cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 3 (2015): September 2015" : 5 Documents clear
SAPI KATINGAN SAPI LOKAL KALIMANTAN TENGAH DAN UPAYA PELESTARIANNYA Bambang Ngaji Utomo
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n3.2015.p135-145

Abstract

Sapi Katingan merupakan sapi lokal Kalimantan Tengah yangdipelihara oleh masyarakat Dayak. Ciri umum sapi katingan ialahbergelambir, berpunuk, bertanduk, dan mempunyai warna bulu yangbervariasi. Penciri utama dapat dilihat pada sapi betina, yaknimemiliki enam variasi pertumbuhan tanduk, namun yang dominanialah melengkung ke depan (78,4%). Pada sapi jantan, tanduk padaumumnya tumbuh normal ke samping atas (98,3%). Sapi betina jugamemiliki tonjolan di antara tanduk (92,6%). Ada sembilankombinasi warna pada sapi betina, namun yang dominan ialahcokelat kemerahan (27%). Sapi jantan memiliki delapan kombinasiwarna dan yang dominan adalah cokelat keputihan (14,8%). Sapikatingan memiliki ukuran tubuh lebih besar dibanding sapi pesisirdan sapi aceh, namun lebih kecil daripada sapi bali dan sapi madura.Sapi lokal Kalimantan Tengah mempunyai keragaman genetik yangtinggi dan berada satu klaster dengan sapi PO. Untuk meningkatkanpopulasi, produktivitas, dan reproduksi sapi lokal KalimantanTengah perlu dilakukan perbaikan mutu genetik melalui seleksi danpeningkatan kualitas pakan. Upaya pelestarian dilakukan melaluipenetapan wilayah konservasi yakni Desa Buntut Bali. Penetapanrumpun juga diperlukan agar sapi lokal Kalimantan Tengah mendapatperhatian yang lebih baik pada level daerah maupun nasional.
MITIGASI EMISI GAS METANA MELALUI PENGELOLAAN LAHAN SAWAH A. Wihardjaka
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n3.2015.p95-104

Abstract

Metana (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca dengan indekspotensi pemanasan global 21 kali molekul karbon dioksida (CO2).Salah satu sumber emisi metana di sektor pertanian adalah lahansawah. Lahan sawah Indonesia yang luasnya sekitar 8,08 juta hadiduga memberi kontribusi sekitar 1% dari total global metana.Emisi metana dari lahan sawah ditentukan oleh beberapa faktor,antara lain tipe tanah, pengelolaan air irigasi, suhu tanah, varietastanaman, pemupukan, dan musim tanam. Strategi penurunan emisimetana dari lahan sawah dilakukan melalui pengelolaan lahandengan mengintegrasikan beberapa komponen teknologi, meliputipenggunaan varietas unggul rendah emisi, pemberian pupuk organikmatang (pupuk kandang dan kompos), pemupukan nitrogen yangmengandung sulfur (ZA) atau pupuk lambat urai, sistem irigasiberselang/terputus, dan sistem tanpa olah tanah atau olah tanahkonservasi. Varietas padi dengan emisi metana rendah adalahCiherang, Cisantana, Tukad Balian, Memberamo, Inpari 1,Dodokan, Way Apoburu, dan IR64, sedangkan varietas dengan emisimetana tinggi antara lain Cisadane, IR72, dan Ciliwung. Caramitigasi yang dipilih hendaknya tidak mengorbankan aspekproduksi beras dan diupayakan bersifat spesifik lokasi. Selain itu,prioritas upaya mitigasi perlu diarahkan pada ekosistem sawah yangmemiliki potensi emisi metana tinggi, yaitu lahan sawah beririgasi.Strategi penurunan emisi metana dari lahan sawah dilakukan denganmengombinasikan komponen teknologi rendah emisi dalam budidaya tanaman padi tanpa menurunkan hasil gabah.
MANAJEMEN PEMUPUKAN NITROGEN PADA TANAMAN JAGUNG Syafruddin, Syafruddin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas jagung ialahdengan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.Umumnya lahan pengembangan jagung di Indonesia defisiensi haraN sehingga diperlukan tambahan N melalui pemupukan. Manajemenpemupukan N dilakukan dengan memadukan takaran, waktu dancara pemberian sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.Takaran pupuk N untuk tanaman jagung hibrida dengan peluanghasil 9–13 t/ha adalah 160–260 kg N/ha untuk tanah dengan kadarC-organik rendah, 133–233 kg N/ha untuk tanah dengan kandunganC-organik sedang, dan 105–205 kg N/ha untuk tanah dengan kadarC-organik tinggi. Pupuk diberikan secara bertahap, yaitu setengahatau sepertiga dari takaran rekomendasi pada awal tanam (< 10 HST)dan sisanya pada 31–52 HST dengan dibenamkan di dalam tanah.Penggunaan pupuk N perlu mempertimbangkan faktor pembatashara lainnya, terutama P dan K. Oleh karena itu, kecukupan dankeseimbangan pemupukan N, P, dan K sangat penting dalammeningkatkan efisiensi pupuk N. Apabila menggunakan pupuk Norganikatau rotasi tanaman jagung dengan kacang-kacangan,penentuan takaran pupuk N-anorganik perlu mempertimbangkanN dari pupuk organik atau rotasi tanaman. Pemupukan N dapatmenyebabkan pencemaran udara akibat penguapan NH3, N2O, danNO serta pencemaran air tanah akibat pencucian NO3. Untukmengurangi dampak negatif tersebut, diperlukan manajemenpemupukan N yang komprehensif dan pemberian insentif bagipetani yang menggunakan pupuk N-organik, melakukan rotasijagung dengan tanaman kacang-kacangan, atau tumpang sari jagungdengan kacang-kacangan.
POTENSI DAN PROSPEK DAUN ENCOK (Plumbago zeylanica L.) SEBAGAI BAHAN AKTIF PESTISIDA NABATI Rohimatun Rohimatun; Wiratno Wiratno
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n3.2015.p117-124

Abstract

Daun encok (Plumbago zeylanica L.) merupakan tanaman obatyang juga dapat digunakan sebagai bahan aktif pestisida nabati.Plumbagin merupakan salah satu senyawa sekunder penting yangterkandung dalam tanaman ini dan dapat digunakan sebagai bahanaktif insektisida (Brontispa longgissima), akarisida (Amblyommavariegatum), leismanisida (Tripanosoma protozoa dan Leishmaniadonovani), nematisida (Aphelenchoides besseyi dan Meloidogyneincognita), fungisida (Aspergillus sp. dan Fusarium sp.), danbakterisida (Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus spp.,Salmonella dan lainnya). Keefektifan senyawa sekunder daun encoksebagai bahan aktif pestisida nabati belum dipahami secara lengkapsehingga perlu diteliti agar dapat menjadi acuan bagi peneliti danpetani pengguna. Pemanfaatan daun encok sebagai bahan bakupestisida nabati diharapkan dapat menekan penggunaan pestisidakimia sintetis yang cenderung berlebihan sekaligus menciptakankeseimbangan ekologi secara berkelanjutan. Tanaman daun encokdapat diperbanyak dengan menggunakan setek dan kultur jaringan.Pemanfaatan bahan nabati, khususnya daun encok, sebagai pestisidanabati akan mengurangi ketergantungan petani pada bahan kimiasintetis sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berdayasaing, ramah lingkungan, dan aman bagi kesehatan.
PELUANG PENGEMBANGAN BIOGAS DI SENTRA SAPI PERAH Meksy Dianawati; Siti Lia Mulijanti
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n3.2015.p125-134

Abstract

Kotoran sapi perah yang tidak diolah dengan benar dapatmencemari lingkungan serta memengaruhi produksi dan kualitassusu. Limbah peternakan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumberenergi alternatif untuk mensubstitusi kebutuhan energi fosil yangsemakin meningkat dan ketersediaannya makin terbatas. Biogasmerupakan sumber energi terbarukan yang dihasilkan dari prosespengolahan limbah pertanian maupun peternakan. Makalah inimengulas alternatif pemanfaatan kotoran sapi perah sebagai biogas.Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas memberikan banyakmanfaat, yakni sebagai sumber energi alternatif, pupuk organikpadat maupun cair, dan pakan ternak, serta dapat memperbaikisanitasi lingkungan. Oleh karena itu, pembuatan biogas perludimasyarakatkan terutama di sentra sapi perah. Biogas lebih murahdibandingkan sumber energi lain sehingga peternak lebih baikberinvestasi membangun digester secara swadaya dibandingkanmembeli gas elpiji. Pemerintah dapat memberikan subsidi digesterkepada peternak sapi perah untuk mengurangi ketergantungan padaelpiji. Perbaikan teknologi biogas, integrasi sistem biogas denganproduksi pupuk organik, serta sosialisasi dan bimbingan teknisproduksi dan pemanfaatan biogas dapat memperluas pengembanganbiogas di masyarakat. Peminjaman kredit lunak dari pemerintahmaupun swasta juga dapat mendorong pengembangan biogas.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue