cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 32, No 3 (2013): September 2013" : 10 Documents clear
NILAI INDEKS GLIKEMIK PRODUK PANGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA Arif, Abdullah bin; Budiyanto, Agus; ., Hoerudin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat telahberdampak terhadap peningkatan penyakit degeneratif, seperti diabetesmelitus (DM) dan hipertensi. DM ditandai dengan kadar glukosadarah melebihi nilai normal dan gangguan metabolisme insulin. Indeksglikemik (IG) merupakan suatu ukuran untuk mengklasifikasikanpangan berdasarkan pengaruh fisiologisnya terhadap kadar glukosadarah. Nilai IG produk pangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antaralain kadar serat pangan, kadar amilosa dan amilopektin, kadar lemakdan protein, daya cerna pati, dan cara pengolahan. Semakin tinggi nilai/kadar serat pangan total, rasio amilosa/amilopektin, serta lemak danprotein, maka nilai IG semakin rendah. Sementara itu, daya cerna patiyang tinggi menyebabkan nilai IG yang tinggi. Cara pengolahan produkpangan dapat menurunkan atau menaikkan nilai IG produk pangantersebut. Pemahaman terhadap nilai IG bahan pangan sangat pentingkarena dapat menjadi landasan ilmiah dalam memilih jenis, bentukasupan, dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi sesuai responsglikemik seseorang.
TUMBUHAN KIRINYU Chromolaena odorata (L) (ASTERACEAE: ASTERALES) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK Spodoptera litura Thamrin, M.; Asikin, S.; Willis, M.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kirinyu (Chromolaena odorata) adalah gulma berbentuk semakberkayu yang dapat berkembang cepat sehingga sulit dikendalikan.Tumbuhan ini merupakan gulma padang rumput yang sangatmerugikan karena dapat mengurangi daya tampung padangpenggembalaan. Selain sebagai pesaing agresif, kirinyu didugamemiliki efek allelopati serta menyebabkan keracunan bahkankematian pada ternak. Hasil penelitian menunjukkan gulma inidapat menjadi insektisida nabati karena mengandung pryrrolizidinealkaloids yang bersifat racun terhadap serangga. Makalah inimenguraikan potensi tumbuhan kirinyu sebagai insektisida nabatiuntuk mengendalikan ulat grayak. Ulat grayak adalah hama yangsulit dikendalikan karena perkembangbiakannya cepat sertamempunyai kisaran inang yang luas, yaitu hampir semua jenistanaman pangan dan hortikultura. Hama ini biasanya dikendalikandengan insektisida sintetis dengan dosis melebihi dari yangditentukan sehingga menyebabkan resistensi dan resurgensi. Olehkarena itu, perlu dicari pengganti insektisida sintetis agarpenggunaannya dapat dikurangi dengan menggunakan insektisidanabati. Ekstrak daun kirinyu efektif mengendalikan ulat grayakdengan mortalitas 80100% serta menekan tingkat kerusakan daunkedelai hingga 55,2%. Racun yang terkandung di dalam ekstrakkirinyu bersifat racun perut. Oleh karena itu, gulma ini perludikembangkan pemanfaatannya sebagai bahan insektisida nabatiagar bernilai ekonomis.
PEMANFAATAN KERAGAMAN GENETIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS ITIK ALABIO ., Suryana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Itik alabio (Anas platyrhynchos Borneo) merupakan salah satuunggas lokal Kalimantan Selatan yang mempunyai keunggulansebagai penghasil telur. Itik alabio memiliki ciri fenotipik yangberbeda dan performa yang beragam dibanding itik lokal lain diIndonesia. Namun, di antara itik-itik lokal tersebut terdapat itikyang lebih unggul karena secara genetik memiliki daya adaptasiterhadap lingkungan setempat. Itik alabio memiliki keragamanyang tinggi, baik sifat kualitatif (warna bulu, paruh, kaki, dan cakar,serta bentuk tubuh), maupun sifat kuantitatif seperti bobot badandewasa, lama produksi telur, umur pertama bertelur, puncakproduksi, daya tunas, daya tetas, dan bobot tetas. Keragaman yangtinggi tersebut merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan dalamprogram pemuliaan. Meskipun belum sepenuhnya dimanfaatkandalam peningkatan produktivitas, dengan pengalaman dan kearifanlokal yang dimiliki, peternak telah memanfaatkan keragamankriteria tampilan luar itik, seperti keseragaman warna bulu, paruh,besar badan, kuku, kaki, dan gigi untuk menyeleksi itik alabio jantanunggul dan itik alabio betina penghasil telur yang produktif. Sifatunggul ini diharapkan dapat diwariskan pada keturunannya.
TEKNOLOGI KONSERVASI TANAH DAN AIR UNTUK MENCEGAH DEGRADASI LAHAN PERTANIAN BERLERENG Sutrisno, Nono; Heryani, Nani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Degradasi atau penurunan kualitas lahan merupakan isu globalutama pada abad ke-20 dan masih menjadi isu penting dalam agendainternasional pada abad ke-21. Erosi tanah, kelangkaan air, energi,dan keanekaragaman hayati menjadi permasalahan lingkunganglobal sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Erosi tanahmenyebabkan degradasi lahan karena dapat menurunkan kualitastanah serta produktivitas alami lahan pertanian dan ekosistemhutan. Di Indonesia, laju erosi tanah pada lahan pertanian denganlereng 330% tergolong tinggi, berkisar antara 60625 t/ha/tahun,padahal banyak lahan pertanian yang berlereng lebih dari 15%,bahkan lebih dari 100% sehingga erosi tanah tergolong sangat tinggi.Konservasi tanah dan air mengarah kepada terciptanya sistempertanian berkelanjutan yang didukung oleh teknologi dan kelembagaanserta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat danmelestarikan sumber daya lahan serta lingkungan. Upaya untukmengurangi degradasi lahan dapat dilakukan melalui: 1) penerapanpola usaha tani konservasi seperti agroforestri, tumpang sari, danpertanian terpadu, 2) penerapan pola pertanian organik ramahlingkungan, dan 3) peningkatan peran serta kelembagaan petani.
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENCAPAI SWASEMBADA DAGING SAPI/KERBAU 2014 Matondang, Rasali H.; Rusdiana, S.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Swasembada daging sapi 2014 dapat diwujudkan dengan menetapkankawasan perbibitan sapi nasional, yang meliputi perbibitan danpemuliabiakan sapi melalui program pemurnian sapi lokal danpengembangan bangsa sapi komersial (bakalan), serta pengembangankawasan industri terpadu sapi potong dan wilayah barupeternakan di pulau-pulau kecil. Ketersediaan pakan merupakanaspek krusial dalam budi daya ternak. Untuk menjamin ketahananpakan nasional, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1)pemberlakuan tarif ekspor bahan baku pakan, 2) pembentukaninstitusi penyangga bahan baku pakan, 3) pengembangan sistemkerja sama produksi pakan antarwilayah bagi wilayah padat ternaktetapi tidak memiliki lahan untuk sumber pakan dan sebaliknya, 4)pengembangan zona produksi hijauan pakan di pedesaan dankesehatan hewan, 5) pemetaan dan revitalisasi padang penggembalaandi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan SulawesiSelatan serta wilayah bukaan baru, 6) pengembangan sistem mekanisasipakan, 7) subsidi harga bahan baku pakan, 8) strukturisasi tataniaga bahan baku pakan, dan 9) pengembangan sistem informasipakan nasional. Kelembagaan sangat memengaruhi keberhasilanswasembada daging sapi sehingga koordinasi antarsektor, antardaerah,dan antarpemangku kepentingan yang didukung denganperaturan perundangan sangat diperlukan untuk mendukung upayapeningkatan populasi sapi nasional. Penganekaragaman sumberpangan daging yang proses produksinya memerlukan waktu lebihpendek diharapkan dapat menekan laju pemotongan sapi.
TUMBUHAN KIRINYU Chromolaena odorata (L) (ASTERACEAE: ASTERALES) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK Spodoptera litura M. Thamrin; S. Asikin; M. Willis
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p112-121

Abstract

Kirinyu (Chromolaena odorata) adalah gulma berbentuk semakberkayu yang dapat berkembang cepat sehingga sulit dikendalikan.Tumbuhan ini merupakan gulma padang rumput yang sangatmerugikan karena dapat mengurangi daya tampung padangpenggembalaan. Selain sebagai pesaing agresif, kirinyu didugamemiliki efek allelopati serta menyebabkan keracunan bahkankematian pada ternak. Hasil penelitian menunjukkan gulma inidapat menjadi insektisida nabati karena mengandung pryrrolizidinealkaloids yang bersifat racun terhadap serangga. Makalah inimenguraikan potensi tumbuhan kirinyu sebagai insektisida nabatiuntuk mengendalikan ulat grayak. Ulat grayak adalah hama yangsulit dikendalikan karena perkembangbiakannya cepat sertamempunyai kisaran inang yang luas, yaitu hampir semua jenistanaman pangan dan hortikultura. Hama ini biasanya dikendalikandengan insektisida sintetis dengan dosis melebihi dari yangditentukan sehingga menyebabkan resistensi dan resurgensi. Olehkarena itu, perlu dicari pengganti insektisida sintetis agarpenggunaannya dapat dikurangi dengan menggunakan insektisidanabati. Ekstrak daun kirinyu efektif mengendalikan ulat grayakdengan mortalitas 80100% serta menekan tingkat kerusakan daunkedelai hingga 55,2%. Racun yang terkandung di dalam ekstrakkirinyu bersifat racun perut. Oleh karena itu, gulma ini perludikembangkan pemanfaatannya sebagai bahan insektisida nabatiagar bernilai ekonomis.
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENCAPAI SWASEMBADA DAGING SAPI/KERBAU 2014 Matondang, Rasali H.; Rusdiana, S.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p131-139

Abstract

Swasembada daging sapi 2014 dapat diwujudkan dengan menetapkankawasan perbibitan sapi nasional, yang meliputi perbibitan danpemuliabiakan sapi melalui program pemurnian sapi lokal danpengembangan bangsa sapi komersial (bakalan), serta pengembangankawasan industri terpadu sapi potong dan wilayah barupeternakan di pulau-pulau kecil. Ketersediaan pakan merupakanaspek krusial dalam budi daya ternak. Untuk menjamin ketahananpakan nasional, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1)pemberlakuan tarif ekspor bahan baku pakan, 2) pembentukaninstitusi penyangga bahan baku pakan, 3) pengembangan sistemkerja sama produksi pakan antarwilayah bagi wilayah padat ternaktetapi tidak memiliki lahan untuk sumber pakan dan sebaliknya, 4)pengembangan zona produksi hijauan pakan di pedesaan dankesehatan hewan, 5) pemetaan dan revitalisasi padang penggembalaandi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan SulawesiSelatan serta wilayah bukaan baru, 6) pengembangan sistem mekanisasipakan, 7) subsidi harga bahan baku pakan, 8) strukturisasi tataniaga bahan baku pakan, dan 9) pengembangan sistem informasipakan nasional. Kelembagaan sangat memengaruhi keberhasilanswasembada daging sapi sehingga koordinasi antarsektor, antardaerah,dan antarpemangku kepentingan yang didukung denganperaturan perundangan sangat diperlukan untuk mendukung upayapeningkatan populasi sapi nasional. Penganekaragaman sumberpangan daging yang proses produksinya memerlukan waktu lebihpendek diharapkan dapat menekan laju pemotongan sapi.
NILAI INDEKS GLIKEMIK PRODUK PANGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA Arif, Abdullah bin; Budiyanto, Agus; ., Hoerudin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p91-99

Abstract

Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat telahberdampak terhadap peningkatan penyakit degeneratif, seperti diabetesmelitus (DM) dan hipertensi. DM ditandai dengan kadar glukosadarah melebihi nilai normal dan gangguan metabolisme insulin. Indeksglikemik (IG) merupakan suatu ukuran untuk mengklasifikasikanpangan berdasarkan pengaruh fisiologisnya terhadap kadar glukosadarah. Nilai IG produk pangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antaralain kadar serat pangan, kadar amilosa dan amilopektin, kadar lemakdan protein, daya cerna pati, dan cara pengolahan. Semakin tinggi nilai/kadar serat pangan total, rasio amilosa/amilopektin, serta lemak danprotein, maka nilai IG semakin rendah. Sementara itu, daya cerna patiyang tinggi menyebabkan nilai IG yang tinggi. Cara pengolahan produkpangan dapat menurunkan atau menaikkan nilai IG produk pangantersebut. Pemahaman terhadap nilai IG bahan pangan sangat pentingkarena dapat menjadi landasan ilmiah dalam memilih jenis, bentukasupan, dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi sesuai responsglikemik seseorang.
PEMANFAATAN KERAGAMAN GENETIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS ITIK ALABIO Suryana .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p100-111

Abstract

Itik alabio (Anas platyrhynchos Borneo) merupakan salah satuunggas lokal Kalimantan Selatan yang mempunyai keunggulansebagai penghasil telur. Itik alabio memiliki ciri fenotipik yangberbeda dan performa yang beragam dibanding itik lokal lain diIndonesia. Namun, di antara itik-itik lokal tersebut terdapat itikyang lebih unggul karena secara genetik memiliki daya adaptasiterhadap lingkungan setempat. Itik alabio memiliki keragamanyang tinggi, baik sifat kualitatif (warna bulu, paruh, kaki, dan cakar,serta bentuk tubuh), maupun sifat kuantitatif seperti bobot badandewasa, lama produksi telur, umur pertama bertelur, puncakproduksi, daya tunas, daya tetas, dan bobot tetas. Keragaman yangtinggi tersebut merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan dalamprogram pemuliaan. Meskipun belum sepenuhnya dimanfaatkandalam peningkatan produktivitas, dengan pengalaman dan kearifanlokal yang dimiliki, peternak telah memanfaatkan keragamankriteria tampilan luar itik, seperti keseragaman warna bulu, paruh,besar badan, kuku, kaki, dan gigi untuk menyeleksi itik alabio jantanunggul dan itik alabio betina penghasil telur yang produktif. Sifatunggul ini diharapkan dapat diwariskan pada keturunannya.
TEKNOLOGI KONSERVASI TANAH DAN AIR UNTUK MENCEGAH DEGRADASI LAHAN PERTANIAN BERLERENG Nono Sutrisno; Nani Heryani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n3.2013.p122-130

Abstract

Degradasi atau penurunan kualitas lahan merupakan isu globalutama pada abad ke-20 dan masih menjadi isu penting dalam agendainternasional pada abad ke-21. Erosi tanah, kelangkaan air, energi,dan keanekaragaman hayati menjadi permasalahan lingkunganglobal sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Erosi tanahmenyebabkan degradasi lahan karena dapat menurunkan kualitastanah serta produktivitas alami lahan pertanian dan ekosistemhutan. Di Indonesia, laju erosi tanah pada lahan pertanian denganlereng 330% tergolong tinggi, berkisar antara 60625 t/ha/tahun,padahal banyak lahan pertanian yang berlereng lebih dari 15%,bahkan lebih dari 100% sehingga erosi tanah tergolong sangat tinggi.Konservasi tanah dan air mengarah kepada terciptanya sistempertanian berkelanjutan yang didukung oleh teknologi dan kelembagaanserta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat danmelestarikan sumber daya lahan serta lingkungan. Upaya untukmengurangi degradasi lahan dapat dilakukan melalui: 1) penerapanpola usaha tani konservasi seperti agroforestri, tumpang sari, danpertanian terpadu, 2) penerapan pola pertanian organik ramahlingkungan, dan 3) peningkatan peran serta kelembagaan petani.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue