cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014" : 10 Documents clear
Pengelolaan Hara dan Tanaman untuk Mendukung Usahatani Cabai Merah Menggunakan Input Luar Rendah di Dataran Tinggi Sumarni, Nani; Setiawati, Wiwin; Hudayya, Abdi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p141-153

Abstract

Usahatani cabai merah konvensional dengan menggunakan input pupuk kimia yang tinggi memberikan dampak pada penurunan produktivitas lahan dan tanaman cabai merah, serta pencemaran lingkungan. Karena itu perlu dicari teknologi alternatif ramah lingkungan menggunakan input luar rendah dengan menggganti sebagian input pupuk kimia sintetik dengan bahan organik, alami, dan hayati (mikroorganisme berguna), serta menggunakan sistem tanam ganda. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Lembang dari bulan Maret sampai dengan Oktober 2013 menggunakan cabai merah varietas Kencana. Tujuan penelitian ialah untuk menghasilkan sistem tanam dan pengelolaan hara yang tepat untuk meningkatkan hasil cabai merah dalam usahatani dengan input luar rendah. Rancangan penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ialah sistem tanam cabai merah (a1= cabai merah monokultur, a2= tumpangsari cabai merah + kubis bunga, dan a3= tumpangsari cabai merah + buncis tegak). Anak petak ialah pengelolaan hara (b1= 30 t/ha pupuk kandang + 1.000 kg/ha pupuk NPK, b2= 30 t/ha kompos pupuk kandang + 750 kg/ha pupuk NPK, b3= 30 t/ha kompos sisa-sisa tanaman + 500 kg/ha pupuk NPK, dan b4= 30 t/ha kompos campuran pupuk kandang dan sisa-sisa tanaman yang diperkaya + 250 kg/ha pupuk NPK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara sistem tanam dan pengelolaan hara terhadap pertumbuhan tanaman, serapan hara, dan hasil buah cabai merah. Sistem tanam tumpangsari cabai merah + kubis bunga dan cabai merah + buncis tegak umumnya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman, dan serapan hara, serta hasil buah tanaman cabai merah dibandingkan dengan sistem tanam cabai merah monokrop. Perbedaan pengelolaan hara berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan bobot kering tanaman, serapan hara P dan Mg, serta hasil bobot buah cabai merah. Bobot buah cabai merah tertinggi diperoleh dengan sistem tanam cabai merah monokultur dengan pemberian 30 t/ha kompos pupuk kandang + 750 kg/ha pupuk NPK, yaitu 64 kg/42 m2, sedangkan sistem tanam tumpangsari cabai merah + buncis dan pengelolaan hara 30 t/ha kompos sisa-sisa tanaman + 500 kg/ha pupuk NPK walaupun memberikan hasil buah cabai merah yang lebih rendah (54 kg/42 m2) tetapi lebih baik karena mempunyai tingkat pengembalian marginal tertinggi. Aplikasi hasil penelitian ini dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan meningkatkan produktivitas lahan yang sejalan dengan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan.
Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Klon Kentang Unggul Asal International Potato Center di Dataran Tinggi Malino, Sulawesi Selatan Nikardi Gunadi; Asih Kartasih Karjadi; Sirajuddin Sirajuddin
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p102-113

Abstract

Penelitian untuk mengevaluasi klon kentang unggul baru asal The International Potato Center (CIP) dalam rangka mendapatkan klon kentang dengan hasil umbi yang tinggi baik untuk kentang konsumsi (table potato) maupun untuk kentang olahan (processing potato) yang dapat diterima petani secara berkelanjutan telah dilaksanakan di dataran tinggi Malino, yaitu di Desa Bulubalea (1.500 m dpl.), Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan sejak bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2012. Dua puluh klon kentang unggul asal CIP sebagai perlakuan dan dua varietas kentang yaitu Granola dan Atlantic sebagai kontrol dievaluasi dengan menggunakan rancangan acak kelompok dan setiap perlakuan diulang tiga kali. Pada penelitian ini, petani kentang dilibatkan untuk mengevaluasi klon kentang baik pada saat pertumbuhan maupun pada saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga klon kentang yaitu klon kentang 393708.31, 388615.22, dan 397079.6 menunjukkan hasil umbi per ha tertinggi yang berbeda nyata dengan beberapa klon kentang lainnya dan cv. Granola yang merupakan varietas kentang yang umum ditanam petani kentang di Indonesia. Dalam hal hasil umbi per tanaman, klon kentang 393708.31 memberikan hasil umbi per tanaman yang tertinggi yaitu sebesar 866 g per tanaman, tetapi tidak berbeda nyata dengan klon kentang 388615.22, 397006.18, dan 397079.6, namun berbeda nyata dengan klon kentang lainnya yang ditanam pada penelitian ini. Delapan klon kentang yaitu 388615.22, 393708.31, 397006.18, 397065.28, 397069.5, 397079.6, 399101.1, dan 392822.3, dipilih petani, baik pada saat periode pertumbuhan tanaman dan pada saat panen. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pemilihan klon yang mempunyai keunggulan untuk mendapatkan varietas kentang yang mempunyai hasil umbi tinggi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi petani, sehingga dapat diterima petani secara berkelanjutan.
Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Pembungaan, Produksi, dan Mutu Benih Botani Bawang Merah Yusdar Hilman; Rini Rosliani; Endah Retno Palupi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p154-161

Abstract

Kendala produksi benih bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) asal biji atau TSS di dataran rendah adalah rendahnya persentase pembungaan dan pembentukan biji (seed-set).Untuk meningkatkan pembentukan biji, bawang merah memerlukan suhu 17–19oC. Di Indonesia, suhu udara tersebut hanya terdapat di dataran tinggi>1.000 m dpl.. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang (1.250 m dpl.) dan di Kebun Percobaan Paseh Subang (100 m dpl.) yang sekaligus merupakan perlakuan percobaan. Penelitian dimulai dari bulan Agustus 2011 sampai Agustus 2012. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari pembungaan, viabilitas serbuk sari, produksi, dan mutu benih TSS di dataran tinggi dan dataran rendah. Pengujian viabilitas serbuk sari serta mutu benih dilakukan di Laboratorium Benih Balitsa Lembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pembungaan dan produksi biji di dataran tinggi lebih besar daripada di dataran rendah, sebaliknya mutu benih yang dihasilkan di dataran rendah lebih baik daripada di dataran tinggi. Implikasi penelitian ini adalah dataran tinggi sangat potensial untuk pengembangan produksi biji bawang merah, di mana biji bawang merah dapat menghasilkan umbi bibit yang jauh lebih baik daripada umbi bibit yang beredar di pasar.
Uji Adaptasi Bawang Merah di Lahan Gambut Pada Saat Musim Hujan di Kalimantan Tengah Muhammad Anang Firmansyah; Darkam Musaddad; Twenty Liana; M S Mokhtar; Muhammad Prama Yufdy
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p114-123

Abstract

Pengembangan bawang merah (Allium ascalonicum) di Kalimantan Tengah terutama di lahan gambut merupakan upaya untuk mencukupi kebutuhan konsumsi sekaligus menekan inflasi. Pengalaman usahatani bawang merah di lahan gambut Kalimantan Tengah menunjukkan produksi yang lebih rendah dibandingkan di lahan pasir kuarsa. Penelitian dilakukan pada bulan November 2013 hingga Januari 2014, di lahan gambut Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh varietas unggul bawang merah di lahan gambut yang ditanam pada musim hujan. Rancangan penelitian dilakukan secara rancangan acak kelompok dengan tujuh perlakuan varietas bawang merah yaitu: Bima Brebes, Sembrani, Maja Cipanas, Trisula, Katumi, Mentes, dan Manjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya adaptasi Sembrani terbaik dan berbeda nyata dengan varietas bawang merah lainnya. Indikator adaptasi terutama persentase tanaman mati varietas Sembrani paling rendah yaitu 6,47% dengan produksi basah tertinggi 18,7 t/ha atau produksi kering mencapai 9,13 t/ha. Bawang merah varietas Sembrani memiliki adaptasi tertinggi di lahan gambut Kalimantan Tengah pada musim hujan, sehingga berpeluang besar untuk dikembangkan di lahan gambut dan bercurah hujan tinggi lainnya di Indonesia.
Selektivitas Pestisida Terhadap Perkembangan Cendawan Entomopatogen Hirsutella citriformis Mutia Erti Dwiastuti; Muhammad Iqbal
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p162-170

Abstract

Pemanfaatan cendawan entomopatogen Hirsutella citriformis dalam mengendalikan hama utama tanaman jeruk Diaphorina citri mempunyai arti penting dalam mendukung konsep pengendalian hama terpadu. Entomopatogen dapat mengendalikan imago Diaphorina citri pada konsentrasi 108 konidia/ml, terutama pada musim penghujan. Aplikasi pestisida (insektisida dan fungisida) di lapang  dilakukan oleh petani diduga berpengaruh terhadap H. citriformis belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh insektisida dan fungisida terhadap perkembangan H. citriformis secara in vitro dan in vivo. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung, mulai Juni 2008 sampai dengan Juni 2009. Penelitian in vitro, menggunakan rancangan acak lengkap dengan sembilan perlakuan, yaitu insektisida berbahan aktif abamektin, sipermetrin, profenofos, dimetoat serta fungisida berbahan aktif  propinep, mankozeb, benomil, bupirimat serta kontrol, dengan tiga ulangan. Penelitian in vivo,  dilakukan pada benih jeruk menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga perlakuan: satu macam insektisida dan fungisida  terbaik dari hasil penelitian in vitro yaitu yang tidak menekan pertumbuhan H. citriformis dan kontrol, masing-masing dengan lima ulangan.  Parameter pengamatan in vitro meliputi diameter koloni H. citriformis dan persentase tingkat hambatan, sedang pengamatan in vivo di rumah kasa  meliputi periode inkubasi pada D. citri dan jumlah imago terinfeksi yang mati. Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa  H. citriformis dapat tumbuh cukup optimal pada media buatan yang dicampur dengan insektisida abamektin, sipermetrin, dan profenofos serta fungisida berbahan aktif propinep dan mankozeb. Hasil penelitian di rumah kasa menunjukkan bahwa insektisida profenofos lebih kompatibel disemprot bersama-sama dengan H. citriformis dibanding fungisida bupirimat dalam mengendalikan serangga imago D. citri
Kajian Formula Pupuk NPK Pada Pertanaman Kentang Lahan Dataran Tinggi di Lembang Jawa Barat Nana Sutrisna; Yanto Surdianto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p124-132

Abstract

Pupuk merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usahatani kentang. Berbagai jenis pupuk telah banyak dihasilkan, namun yang sesuai dengan kondisi wilayah dan dapat meningkatkan produktivitas kentang masih perlu dilakukan penelitian. Tujuan penelitian ialah memperoleh formula dan takaran pupuk majemuk NPK untuk pertanaman kentang lahan dataran tinggi di Lembang, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang. Kegiatan dimulai sejak bulan Juli sampai dengan November 2012. Percobaan menggunakan faktorial 2x2x3 dengan rancangan lingkungan acak kelompok dan diulang tiga kali. Faktor pertama ialah jenis bahan baku utama pupuk NPK yang terdiri atas dua taraf, yaitu: (1) berbasis Urea dan (2) berbasis amonium nitrat. Faktor kedua ialah formula pupuk NPK Kujang yang terdiri atas dua taraf, yaitu: (1) NPK dengan formula 16-11-11 dan (2) NPK dengan formula 16-16-16. Faktor ketiga ialah dosis atau takaran pupuk yang terdiri atas tiga taraf, yaitu: (1) 12,6 g/pohon, (2) 14,7 g/pohon, dan (3) 16,8 g/pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) formula pupuk NPK majemuk berbasis amonium nitrat relatif lebih baik terhadap pertumbuhan tanaman kentang dan meningkatkan produktivitas kentang lahan dataran tinggi di Lembang, Bandung sebesar 11,5% dibandingkan dengan formula pupuk NPK berbasis Urea, dan (2) produktivitas tanaman kentang tertinggi diperoleh pada takaran pupuk NPK berbasis amonium nitrat formula 16-16-16 sebesar 16,8 g/pohon atau 700 kg/ha, yaitu 14,687 t/ha, meningkat 13,28% dari takaran pupuk 12,6 g/pohon, dan 7,01% dari takaran pupuk 14,7 g/pohon
Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogen Pada Umbi Benih Bawang Merah (Allium ascalonicum) di Laboratorium Sitti Fadhilah; Suryo Wiyono; Memen Surahman
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p171-178

Abstract

Penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum merupakan salah satu penyakit penting pada bawang merah (Allium ascalonicum). Sebagian besar petani menggunakan umbi sebagai benih dan diketahui bahwa beberapa patogen dapat terbawa oleh benih seperti Fusarium oxysporum. Oleh karena itu diperlukan pengujian kesehatan benih untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Salah satu metode sederhana dan efektif untuk digunakan di laboratorium adalah blotter test. Namun beberapa strain F. oxysporum terbukti tidak bersifat patogenik, serta tidak dapat dibedakan secara morfologi dengan strain yang bersifat patogenik. Penelitian ini bertujuan menentukan parameter uji dan jumlah sampel minimal dalam deteksi Fusarium oxysporum pada umbi bawang merah dengan metode blotter test. Hasil pengujian menunjukkan bahwa parameter nekrosis pada basal plate umbi bawang merah mempunyai koefisien korelasi (r) sebesar 0,77 terhadap tingkat infeksi pada growing on test (GOT) dan lebih besar dari tingkat infeksi fusarium (0,34) pada blotter test. Dari 195 isolat Fusarium spp. yang diuji, diketahui bahwa sebagian besar isolat bersifat nonpatogenik. Penentuan jumlah minimal umbi dengan plot kurva rerata jumlah nekrosis pada basal plate dan standar deviasi, menunjukkan jumlah sampel umbi minimal untuk blotter test adalah 150 umbi. Perhitungan jumlah sampel dengan formal probability statement yang menunjukkan jumlah umbi minimal untuk blotter test adalah 138 umbi.
Morfogenesis Eksplan Keping Biji dari Tiga Klon Manggis (Garcinia mangostana L.) Pada Tiga Jenis Media Dasar Yosi Zendra Joni; Darda Efendi; Ika Roostika Tambunan
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p94-101

Abstract

Sistem regenerasi manggis secara in vitro merupakan metode alternatif yang mendukung upaya produksi benih secara masal dan pemuliaan tanaman manggis secara bioteknologi. Dalam kultur in vitro, jenis klon dan media dasar sangat menentukan pertumbuhan biakan manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respons in vitro (morfogenesis) tiga klon manggis yang dikulturkan pada tiga jenis media dasar. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) dari bulan Januari sampai Agustus 2013. Percobaan disusun secara faktorial dalam lingkungan rancangan acak lengkap. Faktor pertama yaitu eksplan yang berasal dari tiga klon manggis (Leuwiliang, Wanayasa, dan Puspahiang). Faktor kedua adalah tiga jenis media dasar (MS, WPM, dan B5). Setiap media diperkaya dengan gula 30 g/l, phytagel 2,5 g/l, glutamin 300 mg/l, dan 6-benzyldenine (BA) 5 mg/l. Setiap perlakuan terdiri atas 25 ulangan (botol). Dalam setiap botol terdapat tiga irisan melintang biji manggis yang berasal dari satu biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara jenis klon dengan jenis media dasar untuk peubah jumlah tunas, tinggi tanaman, jumlah daun/tunas, dan jumlah daun total. Terdapat interaksi antara jenis klon dengan jenis media dasar, yaitu untuk peubah jumlah nodul. Menariknya, penggunaan media MS menyebabkan jumlah tunas, jumlah daun total, dan jumlah nodul yang terbanyak. Tinggi tunas tertinggi diperoleh dari penggunaan media WPM dan B5. Selain itu, morfogenesis klon Wanayasa dan Puspahiang lebih baik daripada klon Leuwiliang
Aplikasi Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan Strangulasi untuk Induksi Pembungaan di Luar Musim Pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Muhammad Darmawan; Roedhy Poerwanto; S Susanto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p133-140

Abstract

Paclobutrazol sebagai zat penghambat biosintesis giberelin selama ini telah digunakan secara luas untuk mengatur produksi di luar musim beberapa buah tropika, namun zat ini meninggalkan residu yang panjang. Prohexadion-Ca adalah zat penghambat biosintesis giberelin yang dalam penggunaannya tidak meninggalkan residu, namun belum pernah diuji efektifitasnya dalam mengatur produksi buah di luar musim. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknologi produksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanah. Penelitian menggunakan rancangan blok terpisah (split block design). Penelitian berlangsung dari bulan November 2012 sampai Mei 2013. Hasil penelitian menunjukan perlakuan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi dapat mempercepat pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga dan buah tanaman jeruk keprok. Perlakuan Prohexadion-Ca dapat mempercepat mulainya muncul bunga  dibandingkan dengan perlakuan Paclobutrazol dan dapat meningkatkan jumlah bunga dan buah sama dengan Paclobutrazol. Penggunaan Prohexadion-Ca dapat dijadikan sebagai teknologi untuk memproduksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanaman.
Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan Utama Pada Budidaya Cabai Merah di Dataran Tinggi Laksminiwati Prabaningrum; Tonny Koestoni Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p179-188

Abstract

Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) masih merupakan salah satu kendala utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi, sejak fase vegetatif hingga generatif. Oleh karena itu pengelolaan OPT selalu diupayakan guna menekan kehilangan hasil panen. Penelitian mengenai pengelolaan OPT utama pada budidaya cabai merah di dataran tinggi telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.) sejak April hingga Oktober 2011. Tujuannya ialah menguji pengaruh penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik pada budidaya tiga varietas cabai merah terhadap serangan OPT, penggunaan pestisida, dan produksi cabai merah. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dan setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Macam perlakuan yang diuji adalah : (A) sistem tanam : di dalam rumah kasa (a1) dan di lahan terbuka (a2); (B) kombinasi varietas dan penggunaan mulsa plastik : Tanjung 2 + mulsa plastik (b1), Wibawa + mulsa plastik (b2), Hot Beauty + mulsa plastik (b3), Tanjung 2 tanpa mulsa plastik (b4), Wibawa tanpa mulsa plastik (b5), dan Hot Beauty tanpa mulsa plastik (b6).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penggunaan rumah kasa pada budidaya cabai merah mampu menekan serangan OPT dan penggunaan pestisida dengan hasil panen lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya di lahan terbuka, (2) kombinasi penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik mampu menekan kerusakan tanaman oleh serangan trips, (3) varietas Wibawa yang ditanam di dalam rumah kasa menggunakan mulsa plastik berproduksi tertinggi. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dan mulsa plastik dapat direkomendasikan untuk pengelolaan OPT cabai merah di dataran tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue