cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013" : 8 Documents clear
Kajian Sifat Inovasi Komponen Teknologi untuk Menentukan Pola Diseminasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah Erythrina ,; Rita Indrasti; Agus Muharam
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT Assessment on Properties of Innovation Technology Component to Determine Dissemination Pattern of Rice Integrated Crop Management (ICM). ICM Field School is one of the strategic programs of the Ministry of Agriculture aimed at accelerating increased production of major food commodities, included rice. This study aims to determine the variability of quantitative trait ICM technology innovation and determine the pattern of technology innovation dissemination of efficient and effective on site-specific conditions based on quantitative and qualitative variability. The data was collected through interviews with 180 farmers in West Java and Central Java. The analysis revealed that six ICM components technology is quite difficult to be adopted are: (1) application of organic matter, (2) legowo crop establishment, (3) fertilization based on crop needs and soil nutrient status, (4) IPM approach to pest control, (5) intermittent irrigation, and (6) weeding with the hedgehog / gasrok. Therefore, dissemination patterns for each category can not follow a linear pattern of the conventional approach, from source technologies - extension – farmer. An understanding of the processes leading to the adoption of new technologies by small-scale farmers has been important to the planning and implementation of successful dissemination and extension programs. Key words: ICM, nature of innovation, dissemination pattern, rice ABSTRAK Sekolah Lapang Pengeloaan Tanaman Terpadu merupakan salah satu program strategis Kementerian Pertanian bertujuan mempercepat peningkatan produksi komoditas pangan utama, termasuk padi. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sifat inovasi komponen teknologi PTT padi sawah dan menentukan pola diseminasi inovasi teknologi yang efisien dan efektif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap 180 petani di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan enam komponen teknologi PTT tergolong sulit diadopsi oleh petani yaitu : (1) pemberian bahan organik, (2) sistem tanam legowo, (3) pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, (4) pengendalian OPT dengan pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT), (5) irigasi berselang, dan (6) penyiangan dengan landak/gasrok. Oleh karena itu, pola diseminasi untuk setiap kategori tidak bisa mengikuti pola pendekatan konvensional secara linear yaitu dari sumber teknologi ke penyuluh, kemudian ke petani. Pemahaman tentang proses menuju adopsi teknologi baru oleh petani skala kecil di setiap lokasi menjadi penting untuk perencanaan dan pelaksanaan diseminasi dan program penyuluhan inovasi baru spesifik lokasi. Kata kunci: PTT,  sifat inovasi, pola diseminasi, padi sawah
Uji Adaptasi Teknologi Budidaya Bawang Merah di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan Muh Asaad; Warda Halil; Nurjanani ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTApplication of Shallot Cultivation Technology in Enrekang, South Sulawesi.  Shallot is one of the important vegetable crops in South Sulawesi, but the level of productivity is still low at 6 t / ha. This is caused partly by the lack of specific location technology. The purpose of the assessment is to to get a package of shallot cultivation technology appropriate and in accordance with local conditions. Assessments conducted at  Tominawa Village, Baraka Sub-district, Enrekang District from March to December 2008, using a paired plot design, with two treatments: (1) The application of cultivation technology and (2) Cultivation of  farmer ways. The assessment indicated that the application of cultivation technology as recommended giving shallot growth better than the way farmers plant growth. In this treatment of tuber fresh weight per 10 groves of shallots, tubers and higher tuber diameter of each 937 g, 3.86 cm and 4.20 cm. Furthermore, the number of tubers per hill and tuber dry weight per 10 clusters each tuber and 810 g. 7.28 While the yield obtained on the recommendation technology is 2772 kg/ha, equivalent 0.35 7.92 t/ha. Acceptance of farmers on the application of technology recommended treatment is USD. 30,492,000  as of 0.35 ha with RC ratio of 2.45.Key words: Shallot, dry bulb, technology, cultivationABSTRAK Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran penting di Sulawesi Selatan, namun tingkat produktivitasnya masih rendah yaitu 6 t/ha. Hal ini disebabkan antara lain kurang tersedianya teknologi spesifik lokasi. Tujuan pengkajian adalah untuk mendapatkan paket teknologi budidaya tanaman bawang merah yang tepat dan sesuai dengan kondisi setempat. Pengkajian dilakukan di Kelurahan Kelurahan Tominawa, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang dari bulan Maret sampai Desember 2008, menggunakan rancangan petak berpasangan, dengan dua perlakuan yaitu (1)  Penerapan teknologi budidaya dan (2) Budidaya berdasarkan cara petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan teknologi budidaya sesuai anjuran memberikan pertumbuhan bawang merah yang lebih baik dibanding dengan pertumbuhan tanaman pada cara petani. Pada perlakuan ini berat basah umbi bawang merah per 10 rumpun, diameter umbi dan tinggi umbi masing-masing 937 g; 3,86 cm dan 4,20 cm. Selanjutnya jumlah umbi per rumpun dan berat kering umbi per 10 rumpun masing-masing 7,28 umbi dan 810 g. Sementara hasil umbi yang diperoleh pada teknologi anjuran adalah 2.772 kg per 0,35 ha atau setara 7,92 t/ha. Penerimaan petani pada perlakuan penerapan teknologi anjuran adalah Rp.30.492.000 per 0,35 ha dengan RC ratio 2,45.Kata kunci: Bawang merah, umbi kering, teknologi, budidaya
Analisis Ekonomi Sistem Tanam Padi Sawah di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara Zainal Abidin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTEconomic Analysis of Several Models Rice Planting in Konawe Regency Southeast Sulawesi. Indonesian Agency Agricultural Research and Development (IAARD) has introduced some technology to enhance rice productivity, such as direct planting system and legowo model in transplanting system. Research  was conducted to know agro economic performance of several models rice planting at Bendewuta Village Wonggeduku Subdistrict Konawe Regency, using 15 ha low land rice area by comparing three kinds of technology such as: (i) exsisting direct planting model (farmer technology), (ii) direct seeding legowo 2:1 model, and (iii) transplanting legowo 2:1 model. Each model was applied in 5 ha low land rice area at the same location. The result of research showed that the rice yield of legowo model (transplanting system and direct seeding) was higher 20.9% and 20.3% respectively than the rice yield of existing direct seeding planting model. Direct seeding legowo 2:1 model gave highest benefict, around IDR. 8,107,250/ha/season with BCR value 1.75. Changing technology from the existing direct seeding planting model to direct seeding planting legowo 2:1 model gave addition benefict around IDR.1,975,050 with MBCR value 6.96 and from transplanting legowo 2:1 model to direct seeding planting legowo 2:1 model add benefict IDR.425,100 with MBCR value 1.16. Direct seeding planting legowo 2:1 model has been adopted by farmer in several villages and was implemented around 100 ha only 1 season after this model was introduced in first season 2011. In the future, due to increasing planting cost of rice, direct seeding legowo 2:1 model could be can alternative way to decrease planting cost and to increase  rice yield.. Key words: Economic analysis, planting system, rice ABSTRAK Badan Litbang Pertanian telah mengintroduksikan berbagai teknologi untuk meningkatkan produktivitas padi, antara lain sistem tanam benih langsung (Tabela) dan cara tanam legowo. Kajian sistem tanam padi dilakukan di Desa Bendewuta, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe pada luasan 15 ha dengan membandingkan tiga teknologi, yaitu (i) tabela biasa, (ii) tabela legowo 2:1 dan (iii) tapin legowo 2:1, yang masing-masing diaplikasikan pada 5 ha lahan sawah. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penanaman dengan sistem legowo baik dengan menggunakan tapin maupun tabela memberikan produktivitas lebih tinggi masing-masing 20,9% dan 20,3% dibandingkan dengan penggunaan tabela biasa. Sistem tabela legowo 2:1 memberikan keuntungan yang tertinggi yaitu Rp. 8.107.250/ ha dengan nilai BCR sebesar 1,75. Perubahan penerapan teknologi sistem tabela biasa menjadi sistem tabela legowo 2:1 memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp.1.975.050 dengan nilai MBCR 6,96. Perubahan teknologi sistem tapin legowo 2:1 menjadi sistem tabela legowo 2:1 memberikan tambahan keuntungan sebesar Rp.425.100, dengan nilai MBCR 1,16. Penggunaan teknologi tabela legowo 2:1 telah direspon baik oleh petani di sekitar wilayah pengkajian, dimana pada MT II 2011 telah berkembang sekitar 100 ha yang menggunakan atabela model legowo 2:1. Ke depan, dengan makin meningkatnya biaya tanam, maka penanaman sistem tabela legowo 2:1 dapat menjadi salah satu alternatif bagi petani untuk mengurangi biaya tanam, dan meningkatkan produktivitas padi sawah. Kata kunci: Analisis ekonomi, cara tanam, padi sawah
Kajian Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi Padi Sawah Irigasi di Kabupaten Buru Andriko Noto Susanto; Marthen P Sirappa; Edwen D Waas
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTAssessment on Site-Specific Nutrient Management of Irrigated Rice in Buru Region. Recommended dose of package fertilize which is widely applied by administrative boundaries or district is less appropriate with principles of site-specific nutrient management (SSNM). Fertilizer recommendations should be based on soil fertility status (SFS) and plant responses to fertilization in a specific yield target. Analysis spatial data are available online with Geographic Information Systems (GIS) can be used in a rapid, inexpensive and relatively accurate to help map SFS and fertilizer recommendations. The purpose of this study was to determine the dose and N, P and K fertilizer recommendation maps for paddy on each SFS mapping unit in Waeapo Plains, Buru. Omission plot trials were conducted at 12 locations. Mapping fertilizer recommendations were made by spatial analysis using software Krigging Interpolator of ArcView GIS. The results showed that the target of sustainable rice yield ranged from 6.40 to 6.75 t paddy/ha. The need for fertilizer N, P and K on lowest SFS is 120.20 kg N/ha, 13.03 kg P/ha and 58.12 kg K/ha. While at low SFS is 136.53 kg N/ha, 13.46 kg P/ha and 58.97 kg K/ha. The areas were divided into five fertilizer recommendations based on SFS and target sustainable yield rice namely SR-I 14,830.02 ha area;  SR-II covering 4,722.42 ha; R-I covering 3,763.67 ha, R-II covering 1,022.11 ha and R-III with an area 1510.60 ha. Analysis of satellite imagery with GIS can be used to map the SFS and site-specific fertilizer recommendations in a rapid, inexpensive and accurate. Key words: SSNM, rice, GIS, Waeapo plain, Buru ABSTRAK Rekomendasi satu paket dosis pemupukan yang diterapkan secara luas berdasarkan batas administrasi kecamatan atau kabupaten kurang sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL). Rekomendasi pemupukan seharusnya didasarkan pada status kesuburan tanah (SKT) dan respon tanaman terhadap pemupukan pada suatu target hasil tertentu. Data spasial yang tersedia secara online dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan secara cepat, murah dan relatif akurat untuk membantu memetakan SKT dan rekomendasi pemupukan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan dosis dan memetakan rekomendasi pemupukan N, P dan K padi sawah pada setiap satuan peta SKT di Dataran Waeapo, Buru. Uji petak omisi dilakukan pada 12 lokasi. Pemetaan rekomendasi pemupukan dilakukan dengan analisis spasial menggunakan software Krigging Interpolator dari ArcView GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa target hasil lestari padi sawah berkisar antara 6,40 – 6,75 t GKG/ha. Kebutuhan pupuk N, P dan K pada SKT sangat rendah adalah 120,20 kg N/ha, 13,03 kg P/ha dan 58,12 kg K/ha. Sedangkan pada SKT rendah adalah 136,53 kg N/ha, 13,46 kg P/ha dan 58,97 kg K/ha. Wilayah rekomendasi pemupukan dibagi menjadi 5 berdasarkan SKT dan target hasil lestari padi sawah yaitu SR I seluas 14.830,02 ha; SR II seluas 4.722,42 ha; R-I seluas 3.763,67 ha, R-II seluas 1.022,11 ha dan R-III dengan luas 1.510,60 ha. Analisis citra satelit dengan SIG dapat digunakan untuk memetakan SKT dan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi secara cepat, murah dan akurat. Kata kunci: PHSL, padi sawah, SIG, dataran Waeapo, Buru
Analisis Kebutuhan Pangan Mendukung Percepatan Diversifikasi Pangan di Nusa Tenggara Timur dan Maluku Maesti Mardiharini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

Assessment on Properties of Innovation Technology Component to Determine Dissemination Patter in East Nusa Tenggara and Maluku. To support the development of  food diversification in Indonesia need an integrated effort  from different stakeholder,  include technology availability from Indonesia agency for Agriculture Research and Development (IAARD). The objective of  this study was : (1) to identify the prerequisite in the effort  of accelerate  food diversification aplication, (2) to analyze  the government policies, especially in local contect, that  supported food diversification program, and (3) to formule the strategy in technology development, especially by the Institute for Agricultural TechnologyAssessment (BPTP), in the progress of accelerated food diversification aplication. The Study conducted in the province of East Nusa Tenggara and Maluku . Data collection was through Participatory Rural Appraisal ( PRA ) approach. The main result of the study showed, adequate alternative food was available , but the process and storage technologies have not been optimally supported. The development of alternate food is availaable and need supporting system in technology dissemination and social engineering. In the development process still lack of synergi between  the  traditional  institutions with institutional that  formulate by  the government. Need a special study of the role of the church (in the case of NTT) and traditional institutions (in the case of Maluku) in the efforts of accelerate the aplication of  food  diversification and government role in institution development.  In the local contect, there is no policy support in the form of Regulation that directly support the development of food diversification  aplication. IAAT through their assessment result need to advocate the urgency of local government support in food diversification aplication  through regulation. In the future needs a special study of the diversification requirements , namely : the availability and distribution of food , availability of technology , and social culture. AIAT also need to make specific recommendations to the local government in implementing the regulation and  Ministry of agriculture regulation in relation with food diversification. Based on these study results, the role of IAAT in  diversification development not only in the internalization of diversification of food consumption, but also in business  and local food industry development.M Field School is one of the strategic programs of the Ministry of  Key words: Agricultural innovation, diversification, status and acceleration ABSTRAK Upaya diversifikasi pangan perlu lebih serius dan terintegrasi melibatkan semua pihak terkait, termasuk peran Badan Litbang Pertanian yang terkait dengan penyiapan inovasi pertaniannya. Tujuan kajian ini adalah: (1) mengidentifikasi status prasyarat percepatan diversifikasi pangan; (2) menganalisis kebijakan pemerintah (daerah) mendukung program diversifikasi pangan; dan (3) merumuskan strategi pengembangan inovasi pertanian, terutama oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) ke depan dalam mendukung percepatan diversifikasi pangan. Lokasi kajian di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Maluku, melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). Hasil kajian antara lain menunjukkan bahwa pangan alternatif tersedia secara memadai, namun teknologi pengolahan dan penyimpanan belum mendukung secara optimal, murah, mudah dan cepat. Pengembangan pangan alternatif cukup potensial dan kondusif, namun dibutuhkan percepatan diseminasi dan rekayasa sosial. Belum ada sinergi antara kelembagaan bentukan masyarakat dengan kelembagaan bentukan pemerintah. Perlu kajian khusus terhadap peran gereja (kasus di NTT) dan lembaga adat (kasus di Maluku) dalam mendukung upaya percepatan diversifikasi dan kaitannya dengan berbagai lembaga bentukan dari atas. Sejauh ini, belum ditemukan adanya dukungan kebijakan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) khusus tentang pengembangan diversifikasi pangan di kedua wilayah yang diamati. BPTP di wilayah terkait diharapkan dapat melakukan advokasi, dengan dukungan hasil pengkajian tentang perlunya PERDA mendukung diversifikasi pangan. Perlu ada kajian khusus tentang prasyarat diversifikasi pangan, yaitu: ketersediaan dan distribusi pangan, ketersediaan teknologi; dan sosial budaya masyarakat. BPTP juga perlu membuat rekomendasi spesifik lokasi kepada PEMDA dalam menerapkan Perpres dan Permentan. Berdasarkan hasil kajian tersebut, maka fungsi dan peran Badan Litbang Pertanian di daerah (melalui BPTP), tidak saja dalam internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan, tetapi juga dalam pengembangan bisnis dan industri pangan lokal. Kata kunci: Inovasi pertanian, diversifikasi pangan, status dan percepatan
Kajian Cara Tanam Padi di Lahan Sawah Irigasi Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi Jumakir ,; Julistia Bobihoe
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

 ABSTRACT The Assessment of  Rice Planting Methods in Irrigated Land in Tanjung Jabung Barat Districts, Jambi Province. One of the problems of irrigated  rice farmers  in the Jambi Province is a late planting, because labor is limited due to the absorption in the private oil palm plantations. There  is the necessary to find the planting system which  not require a lot of labor. The purpose of this study was to compare the way of planting rice that is  transplanting system, direct seeding drill method (tiles seeded) and direct seeding spread method (spread seeded) on the productivity of rice and income of  farmers' in Sri Agung Village, West Tanjung Jabung District, Jambi Province. The assessment was conducted in the irrigated land on the dry season in 2010. The research design  was a randomized block design (RBD) with three treatments and four replications and each replication consisted of 0.25 ha. The result showed that the rice yield  of transplanting system (7.2 t/ha) did not  significantly  difference  compared to  the tiles seeded (6.9 t/ha), however there was difference compared to the spread seeded  (5.4 t/ha). The results of the economic analysis showed that the farm income of transplanting system was  Rp 9.193.000/ha, while the ways seeded tiles was Rp 9.004.000/ha. It could be concluded that the prospect of wet seeded tiles have to be developed in the areas of labor shortage. Key words: Rice, irrigated land and planting system ABSTRAK Salah satu masalah petani padi di lahan sawah irigasi di Provinsi Jambi adalah terlambat tanam, karena tenaga kerja terbatas akibat terserap di kebun kelapa sawit swasta. Untuk itu perlu dicari upaya cara tanam yang tidak membutuhkan tenaga kerja banyak. Tujuan kajian ini adalah untuk membandingkan cara tanam padi sistem tanam pindah (tapin), tanam benih langsung cara tugal (tabela tegel) dan tanam benih langsung cara sebar (tabela sebar) terhadap produktivitas padi dan pendapatan petani desa Sri Agung Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Pengkajian ini dilaksanakan di lahan sawah irigasi pada musim kemarau (MK) 2010. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuannya adalah tanam pindah (tapin), tanam benih langsung (tabela) tegel dan tanam benih langsung (tabela) sebar. Pengkajian dilaksanakan di lahan petani seluas tiga ha dengan melibatkan empat  petani sebagai ulangan dan setiap petani melaksanakan tiga perlakuan dengan luas setiap perlakuan 0,25 ha. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa hasil gabah kering panen (GKP) padi cara tapin (7,2 t/ha) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan cara tabela tegel (6,9 t/ha), namun ada perbedaan dengan cara tabela sebar (5,4 t/ha). Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa pendapatan usahatani cara tapin sebesar Rp 9.193.000/ha, sedangkan cara tabela tegel sebesar Rp 9.004.000/ha. Dapat disimpulkan bahwa sistem tabela tegel memiliki prospek untuk dikembangkan di wilayah yang kekurangan tenaga kerja. Kata kunci: Padi, sawah irigasi dan cara tanam 
Penghematan Biaya Produksi Melalui Pembatasan Pakan pada Ayam Broiler Dini Hardini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT Economic Efficiency of Broiler Farming by Feed Restriction. The study was aimed to evaluate and determine the effect of feed restriction with skip day feeding on broiler performances and IOFC (income over feed cost) value. The study was conducted at in poultry unit of The Assessment Institute for Agriculture Technology (AIAT) East Java at Karangploso, Malang. One hundred sixty unsexed day old broiler chick was reared in litter cage and fed by commercial feed.  In the first two weeks of rearing period, the feed was given ad-lib, there after, they were devided into four groups, control (T0), feed restricted since on day 14 (A), feed restricted since on day 21 (B), and feed restricted since on day 28 (C) with four replications and 10 chicks per replication. The variables measured were body weight gain, feed consumption, feed conversion, carcass percentage, and income over feed costs (IOFC) value. The result showed that the body weight, total feed consumption, and carcass percentage were not affected by feed restriction. The day skip feeding on day 21 (treatment B) was the best result comparing to the other treatment, with better body gain, feed conversion, % carcass, and IOFC values : 2,057 g, 1.58, 69.57%, and Rp. 6,366/chick, respectively. The day skip feeding restriction could be done since on the third week (day-21) without affected to performance and health of the chicks. Key words: Feed restriction, feed cost, and broiler ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui pengaruh pembatasan pakan melalui pemuasaan selama 24 jam berselang sehari pada ayam mulai umur 14, 21 dan 28 hari terhadap performans dan nilai IOFC (income over feed cost). Penelitian ini dilaksanakan bulan Maret-April 2012, pada unit kandang unggas, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur di Karangploso Malang. Sebanyak 160 ekor Day old Chick (DOC) MB 202 tanpa membedakan jenis kelamin yang dipelihara pada petak kandang litter dengan pakan komersial standar. Pada 2 minggu, semua DOC diberi pakan secara ad libitum. Setelah itu ayam dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu : kontrol (T0), dipuasakan pakan mulai umur 14 hari (A), dipuasakan pakan mulai umur 21 hari (B), dan dipuasakan pakan mulai umur 28 hari (C). Setiap perlakuan mempunyai empat ulangan dan masing terdiri dari 10 ekor. Variabel yang diukur adalah bobot badan, konsumsi pakan harian, konversi pakan, persentase karkas dan pada akhir periode penelitian (35 hari). Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai keuntungan diatas biaya pakan (income over feed cost =IOFC). Data ditabulasi dan dianalisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatasan pakan pada broiler tidak berpengaruh terhadap performans, sehingga bobot badan, konsumsi pakan total, dan %karkas tidak berbeda antar perlakuan dan nilai IOFC yang lebih tinggi. Pembatasan pakan pada umur tiga minggu memberikan hasil pertambahan bobot badan, konversi pakan (FC, feed convertion), % karkas, dan nilai IOFC yang paling tinggi yaitu masing-masing sebesar 2.057 g, 1,58, 69,57%, dan Rp. 6.366/ekor. Pembatasan pakan sebaiknya dilakukan mulai umur 3 minggu (hari ke-21) tanpa mempengaruhi performan dan kesehatan ternak.Kata kunci: Pembatasan pakan, biaya pakan dan broiler
Efek Jenis Kemasan terhadap Kualitas Gabah dan Beras Varietas Cigeulis Wanti Dewayani; Arafah ;; Nasruddin Razak; Andi Darmawidah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n1.2013.p%p

Abstract

ABSTRACT An Assessment on Packaging Types Effect toward Unhulled Rice and Rice Quality of Cigeulis Variety. Rough rice and rice production all this time encounter problems due to deterioration inadequate storage.  The objective of research was to asses packaging effect on rough rice and rice quality var. Cigeulis during storage period. The assesment was done from June 2006 to December 2007 in Batang ase, Maros, South Sulawesi. The research employed Randomized Blok Design factorial pattern with 10 farmers as replication. Each farmer has 10 hermetic bags and 10 prophylene bags and it stored until 12 months. Every 3 month, the rough rice  was milled for quality analysis. The research results indicated that hermetic storage could be blocked of moisture content (10.76%), to high of head rice (84%), decreased broken rice (24.45%), rough rice damage (1.67%) and pest (2.4%). Rice cooked of hermetic was better than that of plastic bag packages in term of texture, taste, colour and flavor.  In addition, rice viability was effected by packaging i.e.  99% in hermetic bag at 9 and 12 months and 11% in prophylene bag at 9 months and 0% in prophylene bag at 12 months). Key words: Hermetic, packing, quality, rice cv. Cigeulis, rough rice, rendement ABSTRAK Produksi gabah dan beras selama ini menghadapi masalah penurunan mutu akibat penyimpanan yang kurang memadai. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk  mengkaji efek jenis kemasan terhadap kualitas gabah dan beras varietas Cigeulis selama penyimpanan.  Penelitian dilakukan di Batang Ase, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang dimulai pada bulan Juni 2006 hingga Desember 2007. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial dengan faktor pertama adalah kemasan (kemasan karung plastik dan  kemasan hermetik) dan faktor kedua adalah lama simpan (0,3,6,9 dan 12 bulan). Percobaan dilakukan terhadap 10 petani sebagai ulangan yang masing-masing 10 karung gabah yang dikemas hermetik dan 10 karung gabah yang dikemas karung plastik. Tiap karung diisi 50 kg gabah yang disimpan di gudang milik masing-masing petani hingga 12 bulan. Tiap 3 bulan gabahnya digiling untuk mendapatkan beras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kemasan hermetik dapat menghambat kenaikan kadar air gabah varietas Cigeulis selama dalam penyimpanan (10,76%), mempertahankan persentase beras kepala (84%), menekan butir patah (24,45%), kerusakan gabah (1,67%) dan tingkat hama rendah (2,4%) saat penyimpanan 12 bulan. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa nasi dari gabah kemasan hermetik tetap baik dan enak dari awal penyimpanan hingga 12 bulan penyimpanan baik kelekatan, rasa, warna, kepulenan dan aroma, sedangkan nasi dari gabah kemasan karung plastik mengalami  perubahan yaitu nasi makin kurang melekat, warna  putih kusam dan aroma berkurang.  Daya tumbuh gabah memperlihatkan perbedaan yang nyata antara yang disimpan dengan kemasan hermetik (99% penyimpanan 9 dan 12 bulan) dan kemasan karung plastik (11% penyimpanan 9 bulan dan 0% pada penyimpanan 12 bulan). Kata kunci: Hermetik, kemasan, kualitas, beras Cigeulis, gabah, rendemen

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue