di Desa BojongNagara, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (± 5 m dpl), dari bulan Juni sampai Desember 2002.Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis penerapan teknologi pengendalian hamaterpadu (PHT) yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran dibandingkan dengan teknologi yang umumdigunakan oleh petani. Tiap perlakuan diulang empat kali, dengan ukuran petak perlakuan adalah 5 x 20 m = 100 m2.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan rakitan komponen teknologi PHT pada bawang merah dan cabai yangdihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran secara ekonomi lebih menguntungkan dibandingkan dengansistem petani, karena nilai nisbah R/C di petak PHT sebesar 1,47 sedangkan nilai nisbah R/C di petak petani sebesar0,84. Secara ekologi, penerapan PHT pada sistem tanam tumpanggilir bawang merah dan cabai lebih menguntungkankarena dapat menekan penggunaan insektisida dan fungisida masing-masing sebesar 61,53 dan 100% pada tanamanbawang merah dan 72,72 dan 90,90% pada tanaman cabai, sehingga residu insektisida di dalam tanah menurunsebesar 23,06% inhibisi dan fungisida menurun sebesar 50,72% inhibisi, sedangkan di petak petani residu insektisidadi dalam tanah meningkat sebesar 8,14% inhibisi dan fungisida menurun sebesar 20,37% inhibisi. Sementara populasipred a tor di petak PHT lebih tinggi (11,54-55,55%) dibandingkan dengan populasinya di petak petani. Populasi agenshayati, yakni Bacillus sp. dan Trichoderma sp. pada petak PHT lebih tinggi, masing-masing sebesar 35,31 dan 58,35%dibandingkan populasi di petak petani. Residu insektisida dan fungisida pada hasil panen bawang merah dan cabai dipetak PHT masih di bawah ambang batas yang diijinkan, sedangkan residu pada hasil panen bawang merah dan cabaipada petak petani berada di atas ambang batas yang diijinkan.AB STRACT. Moekasan, T.K., E. Suryaningsih, I. Sulastrini, N. Gunadi, W. Adiyoga, A. Hen dra, M.A.Martono, and Karsum. 2004. Tech ni cal and eco nom i cal fea si bil ity of in te grated pest man age ment tech nol ogyon intercropping sys tem of shal lot and hot pep per. A field ex per i ment us ing a paired treat ment com par i son methodwas con ducted at Bojong Nagara vil lage, Ciledug sub dis trict, Cirebon dis trict, West Jawa (±5 m asl) from June un tilDe cem ber 2002. The pur pose of this study was to com pare the tech nique and eco nomic fea si bil ity of in te grated pestman age ment (IPM) tech nol ogy found by In do ne sian Veg e ta bles Re search In sti tute with farmer’s sys tem on shal lotand hot pep per in re lay plant ing sys tem. The ex per i ment used com par i son de sign with four rep li ca tions. The plot sizewas 100 m2. The re sults on shal lot showed that IPM im ple men ta tion gave more eco nom i cally ad van tages than thefarmer’s sys tem, be cause R/C ra tio on IPM plot was 1.47 and R/C ra tio on farmer’s plot was 0.84 re spec tively. On hotpep per, the plant dam age in IPM plot was lower that the dam age in farmer’s plot, but the yield on IPM plot was lowerthan the yield on farmer’s plot. Implementation of IPM could sup press the use of in sec ti cides and fun gi cides ca. 61.53and 100% re spec tively on shal lot and 72.72 and 90.90% re spec tively on hot pep per. In IPM plot, in sec ti cide and fun gi -cide res i due in the soil de creased ca. 23.06% in hi bi tion and 50.72% in hi bi tion re spec tively. In the other hand, the in -sec ti cide res i due in the soil in farmer’s plot in creased ca. 8.14% in hi bi tion, but the fun gi cide res i due de creased ca.20.37% in hi bi tion. Di ver sity of fauna in the plan ta tion in IPM plot was higher (22.03%) than the di ver sity in farmer’splot. Pred a tors pop u la tion in IPM plot was higher (11.54-55.55%) than the pop u la tion in farmer’s plot. Pop u la tion ofBa cil lus sp. and Trichoderma sp. in IPM plot higher (35.31 and 58.35% re spec tively) than the pop u la tion in farmer’splot. Pes ti cide res i due in shal lot bulbs and hot pep per fruits in IPM plot was at the lower level than thresh old level, butthe res i due in farmer’s plot sur passed the thresh old level.
Kemampuan Pemangsaan Pred a tor Kumbang Buas terhadap Hama Penggerek Bonggol Pisang Hasyim, Ahsol; Harlion, -; Yasir, H.
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kumbang pred a tor Plaesius javanus dikoleksi dari pertanaman pisang di Bukittinggi dan Sitiung. Percobaandilakukan di Laboratorium Proteksi, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok dari bulan April sampai Desember 2001,menggunakan rancangan acak kelompok. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan individupemangsaan pred a tor kumbang buas dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa P. javanus dewasa dan larva dapat memangsa semua sta dia hama penggerek bonggol pisangsecara efektif. Setiap individu P. javanus dewasa dapat memangsa telur, larva instar 2, 3, 4, 5, serta pupa dan dewasaberturut-turut 7 butir, 4,9; 3,9; 2,9; 2,9; 2,0; 2,0; dan 1,9 ekor/hari. Kemampuan memangsa individu larva P. javanusrelatif lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan memangsa individu dewasa P. javanus. Sedangkan kemampuanmemangsa individu P. javanus betina relatif lebih tinggi dibandingkan dengan P. javanus jantan. Pred a tor inimempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai agens pengendali hayati di masa mendatang.Kata kunci: Musa sp.; Plaesius javanus; Cosmopolites sordidus; Sta dia hama penggerek bonggol; PemangsaanAB STRACT. Hasyim, A., Harlion, and H. Yasir. 2004. Pred a tory rate of histerid bee tles on ba nana wee vilborer. Pred a tory of histerid bee tles were col lected from ba nana field at Bukittinggi and Sitiung. This ex per i ment wascar ried out at lab o ra tory of In do ne sian Fruit Re search In sti tute from April to De cem ber 2001, used a ran dom ized blockde sign. The pur pose of this ex per i ment was to know the in di vid ual po ten tial of pred a tory bee tles, P. javanus to preyba nana wee vil borer. The re sults showed that adult and lar vae of P. javanus ef fec tively preyed ba nana wee vil borer,Cosmopolites sordidus. Each in di vid ual of P. javanus adult was able to prey 7 pieces 4.9, 3.9, 2.9, 2.9, 2.0, 2.0, and 1.9in di vid ual/day, re spec tively for egg, sec ond, third, fourth, fifth instar lar vae, pupa and adult. Pre da tion rate of individualP. javanus lar vae was higher com pare to adult in con trolling ba nana wee vil borer. Pred a tory rate of in di vid ual fe -male P. javanus was higher than the male. The pred a tor has a prom is ing po ten tial us age as bi o log i cal con trol agent innear fu ture.
Kemampuan Pemangsaan Pred a tor Kumbang Buas terhadap Hama Penggerek Bonggol Pisang Ahsol Hasyim; - Harlion; H. Yasir
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n3.2004.p204-209

Abstract

Kumbang pred a tor Plaesius javanus dikoleksi dari pertanaman pisang di Bukittinggi dan Sitiung. Percobaandilakukan di Laboratorium Proteksi, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok dari bulan April sampai Desember 2001,menggunakan rancangan acak kelompok. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan individupemangsaan pred a tor kumbang buas dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa P. javanus dewasa dan larva dapat memangsa semua sta dia hama penggerek bonggol pisangsecara efektif. Setiap individu P. javanus dewasa dapat memangsa telur, larva instar 2, 3, 4, 5, serta pupa dan dewasaberturut-turut 7 butir, 4,9; 3,9; 2,9; 2,9; 2,0; 2,0; dan 1,9 ekor/hari. Kemampuan memangsa individu larva P. javanusrelatif lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan memangsa individu dewasa P. javanus. Sedangkan kemampuanmemangsa individu P. javanus betina relatif lebih tinggi dibandingkan dengan P. javanus jantan. Pred a tor inimempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai agens pengendali hayati di masa mendatang.Kata kunci: Musa sp.; Plaesius javanus; Cosmopolites sordidus; Sta dia hama penggerek bonggol; PemangsaanAB STRACT. Hasyim, A., Harlion, and H. Yasir. 2004. Pred a tory rate of histerid bee tles on ba nana wee vilborer. Pred a tory of histerid bee tles were col lected from ba nana field at Bukittinggi and Sitiung. This ex per i ment wascar ried out at lab o ra tory of In do ne sian Fruit Re search In sti tute from April to De cem ber 2001, used a ran dom ized blockde sign. The pur pose of this ex per i ment was to know the in di vid ual po ten tial of pred a tory bee tles, P. javanus to preyba nana wee vil borer. The re sults showed that adult and lar vae of P. javanus ef fec tively preyed ba nana wee vil borer,Cosmopolites sordidus. Each in di vid ual of P. javanus adult was able to prey 7 pieces 4.9, 3.9, 2.9, 2.9, 2.0, 2.0, and 1.9in di vid ual/day, re spec tively for egg, sec ond, third, fourth, fifth instar lar vae, pupa and adult. Pre da tion rate of individualP. javanus lar vae was higher com pare to adult in con trolling ba nana wee vil borer. Pred a tory rate of in di vid ual fe -male P. javanus was higher than the male. The pred a tor has a prom is ing po ten tial us age as bi o log i cal con trol agent innear fu ture.
Pencampuran Spodoptera exigua Nu clear Polyhedrosis Virus dengan Insektisida Kimia untuk Mortalitas Larva Spodoptera exigua Hbn. di Laboratorium Tony Koestony Moekaan
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n3.2004.p178-187

Abstract

Percobaan laboratorium telah dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ( ± 1.250 m dpl), mulaibulan Agustus sampai No vem ber 1999. Tujuan percobaan untuk mengetahui pengaruh pencampuran insektisida,efikasi, dan tenggang waktu membunuh campuran SeNPV dengan beberapa insektisida kimia terhadap larva S.exigua instar-2 atau 3. Sampel larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Brebes,Jawa Tengah dan diperbanyak di Rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Percobaan menggunakan metodepencelupan daun bawang merah ke dalam larutan for mula insektisida. For mula insektisida secara tunggal dancampuran diujikan pada 30 larva S. exigua di dalam cawan plastik, dengan empat ulangan pada tiap perlakuan.Mortalitas larva S. exigua diamati setiap 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolahmenggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Berdasarkan nilai LC50 campuran insektisida, campuranSeNPV dengan insektisida klorfluazuron, betasiflutrin, fifronil, profenofos, dimetoat, deltametrin, lamda sihalotrin,dan tebufenosida, menunjukkan efektivitas sinergistik dan meningkatkan efikasi, masing-masing sebesar 18,9; 24,3;19,0; 19,3; 19,5; 22,3; 16,3; dan 7,0 kali lipat jika dibandingkan dengan SeNPV secara tunggal. Selain itu, nilaitenggang waktu membunuh LT50 berkisar antara 86,4 sampai 136,8 jam atau kira-kira 4 sampai 6 hari.AB STRACT. Moekasan, T.K. 2004. Mix tures of SeNPV and chem i cal in sec ti cides against lar vae mor tal ity ofSpodoptera exigua Hbn. in lab o ra tory. A laboratory study has been conducted at Indonesian Vegetables ResearchIn sti tute, Lembang (±1,250 m asl), from Au gust to No vem ber 1999. The aim of the study was to de ter mine the ef fect ofbi nary mix tures, their ef fi cacy and le thal time against sec ond/third instar of S. exigua lar vae. Sam ple of S. exigua lar -vae were col lected from farm ers’ field in Brebes, Cen tral Jawa and mass pro duc tion done in a screenhouse. A dip pingmethod of cut ting shal lot leaves in a for mu lated of tested in sec ti cides was used. The for mu lated con cen tra tion of in -sec ti cides, alone and mix tures was tested to thirty S. exigua lar vae in a plas tic cup with four rep li ca tions. Mor tal ity of S.exigua lar vae was ob served at 24 hours af ter ex po sures and re peat edly ev ery 24 hours up to 168 hours of ex po sures.The mor tal ity data was an a lyzed us ing probit anal y sis to de ter mine the LC50 val ues. Based on LC50 value of in sec ti -cides mix tures, the ad di tion of chlorfluazurone, betacyfluthrine, fifronile, profenofos, dimethoate, deltamethrine,lamda sihalothrine, and tebufenozide to the SeNPV, in di cated syn er gism and in creased their ef fi cacy by 18.9; 24.3;19.0; 19.3; 19.5; 22.3; 16.3; and 7.0 fold higher, re spec tively, com pared to SeNPV singly. In ad di tion, the LT50 valuewere rang ing from 86.4 up to 136.8 hours or 4 to 6 days.
Lesio sebagai Komponen Tanggap Buah 20 Galur dan atau Varietas Cabai terhadap Inokulasi Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides Iteu Margareta Hidayat; Ine Sulastrini; Yeni Kusandriani; A. H. Pemadi
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n3.2004.p161-171

Abstract

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengevaluasi tanggap dari buah cabai pada sta dia hijau dan merah, dan untukmenentukan taraf resistensi dari 20 galur dan atau varietas cabai terhadap inokulasi Colletotrichum capsici danColletotrichum gloeosporioides. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap dengan tiga ulangandan penelitian dilaksanakan di Rumahkasa dan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dari bulan Maretsampai Desember 1999. Tanggap buah cabai terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides dievaluasi berdasarkan lebardan panjang lesio, di am e ter lesio, dan nisbah panjang/lebar lesio. Penentuan taraf resistensi berdasarkan taraf bedanyata Duncan P<0,05, dari di am e ter lesio pada hari keempat setelah inokulasi, dan pengelompokan denganmenggunakan pro gram systat. Buah pada sta dia hijau galur No. 327 dan serrano menunjukkan taraf resistensi yanglebih tinggi terhadap C. capsici; sedangkan buah pada sta dia merah jalapeno, serta buah hijau dan merah MC11resisten terhadap C. capsici dan C. gloeosporioides.AB STRACT. Hidayat, I. M., I. Sulastrini, Y. Kusandriani, and A.H. Permadi. 2004. Le sion as com po nent offruit re sponse of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to in oc u la tion of Colletotrichum capsici andColletotrichum gloeosporioides. The ob jec tives of the ex per i ment were to eval u ate the re sponses of green and redfruits, and to de ter mine the re sis tant level of 20 lines and or va ri et ies of chilli pep per to both fungi through woundinoculation of C. capsici and C. gloeosporioides. The ex per i ment was ar ranged in com pletely ran dom ized de sign withthree rep li cates, and con ducted in Screenhouse and Lab o ra tory, of the In do ne sian Veg e ta bles Re search In sti tute,(IVEGRI) Lembang, from March to De cem ber 1999. The re sponses were eval u ated based on width and length of le -sion, di am e ter of le sion, and the ra tio of length/width le sion. De ter mi na tion of re sis tant level based on Duncan mul ti -ple range test P<0.05 and systat programme on le sion di am e ter at 4 days af ter in oc u la tion. Green fruits of the va ri et iesNo. 327 and serrano showed a higher re sis tance level to C. capsici; whereas red fruits jalapeno as well as green and redfruits of MC11 con sis tently re sis tant to both C. capsici and C. gloeosporioides.
Kelayakan Teknis dan Ekonomis Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu pada Sistem Tanam Tumpanggilir Bawang Merah dan Cabai Tony Koestony Moekasan; Euis Suryaningsih; Ineu Sulastri; Nikardi Gunadi; Witono Adiyoga; A. Hendra; M. A. Martono; - Karsum
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n3.2004.p188-203

Abstract

Percobaan lapangan menggunakan metode perbandingan perlakuan berpasangan telah dilaksanakan di Desa BojongNagara, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (± 5 m dpl), dari bulan Juni sampai Desember 2002.Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis penerapan teknologi pengendalian hamaterpadu (PHT) yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran dibandingkan dengan teknologi yang umumdigunakan oleh petani. Tiap perlakuan diulang empat kali, dengan ukuran petak perlakuan adalah 5 x 20 m = 100 m2.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan rakitan komponen teknologi PHT pada bawang merah dan cabai yangdihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran secara ekonomi lebih menguntungkan dibandingkan dengansistem petani, karena nilai nisbah R/C di petak PHT sebesar 1,47 sedangkan nilai nisbah R/C di petak petani sebesar0,84. Secara ekologi, penerapan PHT pada sistem tanam tumpanggilir bawang merah dan cabai lebih menguntungkankarena dapat menekan penggunaan insektisida dan fungisida masing-masing sebesar 61,53 dan 100% pada tanamanbawang merah dan 72,72 dan 90,90% pada tanaman cabai, sehingga residu insektisida di dalam tanah menurunsebesar 23,06% inhibisi dan fungisida menurun sebesar 50,72% inhibisi, sedangkan di petak petani residu insektisidadi dalam tanah meningkat sebesar 8,14% inhibisi dan fungisida menurun sebesar 20,37% inhibisi. Sementara populasipred a tor di petak PHT lebih tinggi (11,54-55,55%) dibandingkan dengan populasinya di petak petani. Populasi agenshayati, yakni Bacillus sp. dan Trichoderma sp. pada petak PHT lebih tinggi, masing-masing sebesar 35,31 dan 58,35%dibandingkan populasi di petak petani. Residu insektisida dan fungisida pada hasil panen bawang merah dan cabai dipetak PHT masih di bawah ambang batas yang diijinkan, sedangkan residu pada hasil panen bawang merah dan cabaipada petak petani berada di atas ambang batas yang diijinkan.AB STRACT. Moekasan, T.K., E. Suryaningsih, I. Sulastrini, N. Gunadi, W. Adiyoga, A. Hen dra, M.A.Martono, and Karsum. 2004. Tech ni cal and eco nom i cal fea si bil ity of in te grated pest man age ment tech nol ogyon intercropping sys tem of shal lot and hot pep per. A field ex per i ment us ing a paired treat ment com par i son methodwas con ducted at Bojong Nagara vil lage, Ciledug sub dis trict, Cirebon dis trict, West Jawa (±5 m asl) from June un tilDe cem ber 2002. The pur pose of this study was to com pare the tech nique and eco nomic fea si bil ity of in te grated pestman age ment (IPM) tech nol ogy found by In do ne sian Veg e ta bles Re search In sti tute with farmer’s sys tem on shal lotand hot pep per in re lay plant ing sys tem. The ex per i ment used com par i son de sign with four rep li ca tions. The plot sizewas 100 m2. The re sults on shal lot showed that IPM im ple men ta tion gave more eco nom i cally ad van tages than thefarmer’s sys tem, be cause R/C ra tio on IPM plot was 1.47 and R/C ra tio on farmer’s plot was 0.84 re spec tively. On hotpep per, the plant dam age in IPM plot was lower that the dam age in farmer’s plot, but the yield on IPM plot was lowerthan the yield on farmer’s plot. Implementation of IPM could sup press the use of in sec ti cides and fun gi cides ca. 61.53and 100% re spec tively on shal lot and 72.72 and 90.90% re spec tively on hot pep per. In IPM plot, in sec ti cide and fun gi -cide res i due in the soil de creased ca. 23.06% in hi bi tion and 50.72% in hi bi tion re spec tively. In the other hand, the in -sec ti cide res i due in the soil in farmer’s plot in creased ca. 8.14% in hi bi tion, but the fun gi cide res i due de creased ca.20.37% in hi bi tion. Di ver sity of fauna in the plan ta tion in IPM plot was higher (22.03%) than the di ver sity in farmer’splot. Pred a tors pop u la tion in IPM plot was higher (11.54-55.55%) than the pop u la tion in farmer’s plot. Pop u la tion ofBa cil lus sp. and Trichoderma sp. in IPM plot higher (35.31 and 58.35% re spec tively) than the pop u la tion in farmer’splot. Pes ti cide res i due in shal lot bulbs and hot pep per fruits in IPM plot was at the lower level than thresh old level, butthe res i due in farmer’s plot sur passed the thresh old level.
Aspek Nonteknis dan Indikator Efisiensi Sistem Pertanaman Tumpang Sari Sayuran Dataran Tinggi Witono Adiyoga; Rachman Suherman; Nikardi Gunadi; Achmad Hidayat
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 3 (2004): September 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n3.2004.p1-7

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di sentra produksi sayuran dataran tinggi Pangalengan, Jawa Barat pada bulan No vem ber2001. Observasi lapang dan survai for mal melalui wawancara dengan 23 orang petani responden diarahkan untukmemperoleh data/informasi dasar mencakup aspek non-teknis dan indikator efisiensi sistem pertanaman tumpangsaripada komunitas sayuran dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas sayuran utama yangdiusahakan secara monokultur maupun tumpangsari di Pangalengan adalah kentang, kubis, petsai, cabai dan tomat.Petani mempersepsi kentang sebagai komoditas sayuran yang teknik budidayanya pal ing dikuasai serta pal ing dapatdiandalkan/menguntungkan. Sementara itu, tomat dan kubis dikategorikan sebagai jenis sayuran yang memiliki risikoproduksi pal ing tinggi (terutama dikaitkan dengan risiko kehilangan hasil panen akibat serangan hama penyakit).Sebagian besar petani responden cenderung lebih sering memilih sistem pertanaman tumpangsari berdasarkanpertimbangan (a) memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi petani untuk menghindarkan kemungkinankehilangan hasil secara to tal serta kerugian finansial yang disebabkan oleh rendahnya harga salah satu komoditas yangditanam, (b) memanfaatkan lahan dan energi sinar matahari secara lebih efisien, (c) instabilitas hasil yang disebabkanoleh cekaman lingkungan maupun serangan hama penyakit secara keseluruhan dapat dikurangi oleh karena sistemterdiri dari dua atau lebih spesies tanaman yang berbeda, (d) memungkinkan penggunaan tenaga kerja dan modalproduksi secara lebih efisien, dan (e) dua atau lebih cabang usaha (jenis tanaman) yang menopang sistem tersebutdapat saling menutupi jika salah satu di antaranya mengalami kerugian. Sebagian besar petani responden cenderungmemberikan penilaian positif terhadap sta tus sistem pertanaman tumpangsari berkaitan dengan kemungkinanpeningkatan pendapatan usahatani, pengurangan risiko harga/hasil dan pemeliharaan/perbaikan kelestarianlingkungan. Evaluasi produktivitas sistem pertanaman tumpangsari menunjukkan bahwa nisbah kesetaraan lahanuntuk berbagai kombinasi tanaman, berkisar antara 1,13-2,10. Berdasarkan urutan kepentingannya, petanimempersepsi fluktuasi harga, ketersediaan modal dan insiden hama penyakit sebagai tiga kendala terpentingkeberhasilan sistem pertanaman tumpangsari sayuran dataran tinggi. Secara berturut-turut kemudian diikuti olehketersediaan lahan, ketersediaan pupuk/pestisida, ketersediaan air/pengairan, erosi tanah atau kesuburan tanah,ketersediaan informasi teknis dan ketersediaan tenaga kerjaABSTRACT. Adiyoga, W., R. Suherman, N. Gunadi dan A. Hidayat. 2002. Nontechnical aspects and efficiencyindicators of highland vegetable multiple cropping systems. This study was carried out in November 2001, in thehigland vegetable production center, Pangalengan, West Java. Field observation and formal survey to interview 23respondents were aimed to obtain information on non-technical aspects and efficiency indicators of highlandvegetable multiple cropping systems. Results indicate that potato, cabbage, chinese cabbage, hot pepper and tomatoare the most common vegetable crops grown in monocropping and multiple cropping systems. Farmers perceivepotato as the most familiar/manageable, in terms of cultural practices, and the most profitable crop. Tomato andcabbage are perceived as crops that have highest risk, in relation to pest and disease yield losses. There is an increasingtrend of the use of multiple cropping by farmers since (a) it may avoid the yield and financial total loss, (b) it couldutilize land and lights more efficiently, (c) it may reduce the yield instability caused by environmental stress andpests/diseases incidence, and (d) it may use labor and capital more efficiently. Most respondents are in favor of or inagreement with the multiple cropping system’s potential in increasing net income, reducing price and yield risks, andmaintaining and improving environmental conservation. Productivity evaluation of multiple cropping systems showsthat the land-equivalent ratio for some crop combinations is quite high (1.13-2.10). Based on its relative importance,farmers perceive price fluctuation, working capital availability and pest and disease incidence as the main threeconstraints that hamper the succesfulness of the highland vegetable multiple cropping systems. The other secondarycontraints are related to the availability of land, fertilizer and pesticide, water and irrigation, technical information,labor, and soil fertility and ero sion.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2004 2004


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue