cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Identifikasi Faktor-Faktor yang Kondusif untuk Merintis Pengelolaan Irigasi di Tingkat Tertier yang lebih Produktif dan Berkelanjutan Sumaryanto, nFN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v25n2.2007.148-177

Abstract

EnglishIrrigation water scarcity has been a pressing problem in agricultural production and the problem will be intensifying in the future. As consequence, efforts to enhance agricultural production and farmers' income will be affected. Therefore, a more productive and sustainable irrigation management alternatives for agricultural production should be developed. This study aims to identify conducive factors in initiating a more productive and sustainable irrigation management, especially at tertiary level. The study was conducted at technical irrigation area of Brantas River Basin, East Java on October – December 2000 and February – May 2001 which is updated using the data of survey conducted in February 2006. Using ordered logit model, it was identified that conducive factors in initiating the more productive and sustainable irrigation management at tertiary level were: larger land holding area, more favorable supply of irrigation water, higher quality of land holding, more significant contribution of farm income, better performance of Water User’s Association, and the availability of household labor for farming. Negative factor was fragmented land holding. IndonesianTerkait dengan perubahan iklim, peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani akan semakin terkendala oleh kelangkaan air irigasi. Oleh karena itu, irigasi harus dikelola secara lebih produktif dan berkelanjutan. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang kondusif untuk merintis sistem pengelolaan seperti itu, terutama di tingkat tertier. Penelitian dilakukan di wilayah pesawahan irigasi teknis Daerah Aliran Sungai Brantas, Jawa Timur pada bulan Oktober – Desember 2000 dan Februari – Mei 2001 yang kemudian diperbaharui datanya pada survei yang dilaksanakan pada bulan Februari 2006. Dengan pendekatan ordered logit, hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang kondusif untuk merintis pengelolaan irigasi yang lebih produktif dan berkelanjutan adalah jika sawah garapan per petani lebih luas, kondisi pasokan air irigasi lebih mudah diatur, rata-rata kualitas lahan garapan lebih baik, peran usahatani lahan sawah dalam ekonomi rumah tangga petani dominan, kinerja pengurus HIPPA lebih baik, dan tenaga kerja rumah tangga untuk usahatani lebih tersedia. Faktor yang tidak mendukung adalah fragmentasi garapan.
Analysis of Marketing Margin Behaviour Using Econometric Model: The Case of Groundnut in East Java Hadi, Prajogo Utomo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v9n1.1990.26-40

Abstract

IndonesianPedagang sering dikritik sebagai pihak yang membuat harga komoditas pertanian di tingkat petani tetap rendah dan harga di tingkat konsumen tinggi serta cenderung memperbesar marjin pemasaran. Studi ini bertujuan menganalisis perilaku marjin pemasaran kacang tanah di Jawa Timur dan secara spesifik menguji hipotesa bahwa pedagang tidak mempraktekkan strategi price levelling dan bersikap netral terhadap risiko harga. Dengan menggunakan metoda ekonometrik, hasil analisis menunjukkan bahwa pedagang menerapkan strategi tersebut di atas dan bersikap netral terhadap risiko harga, dan marjin pemasaran tidak meningkat dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil penelitian ini, kebijaksanaan stabilisasi harga kacang tanah tidak dianjurkan.EnglishMiddlemen are often blamed as those practicing a behaviour which keeps price of agricultural commodities low at the farmgate and high at the consumer level and tend to widen the gap between these two price levels, i.e., the marketing margins. The present study aims to analyze the behaviour of marketing margins of groundnut in East Java. It specifically tests the hypotheses of the non-existence of price levelling behaviour and price-risk neutrality of the middlemen. Employing an econometric method, the present study found that middlemen practiced price levelling behaviour and did not respond to price risk and the marketing margins has not increased in the long-run. On the basis of these results, policies stabilising the price of groundnut are not suggested.
Analisis Daya Saing Usahatani Kedelai di DAS Brantas Siregar, Masdjidin; Sumaryanto, nFN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v21n1.2003.50-71

Abstract

EnglishThe major objective of this paper is to analyze the competitiveness of soybean production in Brantas River Basin, the major soybean producing region in Indonesia. The results indicate that the returns to management is negative. This implies that soybean has no competitive advantage, which is also shown by the values of PCR of about unity. The value of DRC, which is approximately equal to unity, also indicates that soybean has a weak comparative advantage. The results of the break even analysis indicate that soybean would be financially competitive if the world price of soybean at least increases by 8.5%, or the exchange rate of dollar to the local currency at least declines by 9.2%, or soybean productivity at least increases by 27.4% from the base period, ceteris paribus. In other words, there should be a serious attempt to increase the efficiency of soybean crop by increasing productivity through the use of quality seeds and balanced amounts of fertilizers. Besides, research in soybean variety improvement should be intentionally encouraged from now on. Not much can be done from fiscal and monetary policy sides in a gradually more liberalized international trade in the future. IndonesianTujuan utama makalah ini adalah untuk menganalisis daya saing komoditas kedelai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, yang merupakan daerah utama penghasil kedelai di Indonesia. Hasil analisis memperlihatkan bahwa penerimaan bersih untuk pengelola (returns to management) adalah negatif. Ini berarti bahwa komoditas kedelai tidak memiliki keunggulan kompetitf yang dipertegas lagi oleh nilai PCR sekitar satu. Nilai DRC yang berada disekitar satu juga menunjukkan bahwa komoditas kedelai memiliki keunggulan komparatif yang lemah. Dari analisis titik impas diperoleh kesimpulan bahwa komoditas kedelai akan mempunyai daya saing finansial jika harga kedelai dunia naik paling sedikit 8,5 persen, atau nilai tukar dolar terhadap rupiah paling sedikit turun 9,2 persen atau produktivitas kedelai naik paling sedikit 27,4 persen, ceteris paribus. Dengan perkataan lain harus ada upaya peningkatan efisiensi tanaman kedelai melalui peningkatan produktivitas dengan penggunaan benih bermutu serta pupuk berimbang. Disamping itu, dukungan terhadap penelitian pengembangan varietas kedelai juga harus diutamakan mulai sekarang. Kebijakan fiskal dan moneter tidak banyak yang dapat dilakukan dalam era perdagangan internasional yang semakin liberal ke depan.
Sources of Major Agricultural Export Earnings Stability in Indonesia Simatupang, Pantjar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v7n1.1988.47-60

Abstract

IndonesianStabilitas penerimaan ekspor adalah penting untuk mengurangi premi resiko bagi eksportir. Oleh karena itu, stabilitas penerimaan ekspor dapat mempengaruhi volume ekspor, dan selanjutnya tingkat produksi. Stabilitas penerimaan ekspor juga penting bagi pemerintah dalam mengelola cadangan devisa. Stabilitas penerimaan ekspor juga mempengaruhi tingkat nilai tukar. Oleh karena itu, pemahaman akan sumber penyebab ketidakstabilan penerimaan ekspor adalah sangat penting, sehingga dapat diambil kebijakan yang tepat. Dalam penelitian ini dibahas sumber ketidakstabilan penerimaan ekspor dari empat komoditi ekspor utama Indonesia yaitu karet, kopi, kelapa sawit, dan teh dengan mempergunakan sidik ragam. Komoditi yang paling tidak stabil nilai ekspomya adalah karet dan kopi. Sumber utama ketidakstabilan penerimaan dari ekspor karet adalah harga internasional selama periode 1976-1985. Harga internasional merupakan sumber utama ketidakstabilan dari ekspor kopi pada periode 1976-1980. Namun, pada periode 1981-1985 volume eksporlah yang menjadi sumber utama ketidakstabilan. Kelapa sawit dan teh sama seperti ketidakstabilan pada kopi.EnglishExport earning stability is important for exporters to reduce risks premium. Hence, it may affect the volume of export and then production. For the government export earning stability is important in managing its foreign exchange reserve. Export earning stability may also affect the prevailing exchange rate. Understanding the causes of export earning instability will be useful in taking appropriate policies for the export earning stabilization. This paper decomposes the export earning sources of instability of four Indonesia major agricultural export commodities: rubber, coffee, palm oil, and tea using variance analysis. The most unstable is rubber export and followed by coffee. The main source of instability for rubber is international price for the 1976-1985 period. Price was the main source of instability for coffee during the 1976-1980 period. But in the 1981-1985 period, quantity is the main source of export earning instability. Palm oil and tea follow the same pattern with coffee.
Economies of Scale of Sugarcane Cooperatives in East Java Province and Their Influencing Factors Ariningsih, Ening
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n1.2013.53-69

Abstract

IndonesianJawa Timur merupakan provinsi sentra tebu terbesar di Indonesia dengan banyak koperasi primer yang terlibat dalam bisnis pertebuan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keberadaan kondisi skala ekonomi dari koperasi-koperasi yang bergerak dalam agribisnis tebu di Provinsi Jawa Timur dan faktor-faktor yang memengaruhi skala ekonomi tersebut. Metode translog cost-function dan pendekatan produsen digunakan untuk menganalisis data panel dari koperasi-koperasi responden pada periode 2008-2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas koperasi yang bergerak dalam agribisnis tebu di Provinsi Jawa Timur yang dianalisis berada dalam kondisi diseconomies of scale. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kondisi skala ekonomi dipengaruhi oleh output per anggota, klasifikasi koperasi, dan total asset koperasi.  Supaya skala ekonomi bisa tercapai dan bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada anggotanya koperasi-koperasi tersebut harus memperbaiki efisiensi manajemennya.EnglishEast Java Province is the largest sugarcane producing center in Indonesia and there are many primary cooperatives engaged in sugarcane business.  The objective of this study is to determine the existence of economies of scale of sugarcane cooperatives in East Java Province and examine their influencing factors.  Trans-log cost-function method and producer approach coupled with a set of panel data over the period 2008 to 2011 was used in this study.  The study show significant diseconomies of scale for majority of sugarcane cooperatives in East Java and that the economies of scale were affected by output per member, classification, and total assets of the cooperatives.  These results strongly suggest that the sugarcane cooperatives improve their management efficiency in order to achieve economies of scale and better services for their members.
Analisis Kesenjangan Kesempatan Kerja dan Tingkat Pendapatan Antarpropinsi di Indonesia Nurmanaf, Achmad Rozany
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v17n1.1998.13-21

Abstract

EnglishTwo important indicators of economic development program achievements are labor absorption rate and income level of society. To gain these indicators increasing is tightly related to efficiency level of resources allocation. Unfortunately, the potency of resources and the efficiency of their allocation are not distributed equally among regions and provinces. By using Theil's Coefficient this paper discusses the variation of labor absorption rate and income level among regions and provinces in Indonesia. Provinces where the economy is dominated by modern sector activities have higher production factor productivity and also have higher level of income. While, provinces where the economy is dominated by traditional sector activities have lower production factor productivity and have lower level of income.IndonesianDua indikator penting dalam keberhasilan program pembangunan ekonomi adalah tingkat penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat. Untuk mencapai keberhasilan kedua indikator tersebut erat hubungannya dengan tingkat efisiensi dan alokasi sumber daya. Sayangnya, potensi sumber daya dan pengalokasiannya tidak terdistribusi secara merata di antara wilayah dan propinsi di Indonesia. Dengan menggunakan Koefisien Theil, tulisan ini mendiskusikan variasi penyerapan tenaga kerja dan tingkat pendapatan di antara propinsi dan wilayah. Propinsi-propinsi yang perekonomiannya didominasi oleh kegiatan sektor modern mempunyai produktivitas faktor-faktor produksi yang lebih tinggi dan tingkat pendapatannya pun demikian pula. Sementara, propinsi-propinsi yang perekonomiannya didominasi oleh aktivitas di sektor tradisional memiliki produktivitas faktor-faktor produksi dan tingkat pendapatan yang lebih rendah.
Skala Usaha dan Efisiensi Ekonomi Relatif Usaha Ternak Ayam Petelur Yusdja, Yusmichad; Saragih, Bungaran
Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v3n1.1983.30-41

Abstract

IndonesianSkala usaha dalam usaha ternak ayam merupakan topik dari penelitian ini. Dengan mengambil lokasi penelitian pada jalur lintas Jakarta-Bogor dan Sukabumi dan dengan sampel peternak dari berbagai skala usaha, telah dapat dirumuskan beberapa hal pokok. Pertama, biaya tenaga kerja dan makanan ternak berpengaruh negatif dan nyata pada tingkat keuntungan, sedangkan kenaikan investasi memberikan dampak yang sama. Kedua, antara pemilikan 500-15.000 ekor dengan rata-rata 1.600 ekor ternyata masih berada pada kondisi "increasing returns to scale". Ketiga, semakin besar skala usaha, semakin baik efisiensi ekonominya. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya penerapan azas konsolidasi dan dalam usaha pengadaan masukan ternak yang murah serta perlunya pelayanan kredit investasi yang lebih luas, terutama untuk peternak kecil.
Impact of Infrastructure and Government Support on Corn Production in Indonesia: A Case on Integrated Crop Management Farmer Field School Kariyasa, I Ketut
Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v29n2.2011.147-168

Abstract

EnglishCorn is the second most important food crop after rice in Indonesia. It is a versatile crop and also the second biggest contributor to crop sector’s GDP. However, domestic supply of corn has not been able to meet demand satisfactorily. To address this problem, the Indonesian government since 2009 has implemented the Farmers’ Field School of Integrated Crop Management (ICM-FFS) program on corn production. But, the success of this program is also dependent on the infrastructure available and government support where the program is implemented. The study found that good infrastructure and government support increased ICM-FFS corn farms productivity by 9.81%, with 5.62% as a direct impact and 4.19% as an indirect impact. The production difference due to infrastructure and government support was contributed by pure yield effect (52.85%) and pure area effect (42.73%). The income per corn farmer differential of Rp 1.50 million arising from good infrastructure and government support was attributed to yield effect (36.79%), area effect (29.75%), and price effect (25.42%).  Road conditions and market infrastructure improvement, government support enhancement and provision of competitive input and output markets could be considered as policy directions to improve corn production in Indonesia.ABSTRAKDi Indonesia, jagung merupakan komoditas terpenting kedua setelah padi. Selain mempunyai banyak fungsi, jagung juga sebagai penyumbang terbesar kedua terhadap PDB sektor tanaman pangan. Namun demikian, produksi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi permintaannya secara memuaskan. Untuk mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Indonesia sejak 2009 melaksanakan SLPTT jagung. Namun demikian, keberhasilan program ini juga ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur dan dukungan pemerintah dimana program ini dikembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur dan dukungan pemerintah yang bagus mampu meningkatkan produktivitas SLPTT jagung sebesar 9,81persen dimana 5,62 persensebagai dampak langsung dan 4,19 persen sebagai dampak tidak langsung dari  infrastruktur dan dukungan pemerintah. Mereka juga mampu meningkatkan produksi jagung, dimana 52,85 persen berasal dari kontribusi produktivitas dan 42,73 persen berasal dari kontribusi lahan. Selain itu, mereka meningkatkan pendapatan petani sekitar Rp 1,5 juta, dimana masing-masing 36,79, 29,75, dan 25,42 persen berasal dari kontribusi produktivitas, lahan, dan harga jagung. Kondisi jalan dan dukungan pemerintah yang semakin baik serta penyediaan pasar input dan output yang lebih bersaing diharapkan mampu meningkatkan kinerja SLPTT jagung ke depan.
Irrigation Investment in Indonesia: Trend and Determinants Pasandaran, Effendi; Rosegrant, M. W.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v14n1.1995.1-26

Abstract

Penurunan produksi padi di Indonesia akhir-akhir ini mendorong para penentu kebijaksanaan untuk kembali membicarakan tentang sumber-sumber pertumbuhan produksi padi dan diversifikasi tanaman pada masa yang akan datang. Topik utama dalam diskusi tersebut adalah peranan irigasi. Tulisan ini mengkaji kebijaksanaan irigasi alternatif dalam konteks penyediaan dan permintaan tanaman pangan di Indonesia pada masa yang akan datang. Hasil kajian dipresentasikan dalam model perilaku investasi irigasi pemerintah di Indonesia. Skenario investasi irigasi alternatif diuji dengan proyeksi dan model kebijaksanaan, selanjutnya dibahas mengenai implikasi kebijaksanaan investasi dan manajemen irigasi
Econometric Analysis of the Impact of Domestic Rice Procurement Policy on Producer Price: The Case of Rice in Bangladesh Ashraf, Mohammad A.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v26n1.2008.80-89

Abstract

IndonesianTulisan ini mempelajari secara teoritis dan praktek dari dampak kebijakan pemerintah terhadap penetapan harga gabah pada tingkat petani di Bangladesh. Pada dasarnya, kebijakan ini berupaya mencapai produksi beras dan gandum pada level harga yang ditetapkan dalam upaya memproteksi pendapatan petani dengan menstabilkan harga-harga pangan dan menyediakan pangan untuk kelompok-kelompok konsumen tertentu baik pada kondisi normal maupun tidak. Studi ini melakukan analisis ekonometrik yang menggunakan data series sepanjang 25 tahun yang dikumpulkan dari instansi pemerintah dan swasta. Hasil empirik menunjukkan bahwa petani padi tidak memperoleh keuntungan dari kebijakan ini, bahkan dalam jangka pendek sekalipun, karena adanya kesalahan potensial dari model teoritis dan pelaksanaannya. Dampaknya, intervensi pemerintah dalam upaya menjamin ketahanan pangan di masa mendatang perlu dikaji ulang untuk menetarpkan target-target yang obyektif.EnglishThis paper investigates the theoretical and practical impacts of the government procurement policy on rice producer price in Bangladesh agriculture. The policy, basically, aims at procuring a targeted amount of rice and wheat at predetermined prices in order to protect the producers’ income by stabilizing food prices and to provide foods to specified target-groups of consumers in course of normal time as well as in emergency period. The study conducted econometric analyses with twenty five years data collected from various government and private sources. The empirical finding of the study indicates that the rice producers are unlikely benefited from this policy even in the short run because of the potential caveats in the theoretical model and in its implementation. In effect, government intervention in terms of procuring food-stuffs deserves further review in order to reach its targeted objectives.

Page 7 of 40 | Total Record : 392


Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue