cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015" : 10 Documents clear
Pengaruh Bahan Ekstrak Tanaman terhadap Pathogenesis Related Protein dan Asam Salisilat dalam Menginduksi Resistensi Tanaman Cabai Merah terhadap Virus Kuning Keriting Gunaeni, Neni; Wulandari, Astri W; Hudayya, Abdi
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p160-170

Abstract

Pengendalian penyakit virus  kuning keriting telah dilakukan dengan pengendalian populasi vektornya menggunakan insektisida. Namun cara ini kurang praktis, mahal, tidak efektif, dan  mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan, manusia, dan sumber daya hayati. Sejauh ini belum ada tanaman cabai yang resisten terhadap penyakit virus kuning keriting (tidak adanya sumber gen tahan), maka perlu dibangun suatu cara untuk mengaktifkan gen pertahanan dari tanaman itu sendiri. Tujuan penelitian adalah mendapatkan ekstrak tanaman  yang paling baik pengaruhnya dalam memicu keaktifan gen pertahanan dan kandungan biokimia tanaman cabai yang menyebabkan sifat tahan.  Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran pada ketinggian 1.250 m dpl. pada bulan Mei sampai dengan Desember 2012. Tahapan penelitian meliputi (1) penentuan empat inducer terpilih, (2) pengujian ELISA, (3) analisis kandungan protein, dan (4) pengujian kandungan asam salisilat. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa (1) diperoleh dua jenis tanaman yang berpotensi sebagai bahan penginduksi resistensi tanaman cabai merah terhadap penyakit virus kuning keriting yaitu tanaman pagoda (Clerodendrum japonicum Thunb.) dan tapak dara (Catharanthus roseus L.), (2) hasil analisis protein menunjukkan bahwa ekspresi  pola pita protein tanaman yang diberi inducer lebih tebal 1,5 kali dibandingkan tanaman yang terinfeksi penyakit virus kuning keriting, dan (3) kandungan asam salisilat pada tanaman cabai merah yang diberi inducer ekstrak tanaman pagoda dan tapak dara lebih tinggi 53,99 – 134,38% dibandingkan tanaman yang terinfeksi penyakit virus kuning keriting.
Karakterisasi Morfologi dan Evaluasi Daya Hasil Sayuran Polong Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) Handayani, Tri; Kusmana, Kusmana; Lukman, Liferdi; Hidayat, Iteu M
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p126-132

Abstract

ABSTRAK. Tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai jenis sayuran polong. Selama ini, budidaya tanaman kecipir dilakukan secara tradisional sehingga informasi mengenai produksi dan keunggulannya masih sangat terbatas. Balai Penelitian Tanaman Sayuran memiliki koleksi kecipir yang memperlihatkan keragaman morfologi maupun produksi polongnya. Tujuan penelitian adalah memperoleh data karakterisasi tujuh nomor kecipir dan mendapatkan sedikitnya satu nomor kecipir yang berdaya hasil tinggi. Penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai Oktober 2013 di Kebun Percobaan Margahayu,  Lembang (1.250 m dpl.). Tujuh nomor kecipir ditanam dengan rancangan acak kelompok lengkap, dengan lima ulangan. Karakterisasi dilakukan mengikuti AVRDC GRSU characterization data sheet. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa tujuh nomor kecipir seragam untuk karakter warna batang (hijau), warna daun (hijau), warna kaliks (hijau), warna bunga (ungu), dan bercak pada polong (tidak ada). Keragaman muncul pada karakter bentuk anak daun, bentuk polong, warna polong, dan warna sayap polong. Anak daun berbentuk ovate lanceolate (KCP A), ovate (KCP C dan KCP D), dan deltoid (KCP B, KCP E, KCP F, dan KCP G). Polong KCP C berbentuk semi datar, sedangkan enam nomor lainnya berbentuk rectangular. Produksi polong muda tertinggi dihasilkan oleh KCP C, yaitu jumlah polong per tanaman (62,84), berat polong per tanaman (800,04 g), dan berat polong per plot (7,82 kg). Keunggulan lain KCP C adalah kandungan serat polong mudanya tertinggi dibanding nomor lain, yaitu 2,89%.
Deteksi Virus-Virus pada Kentang di Jawa Barat dengan Menggunakan Teknik Molekuler Tri Asmira Damayanti; R Kartika
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p171-179

Abstract

ABSTRAK. Gejala infeksi virus ditemukan bervariasi di sentra pertanaman kentang di Jawa Barat (Rancabali, Pangalengan, dan Bayongbong). Diagnosis virus berdasarkan gejala sulit untuk menentukan identitas suatu virus. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mendeteksi virus-virus pada tanaman kentang dengan teknik molekuler. Sebanyak 50 sampel daun dikoleksi secara acak dari tanaman kentang yang bergejala di setiap lokasi. Parameter yang diamati adalah gejala, kejadian penyakit, dan runutan DNA virus yang dominan ditemukan. Kejadian penyakit ditentukan dengan uji serologi menggunakan antiserum PVY, PVX, PVS, dan CMV, sedangkan deteksi asam nukleat dilakukan dengan RT-PCR dan perunutan DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala yang ditemukan bervariasi pada daun kentang, seperti vein clearing, vein banding, rugose, dan malformasi daun. Kejadian penyakit oleh PVY, PVX, PVS, dan CMV di Rancabali berturut-turut adalah 28%, 0%, 0%, dan 28%, di Pangalengan adalah 80%, 24%, 2%, dan 82%, serta di Bayongbong adalah 82%, 0%, 6%, dan 74%. RT-PCR menggunakan primer spesifik PVY dan CMV berhasil mengamplifikasi gen coat protein PVY dan CMV asal Bayongbong masing-masing  berukuran ~800 pb dan ~650 pb. Homologi nukleotida dan asam amino PVY asal Bayongbong terhadap PVY dari negara lain berkisar 89,5–99,7% dan 92,0–100%. Homologi tertingginya yaitu dengan PVY-NTN asal Cina dan Jepang, sedangkan homologi nukleotida dan asam amino CMV asal Bayongbong terhadap CMV asal negara lain berkisar 87,6–96,9% dan 86,9–93,7%. Homologi tertingginya yaitu dengan CMV strain soybean stunt (S) asal Bogor (Indonesia). Kedua strain virus (PVY-NTN dan CMV-S) pertama kali terdeteksi pada kentang di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teridentifikasinya kedua strain virus baru harus dipertimbangkan sebagai pembatas penting produksi kentang di Jawa Barat
Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah dengan Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Hayati pada Tanah Alluvial Imam Firmansyah; Liferdi Lukman; Nur Khaririyatun; Muhammad Prama Yufdy
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p133-141

Abstract

Tanah Alluvial mempunyai kadar bahan organik dan N-total yang tergolong sangat rendah sehingga penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati dengan dosis yang cukup diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik dan sifat kimia tanah serta meningkatkan hasil bawang merah. Bawang merah merupakan komoditas sayuran penting yang biasa tumbuh di tanah Entisol. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik dan pupuk hayati terhadap dosis optimal dan produktivitas tanaman bawang merah pada tanah Alluvial. Percobaan lapangan dilakukan di Brebes, Jawa Tengah pada bulan Mei – Agustus 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan dan 10 kombinasi perlakuan dosis pupuk organik dan pupuk hayati, aplikasi perlakuan dilakukan dengan cara ditabur. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, hasil panen segar, bobot kering eskip, serapan hara tanaman, dan analisis kimia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah, tetapi berpengaruh terhadap hasil umbi bawang merah. Dosis 3.000 kg/ha pupuk organik + 50 kg/ha pupuk hayati memberikan hasil bobot umbi kering eskip bawang merah paling tinggi, yaitu sebesar 23,22 kg/15 m2. Implikasi dari hasil penelitian ini bahwa penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati dapat dilakukan sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Kelayakan Teknis dan Ekonomi Budidaya Cabai Merah di Dalam Rumah Kasa untuk Menanggulangi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Tonny Koestony Moekasan; Nikardi Gunadi; Witono Adiyoga; Ineu Sulastrini
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p180-192

Abstract

K. Pada satu dasawarsa terakhir produktivitas cabai merah mengalami penurunan akibat meningkatnya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dipicu oleh dampak perubahan iklim. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan budidaya cabai merah di dalam rumah kasa. Budidaya cabai merah di dalam rumah kasa di dataran rendah mampu meningkatkan hasil panen > 9 kali dibandingkan dengan budidaya cabai merah di lahan terbuka, sedangkan di dataran tinggi mampu mengurangi penggunaan pestisida dengan hasil panen tetap tinggi. Namun demikian, kelayakan teknis dan ekonominya belum diketahui. Penelitian bertujuan mengetahui kelayakan teknis dan ekonomi budidaya cabai merah di dalam rumah kasa di dataran tinggi dalam upaya menanggulangi serangan OPT. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (± 1.250 m dpl.), Jawa Barat, sejak bulan Juni sampai November 2014. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode petak berpasangan dan diulang empat kali. Petak perlakuan berukuran 75 m2, varietas cabai yang ditanam adalah Ciko. Dua macam perlakuan yang diuji adalah (a) budidaya tanaman cabai di dalam rumah kasa dan (b) budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka. Penyemprotan insektisida dilakukan berdasarkan ambang pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumah kasa dapat mengurangi serangan hama sehingga biaya insektisida dapat dikurangi sebesar 73,19% dengan produksi lebih tinggi sebesar 106,45–109,00% dibandingkan dengan budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka, dengan tingkat pengembalian (R) mencapai 2,36. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dapat direkomendasikan sebagai teknologi budidaya cabai merah di dataran tinggi karena secara teknis dapat menekan serangan OPT dan mengurangi penggunaan insektisida dan secara ekonomi menguntungkan.
Induksi Perakaran Manggis (Garcinia mangostana L.) Secara In Vitro dan Ex Vitro Y Z Joni; D Efendi; Ika Roostika
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p97-105

Abstract

Induksi perakaran merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi dalam kultur in vitro manggis. Sistem perakaran yang baik menjadi persyaratan penting bagi planlet untuk siap diaklimatisasi. Penelitian bertujuan untuk menentukan kombinasi perlakuan dan konsentrasi IBA, NAA, paklobutrazol, dan phloroglucinol yang efektif untuk menginduksi pembentukan akar planlet manggis secara in vitro dan ex vitro. Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), mulai bulan Maret 2013 sampai Januari 2014. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Induksi perakaran manggis secara in vitro terdiri atas tujuh perlakuan, yaitu kombinasi IBA (10 mg/l) dengan paklobutrazol (3, 6, dan 9 mg/l) atau phloroglucinol (2,8; 5,6; dan 8,4 mg/l). Induksi perakaran manggis secara ex vitro terdiri atas delapan perlakuan IBA dan NAA (masing-masing 100, 200, 300, dan 400 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi IBA dengan paklobutrazol atau phloroglucinol menghasilkan jumlah planlet berakar yang relatif rendah (0−29%). Induksi akar secara ex vitro menghasilkan planlet berakar yang relatif tinggi (70−90%). IBA dan NAA 100−400 mg/l dapat menginduksi akar manggis secara ex vitro. Media terbaik untuk pengakaran manggis secara ex vitro adalah perendaman dalam larutan NAA 200 mg/l selama 1 jam. Induksi perakaran secara ex vitro lebih baik dilakukan daripada secara in vitro. Keberhasilan induksi perakaran manggis secara ex vitro dapat mempersingkat waktu mikropropagasi benih manggis.
Pengaruh Konsentrasi Rootone-F dan Panjang Setek padaPertumbuhan Begonia tuberosa Lmk. Ida Bagus Ketut Arinasa
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p142-149

Abstract

ABSTRAK. Begonia tuberosa Lmk. merupakan salah satu jenis tanaman hias yang mempunyai nilai estetika dan ekonomi tinggi. Permasalahan yang dialami dalam perbanyakan tanaman ini adalah sulitnya setek berakar, setek cepat busuk, dan terbatasnya ketersediaan bibit di pasaran. Penelitian merupakan percobaan pot yang dilakukan di dalam Rumah Kaca Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali - LIPI pada ketinggian tempat 1.250 m dpl. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh tanaman (Rootone-F) dan panjang setek pucuk pada pertumbuhan Begonia tuberosa Lmk. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi Rootone-F (0, 150, 300, dan 450 mg/l) dan faktor kedua adalah panjang setek pucuk (5; 7,5; dan 10 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi Rootone-F dan panjang setek pucuk tidak berpengaruh secara signifikan terhadap semua variabel yang diukur. Jumlah akar terbanyak diperoleh pada panjang setek 10 cm rerata sebanyak 18,25 buah dan tidak berbeda nyata dengan panjang setek 5 dan 7,5 cm. Berat kering oven total tiga ulangan bibit tertinggi diperoleh pada konsentrasi optimum 300 mg/l adalah 1,36 g dengan persentase penambahan secara berturut-turut sebesar 227,14; 70,92; dan 72,22% bila dibandingkan dengan berat total kering oven tiga ulangan bibit pada konsentrasi Rootone-F 0,150 dan 450 mg/l masing-masing 0,42; 0,80; dan 0,79 g. Panjang setek pucuk 10 cm memberikan pertumbuhan bibit B. tuberosa Lmk. tertinggi yang ditunjukkan dengan berat total kering oven tertinggi sebesar 1,58 g, jika dibandingkan dengan panjang setek pucuk 5 cm dan 7,5 cm yaitu 0,36 g dan 0,83 g terjadi peningkatan secara berturut-turut sebesar 334,94% dan 90,10%. Pertumbuhan terbaik perbanyakan B. tuberosa Lmk. dengan setek batang diperoleh dengan panjang setek 10 cm dan diberikan penambahan konsentrasi Rootone-F 300 mg/l.
Analisis Keragaman Genetik Manggis dalam Satu Pohon S Noorrohmah; Sobir Sobir; Darda Effendi
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p106-112

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana) termasuk dalam kelompok Garcinia, merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara. Manggis memiliki sistem reproduksi melalui mekanisme apomiksis yang bijinya terbentuk tanpa fertilisasi. Manggis termasuk tanaman apomiksis obligat, progeni yang dihasilkan akan memiliki kesamaan genotip dengan tanaman induk. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya keragaman genetik antaraksesi manggis. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Sampel tanaman yang digunakan berasal dari empat generasi manggis (P1, P2, P3, dan P4) Wanayasa, Purwakarta. Pengambilan sampel berdasarkan ketinggian tanaman dan masing-masing ketinggian dibagi menjadi empat sektor (utara, timur, selatan, dan barat). Penelitian meliputi tiga analisis, yaitu morfologi, molekuler dengan ISSR, dan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman morfologi dan genetik dalam satu pohon. Keragaman morfologi lebih besar dari pada genetik. Tingkat keragaman morfologi sebesar 18–43%, sedangkan keragaman genetik adalah 2–17%.
Pengaruh pH, Penggoyangan Media, dan Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum Linn.) terhadap Pertumbuhan Cendawan Rhizoctonia sp. Achmad Achmad; I Mulyaningsih
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p150-159

Abstract

Mati pucuk merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman hortikultura. Salah satu cendawan penyebab mati pucuk adalah Rhizoctonia sp. Penelitian bertujuan menguji ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum Linn.) sebagai bahan pestisida alami untuk mengembangkan metode pengendalian hayati yang ramah lingkungan dan menguji pengaruh pH serta penggoyangan media terhadap pertumbuhan Rhizoctonia sp. Sirih merah diekstrak dengan pelarut akuades melalui pemanasan 100°C. Ekstrak yang diperoleh dilarutkan dalam air sehingga memiliki beberapa seri konsentrasi, yaitu 9, 20, 40, 60, 80, dan 100%. Perlakuan pH media dilakukan dengan berbagai nilai, yaitu 2, 4, 6, 8, dan kontrol (6,8). Adapun kecepatan penggoyangan (shaker) yang digunakan adalah 0 (kontrol), 50, 100, dan 150 rpm. Pengaruh perlakuan diamati dengan mengukur pertumbuhan diameter dan pertumbuhan biomassa miselia Rhizoctonia sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun sirih merah, pertumbuhan diameter koloni Rhizoctonia sp. semakin terhambat. Perlakuan pH pada media PDA (potatoes dextrose agar) menunjukkan bahwa isolat Rhizoctonia sp. tidak mengalami pertumbuhan pada pH 2. Hasil perlakuan penggoyangan media PDB (potato dextrose broth) diperoleh bobot kering miselia tertinggi pada penggoyangan 100 rpm
Parameter Genetik Klon-Klon F1 Krisan R Meilasari; Warid Ali Qosim; Murdaningsih Murdaningsih; K Yuniarto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p113-125

Abstract

Produksi krisan di Indonesia memperlihatkan kecenderungan yang meningkat dalam 5 tahun terakhir. Selain sebagai bunga potong, krisan juga telah diminati konsumen sebagai tanaman hias pot. Namun, varietas krisan pot yang banyak beredar di pasaran saat ini merupakan varietas introduksi. Upaya perakitan varietas krisan pot dalam negeri telah dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias dan telah diperoleh sejumlah genotip F1. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui beberapa parameter genetik dari genotip F1 krisan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cipanas Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan September 2013 – Februari 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 96 genotip F1 krisan dan lima genotip tetua krisan pot yaitu Garden Mum Red, Surf, Sunny Ursula, Bonny, dan Miramar. Hasil penelitian pada populasi keseluruhan genotip menunjukkan nilai variabilitas genetik dan fenotipik yang luas untuk semua karakter pengamatan dengan nilai heritabilitas kategori tinggi pada 13 karakter dan sedang pada empat karakter. Pada masing-masing populasi, variabilitas genetik dan fenotipik yang luas dengan nilai heritabilitas tinggi terdapat pada karakter-karakter selain diameter batang, panjang daun, jumlah internode, panjang internode, jumlah cabang, dan lama kesegaran bunga untuk populasi A, diameter batang, jumlah internode, panjang internode, jumlah bunga per tanaman, jumlah cabang, dan lama kesegaran bunga untuk populasi B, diameter batang, panjang daun, lebar daun, jumlah internode, jumlah cabang, dan lama kesegaran bunga untuk populasi D, diameter tajuk dan lama kesegaran bunga untuk populasi E. Dengan demikian, seleksi untuk memperoleh genotip unggul akan efektif dilakukan pada selain karakter-karakter tersebut. Populasi C menunjukkan nilai variabilitas genetik yang sempit untuk semua karakter pengamatan. Setiap hasil persilangan krisan menghasilkan genotip-genotip F1 dengan warna bunga yang beragam serta diperoleh warna-warna bunga yang berbeda dari tetuanya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue